Chapter Thirty Three
Lagu Sakura
POV: Alfa
Rabu, hari ketiga puluh satu.
Aku datang pukul enam lewat lima puluh, seperti biasa. Kemeja flanel hijau. Rambut yang disisir jari. Headphone di leher.
Di lobi, Pak Udin sedang berjaga di samping pintu putar. Ia melihatku masuk. Ia tidak menyapa Mas Alfa, lembur lagi? seperti biasa. Ia hanya mengangkat tangan, pelan, dan menahannya di udara sedikit lebih lama dari biasanya.
“Pagi, Pak.”
“Pagi, Mas.”
Di lift, ada empat orang. Mereka berhenti bicara ketika aku masuk. Bukan seperti radio yang dicabut kabelnya di tengah lagu, seperti hari kesebelas. Kali ini lebih seperti orang yang menahan tawa. Bahu yang bergetar. Mata yang saling melirik. Seseorang menutup mulut dengan tangan.
Lift naik. Lantai dua. Lantai lima.
“Pagi, Mas Aman,” kata salah satu dari mereka. Laki-laki dari tim Finance yang wajahnya kukenal samar-samar.
Yang lain tertawa.
“Pagi,” kataku.
Lantai sembilan. Mereka turun. Sebelum pintu tertutup, aku mendengar salah satunya berkata, Gila, dia beneran jawab, dan yang lain menjawab, Ya iyalah, dia kan nggak bakal ngadu.
Pintu tertutup.
Aku menatap angka di atas pintu.
Monitorku punya sesuatu yang lengket di bagian kanan atas bingkainya.
Bukan stiker kucing oranye. Itu masih di sudut kiri, tersenyum dengan papan SEMANGAT KERJA!-nya. Ini di sisi kanan. Sisa lem. Seperti ada sesuatu yang pernah ditempel di sana, lalu dicabut dengan terburu-buru, meninggalkan bekas kertas yang robek kecil-kecil.
Aku menyentuhnya dengan ujung jari. Lengket.
Aku tidak tahu apa yang ditempel di sana. Aku mengambil tisu basah dari laci dan membersihkannya.
Lalu aku menyalakan komputer dan membuka dashboard monitoring. Semuanya hijau.
Aku mulai menulis dokumen serah terima.
Pukul sembilan, aku turun ke pantry lantai 17 untuk membuat kopi.
Pantry kecil. Satu mesin kopi. Satu dispenser. Satu kulkas penuh bekal tanpa nama.
Satu speaker Bluetooth kecil berwarna merah muda di atas kulkas yang tidak pernah ada di sana sebelumnya.
Ketika aku masuk, speaker itu mulai memutar lagu.
Melodi yang ringan dan riang, seperti hujan bunga. Lagu yang diputar di lobi lift lantai 21 kemarin pagi.
Aku menekan tombol mesin kopi. Mesin itu berdengung. Lagu itu terus diputar. Di koridor, di luar pintu pantry, aku mendengar tawa tertahan dari beberapa orang.
Aku menunggu kopiku selesai. Mengambil gelasnya. Keluar dari pantry.
Lagu itu berhenti begitu aku keluar.
Dari meja tim network, Gilang berdiri dan berjalan ke pantry dengan wajah merah. Aku mendengar suara speaker dicabut dari stopkontak. Suara Gilang yang rendah dan marah. Punya siapa ini? Siapa yang pasang? Tidak ada yang menjawab.
Gilang keluar dari pantry membawa speaker merah muda itu dan melemparkannya ke tempat sampah besar di dekat lift.
Lalu ia menatapku.
“Maaf, Fa,” katanya. “Itu bukan anak-anak kita. Itu dari lantai sembilan. Mereka naik pagi-pagi, pasang, terus turun lagi.”
“Nggak apa-apa, Lang.”
Gilang menatapku lama. Lalu kembali ke mejanya tanpa berkata apa-apa lagi.
Keesokan harinya, Kamis, speaker yang lain ada di pantry. Biru. Dengan lagu yang sama.
Jumat, ada dua.
Kamis pagi, Celine menungguku di depan lift lantai 17.
Ia memakai blus abu-abu, warna yang belum pernah kulihat ia pakai. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai jatuh di samping wajah. Tidak ada lipstik. Matanya bengkak.
Di tangannya, kemeja flanel biru tua. Dilipat rapi.
Ia melihatku keluar dari lift. Ia tidak tersenyum. Ia tidak memasang senyum yang dihitung. Ia hanya berdiri di sana dan menatapku, seperti orang yang berdiri di depan rumah yang terbakar.
“Alfa.”
“Pagi, Mbak.”
Ia menutup matanya sesaat ketika mendengar kata Mbak. Seperti orang yang terkena sesuatu yang tajam.
Lalu ia membukanya lagi dan menyodorkan kemeja itu.
“Ini punyamu.”
Aku mengambilnya. “Terima kasih, Mbak.”
“Alfa, tolong.” Suaranya pecah. “Tolong dengar aku. Lima menit. Satu menit aja. Yang aku bilang hari Selasa, di lantai 21, itu...”
“Saya ada kerjaan, Mbak.”
Ia menatapku.
“Server cadangan,” kataku. “Harus dicek sebelum jam sembilan.”
Aku berjalan melewatinya ke mejaku. Aku tidak menoleh.
Di belakangku, aku mendengar ia berdiri di sana lama sekali. Lalu pintu lift terbuka, dan tertutup, dan ia tidak ada lagi.
Bayu menatapku dari mejanya dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Bang,” katanya pelan. “Server cadangan udah aku cek jam tujuh.”
“Iya, Bay.”
“Abang tahu itu.”
Aku membuka dokumen serah terima. Halaman tiga. Prosedur backup harian, Server A sampai D.
“Iya, Bay,” kataku.
Kamis siang, sebungkus roti lapis ada di mejaku.
Kertas roti cokelat, diikat tali rami, dengan stiker bunga matahari di atasnya. Tidak ada catatan. Aku tahu dari mana roti itu.
Aku memberikannya ke Bayu.
Bayu menatap roti lapis itu di tangannya, lalu menatapku, lalu menatap roti lapis itu lagi. Ia tidak memakannya. Ia meletakkannya di laci mejanya, dengan sangat hati-hati, seperti menyimpan sesuatu yang tidak boleh rusak.
Pukul dua belas, aku tidak naik ke atap.
Aku makan roti tawar polos di ruang server. Delapan belas derajat. Rak-rak hitam. Lampu-lampu kecil hijau. Dengung kipas yang konstan. Tidak ada jendela. Tidak ada langit. Tidak ada angin.
Empat tahun aku makan di atap. Empat tahun sendirian, dan aku tidak pernah merasa sepi.
Ruang server, ternyata, lebih dingin dari atap.
Jumat, hari ketiga puluh tiga.
Stiker Mr. Aman sudah menyebar ke luar grup Trista Family. Seseorang mengirimkannya ke akun gosip kantor anonim yang dulu mengunggah video pucuk tumpeng. Akun itu mengunggahnya dengan keterangan Plot twist yang lebih plot twist: ternyata Mas IT cuma target taruhan 😭 Dewi Lantai 22 bilang dia cuma main. Kasian banget Mas-nya.
Komentar di bawahnya ribuan.
Aku tidak membacanya. Bayu yang membacanya. Aku tahu, karena aku melihatnya pukul sepuluh, duduk di kursinya, menatap layar ponsel dengan wajah merah dan mata basah, mengetik sesuatu dengan sangat cepat lalu menghapusnya, mengetik lagi lalu menghapusnya lagi.
“Bay.”
Ia tersentak. “Ya, Bang?”
“Jangan bales.”
“Bang, mereka...”
“Jangan bales, Bay.”
Bayu menatapku. Bibirnya bergetar.
“Bang, ada yang bilang Abang pasti nangis di ruang server. Ada yang bilang Abang pantes dimainin soalnya Abang cupu. Ada yang bilang Abang resign karena malu.” Suaranya naik. “Abang nggak cupu! Abang nggak malu! Abang yang benerin semua server di gedung ini! Abang yang selametin peluncuran Trista Home! Abang...”
“Bay.”
Ia berhenti.
“Kalau kamu bales,” kataku pelan, “mereka bakal ngetawain kamu juga. Aku nggak mau itu.”
Bayu menatapku lama. Lalu menunduk. Air matanya jatuh ke layar ponsel.
Ia mematikan ponselnya. Meletakkannya di laci. Di samping roti lapis dengan stiker bunga matahari yang masih belum ia makan.
Lalu ia mengambil papan tulis kecilnya, menghapus semua tulisan lama, dan menulis satu kalimat.
ABANG BUKAN MR. AMAN. ABANG BANG ALFA.
Ia meletakkan papan itu berdiri di antara monitor kami, menghadap ke koridor. Supaya setiap orang yang lewat bisa membacanya.
Senin, hari ketiga puluh enam.
Ada kotak tisu di mejaku ketika aku datang. Kotak tisu baru, dengan pita merah diikat di atasnya. Dan selembar kertas kecil, ditempel dengan selotip.
Buat Mr. Aman, kalau nangis di ruang server 🥲🔐
Aku menatap kotak tisu itu.
Lalu aku membuka laci, memasukkan kotak tisu itu ke dalamnya, dan menutup laci.
Tisu selalu berguna. Bab lima.
Bayu, yang datang lima menit setelahku, melihat bekas selotip di mejaku dan bertanya apa yang ditempel di sana. Aku bilang tidak ada apa-apa. Bayu tidak percaya. Bayu tidak pernah percaya tidak ada apa-apa lagi sejak hari Selasa.
Pukul sepuluh, Bang Togar menempelkan kertas besar di partisi di samping lift lantai 17. Kertas karton putih, tulisan spidol merah, huruf kapital semua.
LANTAI 17 ADALAH WILAYAH KELUARGA BESAR SIMANJUNTAK.
YANG BAWA SPEAKER, STIKER, ATAU TISU BERPITA AKAN DIHADAPI LANGSUNG OLEH KETUA KELUARGA.
— TOGAR S., HEAD OF IT INFRASTRUCTURE.
Di bawahnya, Bayu menambahkan dengan spidol biru: (dan wakil ketua: Bayu P.)
Di bawahnya lagi, seseorang dari tim network menambahkan: (dan seluruh tim network).
Di bawahnya lagi, tulisan tangan yang lebih kecil dan rapi, yang belakangan kutahu milik Bu Ratna dari lobi: (dan lobi juga, Nak).
Aku menatap kertas karton itu lama.
Tidak ada speaker di pantry hari itu.
Selasa, hari ketiga puluh tujuh.
Aku masuk lift di lantai dasar pukul tujuh lewat lima. Pintu hampir tertutup ketika seseorang menahannya dari luar.
Celine.
Ia masuk. Pintu tertutup. Hanya kami berdua di dalam.
Ia berdiri di sudut seberang. Blus abu-abu lagi. Tanpa lipstik lagi. Rambutnya tidak diikat, tidak disisir dengan sempurna, beberapa helai berantakan di dekat telinga. Ada lingkaran gelap di bawah matanya yang tidak ditutupi bedak.
Lift naik. Lantai dua.
Ia tidak bicara. Aku juga tidak.
Lantai lima. Lantai tujuh.
Aku menatap angka di atas pintu. Ia menatapku. Aku bisa merasakannya, seperti merasakan perubahan tekanan udara di lobi waktu ia lewat.
Lantai sembilan. Lantai sebelas.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.
Suaranya sangat pelan. Hampir tidak terdengar di atas dengung mesin lift.
Aku menatap angka di atas pintu.
Lantai tiga belas. Lantai lima belas.
Aku memikirkan semua jawaban yang mungkin. Nggak apa-apa, Mbak. Jawaban yang selalu kuberikan pada semua orang. Sedikit apa-apa. Jawaban yang hanya pernah kuberikan padanya, di atap, di bawah angin siang, yang membuatnya tidak bisa tidur tiga malam.
Ada satu jawaban lain.
Satu kata. Kata yang kuketik ratusan kali di chat kerja. Kata yang ia tulis di bawah namaku, empat minggu lalu, dengan tulisan tangan miring yang dilatih sejak SMA. Digarisbawahi dua kali.
Lantai enam belas.
“Aman, Mbak,” kataku.
Pintu lift terbuka di lantai 17.
Aku keluar.
Di belakangku, aku tidak mendengar apa-apa. Tidak ada langkah. Tidak ada suara. Pintu lift menutup pelan, dan lift itu naik lagi ke lantai 22, membawa perempuan yang tidak berkata apa-apa lagi.
Bayu, yang sudah duduk di mejanya, menatapku keluar dari lift. Lalu menatap angka di atas pintu lift yang terus naik.
“Bang,” bisiknya. “Tadi Mbak Celine di dalam lift?”
“Iya, Bay.”
“Abang ngomong apa ke dia?”
Aku duduk di mejaku. Menyalakan monitor. Kucing oranye di sudut kiri. Bekas lem yang sudah bersih di sudut kanan.
“Pagi,” kataku.
Bayu tidak percaya. Tapi ia tidak bertanya lagi.
Rabu, hari ketiga puluh delapan.
Aku menyelesaikan halaman dua puluh tiga dokumen serah terima. Prosedur pemulihan bencana, Server B. Aku menambahkan catatan di bagian bawah: Port tiga dan port tujuh di rak Server B terlihat identik. Sudah dilabeli ulang. Jangan biarkan siapa pun disalahkan karena desain rak.
Di grup Trista Family, stiker Mr. Aman masih dikirim sesekali. Tidak sesering minggu lalu. Dua atau tiga kali sehari, biasanya di bawah pesan-pesan yang tidak ada hubungannya denganku. Pengumuman fogging gedung. Foto ulang tahun staf. Jadwal donor darah. Stiker gembok emas itu muncul di mana-mana seperti lelucon yang sudah terlalu lama dan tidak ada yang tahu cara menghentikannya.
Di lift, orang-orang masih berhenti bicara ketika aku masuk. Masih ada yang bilang Pagi, Mas Aman. Masih ada yang bilang Selamat ya, Mas, jadi bahan taruhan tiga dewi, kapan lagi. Masih ada yang bilang Mas, tiket Jepangnya jadi buat siapa?.
Aku menjawab mereka semua dengan kata yang sama.
“Pagi.”
Pukul sebelas malam, lantai 17 kosong.
Aku masih di sana. Dokumen serah terima di layar. Halaman dua puluh empat dari empat puluh.
Kucing oranye di sudut monitor tersenyum dengan papan SEMANGAT KERJA!-nya.
Aku menatap kucing itu lama.
Alea yang menempelkannya. Hari kedua. Sebelum aku membaca log printer. Sebelum aku tahu apa pun. Biar Kakak inget aku tiap nyalain monitor, katanya.
Aku memikirkan untuk mencabutnya.
Aku tidak mencabutnya.
Aku mematikan layar, mengambil helm, dan berjalan ke lift.
Di dalam lift, sendirian, aku menatap pantulan diriku di pintu yang mengilap. Kemeja flanel biru tua, yang dikembalikan dalam keadaan dicuci dan disetrika, wangi pelembut pakaian mahal. Rambut yang disisir jari. Wajah yang sama seperti empat tahun pagi sebelumnya.
Wajah yang tidak berubah.
Satu minggu aku menjawab semua orang dengan kata yang sama. Pagi. Dan pada satu orang, satu kali, dengan kata yang lain.
Kata yang kupinjam dari tulisan tangannya sendiri.
Lift berhenti di basement B2. Pak Udin sudah berdiri di depan posnya, dua gelas plastik teh manis di tangannya. Ia menyodorkan satu padaku tanpa berkata apa-apa.
Aku mengambilnya.
“Mas,” katanya akhirnya. “Tujuh hari lagi, ya?”
Aku menatapnya. Pak Udin tidak seharusnya tahu. Tapi seluruh gedung tahu sekarang. Resign tgl 45 — makin aman ♡. Tulisan tangan bulat-bulat dengan gambar hati kecil di ujungnya, di foto yang sudah dilihat ribuan orang.
“Iya, Pak.”
Pak Udin mengangguk pelan. Menyeruput tehnya. Menatap pilar-pilar basement.
“Saya sudah sebelas tahun jaga basement, Mas,” katanya. “Saya belum pernah lihat orang yang ditertawain sama satu gedung, tapi tiap pagi tetap bilang pagi ke semua orang.”
Ia menatapku.
“Itu bukan aman, Mas,” katanya. “Itu namanya kuat. Atau capek. Saya nggak bisa bedain. Mungkin dua-duanya.”
Aku tidak menjawab.
Aku meminum teh manis itu sampai habis. Lalu mengembalikan gelas plastiknya. Lalu memakai helm, menyalakan motor, dan keluar dari basement.
Di jalan, di lampu merah perempatan Gatot Subroto, aku berhenti.
Lampu merah lama sekali malam itu.
Aku menatap lampu itu. Merah. Bulat. Tidak berkedip.
Untuk pertama kalinya sejak hari Selasa, di lampu merah yang sepi itu, di balik helm yang kacanya tertutup, aku membiarkan diriku memikirkan satu kalimat.
Hanya satu.
Aku bilang aman ke dia karena itu satu-satunya kata yang pernah dia kasih ke aku duluan.
Lampu berubah hijau.
Aku melanjutkan perjalanan.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura reading
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang