Chapter One
Ruang Kyoto
POV: Celine
Laki-laki biasanya membeku di depanku selama tiga detik.
Aku pernah menghitungnya. Bukan karena sombong, tapi karena bosan. Tiga detik itu selalu sama polanya: mata mereka naik dari sepatuku ke wajahku, berhenti, lalu lupa cara berkedip. Detik keempat mereka tersenyum terlalu lebar. Detik kelima mereka mulai bicara terlalu cepat tentang hal yang tidak kutanyakan.
Satpam lobi Trista Tower butuh dua detik. Barista kopi di lantai dasar butuh empat. Direktur keuangan yang sudah punya tiga cucu butuh tepat tiga, dan setelahnya ia selalu batuk kecil seolah tenggorokannya yang bersalah.
Aku sudah berhenti merasa tersanjung sejak kuliah. Cantik itu seperti memakai sepatu hak tinggi seharian. Orang melihatnya indah. Yang memakainya tahu rasanya pegal.
“Cel, kamu ngelamun lagi.”
Shafira menjentikkan jarinya di depan wajahku. Kuku merahnya mengilap, serasi dengan lipstik yang tidak pernah luntur bahkan setelah makan siang pedas. Shafira Nadine, Business Development Manager termuda di Trista Group, perempuan yang bisa membuat klien senior menandatangani kontrak hanya dengan tertawa di saat yang tepat.
“Aku nggak ngelamun,” kataku. “Aku menikmati kemenangan.”
“Menikmati kemenangan itu pakai mulut, bukan pakai mata kosong.” Shafira menyodorkan garpu plastik. “Makan kuenya. Ini kue kemenangan. Haram kalau nggak habis.”
Kami bertiga duduk di Ruang Meeting Kyoto, lantai 21, ruang rapat kecil yang dinding kacanya menghadap ke arah Sudirman. Sore itu langit Jakarta berwarna jingga kotor, warna yang hanya cantik kalau difoto dari ketinggian. Di meja, ada satu kue tar cokelat dengan tulisan krim yang mulai miring: SELAMAT SUMMER CAMPAIGN!!! Tiga tanda seru. Itu pasti kerjaan Alea.
Kampanye musim panas Trista Lifestyle baru saja ditutup dengan angka penjualan yang membuat direksi tersenyum di rapat pagi tadi. Aku memimpin strategi brand-nya. Shafira membawa tiga mitra baru. Alea, dari HR, mengurus rekrutmen kilat dua puluh tim promosi dalam seminggu. Kami bertiga yang paling sering lembur bulan itu, jadi kami bertiga yang merasa paling berhak menghabiskan satu kue utuh.
“Kak Celine, potong bagian yang ada tulisan ‘CAMPAIGN’-nya dong,” kata Alea. “Aku mau makan kata yang paling bikin capek.”
Alea Putri Kinanti memotong kuenya sendiri dengan wajah serius, lidahnya sedikit keluar di ujung bibir. Rambutnya dijepit dua jepit warna kuning bentuk bebek. Tingginya sebahuku, mungkin kurang. Kalau Shafira membuat laki-laki ingin menang, Alea membuat laki-laki ingin memberi. Aku pernah melihat seorang manajer gudang menyerahkan kursi kerjanya sendiri hanya karena Alea bilang, “Kursiku goyang, Pak. Aku takut jatuh,” dengan suara yang seperti anak kucing.
Kami bertiga bersahabat sejak masuk Trista di tahun yang sama. Tiga departemen, tiga lantai, satu grup chat bernama Dewi-Dewi Lembur yang dibuat Shafira dan tidak pernah berhasil kuganti.
“Oke,” kata Shafira, meletakkan garpunya. Nada suaranya berubah, nada yang ia pakai sebelum menyebut angka di depan klien. “Aku punya ide.”
“Nggak,” kataku.
“Aku belum ngomong.”
“Idemu yang terakhir bikin kita karaoke sampai jam tiga pagi di hari Selasa.”
“Dan kamu nyanyi lagu Celine Dion empat kali. Nggak usah sok suci.” Shafira menyandarkan punggungnya, menyilangkan kaki. “Ini lebih seru. Taruhan.”
Alea langsung menegakkan punggung. “Taruhan apa? Aku suka taruhan.”
“Kamu suka taruhan karena kamu selalu menang dengan cara curang. Kamu pasang muka sedih, lawanmu ngalah.”
“Itu bukan curang, itu bakat.”
Shafira mengabaikannya. Ia mengeluarkan ponsel, membuka sesuatu, lalu memutarnya ke arah kami. Foto pemandangan: jalan setapak di Kyoto, pohon sakura berwarna merah muda pucat, lampion di kejauhan.
“Sepuluh hari di Jepang. Tiket, hotel, jalan-jalan. Semua dari aku.”
Aku menatapnya. “Kamu baru dapat bonus, ya.”
“Aku baru dapat bonus besar.” Ia tersenyum. “Dan aku mau pakainya buat sesuatu yang lucu. Aturannya gampang. Kita pilih satu cowok di kantor ini. Satu target, kita bertiga yang deketin. Siapa yang duluan bikin dia nyatain cinta, dia yang menang. Batasnya tiga puluh hari.”
Hening sejenak. Dari luar terdengar suara troli OB lewat di koridor.
“Shaf,” kataku pelan. “Itu jahat.”
“Itu kompetisi.” Shafira mengangkat bahu. “Nggak ada yang dirugikan. Cowoknya dapat perhatian tiga perempuan cantik selama sebulan. Kapan lagi? Dia harusnya bayar kita.”
“Terus kalau dia beneran suka?”
“Ya bagus. Berarti ada yang menang.” Shafira mencondongkan tubuhnya. “Kita nggak bakal mainin dia sampai sakit, Cel. Kita cuma deketin. Ngobrol. Makan siang. Dia nyatain cinta, kita tolak baik-baik, selesai. Laki-laki ditolak itu biasa. Mereka sembuh dalam seminggu, terus pindah ke perempuan lain.”
Aku ingin bilang tidak. Kata itu sudah ada di ujung lidah.
Lalu Shafira menambahkan, dengan senyum miring yang sudah kukenal bertahun-tahun, “Kecuali kamu takut kalah sama aku.”
Dan itu dia. Kelemahanku yang paling memalukan. Aku bisa menahan godaan kue cokelat, godaan diskon tas, godaan membalas pesan mantan jam dua pagi. Tapi aku tidak pernah bisa menahan kalimat kamu takut kalah.
“Aku nggak takut,” kataku.
“Bagus.” Shafira menepuk meja. “Alea?”
“Aku ikut!” Alea mengangkat garpunya tinggi-tinggi, seperti pedang. “Aku belum pernah ke Jepang. Aku mau foto sama rusa di Nara.”
“Rusa di Nara gigit, Le.”
“Nggak apa-apa, aku juga bisa gigit.”
Memilih target ternyata lebih lama daripada memutuskan ikut taruhan.
Alea membuka laptopnya. Sebagai staf HR, ia punya akses ke direktori karyawan internal, lengkap dengan foto, divisi, dan status pernikahan. Aku tahu itu melanggar sesuatu. Aku juga tahu aku tidak menghentikannya.
“Syaratnya,” kata Shafira, berdiri di belakang kursi Alea seperti jenderal di depan peta. “Satu, belum menikah. Dua, nggak punya pacar. Tiga, nggak posesif, nggak drama, nggak bakal ngadu ke atasan atau nyebar di grup kantor. Kita butuh target yang bersih.”
“Kayak deterjen,” kata Alea.
“Kayak deterjen.”
Alea menggulir. Wajah-wajah karyawan Trista lewat satu per satu, semuanya dengan ekspresi kaku foto KTP.
“Dion Saputra, sales,” baca Alea.
“Coret,” kata Shafira dan aku bersamaan.
Dion pernah mengajak kami bertiga makan malam, di hari yang berbeda, dengan restoran yang sama dan kalimat pembuka yang sama. Kami baru tahu ketika membandingkan cerita di grup chat. Sejak itu ia menyebut kami si tiga sombong di depan anak-anak sales.
“Pak Hendra Wijaya.”
“Dia direktur, Le. Dan udah nikah. Dan istrinya pernah jadi atlet karate.”
“Oh iya.” Alea menggulir lagi. “Bayu Pradana, IT, umur dua puluh tiga.”
“Terlalu muda,” kataku. “Dia bakal nangis kalau ditolak.”
“Aku pernah lihat dia nangis nonton video anak anjing di pantry,” tambah Alea. “Coret.”
“Togar Simanjuntak, Head of IT Infra.”
“Udah nikah. Istrinya pernah datang ke kantor bawa rantang buat dia, terus marahin dia di lobi karena lupa ulang tahun pernikahan.” Shafira menggeleng. “Aku nggak mau berurusan sama perempuan yang bisa marah sekeras itu sambil bawa rantang.”
Alea menggulir lebih jauh. Divisi IT. Wajah-wajah laki-laki dengan kemeja kotak-kotak, kacamata, senyum canggung.
Lalu ia berhenti.
“Yang ini,” katanya pelan, “aku bahkan nggak pernah lihat orangnya.”
Di layar, satu foto. Laki-laki dengan kaos polos abu-abu, bukan kemeja. Rambut hitam sedikit berantakan seperti baru bangun tidur. Wajahnya tidak jelek. Sebenarnya, kalau aku jujur, rahangnya bagus dan hidungnya lurus. Tapi ekspresinya seperti orang yang dipaksa berdiri di depan kamera di hari yang salah. Di lehernya tergantung headphone hitam besar.
Alfa Danuarta. IT Infrastructure. Lantai 17. Bergabung empat tahun lalu.
“Alfa,” Alea membaca. “Status: belum menikah. Riwayat cuti: hampir nggak pernah. Catatan acara kantor: nggak pernah ikut gathering, nggak pernah ikut outing, nggak pernah ikut ulang tahun perusahaan.”
“Nggak pernah?” Shafira mencondongkan tubuh.
“Nggak pernah. Tiap ada undangan, dia isi ‘berhalangan, ada maintenance server’. Empat tahun.”
“Server macam apa yang rusak tiap ada pesta?”
“Server yang males pesta.”
Shafira tertawa. Tawanya keras, memenuhi ruang kecil itu. “Dia sempurna.”
“Dia kelihatan...” aku mencari kata yang tidak terlalu kejam, “...pendiam.”
“Dia kelihatan aman.” Shafira menunjuk layar dengan kukunya yang merah. “Lihat. Orang kayak gini nggak bakal bikin drama. Nggak punya teman buat diceritain. Nggak bakal baper berlebihan karena dia pasti tahu diri. Dan nggak bakal ngadu, soalnya mau ngadu ke siapa? Dia nggak kenal siapa-siapa.”
Sesuatu di dadaku sedikit tidak nyaman. Seperti duri kecil di dalam sepatu. Aku mengabaikannya, seperti biasa.
“Aku setuju,” kata Alea. “Kasihan juga sih, empat tahun nggak ada yang ngajak ngobrol. Kita kayak... program sosial.”
“Program sosial berhadiah Jepang,” Shafira menyeringai. “Oke. Aku print aturannya. Biar resmi. Taruhan tanpa dokumen itu omong kosong.”
Ia menyambungkan ponselnya ke printer kecil di sudut ruang rapat dan mengetik sesuatu dengan cepat. Mesin itu berdengung, lalu memuntahkan satu lembar kertas.
TARGET JEPANG — PROYEK 30 HARI
Peserta: Celine, Alea, Shafira.
Target: Alfa Danuarta (IT, Lt. 17).
Menang: yang pertama bikin target nyatain cinta (ada saksi / rekaman).
Dilarang: kasih tahu target. Dilarang: ciuman di bibir sebelum menang (Alea, ini buat kamu).
Hadiah: 10 hari Jepang. Yang kalah: cuci mobil Shafira sebulan.
“Kenapa larangan ciuman ditujukan ke aku?” protes Alea.
“Karena kamu pernah cium pipi satpam waktu dia nemuin dompetmu.”
“Itu ucapan terima kasih!”
“Satpamnya nggak bisa tidur tiga hari, Le.”
Shafira meletakkan kertas itu di depanku, lalu menyodorkan pulpen. “Kamu yang paling rapi tulisannya. Kasih catatan soal target. Biar kita punya profil.”
Aku memegang pulpen itu. Menatap foto di layar laptop Alea sekali lagi. Laki-laki yang empat tahun tidak pernah datang ke pesta. Laki-laki yang memakai kaos ke foto resmi kantor.
Di bawah namanya, aku menulis dengan huruf miring yang sudah kulatih sejak SMA:
Nggak bakal baper, nggak bakal ngadu. Aman.
Aku menggarisbawahi kata terakhir. Dua kali. Entah kenapa.
“Sempurna,” kata Shafira lagi, melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam map kulitnya.
Pintu ruang rapat diketuk.
“Permisi, Nak,” Bu Ratna, resepsionis lobi, menyembulkan kepalanya. Tangannya membawa kantong plastik putih. “Ini ada kiriman jus dari kafe bawah, atas nama Mbak Alea. Wah, wah, ada kue. Arisan, ya?”
“Bukan, Bu,” kata Alea manis. “Rapat strategi.”
“Rapat strategi kok pakai kue tulisan ‘selamat’.” Bu Ratna meletakkan kantong di meja, matanya menyipit curiga. “Kalau arisan, Ibu ikut dong. Ibu sudah lama nggak menang apa-apa. Terakhir menang kipas angin dari jalan sehat RT, itu juga kipasnya muter ke kiri doang.”
“Nanti kalau kami bikin arisan, Ibu yang pertama dikabari,” kataku.
“Janji, ya, Nak Celine. Kamu yang cantik, kamu yang tanggung jawab.” Bu Ratna menunjukku dengan telunjuk, lalu menghilang sambil bergumam soal anak muda zaman sekarang yang rapat sambil makan kue.
Alea terkikik. Shafira menggeleng. Aku tersenyum, tapi duri kecil itu masih ada di sana.
Kami turun pukul enam lewat sedikit.
Lift Trista Tower selalu penuh di jam pulang. Kami bertiga berdiri di depan pintu lift lantai 21, Shafira masih bercerita soal rencana outfit untuk “hari pertama misi”, Alea sibuk mengetik di ponsel, dan aku memikirkan apakah aku masih punya waktu untuk kelas pilates jam tujuh.
Pintu lift terbuka.
Di dalam, hanya ada satu orang.
Laki-laki dengan kaos polos abu-abu, hoodie tersampir di lengan, headphone hitam besar di telinga. Rambutnya sedikit berantakan. Ia berdiri di pojok, punggung menempel dinding, menatap layar ponselnya.
Alea mencengkeram lenganku begitu keras sampai aku hampir mengaduh.
Shafira tidak membuang waktu sedetik pun.
Ia masuk ke lift seperti masuk ke ruang rapat yang sudah ia menangkan. Aku dan Alea mengikuti. Pintu tertutup. Angka di atas pintu mulai turun: 20, 19, 18.
“Mas IT, ya?” kata Shafira. Suaranya rendah, berbeda dengan suaranya di ruang rapat tadi.
Laki-laki itu menurunkan headphone-nya ke leher. Gerakannya pelan, tidak terburu-buru. Ia menoleh.
“Iya, Mbak.”
“Wifi lantai 21 lemot banget hari ini.” Shafira melangkah satu langkah lebih dekat, lalu mengetuk dada laki-laki itu dengan ujung telunjuknya. Satu ketukan. Ringan. Seperti mengetuk pintu. “Kamu yang benerin, ya? Atau jangan-jangan... kamu yang bikin hatiku ikut lemot?”
Alea menutup mulutnya dengan dua tangan. Aku menahan napas.
Aku menunggu. Tiga detik itu. Tiga detik laki-laki membeku.
Ia tidak membeku.
Ia menatap telunjuk Shafira yang masih menempel di dadanya, lalu menatap wajah Shafira. Ekspresinya tidak berubah sama sekali, seperti orang yang sedang membaca pesan error.
“Wifi-nya nanti saya cek, Mbak,” katanya. “Kalau hatinya, itu di luar wewenang saya.”
Lift berbunyi. Lantai 17. Pintu terbuka.
Ia mengangguk sopan pada kami bertiga, satu anggukan yang sama untuk semuanya, lalu keluar. Headphone-nya sudah kembali ke telinga sebelum pintu tertutup lagi.
Untuk sesaat, tidak ada yang bicara.
“Dia...” Alea mengedip. “Dia barusan nolak gombalan Kak Shafira?”
“Dia nggak nolak,” kata Shafira, matanya menyipit ke arah pintu yang sudah tertutup. Tapi ada sesuatu di senyumnya, sesuatu yang lapar. “Dia nangkis. Itu beda. Ini bakal seru.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Karena ada satu hal yang hanya aku yang memperhatikan. Waktu laki-laki itu mengangguk pada kami bertiga, matanya sempat berhenti di wajahku.
Kurang dari satu detik. Lalu pindah. Seperti melihat papan nama lantai. Seperti melihat apa saja.
Dua puluh tujuh tahun aku hidup dengan wajah ini, dan untuk pertama kalinya aku bertemu laki-laki yang tidak membutuhkan tiga detik.
Ia tidak membutuhkan satu detik pun.
Pintu lift terbuka di lobi. Bu Ratna melambai dari balik meja resepsionis. Shafira sudah mulai menyusun strategi dengan suara keras. Alea sibuk mencari nama Alfa Danuarta di media sosial dan tidak menemukan apa-apa.
Dan aku, entah kenapa, memikirkan satu kata yang kugarisbawahi dua kali di atas kertas tadi sore.
Aman.
Duri kecil di sepatuku terasa sedikit lebih tajam.
- 1 Ruang Kyoto reading
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang