Chapter Forty Three
Vendor
POV: Alfa
Dua bulan setelah malam di depan minimarket itu, Haruto Mori memanggilku ke ruangannya.
Ruangan di lantai sembilan, dinding kaca, pemandangan ke arah Shibuya yang di malam hari terlihat seperti papan sirkuit raksasa. Ia meletakkan satu map biru di meja. Logo di sampulnya membuatku berhenti bernapas sebentar.
Trista Group.
“Mereka menghubungi kami tiga minggu lalu,” kata Haruto. “Audit keamanan menyeluruh. Infrastruktur, aplikasi, sistem karyawan. Dan platform baru untuk lini Trista Home. Kontrak dua tahun.”
Aku menatap map itu.
“Direktur Operasional mereka, Hendra Wijaya, menulis surat sendiri.” Haruto membuka map, mengeluarkan selembar kertas. “Dalam bahasa Inggris yang sangat formal. Ia bilang perusahaannya berutang permintaan maaf kepada salah satu mantan karyawannya. Ia bilang ia tidak berharap permintaan maaf itu diterima. Ia hanya ingin perusahaannya dijaga oleh orang yang dulu menjaganya tanpa pernah diucapkan terima kasih.”
Haruto meletakkan kertas itu di depanku.
“Ia tidak menyebut namamu. Tapi kurasa tidak perlu.”
Aku menatap surat itu. Tanda tangan Pak Hendra di bawahnya. Tanda tangan yang besar, tegas, seperti tanda tangan orang yang menandatangani banyak hal setiap hari.
“Kami butuh seseorang yang memimpin tim di Jakarta,” kata Haruto. “Enam bulan pertama di lokasi. Setelah itu, kalau berjalan baik, kami mungkin membuka kantor kecil di sana. Kaizen Labs Jakarta.”
Ia menatapku.
“Kau tidak harus menjawab sekarang, Alfa-san.”
“Saya sudah dua bulan baca issue setiap pagi, Mori-san,” kataku.
Haruto tidak bertanya apa maksudku. Ia hanya menatapku lama, lalu tersenyum. Senyum kecil, seperti orang yang mencatat sesuatu yang sudah ia duga.
“Hidup kadang berubah lebih cepat dari keputusan kita,” katanya.
“Saya ingat, Mori-san.”
Dua bulan aku membaca issue setiap pagi.
Pukul lima lewat empat, ketika kereta pertama lewat dan apartemenku bergetar. Notifikasi masuk di ponsel. celestial_c membuka issue baru. Aku membacanya di atas kasur lipat, sebelum mandi, sebelum sup, sebelum apa pun.
Hari ke-119. Hari ke-120. Hari ke-135. Hari ke-150.
Bang Togar mengajarinya membaca log, dan sekarang ia bisa menemukan anomali login dari alamat yang tidak dikenal. Bayu menangis di depan meja kosong di pojok lantai 17 karena seseorang dari tim gedung mencoba memindahkan monitornya, dan Bang Togar berdiri di depan meja itu seperti penjaga makam dan bilang meja ini tidak dipindah, tidak diganti, tidak diduduki. Alea mulai belajar membuat sup ayam, dan jahenya selalu kebanyakan. Shafira membuka angkatan kedua beasiswa. Pak Udin ditanya anaknya kenapa boneka beruangnya bernama Pak Hartono.
Ia menulis semuanya. Hal-hal kecil. Hal-hal besar. Tidak pernah meminta apa-apa.
Aku tidak membalas satu pun.
Pull request di README baris 47 masih terbuka. Satu huruf N. Aku membukanya setiap pagi, menatap tombol hijau, dan menutupnya lagi.
Belum.
Aku mendarat di Soekarno-Hatta hari Minggu malam, pukul sembilan lewat sepuluh.
Udara Jakarta menyambutku di pintu garbarata seperti handuk basah yang dilemparkan ke wajah. Panas. Lembab. Berbau knalpot dan hujan yang baru berhenti dan sesuatu yang manis dari kios roti di terminal.
Enam bulan. Aku lupa betapa beratnya udara di sini.
Bayu menjemputku di pintu kedatangan. Ia memegang kertas karton putih dengan tulisan spidol merah besar.
SELAMAT DATANG KEMBALI BANG ALFA
(BUKAN MR. AMAN)
— KELUARGA BESAR SIMANJUNTAK & LANTAI 17
Orang-orang di pintu kedatangan menatap kertas itu. Lalu menatapku. Lalu menatap Bayu, yang mulai menangis sebelum aku sampai di depannya.
“Bay.”
“Bang.” Ia menurunkan kertas karton itu. Menatapku. Bibirnya bergetar. “Abang kurusan.”
“Kamu juga.”
“Aku diet, Bang. Ada cewek di beasiswanya Mbak Shafira. Dia ngajar kelas baca log. Aku daftar jadi relawan asisten.”
Aku menatapnya.
“Bang, jangan liatin aku gitu,” kata Bayu, mengusap matanya. “Aku masih pakai panduan. Versi empat. Abang mau baca?”
“Nanti, Bay.”
Bayu memelukku. Di tengah pintu kedatangan, di depan orang-orang yang menatap, dengan kertas karton yang terjepit di antara kami.
Senin pagi, pukul tujuh kurang sepuluh, aku masuk lewat pintu putar Trista Tower.
Pintu putar itu macet setengah jalan. Berputar sedikit, lalu mundur lagi.
“Mas!”
Pak Udin berlari dari arah pos lobi. Ia sudah tidak di basement. Bayu bilang Pak Udin dipindahkan ke lobi tiga bulan lalu, atas permintaan Bu Ratna, karena lobi butuh satpam yang tahu cara nyeduh teh.
Pak Udin berhenti di depanku. Menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Lalu menatap pintu putar yang macet.
“Pintunya kesurupan lagi, Mas,” katanya. Suaranya serak. “Dari Mas pergi, tiap minggu kesurupan. Teknisi baru nggak ngerti. Dia bilang pintunya tua. Saya bilang bukan tua, pintunya kangen.”
“Sensornya kotor, Pak.”
“Saya tahu, Mas.” Pak Udin tersenyum. Gigi depannya yang ompong satu. “Mas yang bilang dulu. Saya cuma nggak bisa bersihinnya serapi Mas.”
Aku berjongkok di samping pintu putar. Membersihkan sensor dengan tisu dari saku. Pintu itu berputar lancar.
Di balik meja resepsionis, Bu Ratna berdiri. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri, dengan tangan menutupi mulutnya, dan air mata yang jatuh ke atas buku tamu di mejanya.
“Pagi, Bu,” kataku.
Bu Ratna menurunkan tangannya.
“Pagi, Nak,” katanya. Lalu, lebih pelan: “Pagi, Nak Alfa.”
Rapat pertama dijadwalkan pukul sembilan di ruang rapat direksi, lantai 30.
Aku belum pernah ke lantai 30. Empat tahun aku bekerja di gedung ini, dan aku tidak pernah naik lebih tinggi dari lantai 22, kecuali ke atap. Lantai 30 adalah lantai direksi. Karpet tebal. Dinding kayu. Pintu-pintu kaca buram dengan papan nama kuningan.
Aku memakai kaos navy.
Haruto menyarankan aku memakai kemeja. Tim Kaizen yang ikut bersamaku, dua orang dari Tokyo dan satu orang dari Singapura, memakai kemeja dan blazer. Aku memakai kaos navy, celana bahan hitam, dan blazer Kaizen di atasnya, karena kontrak mewajibkan logo perusahaan terlihat. Di balik blazer itu, kaos yang sama. Salah satu dari tiga warna.
Pintu ruang rapat direksi terbuka.
Meja panjang. Dua belas kursi. Sepuluh orang sudah duduk di sana. Pak Hendra di kepala meja. Pak Wibisono di sampingnya. Direktur Keuangan, yang dulu membutuhkan tiga detik untuk membeku di depan Celine. Kepala divisi Legal. Kepala divisi HR. Bu Ratih. Bang Togar, dengan kemeja batik cokelat, di ujung meja yang paling jauh, karena katanya ia bukan direksi dan tidak mau duduk di tempat direksi.
Dan di kursi paling dekat dengan pintu, satu orang lagi.
Blus abu-abu. Rambut diikat rendah. Tanpa lipstik. Laptop terbuka di depannya, dengan slide presentasi berlogo Trista Home.
Celine tidak menoleh ketika pintu terbuka.
Ia menatap laptopnya.
Ketika aku masuk, sepuluh orang di ruangan itu berdiri. Bersamaan. Kursi-kursi berderit. Pak Hendra berdiri paling akhir, pelan, dengan kedua tangan di atas meja.
Celine juga berdiri. Tapi ia tetap menatap laptopnya.
Aku berhenti di ambang pintu.
Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan sepuluh orang yang berdiri untukku. Empat tahun orang berdiri untuk Celine, untuk Pak Hendra, untuk klien besar. Tidak pernah untukku.
Bang Togar, di ujung meja, mengangkat tangan kanannya ke dahi. Hormat. Seperti di upacara bendera. Seperti yang ia lakukan setiap pagi ke bingkai kosong di partisinya, kata Bayu.
Aku menunduk sedikit. Lalu masuk dan duduk.
Sepuluh orang duduk kembali.
Pak Hendra bicara lebih dulu.
Ia tidak membuka dengan agenda rapat. Ia membuka dengan berdiri lagi, sendirian, dan menatapku dari kepala meja.
“Mas Alfa,” katanya. “Sebelum kita mulai. Atas nama Trista Group, saya minta maaf.”
Ruangan diam.
“Untuk apa yang terjadi di gedung ini, dua minggu terakhir Mas di sini. Untuk stiker. Untuk lagu. Untuk tiket. Untuk grup yang saya baca setiap hari dan saya kasih jempol, tanpa saya tahu apa yang saya kasih jempol.” Pak Hendra menatap meja. “Saya direktur operasional. Gedung ini tanggung jawab saya. Orang-orang di dalamnya juga.”
Ia menatapku lagi.
“Saya tidak berharap Mas terima. Saya cuma mau Mas dengar.”
Aku menatapnya.
“Saya dengar, Pak,” kataku.
Pak Hendra mengangguk. Lama. Lalu duduk.
Rapat dimulai.
Celine mempresentasikan kebutuhan platform Trista Home di menit keempat puluh.
Ia berdiri di depan layar dengan slide yang rapi. Angka-angka yang konsisten. Grafik-grafik yang jelas. Suara yang tenang dan profesional. Suara ruang rapat.
Ia tidak menatapku sekali pun.
Ia menyebutku Pak Alfa dua kali. Sekali ketika menjelaskan kebutuhan keamanan untuk sistem pembayaran. Sekali ketika bertanya tentang jadwal audit.
“Pak Alfa, apakah jadwal audit tahap satu memungkinkan sebelum kampanye lanjutan bulan depan?”
“Memungkinkan, Bu.”
Ia mengangguk. Mencatat. Melanjutkan ke slide berikutnya.
Di slide kedua belas, ada satu angka yang salah. Proyeksi transaksi kuartal ketiga. Di grafik batang tertulis empat koma lima juta. Di tabel lampiran, empat ratus lima puluh ribu.
Aku melihatnya. Aku tidak mengatakan apa-apa.
Ia berhenti di slide itu. Menatap grafiknya. Lalu menatap tabel di slide berikutnya. Lalu kembali ke slide dua belas.
“Maaf,” katanya. “Angka di grafik ini salah ketik. Yang benar empat ratus lima puluh ribu. Saya sudah koreksi di versi yang akan dikirim setelah rapat.”
Ia menatap layar sebentar lagi.
Lalu, untuk sepersekian detik, matanya bergerak ke arahku.
Hanya sebentar. Kurang dari satu detik. Lalu kembali ke layar.
Ia menemukannya sendiri.
Rapat selesai pukul sebelas. Celine yang keluar pertama, dengan laptop di dekapan dan langkah yang tidak tergesa. Ia tidak menoleh.
Bang Togar yang keluar terakhir. Ia menungguku di depan lift lantai 30, dengan kemeja batik cokelat dan kumis yang sudah disisir rapi.
Ketika aku keluar dari ruang rapat, ia tidak memberi hormat lagi.
Ia memelukku.
Di depan lift lantai direksi, di karpet tebal, di bawah lampu kristal, Bang Togar Simanjuntak memelukku dengan dua lengan yang seberat palu, dan tidak melepaskannya selama satu menit penuh.
“Kau kurusan,” katanya di atas bahuku.
“Bayu juga bilang begitu, Bang.”
“Bayu benar sekali-sekali.” Bang Togar melepasku. Matanya merah. Ia mengusapnya dengan punggung tangan. “Turun. Lantai 17. Mejamu masih di sana.”
“Bang, aku vendor sekarang.”
“Aku tidak peduli kau vendor, presiden, atau tukang bakso.” Bang Togar menekan tombol lift dengan sangat keras. “Mejamu masih di sana. Kucingnya masih di sana. Tidak ada yang boleh menyentuhnya. Aku sudah bilang ke tim gedung, kalau ada yang memindahkan meja itu, mereka berhadapan dengan keluarga besar Simanjuntak.”
Mejaku masih di sana.
Di pojok lantai 17, dekat rak server. Monitor yang mati. Keyboard yang tidak ada. Kursi yang didorong rapat ke meja.
Dan kucing oranye gemuk dengan pipi merah muda, di sudut kiri atas bingkai monitor, memegang papan kecil bertuliskan SEMANGAT KERJA!
Ujung stikernya sedikit lebih terkelupas dari enam bulan lalu.
Seseorang menempelkan selotip bening kecil di ujung itu. Supaya tidak lepas.
“Siapa yang tempel selotipnya, Bay?”
Bayu menatap stiker itu. Lalu menatapku.
“Mbak Alea, Bang,” katanya. “Bulan ketiga. Dia turun dari lantai tiga, lihat ujungnya mau lepas, terus dia ambil selotip dari mejaku. Dia nggak ngomong apa-apa. Dia tempel, terus pergi.”
Aku menatap selotip kecil itu.
Aku tidak duduk di kursi itu. Aku hanya berdiri di depannya, lama, sampai Gilang dari tim network datang dan menepuk bahuku dan bilang selamat datang balik, Fa, dan tim network satu per satu datang, dan Bayu menunjukkan Panduan v4.0 yang ternyata dua puluh tiga halaman, dan Bang Togar mengumumkan bahwa jam empat sore ada kue lapis legit di ruang server, tujuh belas lapis, istrinya sudah beli mentega Wijsman kaleng lagi.
Pukul tujuh malam, aku turun dari lantai 30.
Rapat tahap kedua dengan tim Legal selesai terlambat. Tim Kaizen dari Tokyo dan Singapura sudah kembali ke hotel. Lantai 30 sepi.
Pintu lift terbuka. Aku masuk.
Di lantai 22, pintu lift terbuka lagi.
Celine.
Ia berhenti di ambang pintu ketika melihatku. Tangannya memegang laptop di dekapan. Ia ragu sebentar. Satu detik. Lalu masuk.
Pintu tertutup.
Ia berdiri di sudut seberang. Seperti di lift enam bulan lalu, di hari ketiga puluh enam, ketika ia bertanya kamu nggak apa-apa? dan aku menjawab dengan kata yang ia tulis di bawah namaku.
Lift turun. Lantai 21. Lantai 20.
Tidak ada yang bicara.
Lantai 19.
Lift berhenti.
Bukan berhenti di lantai. Berhenti di antara lantai 19 dan 18. Dengan sentakan kecil. Lalu lampunya mati.
Gelap.
Lampu darurat menyala satu detik kemudian. Lampu kuning redup di sudut langit-langit, cukup untuk melihat bayangan, tidak cukup untuk melihat wajah. Speaker kecil di panel lift berbunyi. Suara yang kukenal.
“Mohon maaf, Bapak-Ibu. Ini Bayu dari IT. Kami sedang uji coba sistem cadangan daya, bagian dari audit keamanan. Sudah diumumkan di email jam tiga tadi. Lift akan berfungsi kembali dalam lima menit. Mohon tetap tenang. Mohon maaf. Mohon maaf banget.”
Lalu suara lain, lebih jauh, lebih keras, dari latar belakang speaker yang belum dimatikan: “BAYU! LIFT YANG MANA? KAU BILANG SEMUA LIFT SUDAH KOSONG!”
“Aku cek CCTV jam setengah tujuh, Bang! Kosong! Bang, ini lift timur! Ini... Bang, ini lift timur...”
Hening. Lalu suara Bang Togar, pelan, hampir tidak terdengar:
“Ya sudah. Lima menit. Jangan dipercepat.”
Speaker mati.
Lift gelap. Lampu kuning redup. Dengung mesin yang berhenti, digantikan sunyi yang terlalu tebal.
Aku bersandar ke dinding lift. Tanganku memegang pegangan besi di sepanjang dinding.
Di sudut seberang, aku bisa mendengar napasnya. Pelan. Terlalu teratur. Napas orang yang sedang berusaha bernapas dengan teratur.
Satu menit.
Dua menit.
Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu. Lift itu kecil. Dua orang yang bersandar di sudut yang berseberangan hanya berjarak dua langkah. Dalam gelap, tanpa disadari, jarak itu bisa jadi satu langkah.
Tanganku di pegangan besi. Tangannya juga, di sisi lain dinding yang sama. Pegangan besi yang melingkar mengikuti dinding lift, dari sudut ke sudut.
Ujung jariku menyentuh ujung jarinya di atas besi yang dingin.
Ia tidak menarik tangannya.
Aku juga tidak.
Tiga menit.
Enam bulan. Seratus enam puluh tiga issue. Seratus enam puluh tiga pagi aku membaca kalimat-kalimatnya di atas kasur lipat di Nakameguro, dengan kereta pertama yang membuat ruangan bergetar. Enam bulan aku tidak membalas. Enam bulan pull request satu huruf itu menunggu.
Jangan datang, Mbak. Saya belum bisa.
Aku menulis belum. Bukan tidak.
Aku menggerakkan tanganku di atas pegangan besi. Pelan. Sedikit. Sampai telapak tanganku menutupi punggung tangannya.
Lalu, seperti di war room lantai 22, enam bulan lalu, ketika aku baru belajar caranya, aku menekuk jari-jariku. Menyusupkannya di antara jari-jarinya. Menggenggamnya.
Kali ini aku yang lebih dulu.
Napasnya di sudut seberang berhenti.
Lalu, sangat pelan, jari-jarinya menekuk. Membalas genggamanku.
Tidak ada yang bicara.
Empat menit.
“Hari ke berapa sekarang?” tanyaku. Suaraku keluar serak. Lebih pelan dari yang kumaksud.
Ia tidak langsung menjawab. Aku bisa merasakan tangannya bergetar sedikit di dalam genggamanku.
“Seratus enam puluh tiga,” bisiknya.
“Aku tahu,” kataku.
Genggamannya mengencang.
Di dalam gelap, di bawah lampu kuning yang redup, aku mendengar sesuatu yang sangat kecil. Suara napas yang tertahan terlalu lama, akhirnya keluar dari tempat yang salah.
Ia tidak bertanya bagaimana aku tahu. Ia tidak bertanya sejak kapan. Ia tidak bertanya kenapa aku tidak pernah membalas.
Ia hanya menggenggam tanganku di atas pegangan besi yang dingin, di lift yang berhenti di antara lantai 19 dan 18, sampai lampu menyala kembali.
Lampu menyala dengan sentakan. Terang. Putih. Terlalu terang setelah lima menit gelap.
Dengung mesin kembali. Lift bergerak turun.
Ia melepaskan tanganku lebih dulu. Pelan. Seperti menurunkan sesuatu yang berharga ke atas meja.
Ia tidak menatapku. Ia menatap angka di atas pintu. Wajahnya basah. Ia tidak mengusapnya.
Lantai 17. Pintu terbuka.
Bayu berdiri di depan lift. Memegang tablet. Wajahnya pucat seperti kertas. Di belakangnya, Bang Togar, dengan tangan di pinggang dan ekspresi yang sangat sengaja tidak menunjukkan apa pun.
“Bang,” kata Bayu. “Bang, maaf. Aku nggak tahu ada orang. Aku cek CCTV, lift timur kosong, terus...”
“Nggak apa-apa, Bay.”
Bayu menatapku. Lalu menatap Celine di sudut lift, yang masih menatap angka di atas pintu dengan wajah basah. Lalu menatapku lagi.
Ia tidak bertanya.
Ia hanya menelan ludah dan mundur dua langkah, memberi jalan.
Aku keluar dari lift.
Celine tidak. Ia tetap di sana, di sudut, dengan laptop di dekapan. Pintu lift mulai menutup.
Sebelum tertutup sepenuhnya, aku mendengar suaranya. Pelan. Hampir tidak terdengar di atas dengung mesin lift.
“Hari ke seratus enam puluh empat,” katanya, “besok.”
Pintu tertutup.
Lift turun ke lobi, membawa perempuan dengan wajah basah yang tidak bertanya apa-apa.
Bang Togar meletakkan tangannya di bahuku. Berat. Hangat.
“Lima menit, Fa,” katanya pelan. “Aku nggak percepat.”
“Aku tahu, Bang.”
“Bayu yang lupa cek lift timur.” Bang Togar menatap Bayu, yang sekarang menunduk dalam-dalam. “Tapi aku yang bilang jangan dipercepat.”
Aku menatap pintu lift yang tertutup.
Di saku blazer Kaizen, ponselku bergetar sekali. Notifikasi dari repo yang sekarang kuawasi dengan All Activity.
Belum. Belum pukul lima pagi. Bukan issue baru.
Notifikasi yang lain.
celestial_c memberikan komentar di pull request: Fix typo in README line 47.
Aku membukanya.
Satu kalimat.
Kalau kamu nggak mau merge, nggak apa-apa. Aku cuma mau kamu tahu aku masih di sini.
Aku menatap tombol hijau. Merge pull request.
Lalu aku menutup layar.
Belum.
Aku tidak tahu kapan. Aku hanya tahu satu hal: tombol itu tidak akan kutekan dari jauh lagi.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor reading
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang