Chapter Twenty Six
Rak Buku
POV: Alfa
Minggu pagi, pukul sembilan lewat sepuluh, bel apartemenku berbunyi.
Empat tahun aku tinggal di Tower C lantai sembilan, bel itu berbunyi mungkin enam kali. Dua kali kurir salah alamat. Satu kali tetangga sebelah yang mencari kucingnya. Satu kali petugas pengelola gedung yang memeriksa alat pemadam api. Dua kali Bayu, yang datang tanpa memberi tahu karena katanya kalau aku bilang dulu, Abang pasti pura-pura nggak di rumah.
Bayu benar soal itu.
Aku membuka pintu dengan kaos abu-abu lusuh, celana pendek, dan rambut yang belum disentuh sejak bangun tidur.
Celine berdiri di depan pintu. Kaos putih polos, celana jeans, sepatu kets kanvas yang sama seperti kemarin. Rambutnya diikat ekor kuda. Di kedua tangannya, dua kantong plastik belanjaan dari pasar. Dari salah satu kantong, ekor seikat seledri menyembul keluar seperti bulu burung.
“Pagi,” katanya.
Aku menatapnya. Lalu menatap kantong belanjaan itu. Lalu menatapnya lagi.
“Kamu tahu alamatku dari mana?”
“Kemarin aku jemput kamu di sini.” Ia mengangkat alis. “Lantai sembilan aku tanya satpam. Nomor unitnya aku tanya ibu-ibu yang lagi jemur baju di lorong. Ibu itu bilang, oh, Mas yang nggak pernah keluar itu ya, Neng?”
Aku tidak punya bantahan untuk itu.
“Aku mau belajar,” katanya. Ia mengangkat dua kantong belanjaannya sedikit lebih tinggi, seperti menunjukkan barang bukti. “Sup ayam. Yang pakai jahe di akhir.”
Aku diam.
Sup ayam itu tidak pernah kuceritakan padanya. Aku hanya pernah memasaknya untuk Alea. Satu kali. Di Rawamangun, Jumat malam, di bawah gerimis.
“Alea cerita,” katanya, membaca wajahku. “Kemarin malam. Dia telepon aku. Kami ngobrol lama, pertama kali sejak dia mundur.” Ia berhenti sebentar. “Dia bilang sup kamu enak. Dia bilang itu resep ibu kamu. Dia bilang... kalau aku mau ngerti kamu, aku harus belajar resep itu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Alea, yang menangis di toilet dua puluh menit setelah kutolak. Alea, yang menelepon sahabatnya dan menyuruhnya belajar resep yang pernah dimasak untuknya.
Aku menyingkir dari pintu.
“Masuk.”
Apartemenku tidak dirancang untuk tamu.
Satu ruangan utama yang berfungsi sebagai ruang tamu, ruang kerja, dan ruang makan sekaligus. Satu kamar tidur kecil. Satu dapur sempit di sudut, dengan kompor dua tungku dan kulkas setinggi dada. Satu meja kecil di samping jendela, dengan laptop dan dua monitor tambahan dan kabel-kabel yang kurapikan dengan pengikat plastik. Satu sofa kain abu-abu yang sudah melesak di bagian tengah.
Dan satu dinding penuh rak buku.
Celine berdiri di tengah ruangan, kantong belanjaan masih di tangan, menatap dinding itu.
Rak kayu sederhana dari toko furnitur murah, tujuh tingkat, dari lantai sampai hampir menyentuh langit-langit. Penuh. Buku-buku pemrograman tebal dengan sampul berwarna-warni. Buku jaringan. Buku keamanan sistem. Tapi juga novel. Banyak novel. Pramoedya. Eka Kurniawan. Haruki Murakami dalam terjemahan Indonesia yang sampulnya sudah lusuh. Satu deretan penuh komik detektif. Kumpulan puisi Sapardi yang punggungnya sudah retak karena terlalu sering dibuka.
“Kamu baca semua ini?” tanyanya pelan.
“Sebagian besar.”
“Murakami?”
“Waktu SMA. Pinjam di perpustakaan daerah. Terus beli sendiri waktu sudah kerja.”
Ia meletakkan kantong belanjaan di lantai dan berjalan mendekati rak itu. Jari-jarinya menyusuri punggung buku-buku itu, satu per satu, seperti orang yang menyentuh piano tanpa menekan tutsnya. Ia berhenti di buku Sapardi.
“Hujan Bulan Juni,” bacanya. Lalu menoleh padaku. “Kamu baca puisi?”
“Kadang.”
Ia menatapku lama. Lalu tersenyum. Senyum kecil yang tidak sempurna, yang membuat ujung matanya berkerut.
“Empat tahun kamu makan roti tawar polos di atap,” katanya, “sambil baca Sapardi di rumah.”
“Nggak ada yang nanya.”
“Aku nanya.”
Dapurku terlalu kecil untuk dua orang.
Aku tahu itu sebelum kami mulai. Aku tidak tahu betapa kecilnya sampai Celine berdiri di depan talenan dan aku berdiri di depan kompor, dan setiap kali salah satu dari kami bergerak, bahu kami bertabrakan.
“Ayamnya potong segini?”
“Lebih kecil.”
“Segini?”
“Lebih kecil lagi. Biar cepat empuk.”
Ia memotong ayam dengan kerutan konsentrasi di dahinya, lidahnya sedikit keluar di ujung bibir. Ia memegang pisau seperti memegang pena kaligrafi. Hati-hati, tegak, sedikit terlalu kaku. Setiap potongan ayam yang ia hasilkan ukurannya hampir sama persis, seperti diukur dengan penggaris.
“Kamu pernah masak?”
“Pernah,” katanya. “Mi instan. Telur ceplok. Satu kali bikin kue bolu kukus buat ulang tahun mama, terus bolunya nggak mengembang dan mama bilang nggak apa-apa, Sayang, kamu nggak perlu bisa masak, nanti suamimu yang punya koki.”
Ia mengatakannya dengan nada bercanda. Tapi pisau di tangannya berhenti sebentar.
“Kamu nggak perlu bisa masak buat aku,” kataku.
Ia menoleh.
Aku menyadari apa yang baru saja kukatakan. Buat aku. Seolah ada masa depan di mana ia memasak untukku. Seolah aku tidak sedang menyimpan draf email di folder yang judulnya sudah kutulis tapi badannya masih kosong.
“Maksudku...”
“Aku tahu maksudmu,” katanya pelan. Lalu kembali memotong ayam. Pipinya merah. “Wortelnya dipotong dadu juga?”
“Dadu.”
Kami memasak dalam diam selama beberapa menit. Air mendidih di panci. Ayam, kentang, wortel. Bawang putih yang ditumis sampai harum. Ia bertanya kenapa bawang putihnya harus ditumis dulu, dan aku bilang karena ibuku selalu menumisnya dulu, dan ia tidak bertanya lagi, hanya mencatat sesuatu di ponselnya.
Lalu tibalah bagian jahe.
Aku mengambil sepotong jahe sebesar ibu jari dari kantong belanjaannya. Mengupasnya dengan sendok, seperti yang diajarkan ibuku. Lalu meletakkannya di atas talenan dan menyerahkan ulekan batu kecil padanya.
“Memarkan,” kataku. “Jangan sampai hancur. Cukup sampai pecah.”
Ia memukul jahe itu dengan ulekan. Terlalu pelan. Tidak ada yang terjadi.
“Lebih keras.”
Ia memukul lagi. Terlalu keras. Jahe itu terlempar dari talenan, melayang di udara, dan mendarat di dalam bak cuci piring.
Kami menatap jahe itu. Lalu saling menatap.
Lalu ia tertawa. Tawa yang memenuhi dapur sempitku, memantul di dinding keramik, terlalu besar untuk ruangan sekecil itu.
Aku mengambil jahe itu dari bak cuci, membilasnya, dan meletakkannya kembali di talenan. Lalu aku berdiri di belakangnya, dan meletakkan tanganku di atas tangannya yang memegang ulekan.
Ia berhenti tertawa.
“Segini,” kataku. Aku menuntun tangannya mengangkat ulekan. Menurunkannya. Satu kali. Pukulan yang tepat. Jahe itu pecah, tidak hancur, mengeluarkan wangi tajam yang langsung memenuhi udara.
Tanganku masih di atas tangannya. Punggungnya hampir menyentuh dadaku. Rambutnya yang diikat ekor kuda menyentuh daguku. Wangi samponya bercampur dengan wangi jahe.
Ia tidak bergerak. Aku juga tidak.
“Masukin di akhir,” kataku. Suaraku terdengar aneh di telingaku sendiri. Lebih rendah. “Biar wanginya nggak hilang.”
“Biar wanginya nggak hilang,” ulangnya pelan.
Ponselku berdering di atas meja kerja.
Bukan dering pesan. Dering panggilan video.
Aku tidak perlu melihat layarnya untuk tahu siapa. Hanya satu orang di dunia ini yang menelepon dengan panggilan video di hari Minggu pagi tanpa memberi tahu dulu.
Aku melepas tangan Celine. Berjalan ke meja. Layar ponsel menunjukkan foto profil Bayu: dirinya sendiri memakai hoodie anime biru muda, mengacungkan dua jari ke kamera.
Aku menolak panggilan itu.
Ponsel berdering lagi.
Aku menolaknya lagi.
Ponsel berdering untuk ketiga kalinya, dan sebelum aku sempat menolaknya, Celine sudah berdiri di sampingku, menatap layar, dan menekan tombol hijau.
Wajah Bayu memenuhi layar. Terlalu dekat dengan kamera. Hanya mata dan hidungnya yang terlihat.
“BANG! KENAPA DITOLAK! AKU MAU TANYA GIMANA KENCANNYA! ABANG PAKAI BAB LIMA NGGAK? TISUNYA KEPAKAI?”
Lalu wajah Bayu mundur dari kamera. Ia melihat Celine.
Celine tersenyum padanya. Senyum lebar. Ia mengangkat tangan dan melambai.
“Halo, Bayu. Tisunya kepakai. Makasih, ya. Bab lima jenius.”
Wajah Bayu membeku. Tiga detik. Lima. Delapan. Matanya tidak berkedip. Mulutnya terbuka.
Lalu layar ponselku menampilkan pesan: Panggilan berakhir.
Kami menatap layar ponsel itu.
“Dia hang,” kataku.
Celine tertawa sampai harus berpegangan pada meja kerjaku.
Dua menit kemudian, ponselku bergetar dengan serangkaian pesan dari Bayu.
Bayu: BANG
Bayu: BANG ITU TADI MBAK CELINE
Bayu: DI RUMAH ABANG
Bayu: HARI MINGGU
Bayu: JAM SEMBILAN PAGI
Bayu: BANG AKU HARUS NULIS PANDUAN v3.0 SEKARANG JUGA. KENCAN KEDUA DI RUMAH. INI LEVEL BARU. INI DI LUAR PENGALAMANKU. INI DI LUAR PENGALAMAN SIAPA PUN DI LANTAI 17.
Bayu: Bang aku nggak bakal bilang siapa-siapa. Sumpah. Kecuali Bang Togar. Bang Togar harus tahu. Ini urusan divisi.
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
Sup itu jadi pukul sebelas.
Kami makan di meja kecil di samping jendela, karena itu satu-satunya meja di apartemenku. Celine duduk di kursi kerjaku. Aku duduk di kursi plastik lipat yang kuambil dari balkon. Dua mangkuk sup mengepul di antara dua monitor yang sudah kumatikan dan laptop yang kututup.
Ia menyendok sup itu. Meniupnya. Memakannya.
Lalu ia diam lama.
“Kenapa?” tanyaku.
“Enak,” katanya. Matanya berkaca-kaca. “Enak banget. Dan aku yang bikin. Sebagian.”
“Kamu yang potong ayamnya.”
“Ukurannya sama semua.”
“Paling rapi yang pernah aku lihat.”
Ia tertawa kecil. Lalu menunduk, menatap supnya.
“Ibu kamu,” katanya pelan. “Kalau masih ada, dia bakal suka aku nggak, ya?”
Aku menatapnya.
Pertanyaan itu terlalu besar untuk hari Minggu pagi di apartemen sempit di Kalibata. Terlalu besar untuk perempuan yang tiga minggu lalu menulis sesuatu tentangku di selembar kertas yang tidak pernah kulihat. Terlalu besar untuk laki-laki yang menyimpan draf email kosong ke Tokyo.
“Dia bakal suruh kamu potong ayamnya lebih kecil,” kataku.
Celine tertawa. Lalu menangis sedikit. Lalu tertawa lagi.
Ia melihatnya ketika aku sedang mencuci mangkuk.
Aku tidak sadar ia berdiri dari kursi. Aku tidak sadar ia membuka laptopku, mungkin hanya untuk memindahkannya supaya tidak terkena tetesan kuah. Aku hanya mendengar suaranya dari belakang, pelan, seperti orang yang bicara pada dirinya sendiri.
“Ini logo apa?”
Aku berbalik.
Ia memegang laptopku, menatap bagian belakang layarnya. Di sana, di antara stiker-stiker komunitas developer yang kukumpulkan bertahun-tahun, ada satu stiker kecil berwarna hitam dengan gambar putih di tengahnya.
Lingkaran dengan garis miring di tengahnya. Seperti angka nol yang dicoret.
Stiker yang dicetak oleh seorang developer dari Brasil dua tahun lalu, sebagai hadiah karena zero-guard membantu proyeknya. Ia mengirimkan seratus lembar ke alamat surel yang kucantumkan di repo. Aku menempelkan satu di laptopku dan menyimpan sisanya di laci.
“Aku pernah lihat logo ini,” kata Celine. Keningnya berkerut. “Di war room. Di layar kamu. Waktu malam peluncuran.”
Air keran masih mengalir di belakangku. Mangkuk di tanganku meneteskan air ke lantai.
“Itu logo tool keamanan,” kataku. Suaraku tenang. Terlalu tenang. “Open source. Banyak orang pakai.”
“Iya?”
“Aku pakai waktu malam itu buat nangkis serangan bot. Makanya muncul di layar.”
Celine menatap stiker itu. Lalu menatapku.
“Tahun lalu,” katanya perlahan, “kampanyeku juga diserang bot. Tim IT eksternal pasang alat keamanan dari developer anonim. Serangannya berhenti dalam lima belas menit.”
Ia menyentuh stiker itu dengan ujung jarinya.
“Aku nggak pernah lihat logonya. Aku cuma tahu nama developernya.”
Jantungku berdetak terlalu keras. Aku bisa mendengarnya di telingaku, di atas suara air keran.
Kalau ia menyebut nama itu. Kalau ia menyebut mr_zero. Aku tidak akan bisa berbohong. Aturan nomor satu. Aku tidak berbohong soal perasaan. Dan aku tidak akan bisa berpura-pura tidak mengenal nama itu ketika ia mengatakannya dengan suara seperti itu, suara orang yang mengucapkan nama sahabat.
Celine membuka mulut.
Lalu ponselnya berbunyi.
Ia mengalihkan pandangan ke ponselnya di atas meja. Notifikasi grup chat. Aku bisa melihat pratinjaunya dari tempatku berdiri. Dewi-Dewi Lembur — Shafira: CEL!!! KAMU DI MANA HARI MINGGU PAGI???
Celine menutup laptopku. Meletakkannya kembali di meja. Mengambil ponselnya. Membaca pesan Shafira dengan kening berkerut.
Momen itu lewat. Seperti kereta yang tidak berhenti di stasiun.
Aku mematikan keran. Tanganku sedikit gemetar. Aku menyekanya di celana.
Ia pulang pukul dua.
Di depan pintu, sebelum keluar, ia berhenti dan menatap rak buku sekali lagi. Lalu menatapku.
“Alfa.”
“Hmm.”
“Kamu pernah kepikiran pindah?”
Aku diam.
“Dari sini,” lanjutnya. “Dari apartemen ini. Dari Trista. Dari Jakarta. Orang kayak kamu,” ia menunjuk rak buku itu, laptop di meja, stiker lingkaran yang dicoret, “orang kayak kamu bisa kerja di mana aja. Kamu pernah kepikiran?”
Pertanyaan itu menggantung di antara kami seperti asap yang belum hilang dari dapur.
Aku memikirkan email Haruto Mori. Kami akan menunggu. Hari ke-45. Aku memikirkan draf kosong dengan subjek yang sudah kutulis.
Aku memikirkan aturan nomor delapan. Hari ke-30. Bilang semuanya.
Dua hari lagi.
“Selasa,” kataku.
Celine menatapku.
“Selasa aku jawab,” kataku. “Semuanya. Bareng hal yang mau aku bilang.”
Ia menatapku lama. Lalu mengangguk pelan.
“Selasa,” ulangnya.
Ia keluar. Pintu tertutup. Langkahnya terdengar di lorong, lalu hilang di balik pintu lift.
Aku berdiri di depan pintu yang tertutup selama satu menit penuh.
Lalu aku berjalan ke meja kerja, membuka laptop, dan menatap stiker di bagian belakangnya.
Lingkaran dengan garis miring di tengahnya.
Aku membuka folder draf email. Subjek: Re: Tawaran posisi Principal Security Engineer — Keputusan. Badan email: kosong.
Aku mengetik satu kalimat.
Mohon maaf, Mori-san.
Lalu aku berhenti. Menatap kalimat itu. Kursor berkedip di ujungnya.
Aku belum menyelesaikannya. Tapi untuk pertama kalinya sejak email itu datang, aku tahu kalimat apa yang akan mengikutinya.
Aku menyimpan drafnya.
Di dapur, panci sup yang sudah kosong masih menyisakan wangi jahe di udara. Wangi yang tidak hilang, karena dimasukkan paling akhir.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku reading
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang