Chapter Twenty
Mundur
POV: Celine
Pesan itu masuk pukul tiga lewat tujuh menit, Rabu sore, ketika aku sedang di tengah rapat evaluasi peluncuran Trista Home.
Ponselku bergetar di atas meja rapat. Layar menyala. Pratinjau pesan di bagian atas.
Dewi-Dewi Lembur — Alea: Aku mundur dari taruhan.
Aku menatap pesan itu. Pak Wibisono sedang bicara soal angka konversi. Rendi sedang menunjukkan grafik di layar proyektor. Seseorang bertanya soal stok sofa krem yang habis dalam enam jam.
Aku tidak mendengar apa pun.
Aku mundur dari taruhan.
Tidak ada emoji. Tidak ada tanda seru. Tidak ada hehe atau wkwk atau gambar hati kecil di ujungnya. Alea, yang menggambar hati di ujung semua tulisannya, bahkan di formulir pajak, mengirim lima kata datar tanpa apa-apa.
Lalu sesuatu terjadi di dadaku.
Sesuatu yang ringan. Seperti batu yang terangkat. Seperti napas yang tidak sadar kutahan selama berhari-hari akhirnya keluar.
Lega.
Aku merasakannya sepenuhnya, jernih dan tanpa bisa dibantah, di tengah rapat evaluasi dengan sepuluh orang di sekelilingku. Alea mundur. Satu orang tidak lagi duduk di sebelahnya di sofa karaoke. Satu orang tidak lagi memakai hoodie-nya ke lantai 17. Satu orang tidak lagi membawakannya bekal dengan telur yang garamnya dihitung pakai pinset.
Satu orang berkurang.
Lalu, satu detik kemudian, perasaan kedua datang. Lebih berat. Lebih dingin. Seperti air es yang dituang ke atas kepala.
Kamu lega karena sahabatmu sedih.
Aku tidak tahu apakah Alea sedih. Pesannya tidak bilang apa-apa. Tapi aku sudah mengenal Alea lima tahun, dan Alea tidak pernah mundur dari apa pun. Alea tidak mundur waktu ditolak tiga perusahaan sebelum diterima di Trista. Alea tidak mundur waktu kucingnya, Mochi, kabur tiga hari dan ia menempel selebaran di setiap tiang listrik di Rawamangun sampai Mochi ditemukan di atap tetangga. Alea tidak mundur dari kompetisi makan sambal di acara tujuh belasan kantor, meskipun ia menangis sejak sendok ketiga.
Alea mundur karena sesuatu terjadi.
Dan reaksi pertamaku adalah lega.
“Bu Celine?”
Aku mendongak. Pak Wibisono menatapku. Semua orang di ruangan menatapku.
“Maaf, Pak. Bisa diulang?”
“Saya tanya, untuk kampanye lanjutan Trista Home, Ibu mau pertahankan tagline yang sama?”
“Iya, Pak,” kataku. “Pertahankan.”
Tempat kamu tidak perlu terlihat sempurna.
Aku menatap tagline itu di layar proyektor. Lalu menatap tanganku sendiri di atas meja. Tangan yang tadi pagi masih ingat rasa jari-jari dingin yang kasar di ujungnya.
Aku malu.
Grup chat meledak setelah rapat.
Shafira: LE???
Shafira: Mundur kenapa???
Shafira: Kamu lagi unggul! Kamu peringkat 1! Hoodie! Sup! Payroll!
Shafira: Le, jawab.
Alea: Nggak apa-apa, Kak. Aku capek aja.
Shafira: Capek? Kamu capek bawa bekal? Le, kamu bangun jam 5 tiap hari buat telur. Kamu nggak capek. Kamu kenapa?
Alea: Beneran nggak apa-apa. Aku cuma nggak mau main lagi. Kalian lanjut aja.
Shafira: Le...
Alea: Aku lagi banyak kerjaan. Nanti aja ngobrolnya ya 🙏
Lalu Alea diam.
Shafira mengirim tiga pesan lagi. Tidak dibalas. Lalu Shafira mengirim satu pesan ke grup yang membuat jariku berhenti bergulir.
Shafira: Le, kamu nyerah karena demam? Atau karena kebanyakan garam? 😂 Ya udah, berarti tinggal aku sama Celine. Final battle! Siapin ember sama spons, Cel. Mobilku kotor banget 🚗🧽
Lelucon. Tentu saja Shafira membuat lelucon. Shafira selalu membuat lelucon ketika ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Lelucon adalah tameng Shafira, seperti senyum yang dihitung adalah tamengku.
Aku tidak membalas.
Aku membuka chat pribadi dengan Alea. Mengetik. Le, kamu kenapa? Ada yang terjadi?
Aku menatap pesan itu sebelum mengirimnya.
Kalau Alea menjawab jujur, aku harus mendengarnya. Dan aku takut aku tahu apa jawabannya. Aku takut jawabannya ada hubungannya dengan sofa karaoke, dengan lantai 22 sampai pagi, dengan sesuatu yang tidak pernah kuceritakan di grup.
Aku menghapus pesan itu. Mengetik yang lebih pendek.
Aku: Le, aku ada di sini kalau kamu mau cerita.
Dua centang biru. Tidak ada balasan.
Pukul empat sore, aku diundang ke syukuran.
Undangannya datang dari Bang Togar, lewat pesan suara di aplikasi chat internal. Pesan suara pertama yang pernah kuterima dari Head of IT Infrastructure. Durasinya satu menit tiga puluh detik. Lima belas detik pertama adalah suara Bang Togar berdeham. Sisanya:
Bu Celine! Ini Togar dari IT! Hari ini lantai 17 mengadakan syukuran atas suksesnya peluncuran Trista Home dan diresmikannya Dinding Kehormatan Lantai 17! Ada tumpeng! Tumpeng asli, Bu, bukan tumpeng plastik! Istri saya yang masak! Ibu sebagai pemilik kampanye wajib hadir untuk potong tumpeng! Jam empat! Jangan telat! Kalau telat, ayam ingkungnya dihabisin Bayu!
Lalu, di detik terakhir, suara lain yang samar di latar belakang: Bang, aku nggak bakal habisin ingkung. Dan suara Bang Togar: Kau sudah makan pahanya, Bayu.
Aku turun ke lantai 17 pukul empat lewat dua.
Lantai 17 tidak pernah terlihat seperti ini. Meja-meja di tengah ruangan digeser ke pinggir. Di atas meja panjang yang ditutupi taplak batik, tumpeng nasi kuning setinggi setengah meter berdiri megah dengan lauk-pauk di sekelilingnya. Ayam ingkung, yang memang sudah kehilangan satu paha. Telur balado. Urap. Perkedel. Tempe orek. Sambal goreng ati. Di depan tumpeng, Bang Togar berdiri dengan kemeja batik cokelat dan senyum selebar lapangan bola.
Tim network berdiri berjajar seperti paduan suara. Bayu berdiri di sampingnya, mulutnya masih berminyak. Beberapa orang dari divisi lain datang juga. Pak Udin dari basement. Bu Ratna dari lobi. Bahkan Rendi dari timku, yang berdiri di sudut dengan wajah setengah malu.
Dan di ujung ruangan, di mejanya, Alfa.
Ia tidak ikut berdiri di dekat tumpeng. Ia duduk di kursinya, kemeja flanel hijau hari ini, menatap kerumunan dengan wajah orang yang sedang menghitung pintu keluar. Di atas partisi di belakangnya, bingkai kayu cokelat itu tergantung miring, dengan kertas HVS bertuliskan DINDING KEHORMATAN LANTAI 17 yang sudah ditambahi stiker bintang emas oleh entah siapa.
Ia melihatku masuk. Matanya berhenti di wajahku sebentar.
Lalu ia mengangguk kecil. Hanya padaku.
“Bu Celine!” seru Bang Togar. “Silakan! Pisau sudah siap! Potongan pertama, Ibu yang tentukan untuk siapa!”
Seluruh lantai 17 bertepuk tangan. Bayu bersiul. Bu Ratna berseru, “Ayo, Nak Celine! Yang cantik, yang potong!”
Aku berjalan ke meja tumpeng. Mengambil pisau dari tangan Bang Togar. Pisau itu ternyata pisau dapur biasa dengan gagang plastik oranye, sedikit tumpul.
Aku menatap pucuk tumpeng. Kerucut nasi kuning yang paling atas, dihiasi cabai merah dan daun pisang yang digulung.
Dalam tradisi, potongan pertama tumpeng diberikan kepada orang yang paling dihormati. Orang tua. Pemimpin. Orang yang paling berjasa.
Seluruh ruangan menunggu. Bang Togar sudah setengah membungkuk, tangannya sudah setengah terulur, siap menerima potongan itu dengan senyum rendah hati yang jelas sudah ia latih di depan cermin.
Aku memotong pucuk tumpeng itu. Meletakkannya di atas piring kertas. Lalu berbalik.
Dan berjalan melewati Bang Togar, melewati tim network, melewati Bayu dan Pak Udin dan Bu Ratna, sampai ke ujung ruangan.
Ke mejanya.
Aku meletakkan piring kertas itu di depannya. Di samping keyboard. Di bawah kucing oranye yang memegang papan SEMANGAT KERJA!.
Ia menatap piring itu. Lalu menatapku.
“Yang paling berjasa,” kataku. “Itu aturannya.”
Lantai 17 hening selama tiga detik. Tiga detik yang terasa seperti tiga menit.
Lalu Bang Togar, dengan tangan yang masih setengah terulur di udara, berteriak, “SETUJU! SANGAT SETUJU! AKU MEMANG MAU KASIH KE DIA JUGA!” dan seluruh ruangan meledak tertawa dan bertepuk tangan, dan Bayu memukul-mukul punggung Alfa seperti memukul drum, dan Bu Ratna berseru, “Nah, kan! Ibu sudah bilang! Ini sinetron jam tujuh!”
Alfa menatapku dari kursinya. Di tengah keributan itu, wajahnya tidak bergerak. Tapi matanya. Matanya berubah sesuatu, seperti lampu di kejauhan yang tiba-tiba menyala di malam yang gelap.
“Terima kasih,” katanya. Pelan. Hanya aku yang bisa mendengar.
Bukan terima kasih, Mbak.
Hanya terima kasih.
Aku tahu, bahkan sebelum aku meninggalkan lantai 17, bahwa apa yang baru kulakukan akan masuk ke grup Trista Family dalam sepuluh menit. Mungkin dengan foto. Mungkin dengan video. Mungkin dengan keterangan yang membuat orang-orang di lantai lain mulai berbisik.
Aku tidak peduli.
Atau aku pura-pura tidak peduli. Aku tidak tahu yang mana.
Sebelum pergi, aku berhenti di samping mejanya. Kerumunan sudah sibuk menyerbu ayam ingkung. Bang Togar sedang menuang teh manis ke gelas-gelas plastik sambil bercerita soal resep sambal goreng ati istrinya.
“Alea,” kataku pelan. “Dia mundur dari... dari sesuatu. Hari ini. Tanpa alasan.”
Ia menatapku. Wajahnya tenang. Tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang ia sembunyikan dengan sangat hati-hati, seperti menyimpan barang pecah belah di kotak paling biasa.
“Kamu tahu dia kenapa?” tanyaku.
Ia diam sebentar.
“Tanya Mbak Alea langsung,” katanya.
Bukan nggak tahu. Bukan saya nggak tahu, Mbak. Tanya Mbak Alea langsung.
Jadi ia tahu. Dan ia tidak mau mengatakannya, karena itu bukan ceritanya untuk dikatakan. Karena itu cerita Alea.
Aku menatapnya lama. Ada sesuatu yang hangat dan sakit di waktu yang sama, berputar di dadaku.
Hangat, karena ia melindungi Alea. Bahkan dariku.
Sakit, karena aku tahu, dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, bahwa apa pun yang terjadi pada Alea hari ini ada hubungannya dengan potongan tumpeng yang baru saja kuletakkan di mejanya.
“Oke,” kataku. “Aku tanya dia.”
Shafira mengantarku pulang malam itu.
Mini Cooper merah. Jalan Sudirman yang padat. Radio menyala dengan lagu pop yang terlalu ceria. Shafira bercerita panjang lebar soal klien barunya, soal Pak Rudy dari Logistik yang sekarang selalu menunduk setiap bertemu dengannya di lift, soal sepatu baru yang ia beli dan tidak akan ia pakai lagi untuk pertempuran penting karena tumitku masih trauma.
Ia bercerita soal semuanya kecuali Alea.
Lalu, di lampu merah perempatan Semanggi, ia berhenti bicara.
Mobil berhenti. Lampu merah menyala. Radio masih memutar lagu pop. Shafira menatap lurus ke depan, ke lampu-lampu belakang mobil di depan kami.
“Kamu kasih pucuk tumpeng ke dia,” katanya.
Bukan pertanyaan.
“Bayu kirim videonya ke grup Trista Family,” lanjut Shafira. “Seribu delapan ratus orang udah lihat. Pak Hendra kasih jempol lagi. Dion kasih emoji mata.”
Aku tidak menjawab.
“Alea mundur hari ini,” kata Shafira. “Tanpa alasan. Terus sorenya kamu kasih pucuk tumpeng ke target di depan seluruh lantai IT.” Ia mengetuk setir dengan kukunya. Tok. Tok. Tok. “Itu bukan kebetulan, kan, Cel?”
“Shaf...”
“Aku nggak marah.” Shafira tertawa. Tawa yang keras dan riang, seperti biasa. “Aku cuma ngitung. Alea keluar, tinggal kita berdua. Kamu unggul satu tumpeng. Aku unggul satu ciuman pipi.” Ia menyeringai. “Seri lagi.”
“Kamu cium pipinya?”
“Utang. Bayar utang. Plester sama aki.” Shafira mengibaskan tangannya. “Nggak penting.”
Lampu masih merah. Aku menatap Shafira dari samping.
Tangannya di atas setir. Kuku merahnya mengilap di bawah lampu jalan. Jari-jarinya mengetuk setir dengan ritme yang biasa, tok tok tok, seperti biasanya ketika ia tidak sabar.
Tapi di antara ketukan-ketukan itu, aku melihat sesuatu.
Jari-jarinya gemetar. Sedikit. Sangat sedikit. Hanya terlihat di saat-saat jeda, di antara satu ketukan dan ketukan berikutnya, ketika jari-jari itu tidak sedang bergerak dan seharusnya diam.
Mereka tidak diam.
Lampu berubah hijau. Shafira menginjak gas. Radio berganti lagu.
“Minggu depan aku menang,” katanya, suaranya kembali ringan. “Siapin ember, Cel.”
Aku tidak menjawab.
Aku tidak tahu apa yang baru saja kulihat. Aku tidak tahu apakah aku melihatnya dengan benar. Mungkin AC mobil terlalu dingin. Mungkin Shafira terlalu banyak minum kopi hari ini.
Mungkin.
Pukul sepuluh malam, aku menelepon Alea.
Ia mengangkat di dering kelima. Suaranya serak, hidungnya tersumbat.
“Halo, Kak.”
“Le. Kamu nangis?”
“Nggak, Kak. Pilek. Sisa demam kemarin.”
“Le.”
Hening. Lama. Aku mendengar napasnya di seberang. Napas pendek-pendek, seperti orang yang sedang menahan sesuatu supaya tidak tumpah.
“Aku capek aja, Kak,” katanya akhirnya. “Beneran. Aku cuma... nggak mau main lagi. Kakak lanjut aja. Kakak sama Kak Shafira.”
“Le, kalau ada yang terjadi...”
“Kak.” Suaranya berubah. Lebih tegas. Sesuatu yang jarang kudengar dari Alea. “Aku nggak apa-apa. Kakak jangan khawatir.”
Lalu, setelah jeda yang sangat panjang, ia menambahkan dengan suara yang jauh lebih kecil:
“Sedikit sakit. Tapi nggak apa-apa.”
Aku menutup mata.
Sedikit sakit. Aku pernah mendengar kalimat yang mirip. Di atap, di bawah angin siang. Sedikit apa-apa.
Alea tidak tahu kalimat itu. Alea tidak pernah naik ke atap. Tapi ia mengatakannya dengan cara yang sama persis. Datar, pelan, jujur. Seperti seseorang yang belajar mengatakannya dari orang yang sama.
“Le,” kataku. “Aku sayang kamu.”
“Aku juga, Kak.” Suaranya pecah di ujung. “Selamat malam.”
Telepon terputus.
Aku duduk di sofa krem yang terlalu bagus untuk diduduki, di apartemen yang terlalu rapi untuk ditinggali, dengan ponsel di pangkuan dan dua perasaan yang tidak mau pergi.
Yang pertama: lega. Masih di sana. Kecil, tapi keras kepala, seperti duri yang tidak mau keluar dari kulit.
Yang kedua: malu karena lega.
Aku tidak tahu yang mana yang lebih buruk. Aku hanya tahu bahwa aku, Senior Brand Strategist yang selalu dipuji karena kampanyenya elegan dan aspiratif, yang baru saja membuat tagline tentang tempat di mana kamu tidak perlu terlihat sempurna, ternyata adalah seseorang yang merasa lega karena sahabatnya patah hati.
Aku tidak sempurna. Aku bahkan tidak baik.
Di ponselku, aplikasi forum developer masih terbuka. Percakapan dengan mr_zero di bagian paling atas. Aku menatapnya, ingin bercerita, ingin bertanya aku jahat nggak sih untuk kesekian kalinya.
Aku tidak mengetik apa-apa.
Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin Zero tahu. Aku tidak ingin siapa pun tahu. Aku hanya ingin duduk di sini, di sofa krem ini, dan merasakan rasa malu itu sampai habis.
Mungkin itu satu-satunya hal jujur yang bisa kulakukan malam ini.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur reading
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang