← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Thirty Two

User Not Found

POV: Celine


Pukul tujuh lewat lima pagi, aku sedang berhenti di lampu merah perempatan Kuningan ketika ponselku bergetar di dudukan dasbor.

Bukan satu kali. Terus-menerus. Seperti ada yang mengguncang ponsel itu dari dalam.

Aku meliriknya. Notifikasi menumpuk lebih cepat dari yang bisa kubaca. Grup Trista Family. Grup divisi Brand. Pesan pribadi dari Rendi. Pesan pribadi dari nomor-nomor yang tidak kusimpan.

Lampu masih merah. Aku membuka grup Trista Family.

Foto pertama yang kulihat adalah tulisan tanganku sendiri.

Nggak bakal baper, nggak bakal ngadu. Aman.

Digarisbawahi dua kali.

Klakson berbunyi di belakangku. Lampu sudah hijau. Aku tidak bergerak. Klakson berbunyi lagi, lebih panjang. Seseorang berteriak dari jendela mobil di sebelah.

Aku menginjak gas.


Aku tidak ingat bagaimana aku menyetir sampai Trista Tower.

Yang kuingat hanya potongan-potongan. Tanganku yang gemetar di setir. Suara notifikasi yang tidak berhenti. Panggilan ke Shafira yang tidak diangkat. Panggilan ke Alea yang tidak diangkat. Panggilan ke nomornya, nomor yang kusimpan dengan nama Alfa tanpa tambahan apa pun, yang berdering sampai habis dan masuk ke kotak suara.

Dan satu kalimat yang terus berulang di kepalaku, seperti lagu yang tidak bisa dimatikan.

Mr. Aman.

Aku melihat stikernya di lampu merah kedua. Foto profilnya dari direktori karyawan. Kaos abu-abu. Headphone. Ekspresi orang yang dipaksa berdiri di depan kamera. Diberi bingkai gembok emas dan tulisan merah yang berkedip.

Foto yang sama yang kulihat di layar laptop Alea empat minggu lalu, di Ruang Kyoto. Foto yang membuat kami tertawa.

Foto yang membuatku menulis kata itu.


Lift ke lantai 21 terasa seperti lift ke tempat eksekusi.

Aku tidak tahu kenapa aku menekan tombol 21. Mungkin karena Shafira menjadwalkan pertemuan di Ruang Kyoto jam delapan. Mungkin karena di grup Trista Family, Dion menulis pengumumannya jam 8 di Ruang Kyoto, guys. Mungkin karena aku berpikir, kalau aku sampai di sana lebih dulu, aku bisa menghentikan sesuatu.

Aku tidak tahu apa yang bisa kuhentikan.

Di lenganku, kemeja flanel biru tua. Aku membawanya dari rumah. Aku sudah merencanakannya sejak semalam. Jam dua belas, di atap, setelah tiga kalimat itu, aku akan mengembalikannya. Kalau ia masih mau menerimanya.

Pintu lift terbuka.

Kerumunan. Dua puluh orang, mungkin lebih. Ponsel-ponsel teracung. Lagu yang diputar dari salah satu ponsel. Melodi ringan, Jepang, seperti bunga sakura berjatuhan. Dion di tengahnya, dengan senyum yang naik terlalu tinggi di satu sisi.

“Mbak Celine! Akhirnya!”

Kerumunan bersorak.

Mataku bergerak cepat. Mencari wajah-wajah. Shafira. Alea. Dia.

Shafira tidak ada. Alea tidak ada. Dia tidak ada.

Hanya orang-orang yang kukenal samar dari lift dan pantry dan rapat lintas divisi. Orang-orang yang memegang ponsel dengan layar menampilkan stiker gembok emas.

“Jadi gimana, Mbak? Siapa yang menang?”

Aku tidak bisa bicara.

“Mbak kan yang paling unggul. Sampai kasih tumpeng segala.”

Dion memutar ponselnya ke kerumunan. Video pucuk tumpeng. Aku berjalan melewati Bang Togar dan Bayu dan Bu Ratna, meletakkan piring kertas di mejanya. Kerumunan tertawa.

“Jangan-jangan Mbak beneran baper sama Mr. Aman?”

Cieee.

Dewi turun kasta!

Kasihan Mas-nya, pasti dia udah ge-er duluan!

Kalimat terakhir itu dari seorang perempuan di barisan depan. Aku tidak tahu namanya. Ia mengatakannya sambil tertawa, sambil merekam, sambil menyikut temannya.

Kasihan Mas-nya.

Dan aku mengerti, di detik itu, apa yang akan terjadi.


Aku mengerti bagaimana cerita ini akan berjalan.

Kalau aku bilang iya, aku jatuh cinta padanya, cerita itu tidak akan berakhir di sini. Cerita itu akan jadi dewi yang jatuh cinta pada target taruhannya sendiri. Lucu. Romantis, mungkin, bagi sebagian orang. Tapi bagi kerumunan ini, bagi dua puluh kamera ponsel ini, bagi seribu delapan ratus anggota grup Trista Family, cerita itu akan punya satu tokoh yang ditertawakan.

Bukan aku.

Dia. Si Mr. Aman. Laki-laki cupu yang dipilih karena tidak berisiko, yang ternyata baper beneran, yang ge-er duluan, yang dikasihani. Laki-laki yang empat tahun makan roti tawar polos sendirian di atap, yang menyembunyikan suaranya di headphone tanpa musik, yang menjadi bahan lelucon di grup-grup kantor yang bahkan tidak ia ikuti.

Kalau aku bilang aku mencintainya, mereka akan menertawakannya karena dicintai dengan cara seperti ini. Karena dimulai dari kertas. Karena dimulai dari aman.

Tapi kalau aku bilang dia yang tidak tertarik. Kalau aku bilang dia yang menolak. Kalau aku bilang aku yang mengejar dan dia yang tidak pernah peduli.

Maka dia bukan lagi si cupu yang baper. Dia adalah satu-satunya laki-laki di Trista Tower yang tidak jatuh pada Tiga Dewi. Dia yang menang. Dan aku yang kalah, dan aku yang ditertawakan, dan itu tidak apa-apa, karena aku sudah dua puluh tujuh tahun ditatap orang. Aku tahu cara berdiri di depan kamera.

Dia tidak.

Dan kalau aku bilang semua ini cuma main, cerita ini akan selesai. Membosankan. Tidak ada drama. Tidak ada yang perlu diunggah lagi. Kerumunan akan bubar. Stiker gembok emas akan berhenti dikirim.

Dan siang nanti, di atap, aku bisa mengatakan yang sebenarnya. Hanya padanya. Tanpa kamera. Tanpa kerumunan. Tanpa seribu delapan ratus orang.

Aku memikirkan semua itu dalam waktu kurang dari tiga detik.

Tiga detik. Waktu yang selama dua puluh tujuh tahun dibutuhkan laki-laki untuk membeku di depanku.

Aku menegakkan punggung. Mengangkat dagu.

“Saya kalah.”


Aku tidak akan menulis ulang semua yang kukatakan. Aku sudah mendengarnya ratusan kali di kepalaku sejak pagi itu. Aku tidak perlu menulisnya lagi.

Yang kuingat: suaraku yang jelas, suara ruang rapat. Kerumunan yang diam. Tanganku yang gemetar di bawah kemeja flanel biru tua.

Dia nggak pernah tertarik sama saya.

Saya juga cuma main.

Lalu Shafira datang seperti badai dan merebut ponsel Dion dan berteriak soal laci. Lalu kerumunan pecah. Lalu seseorang menghentikan lagu Sakura. Lalu Dion mundur dengan wajah yang tidak lagi tersenyum, karena Shafira sedang menyebut nama Pak Hendra dan kata pencurian dokumen pribadi dengan volume yang bisa terdengar sampai lantai 22.

Dan Alea.

Alea berdiri di dalam lift yang terbuka. Wajahnya putih seperti kertas. Ia tidak menatapku. Ia tidak menatap Shafira. Ia menatap sesuatu di belakang kerumunan, ke arah pintu tangga darurat.

Lalu ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Aku menoleh ke arah yang sama.

Pintu tangga darurat tertutup. Tidak ada siapa-siapa di sana.


Ruang Kyoto, pukul delapan lewat tiga puluh.

Ruangan yang sama. Meja yang sama. Dinding kaca yang sama, menghadap ke arah Sudirman. Empat minggu lalu ada kue tar cokelat di meja ini, dengan tulisan krim SELAMAT SUMMER CAMPAIGN!!!. Hari ini tidak ada apa-apa.

Kami bertiga duduk di kursi yang sama. Shafira di ujung. Aku di kiri. Alea di kanan.

Tidak ada yang bicara selama lima menit.

Lalu Shafira membuka tasnya, mengeluarkan map kulit cokelat, mengeluarkan kertas itu, dan meletakkannya di tengah meja.

Kertas aslinya. Bukan foto. Dilipat dua, tulisan menghadap ke dalam.

“Aku mau robek ini hari ini,” kata Shafira. Suaranya serak. Ia sudah berteriak terlalu lama di lobi lift. “Di depan kalian. Jam delapan. Aku mau bilang aku kalah, Cel. Aku mau bilang kamu yang menang, bukan karena dia nyatain cinta, tapi karena kamu yang beneran sayang.”

Ia mengeluarkan sesuatu lagi dari tasnya. Amplop putih. Membukanya. Dua lembar kertas cetak. Tiket pesawat. Jakarta–Tokyo. Pulang-pergi.

Dua nama penumpang. Satu namaku. Satu dikosongkan.

“Buat kamu sama dia,” kata Shafira. Air matanya jatuh, satu-satu, ke atas tiket itu. “Aku beli minggu lalu. Nama dia aku kosongin, soalnya aku nggak tahu nama tengahnya. Aku pikir kamu bisa isi sendiri.”

Aku menatap tiket itu.

Aku menatap Shafira. Shafira yang berisik. Shafira yang selalu menang. Shafira yang menulis Jepang masih punyaku, ya! di grup dengan emoji bendera dan sushi, empat hari lalu.

“Kamu bilang kamu masih mau menang,” bisikku.

“Aku bohong.”

“Kenapa?”

Shafira tertawa. Tawa yang pecah di tengah dan tidak bisa disatukan lagi. “Biar kalian nggak ngerasa bersalah. Alea mundur. Kamu jatuh cinta. Kalau aku juga berhenti, kalian bakal mikir... kalian bakal mikir kalian ngerusak sesuatu.” Ia mengusap mata dengan punggung tangan, merusak maskaranya. “Jadi aku tetep berisik. Aku tetep simpen kertasnya. Buat bukti skor. Buat pura-pura.”

Ia menatap kertas di tengah meja.

“Dan karena aku pura-pura,” katanya pelan, “kertasnya ada di laci yang nggak dikunci.”

Alea mulai menangis. Bukan pelan. Tangis yang keras, yang keluar dari tempat yang dalam, tangis anak kecil yang tidak bisa berhenti.

“Aku yang nulis itu,” isak Alea. Ia menunjuk kertas itu, menunjuk tulisan bulat-bulatnya dengan gambar hati kecil. “Aku yang bocorin resign-nya. Aku yang bilang makin aman. Aku, Kak. Aku.”

Aku menatap tulisan tanganku sendiri di kertas itu.

Aman.

Digarisbawahi dua kali.

“Bukan,” kataku. Suaraku keluar sangat pelan. “Aku yang duluan.”


Pukul sebelas lewat lima puluh, aku naik ke tangga darurat lantai 32.

Kemeja flanel biru tua di lenganku. Ponsel di tanganku, layarnya menunjukkan sembilan panggilan keluar yang tidak diangkat dan empat belas pesan yang tidak dibaca. Dua centang abu-abu. Tidak satu pun berubah biru.

Pintu besi bertuliskan AREA TERBATAS — HANYA PETUGAS. Panel akses kartu di sampingnya, dengan lampu merah kecil.

Aku tidak punya kartu.

Empat minggu aku naik ke sini. Lima belas kali, mungkin dua puluh. Dan setiap kali, ia yang menempelkan kartunya ke panel. Lampu merah berubah hijau. Pintu terbuka. Ia menahannya untukku.

Aku tidak pernah memikirkan bahwa aku tidak bisa membukanya sendiri.

Aku duduk di anak tangga paling atas. Memeluk kemeja flanel biru tua di pangkuan. Menunggu.

Pukul dua belas.

Pukul dua belas lewat lima belas.

Pukul satu.

Di tangga di bawahku, langkah kaki. Aku berdiri dengan cepat, jantungku melompat. Langkah itu berhenti di belokan tangga. Kepala yang muncul bukan kepalanya. Kepala Pak Udin, dengan topi satpam miring dan dua gelas plastik teh manis di tangan.

“Neng,” katanya pelan. “Saya nggak bisa minum dua gelas. Nanti kebelet.”

Ia menaiki tangga, menyodorkan satu gelas padaku, lalu duduk di anak tangga tiga tingkat di bawahku. Tidak bertanya apa-apa. Hanya menyeruput tehnya sendiri, menatap dinding beton di depannya.

“Bu Ratna tadi marah-marah di lobi,” katanya setelah beberapa saat. “Ada anak Sales muter lagu Jepang pakai speaker. Bu Ratna rebut speaker-nya, terus bilang, Ini lobi, bukan Jepang! Kalau mau Jepang, beli tiket! Terus anak Sales itu bilang, Bu, itu kan maksudnya, tiket ke Jepang. Terus Bu Ratna bilang, Ibu nggak peduli! Ibu juga belum pernah ke Jepang! Ibu nggak mau dengar lagu yang Ibu nggak bisa datangin!”

Aku tertawa. Tawa yang basah, yang pecah, di tangga darurat yang pengap.

Pak Udin tersenyum. Lalu menatap pintu besi di atas kami.

“Mas Alfa nggak naik, Neng?”

Aku menggeleng.

Pak Udin mengangguk pelan. Ia tidak berkata dia pasti datang. Ia tidak berkata sabar, Neng. Ia hanya menyeruput tehnya, dan duduk di sana bersamaku sampai tehnya habis, lalu berdiri, menepuk-nepuk celananya, dan turun lagi tanpa berkata apa-apa.

Pukul dua.

Pukul tiga.

Pukul tiga lewat sepuluh, aku berdiri. Kakiku kesemutan. Teh manis di gelas plastik sudah dingin. Kemeja flanel biru tua masih di pelukanku.

Aku turun.


Di lantai 22, Rendi mencegatku di depan lift.

“Bu,” katanya pelan. Wajahnya tidak lagi mengejek. Wajah orang yang ikut malu. “Saya cuma mau bilang... tadi pagi. Di lantai 21. Mas Alfa ada di sana.”

Aku berhenti berjalan.

“Gilang dari network yang bilang. Dia lihat dari CCTV. Mas Alfa berdiri di pintu tangga darurat. Di belakang semua orang.” Rendi menelan ludah. “Dari awal sampai Ibu selesai ngomong.”

Aku tidak bergerak.

Dari awal sampai Ibu selesai ngomong.

Dia nggak pernah tertarik sama saya.

Saya juga cuma main.

Alea, di dalam lift yang terbuka, menatap pintu tangga darurat. Menutup mulutnya dengan dua tangan.

Kemeja flanel biru tua jatuh dari pelukanku ke lantai marmer lantai 22.

Aku tidak memungutnya. Rendi yang memungutnya, dan menyerahkannya padaku dengan dua tangan, dan aku tidak ingat mengambilnya, tapi kemeja itu ada di tanganku lagi ketika aku sampai di toilet, dan duduk di atas tutup kloset di bilik paling ujung, dan menangis sampai suaraku habis.


Malam itu, di sofa krem apartemenku, aku membuka aplikasi forum developer.

Percakapan dengan mr_zero di bagian paling atas. Pesan-pesanku dari pagi masih di sana, satu demi satu, dua centang abu-abu semuanya. Tidak satu pun dibaca.

Zero, sesuatu yang buruk terjadi.

Kertas taruhannya bocor. Seluruh kantor lihat.

Zero, aku ngelakuin hal paling bodoh dalam hidupku.

Aku bilang di depan semua orang aku cuma main. Aku bilang dia nggak pernah tertarik sama aku. Aku pikir aku ngelindungin dia.

Dia denger, Zero. Dia ada di sana. Dia denger semuanya.

Dia nggak datang ke atap.

Zero, kamu di mana?

Tujuh belas pesan. Pukul tujuh lewat dua puluh pagi sampai pukul sebelas lewat dua puluh malam.

Aku memikirkan pesan terakhirnya semalam. Tidur, Cel. Sampai ketemu besok. Dan aku memikirkan bagaimana aku menulis ...Zero? setelahnya, dan ia tidak menjawab.

Sampai ketemu.

Zero tidak pernah bertemu siapa pun. Zero hanya nama di layar.

Aku menatap kalimat itu lama. Ada sesuatu di sana, seperti duri kecil di sepatu, yang mencoba memberitahuku sesuatu.

Aku tidak mendengarkannya. Aku terlalu lelah untuk mendengarkan apa pun.

Aku mengetik pesan kedelapan belas.

Aku tidak berpikir. Kalau aku berpikir, aku akan menghapusnya. Aku sudah menghapus terlalu banyak hal hari ini. Kertas yang seharusnya kubuang. Kalimat yang seharusnya kukatakan. Tiga kalimat di catatan ponselku, yang tidak pernah sampai ke atap.

Aku bohong tadi pagi, Zero. Semua yang aku bilang di depan orang-orang itu bohong.

Aku sayang dia.

Aku sayang dia, dan aku bilang ke seluruh gedung aku cuma main, karena aku pikir itu cara ngelindungin dia. Dan dia denger. Dan sekarang dia nggak mau ngomong sama aku.

Kalau kamu ada di sana, tolong bilang ke aku harus gimana.

Aku menekan tombol kirim.

Pukul sebelas lewat lima puluh satu.

Ikon kecil berputar di samping pesanku. Berputar. Berputar. Lebih lama dari biasanya.

Lalu ikon itu berubah jadi tanda seru merah.

Pesan tidak terkirim. Pengguna tidak ditemukan.

Aku menatap tulisan itu.

Aku menekan nama mr_zero di bagian atas percakapan. Halaman profil yang biasanya menampilkan lingkaran abu-abu kosong sebagai foto profil, enam tahun keanggotaan, dan ribuan utas.

Halaman itu sekarang hanya berisi satu kalimat di tengah layar putih.

Akun ini sudah tidak ada.


Pukul dua belas lewat sepuluh, forum developer meledak.

Utas pertama muncul di halaman depan pukul dua belas lewat empat. Akun mr_zero dihapus??? Lalu utas kedua. Ada yang tahu kenapa mr_zero hilang? Lalu ketiga, keempat, kelima. Dalam satu jam, lebih dari dua puluh utas. Orang-orang dari Jerman, Brasil, Jepang, India, Kanada. Developer-developer yang selama enam tahun memuji kodenya, mempertanyakan apakah ia manusia sungguhan, menulis utas panjang tentang kenapa mereka lebih percaya padanya daripada vendor bersertifikat.

Repo zero-guard masih ada, tapi tidak ada commit sejak kemarin malam.

Semua DM saya dengan mr_zero hilang. Setahun percakapan. Hilang.

Dia tidak pernah bilang apa-apa. Tidak ada pengumuman. Tidak ada pamit.

Apakah dia baik-baik saja?

Aku membaca semuanya sampai jam dua pagi.

Aku membaca utas-utas itu seperti membaca berita duka. Ribuan orang yang tidak pernah melihat wajahnya, kehilangan sesuatu yang tidak bisa mereka namai.

Aku juga.

Aku kehilangan dua orang hari ini.

Laki-laki dengan kaos tiga warna yang berdiri di belakang kerumunan, dan mendengar aku bilang cuma main.

Dan laki-laki tanpa wajah yang selama setahun mendengarkanku, dan pergi tepat sebelum aku sempat mengatakan satu-satunya kebenaran yang tersisa.

Aku memeluk kemeja flanel biru tua di sofa yang terlalu bagus untuk diduduki.

Wangi sabun cuci yang murah.

Aku tidak tahu, malam itu, bahwa aku tidak kehilangan dua orang.

Aku hanya kehilangan satu.

Dua kali.