← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Twenty Nine

Hampir

POV: Celine


Senin sore, pukul lima lewat empat puluh, aku naik ke atap untuk ketiga kalinya hari itu.

Pertama, jam dua belas, untuk makan siang. Ia membawa roti lapis dari toko bunga matahari lagi, dan kami makan sambil membicarakan hal-hal kecil. Bayu yang mengajukan cuti konser karena vokalis band kesayangannya mau jadi PNS. Bang Togar yang sekarang berdiri di depan Dinding Kehormatan Lantai 17 setiap pagi dan memberi hormat seperti di upacara bendera. Pak Udin yang memberi nama Pak Hartono pada boneka beruang dari Surabaya di lantai 21.

Kedua, jam tiga, karena ia mengirim pesan: Ada yang mau aku tunjukin. Lima menit. Aku naik, dan ia menunjuk ke arah barat, ke sela-sela dua gedung tinggi di Sudirman. Di sana, kecil dan samar, terlihat garis biru keabu-abuan yang hampir tidak bisa dibedakan dari langit.

“Gunung Salak,” katanya. “Cuma kelihatan kalau habis hujan dan anginnya dari selatan. Empat tahun aku lihat cuma enam kali.”

Aku menatap garis itu sampai mataku perih. Aku tidak pernah tahu Jakarta bisa melihat gunung.

Ketiga, sekarang. Tanpa alasan. Tanpa pesan. Aku hanya berdiri dari mejaku di lantai 22, mematikan laptop, dan berjalan ke tangga darurat seperti kakiku sudah tahu jalannya sendiri.

Ia sudah di sana. Duduk di bangku papan kayu, menatap langit barat yang mulai terbakar.

Ia tidak terkejut melihatku.

“Aku nebak kamu bakal naik,” katanya.

“Kamu nebak terus.”

“Kamu gampang ditebak.”

“Nggak ada yang pernah bilang aku gampang ditebak.”

“Nggak ada yang pernah nebak,” katanya.

Aku duduk di sampingnya.


Langit sore itu luar biasa.

Bukan jingga biasa. Jingga yang berlapis-lapis, seperti seseorang melukis langit dengan cat air dan membiarkan warna-warnanya saling meresap. Merah muda di bagian atas. Jingga terang di tengah. Ungu tipis di dekat cakrawala, di antara siluet gedung-gedung yang lampunya mulai menyala satu per satu.

Kami tidak bicara. Kami hanya menonton.

Besok, hari ketiga puluh. Jam delapan pagi di Ruang Kyoto, Shafira akan mengumumkan pemenang. Aku sudah memutuskan apa yang akan kulakukan. Aku akan datang ke Ruang Kyoto, dan sebelum Shafira sempat mengumumkan apa pun, aku akan bilang pada mereka berdua bahwa aku keluar. Bahwa aku tidak peduli Jepang. Bahwa aku jatuh cinta pada laki-laki yang kami pilih karena kami pikir ia aman.

Lalu, jam dua belas, aku akan naik ke atap ini dan mengatakan semuanya padanya.

Kertas itu. Ruang Kyoto. Laptop yang sengaja kurusak. Kata yang kugarisbawahi dua kali.

Aku sudah menulis apa yang akan kukatakan. Tiga halaman di catatan ponselku. Aku menghapusnya, menulisnya lagi, menghapusnya lagi. Versi terakhir hanya tiga kalimat.

Aku ikut taruhan. Kamu targetnya. Maaf.

Tiga kalimat. Semua yang lain hanya penjelasan, dan penjelasan tidak mengubah apa pun.

“Kamu tegang,” katanya.

Aku menoleh. Ia masih menatap langit, tapi ia tahu.

“Besok,” kataku.

“Besok.”

“Kamu juga tegang.”

Ia diam sebentar. “Iya.”

Aku menatapnya dari samping. Wajahnya diterangi cahaya jingga, terlihat lebih hangat dari biasanya. Ada sesuatu di rahangnya, sedikit terlalu kaku. Tangannya di atas lutut, jari-jarinya bergerak pelan, seperti mengetik sesuatu di keyboard yang tidak terlihat.

“Kamu mau bilang apa besok?” tanyaku.

“Besok.”

“Kasih bocoran.”

Ia menoleh padaku. Untuk sesaat, ada sesuatu di matanya yang terlihat seperti seseorang yang berdiri di depan pintu yang tidak bisa ia buka.

“Satu hal yang aku sembunyiin,” katanya pelan. “Dan satu hal yang aku putusin.”

“Putusin apa?”

“Besok.”

Aku memukul lengannya pelan. Ia tidak mengaduh. Ia tersenyum. Senyum yang sekarang mulai kukenal, yang naik pelan dari sudut bibirnya dan tidak lagi ditahan di tengah jalan.


Matahari menyentuh cakrawala.

Langit berubah lagi. Jingga ke merah. Merah ke ungu. Lampu-lampu di gedung-gedung sekitar Sudirman menyala lebih terang, seperti ribuan kunang-kunang yang terbangun bersamaan.

Angin bertiup. Lebih dingin dari siang. Aku menggigil sedikit.

Ia membuka kemeja flanelnya, yang biru tua hari ini, dan menyampirkannya di bahuku. Tanpa bertanya. Tanpa berkata apa-apa. Seperti di tangga darurat hari Kamis, ketika blusku tembus pandang.

Kemeja itu masih hangat dari badannya. Wangi sabun cuci yang murah.

Aku menarik kerahnya lebih rapat. Lalu menoleh padanya.

Ia sudah menatapku.

Bukan menatap langit. Bukan menatap gedung-gedung. Menatapku. Dari jarak yang tidak sampai satu lengan. Matanya cokelat gelap, memantulkan cahaya ungu dari langit.

Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu.

Mungkin aku. Mungkin ia. Mungkin kami berdua, dalam satu detik yang sama, seperti dua paket data yang dikirim dari dua ujung kabel yang berbeda dan bertemu tepat di tengah.

Jarak itu berkurang. Satu lengan. Setengah lengan. Satu jengkal.

Aku bisa merasakan napasnya. Hangat, sedikit gemetar. Aku bisa melihat bekas luka tipis di dagunya dari jarak sedekat ini, garis pucat yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun sampai hari Sabtu kemarin di Kota Tua.

Aku memejamkan mata.

Jarak itu hampir hilang. Ujung hidungnya menyentuh ujung hidungku. Sedikit. Sangat sedikit. Cukup untuk membuat seluruh tubuhku berhenti bernapas.

“Celine,” bisiknya.

Suara namaku di mulutnya, dari jarak sedekat itu, terdengar seperti sesuatu yang tidak pernah kudengar sebelumnya.

“Besok,” bisiknya, “setelah aku bilang semuanya... kalau kamu masih mau...”

“Aku masih mau,” bisikku.

“Kamu belum dengar.”

“Aku masih mau.”

Ia diam. Napasnya berhenti sebentar.

Lalu ia mendekat. Setengah senti. Seperempat.


“SERVER B DOWN!”

Pintu besi di belakang kami terbuka dengan keras. Begitu keras sampai membentur dinding beton dan memantul kembali.

Kami terpisah dalam sepersekian detik. Aku hampir jatuh dari bangku papan kayu. Kemeja flanel biru tua melorot dari bahuku. Ia berdiri begitu cepat sampai bangku itu bergoyang dan satu ujungnya terangkat dari balok beton.

Bang Togar berdiri di ambang pintu, terengah-engah, wajah merah seperti udang rebus, kumis bergerak-gerak, keringat mengalir dari dahinya. Ia memegangi pintu besi dengan satu tangan dan dadanya dengan tangan lain, seperti orang yang baru saja berlari naik lima lantai.

Mungkin memang begitu.

“ALFA! SERVER B DOWN! SELURUH LANTAI 9 SAMPAI 15 NGGAK BISA AKSES SISTEM! BAYU NGGAK BISA BENERIN! KAU HARUS...”

Ia berhenti.

Matanya bergerak. Dari Alfa yang berdiri kaku di samping bangku. Ke aku yang duduk dengan rambut berantakan dan kemeja flanel biru tua yang melorot setengah dari bahu. Ke bangku papan kayu yang masih bergoyang. Ke jarak di antara kami yang terlalu sempit untuk dua orang yang sedang membahas pekerjaan.

Wajah Bang Togar berubah. Merah ke lebih merah. Lebih merah ke ungu.

“Lho,” katanya. “Ganggu, ya?”

Tidak ada yang menjawab.

Angin bertiup. Kemeja flanel itu jatuh dari bahuku ke lantai beton.

“Lanjut,” kata Bang Togar. Ia mundur selangkah. “Lanjut, lanjut! Server nggak penting! Lantai sembilan sampai lima belas bisa nunggu! Mereka bisa pakai kalkulator! Mereka bisa pakai sempoa!”

Ia mundur selangkah lagi. Lalu berhenti. Menoleh ke belakang, ke tangga darurat yang gelap. Menoleh lagi ke kami.

“Sebenarnya,” katanya, suaranya mengecil, “server-nya penting. Lantai sembilan itu Sales. Mereka lagi tutup laporan bulanan. Kalau nggak bisa akses sistem, Pak Hendra bakal telepon aku. Terus aku bakal dimarahin. Terus aku bakal dimarahin istriku karena dimarahin Pak Hendra.”

Alfa menatap Bang Togar. Bang Togar menatap Alfa.

“Bayu kenapa, Bang?” tanya Alfa. Suaranya serak.

“Bayu,” Bang Togar menghela napas panjang, “kesandung kabel.”

“Kabel apa?”

“Kabel utama Server B. Dia lari dari mejanya ke jendela, katanya mau lihat atap dari lantai 17, mau mastiin ada orang di atap atau nggak.” Bang Togar mengusap wajahnya. “Dia kesandung. Kabelnya copot. Terus dia panik, colok ke port yang salah. Sekarang semuanya error. Dia lagi duduk di lantai sambil megang kabel dan nangis.”

Aku menutup mulut dengan kedua tangan.

Lalu aku tertawa.

Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu keluar dari tempat yang dalam, bercampur dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat dadaku sesak dan mataku panas. Aku tertawa sampai harus berpegangan pada bangku papan kayu yang masih goyang. Sampai Bang Togar ikut tertawa dengan wajah merah dan malu. Sampai Alfa, yang masih berdiri kaku di samping bangku, menutup wajahnya dengan satu tangan dan bahunya mulai bergetar.

Ia tertawa juga. Tanpa suara. Dengan wajah tertutup tangan.

“Pergi,” kataku di antara tawa. “Pergi, selamatin lantai sembilan.”

Ia menurunkan tangannya. Menatapku.

Wajahnya masih merah. Matanya basah di ujungnya. Ada sesuatu di sana yang belum selesai, seperti kalimat yang terpotong di tengah.

“Besok,” katanya.

“Besok,” kataku.

Ia memungut kemeja flanel dari lantai beton, menepuknya sekali untuk membersihkan debu, lalu menyampirkannya kembali di bahuku. Kali ini lebih rapat. Kali ini ia merapikan kerahnya dengan dua tangan, pelan, seperti aku merapikan kerah jaket Simanjuntak di hari pertama aku naik ke sini.

Lalu ia pergi, menyusul Bang Togar menuruni tangga darurat.

Aku mendengar suara mereka bergema di antara dinding beton.

“Bang, lain kali ketuk dulu.”

“Pintu besi, Alfa. Kau mau aku ketuk pintu besi? Tanganku bisa patah.”

“Panel aksesnya ada belnya, Bang.”

“Panel akses ada belnya? Sejak kapan?”

“Sejak empat tahun lalu. Aku yang pasang.”

“Kenapa kau nggak pernah bilang?”

“Nggak ada yang pernah naik ke sini, Bang.”

Suara mereka menghilang di balik belokan tangga.


Aku duduk sendirian di bangku papan kayu sampai langit benar-benar gelap.

Kemeja flanel biru tua di bahuku. Lampu-lampu kota di bawah. Di barat, di sela-sela dua gedung tinggi di Sudirman, garis samar Gunung Salak sudah hilang ditelan malam.

Aku menyentuh ujung hidungku. Tempat yang tadi disentuh ujung hidungnya. Sedikit. Sangat sedikit.

Hampir.

Kami hampir.

Aku tertawa sendirian di atap. Lalu tawa itu berhenti, dan aku menyadari mataku basah. Bukan karena sedih. Aku tidak tahu karena apa. Mungkin karena aku tidak pernah sedekat itu dengan seseorang yang benar-benar melihatku. Mungkin karena aku takut, besok, setelah aku bilang tiga kalimat itu, ia tidak akan pernah sedekat itu lagi.

Aku ikut taruhan. Kamu targetnya. Maaf.

Kalau kamu masih mau.

Aku masih mau.

Kamu belum dengar.

Ia bilang kamu belum dengar. Seolah ia tahu apa yang akan kudengar. Seolah ia tahu bahwa apa pun yang akan ia katakan besok bisa membuatku tidak mau lagi.

Satu hal yang aku sembunyiin. Dan satu hal yang aku putusin.

Aku tidak tahu apa yang ia sembunyikan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang bisa disembunyikan laki-laki yang memberi tahu Alea telurnya keasinan dan memberi tahuku tagline-ku tidak jujur.

Tapi aku tahu, apa pun itu, aku masih mau.


Pukul tujuh malam, di mobilku di basement B2, aku membuka grup chat.

Pesan Shafira masih di sana. BESOK JAM 8 PAGI DI RUANG KYOTO!

Aku mengetik.

Aku: Shaf, Le. Besok jam 8 aku datang. Tapi aku mau ngomong duluan sebelum pengumuman. Boleh?

Balasan Shafira datang dalam satu menit.

Shafira: Boleh dong. Tapi aku juga mau ngomong. Aku duluan ya, aku yang bikin acaranya 😘

Alea: Aku juga mau ngomong sesuatu 🙂

Aku menatap tiga pesan itu.

Kami bertiga, ternyata, sama-sama punya sesuatu untuk dikatakan. Besok pagi, di ruangan yang sama tempat semua ini dimulai.

Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Shafira. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Alea.

Aku hanya tahu apa yang akan kukatakan. Dan apa yang akan kukatakan pada laki-laki di atap, empat jam setelahnya.

Pak Udin mengetuk jendela mobilku. Aku menurunkan kaca.

“Neng Celine,” katanya. “Tadi Mas Alfa lewat sini. Mau pulang, tapi balik lagi ke atas. Server katanya.” Ia menyeruput teh dari gelas plastik. “Mukanya merah, Neng. Saya tanya kenapa, dia bilang nggak apa-apa, Pak. Terus dia bilang sedikit apa-apa.”

Pak Udin mengangguk sendiri.

“Saya sudah sebelas tahun jaga basement, Neng. Saya tahu artinya sedikit apa-apa.”

“Artinya apa, Pak?”

Pak Udin tersenyum. Gigi depannya yang ompong satu terlihat di bawah lampu basement.

“Artinya banyak apa-apa, Neng. Tapi orangnya malu.”

Aku tertawa. Pak Udin tertawa. Lalu ia kembali ke posnya, dan aku menyalakan mesin, dan menyetir pulang dengan kemeja flanel biru tua yang masih tersampir di bahuku.

Aku lupa mengembalikannya.

Atau aku tidak lupa.

Besok aku akan mengembalikannya. Di atap. Setelah tiga kalimat itu.

Kalau ia masih mau menerimanya.