Chapter Thirty
Email Penolakan
POV: Alfa
Bayu duduk di lantai ruang server dengan kabel di tangan.
Kabel biru tebal, ujungnya masih berkilat, terlepas dari port yang seharusnya. Bayu memeluknya di dada seperti memeluk anak kucing yang terluka. Kacamatanya miring. Hidungnya merah. Di sekelilingnya, lampu-lampu indikator di rak Server B berkedip kuning dan merah, bukan hijau seperti biasanya.
Ia mendongak ketika aku masuk.
“Bang,” katanya, suaranya serak. “Maaf, Bang. Maaf banget. Aku nggak sengaja. Aku cuma mau lihat dari jendela. Aku cuma mau mastiin Abang aman. Terus kakiku nyangkut. Terus kabelnya copot. Terus aku panik, colokin lagi, terus semuanya merah, Bang. Semuanya merah.”
Aku berjongkok di depannya. Mengambil kabel dari pelukannya dengan pelan.
“Kamu colok ke port tujuh,” kataku. “Harusnya port tiga.”
“Port tiga sama port tujuh kelihatan sama, Bang!”
“Iya. Itu salah desain rak-nya. Bukan salah kamu.”
Bayu menatapku. Matanya berkaca-kaca lagi.
Aku mencolokkan kabel itu ke port tiga. Lampu-lampu indikator di rak Server B berkedip sekali, dua kali, lalu satu per satu berubah hijau. Dari luar ruang server, terdengar suara Bang Togar di telepon, “Iya, Pak Hendra. Sudah, Pak. Sudah normal. Bukan, Pak, bukan serangan. Kesalahan teknis kecil. Iya, Pak. Anak saya yang benerin. Iya, Pak, yang di dinding kehormatan.”
Bayu mengusap hidungnya dengan lengan hoodie anime biru mudanya.
“Bang,” bisiknya. “Tadi aku ganggu, ya?”
Aku diam.
“Bang Togar bilang Abang lagi di atap sama Mbak Celine.” Bayu menunduk. “Bang Togar bilang mukanya Abang sama Mbak Celine deket banget. Bang Togar bilang dia ngerusak momen paling penting dalam sejarah lantai 17.”
Dari luar ruang server, suara Bang Togar, yang jelas mendengar: “AKU NGGAK BILANG PALING PENTING, BAYU! AKU BILANG SALAH SATU YANG PENTING!”
Bayu menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Maaf, Bang. Kalau aku nggak kesandung...”
“Bay.”
“Ya, Bang?”
“Kamu lari ke jendela buat mastiin aku aman.”
Bayu mengangguk.
“Itu bukan hal yang perlu dimaafkan.”
Bayu menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, ia tersenyum. Senyum yang pecah di tengah, seperti anak kecil yang baru saja diberi tahu bahwa ia tidak dihukum.
“Bang,” katanya. “Besok aku pakai hoodie yang biasa aja. Yang nggak ada animenya. Biar Abang kelihatan lebih keren kalau aku berdiri di sebelah Abang.”
“Kenapa aku perlu kelihatan keren besok?”
Bayu mengedipkan mata. “Firasat, Bang.”
Pukul sembilan malam, lantai 17 kosong.
Server B sudah normal sejak pukul tujuh. Lantai sembilan sampai lima belas sudah bisa mengakses sistem. Tim Sales sudah menutup laporan bulanan mereka. Pak Hendra sudah mengirim pesan terima kasih ke Bang Togar, yang Bang Togar teruskan ke grup divisi IT dengan tambahan tiga puluh emoji tangan berdoa.
Aku seharusnya pulang. Aku tidak pulang.
Aku duduk di mejaku, menatap kucing oranye di sudut monitor, dan membuka log printer.
Bukan log hari ini. Log dua puluh delapan hari lalu.
16:42 | SHAFIRA.N | PRN-21-KYOTO | TARGET_JEPANG.pdf | 1 hal.
Aku mencetaknya.
Printer lantai 17 berdengung, lalu memuntahkan satu lembar kertas. Satu baris di bagian atas. Huruf monospace kecil. Data yang tidak berarti apa-apa bagi siapa pun yang tidak tahu cara membacanya.
Aku melipat kertas itu dua kali dan memasukkannya ke saku kemeja.
Besok, setelah Celine mengatakan apa pun yang akan ia katakan, aku akan mengeluarkan kertas ini. Aku akan menunjukkannya padanya. Aku akan bilang aku tahu sejak hari kedua. Dan aku akan bilang kenapa aku tetap naik ke atap.
Lalu aku akan bilang soal mr_zero.
Itu bagian yang paling sulit. Lebih sulit dari Tokyo. Lebih sulit dari log printer. Karena untuk taruhan, Celine yang berbohong padaku. Tapi untuk mr_zero, aku yang berbohong padanya. Setahun. Dan tiga minggu terakhir, aku membaca setiap kata yang ia tulis tentangku, tahu bahwa itu tentangku, dan membalas seolah aku orang lain.
Aku tidak tahu apakah ia akan memaafkanku untuk itu.
Aku tidak tahu apakah aku pantas dimaafkan.
Pukul sepuluh, aku sampai di apartemen Kalibata.
Panci sup dari hari Minggu masih di rak piring, dicuci dan dikeringkan. Rak buku masih di dinding. Hujan Bulan Juni masih di tempatnya, sedikit miring karena Celine mengambilnya kemarin dan mengembalikannya dengan posisi yang berbeda. Aku tidak meluruskannya.
Aku duduk di meja kecil di samping jendela dan membuka laptop.
Stiker lingkaran dengan garis miring menatapku dari bagian belakang layar.
Aku membuka folder draf email.
Re: Tawaran posisi Principal Security Engineer — Keputusan.
Badan email hanya berisi satu kalimat yang kutulis hari Minggu, setelah Celine pulang.
Mohon maaf, Mori-san.
Aku menatap kalimat itu lama. Kursor berkedip di ujungnya.
Lalu aku mulai menulis.
Mohon maaf, Mori-san.
Saya sudah memikirkan tawaran Anda selama hampir sebulan, seperti yang Anda duga dalam email pertama Anda. Saya memikirkannya dengan sangat dalam. Mungkin terlalu dalam.
Tawaran Anda adalah pintu yang selama ini hanya bisa saya bayangkan. Bekerja dengan orang-orang yang mengenal pekerjaan saya. Di kota yang tidak pernah saya kunjungi. Dengan tim yang saya kagumi sejak saya masih menulis kode di warnet di Purwokerto.
Saya sangat berterima kasih. Saya tidak tahu bagaimana Anda menemukan saya, tapi saya tahu itu bukan hal yang mudah. Saya sudah lama tidak ditemukan oleh siapa pun.
Tapi saya harus menolak.
Bulan ini, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, ada seseorang di sini yang melihat saya. Bukan pekerjaan saya. Saya. Saya belum tahu apakah ini akan berhasil. Saya belum tahu apakah setelah besok, ketika saya mengatakan beberapa hal yang harus saya katakan, ia masih mau melihat saya dengan cara yang sama.
Tapi saya tahu bahwa kalau saya pergi sekarang, saya tidak akan pernah tahu jawabannya. Dan saya sudah dua puluh delapan tahun tidak tahu jawaban untuk banyak hal.
Saya ingin tahu yang ini.
Mohon maaf atas waktu yang sudah Anda tunggu. Kalau suatu hari Kaizen Labs membutuhkan bantuan untuk proyek apa pun, saya akan senang membantu dari sini, tanpa dibayar. Itu yang paling sedikit bisa saya lakukan.
Hormat saya,
Alfa Danuarta
Aku membaca email itu tiga kali. Membaca setiap baris seperti membaca kode sebelum di-deploy. Mencari celah. Mencari kesalahan.
Tidak ada kesalahan.
Kalimat-kalimat itu benar semua. Itu yang membuatnya menakutkan.
Aku menatap tombol kirim.
Aku memikirkan Tokyo. Aku memikirkan gaji yang membuatku harus menghitung nolnya dua kali. Aku memikirkan orang-orang di forum yang bertanya apakah mr_zero manusia sungguhan atau satu tim besar yang menyamar. Aku memikirkan apartemen kecil di Kalibata dengan retakan di sudut langit-langit, dan meja pojok di lantai 17, dan kucing oranye yang memegang papan SEMANGAT KERJA!.
Lalu aku memikirkan atap. Garis samar Gunung Salak di antara dua gedung tinggi. Jari-jari yang menyusup di antara jari-jariku di atas keyboard war room. Hujan yang membuat seorang perempuan yang tidak pernah kehujanan tertawa sampai menangis. Sepeda ontel warna mint dan topi berenda merah muda yang terbang tertiup angin. Ujung hidung yang menyentuh ujung hidungku, sedikit, sangat sedikit, dua jam yang lalu.
Aku masih mau.
Kamu belum dengar.
Aku masih mau.
Aku menekan tombol kirim.
Pukul sebelas lewat empat menit.
Email terkirim.
Aku duduk di depan laptop, menatap kotak keluar yang sekarang kosong.
Rasanya aneh. Rasanya seperti menekan tombol delete pada direktori yang sangat besar, dengan sengaja, dengan sadar, dan menunggu sistem memprosesnya. Ada rasa takut. Ada rasa lega. Ada sesuatu yang lain di bawahnya, sesuatu yang ringan dan hangat dan menakutkan di waktu yang sama.
Aku memilih untuk tinggal.
Lalu aku membuka email baru. Kali ini kepada alamat HR. hr.ops@tristagroup.co.id. Alamat yang setiap hari dibuka oleh staf HR Operations di lantai 19. Alamat yang, hari Senin malam seperti ini, akan dibaca besok pagi oleh perempuan dengan jepit rambut berbentuk hewan dan hoodie abu-abu yang lengannya digulung tiga lipatan.
Aku ragu sebentar.
Alea yang menangis di toilet. Alea yang mundur dari taruhan. Alea yang menelepon sahabatnya dan menyuruhnya belajar sup ayam. Alea yang, entah bagaimana, tidak pernah membocorkan suratku ke siapa pun. Begitu yang kupercaya.
Ia berhak tahu lebih dulu dari Bang Togar. Ia yang memegang tanganku saat aku menandatangani surat itu.
Kepada Tim HR Operations,
Dengan ini saya mengajukan permohonan pembatalan pengunduran diri yang saya ajukan pada tanggal [hari ke-5]. Saya memutuskan untuk tetap bekerja di Trista Group.
Mohon dibantu prosesnya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Terima kasih, Mbak Alea, untuk semuanya.
Alfa Danuarta
IT Infrastructure, Lt. 17
Aku membaca kalimat terakhir itu. Terima kasih, Mbak Alea, untuk semuanya. Kalimat yang tidak seharusnya ada di email resmi ke HR.
Aku tidak menghapusnya.
Kirim.
Pukul sebelas lewat sebelas menit.
Balasan Haruto Mori datang pukul sebelas lewat dua puluh delapan.
Di Tokyo, sudah lewat pukul satu dini hari. Aku membayangkan ia membacanya di tempat tidur, dengan lampu kamar yang redup, seperti aku membaca DM celestial_c di apartemen ini selama setahun.
Alfa-san,
Terima kasih atas kejujuran Anda. Saya tidak terkejut. Seperti yang saya tulis di email pertama, orang seperti Anda jarang mengambil keputusan tanpa memikirkannya dengan sangat dalam. Dan orang yang berpikir sangat dalam, biasanya, pada akhirnya memilih sesuatu yang tidak bisa diukur dengan gaji.
Saya menghormati keputusan Anda.
Tapi izinkan saya mengatakan satu hal, sebagai seseorang yang lebih tua sepuluh tahun dari Anda: pintu kami tetap terbuka sampai hari ke-45, seperti yang kita sepakati. Bukan karena saya ragu dengan keputusan Anda. Karena hidup kadang berubah lebih cepat dari keputusan kita.
Saya harap Anda tidak membutuhkannya.
Semoga orang yang melihat Anda tahu betapa beruntungnya ia.
— H. Mori
Aku membaca email itu sampai habis. Lalu membacanya lagi.
Hidup kadang berubah lebih cepat dari keputusan kita.
Aku menutup email itu.
Pintu tetap terbuka sampai hari ke-45. Enam belas hari lagi. Aku tidak akan membutuhkannya.
Aku tidak tahu, malam itu, betapa salahnya aku.
Pukul sebelas lewat empat puluh, notifikasi forum berbunyi.
celestial_c: Zero. Masih bangun?
Aku menatap pesan itu.
Besok, setelah atap, aku tidak akan bisa lagi menjadi mr_zero baginya. Besok, aku akan memberitahunya. Dan setelah itu, semua pesan ini, setahun pesan, akan berubah makna. Setiap kata yang kubalas. Setiap nasihat. Setiap tidur, Cel, besok Senin.
Ini, mungkin, percakapan terakhir antara celestial_c dan mr_zero.
Aku: Masih.
celestial_c: Besok hari besar. Aku mau jujur ke dia. Pagi ke sahabat-sahabatku dulu, terus siang ke dia. Di atap.
celestial_c: Tadi sore kami hampir. Kamu tahu kan maksudku. Hampir. Terus atasannya dobrak pintu teriak SERVER B DOWN.
Aku menutup wajahku dengan satu tangan.
celestial_c: Aku ketawa sampai nangis, Zero. Aku nggak pernah ketawa kayak gitu. Aku nggak pernah hampir kayak gitu.
celestial_c: Dia bilang besok dia juga mau bilang sesuatu. Satu hal yang dia sembunyiin, satu hal yang dia putusin.
celestial_c: Aku takut, Zero. Tapi aku juga nggak takut. Kamu ngerti nggak?
Aku menatap layar.
Aku ngerti. Aku ngerti lebih dari siapa pun di dunia ini. Karena satu hal yang kusembunyikan sedang membaca pesan ini. Dan satu hal yang kuputuskan baru saja terkirim ke Tokyo empat puluh menit yang lalu.
Aku: Ngerti.
Aku: Besok, apa pun yang dia bilang, dengarin sampai selesai. Jangan pergi di tengah.
celestial_c: Kenapa kamu ngomong gitu?
Aku: Karena kadang orang butuh waktu buat ngejelasin hal yang susah. Dan kadang bagian paling penting ada di akhir.
celestial_c: Oke. Aku janji. Aku dengerin sampai selesai.
celestial_c: Makasih, Zero. Untuk setahun ini. Kamu tahu nggak, kamu orang pertama yang bikin aku ngerasa nggak perlu cantik buat didengerin.
Aku menatap kalimat itu.
Lalu aku mengetik satu kalimat terakhir. Kalimat yang kuketik sebagai mr_zero, tapi untuk pertama kalinya, aku tidak berusaha membuatnya terdengar seperti orang lain.
Aku: Kamu memang nggak perlu. Tidur, Cel. Sampai ketemu besok.
Kirim.
Aku menatap pesan itu terkirim. Dua centang. Dua centang biru.
Sampai ketemu besok.
Aku tidak sadar apa yang kutulis sampai pesan itu sudah dibaca. Sampai ketemu. mr_zero tidak pernah bertemu siapa pun. mr_zero hanya nama di layar.
Titik-titik kecil muncul. Lama. Menghilang. Muncul lagi.
celestial_c: ...Zero?
Aku tidak membalas.
Aku menutup laptop. Pelan. Seperti menutup pintu kamar orang yang sedang tidur.
Besok, ia akan tahu. Besok, di atap, setelah tiga kalimatnya dan sebelum kertas log printer di saku kemejaku. Ia sudah berjanji akan mendengarkan sampai selesai.
Aku membuka catatan di ponsel. Delapan aturan.
Aku membaca semuanya, dari atas ke bawah, satu kali lagi.
1. Jangan bohong soal perasaan.
2. Jangan mempermalukan siapa pun.
3. Jangan bilang kalau sudah tahu, sampai waktunya.
4. Kalau ada yang benar-benar terluka, berhenti.
5. Jangan berharap.
6. Jangan masuk pantry lantai 19 hari Jumat sore.
7. Sudah terlambat buat nomor 5.
8. Hari ke-30. Bilang semuanya. Ke Celine dulu.
Aku menambahkan satu baris di bawahnya.
9. Jangan takut.
Aku mematikan lampu. Berbaring di kasur. Menatap retakan di sudut langit-langit yang sudah ada sejak aku pindah empat tahun lalu.
Kertas log printer, terlipat dua kali, ada di saku kemeja yang tergantung di balik pintu. Kemeja flanel hijau, yang dicuci Celine dengan tangan dan disetrika dua kali.
Kemeja flanel biru tua masih di bahu Celine, di suatu tempat di Kuningan.
Besok aku akan memakai yang hijau.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam empat minggu, aku tertidur tanpa memikirkan Tokyo.
Aku tertidur dengan memikirkan atap. Pukul dua belas siang. Angin yang bersih. Perempuan dengan kemeja flanel biru tua yang kebesaran, yang berjanji akan mendengarkan sampai selesai.
Hari ke-30.
Aku tidak tahu bahwa saat aku tertidur, di sebuah apartemen di Tebet, seseorang sedang memilih satu foto dari galeri ponselnya. Foto selembar kertas yang diambil dari dalam laci yang tidak terkunci, pukul sembilan lewat empat puluh tiga pagi tadi, di lantai 21.
Ia memotongnya sedikit di bagian pinggir. Menaikkan kecerahannya, supaya tulisan tangan di bawah sana terbaca lebih jelas.
Lalu ia menyimpannya di folder bernama Besok Pagi, dan memasang alarm pukul enam.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan reading
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang