Chapter Thirty Nine
Pencetus
POV: Shafira
Celine turun dari panggung dengan punggung tegak dan dagu terangkat.
Aku melihatnya berjalan di lorong di antara kursi-kursi merah. Tiga ratus orang menatapnya. Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang bersuara. Hanya diam, berat, seperti udara sebelum hujan besar.
Ia tidak menangis. Aku tahu ia memutuskan untuk tidak menangis. Aku sudah mengenal Celine lima tahun, dan aku tahu bedanya Celine yang tidak menangis dan Celine yang menahan tangis. Yang ini yang kedua. Rahangnya terlalu kaku. Jari-jarinya terkepal di samping roknya.
Ia sudah melakukan bagiannya.
Sekarang giliranku.
Aku berdiri dari kursi di barisan ketujuh. Map kulit cokelat di tanganku sudah kosong. Kertas di dalamnya sudah kuserahkan pada Celine. Tapi map itu tidak benar-benar kosong. Di saku dalamnya, ada dua amplop putih.
Celine melewatiku di lorong. Matanya bertemu mataku sebentar. Ada pertanyaan di sana. Kamu mau ngapain, Shaf?
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke panggung.
Pak Hendra menatapku dengan wajah orang yang tidak tahu apakah ia sedang menyaksikan town hall atau sidang pengadilan.
“Bu Shafira,” katanya pelan, menjauhkan mikrofon dari mulutnya. “Ibu juga mau lima menit?”
“Tiga, Pak,” kataku. “Saya nggak sepanjang Celine.”
Ia menyerahkan mikrofon.
Aku berdiri di podium. Di belakangku, layar proyektor raksasa masih menampilkan kertas itu. Tiga meter kali dua meter. Tulisan Celine yang miring. Tulisan Alea yang bulat dengan gambar hati kecil.
Dan di bagian paling atas, huruf Arial dua belas poin yang kuketik sendiri, sambil tertawa, empat puluh lima hari lalu.
Aku menatap tiga ratus wajah di depanku.
Tiga ratus orang. Sebagian besar kukenal. Tim Sales yang dulu kuserahi klien besar. Tim Partnership yang dulu memeluk Pak Hartono si beruang. Rina, asistenku, di barisan kelima, menutup mulutnya dengan dua tangan.
Di barisan belakang, Dion.
Aku melihatnya sekarang. Ia duduk di kursi paling pinggir, dekat pintu keluar. Wajahnya pucat. Tangannya memegang ponsel, tapi layarnya mati.
Aku dulu berdiri di depan klien paling sulit di Indonesia dan membuat mereka tanda tangan kontrak tiga tahun. Aku dulu berdiri di depan direktur PT Sumber Makmur dan tertawa di saat yang tepat.
Aku tidak pernah berdiri di depan tiga ratus orang tanpa lipstik merah.
“Nama saya Shafira Nadine,” kataku. “Business Development Manager. Lantai 21.”
Suaraku keluar lebih kecil dari yang kuharapkan. Aku menunggu. Menarik napas.
“Kertas di belakang saya,” kataku, “saya yang print.”
“Saya yang usul taruhannya. Saya yang bilang aku punya ide. Saya yang sediain hadiahnya. Saya yang bilang dia sempurna waktu fotonya muncul di direktori karyawan.”
Aku menoleh ke layar. Ke huruf-huruf Arial di bagian atas.
“Saya yang ketik Dilarang: kasih tahu target. Sambil ketawa.”
Aku kembali menatap ruangan.
“Dan setelah dua sahabat saya berhenti, setelah mereka berdua beneran sayang sama dia, saya tetap simpan kertas ini. Di laci meja saya. Laci yang kuncinya hilang dari tiga tahun lalu dan nggak pernah saya ganti. Saya bilang ke mereka buat bukti skor. Saya bilang saya masih mau menang.”
Aku berhenti.
Ini bagian yang tidak akan kuceritakan. Kenapa aku menyimpannya. Kenapa aku pura-pura masih bermain. Kenapa aku tidak bisa merobeknya tanpa harus menjelaskan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
“Saya bohong,” kataku saja. “Dan karena saya bohong, kertas ini ada di tempat yang bisa diambil orang.”
Di barisan belakang, Dion menunduk.
“Sembilan tahun lalu,” kataku, dan aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya, karena aku tidak merencanakan bagian ini, “waktu saya kuliah, saya pernah jadi target taruhan. Cowok-cowok di kampus. Dua bulan mereka deketin saya. Terus di kantin, di depan semua orang, salah satu dari mereka berdiri di atas kursi dan nagih uang taruhan ke temen-temennya. Seluruh kantin ketawa.”
Auditorium diam.
“Nggak ada satu orang pun yang berdiri,” kataku. “Nggak satu pun.”
Aku menelan ludah.
“Hari itu saya janji ke diri saya sendiri. Saya nggak akan pernah jadi orang yang diketawain lagi. Saya akan jadi orang yang ketawa.”
Aku menatap kertas di layar. Huruf-huruf yang kuketik sendiri.
“Sembilan tahun kemudian, saya naik ke kursi yang sama.”
Aku membuka map kulit cokelat. Mengeluarkan amplop putih pertama.
“Pak Hendra,” kataku, menoleh ke samping panggung, tempat Pak Hendra berdiri dengan tangan di belakang punggung. “Ini surat pengunduran diri saya. Efektif akhir bulan ini.”
Auditorium bergerak. Bisikan. Kursi yang berderit. Rina di barisan kelima mengeluarkan suara kecil seperti orang yang tertusuk.
Pak Hendra tidak bergerak. Ia menatap amplop di tanganku seperti menatap sesuatu yang tidak ia minta.
“Bu Shafira,” katanya, tanpa mikrofon. “Ibu tidak perlu...”
“Saya perlu, Pak.”
Aku meletakkan amplop itu di atas podium. Di samping kamera dokumen.
Lalu aku mengeluarkan amplop kedua. Lebih tebal. Gemuk, karena isinya bukan hanya kertas surat.
“Ini laporan resmi saya ke HR,” kataku. “Soal pengambilan dokumen pribadi dari laci meja saya tanpa izin, dan penyebarannya ke grup kantor, oleh Saudara Dion Saputra dari divisi Sales.”
Seluruh auditorium menoleh ke barisan belakang.
Dion tidak bergerak. Wajahnya berubah dari pucat ke merah ke pucat lagi.
“Dan,” kataku, sebelum siapa pun sempat bicara, “di laporan yang sama, saya laporkan diri saya sendiri. Sebagai pencetus taruhan. Sebagai pemilik dokumen. Sebagai orang yang membuat semua ini dimungkinkan.”
Aku membuka amplop itu sedikit, cukup untuk memperlihatkan isinya. Gumpalan-gumpalan kertas berwarna. Logo maskapai palsu dengan gambar bunga sakura.
“Di dalamnya juga ada barang bukti,” kataku. “Tiga belas tiket pesawat palsu. Yang ditempel di monitor dia setiap pagi selama satu minggu. Penumpang: Mr. Aman. Kelas: Target. Kursi: nol, tidak ada yang mau duduk di sebelahnya.”
Auditorium tidak lagi berbisik. Auditorium sudah lupa caranya berbisik.
“Dia nggak pernah lihat tiket-tiket ini,” kataku. “Saya yang cabut. Tiap subuh. Sebelum dia datang.”
Aku tidak menjelaskan kenapa. Aku tidak perlu.
Di barisan depan, Bayu memeluk papan tulis kecilnya dan menunduk. Ia sudah tahu. Ia menepati janjinya.
“Satu lagi,” kataku.
Aku mengeluarkan ponselku. Membuka satu tangkapan layar. Menunjukkannya ke kamera dokumen.
Layar raksasa di belakangku berganti. Kertas taruhan hilang. Digantikan konfirmasi pembatalan tiket dari situs maskapai. Dua tiket. Jakarta–Tokyo. Pulang-pergi. Dibatalkan. Dana dikembalikan ke rekening pemesan.
Dan di bawahnya, tangkapan layar kedua. Bukti transfer. Ke yayasan nirlaba yang memberikan pelatihan pemrograman gratis untuk perempuan dari keluarga tidak mampu.
“Hadiah taruhannya Jepang,” kataku. “Sepuluh hari. Saya yang bayar. Uangnya sekarang di sana. Semua. Ditambah bonus tahunan saya.”
Aku menatap angka di layar. Angka yang setahun lalu akan kugunakan untuk tas baru, sepatu baru untuk pertempuran penting, liburan ke Jepang dengan dua sahabat.
“Nggak pakai nama saya,” kataku. “Nama saya nggak penting. Saya cuma minta satu hal ke yayasannya.”
Aku berhenti.
“Saya minta mereka ngajarin satu hal di hari pertama. Sebelum ngajarin kode apa pun.”
“Ngajarin apa, Bu?”
Suara itu dari barisan depan. Bu Ratna.
Aku menatapnya.
“Baca log, Bu,” kataku. “Saya minta mereka ngajarin cara baca log. Biar kalau suatu hari ada yang nyimpen kertas di laci yang nggak dikunci, ada yang tahu sejak hari kedua.”
Aku turun dari panggung.
Di lorong antara kursi-kursi merah, aku berjalan dengan langkah yang tidak tegas. Hak sepatuku tidak berbunyi seperti mau perang. Aku memakai sepatu datar hari ini. Sepatu yang nyaman. Sepatu yang dibeli setelah tumit kananku lecet di lobi hotel, dan seseorang membelikanku plester seharga lima belas ribu.
Tidak ada yang bertepuk tangan.
Aku melewati barisan belakang. Dion menatapku. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, senyumnya tidak naik di satu sisi. Senyumnya tidak ada.
Aku berhenti di depannya.
“Kamu tanya aku kemarin,” kataku pelan, cukup pelan untuk hanya ia yang bisa mendengar. “Di pantry lantai sembilan. Kenapa aku yang repot.”
Dion tidak menjawab.
“Ini kenapa,” kataku.
Lalu aku berjalan keluar auditorium.
Dion mendapat SP3 sembilan hari kemudian. Surat peringatan terakhir. Bersamaan dengan surat mutasi ke kantor cabang Balikpapan. Laporan HR menyebut tiga pelanggaran: pengambilan dokumen pribadi tanpa izin, penyebaran konten yang merendahkan rekan kerja, dan pembuatan serta penyebaran meme berbasis wajah karyawan. Tim IT yang dipimpin Bang Togar menelusuri asal stiker Mr. Aman dari metadata gambarnya. Asalnya dari laptop kantor Dion.
Aku tidak merasa menang ketika mendengarnya.
Aku hanya merasa lelah. Seperti orang yang baru selesai membersihkan lem dari monitor orang lain setiap subuh selama seminggu, dan baru sadar kukunya sudah patah semua.
Akhir bulan, hari terakhirku di Trista, aku membereskan meja.
Kartu nama klien. Sisir cadangan. Bungkus permen jahe yang lupa kubuang. Lipstik merah cadangan, yang tidak kusentuh sejak hari ketiga puluh. Papan nama akrilik bertuliskan Shafira Nadine — Business Development Manager, yang selama lima tahun kuposisikan miring tiga puluh derajat supaya terlihat dari pintu masuk.
Rina membantu. Ia menangis sepanjang waktu. Ia memasukkan barang-barang ke kardus sambil terisak, dan setiap kali ia memasukkan sesuatu, ia bertanya Mbak, ini dibawa? dengan suara yang membuatku ingin menangis juga.
Celine dan Alea datang pukul empat.
Mereka tidak bertanya apa-apa. Mereka hanya mengambil kardus, dan membantu melipat, dan menempelkan selotip. Celine memakai blus abu-abu. Alea memakai blus putih. Tidak ada hoodie. Tidak ada jepit rambut berbentuk hewan.
Kami bertiga membereskan meja itu dalam diam. Seperti empat puluh lima hari lalu kami memotong kue cokelat dalam tawa.
“Shaf,” kata Celine akhirnya, ketika kardus terakhir sudah diselotip. “Kamu nggak harus resign. Kamu nggak harus sejauh ini.”
Aku menatap meja yang sekarang kosong. Laci yang terbuka. Laci yang kuncinya hilang tiga tahun lalu.
“Aku yang mulai, Cel,” kataku.
Itu benar. Itu bukan semuanya. Tapi itu benar.
Celine menatapku lama. Matanya mencari sesuatu di wajahku. Sesuatu yang mungkin ia lihat di lampu merah perempatan Semanggi, berminggu-minggu lalu, di jari-jariku yang gemetar di atas setir.
Ia tidak menemukannya. Atau ia menemukannya, dan memilih untuk tidak bertanya.
Ia hanya memelukku.
Alea memeluk kami berdua.
Pak Hartono si beruang, di kursi tamu di sebelah meja yang kosong, menatap kami dengan mata plastiknya. Papan nama akrilik sudah dilepas dari dadanya. Kaos I ♥ SURABAYA. Topi baseball terbalik.
Pukul tujuh malam, aku turun ke basement B2 untuk terakhir kalinya.
Mini Cooper merah penuh kardus. Kursi penumpang, kursi belakang, bagasi. Pak Hartono si beruang tidak muat di mana pun. Aku menggendongnya dari lift seperti menggendong anak kecil yang tertidur.
Pak Udin sudah menunggu di depan posnya. Dua gelas plastik teh manis di tangannya.
“Neng,” katanya.
“Pak.”
Ia menyodorkan satu gelas. Aku menerimanya dengan satu tangan, karena tangan yang lain masih menggendong beruang setinggi anak tujuh tahun.
Pak Udin menatap Pak Hartono. Pak Hartono menatap Pak Udin.
“Bonekanya nggak muat, Neng?”
“Nggak, Pak.”
“Mau dititipin?”
Aku menatap beruang di pelukanku.
“Anak Bapak tiga, kan?”
Pak Udin mengangguk pelan. “Tiga, Neng. Yang paling kecil umur enam.”
Aku menyerahkan Pak Hartono padanya.
Pak Udin menerima boneka itu dengan dua tangan, hati-hati, seperti menerima sesuatu yang berharga. Ia menatapnya lama. Lalu menatapku.
“Saya kasih tahu anak saya,” katanya, “namanya Pak Hartono. Dari tante yang galak tapi baik.”
Aku tertawa. Tawa yang pecah di tengah.
Kami berdiri di depan pos satpam basement B2, satpam sebelas tahun dengan boneka beruang di pelukan dan perempuan yang baru saja kehilangan pekerjaan dengan teh manis di tangan, dan tidak ada yang bicara selama beberapa saat.
Lalu Pak Udin berkata, tanpa menatapku:
“Neng. Saya sudah sebelas tahun jaga basement.”
“Saya tahu, Pak.”
“Orang yang resign dari kantor bagus karena malu, itu biasa. Saya sudah lihat banyak.” Ia menatap pilar-pilar basement. “Orang yang resign karena sayang, itu jarang.”
Aku berhenti bernapas.
Pak Udin tidak menoleh. Ia menyeruput tehnya. Menatap pilar.
“Saya nggak bilang siapa-siapa, Neng,” katanya. “Saya satpam. Kerjaan saya jaga.”
Gelas plastik di tanganku bergetar. Teh manis di dalamnya beriak.
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa.
Aku hanya berdiri di sana, di basement B2, di tempat aku pernah mencium pipi seorang laki-laki untuk membayar utang plester dan aki, di tempat aku pernah duduk satu jam dengan mesin mati dan memutuskan untuk diam.
Aku tetap diam.
Tapi air mataku jatuh ke dalam gelas teh manis, satu-satu, dan Pak Udin pura-pura tidak melihatnya. Seperti dulu ia pura-pura membaca koran yang terbalik.
Aku menyetir keluar dari basement Trista Tower untuk terakhir kalinya pukul tujuh lewat tiga puluh.
Pak Udin berdiri di depan posnya, menggendong Pak Hartono si beruang dengan satu tangan dan melambai dengan tangan yang lain.
Aku membalasnya dengan klakson pendek.
Di jalan, di lampu merah perempatan Semanggi, aku berhenti. Kardus-kardus di kursi belakang bergeser. Salah satunya terbuka sedikit, dan sesuatu menyembul dari celahnya. Kain biru tua. Sutra. Dengan motif garis tipis.
Dasi.
Dasi yang kuberikan padanya di depan lift restoran lantai empat puluh enam. Yang ia gulung rapi dan masukkan ke saku kemeja wisudanya. Ini bukan punyaku. Ini punya seseorang yang nggak perlu aku ingat lagi.
Aku tidak tahu bagaimana dasi itu ada di kardusku.
Lalu aku ingat. Pagi tadi, Bayu datang ke lantai 21. Ia menyerahkan amplop cokelat padaku dan bilang satu kalimat: Bang Alfa nitip ini ke aku di hari terakhirnya, Mbak. Dia bilang kasih kalau aku rasa waktunya pas. Aku rasa hari ini. Lalu ia pergi. Aku memasukkan amplop itu ke kardus tanpa membukanya, karena Rina sedang menangis dan aku sedang sibuk berpura-pura tidak menangis.
Di lampu merah perempatan Semanggi, aku membuka amplop itu.
Dasi biru tua. Digulung rapi. Dan selembar kertas kecil, dilipat dua.
Tulisan tangan yang kecil dan rapi. Seperti tulisan orang yang tidak ingin terlalu banyak memakan tempat.
Mbak Shafira,
Mbak bilang dasi ini lebih baik dipakai orang yang tidak tahu ceritanya.
Saya memang tidak tahu ceritanya. Tapi saya tahu dasi ini berat buat Mbak. Barang yang berat jangan dititipkan ke orang yang mau pergi jauh. Jadi saya kembalikan ke orang yang tahu ceritanya.
Simpulnya Windsor. Saya masih ingat cara Mbak mengikatnya.
— A.
Lampu berubah hijau.
Aku tidak bergerak.
Klakson berbunyi di belakangku. Panjang. Lalu klakson kedua. Lalu ketiga.
Aku tidak bergerak.
Aku duduk di Mini Cooper merah di tengah perempatan Semanggi, dengan dasi biru tua di pangkuan dan kertas kecil di tangan, dan menangis dengan suara. Pertama kalinya dalam sembilan tahun. Bukan di toilet gedung rektorat lantai lima. Bukan di basement. Bukan di lantai 17 pukul lima pagi di depan junior IT yang memegang papan tulis.
Di tengah jalan. Di depan semua orang. Dengan klakson yang terus berbunyi.
Aku tidak peduli lagi siapa yang melihat.
Saya masih ingat cara Mbak mengikatnya.
Ia menitipkannya di hari terakhirnya, pukul lima pagi, sebelum siapa pun datang. Ia tidak tahu soal tiket palsu. Bayu menepati janjinya. Ia tidak tahu soal laci, soal pura-pura, soal kenapa.
Tapi ia ingat simpulnya.
Akhirnya, setelah klakson keempat, aku menginjak gas.
Aku tidak menyalakan musik.
Aku tidak mengatakannya pada siapa pun. Tidak pada Celine. Tidak pada Alea. Tidak pada boneka beruang. Tidak pada diriku sendiri, dengan suara keras, di mobil yang sepi.
Tapi di perempatan berikutnya, di lampu merah yang lain, aku melilitkan dasi biru tua itu di pergelangan tanganku. Simpul Windsor. Rapi. Seperti waktu SMA, setiap pagi, untuk ayahku.
Dan menyetir pulang dengan dasi itu terikat di tanganku, seperti seseorang yang akhirnya membawa pulang sesuatu yang selama sembilan tahun terlalu bagus untuk dibuang dan terlalu berat untuk disimpan sendirian.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus reading
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang