Chapter Forty Two
Tokyo
POV: Alfa
Apartemenku di Tokyo lebih kecil dari apartemenku di Kalibata.
Dua puluh dua meter persegi. Lantai empat, gedung tua di gang sempit di Nakameguro, sepuluh menit jalan kaki dari stasiun. Satu ruangan dengan tikar tatami yang sudah menguning di pinggirnya. Dapur kecil di sudut, dengan kompor satu tungku. Kamar mandi seukuran lemari. Satu jendela yang menghadap jalur kereta, sehingga setiap empat menit, dari jam lima pagi sampai tengah malam, seluruh ruangan bergetar pelan seperti seseorang mengetuk lantai dari bawah.
Kaizen Labs menawarkan apartemen yang lebih besar. Di gedung baru di Ebisu, dengan pemandangan Menara Tokyo dan gym di lantai dasar. Aku menolaknya. Aku bilang aku tidak butuh banyak tempat.
Itu benar. Aku tidak butuh banyak tempat. Tidak ada rak buku di sini. Buku-bukuku masih di Kalibata, di apartemen yang sewanya kubayar setahun di muka karena aku tidak sanggup mengosongkannya. Bayu yang memegang kuncinya. Ia bilang ia menyiram kaktus di jendela setiap minggu. Aku tidak punya kaktus di jendela. Bayu bilang ia membelikannya, supaya ada yang disiram.
Di sini, aku punya satu kasur lipat, satu meja rendah, satu laptop, dan satu mangkuk.
Aku memasak sup ayam di kompor satu tungku setiap hari Minggu. Ayam di supermarket dekat stasiun mahal dan dagingnya terlalu lembut. Wortelnya terlalu manis. Tidak ada seledri yang sama. Jahenya ada, tapi rasanya lebih tajam, lebih bersih, seperti jahe yang tidak pernah tumbuh di tanah yang basah.
Aku tetap memasukkannya paling akhir.
Kaizen Labs adalah tempat yang kubayangkan selama enam tahun.
Orang-orang di sana membaca log. Semuanya. Tidak ada yang bertanya kenapa aku memakai kaos ke kantor. Tidak ada yang berhenti bicara ketika aku masuk lift. Haruto Mori menyambutku di hari pertama dengan jabat tangan dan bungkukan kecil, lalu membawaku ke ruangan berdinding kaca di lantai sembilan dengan tiga monitor dan kursi yang tidak goyang.
“Selamat datang, mr_zero,” katanya.
“Alfa saja, Mori-san.”
Ia menatapku lama. Lalu tersenyum.
“Alfa-san,” katanya. “Kami sudah lama menunggumu.”
Pekerjaan di sana seperti pekerjaan yang selalu ingin kulakukan. Sistem-sistem keamanan untuk bank, rumah sakit, jaringan listrik. Tim yang pintar dan tenang dan tidak membuang waktu untuk basa-basi. Rapat yang selesai tepat waktu. Kopi yang rasanya bukan seperti air rebusan kardus.
Orang-orang mengenal namaku sebelum mengenal wajahku.
Itu yang kuinginkan. Enam tahun aku menginginkannya.
Bulan pertama, aku bekerja sampai jam sepuluh malam setiap hari. Bulan kedua, sampai jam sebelas. Bulan ketiga, Haruto memanggilku ke ruangannya dan bilang dengan suara pelan bahwa di Jepang, orang yang bekerja terlalu keras biasanya sedang lari dari sesuatu.
“Saya nggak lari, Mori-san.”
Haruto menatapku. Ia tidak membantah. Ia hanya mengangguk, seperti mencatat sesuatu, dan menyuruhku pulang jam tujuh mulai minggu depan.
Aku tidak membuka repo zero-guard sejak malam hari ketiga puluh.
Aku tidak menghapusnya. Kode tidak bersalah. Ribuan orang memakainya. rafa_lima dan beberapa kontributor lain masih merawatnya, menambal bug kecil, menjawab pertanyaan. Aku mematikan semua notifikasinya. Email. Aplikasi. Semuanya.
Aku tahu, kalau aku membukanya, aku akan membaca issue-issue di sana. Seperti aku membaca log. Seperti aku membaca semuanya.
Dan aku tidak ingin membaca orang-orang membicarakan kenapa mr_zero menghilang.
Empat bulan, aku tidak membukanya.
Empat bulan, aku tidak membuka apa pun dari Jakarta, kecuali email Bayu.
Bayu mengirim email setiap hari Jumat. Selalu dimulai dengan kalimat yang sama: Bang, ini bukan darurat, tapi. Lalu laporan. Bang Togar yang sekarang memberi hormat ke bingkai kosong di partisinya setiap pagi. Pak Udin yang anak bungsunya sekarang tidur memeluk boneka beruang bernama Pak Hartono. Bu Ratna yang menolak memutar musik apa pun di lobi, bahkan musik instrumental, karena Ibu trauma, Nak. Gilang yang sudah memberi label ulang semua port di rak Server B dengan warna-warna berbeda.
Bayu tidak pernah menyebut nama Celine. Tidak pernah menyebut Alea. Tidak pernah menyebut Shafira.
Aku tidak pernah bertanya.
Lalu, Jumat di bulan keempat, email Bayu tidak dimulai dengan kalimat yang sama.
Bang. Ini darurat.
Aku membaca baris pertama itu di kereta pulang, berdiri di antara pekerja kantor yang semuanya menatap ponsel, dengan kereta yang bergetar di bawah kakiku.
Bang, aku tahu Abang bilang email ini cuma buat darurat. Aku udah empat bulan mikir ini darurat atau bukan. Aku nanya Bang Togar. Bang Togar bilang, Bayu, kalau kau masih mikir itu darurat atau bukan, berarti itu darurat.
Jadi ini dua hal.
Satu. Video. Konser perpisahan band yang vokalisnya jadi PNS. Lagu terakhir. Lagu yang Abang nyanyiin di karaoke. Aku rekam buat Abang. Udah empat bulan aku simpen.
Dua. Link.
Di bawahnya, satu tautan.
Tautan ke halaman Issues di repo zero-guard. Difilter dengan satu label yang tidak kukenal.
label:letters
Dan di bawah tautan itu, satu kalimat lagi.
Bang, aku janji ke Mbak Celine nggak bakal kasih tahu Abang. Aku ingkar janji. Aku minta maaf ke Mbak Celine nanti. Tapi ini udah hari ke-118, Bang. Aku nggak tega lagi.
Kereta berhenti di stasiun Nakameguro.
Aku tidak turun.
Pintu kereta tertutup. Kereta melaju lagi. Aku berdiri di sana, memegang tiang, menatap layar ponsel, sampai stasiun berikutnya. Lalu stasiun berikutnya. Lalu aku turun di stasiun yang tidak kukenal, dan berjalan keluar, dan duduk di bangku di depan minimarket yang lampunya terlalu terang.
Aku membuka tautan itu.
Seratus delapan belas issue.
Semua dengan label kuning muda yang sama. letters. Semua dengan judul berbahasa Indonesia yang sama polanya. Hari ke-118 setelah kamu pergi. Hari ke-117. Hari ke-116.
Semua dari akun yang sama.
celestial_c
Aku menatap nama itu.
Nama yang ia pakai setahun di forum developer. Nama yang kuhapus bersama akunku sendiri di malam hari ketiga puluh. Nama yang sekarang ada di repo milikku, seratus delapan belas kali, di tempat yang mungkin suatu hari kubuka.
Aku menggulir ke paling bawah.
Hari ke-1 setelah kamu pergi.
Aku membacanya.
Aku masih naik ke atap tiap jam dua belas. Pintunya kebuka pakai kartuku. Aku tahu itu kamu.
Terima kasih.
Lalu yang kedua. Ketiga. Komentar rafa_lima yang menutup issue-issue pertama. Tolong berhenti. Ini repo publik. Komentar-komentar di bawah issue kelima sampai kesepuluh. Developer-developer yang menemukannya. Bahasa Inggris, bahasa Indonesia, bahasa Portugis. Lol. Cringe. Simp. Ini bukan tempat curhat.
Aku membaca semuanya.
Di bangku di depan minimarket yang lampunya terlalu terang, di stasiun yang tidak kukenal di Tokyo, dari pukul delapan malam sampai pukul satu lewat empat puluh dini hari, sampai minimarket itu berganti shift dan kasirnya yang baru datang menatapku dengan curiga dan membawakanku sebotol teh hangat tanpa diminta. Aku membaca seratus delapan belas issue. Satu per satu. Seperti membaca log.
Hari ke-7. Orang-orang nemu issue-ku. Mereka ketawa. Di lift tadi pagi, ada yang nanya hari ini hari ke berapa. Aku jawab ketujuh. Mereka ketawa. Aku nggak tahu gimana caranya kamu tetap bilang “pagi” ke semua orang, dua minggu.
Hari ke-12. Pak Wibisono ngasih posisi Head of Brand ke Mbak Sarita dari Surabaya. Aku nggak kecewa. Aku pikir aku bakal kecewa. Ternyata nggak. Aku malah lega. Aneh, ya.
Hari ke-18. Hari ini aku nemu error pertama. Disk server cadangan hampir penuh. Bang Togar bilang lumayan buat orang brand.
Hari ke-23. Aku nggak tahu harus bilang ini atau nggak. Tapi aku janji jujur di sini. Hari ketiga puluh, di lantai 21, aku bilang kamu nggak pernah tertarik sama aku dan aku cuma main. Aku bilang itu karena aku lihat stiker Mr. Aman di ponsel semua orang. Aku pikir kalau aku bilang aku jatuh cinta sama kamu, mereka bakal ketawain kamu karena dicintai sama orang yang nulis “aman”. Aku pikir kalau aku bilang kamu yang nolak aku, kamu yang menang, dan aku yang ditertawain. Aku pikir aku ngelindungin kamu. Aku salah ngitung. Aku salah ngitung semua hal soal kamu dari hari pertama.
Aku berhenti membaca di issue itu. Lama.
Saya tahu Mbak bohong soal saya. Tapi karena saya tahu Mbak bohong soal yang itu, saya nggak tahu Mbak bohong soal yang mana lagi.
Aku mengatakan itu padanya di Ruang Kyoto. Di depan kertas log printer. Di depan Alea yang menangis dan Shafira yang duduk tegak dengan tangan terkepal.
Ia tidak membela diri waktu itu. Ia hanya menutup wajahnya.
Dua puluh tiga hari setelah aku pergi, di tempat yang mungkin tidak pernah kubuka, ia menjelaskannya.
Bukan sebagai pembelaan. Sebagai log.
Hari ke-31. Alea kasih aku dua email. Aku udah bilang di hari pertama. Tapi aku belum bilang soal isinya. Aku nggak sanggup. Sekarang aku coba.
Senin malam, kamu batalin resign. Kamu nolak Tokyo. Kamu bilang ke HR kamu mau tetap di Trista. Dua belas jam sebelum Dion.
Selasa malam, kamu bilang abaikan.
Aku yang ada di antara dua email itu. Aku, dan satu kata yang aku garis bawahi dua kali, dan dua kata yang aku bilang di lantai 21.
Aku nggak minta kamu balik. Aku cuma mau kamu tahu aku tahu. Kamu pernah milih tinggal. Dan aku yang bikin kamu pergi.
Hari ke-47. Hari ini Alea bawa telur dadar ke apartemenku. Bulat. Delapan belas butir garam. Kami makan di lantai. Alea bilang dia udah lepasin kamu. Dia bilang kamu nggak batalin resign buat dia. Dia bilang dia cuma orang pertama yang kamu kasih tahu. Lalu dia nangis. Lalu dia ketawa. Lalu dia nangis lagi. Kamu harus tahu, Alea itu orang paling baik yang aku kenal. Dia kena SP2 dan dipindah ke ruang arsip lantai tiga karena dia laporin dirinya sendiri. Ada yang kirim kursi baru ke mejanya. Kursi dari lantai 17. Kursinya nggak goyang.
Hari ke-60. Rafa dari Brasil kasih label “letters” ke semua issue-ku. Katanya biar nggak hilang di antara laporan bug. Katanya kamu pasti nemu. Katanya kamu baca semuanya.
Hari ke-74. Shafira resign. Aku belum bilang ini juga, karena aku nggak tahu apakah ini ceritaku buat diceritain. Tapi kamu harus tahu satu hal. Shafira yang cabut tiket-tiket palsu di monitor kamu. Tiap subuh. Satu minggu. Tiga belas tiket. Dia nggak pernah bilang ke aku, aku tahu dari town hall. Dia bilang di depan tiga ratus orang. Dia bilang kamu nggak pernah lihat tiket-tiket itu.
Aku berhenti membaca.
Tiket palsu.
Sisa lem di sudut kanan bingkai monitorku. Hari ketiga puluh satu. Kertas yang robek kecil-kecil, yang kubersihkan dengan tisu basah tanpa tahu apa yang pernah ditempel di sana.
Hari-hari setelahnya, sudut kanan bingkai monitorku bersih. Aku pikir tidak ada lagi yang menempelkan apa pun.
Tiap subuh. Satu minggu. Tiga belas tiket.
Aku memikirkan Pak Udin yang bilang Neng Shafira sudah datang jam lima pagi setiap hari selama dua minggu. Aku memikirkan basement B2 di hari terakhirku, pukul lima lewat empat puluh. Shafira berdiri di depan Mini Cooper merahnya, tanpa lipstik, tanpa blazer, menatapku menyerahkan kartu akses ke Pak Udin. Kami berdiri berhadapan satu menit. Tidak bicara.
Ia tidak bilang apa-apa.
Aku menatap layar ponsel. Teh hangat di sampingku sudah dingin.
Aku memikirkan pantry lantai 17. Tangan di dadaku. Kalimat yang tidak kuselesaikan. Mata yang merah di pinggir, sebelum ia tertawa keras dan bilang ia cuma iseng, seperti koleksi perangko.
Aku sudah tahu waktu itu. Aku tahu, dan aku memilih tidak menyebutnya. Aturan nomor dua.
Ia juga memilih tidak menyebutnya. Dan memilih bangun jam lima, setiap hari, untuk membersihkan monitorku. Diam-diam. Supaya aku tidak perlu melihat apa pun.
Hari ke-92. Aku bikin pull request pertama hari ini. Bayu bilang itu cara ngajuin perubahan ke kode orang lain. Aku belajar tiga minggu. Bang Togar ngajarin, Bayu ngajarin, Rafa ngajarin lewat komentar di sini.
Bukan perubahan kode. Aku nggak bisa ubah kode. Aku cuma bisa baca.
Di file README kamu, baris 47, ada salah ketik. “Authetication.” Harusnya “Authentication.” Kurang satu huruf N.
Aku tahu itu kecil. Aku tahu kamu mungkin ngetiknya jam tiga pagi, enam tahun lalu, di malam yang nggak bisa tidur.
Tapi aku inget kamu pernah nunjuk satu angka yang salah di slide tujuh presentasiku. Satu koma dua miliar, bukan dua belas. Kamu bilang itu bukan urusanmu. Kamu tetap bilang.
Sekarang giliranku.
Aku membuka tab baru. Repo zero-guard. File README. Baris 47.
Authetication.
Enam tahun. Ribuan orang membaca file itu. Puluhan kontributor. Tidak ada yang pernah memperbaikinya.
Di tab Pull requests, ada satu yang masih terbuka. Dari celestial_c. Judulnya: Fix typo in README line 47. Satu baris diubah. Satu huruf ditambahkan.
rafa_lima sudah meninjau dan menyetujuinya. Ia meninggalkan komentar: This one I’m leaving for the owner to merge.
Pull request itu menunggu. Sudah dua puluh enam hari.
Aku membaca sampai hari ke-118.
Hari ke-118 setelah kamu pergi
Hari ini hujan di Jakarta. Deras. Aku naik ke atap. Aku nggak bawa payung.
Pak Udin nemu aku di tangga darurat lantai 32, basah kuyup, dan dia bilang, Neng, ini ngapain. Aku bilang aku cuma mau tahu rasanya kehujanan sendirian. Ternyata dingin. Nggak kayak waktu itu.
Aku nggak minta kamu balik. Aku udah bilang. Aku nggak akan datang. Kamu bilang jangan.
Aku cuma mau kamu tahu, di sini masih ada yang naik ke atap. Bangkunya masih miring ke kanan. Aku nggak benerin. Aku takut kalau aku benerin, aku lupa kenapa dia miring.
— C.
Aku tidak tahu jam berapa aku sampai di apartemen.
Kereta terakhir sudah lewat. Aku berjalan dari stasiun yang tidak kukenal ke Nakameguro. Satu jam. Lampu-lampu Tokyo di malam hari. Jalan-jalan yang bersih dan sunyi. Pohon-pohon di sepanjang kanal yang daunnya mulai menguning, pohon-pohon yang kata Haruto akan berubah jadi lorong bunga merah muda di musim semi.
Di apartemen dua puluh dua meter persegi, aku duduk di atas tikar tatami yang menguning, dengan punggung bersandar ke dinding yang bergetar setiap empat menit.
Aku membuka email Bayu. Video konser. Lagu terakhir.
Vokalis yang akan jadi PNS, menangis di atas panggung di depan satu stadion. Menyanyikan lagu yang dinyanyikan Ibu sambil menyiram tanaman. Lagu yang kunyanyikan di Nada Karaoke, Kemang, di depan dua puluh tiga orang, sebelum aku berjalan melewati tempat yang disiapkan Alea dan Shafira, dan duduk di sebelah Celine.
Aku menontonnya sampai habis.
Lalu aku membuka satu email lagi. Bukan dari Bayu. Dari alamat yang kukenal samar-samar, alamat pribadi yang tidak pernah mengirimiku apa pun selama empat bulan.
Shafira Nadine.
Dikirim tiga minggu lalu. Belum kubuka.
Isinya panjang. Permintaan maaf. Untuk kertas. Untuk taruhan. Untuk laci yang tidak dikunci. Untuk lantai 17 di hari ketiga, ketika ia duduk di mejaku dan menyuruhku pakai kemeja karena ia tahu aku cuma punya tiga warna kaos. Untuk pantry lantai 19, ketika ia tertawa paling keras.
Di akhir email, satu paragraf tentang beasiswa. Yayasan. Perempuan-perempuan dari keluarga tidak mampu yang sekarang belajar pemrograman. Angkatan pertama, dua puluh orang.
Di hari pertama, sebelum mereka belajar kode apa pun, aku minta yayasan ngajarin mereka satu hal. Baca log.
Tidak ada satu kata pun tentang tiket palsu.
Tidak ada satu kata pun tentang subuh, tentang botol semprot pembersih lem, tentang kuku yang patah.
Tidak ada satu kata pun tentang kenapa.
Aku membaca email itu dua kali. Lalu menekan Balas.
Aku menulis satu kalimat.
Terima kasih, Mbak. Ajari mereka baca log yang benar. — A.
Kirim.
Pukul empat pagi, Tokyo masih gelap.
Aku membuka laptop di meja rendah. Membuka repo zero-guard. Tab Pull requests.
Satu pull request dari celestial_c. Fix typo in README line 47. Satu huruf N.
Kursor di atas tombol hijau. Merge pull request.
Aku tidak menekannya.
Belum.
Aku membuka tab Issues. Filter label:letters. Seratus delapan belas issue. Semua hijau. Open.
Kursor di atas kotak komentar di bawah issue hari ke-118.
Aku tidak menulis apa pun.
Belum.
Aku hanya duduk di sana, di atas tikar tatami yang menguning, di apartemen yang bergetar setiap empat menit, dan menatap seratus delapan belas judul berbahasa Indonesia sampai jendela di depanku berubah dari hitam ke biru tua ke abu-abu.
Kereta pertama lewat pukul lima lewat empat. Ruangan bergetar.
Di pojok kanan atas halaman repo, ada tombol kecil yang selama empat bulan tidak pernah kusentuh. Tombol bergambar mata. Tombol yang mengatur apakah pemilik repo akan diberi tahu setiap kali ada yang menulis sesuatu di sini.
Empat bulan lalu, di malam hari ketiga puluh, aku mengaturnya ke pilihan paling bawah.
Ignore.
Abaikan.
Aku menatap kata itu lama. Kata yang sama yang kutulis di email kedua ke HR. Mohon abaikan email saya sebelumnya.
Aku mengklik tombol itu. Daftar pilihan muncul. Aku memilih yang paling atas.
All Activity.
Tombol itu berubah. Bukan lagi Ignore. Sekarang bertuliskan Unwatch, yang artinya aku sedang mengawasi.
Mulai pagi ini, setiap kali seseorang menulis sesuatu di sini, aku akan tahu.
Aku menutup laptop. Pelan. Seperti menutup pintu kamar orang yang sedang tidur.
Hari ke-119 belum ditulis.
Untuk pertama kalinya dalam empat bulan, aku menunggu sesuatu.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo reading
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang