Chapter Nineteen
Yang Pertama Bilang
POV: Alea
Aku memutuskan untuk bilang hari Rabu.
Aku memutuskannya Selasa malam, di kamar, sambil menatap foto yang dikirim Bayu ke grup Trista Family. Foto bingkai kayu cokelat di partisi lantai 17, dengan email terima kasih dari Pak Wibisono di dalamnya dan kertas HVS bertuliskan DINDING KEHORMATAN LANTAI 17 di atasnya. Di bawah foto itu, ratusan balasan. Jempol. Tepuk tangan. Mantap Mas Alfa! Pahlawan Trista Home! Bahkan Dion mengirim jempol, satu saja, tanpa komentar.
Aku membaca email di dalam bingkai itu sampai hafal. Penanganan insiden peluncuran Trista Home. Sembilan belas menit. Datang pukul sebelas malam dan tidak pulang sampai pagi.
Sampai pagi. Di lantai 22. Bersama Kak Celine.
Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Kak Celine tidak cerita apa-apa di grup. Ia hanya mengirim satu pesan pagi itu: Launch sukses. Makasih doanya. Lalu diam.
Tapi aku melihat Kak Celine di lift Selasa sore. Matanya merah karena kurang tidur, tapi ada sesuatu yang lain di wajahnya. Sesuatu yang lembut dan tidak bisa disembunyikan, seperti cahaya di balik tirai tipis.
Aku mengenal cahaya itu. Aku melihatnya di cermin kamarku setiap pagi sejak Jumat lalu.
Jadi aku memutuskan untuk bilang. Sebelum terlambat. Sebelum cahaya di wajah Kak Celine berubah jadi sesuatu yang lebih jelas. Sebelum hari keempat puluh lima.
Aku tidak memikirkan taruhan. Aku tidak memikirkan poin. Aku tidak memikirkan Jepang atau rusa di Nara.
Aku hanya ingin ia tahu.
Rabu pagi, aku bangun jam lima lagi. Kali ini Mama tidak bertanya apakah aku kesurupan. Mama hanya berdiri di pintu dapur, memakai mukena, menatapku memecahkan telur dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Delapan belas butir?” tanya Mama.
“Delapan belas, Ma.”
Mama mengangguk. Lalu, tanpa diminta, ia mengambil seledri dari kulkas, mencucinya, mengirisnya halus, dan menaburkannya ke dalam mangkuk telurku.
“Biar wangi,” katanya.
Telur dadar percobaan kelima itu bulat. Untuk pertama kalinya, bulat sempurna. Warnanya kuning keemasan dengan titik-titik hijau seledri. Aku menatapnya lama di atas piring sebelum memasukkannya ke kotak bekal merah muda.
Hari ini, telurnya akhirnya benar.
Aku tidak tahu kenapa itu membuatku ingin menangis.
Aku tidak memberikan bekal itu di mejanya. Terlalu banyak orang di lantai 17. Terlalu banyak telinga. Bayu, Bang Togar, tim network yang sekarang menatap meja Kak Alfa seperti menatap panggung pertunjukan.
Aku mengirim pesan pukul sebelas.
Aku: Kak, makan siang hari ini aku bawa bekal. Tapi aku mau ngasihnya di taman samping gedung, boleh? Yang ada gerobak kopinya. Jam 12.
Kak Alfa: Boleh, Mbak.
Taman samping Trista Tower bukan taman sungguhan. Hanya sepetak rumput sintetis di antara gedung kami dan gedung parkir, dengan tiga bangku besi, dua pohon ketapang yang daunnya berguguran, dan gerobak kopi milik Pak Darto yang menjual kopi susu sachet seharga lima ribu. Jarang ada orang di sana jam dua belas. Karyawan Trista lebih suka makan di food court ber-AC.
Aku duduk di bangku paling ujung, di bawah pohon ketapang, dengan kotak bekal merah muda di pangkuan dan hoodie abu-abu di badanku. Siang itu panas. Terlalu panas untuk hoodie. Aku tetap memakainya.
Ia datang pukul dua belas tepat.
Kemeja flanel biru tua lagi. Ia punya dua sekarang, aku tahu, karena kemarin aku melihatnya memakai yang hijau. Rambutnya sedikit lebih rapi dari biasanya. Atau mungkin aku yang terlalu memperhatikan.
“Mbak Alea.”
“Kak Alfa.” Aku menepuk bangku di sampingku. Ia duduk. “Aku bawa telur.”
“Delapan belas butir?”
“Delapan belas butir. Plus seledri. Mama yang nambahin.”
Aku membuka kotak bekal itu. Telur dadar bulat sempurna dengan titik-titik hijau. Nasi putih. Tumis buncis. Dua sosis gurita, kali ini dengan mata dari wijen.
Ia menatap telur itu lama.
“Bulat,” katanya.
“Bulat!” Aku hampir melompat dari bangku. “Pertama kalinya, Kak! Nggak kayak Sulawesi! Nggak kayak Kalimantan!”
Ia memotong sepotong dengan sendok dan memakannya. Mengunyah pelan. Aku menahan napas, seperti biasa.
“Enak, Mbak,” katanya.
Bukan lebih baik. Bukan masih sedikit kebanyakan garam.
Enak.
Aku menatapnya. Ia menatap kotak bekal. Daun ketapang jatuh di antara kami, kuning dan kering, berputar pelan sebelum mendarat di rumput sintetis.
Lima kali. Lima pagi bangun jam lima. Dua kali gosong, satu kali jatuh ke lantai, satu kali kebanyakan garam, satu kali kurang garam, satu kali menghitung butiran dengan pinset. Lima kali sampai akhirnya ia bilang enak.
Dan ia tidak bilang enak untuk membuatku senang. Ia tidak pernah bilang apa pun hanya untuk membuat orang senang. Kalau ia bilang enak, berarti memang enak.
Itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Dan itu yang membuat kata enak darinya terasa seperti sesuatu yang harus kusimpan di album Kucing Lucu selamanya.
Ia makan sampai habis, seperti biasa. Lalu menutup kotak bekal dan mengembalikannya padaku.
Aku menerimanya. Memeluknya di pangkuan. Menatap gerobak kopi Pak Darto yang sedang dikerubungi dua satpam dan seorang kurir.
“Kak,” kataku.
“Ya, Mbak?”
Aku sudah menyiapkan kalimatnya semalaman. Aku sudah menulisnya di catatan ponsel, menghapusnya, menulisnya lagi. Kalimat yang panjang dan indah, dengan kata-kata seperti sejak pertama dan nggak tahu kenapa dan maafin aku.
Semua kalimat itu hilang dari kepalaku.
“Aku suka Kakak,” kataku.
Suaraku keluar kecil. Lebih kecil dari suaraku yang biasa, yang manja dan riang dan selalu bisa membuat orang memberikan apa saja.
“Bukan... bukan suka yang kayak Kakak kira. Bukan buat main-main. Bukan karena Kakak benerin payroll atau bawain sup. Itu juga, tapi bukan cuma itu.” Aku menelan ludah. Tanganku meremas kotak bekal. “Aku suka Kakak karena Kakak bilang telurku keasinan. Karena Kakak satu-satunya orang yang nggak bohong ke aku cuma karena takut aku nangis. Karena Kakak pakai headphone kosong supaya orang nggak ngajak ngobrol, padahal Kakak orang paling enak diajak ngobrol yang pernah aku kenal.”
Aku berhenti. Mataku panas.
“Aku suka Kakak. Beneran.”
Ia tidak menjawab langsung.
Ia menatap gerobak kopi Pak Darto. Lalu menatap daun ketapang di rumput sintetis. Lalu, akhirnya, menatapku.
Matanya tenang. Cokelat gelap. Tapi ada sesuatu di sana yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sesuatu yang lembut dan berat di waktu yang sama, seperti tangan yang terulur untuk menangkap sesuatu yang jatuh, tapi tahu ia tidak akan sempat.
“Mbak Alea,” katanya.
Cara ia menyebut namaku sudah memberitahuku jawabannya. Aku tahu sebelum ia mengatakannya. Tapi aku tetap menunggu.
“Terima kasih,” katanya. “Untuk telurnya. Untuk lima pagi bangun jam lima. Untuk stiker kucing. Untuk semuanya.”
Ia diam sebentar.
“Tapi jangan simpan perasaan Mbak buat orang yang sebentar lagi pergi.”
Aku membeku.
Daun ketapang lain jatuh di pangkuanku. Aku tidak menyingkirkannya.
Orang yang sebentar lagi pergi.
Ia tahu. Ia tahu bahwa aku tahu. Tentu saja ia tahu. Aku yang memproses suratnya. Aku yang memegang tangannya untuk menandatanganinya. Aku yang bilang kalau Kakak pergi, nanti yang makan telur keasinanku siapa. Bagaimana mungkin aku lupa bahwa ia tahu aku tahu?
“Kakak...” suaraku pecah. “Kakak tahu aku tahu.”
“Mbak yang proses suratnya.”
“Terus kenapa Kakak nggak pernah bilang apa-apa?”
“Nggak ada yang perlu dibilang, Mbak. Mbak nggak umumin ke siapa-siapa. Itu sudah cukup.”
Aku menatapnya.
Mbak nggak umumin ke siapa-siapa.
Aku umumkan. Aku umumkan ke dua orang, di pantry lantai 19, sambil tertawa. Aku tulis di atas kertas, di bawah namanya, dengan gambar hati kecil di ujungnya. Resign tgl 45 — makin aman.
Dan ia berterima kasih karena aku menyimpannya.
Rasanya seperti seseorang memegang leherku dari dalam. Aku membuka mulut untuk mengaku, untuk bilang nggak, Kak, aku bocorin, aku jahat, aku...
Tapi kalau aku mengaku soal itu, aku harus mengaku soal yang lain. Soal pantry. Soal kertas. Soal Ruang Kyoto dan direktori karyawan dan dia kelihatan aman. Soal kenapa tiga perempuan tiba-tiba mendekatinya di minggu yang sama.
Dan ia akan tahu bahwa semua ini, telur dadar dan stiker kucing dan hoodie dan sup ayam, dimulai dari taruhan.
Aku menutup mulut.
“Kalau Kakak nggak pergi?” bisikku. “Kalau Kakak nggak pergi, Kakak bakal jawab lain?”
Ia diam lama.
“Bukan cuma soal pergi, Mbak,” katanya pelan.
Dan aku mengerti.
Aku mengerti seperti aku mengerti di sofa ruang tengah Jumat lalu, ketika aku tahu aku jatuh cinta padanya. Pelan, tapi pasti. Turun dan menetap di dadaku seperti batu yang tenggelam ke dasar sungai.
Bukan cuma soal pergi.
Sofa karaoke. Lutut yang bersentuhan. Lantai 22 sampai pagi. Cahaya di balik tirai tipis di wajah Kak Celine.
Ada orang lain.
Aku tidak menangis di depannya. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menahannya, tapi aku menahannya. Aku tersenyum. Senyum yang paling susah yang pernah kubuat, lebih susah dari senyum di wisuda waktu aku belum mandi, lebih susah dari senyum di pemakaman nenek waktu semua orang bilang yang kuat ya, Le.
“Oke,” kataku. “Oke, Kak. Nggak apa-apa.”
Ia menatapku. Ia tidak percaya. Aku bisa melihatnya di matanya. Ia tidak pernah percaya nggak apa-apa, bahkan dari mulutnya sendiri.
“Sedikit sakit,” ralatku, lebih pelan. “Tapi nggak apa-apa.”
Sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum. Sesuatu yang lebih sedih dari senyum.
“Mbak Alea,” katanya. “Mbak berhak dapat orang yang tinggal. Yang bisa makan telur Mbak tiap hari, bukan cuma empat puluh lima hari. Yang bilang keasinan kalau memang keasinan, dan bilang enak kalau memang enak. Tiap hari. Bertahun-tahun.”
“Kakak bilang kayak itu gampang dicari.”
“Nggak gampang. Tapi ada.”
Aku tertawa. Tawa yang basah dan pecah di tengah. Aku mengusap mataku dengan ujung lengan hoodie-nya.
“Kak,” kataku. “Boleh aku simpan hoodie-nya? Sampai Kakak pergi?”
Ia menatap hoodie itu. Lengannya yang masih tergulung tiga lipatan. Tudungnya yang menutupi rambutku sampai ke alis.
“Simpan aja, Mbak,” katanya. “Nggak usah dibalikin.”
“Nanti Kakak kedinginan di lantai 17.”
“Saya sudah punya flanel dua.”
Aku tertawa lagi. Lalu berdiri, terlalu cepat, sebelum tawa itu berubah jadi sesuatu yang lain. Memeluk kotak bekal merah muda di dada.
“Makasih udah jujur, Kak,” kataku. “Dari awal sampai akhir.”
Aku berbalik dan berjalan cepat ke pintu samping gedung, melewati gerobak kopi Pak Darto, melewati dua satpam yang menatapku dengan bingung.
Di belakangku, ia tidak memanggil.
Aku bersyukur ia tidak memanggil. Kalau ia memanggil, aku pasti berbalik. Dan kalau aku berbalik, aku pasti mengaku semuanya.
Toilet perempuan lantai 19, bilik paling ujung.
Aku duduk di atas tutup kloset dengan lutut ditekuk ke dada, hoodie menutupi kepalaku sampai ke hidung, dan menangis tanpa suara selama dua puluh menit.
Makasih udah jujur, Kak. Dari awal sampai akhir.
Ia jujur dari awal sampai akhir. Telurnya keasinan. Kabel charger-nya tidak rusak. Lengannya kepanjangan, nanti kena kuah. Kalau aku bilang aku kangen padahal baru ketemu kemarin, itu aneh. Orang yang sebentar lagi pergi. Bukan cuma soal pergi.
Ia tidak pernah berbohong padaku sekali pun.
Dan aku, dari hari pertama, tidak pernah berhenti berbohong padanya.
Ponselku bergetar di saku hoodie. Aku mengeluarkannya dengan tangan gemetar.
Bukan grup chat. Mama.
Mama: Le, Nak Alfa jadi main ke rumah Minggu? Mama mau masak rendang. Papa udah beli kelapa. 😊🥥
Aku menatap pesan itu.
Lalu aku tertawa. Tawa yang paling menyedihkan yang pernah kubuat, di dalam bilik toilet lantai 19, dengan hidung merah dan pipi basah dan hoodie milik laki-laki yang baru saja menolakku dengan cara paling lembut yang pernah ada.
Papa sudah beli kelapa.
Aku menangis lebih keras.
Pukul tiga sore, aku kembali ke mejaku dengan mata bengkak dan bedak tebal yang tidak bisa menutupinya. Bu Ratih menatapku dari mejanya dan tidak bertanya. Perempuan berkacamata rantai manik di meja sebelah menyodorkan sebungkus permen jahe tanpa berkata apa-apa.
Aku membuka komputer. Notifikasi sistem HR di sudut kanan bawah layar. Pengajuan cuti, pengajuan lembur, pengajuan penggantian biaya transportasi.
Dan satu folder yang tidak pernah kubuka lagi sejak hari kelima. Folder yang hanya bisa diakses HR. Di dalamnya, satu surat pengunduran diri, diketik rapi, satu halaman, dengan tanda tangan kecil dan rapi seperti tulisan orang yang tidak ingin terlalu banyak memakan tempat.
Tanggal efektif: hari keempat puluh lima.
Dua puluh satu hari lagi.
Aku menatap tanggal itu lama.
Lima hari pertama, tanggal itu terdengar seperti kabar baik. Toh dia pergi. Nggak ada yang sakit.
Sekarang tanggal itu terdengar seperti satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuknya. Satu-satunya hal yang masih benar dari semua yang sudah kulakukan. Menjaga rahasianya. Tidak memberitahu siapa pun. Membiarkannya pergi dengan tenang, tanpa ada yang menangis di lift atau menghindarinya di pantry.
Tapi aku sudah memberitahu dua orang.
Dan salah satu dari dua orang itu tidak tahu bahwa ia akan pergi untuk orang yang ia sukai.
Aku membuka grup chat Dewi-Dewi Lembur. Jariku melayang di atas layar. Aku tidak tahu apa yang ingin kutulis. Aku hanya tahu satu hal: aku tidak bisa lagi duduk di Ruang Kyoto, atau di pantry Jumat sore, dan tertawa soal kaos tiga warna.
Aku mengetik satu kalimat.
Lalu menatapnya sampai mataku kering.
Lalu, untuk pertama kalinya dalam taruhan ini, aku mengirim sesuatu yang sepenuhnya jujur.
Aku: Aku mundur dari taruhan.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang reading
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang