← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Forty Five

Resolved

POV: Celine


Dua belas hari setelah lift berhenti di antara lantai 19 dan 18, ia masih belum membalas satu pun issue-ku.

Kami bertemu setiap hari. Rapat koordinasi Trista Home di lantai 22, setiap pagi pukul sembilan. Rapat audit di lantai 30, dua kali seminggu. Kadang berpapasan di lobi, di depan pintu putar yang tidak lagi macet sejak ia membersihkan sensornya.

Ia memanggilku Bu Celine di rapat. Aku memanggilnya Pak Alfa. Kami membicarakan sistem pembayaran, enkripsi data pelanggan, jadwal uji penetrasi. Ia menjelaskan hal-hal teknis dengan sabar, dengan analogi yang bisa dimengerti orang brand. Aku mencatat. Aku bertanya. Aku tidak menatapnya lebih dari yang diperlukan.

Itu yang kujanjikan pada diriku sendiri. Ia bilang jangan datang. Ia tidak pernah mencabutnya. Ia kembali ke Jakarta karena kontrak, bukan karena aku. Ia menggenggam tanganku di lift yang gelap, dan ia bilang aku tahu, dan setelah itu ia tidak bilang apa-apa lagi.

Aku tidak akan menuntut apa-apa.

Aku hanya terus menulis.

Hari ke-164. Hari ke-170. Hari ke-175.

Setiap pagi pukul lima, setelah aku mengirim issue, aku menatap layar laptop menunggu sesuatu. Komentar. Reaksi. Apa pun.

Tidak ada.

Pull request di README baris 47 masih terbuka. Satu huruf N. Tiga bulan.


Hari Jumat, hari ke-180, aku tidak naik ke atap jam dua belas.

Bukan karena aku tidak mau. Rapat dengan Pak Wibisono berlangsung sampai pukul satu, lalu ada presentasi ke klien di Kuningan sampai pukul empat, lalu aku kembali ke kantor dan duduk di mejaku di lantai 22 sampai semua orang pulang.

Pukul sembilan malam, aku masih di sana.

Aku membuka laptop. Membuka repo. Menekan tombol hijau.

New issue.

Aku menatap kotak kosong itu lama.

Seratus delapan puluh hari. Enam bulan. Seratus tujuh puluh sembilan kali aku menulis di sini, tentang hal-hal kecil dan hal-hal besar, tentang Bang Togar dan gorengan dan Bayu dan Mbak Laras dan Alea yang jahenya selalu kebanyakan dan Shafira yang sekarang memakai sepatu datar dan menyanyi sumbang di lampu merah.

Aku tidak pernah menulis soal kata itu.

Seratus tujuh puluh sembilan issue, dan aku tidak pernah menulis kata itu di sini. Aku menulis soal lantai 21. Soal cuma main. Soal email Senin malam dan Selasa malam. Soal tiket palsu dan kursi yang tidak goyang dan pintu atap yang terbuka dengan kartuku.

Aku tidak pernah menulis soal aman.

Aku sudah menayangkannya di layar tiga meter di depan tiga ratus orang. Aku sudah mengakuinya. Tapi aku tidak pernah menjelaskan kenapa. Bukan pada tiga ratus orang itu. Pada dia.

Malam ini, aku menulisnya.


Hari ke-180 setelah kamu pergi

Hari ini enam bulan.

Aku nggak tahu kenapa aku nunggu sampai hari ini. Mungkin karena aku takut. Mungkin karena aku nggak tahu cara ngomongnya. Mungkin karena aku pikir, kalau aku nulis ini, aku nggak punya alasan lagi buat nulis besok.

Di hari pertama, di Ruang Kyoto, aku nulis satu kata di bawah namamu. Kamu udah baca. Satu gedung udah baca. Puluhan ribu orang di internet udah baca.

Aman.

Aku garis bawahi dua kali.

Aku udah bilang di town hall kenapa. Supaya aku yakin. Supaya aku nggak perlu ngerasa bersalah. Itu benar. Tapi itu bukan semuanya.

Semuanya begini.

Dua puluh tujuh tahun, aku dilihat orang. Tiap hari. Laki-laki membeku tiga detik di depanku. Perempuan menilai bajuku. Mamaku bilang aku nggak boleh kelihatan berantakan. Aku belajar dari kecil, cara jadi orang yang nggak bisa disakiti. Senyum yang dihitung. Payung ke mana-mana. Nggak pernah kehujanan.

Waktu aku lihat fotomu di direktori karyawan, kaos abu-abu dan headphone dan muka orang yang dipaksa berdiri di depan kamera, aku pikir kamu sama kayak aku. Orang yang udah belajar nggak bisa disakiti. Orang yang nggak bakal baper karena udah tahu diri. Orang yang nggak bakal ngadu karena nggak punya siapa-siapa buat diadu.

Aku pikir kamu aman karena aku pikir kamu nggak bisa sakit.

Aku salah ukur.

Kamu bisa sakit. Kamu cuma nggak pernah teriak. Kamu bilang “pagi” ke orang-orang yang ngetawain kamu. Kamu bilang “terima kasih udah milih saya” ke tiga orang yang milih kamu karena kamu nggak berisiko. Kamu bilang “aman” ke aku di lift, pakai kata yang aku tulis sendiri, dan aku baru ngerti sekarang kenapa.

Itu satu-satunya kata yang pernah aku kasih ke kamu duluan.

Aku mau kasih kata lain.

Tapi aku nggak mau nulisnya di sini. Aku udah setahun nulis ke kamu tanpa wajah. Enam bulan nulis ke repo yang mungkin nggak pernah kamu buka. Kata yang ini, aku mau bilang pakai mukaku sendiri. Di depan kamu. Kalau kamu masih mau dengar.

Kalau nggak, nggak apa-apa.

Sedikit apa-apa.

Tapi nggak apa-apa.

— C.

Aku menatap pesan itu lama.

Pukul sembilan lewat empat puluh. Lantai 22 kosong. Lampu-lampu di langit-langit sudah dimatikan otomatis, hanya lampu mejaku yang masih menyala.

Aku menekan tombol hijau.

Submit new issue.

Issue nomor 1.027. Statusnya hijau. Open. Label kuning muda. letters.

Aku menutup laptop. Menyandarkan punggung ke kursi. Menutup mata.


Ponselku bergetar pukul sepuluh lewat tiga belas.

Aku sedang di lift, turun ke basement. Aku tidak memeriksanya. Notifikasi dari repo itu selalu ada setiap malam. Seseorang dari Jepang yang membaca lewat Google Translate dan meninggalkan emoji bunga. Seseorang dari India yang menulis praying for you, sister. rafa_lima yang kadang meninggalkan satu kalimat dalam bahasa Portugis yang Bayu terjemahkan keesokan harinya.

Ponselku bergetar lagi. Dua kali. Tiga kali.

Lift berhenti di lobi. Aku tidak keluar. Pintu tertutup lagi. Lift turun ke basement B2.

Aku membuka ponsel.

Tiga notifikasi.

Yang pertama:

alfadanuarta merged pull request #1013: Fix typo in README line 47.

Aku berhenti bernapas.

Yang kedua:

alfadanuarta commented on issue #1027: Hari ke-180 setelah kamu pergi.

Yang ketiga:

alfadanuarta closed issue #1027 as completed.

Pintu lift terbuka di basement B2. Aku tidak keluar. Aku berdiri di dalam lift yang terbuka dengan ponsel di tangan dan jari yang gemetar terlalu keras untuk membuka notifikasi kedua.

Aku membukanya.

Di bawah issue hari ke-180, di bawah semua kalimatku tentang aman dan salah ukur dan kata yang ini, aku mau bilang pakai mukaku sendiri, satu komentar.

Akun dengan foto profil lingkaran abu-abu kosong. Nama pengguna yang belum pernah kulihat, karena enam tahun ia tidak pernah memakainya di depan siapa pun. Pemilik repo.

Komentarnya hanya satu kata.

Resolved.

Dan di bawahnya, status berubah. Ungu. Closed.


Aku tidak ingat berlari.

Yang kuingat: pintu lift yang tertutup lagi karena aku tidak keluar. Jariku yang menekan tombol 32 dan tidak ada yang terjadi, karena lift tidak naik ke lantai 32, lift hanya sampai lantai 31. Jariku menekan tombol 31. Lift naik. Angka di atas pintu bergerak terlalu lambat. B1. Lobi. 2. 5. 10. 17. 22.

Di lantai 22, lift berhenti. Pintu terbuka. Tidak ada siapa-siapa. Seseorang menekan tombol dan pergi sebelum lift datang. Pintu tertutup lagi.

Aku menatap angka itu. 23. 25. 28. 31.

Tangga darurat. Satu lantai. Aku naik dengan sepatu flat krem yang sekarang sudah tidak baru lagi, yang sudah terendam genangan air hujan di atap di hari ke-118.

Pintu besi. AREA TERBATAS — HANYA PETUGAS.

Panel akses. Lampu merah.

Aku menempelkan kartuku.

Bip. Hijau.

Pintu terbuka.


Atap Trista Tower pukul sepuluh malam.

Angin. Lebih dingin dari angin siang. Bersih. Langit Jakarta tidak berbintang, tidak pernah berbintang, tapi di bawahnya, ribuan lampu kota menyala seperti seseorang menumpahkan perhiasan di atas karpet hitam.

Unit AC raksasa yang berdengung. Antena di sudut. Lampu merah kecil di puncaknya, berkedip pelan.

Aku berjalan ke balik unit AC terbesar.

Bangku papan kayu. Di atas dua balok beton. Sedikit miring ke kanan.

Ia duduk di ujung yang biasa.

Kemeja flanel hijau. Kaos hitam di baliknya. Rambut yang disisir jari, menyerah di tengah jalan. Ponsel di tangannya, layarnya masih menyala, menampilkan halaman yang sama dengan halaman di ponselku.

Ia mendongak ketika aku datang.

Ia tidak terkejut. Ia terlihat seperti orang yang sudah menunggu, dan sudah tahu bahwa yang ditunggu akan datang.

“Aku nebak kamu bakal naik,” katanya.

Suaranya serak. Lebih serak dari yang pernah kudengar.

Aku berhenti tiga langkah di depannya.

Aku tidak bisa bergerak lebih dekat. Kakiku menolak. Seperti tiga detik itu. Seperti laki-laki yang membeku di depanku selama dua puluh tujuh tahun.

Kali ini aku yang membeku.


“Kamu merge,” bisikku.

“Satu huruf N.”

“Tiga bulan.”

“Aku nunggu bisa nekan tombolnya dari sini.”

Ia menunjuk bangku papan kayu. Atap. Langit. Tempat yang sama di mana ia memberi tahuku tagline-ku tidak jujur, di mana aku membetulkan kerah jaket Simanjuntak, di mana ujung hidungnya menyentuh ujung hidungku setengah senti sebelum Bang Togar mendobrak pintu.

“Bukan dari Tokyo,” katanya. “Bukan dari lantai 30. Dari sini.”

Aku menatapnya.

“Kamu baca semua?” tanyaku.

“Seratus delapan puluh.”

“Dari kapan?”

“Hari ke-118. Bayu kirim link. Aku baca di bangku depan minimarket di stasiun yang aku nggak tahu namanya. Sampai jam dua pagi.” Ia menatap layar ponselnya. “Setelah itu tiap pagi. Jam lima. Waktu kereta pertama lewat.”

“Kenapa nggak bales?”

Ia diam lama.

“Karena aku takut,” katanya.


Ia meletakkan ponselnya di bangku. Menatap tangannya sendiri. Telapak tangan kanannya. Aku bisa melihat, di bawah cahaya kota yang samar, titik-titik kecil bekas luka yang sudah memudar.

“Aku harus bilang sesuatu dulu,” katanya. “Sebelum kamu bilang kata yang kamu tulis.”

Aku menunggu.

“Setahun aku jadi mr_zero buat kamu. Dan sebulan terakhir, aku tahu kamu siapa.” Suaranya pelan. Datar. Seperti membacakan laporan. Tapi tangannya, di atas lututnya, terkepal. “Sejak hari keempat. Pesanmu soal laptop. Soal salah angka di slide. Aku tahu itu kamu. Dan aku nggak bilang.”

Aku tidak bergerak.

“Aku baca semua yang kamu tulis soal aku. Dia nggak kayak yang aku kira. Sedikit apa-apa. Aku takut kalah, bukan taruhannya. Aku baca, dan aku bales seolah aku orang lain. Aku kasih kamu nasihat soal aku. Itu bukan kejujuran. Itu akses admin yang aku pakai buat baca hidup orang lain.” Ia menatapku. “Hal yang aku bilang nggak akan pernah aku lakuin.”

Angin bertiup. Rambutku jatuh ke depan wajah. Aku tidak menyibakkannya.

“Kamu bilang di lantai 21 kamu cuma main,” katanya. “Aku tahu kamu bohong soal aku. Tapi aku bilang di Ruang Kyoto, aku nggak tahu kamu bohong soal yang mana lagi.” Ia menelan ludah. “Itu nggak adil. Aku punya setahun bukti kamu nggak bohong. Setahun pesan. Aku yang paling tahu kamu nggak bohong. Dan aku pura-pura nggak tahu, karena lebih gampang pergi kalau aku pura-pura nggak tahu.”

Ia berhenti.

“Maaf, Celine,” katanya. “Aku juga salah ukur.”


Aku melangkah satu langkah.

“Malam itu,” kataku. Suaraku keluar pecah. “Hari ketiga puluh. Aku nulis tujuh belas pesan ke kamu. Ke Zero. Sepanjang hari.”

“Aku hapus,” katanya. “Bareng akunnya. Aku nggak baca satu pun.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak tahu isinya, Celine. Aku nggak akan pernah tahu.”

Aku melangkah satu langkah lagi.

“Pesan kedelapan belas nggak pernah sampai,” kataku. “Jam sebelas lewat lima puluh satu. Tujuh belas menit setelah kamu hapus akunnya. Pengguna tidak ditemukan.”

Ia menatapku. Sesuatu di wajahnya berubah. Seperti seseorang yang baru menyadari bahwa ada log yang tidak pernah ia baca, di server yang sudah ia matikan.

“Isinya apa?” tanyanya. Pelan. Hampir tidak terdengar.

Aku melangkah satu langkah lagi. Sekarang aku berdiri tepat di depannya. Ia duduk di bangku papan kayu yang miring. Aku berdiri. Untuk pertama kalinya, aku menatapnya dari atas.

“Aku bohong tadi pagi, Zero,” kataku. “Semua yang aku bilang di depan orang-orang itu bohong.”

Suaraku pecah di tengah. Aku tidak berhenti.

“Aku sayang dia.”


Ia tidak bergerak.

Tiga detik.

Aku menghitungnya. Kebiasaan lama yang tidak akan pernah hilang.

Satu.

Dua.

Tiga.

Ia membeku. Tiga detik penuh. Di depanku. Seperti dua puluh tujuh tahun laki-laki membeku di depanku.

Tapi bukan karena wajahku.

Lalu ia berdiri.

Pelan. Bangku papan kayu bergoyang di belakangnya. Ia berdiri di depanku, dan sekarang ia yang menatapku dari atas, sedikit, karena ia lebih tinggi dua jengkal, dan di bawah cahaya kota yang samar, aku bisa melihat matanya.

Basah.

“Aku nggak pernah teriak,” katanya. “Aku nggak tahu caranya.”

“Aku tahu.”

“Aku dengar kalimat itu sekarang. Enam bulan terlambat.” Suaranya bergetar. Pertama kalinya aku mendengar suaranya bergetar. “Pakai mukamu sendiri.”

“Kamu bilang di email, belum bisa,” bisikku. “Bukan nggak bisa.”

“Aku tahu apa yang aku tulis.”

“Sekarang?”

Ia mengangkat tangannya. Pelan. Ragu. Seperti seseorang yang baru belajar cara melakukannya.

Lalu ia menyibakkan rambutku dari depan wajahku. Menyelipkannya di belakang telingaku. Jari-jarinya dingin. Ujungnya sedikit kasar.

Tangannya tidak turun. Tangannya tetap di sana, di sisi wajahku, di bawah telingaku, di tempat rambutku tadi jatuh.

“Sekarang bisa,” katanya.


Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu.

Mungkin aku. Mungkin ia. Mungkin kami berdua, dalam satu detik yang sama, seperti dua paket data yang dikirim dari dua ujung kabel yang berbeda dan akhirnya bertemu tepat di tengah. Seperti di senja hari kedua puluh sembilan, sebelum pintu besi didobrak.

Tidak ada yang mendobrak pintu malam ini.

Jarak itu berkurang. Satu jengkal. Setengah. Ujung hidungnya menyentuh ujung hidungku. Sedikit. Seperti waktu itu.

Lalu jarak itu hilang.

Bibirnya menyentuh bibirku. Pelan. Hati-hati. Ragu. Seperti seseorang yang tidak pernah melakukannya dan tidak yakin harus melakukannya bagaimana. Seperti genggaman pertama di war room. Seperti pelukan pertama di bawah hujan, ketika ia membeku tiga detik sebelum lengannya bergerak.

Hangat. Sedikit asin. Aku tidak tahu itu air mataku atau air matanya.

Dua puluh delapan tahun. Ia tidak pernah melakukan ini.

Dua puluh tujuh tahun. Aku pernah dicium laki-laki. Tidak ada satu pun yang seperti ini. Tidak ada satu pun yang menciumku dengan mata terpejam dan tangan yang gemetar di sisi wajahku, seperti memegang sesuatu yang bisa pecah.

Angin bertiup. Lampu merah kecil di puncak antena berkedip pelan.

Ia melepaskan ciuman itu lebih dulu. Hanya sedikit. Dahinya masih menempel di dahiku. Napasnya hangat di wajahku.

“Hari ke berapa sekarang?” bisiknya.

Aku tertawa. Tawa yang basah, pecah, di atap Trista Tower pukul sepuluh malam.

“Seratus delapan puluh.”

“Mulai besok,” katanya, “nggak usah dihitung lagi.”


Kami duduk di bangku papan kayu sampai jam sebelas.

Bangku itu bergoyang setiap kali salah satu dari kami bergerak. Ia bilang ia ingin memperbaikinya. Aku bilang jangan.

“Biar kita inget kenapa dia miring,” kataku.

Ia menatap ujung bangku yang terangkat dari balok beton. Ujung yang terangkat di senja hari kedua puluh sembilan, ketika Bang Togar mendobrak pintu dan ia berdiri terlalu cepat.

Ia tidak memperbaikinya.

Tanganku di dalam tangannya. Jari-jari kami bertaut. Di pangkuannya, ponselnya, layar menampilkan repo zero-guard. File README. Baris 47.

Authentication.

Dengan huruf N.

“Enam tahun,” katanya. “Nggak ada yang nemu.”

“Aku belajar tiga minggu buat bisa nemuin itu.”

“Aku tahu. Kamu tulis di issue hari ke-92.”

“Kamu baca semua.”

“Aku baca semua,” katanya. Lalu, lebih pelan: “Aku selalu baca semua yang kamu tulis, Celine. Dari setahun lalu. Dari pesan terima kasih yang terlalu panjang jam tiga pagi.”

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya.

Bahunya tidak tegang lagi. Tidak seperti di war room, ketika ia tidak bergerak sampai subuh supaya tidak membangunkanku. Tidak seperti di bawah hujan, ketika ia membeku tiga detik. Bahunya rileks, hangat, seperti tempat yang memang dibuat untuk disandari.


Pukul sebelas lewat lima belas, pintu besi di belakang kami berderit.

Kami menoleh bersamaan.

Pak Udin berdiri di ambang pintu. Seragam satpam shift malam. Topi miring. Dua gelas plastik teh manis di tangannya, uapnya mengepul di udara malam.

Ia menatap kami. Kami di bangku papan kayu. Tanganku di tangan Alfa. Kepalaku di bahunya.

Pak Udin tidak berkata apa-apa selama tiga detik.

Lalu ia berjalan mendekat, pelan, dan meletakkan dua gelas teh manis di atas balok beton di samping bangku.

“Saya lihat di CCTV lobi ada yang lari ke lift jam sepuluh malam,” katanya. “Terus saya lihat lift naik ke lantai 31. Saya pikir, cuma satu orang di gedung ini yang punya kartu buat atap selain tim gedung.”

Ia menatap Alfa.

“Dua, Mas,” koreksinya. “Dua orang.”

“Iya, Pak.”

“Saya beli teh dua,” kata Pak Udin. “Biasanya saya beli dua karena saya nggak bisa minum dua. Malam ini, saya beli dua karena memang pas.”

Ia berbalik dan berjalan kembali ke pintu besi. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.

“Mas, Neng,” katanya. “Saya sudah dua belas tahun jaga gedung ini.”

Kami menunggu.

“Ini pertama kalinya saya naik ke atap,” katanya. “Bagus juga, ya, dari atas.”

Lalu ia pergi. Pintu besi tertutup pelan di belakangnya.

Kami menatap pintu itu. Lalu saling menatap.

Lalu kami tertawa. Bersamaan. Tawa yang keras, yang memantul di antara unit AC raksasa dan tiang antena, yang terbawa angin ke langit Jakarta yang tidak berbintang.

Aku belum pernah mendengarnya tertawa sekeras itu.

Aku tidak yakin ada orang lain yang pernah.


Malam itu, di apartemenku di Kuningan, aku membuka laptop sekali lagi.

Repo zero-guard. Tab Issues. Filter label:letters.

Seratus delapan puluh issue. Seratus tujuh puluh sembilan masih hijau. Open.

Satu ungu. Closed. Hari ke-180.

Di bawahnya, satu kata.

Resolved.

Aku menatap kata itu sampai layar laptopku meredup sendiri.

Lalu aku tidak menulis issue baru.

Untuk pertama kalinya dalam seratus delapan puluh hari, aku tidak perlu.