Chapter Thirty Eight
Town Hall
POV: Celine
Email itu datang sembilan hari setelah ia pergi.
Bukan dari alamat kantor. Alamat kantornya sudah dinonaktifkan sejak hari keempat puluh lima, pukul lima sore, sesuai prosedur HR. Bukan juga dari forum developer. Akun itu sudah tidak ada.
Alamat email pribadi. Gmail. Nama penggunanya hanya inisial dan angka. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Perihal: (tidak ada)
Mbak Celine.
Bayu bilang Mbak tanya alamat saya di Tokyo.
Jangan datang, Mbak. Saya mohon.
Saya belum bisa.
— A.
Empat baris. Tidak ada celah untuk diperiksa.
Aku membacanya di mejaku di lantai 22, pukul sembilan pagi, hari Minggu, karena aku sekarang datang ke kantor di hari Minggu juga. Apartemenku di Kuningan terlalu sunyi. Sofa krem itu terlalu bagus untuk diduduki dan terlalu besar untuk ditiduri sendirian.
Aku memang bertanya pada Bayu. Hari Selasa. Bayu menatapku lama di depan lift lantai 17, lalu bilang nanti aku tanya Bang Alfa dulu, Mbak. Aku pikir itu cara Bayu bilang tidak.
Ternyata Bayu benar-benar bertanya.
Dan ia menjawab.
Jangan datang.
Aku sudah memesan tiket. Satu tiket. Jakarta–Tokyo, berangkat Jumat depan. Aku memesannya hari Rabu malam, setelah duduk dua jam di atap yang pintunya kini bisa kubuka sendiri, menatap bangku papan kayu yang kosong. Aku tidak punya alamat. Aku tidak punya rencana. Aku hanya punya nama perusahaan dan nama kota dan keyakinan bodoh bahwa kalau aku berdiri di depan gedung Kaizen Labs cukup lama, ia akan keluar.
Seperti aku berdiri di tangga darurat lantai 32 dari jam dua belas sampai jam tiga, dan ia tidak keluar.
Saya belum bisa.
Aku menatap kata belum.
Bukan tidak. Bukan jangan pernah. Belum.
Aku membuka aplikasi maskapai. Membatalkan tiket itu. Uangnya kembali enam puluh persen. Aku tidak peduli.
Lalu aku membalas email itu. Satu kalimat. Aku menulisnya dua belas kali dan menghapusnya sebelas kali.
Aku nggak akan datang. Tapi aku nggak akan berhenti minta maaf.
Kirim.
Tidak ada balasan.
Aku tidak berharap ada.
Town hall diadakan hari Jumat, dua minggu setelah hari keempat puluh lima.
Auditorium Trista Tower ada di lantai tiga. Ruangan besar dengan tiga ratus kursi merah berderet, panggung kecil di depan, layar proyektor raksasa di dinding belakang panggung. Biasanya ruangan ini dipakai untuk peluncuran produk, pengumuman kenaikan gaji tahunan, dan pertunjukan bakat karyawan di ulang tahun perusahaan yang selalu berakhir dengan Bang Togar menyanyi dangdut.
Hari itu, semua kursi penuh. Orang-orang berdiri di lorong-lorong. Kehadiran wajib, kata Pak Hendra. Tidak ada yang berani tidak datang.
Selama dua minggu, berita itu tidak berhenti.
Situs berita teknologi berbahasa Inggris itu bukan satu-satunya. Dua hari setelahnya, akun teknologi Indonesia dengan ratusan ribu pengikut mengunggah utas panjang. Developer legendaris di balik zero-guard ternyata orang Indonesia. Dan sebelum ke Tokyo, dia dijadikan bahan taruhan dan meme di kantornya sendiri di Jakarta. Utas itu menyertakan tangkapan layar stiker Mr. Aman. Tangkapan layar komentar-komentar di grup Trista Family. Tangkapan layar foto kertas taruhan, dengan nama-nama di bagian atasnya diburamkan, tapi tulisan tangan di bawahnya tidak.
Nggak bakal baper, nggak bakal ngadu. Aman.
Utas itu dibagikan puluhan ribu kali. Nama Trista Group disebut di setiap balasan. Seseorang menemukan logo Trista di latar belakang foto kertas itu, di sudut meja kayu. Seseorang lain menemukan akun gosip kantor anonim yang dulu mengunggah video pucuk tumpeng.
Tiga klien besar mengirim email ke direksi, meminta penjelasan soal budaya kerja di Trista. Salah satunya Grup Matahari Lestari. CFO berkacamata setebal pantat botol, yang dulu bilang angka Anda konsisten, Bu Celine.
Itu sebabnya town hall ini diadakan.
Aku duduk di barisan ketujuh. Di sebelah kiriku, Alea. Di sebelah kananku, Shafira.
Kami datang bersama. Kami tidak merencanakannya. Kami hanya bertemu di lift lantai dasar pukul delapan kurang sepuluh dan tidak ada yang berkata apa-apa, dan kami bertiga berjalan ke auditorium berdampingan, dan duduk berdampingan, seperti empat minggu lalu di Ruang Kyoto. Bedanya, hari ini tidak ada kue.
Alea memakai blus putih. Tanpa hoodie. Tanpa jepit rambut berbentuk hewan. Wajahnya pucat.
Shafira memakai blazer hitam. Tanpa lipstik merah. Di pangkuannya, map kulit cokelat. Ia memegangnya dengan dua tangan sejak kami duduk, seperti memegang sesuatu yang bisa lepas kalau dilepaskan.
Di barisan depan, di kursi paling pinggir, Bang Togar duduk dengan tangan terlipat di dada dan wajah seperti batu. Di sebelahnya Bayu, memegang papan tulis kecil di pangkuan. Aku bisa membaca tulisannya dari barisan ketujuh. Huruf besar, ditebalkan tiga kali.
ABANG BUKAN MR. AMAN. ABANG BANG ALFA.
Di sebelah Bayu, seluruh tim network. Di sebelah mereka, Bu Ratna dari lobi, dengan tas tangan di pangkuan dan wajah orang yang siap bertengkar.
Di barisan belakang, aku tahu tanpa perlu menoleh, ada Dion.
Pak Hendra bicara selama dua puluh menit.
Ia bicara soal budaya kerja. Soal perundungan. Soal bagaimana sebuah lelucon di grup obrolan bisa berubah menjadi sesuatu yang dibaca puluhan ribu orang di luar gedung. Soal kebijakan baru: semua grup obrolan kantor akan dimoderasi, stiker dan meme tentang karyawan dilarang, pelanggaran akan berujung sanksi.
Ia tidak menyebut nama siapa pun.
Bu Ratih dari HR naik ke panggung setelahnya. Ia membacakan kebijakan baru itu pasal per pasal, dengan suara datar dan slide PowerPoint yang terlalu banyak teks. Di pasal ketujuh, mikrofonnya berdengung keras. Seluruh auditorium meringis.
Bang Togar berdiri dari kursinya, berjalan ke meja sound system di samping panggung, memutar satu kenop, dan kembali duduk. Dengungnya hilang.
Tidak ada yang tertawa. Tapi aku melihat beberapa orang di barisan depan menatap Bang Togar, lalu menatap Bayu dengan papan tulisnya, lalu menatap tim network, dan menunduk.
Di pasal kedua belas, Pak Hendra mengambil alih mikrofon lagi.
“Ada pertanyaan?”
Hening.
Lalu, dari barisan depan, satu tangan terangkat. Bu Ratna.
“Pak,” katanya, tanpa menunggu dipersilakan. Suaranya memenuhi auditorium tanpa mikrofon. “Saya mau tanya. Yang ngetawain anak orang itu, yang bikin stiker, yang muter lagu Jepang di pantry, bisa dipotong gaji nggak?”
Beberapa orang tertawa gugup.
“Saya serius, Pak,” kata Bu Ratna. “Saya sudah dua puluh tahun jadi resepsionis di gedung ini. Saya lihat anak itu datang tiap pagi jam tujuh kurang sepuluh. Empat tahun. Selalu bilang pagi, Bu. Dua minggu terakhir dia di sini, orang-orang ngetawain dia di lift, di pantry, di grup. Dia tetap bilang pagi, Bu.” Suaranya pecah. “Ibu cuma mau tahu, yang ngetawain itu masih bisa tidur nyenyak atau nggak.”
Auditorium diam.
Pak Hendra menatap Bu Ratna lama.
“Terima kasih, Bu Ratna,” katanya. “Itu bukan pertanyaan yang bisa saya jawab dengan kebijakan.”
Ia menatap ke seluruh ruangan.
“Ada pertanyaan lain?”
Aku berdiri.
Aku tidak merencanakannya. Itu bohong. Aku merencanakannya selama dua minggu. Aku merencanakannya di atap, di bangku papan kayu yang kosong, setiap jam dua belas. Aku merencanakannya setelah email itu. Jangan datang, Mbak.
Aku tidak boleh datang padanya. Jadi aku harus melakukan sesuatu di sini. Di tempat ia ditertawakan.
Shafira menatapku dari kursinya. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia membuka map kulit cokelat di pangkuannya dan menyerahkan isinya padaku.
Kertas itu. Aslinya. Dilipat dua, tulisan menghadap ke dalam.
Alea menggenggam ujung blusku sekali. Lalu melepaskannya.
Aku berjalan ke panggung.
Tiga ratus orang menatapku. Aku bisa merasakannya seperti angin. Tiga detik. Lalu lebih dari tiga detik. Lalu bisikan.
Itu dia.
Dewi lantai 22.
Yang bilang cuma main.
Aku naik ke panggung. Pak Hendra menatapku dengan alis terangkat. Ia tidak menghentikanku.
“Pak,” kataku. “Saya minta lima menit.”
Pak Hendra diam sebentar. Lalu menyerahkan mikrofonnya.
Aku meletakkan kertas itu di bawah kamera dokumen di podium. Kamera yang biasanya dipakai Bu Ratih untuk menampilkan formulir HR.
Layar proyektor raksasa di belakangku berkedip. Lalu menampilkan kertas itu. Besar. Tiga meter kali dua meter. Setiap huruf terlihat jelas. Setiap garis lipatan. Setiap noda kecil di sudutnya.
TARGET JEPANG — PROYEK 30 HARI
Peserta: Celine, Alea, Shafira.
Target: Alfa Danuarta (IT, Lt. 17).
Dan di bawahnya, tulisan tanganku sendiri, tiga meter lebarnya.
Nggak bakal baper, nggak bakal ngadu. Aman.
Digarisbawahi dua kali.
Auditorium diam. Bukan diam karena sopan. Diam seperti napas yang ditahan bersama-sama oleh tiga ratus orang.
“Nama saya Celine Aurelia,” kataku. Suaraku keluar jelas. Suara ruang rapat. Suara yang membuat CFO Grup Matahari Lestari berkata angka Anda konsisten. “Senior Brand Strategist. Lantai 22.”
Aku menoleh ke layar.
“Tulisan tangan di bawah nama itu,” kataku, “tulisan tangan saya.”
Seseorang di barisan tengah menahan napas dengan suara.
“Empat puluh lima hari yang lalu, saya duduk di Ruang Kyoto lantai 21 dengan dua sahabat saya. Kami makan kue. Kami bosan. Kami bikin taruhan. Kami buka direktori karyawan dan cari target yang nggak bakal bikin masalah. Yang nggak punya teman buat diceritain. Yang nggak bakal ngadu.”
Aku menatap tiga ratus wajah di depanku.
“Kami nemu dia. Dan saya yang nulis kata itu. Aman. Saya garis bawahi dua kali. Saya nggak tahu kenapa saya garis bawahi dua kali. Saya baru tahu kenapa dua minggu lalu.”
Aku menelan ludah.
“Saya garis bawahi dua kali karena saya pengin yakin. Saya pengin yakin dia nggak bisa sakit. Supaya saya nggak perlu ngerasa bersalah.”
Aku tidak menangis. Aku sudah memutuskan untuk tidak menangis di panggung ini. Kalau aku menangis, orang-orang akan kasihan padaku. Dan aku tidak naik ke sini untuk dikasihani.
“Hari ketiga puluh,” kataku, “di lobi lift lantai 21, di depan dua puluh orang, saya bilang dia nggak pernah tertarik sama saya. Saya bilang saya cuma main.”
Aku menatap barisan belakang. Aku tidak bisa melihat Dion dari sini. Tapi aku tahu ia ada di sana.
“Saya bilang itu karena saya pikir saya ngelindungin dia. Saya pikir kalau saya yang kalah, kalau saya yang ditolak, kalian nggak akan ngetawain dia. Kalian akan ngetawain saya.”
“Saya salah.”
“Kalian tetap ngetawain dia. Dua minggu. Di lift. Di pantry. Di grup. Pakai stiker yang ada mukanya.”
“Dan dia dengar saya bilang cuma main. Dia berdiri di belakang kalian semua. Dia dengar.”
Suaraku pecah di kata terakhir. Aku menunggu. Menarik napas. Menyusunnya kembali.
“Saya mau kalian tahu satu hal,” kataku. “Bukan buat bela diri saya. Saya nggak punya pembelaan. Saya cuma mau kalian tahu, supaya stiker itu nggak pernah ada lagi.”
Aku menatap layar. Kata aman yang digarisbawahi dua kali, tiga meter lebarnya.
“Dia nggak pernah dimainin karena dia bodoh,” kataku. “Dia tahu sejak hari kedua. Dia baca log printer. Dia tahu kertas ini ada. Dia tahu namanya di sini. Dia tahu dia target.”
Auditorium bergerak. Bisikan. Kursi yang berderit.
“Dia tahu. Dan dia tetap baik sama kami. Empat puluh lima hari. Dia benerin laptop saya. Dia bawain sup buat sahabat saya yang demam. Dia belain junior IT dari manajer yang bentak-bentak. Dia selametin peluncuran Trista Home sampai subuh dan nolak namanya ditulis di laporan.”
Aku menoleh ke barisan depan. Ke Bayu, yang memeluk papan tulis kecilnya dan menangis tanpa suara. Ke Bang Togar, yang wajahnya masih seperti batu, tapi matanya basah.
“Kalian ngetawain orang yang selama empat tahun baca semua log di gedung ini. Yang jagain data kalian tiap malam. Yang tetap bilang pagi ke kalian, tiap hari, waktu kalian muter lagu Jepang di pantry.”
Aku menatap layar sekali lagi.
“Kalau ada yang pantas dikasih stiker,” kataku, “itu saya.”
Aku turun dari panggung.
Tidak ada tepuk tangan. Aku tidak mengharapkannya. Tiga ratus orang diam, dan aku berjalan melewati lorong di antara kursi-kursi merah dengan punggung tegak dan dagu terangkat, seperti dewi yang turun kasta.
Di barisan ketujuh, Shafira sudah berdiri.
Ia tidak menungguku duduk. Ia berjalan melewatiku di lorong, menuju panggung, dengan map kulit cokelat yang sekarang kosong di tangannya. Matanya lurus ke depan. Tidak ada lipstik merah.
Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Ia tidak memberitahuku.
Aku duduk di kursiku. Alea menggenggam tanganku. Tangannya dingin dan gemetar.
Di panggung, Shafira mengambil mikrofon dari Pak Hendra.
Konsekuensinya datang tiga hari kemudian.
Pak Wibisono memanggilku ke ruangannya pada hari Senin. Ia tidak marah. Ia terlihat lelah. Ia bilang posisi Head of Brand yang dijanjikan padaku sejak malam peluncuran Trista Home akan diberikan kepada Mbak Sarita dari tim Brand cabang Surabaya. Ia bilang direksi membutuhkan seseorang yang tidak terkait dengan isu yang sedang berjalan. Ia bilang aku akan tetap di posisi Senior Brand Strategist. Ia bilang aku tidak akan memimpin kampanye lanjutan Trista Home.
Ia bilang semua itu dengan suara yang hati-hati, seperti menyampaikan diagnosis.
“Bu Celine,” katanya di akhir. “Saya mau tanya satu hal. Bukan sebagai atasan.”
“Silakan, Pak.”
“Ibu tahu ini akan terjadi. Waktu Ibu naik ke panggung. Ibu tahu promosi itu akan hilang.”
“Saya tahu, Pak.”
Pak Wibisono menatapku lama.
“Kenapa?”
Aku memikirkan jawabannya. Ada banyak jawaban yang benar. Karena saya salah. Karena saya harus. Karena tidak ada cara lain untuk minta maaf pada orang yang menyuruh saya jangan datang.
“Karena tagline kita, Pak,” kataku. “Tempat kamu tidak perlu terlihat sempurna.”
Pak Wibisono tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, seperti mencatat sesuatu.
Di lift, sekarang, orang-orang berhenti bicara ketika aku masuk.
Bukan seperti dulu. Dulu mereka berhenti bicara selama tiga detik, lalu tersenyum terlalu lebar. Sekarang mereka berhenti bicara, lalu saling melirik, lalu menatap angka di atas pintu.
Kadang aku mendengar bisikan ketika pintu tertutup.
Itu yang nulis “aman”.
Pantesan dia nggak jadi Head of Brand.
Dewi ternyata jahat juga ya.
Kasian juga sih. Tapi ya, dia yang mulai.
Aku menatap angka di atas pintu.
Aku tidak menjawab.
Aku tahu sekarang rasanya. Berdiri di lift, mendengar namamu dibisikkan, menatap angka yang naik terlalu lambat, dan tidak menjawab.
Ia merasakannya dua minggu. Setiap hari. Dan ia tetap bilang pagi.
Aku belum bisa bilang pagi.
Aku hanya bisa menatap angka.
Malam itu, di apartemenku di Kuningan, aku membuka laptop.
Aku membuka mesin pencari dan mengetik satu kata. zero-guard.
Hasil pertama adalah repo kode di situs tempat developer menyimpan proyek mereka. Halaman yang penuh tulisan kecil dan istilah yang tidak kumengerti. Di bagian atas, logo kecil. Lingkaran dengan garis miring di tengahnya.
Di bawahnya, statistik. Puluhan ribu bintang. Ribuan salinan. Commit terakhir: lima minggu lalu. Malam sebelum hari ketiga puluh.
Repo itu masih ada. Ia tidak menghapusnya. Kode tidak bersalah, kata salah satu komentar di forum yang kubaca dua minggu lalu.
Di bagian atas halaman, ada tab bertuliskan Issues.
Aku tidak tahu apa artinya. Aku mengkliknya.
Halaman berisi daftar. Judul-judul pendek dalam bahasa Inggris. Bug di modul autentikasi. Permintaan fitur: dukungan untuk protokol X. Kenapa mr_zero menghilang? Apakah proyek ini masih dirawat? Ada yang dibuat kemarin. Ada yang dibuat dua tahun lalu. Ada yang ditandai Closed dengan warna ungu. Ada yang masih Open dengan warna hijau.
Di pojok kanan atas, tombol hijau kecil.
New issue.
Aku menatap tombol itu lama.
Ia tidak membalas emailku. Ia tidak akan membalas. Ia bilang jangan datang, dan aku tidak akan datang.
Tapi ini bukan datang.
Ini tempat yang mungkin, suatu hari, ia buka lagi. Bukan untukku. Untuk kodenya. Untuk ribuan orang yang memakai sesuatu yang ia bangun di malam-malam yang tidak bisa tidur.
Aku tidak tahu apakah ia akan membacanya.
Aku tahu, setahun lalu, aku menulis kepada nama tanpa wajah, dan ia membacanya. Setiap kata.
Aku menekan tombol hijau itu.
Halaman baru terbuka. Kotak judul. Kotak isi. Kursor berkedip.
Aku tidak menulis apa-apa malam itu.
Aku hanya duduk di sana, di sofa krem yang terlalu bagus untuk diduduki, menatap kursor yang berkedip di kotak kosong, sampai layar laptopku meredup sendiri.
Besok, mungkin.
Aku belum bisa juga.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall reading
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang