Chapter Three
Jumat yang Ditolak
POV: Alfa
Hari ketiga, Bayu membawa papan tulis kecil dari rumah.
Papan tulis putih ukuran buku tulis, dengan spidol biru yang sudah setengah kering. Ia meletakkannya berdiri di antara monitor kami, seperti sedang menyiapkan presentasi untuk dewan direksi.
TEORI KENAPA BANG ALFA TIBA-TIBA LAKU:
1. Pelet (kemungkinan 40%)
2. Abang ternyata anak konglomerat (25%)
3. Cewek-cewek kalah taruhan (20%)
4. Kiamat sudah dekat (15%)
Aku menatap nomor tiga cukup lama.
“Bay.”
“Ya, Bang? Mau nambah teori?”
“Kenapa taruhan cuma dua puluh persen?”
Bayu mengetuk papan dengan spidol, wajahnya serius seperti detektif di film. “Karena, Bang, cewek kayak Mbak Celine sama Mbak Shafira itu nggak butuh taruhan. Mereka tinggal jentik jari, cowok sekantor datang. Ngapain repot-repot taruhan? Itu nggak masuk akal secara ekonomi.”
“Terus kiamat lima belas persen masuk akal?”
“Kiamat itu selalu masuk akal, Bang. Itu dasar dari semua sistem kepercayaan.”
Aku tidak membantah. Bayu sedang dalam salah satu fase berpikirnya, dan menghentikannya di tengah fase seperti mencabut kabel server yang sedang menulis data. Lebih aman dibiarkan selesai sendiri.
Lagipula, aku sedang memikirkan hal lain.
Dua hari terakhir aku memperhatikan. Bukan mengintai, karena aku tidak membuka apa pun yang bukan urusanku. Hanya memperhatikan, seperti memperhatikan grafik lalu lintas jaringan yang naik turun. Alea mampir dua kali lagi kemarin, sekali membawa roti cokelat, sekali hanya untuk bilang “Kak, kucingnya masih ada kan?” lalu pergi lagi. Celine tidak muncul di lantai 17, tapi ia sudah tiga kali kebetulan ada di lift yang sama denganku, dan setiap kali ia menyapa dengan senyum yang ukurannya persis sama seperti di lobi.
Shafira belum muncul lagi sejak lift hari pertama.
Aku tahu itu bukan karena ia menyerah. Orang seperti Shafira tidak menyerah. Mereka mundur selangkah untuk mengambil ancang-ancang.
Ancang-ancangnya berakhir pukul sepuluh lewat tujuh menit.
Aku mendengarnya sebelum melihatnya. Suara hak sepatu di lantai keramik koridor. Langkah yang tidak ragu-ragu, tidak mencari-cari, sudah tahu ke mana harus pergi. Suara obrolan di lantai 17 berhenti satu per satu, seperti lampu yang dimatikan dari ujung ruangan.
Shafira Nadine memakai blazer merah hari itu. Merah yang sama dengan lipstiknya. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai sengaja dibiarkan jatuh di samping wajah. Ia melewati deretan meja tim network tanpa menoleh, melewati Bayu yang langsung membalik papan tulisnya dengan panik, lalu berhenti tepat di depan mejaku.
Ia tidak menarik kursi.
Ia duduk di atas mejaku.
Di pinggir meja, di antara keyboard dan tumpukan kabel yang belum kurapikan. Ia menyilangkan kaki, dan karena kursiku dekat dengan meja, lututnya menyentuh lututku. Sengaja. Aku tahu itu sengaja karena ia tidak menariknya kembali.
“Pagi, Mas IT,” katanya.
“Pagi, Mbak.”
“Wifi lantai 21 sekarang kencang banget. Makasih, ya.”
“Router-nya diganti, Mbak. Yang lama sudah tua.”
“Hmm.” Ia menatapku dari atas, dagunya sedikit terangkat. Matanya cokelat gelap, garis eyeliner-nya tajam seperti ujung pisau. “Kamu tahu nggak, aku jarang bilang makasih ke orang.”
“Kalau begitu sama-sama, Mbak.”
Ia tertawa kecil. Bukan tawa keras seperti yang biasanya terdengar dari ruang rapat lantai 21. Tawa yang lebih rendah, lebih dekat.
“Langsung aja, ya. Aku nggak suka basa-basi.” Ia mencondongkan tubuh sedikit, cukup sampai aku bisa mencium parfumnya, sesuatu yang tajam dan manis, seperti jeruk yang dibakar. “Makan malam sama aku. Jumat. Jangan nolak.”
Di seberang meja, Bayu menahan napas begitu keras sampai terdengar seperti ban bocor.
Aku menimbangnya sebentar. Tidak lama. Sekitar waktu yang dibutuhkan server untuk merespons ping.
“Jumat saya patching server, Mbak,” kataku. “Sabtu bisa.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat Shafira Nadine tidak tahu harus bilang apa.
Hanya sebentar. Mungkin satu setengah detik. Matanya mengedip satu kali, bibirnya sedikit terbuka, lalu menutup lagi. Aku bisa melihat pikirannya bekerja cepat, mencoba memasukkan jawabanku ke salah satu kotak yang sudah ia siapkan: nolak, gugup, langsung mau. Jawabanku tidak masuk ke kotak mana pun.
“Kamu...” ia memiringkan kepala, “...barusan negosiasi sama aku?”
“Saya menyesuaikan jadwal, Mbak.”
“Orang nggak pernah menyesuaikan jadwal sama aku. Orang yang menyesuaikan hidup mereka sama jadwal aku.”
“Server nggak bisa menyesuaikan, Mbak. Kalau patch keamanan telat, nanti yang diserang data seluruh gedung, termasuk data tim Mbak.”
Shafira menatapku lama. Lalu senyumnya melebar, pelan-pelan, seperti orang yang baru menemukan lawan catur yang ternyata bisa bermain.
“Oke,” katanya. “Sabtu.”
Ia mengambil pulpen dari gelas di mejaku, pulpen biru murahan dari vendor printer yang selalu kubiarkan menumpuk, lalu meraih tangan kiriku. Tangannya hangat. Kukunya yang merah menekan pergelangan tanganku dengan lembut. Sebelum aku sempat menarik tangan, ia sudah menulis di telapak tanganku, satu per satu, sederet angka.
“Itu nomorku,” katanya. “Biar nggak hilang.”
“Saya punya kontak semua karyawan di direktori, Mbak.”
“Tapi yang di tangan beda rasanya.” Ia melepas tanganku, menutup pulpen, lalu menyelipkannya ke saku kemejaku dengan dua jari. Gerakannya pelan sekali, seperti sengaja memastikan aku merasakan setiap detiknya. “Kirim alamat rumahmu. Aku yang jemput. Aku yang pilih tempat. Kamu cukup datang dengan muka ganteng.”
“Muka saya cuma ada satu jenis, Mbak.”
“Ya udah, bawa yang satu itu.”
Ia turun dari mejaku. Lututnya akhirnya terlepas dari lututku. Ia merapikan blazernya, memutar badan, lalu berhenti, menoleh lewat bahu.
“Oh, satu lagi. Pakai kemeja, ya. Jangan kaos. Aku tahu kamu cuma punya tiga warna kaos.”
Lalu ia pergi, langkah sepatunya kembali menggema di koridor.
Aku menatap telapak tanganku. Dua belas digit, ditulis dengan huruf yang tegas, angka tujuhnya dicoret di tengah seperti tulisan orang yang pernah sekolah di luar negeri.
Aku tahu kamu cuma punya tiga warna kaos.
Dari mana ia tahu itu, aku bisa menebak. Ada banyak cara tahu sesuatu tentang orang lain. Sebagian besar caranya tidak melibatkan bertanya langsung pada orangnya.
“SABTU BISA!”
Kepala Bang Togar muncul dari balik partisi seperti periskop kapal selam. Wajahnya merah, matanya berbinar, kumisnya bergerak-gerak. Rupanya ia mendengar semuanya dari mejanya, yang hanya terpisah satu sekat tipis.
“Sabtu bisa, kata dia! Kau dengar itu, Bayu? Sabtu bisa!”
“Aku dengar, Bang!” Bayu sudah berdiri, memegang papan tulisnya dengan dua tangan. “Aku dengar dengan telingaku sendiri!”
“Alfa, Alfa, Alfa.” Bang Togar berjalan memutari partisi, menepuk-nepuk bahuku dengan tangan seberat palu. “Empat tahun aku kerja sama kau. Empat tahun! Aku pikir kau ini menikah sama router. Aku sudah siap jadi saksi nikah kau sama router!”
“Bang, itu cuma makan malam.”
“Cuma makan malam? Kau tahu siapa barusan duduk di meja kau? Shafira Nadine! Itu perempuan yang bikin direktur PT Sumber Makmur tanda tangan kontrak tiga tahun cuma karena dia ketawa di waktu yang pas! Dan kau, kau, malah bilang Jumat ada patching!”
“Memang ada patching, Bang.”
“Aku tahu ada patching! Aku yang jadwalin patching!” Bang Togar menunjuk dadanya sendiri dengan bangga. “Dan aku, sebagai atasanmu yang baik hati, mengizinkan kau menukar jadwal patching. Bayu yang patching Jumat!”
“Hah?” Bayu menjatuhkan papan tulisnya. “Bang, Jumat aku mau nonton konser...”
“Konser bisa diulang, Bayu! Cinta tidak!”
“Bang, ini bukan cinta, ini cuma...”
“Diam kau, Alfa. Aku sedang berpidato.” Bang Togar mengangkat dagunya ke langit-langit, seperti pemimpin upacara bendera. “Kalian berdua dengar. Mulai hari ini, lantai 17 punya misi baru. Misi kita adalah memastikan Alfa Danuarta, aset terbaik divisi IT Infrastruktur, tidak mati perjaka di samping rak server.”
“Bang,” kataku.
“Ya?”
“Volume Abang kedengaran sampai tim network.”
Di ujung ruangan, tim network, enam orang laki-laki dengan kaos kantor yang sama, berdiri dan bertepuk tangan pelan. Salah satunya bersiul.
Bang Togar membungkuk ke arah mereka seperti aktor teater. Bayu memungut papan tulisnya, menghapus Kiamat sudah dekat (15%), dan menggantinya dengan Bang Togar sudah gila (100%).
Aku kembali menatap layar. Tidak ada yang bisa menghentikan lantai 17 kalau sudah begini. Lebih baik dibiarkan selesai sendiri, seperti fase berpikir Bayu.
Tapi di bawah meja, aku mengepalkan tangan kiriku pelan-pelan, menutup dua belas digit yang ditulis dengan tinta biru murahan itu.
Malam itu aku pulang paling terakhir, seperti biasa.
Lantai 17 sudah gelap kecuali lampu di atas mejaku dan lampu-lampu kecil hijau di rak server yang berkedip seperti kunang-kunang. Bayu sudah pulang dengan wajah orang yang kehilangan konser. Bang Togar sudah pulang dengan wajah orang yang merasa baru saja menyelamatkan dunia.
Aku duduk menatap kucing oranye di monitor.
Ada tiga pilihan yang bisa kuambil. Aku sudah memikirkannya sejak kemarin, sejak baris log printer itu, seperti memikirkan tiga cara memperbaiki sistem yang sama.
Pilihan pertama: bilang terus terang. Saya tahu kalian bertaruh. Tolong berhenti. Bersih, cepat, jujur. Tapi aku tahu bagaimana gedung ini bekerja. Dalam seminggu, cerita itu akan bocor, dan yang diingat orang bukan tiga perempuan yang bertaruh, tapi laki-laki cupu yang ketahuan jadi target dan merengek minta berhenti. Aku tidak keberatan dianggap cupu. Aku keberatan dianggap pantas dikasihani.
Pilihan kedua: mengabaikan. Menjawab satu kata, menolak semua ajakan, membiarkan mereka bosan sendiri. Itu juga mudah. Itu yang sudah kulakukan empat tahun pada semua orang.
Pilihan ketiga.
Aku membuka ponsel. Email Haruto Mori masih di sana, di paling atas kotak masuk, belum kubalas.
Dua puluh delapan tahun. Aku tidak pernah pacaran. Bukan karena tidak ada yang bisa kusukai, tapi karena tidak pernah ada yang berdiri cukup lama di depanku sampai aku sempat menyukainya. Orang datang ke mejaku untuk minta laptop diperbaiki, minta kata sandi diatur ulang, minta jaringan dinyalakan lagi. Lalu mereka pergi. Itu wajar. Itu memang pekerjaanku.
Tapi sejak tiga hari lalu, ada tiga orang yang berdiri di depanku lebih lama dari yang diperlukan. Alasan mereka salah. Niat mereka bukan untukku. Aku tahu itu.
Dan tetap saja, ketika Alea menempelkan telinganya ke headphone-ku dan wajahnya berubah sedih karena tidak ada suaranya, ada sesuatu di dalam dadaku yang bergerak. Ketika Shafira menulis nomornya di telapak tanganku, ada sesuatu yang hangat dan aneh di sana, di bawah kulit. Ketika Celine tersenyum di lobi dengan senyum yang dihitung itu, aku penasaran, untuk pertama kalinya, apa yang ada di balik hitungannya.
Aku akan pergi. Mungkin ke Tokyo, mungkin tidak. Tapi aku akan pergi dari gedung ini, cepat atau lambat.
Sebelum pergi, aku ingin tahu satu hal saja. Hal yang semua orang di dunia ini sepertinya sudah tahu, kecuali aku.
Bagaimana rasanya jatuh cinta.
Meskipun lewat permainan. Meskipun yang memulainya bukan aku.
Aku membuka catatan kosong di ponsel dan menulis aturan untuk diriku sendiri. Seperti menulis dokumentasi sebelum menjalankan sistem baru.
1. Jangan bohong soal perasaan. Kalau tidak suka, jangan bilang suka.
2. Jangan mempermalukan siapa pun.
3. Jangan bilang kalau sudah tahu, sampai waktunya.
4. Kalau ada yang benar-benar terluka, berhenti.
Aku membacanya dua kali. Lalu, setelah ragu sebentar, aku menambahkan satu baris lagi.
5. Jangan berharap.
Lalu aku membalas email Haruto Mori.
Terima kasih atas tawarannya. Saya sangat tertarik. Saya akan mengajukan pengunduran diri dari kantor saya minggu ini, dan saya butuh waktu empat puluh lima hari untuk menyelesaikan serah terima. Keputusan final dan tanda tangan kontrak akan saya berikan di hari terakhir itu. Mohon maaf jika ini terlalu lama.
Balasannya datang dua puluh menit kemudian, padahal di Tokyo sudah lewat tengah malam.
Tidak terlalu lama. Kami akan menunggu. Hari ke-45. — H. Mori
Aku menutup laptop.
Di basement B2, Pak Udin sedang berjaga di posnya, menonton sinetron dari ponsel dengan volume terlalu keras. Ia mengangkat tangan ketika aku lewat.
“Malam, Mas Alfa. Lembur lagi?”
“Iya, Pak.”
“Mas, Mas.” Matanya menyipit, menunjuk tanganku yang sedang memegang kunci motor. “Itu tangannya kenapa? Ada tulisan.”
Aku menatap telapak tanganku. Aku sudah mencucinya dua kali di wastafel kantor. Tinta biru murahan dari vendor printer ternyata lebih kuat dari sabun cuci tangan gedung. Dua belas digit itu masih ada di sana, sedikit pudar, tapi masih jelas.
“Nomor telepon, Pak.”
Pak Udin mematikan sinetronnya. Ia keluar dari pos, berdiri di sampingku, dan menatap telapak tanganku dengan khidmat seperti sedang membaca garis tangan.
“Mas,” katanya pelan. “Nomor HP ditulis di tangan, itu bukan nomor HP biasa. Itu tanda-tanda.”
“Tanda apa, Pak?”
“Tanda bahwa Mas akan mengalami hal yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu komputer.” Pak Udin mengangguk sendiri, puas dengan ramalannya. “Saya dulu ketemu istri saya juga begitu. Dia tulis nomor HP di tangan saya waktu kondangan. Besoknya saya telepon. Tiga bulan kemudian saya nikah. Sekarang saya jaga basement, dia jaga warung, anak kami tiga. Semua berawal dari pulpen.”
“Pulpennya warna apa, Pak?”
“Hitam, Mas. Tapi nggak apa-apa, biru juga sah.”
Aku mengucapkan terima kasih atas ramalannya. Ia kembali ke pos dan menyalakan sinetronnya lagi.
Di atas motor, sebelum menyalakan mesin, aku mengambil ponsel. Mengetik dua belas digit dari telapak tanganku satu per satu. Menyimpannya.
Di kolom nama, setelah ragu beberapa detik, aku menulis:
Shafira (Proyek 30 Hari)
Lalu aku menghapus bagian dalam kurung. Itu terasa terlalu jahat, dan aku sudah menulis aturan nomor dua.
Aku menyalakan motor dan keluar dari basement, ke jalan Jakarta yang masih padat meskipun sudah hampir jam sepuluh malam.
Tiga puluh hari, kata mereka. Bagiku, empat puluh lima.
Mari kita lihat siapa yang sebenarnya sedang diuji.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak reading
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang