Chapter Twenty Seven
Laci Shafira
POV: Shafira
Senin pagi, hari kedua puluh sembilan, aku datang ke kantor pukul tujuh kurang sepuluh.
Lantai 21 masih gelap. Hanya lampu darurat di koridor dan cahaya pagi yang masuk lewat jendela, abu-abu dan pucat seperti kertas yang terlalu sering dicetak ulang. Mejaku ada di sudut, di dekat jendela yang menghadap Sudirman, dengan papan nama akrilik bertuliskan Shafira Nadine — Business Development Manager yang selalu kuposisikan miring tiga puluh derajat supaya terlihat dari pintu masuk.
Aku duduk. Membuka laci.
Map kulit cokelat itu masih di sana. Di antara kartu nama klien, sisir cadangan, lipstik merah cadangan, dan bungkus permen jahe yang lupa kubuang.
Aku membukanya. Mengeluarkan kertas itu. Membukanya di atas meja, meratakannya dengan telapak tangan.
TARGET JEPANG — PROYEK 30 HARI
Di bawah nama Alfa Danuarta, dua tulisan tangan. Tulisan Celine, miring dan rapi, digarisbawahi dua kali. Tulisan Alea, bulat-bulat, dengan gambar hati kecil di ujungnya.
Dan di bagian paling atas, hasil cetakan printer Ruang Kyoto. Huruf Arial dua belas poin. Kata-kata yang kuketik sendiri sambil tertawa, empat minggu lalu.
Dilarang: kasih tahu target.
Aku menatap kalimat itu lama.
Kemarin, Minggu pagi, aku mengirim pesan ke Celine di grup. CEL!!! KAMU DI MANA HARI MINGGU PAGI??? Aku mengirimnya karena Bayu, junior IT yang gampang disogok roti, mengirimiku pesan pribadi pukul sembilan lewat lima belas berisi satu kalimat dan tujuh emoji ledakan: MBAK SHAFIRA MBAK CELINE DI APARTEMEN BANG ALFA 💥💥💥💥💥💥💥.
Aku tidak tahu kenapa Bayu mengirimkannya padaku. Mungkin karena ia pikir aku perlu tahu. Mungkin karena ia pikir aku masih bermain.
Celine membalas satu jam kemudian. Lagi belajar masak.
Aku tidak bertanya lebih jauh. Aku hanya mengirim stiker kucing yang mengacungkan jempol dan menyimpan ponselku di laci dapur supaya aku tidak bisa melihatnya selama sisa hari Minggu.
Aku menatap kertas di atas mejaku.
Sabtu malam, Celine memintaku membuangnya. Buang aja. Dua kata, tanpa emoji, tanpa penjelasan. Aku menjawab nanti, habis aku menang. Aku menjawab begitu karena itu yang akan dijawab Shafira yang berisik. Shafira yang masih bermain. Shafira yang masih peduli soal Jepang.
Shafira yang tidak jatuh cinta.
Tanganku menjepit tepi kertas itu. Satu tarikan.
Aku berhenti.
Kalau aku merobeknya sekarang, sendirian, di pagi hari sebelum siapa pun datang, apa bedanya? Kertas itu akan hilang, tapi Celine akan tetap bertanya. Alea akan tetap bertanya. Kok kamu robek? Kamu kan bilang nanti habis menang? Dan aku akan harus menjawab.
Tapi ada cara lain.
Aku memikirkannya sepanjang malam. Di sofa apartemenku di Senopati, dengan teh manis dingin dan televisi yang menyala tanpa suara.
Besok, hari ketiga puluh. Hari terakhir taruhan. Grup chat sudah kujadwalkan: kumpul jam delapan pagi di Ruang Kyoto, umumin pemenang. Celine dan Alea akan datang. Mereka akan menunggu aku membual soal kemenanganku, soal Jepang, soal ember dan spons.
Dan aku akan mengeluarkan kertas ini dari map kulit cokelat. Di depan mereka berdua. Lalu aku akan bilang: Aku kalah. Celine yang menang. Bukan karena dia bikin target nyatain cinta. Karena dia yang beneran sayang.
Lalu aku akan merobek kertas ini. Di depan mereka. Dan menyerahkan tiket Jepang yang sudah kubeli minggu lalu, dua tiket, bukan satu, kepada Celine.
Buat kamu sama dia. Hadiah dari aku. Jangan protes.
Itu caraku menutup taruhan ini. Dengan anggun. Dengan tawa. Tanpa ada yang tahu bahwa aku juga jatuh.
Itu rencana yang bagus. Rencana yang bisa dibanggakan. Rencana yang akan membuat Celine menangis dan Alea memelukku dan kami bertiga tertawa di Ruang Kyoto seperti empat minggu lalu, tapi kali ini tanpa ada yang ditertawakan.
Aku melipat kertas itu kembali. Memasukkannya ke map. Memasukkan map itu ke laci.
Satu hari lagi. Kertas itu hanya perlu bertahan satu hari lagi.
Aku tidak mengunci laci itu. Laci mejaku memang tidak pernah kukunci. Kuncinya hilang sejak tahun kedua aku bekerja di Trista, dan aku tidak pernah merasa perlu menggantinya. Lantai 21 adalah lantai BD. Semua orang di sini terlalu sibuk mengejar target penjualan untuk membuka laci orang lain.
Begitu pikirku.
Pukul sembilan, Bu Ratna menelepon dari lobi.
“Mbak Shafira, ada paket buat Mbak. Besar. Tapi kayaknya salah alamat.”
“Salah alamat gimana, Bu?”
“Nama penerimanya Shafira Nadine, tapi alamatnya Lantai 12. Lantai 12 kan bukan Trista, Mbak, itu kantor asuransi. Terus isinya...” Bu Ratna menurunkan suaranya. “Isinya kayaknya boneka, Mbak. Besar. Bentuk beruang.”
Aku menutup mata. Aku tahu paket itu dari siapa. Klien dari Surabaya, pemilik jaringan toko mainan, laki-laki berumur enam puluh yang selalu mengirimiku hadiah setiap kali kontrak diperpanjang. Tahun lalu kipas angin bentuk bebek. Tahun sebelumnya celengan bentuk pisang.
“Saya turun, Bu.”
Sebelum turun, aku menerima pesan dari Rina, asistenku.
Rina: Mbak, meja Mbak boleh dipinjam Mas Dion? Ruang rapat kecil penuh semua, dia butuh tempat buat latihan presentasi ke klien jam 10. Cuma setengah jam.
Aku menatap pesan itu.
Dion Saputra. Laki-laki yang mengunggah foto program sosial. Laki-laki yang mengirim emoji mata di bawah video pucuk tumpeng. Laki-laki yang pernah mengajakku, Celine, dan Alea makan malam dengan kalimat pembuka yang sama persis.
Tapi Dion juga rekan kerja. Dan presentasinya untuk klien yang kuserahkan ke tim Sales bulan lalu. Kalau presentasinya gagal, kontraknya ikut gagal, dan bonus timku ikut menguap.
Aku: Boleh. Bilang jangan sentuh apa-apa.
Rina: Siap, Mbak.
Aku turun ke lobi.
Bu Ratna sudah menunggu di balik meja resepsionis dengan kotak kardus besar di sampingnya. Kotak itu setinggi pinggangku, dibungkus kertas cokelat dengan selotip berlapis-lapis. Di bagian atasnya, label pengiriman dengan tulisan FRAGILE — JANGAN DIBANTING dan, di bawahnya, tulisan tangan yang lebih kecil: Untuk Bu Shafira yang galak tapi baik. Dari Om Hartono, Surabaya.
“Galak tapi baik,” baca Bu Ratna keras-keras. Ia menatapku dengan alis terangkat. “Bener juga, Mbak.”
“Bu, tolong...”
“Ibu nggak bilang apa-apa, Mbak.” Bu Ratna mengangkat kedua tangannya. “Ibu cuma baca.”
Aku mencoba mengangkat kotak itu. Terlalu berat. Aku mencoba menggesernya. Kotak itu tidak bergerak.
“Bu, ini isinya beneran boneka?”
“Ibu sudah goyang-goyang tadi, Mbak. Bunyinya empuk. Tapi beratnya kayak karung beras.”
“Kenapa dikirim ke lantai 12?”
“Kurirnya bilang di sistem tertulis lantai 12. Mungkin Om Hartono-nya salah ketik. Ibu sudah telepon kantor asuransi di lantai 12, mereka bilang nggak kenal Shafira. Terus mereka bilang, kalau isinya boneka beruang, mereka mau, buat anak-anak karyawan.” Bu Ratna menyipitkan mata. “Ibu bilang nggak boleh. Ini hak Mbak.”
“Bu, saya nggak butuh boneka beruang.”
“Mbak nggak butuh, tapi ini hadiah. Hadiah itu bukan soal butuh, Mbak. Hadiah itu soal hati yang ngasih.”
Kami berdebat. Lima menit. Sepuluh menit. Bu Ratna bersikeras aku harus membawanya ke atas karena kalau ditinggal di lobi, nanti satpam yang shift malam akan memeluknya untuk tidur. Aku bersikeras Bu Ratna boleh menyimpannya atau memberikannya pada siapa pun. Bu Ratna bilang ia sudah punya tujuh boneka di rumah dan suaminya mulai protes karena kasurnya penuh.
Akhirnya, setelah lima belas menit, kami sepakat: Pak Udin akan mengantar kotak itu ke lantai 21 dengan troli barang setelah jam makan siang.
Pak Udin, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu putar dan mendengarkan seluruh perdebatan dengan ekspresi geli, mengangguk dengan khidmat.
“Siap, Neng. Saya antar. Bonekanya boleh saya kasih nama?”
“Pak...”
“Saya kasih nama Pak Hartono. Biar Neng ingat yang ngasih.”
Aku menatap Pak Udin. Ia menatapku balik dengan wajah serius yang sama sekali tidak serius.
Lalu aku tertawa. Tawa sungguhan, untuk pertama kalinya sejak Kamis sore di pantry lantai 17.
Aku kembali ke lantai 21 pukul sepuluh kurang lima.
Dion sedang berdiri dari kursiku, laptopnya sudah tertutup, dasinya sedikit longgar. Ia melihatku datang dan tersenyum. Senyum yang tidak pernah kusukai, senyum yang naik terlalu tinggi di satu sisi.
“Makasih mejanya, Shaf,” katanya.
“Sama-sama. Presentasinya lancar?”
“Lancar.” Ia menyelipkan laptop ke tas. “Banyak... inspirasi.”
Ia berjalan melewatiku ke arah lift, bersiul pelan. Lagu yang kukenal. Lagu Jepang yang sering diputar di restoran sushi. Melodi yang ringan dan riang, seperti hujan bunga sakura.
Aku tidak memikirkannya. Dion memang suka bersiul. Semua orang di lantai Sales suka bersiul.
Aku duduk di kursiku. Kursi itu masih hangat dari tubuh Dion. Ada bau parfumnya yang menyengat, sesuatu yang terlalu manis dan terlalu banyak.
Laci mejaku terbuka sedikit. Mungkin dua senti.
Aku menatap celah itu.
Lalu aku berpikir: Dion pasti mencari sesuatu. Pulpen, mungkin. Atau adaptor HDMI untuk laptopnya. Aku sering menyimpan adaptor cadangan di laci itu, dan semua orang di lantai 21 tahu. Rina pasti yang memberitahunya.
Aku menutup laci itu dengan lututku tanpa melihat isinya.
Map kulit cokelat itu masih di sana. Aku tidak perlu memeriksanya. Aku tahu ia masih di sana, karena siapa yang mau membaca kertas di dalam map kulit cokelat milik orang lain?
Lalu aku membuka email dan mulai bekerja.
Pukul dua siang, Pak Udin datang dengan troli barang dan kotak kardus besar.
Seluruh lantai 21 berhenti bekerja untuk menonton. Pak Udin membuka kotak itu dengan pisau lipat yang ia ambil dari saku, dengan gerakan dramatis seperti membuka peti harta karun, dan mengeluarkan isinya.
Boneka beruang cokelat. Setinggi anak umur tujuh tahun. Memakai kaos bertuliskan I ♥ SURABAYA dan topi baseball terbalik. Di lehernya, pita merah dengan kartu kecil: Semoga kontrak kita langgeng kayak beruang ini. — Om H.
Lantai 21 meledak tertawa.
Rina memotretnya. Orang-orang dari tim Partnership datang untuk memeluknya. Seseorang menempelkan papan nama akrilikku di dadanya, sehingga beruang itu sekarang adalah Shafira Nadine — Business Development Manager.
“Pak Hartono,” kata Pak Udin dengan bangga, menepuk kepala beruang itu. “Saya sudah kasih nama di lift tadi. Dia setuju.”
Aku tertawa sampai mataku berair. Tawa yang keras. Tawa yang biasa.
Tapi kali ini, untuk pertama kalinya dalam lima hari, tawa itu tidak terasa seperti tameng.
Rasanya seperti tawa yang terakhir sebelum sesuatu yang lain.
Pukul enam sore, setelah lantai 21 kosong, aku duduk di mejaku sendirian.
Pak Hartono si beruang duduk di kursi tamu di sebelahku, menatapku dengan mata plastik hitamnya yang bulat. Papan nama akrilikku masih tergantung miring di dadanya.
Aku membuka laci.
Map kulit cokelat. Aku membukanya.
Kertas itu masih di sana. Dilipat dua. Lecek di ujungnya.
Tapi lipatannya berbeda.
Aku menatapnya. Aku selalu melipatnya dengan tulisan menghadap ke dalam. Selalu. Kebiasaan sejak kuliah, ketika aku menyimpan semua surat cinta palsu dari Reza dengan tulisan menghadap ke dalam supaya tidak ada yang bisa membacanya tanpa membuka.
Kertas ini dilipat dengan tulisan menghadap ke luar.
Aku menatap lipatan itu lama.
Lalu aku berpikir: mungkin aku sendiri yang melipatnya terbalik pagi tadi. Aku sedang melamun. Aku sedang memikirkan rencana besok. Aku sedang memikirkan dua tiket ke Jepang dan Celine yang menangis dan Alea yang memeluk.
Itu masuk akal. Itu pasti yang terjadi.
Aku melipat kertas itu dengan benar. Tulisan menghadap ke dalam. Memasukkannya ke map. Menyimpan map itu di dalam tasku, bukan di laci. Besok pagi, kertas itu akan kubawa ke Ruang Kyoto. Akan kurobek di depan Celine dan Alea.
Satu hari lagi.
Aku menatap Pak Hartono si beruang.
“Besok aku kalah,” kataku padanya. “Dengan sengaja. Dengan anggun.”
Beruang itu tidak menjawab. Matanya yang plastik memantulkan lampu kantor.
“Kamu tahu nggak,” kataku, “aku juga suka dia.”
Itu pertama kalinya aku mengatakannya keras-keras. Kepada boneka beruang dengan kaos I ♥ SURABAYA dan topi baseball terbalik, di lantai 21 yang kosong, pukul enam sore hari kedua puluh sembilan.
Rasanya aneh. Rasanya lega. Rasanya seperti menekan tombol kirim pada pesan yang tidak akan pernah dibaca siapa pun.
“Jangan bilang siapa-siapa,” kataku pada Pak Hartono.
Aku mematikan lampu meja dan pulang, membawa tas berisi map kulit cokelat dan kertas yang dilipat dengan benar.
Di lift, aku membuka grup chat Dewi-Dewi Lembur.
Aku: BESOK JAM 8 PAGI DI RUANG KYOTO! 📢 Hari terakhir! Pengumuman pemenang! WAJIB DATANG! 🏆🇯🇵
Alea: Iya Kak 🙂
Celine: Iya.
Dua balasan pendek. Tanpa emoji dari Celine. Senyum kecil dari Alea.
Aku tersenyum ke layar ponsel. Besok, kalian akan kaget. Besok, kalian akan menangis. Besok, aku akan menjadi orang yang berdiri, untuk pertama kalinya, sembilan tahun setelah kantin kampus.
Di layar ponselku, notifikasi lain muncul. Grup Trista Family. Seseorang mengunggah sesuatu.
Aku tidak membukanya. Lift sudah sampai di basement B2, dan Pak Udin sedang melambai dari posnya dengan dua gelas teh manis di tangan.
Notifikasi itu dari Dion.
Isinya hanya satu foto. Foto lift lantai 21, diambil dari dalam, dengan keterangan:
Besok pagi ada pengumuman penting buat semua karyawan Trista. Stay tuned 🌸✈️🎯
Puluhan orang membalas dengan emoji penasaran.
Aku tidak melihatnya sampai besok pagi.
Sampai terlambat.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira reading
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang