← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Forty Four

Yang Tidak Pernah Bilang

POV: Shafira


Bayu sedang berdiri di depan papan tulis putih dengan spidol terbalik di tangan.

Tutup spidolnya di ujung yang salah. Ia menulis di papan, dan tidak ada yang keluar, dan ia terus menulis, dengan wajah serius, sampai dua puluh perempuan di kursi-kursi plastik di depannya mulai menahan tawa.

“Bay,” kataku dari pintu kelas.

“Ya, Mbak?”

“Spidolnya.”

Bayu menatap spidol di tangannya. Membaliknya. Menatap papan tulis yang kosong. Lalu menatap perempuan di meja paling depan, perempuan berkerudung biru dengan kacamata bulat, yang sekarang menutup mulutnya dengan dua tangan dan bahunya bergetar.

Telinga Bayu memerah sampai ke leher.

“Maaf, Mbak Laras,” katanya. “Aku grogi.”

Mbak Laras adalah pengajar kelas baca log di angkatan kedua beasiswa. Mantan system administrator di perusahaan telekomunikasi yang memutuskan berhenti untuk mengajar. Ia sabar, teliti, dan suka menertawakan Bayu dengan cara yang membuat Bayu terlihat seperti orang yang paling bahagia di dunia setiap kali ditertawakan.

Bayu mendaftar sebagai relawan asisten dua bulan lalu. Ia tidak bisa mengajar. Ia bisa menghapus papan tulis, membawakan gorengan, dan menjelaskan apa itu timestamp dengan analogi tukang bakso yang membuat seluruh kelas tertawa.

Aku berdiri di pintu, melipat tangan, dan menonton.

Tiga bulan lalu, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan setelah Trista. Lima tahun di Business Development. Klien-klien besar. Kontrak tiga tahun yang ditandatangani karena aku tertawa di saat yang tepat. Semua itu tidak berguna di yayasan kecil di lantai dua sebuah ruko di Tebet, dengan AC yang bocor dan kursi-kursi plastik dan dua puluh perempuan dari keluarga yang tidak pernah punya laptop.

Ternyata berguna.

Aku tahu cara mencari donatur. Aku tahu cara meyakinkan perusahaan untuk memberi magang. Aku tahu cara berdiri di depan direktur yang tidak mau mendengarkan dan membuatnya mendengarkan.

Aku hanya tidak lagi tertawa di saat yang tepat.

Aku tertawa ketika sesuatu memang lucu.

Seperti Bayu dengan spidol terbalik.


“Mbak Shafira.”

Suara dari belakangku. Laki-laki. Kemeja batik lengan pendek yang warnanya sudah pudar, celana kain, sandal. Rambut yang mulai beruban di pelipis, padahal umurnya baru tiga puluh dua.

Danu. Koordinator yayasan. Orang yang menerimaku tiga bulan lalu, ketika aku datang dengan proposal dua puluh halaman dan rencana ekspansi lima tahun, dan membaca proposal itu sampai habis, lalu meletakkannya di meja dan bilang ini bagus, tapi kita butuh perbaikan AC dulu.

“Mas Danu.”

“Proposal donatur dari bank itu sudah saya baca,” katanya. Ia mengangkat map di tangannya. “Saya nggak setuju poin tujuh.”

“Poin tujuh itu poin paling penting.”

“Poin tujuh minta anak-anak pakai seragam berlogo bank waktu wisuda.” Danu menatapku dengan tenang. “Mereka belajar di sini bukan buat jadi papan iklan, Mbak.”

“Itu syarat donatur.”

“Cari donatur lain.”

“Donatur ini paling besar.”

“Cari yang paling besar kedua.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan wajah yang tidak berubah.

Tiga bulan aku bekerja dengan laki-laki ini. Tiga bulan ia menolak setiap rencana besarku yang menurutnya tidak perlu. Tiga bulan ia tidak takut padaku, tidak terkesan padaku, tidak mencoba menaklukkanku. Ia hanya membaca setiap proposalku sampai habis, lalu bilang setuju atau tidak setuju, dengan alasan yang selalu masuk akal dan selalu membuatku kesal.

“Mas Danu tahu nggak,” kataku, “Mas orang paling menyebalkan yang pernah kerja sama aku.”

“Saya tahu, Mbak.” Danu tersenyum sedikit. “Mbak sudah bilang tiga kali minggu ini.”

Ia berjalan pergi dengan map di tangan dan sandal yang berbunyi di lantai keramik.

Aku menatap punggungnya.

Di dalam kelas, Bayu menulis di papan tulis dengan spidol yang sekarang sudah benar arahnya. TIMESTAMP = JAM BERAPA ABANG BAKSO LEWAT. Seluruh kelas tertawa. Mbak Laras tertawa paling keras.


Ponselku bergetar pukul tiga sore.

Alea: Kak. Dia ke lantai 3 tadi.

Aku menatap pesan itu lama.

Aku tahu ia sudah kembali. Seluruh Jakarta yang membaca berita teknologi tahu. Kaizen Labs ditunjuk sebagai mitra keamanan Trista Group. Proyek dipimpin langsung oleh Alfa Danuarta. Bayu juga memberitahuku, hari Senin, dengan pesan berisi satu kalimat dan sembilan emoji menangis. Mbak, Bang Alfa udah pulang 😭😭😭😭😭😭😭😭😭.

Aku tidak membalas Bayu.

Aku tidak tahu harus membalas apa.

Aku: Terus?

Alea: Aku minta maaf. Langsung. Di depan rak arsip tahun 2009.

Alea: Dia bilang dia udah maafin dari dulu. Dari waktu di bawah pohon ketapang. Katanya dia nggak pernah nggak maafin.

Alea: Terus aku kasih dia telur dadar. Aku bawa tiap hari, Kak, dari dia pulang. Nunggu dia turun ke lantai tiga.

Alea: Dia makan. Sampai habis.

Alea: Terus dia bilang “Enak, Mbak. Garamnya pas.”

Alea: Kak. Garamnya pas. Pertama kalinya garamnya pas.

Aku menatap layar.

Alea: Aku nggak nangis, Kak. Serius. Aku ketawa. Bu Wiwik turun dari lantai 19 bawa permen jahe, terus dia ikut ketawa, terus kami bertiga makan permen jahe di depan rak arsip.

Alea: Terus dia bilang satu hal lagi sebelum pergi. Dia bilang “Mbak berhak balik ke HR.” Kayak dia ngomong ke diri sendiri, bukan ke aku. Terus dia pergi.

Alea: Kak, Bu Ratih tadi sore telepon aku. Katanya bulan depan SP-ku selesai. Katanya kalau aku mau, dia mau ajuin aku balik ke tim HR.

Alea: Aku nggak tahu dia ngomong apa ke Bu Ratih. Atau nggak ngomong apa-apa. Tapi aku curiga.

Aku tertawa sendirian di lorong lantai dua ruko di Tebet, di depan kelas baca log, dengan ponsel di tangan.

Aku: Le. Selamat.

Alea: Kak. Dia bakal ketemu Kakak juga. Dia nanya nomor Kakak ke aku. Aku kasih.

Alea: Maaf.

Alea: Nggak, aku nggak minta maaf. Aku seneng aku kasih.

Aku berhenti tertawa.


Emailnya datang malam itu. Dari alamat Gmail pribadi dengan inisial dan angka.

Perihal: (tidak ada)

Mbak Shafira.

Sabtu, jam tujuh pagi. Basement B2. Pak Udin jaga shift pagi hari itu, saya sudah tanya.

Lima menit, Mbak.

— A.

Aku membaca email itu sambil duduk di sofa apartemenku di Senopati. Televisi menyala tanpa suara. Di pergelangan tanganku, dasi biru tua yang terikat dengan simpul Windsor. Aku memakainya setiap hari sejak malam di lampu merah perempatan Semanggi. Di kantor yayasan. Di rapat donatur. Di supermarket. Danu pernah bertanya kenapa aku memakai dasi di pergelangan tangan. Aku bilang itu gaya. Danu menatapnya lama, lalu bilang simpulnya rapi, dan tidak bertanya lagi.

Lima menit, Mbak.

Aku membalas satu kata.

Iya.


Sabtu, pukul tujuh kurang lima belas, aku memarkir mobil di basement B2 Trista Tower.

Bukan Mini Cooper. Aku menjualnya dua bulan lalu. Uangnya untuk perbaikan AC yayasan dan dua puluh laptop bekas. Sekarang aku menyetir mobil kecil warna abu-abu yang kubeli dari tetangga, yang mesinnya berisik dan kursinya bisa dimundurkan sampai jauh sekali.

Basement B2 sepi di Sabtu pagi. Lampu-lampu neon. Pilar-pilar beton. Bau lembab dan oli.

Pilar C-14. Tempat Mini Cooper merahku pernah mogok karena aki. Tempat seseorang mengeluarkan jump starter dari jok motornya dan bilang buat jaga-jaga, ada yang lupa matiin lampu.

Pak Udin berdiri di depan posnya. Dua gelas plastik teh manis di tangannya.

Ia melihatku turun dari mobil abu-abu. Ia tidak bertanya ke mana Mini Cooper merahku.

“Neng,” katanya.

“Pak.”

Ia menyodorkan satu gelas. Aku menerimanya.

“Satunya buat Mas Alfa,” katanya, menatap gelas kedua di tangannya. “Dia minta saya jaga shift pagi hari ini. Dia bilang dia butuh saksi.” Pak Udin berhenti. “Saya bilang, Mas, saksi buat apa? Dia bilang, buat ngingetin dia kalau dia lupa bilang sesuatu.”

Aku menatap teh manis di tanganku.

Lift berbunyi.


Ia keluar dari lift dengan kaos hitam dan kemeja flanel hijau di atasnya.

Kemeja yang dulu dicuci Celine dengan tangan dan disetrika dua kali. Aku tahu, karena Celine menceritakannya di grup chat yang sekarang tidak lagi sepi. Grup yang sekarang tidak lagi bernama Dewi-Dewi Lembur. Alea menggantinya tiga bulan lalu. Sekarang namanya Baca Log.

Ia berjalan ke arah kami. Langkah yang sama seperti enam bulan lalu. Tidak tergesa. Tidak ragu.

Ia lebih kurus. Rambutnya sedikit lebih panjang. Ada sesuatu yang berbeda di wajahnya, tapi aku tidak bisa menyebutnya. Bukan lebih tua. Lebih ringan, mungkin. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan sesuatu yang berat yang sudah lama dibawa.

Ia berhenti di depanku. Pak Udin menyodorkan gelas teh kedua. Ia menerimanya.

“Terima kasih, Pak.”

“Saya ke pos, Mas,” kata Pak Udin. “Saya dengar dari sana. Kalau Mas lupa bilang sesuatu, saya batuk.”

Pak Udin berjalan ke posnya. Duduk di dalam. Membuka koran. Kali ini korannya tidak terbalik.

Kami berdiri di samping pilar C-14. Dua orang dengan dua gelas teh manis dari warung di belakang gedung.

“Mbak,” katanya.

“Hai.”

Aku tidak tahu harus memanggilnya apa. Mas IT, seperti di lift hari pertama. Ganteng, seperti di lobi. Nama, yang tidak pernah kuucapkan langsung di depannya selama empat puluh lima hari.

“Hai,” ulangku. “Alfa.”


Ia tidak membuka dengan permintaan maaf. Ia tidak membuka dengan basa-basi.

Ia mengeluarkan ponselnya. Membuka sesuatu. Menyodorkannya padaku.

Layar putih dengan tabel. Huruf-huruf kecil seperti mesin tik. Kolom-kolom. Baris-baris.

Log akses — Pintu Lift Lt. 17 — Periode: Hari ke-31 s/d Hari ke-38.

Aku membaca baris-baris itu.

05:22 | SHAFIRA.N | BD-L21 | Lt.17 | AKSES DIBERIKAN
05:18 | SHAFIRA.N | BD-L21 | Lt.17 | AKSES DIBERIKAN
05:31 | SHAFIRA.N | BD-L21 | Lt.17 | AKSES DIBERIKAN
05:20 | SHAFIRA.N | BD-L21 | Lt.17 | AKSES DIBERIKAN

Tujuh baris. Tujuh hari. Semua sebelum jam enam pagi.

Aku menatap layar itu.

“Bayu nggak pernah bilang,” katanya. “Pak Udin juga nggak. Celine cerita soal town hall di salah satu issue-nya, tapi dia cuma tahu yang Mbak bilang di panggung.”

Ia mengambil kembali ponselnya.

“Minggu ini saya audit sistem akses gedung. Bagian dari kontrak.” Ia menatap layar ponselnya. “Saya buka log enam bulan terakhir. Kebiasaan.”

“Log nggak bisa bohong,” bisikku.

“Log nggak bisa bohong,” ulangnya.

Ia memasukkan ponsel ke saku.

“Terima kasih sudah bersihin monitor saya, Mbak,” katanya.

Aku tidak bisa menjawab.

Tujuh subuh. Botol semprot pembersih lem dari toko perkakas di Senopati. Kuku yang patah. KURSI: 0 — TIDAK ADA YANG MAU DUDUK DI SEBELAHNYA.

Ia tidak pernah melihat tiket-tiket itu.

Tapi ia membaca log-nya.


Kami berdiri diam. Teh manis di tangan kami mulai dingin.

Di posnya, Pak Udin membalik halaman koran dengan suara yang terlalu keras.

Lalu ia bicara lagi. Pelan. Datar. Seperti membacakan laporan cuaca. Seperti cara ia selalu mengatakan hal-hal yang paling berat, disimpan di kotak yang paling biasa supaya tidak ada yang curiga isinya berharga.

“Dan terima kasih,” katanya, “sudah diam demi mereka.”

Aku berhenti bernapas.

Ia tidak menjelaskan. Ia tidak perlu.

Pantry lantai 17. Tanganku di dadanya. Kenapa sih kamu nggak pernah mundur kalau aku maju? Kalimatnya yang tidak selesai. Tapi saya sudah... Tanganku yang turun pelan seperti daun yang jatuh. Aku tertawa. Aku bilang aku cuma iseng. Hobi. Koleksi perangko.

Ia tahu waktu itu.

Ia tahu, dan ia tidak menyebutnya, karena aturan nomor dua. Jangan mempermalukan siapa pun.

Dan ia tahu apa yang terjadi setelahnya. Kenapa kertas itu tetap di laci. Kenapa aku masih berisik di grup. Kenapa aku datang jam lima pagi. Kenapa aku resign. Kenapa aku tidak pernah mengatakan apa pun pada Celine dan Alea.

Ia tahu semuanya.

Ia selalu tahu semuanya.

Aku menatapnya. Mataku panas. Tanganku yang memegang gelas teh manis gemetar sedikit, cukup untuk membuat permukaan tehnya beriak.

Ia menatapku balik. Matanya cokelat gelap. Tenang. Seperti air di dasar sumur.

Tidak ada kasihan di sana. Tidak ada rasa bersalah. Hanya sesuatu yang mirip dengan apa yang kulihat di wajahnya ketika ia berdiri di samping Bayu dan meletakkan tangannya di bahu anak itu dan bilang jangan ke dia.

Seseorang yang berdiri.


Aku tersenyum.

Aku tidak tahu dari mana senyum itu datang. Bukan senyum lebar yang membuat direktur PT Sumber Makmur tanda tangan kontrak. Bukan senyum yang terlalu lebar untuk menutupi sesuatu, seperti di depan lift lobi, ketika aku hampir menyebutnya target.

Senyum kecil. Senyum yang tidak dihitung. Senyum yang keluar dari tempat yang sama dengan air mata yang sekarang jatuh ke dalam gelas teh manisku, satu-satu.

“Kamu tahu dari kapan?” tanyaku.

“Dari pantry, Mbak.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Mbak juga nggak bilang.”

Aku tertawa. Tawa yang basah, pecah, di basement B2 yang sepi, di samping pilar C-14.

“Aku nggak akan pernah bilang,” kataku. “Kamu tahu itu, kan?”

“Saya tahu.”

“Bukan ke kamu. Bukan ke Celine. Bukan ke Alea. Nggak ke siapa-siapa.” Aku menatap dasi biru tua di pergelangan tanganku. “Aku cuma pernah bilang ke boneka beruang. Sekali. Di lantai 21. Jam enam sore.”

Sudut bibirnya bergerak. Hampir senyum.

“Pak Hartono,” katanya.

“Pak Hartono.” Aku menyeka mata dengan punggung tangan. “Dia sekarang tidur sama anak bungsunya Pak Udin. Dia nggak bakal bocorin.”

Di posnya, Pak Udin terbatuk. Sekali. Keras.

Kami berdua menoleh. Pak Udin menatap korannya dengan sangat serius.

“Maaf, Mas, Neng,” katanya tanpa menurunkan koran. “Itu batuk beneran. Bukan batuk peringatan.”

Aku tertawa lagi. Ia juga. Tawa yang sama pelannya, yang keluar dari hidung, tapi kali ini tidak ditahan di tengah jalan.


Aku meletakkan gelas teh manis di atas kap mobil abu-abu.

Lalu aku melepas dasi biru tua dari pergelangan tanganku. Pelan. Simpul Windsor yang sudah kuikat setiap pagi selama dua bulan, terurai di antara jari-jariku.

Aku menatap dasi itu.

Sembilan tahun lalu, dasi ini hadiah dari seseorang yang berdiri di atas kursi kantin dan menagih uang taruhan. Enam bulan lalu, aku melilitkannya di leher laki-laki di depanku ini, di depan lift restoran lantai empat puluh enam, sambil menghitung denyut nadinya diam-diam. Dua bulan lalu, ia mengembalikannya lewat Bayu. Barang yang berat jangan dititipkan ke orang yang mau pergi jauh.

Aku menggulung dasi itu rapi. Memasukkannya ke saku blazerku.

“Aku nggak pakai ini lagi mulai besok,” kataku. “Bukan karena berat. Karena sekarang udah nggak berat lagi.”

Ia menatapku. Ia tidak bertanya. Ia tidak pernah bertanya hal-hal yang seharusnya ditanyakan.

Kali ini, aku bersyukur untuk itu.

“Satu hal,” kataku. Suaraku keluar lebih tegas. Suara yang dulu kupakai di depan klien. Suara Shafira yang tidak pernah kalah. “Jaga dia.”

“Saya tahu, Mbak.”

“Dia nggak pernah kehujanan sebelum kamu. Dua puluh tahun. Mamanya bilang cewek cantik nggak boleh kelihatan berantakan.” Aku menatapnya. “Dia kehujanan sama kamu. Terus enam bulan dia naik ke atap tiap jam dua belas. Termasuk waktu hujan. Pak Udin yang nemu dia, basah kuyup, di tangga darurat.”

“Hari ke-118,” katanya pelan.

Aku menatapnya.

Ia sudah membaca. Tentu saja ia sudah membaca. Ia membaca semuanya.

“Pergi,” kataku. “Dia nunggu di atap. Tiap jam dua belas.”

Ia menatapku lama.

Lalu ia membungkuk sedikit. Bukan seperti orang yang berpamitan di akhir rapat. Lebih dalam. Lebih lama. Seperti orang Jepang membungkuk pada sesuatu yang mereka hormati.

“Terima kasih, Shafira,” katanya.

Bukan Mbak.

Namaku.

Lalu ia berbalik dan berjalan ke lift, dengan gelas teh manis yang belum habis di tangannya dan kemeja flanel hijau yang dicuci dengan tangan.

Pintu lift terbuka. Ia masuk. Pintu tertutup.

Angka di atas pintu bergerak naik.

Aku tidak menunggunya berhenti.


Pak Udin keluar dari posnya. Menurunkan korannya. Berdiri di sampingku, di samping pilar C-14.

“Neng,” katanya. “Nggak bilang juga?”

“Nggak, Pak.”

“Kenapa?”

Aku menatap pintu lift yang sudah tertutup.

“Dia udah tahu, Pak,” kataku. “Kalau aku bilang, aku cuma ngambil sesuatu dari dia. Kalau aku nggak bilang, aku ngasih.”

Pak Udin diam lama. Lalu mengangguk pelan.

“Saya sudah sebelas tahun jaga gedung ini, Neng,” katanya. “Dua belas, sekarang. Saya baru tahu ternyata diam juga bisa jadi hadiah.”

Ia mengambil gelas teh manis yang kuletakkan di kap mobil. Masih setengah penuh. Ia menyodorkannya lagi padaku.

“Habisin, Neng. Sayang.”

Aku menghabiskannya.


Di jalan keluar dari basement, untuk pertama kalinya dalam enam bulan, aku menyalakan musik.

Keras. Lagu pop yang terlalu ceria, yang dulu selalu kuputar di Mini Cooper merah dengan jendela terbuka. Aku menyanyikannya. Keras. Sumbang. Dengan air mata yang masih mengalir dan tawa yang keluar di antara bait-baitnya.

Di lampu merah perempatan Semanggi, aku berhenti.

Mobil di sebelahku, sedan hitam dengan sopir berkemeja putih, menatapku menyanyi sambil menangis di mobil abu-abu yang mesinnya berisik.

Aku melambai padanya.

Ia melambai balik, bingung.

Lampu berubah hijau. Tidak ada klakson di belakangku kali ini. Aku menginjak gas tepat waktu.

Ponselku bergetar di dudukan dasbor. Pesan dari nomor yang kusimpan dengan nama Mas Danu (menyebalkan).

Mas Danu: Mbak, bank yang di poin tujuh telepon. Mereka setuju hapus syarat seragam berlogo. Katanya karena Mbak argumen di telepon kemarin.

Mas Danu: Saya nggak tahu Mbak ngomong apa ke mereka.

Mas Danu: Tapi terima kasih.

Aku tertawa.

Di lampu merah berikutnya, aku membalas.

Aku: Aku bilang, cari donatur yang paling besar kedua.

Tiga titik muncul. Menghilang. Muncul lagi.

Mas Danu: Itu kalimat saya.

Aku: Aku tahu. Makanya berhasil.

Lampu hijau. Aku menginjak gas.

Di saku blazerku, dasi biru tua tergulung rapi. Ringan.

Aku tidak memberitahu siapa pun soal apa yang terjadi di basement pagi itu.

Itu bukan rahasia lagi. Itu cuma milikku.