Chapter Fifteen
Sup Ayam
POV: Alea
Aku terbangun hari Jumat dengan kepala seperti diisi kapas basah dan tenggorokan seperti menelan pasir.
Termometer di laci meja rias menunjukkan tiga puluh delapan koma tujuh. Mama menatap angka itu, lalu menatapku, lalu menatap hoodie abu-abu yang masih kupeluk, lalu berkata dengan suara yang penuh kepastian seorang ibu:
“Ini karena kamu tidur di mobil pakai AC kencang sambil kehujanan. Mama sudah bilang dari kecil, Le, jangan tidur di mobil.”
“Aku nggak kehujanan, Ma. Cuma gerimis.”
“Gerimis itu hujan yang malu-malu. Tetap hujan.”
Aku tidak punya tenaga untuk membantah. Aku mengetik pesan ke Bu Ratih, atasanku di HR, minta izin sakit. Lalu, dengan jari yang lemas, aku membuka chat lain.
Aku: Kak, hari ini aku demam 🥲 nggak bawa bekal. Maaf ya. Delapan belas butirnya ditunda dulu.
Aku tidak berharap dibalas cepat. Ini jam setengah delapan pagi. Ia pasti sedang di lift, atau sedang membuka dashboard monitoring, atau sedang dimarahi Bang Togar karena sesuatu yang tidak ia lakukan.
Balasannya datang dalam tiga menit.
Kak Alfa: Istirahat, Mbak. Minum air yang banyak.
Lalu, satu menit kemudian:
Kak Alfa: Alamat rumah Mbak di mana?
Aku menatap pesan itu sampai mataku yang panas berair. Lalu, tanpa berpikir dua kali, aku mengirim lokasi.
Lalu aku tertidur lagi, dengan ponsel di dada dan pertanyaan yang belum terjawab di kepala.
Aku bermimpi soal karaoke semalam.
Bukan mimpi yang jelas. Lebih seperti potongan-potongan yang berputar-putar di kepala yang panas. Suaranya. Rendah, hangat, sedikit serak di nada tinggi. Matanya yang terpejam. Tepuk tangan yang meledak setelahnya. Dan lalu, potongan yang terus berulang seperti video rusak: ia berjalan kembali ke sofa, melewati tempat yang sudah kusiapkan di sampingku, dan duduk di sebelah Kak Celine.
Aku melihat lutut mereka bersentuhan. Aku melihat Kak Celine berbisik sesuatu dan ia menjawab, dan Kak Celine tertawa pelan, tawa yang tidak pernah kudengar darinya sebelumnya. Tawa yang tidak diatur volumenya.
Aku terbangun pukul dua siang dengan bantal basah. Aku tidak tahu itu keringat atau air mata.
Di grup chat Dewi-Dewi Lembur, ada beberapa pesan.
Shafira: Le kamu sakit? Bu Ratih bilang kamu izin.
Celine: Le, istirahat ya. Mau aku kirimin bubur?
Shafira: Kalau kamu sakit, poinmu dibekukan wkwk. Klasemen minggu ini aku pegang 😏
Aku membaca pesan Kak Celine dua kali. Mau aku kirimin bubur? Baik. Tulus. Seperti Kak Celine yang biasanya.
Aku tidak membalasnya.
Aku tidak tahu kenapa. Kak Celine tidak melakukan apa pun yang salah. Ia hanya duduk di sofanya sendiri, dan seseorang memilih duduk di sebelahnya. Itu bukan salahnya. Itu bukan salah siapa-siapa.
Tapi aku tetap tidak membalasnya.
Pukul tujuh lewat dua puluh malam, bel rumah berbunyi.
Aku sedang berbaring di sofa ruang tengah, dibungkus selimut tebal motif bunga milik Mama, menonton sinetron yang tidak kuikuti ceritanya. Papa sedang membaca koran di kursi goyang. Mama sedang di dapur, memotong buah.
Mama yang membuka pintu.
Aku mendengar suaranya dari ruang tengah. “Ya? Cari siapa, Mas?”
Lalu suara yang membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.
“Selamat malam, Bu. Saya Alfa, teman kantornya Mbak Alea. Saya dengar Mbak Alea sakit.”
Aku duduk tegak begitu cepat sampai selimut bunga-bunga itu jatuh ke lantai. Rambutku berantakan. Aku memakai piyama bergambar kelinci. Wajahku pasti pucat dan berminyak. Hidungku merah seperti badut. Aku belum mandi sejak kemarin.
Dan aku masih memakai hoodie-nya.
“MA!” bisikku dengan suara serak yang tidak bisa disebut bisikan. “MA, JANGAN SURUH MASUK, AKU BELUM MANDI...”
“Silakan masuk, Mas!” seru Mama dengan suara paling ramah yang pernah kudengar darinya. “Silakan, silakan! Alea ada di dalam! Lagi tiduran! Baru bangun! Belum mandi!”
Aku ingin menghilang ke dalam sofa.
Ia muncul di ambang pintu ruang tengah. Kemeja flanel biru tua yang sama seperti kemarin. Helm masih di tangan kirinya. Di tangan kanannya, termos stainless besar dan kantong plastik berisi sesuatu. Rambutnya sedikit basah, entah karena keringat atau sisa gerimis.
Ia menatapku. Aku menatapnya. Piyama kelinci. Hoodie abu-abu. Rambut seperti sarang burung. Hidung badut.
“Malam, Mbak,” katanya.
“Malam, Kak,” kataku, dengan suara yang terdengar seperti bebek tercekik.
Papa menurunkan korannya. Pelan-pelan. Seperti tirai panggung yang dibuka.
Interogasinya dimulai bahkan sebelum ia sempat duduk.
“Kerja di bagian apa, Nak?” tanya Mama, yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kursi tamu dengan piring berisi potongan mangga yang ia sodorkan dengan agresif.
“IT, Bu. Infrastruktur.”
“IT itu yang benerin komputer?”
“Kurang lebih, Bu.”
“Bagus. Komputer Mama di rumah sering hang. Nanti dilihat, ya.” Mama duduk di kursi di depannya. “Asalnya dari mana?”
“Purwokerto, Bu.”
“Oh, Purwokerto! Mama punya sepupu di Purwokerto. Orang tuanya masih di sana?”
Ia diam sebentar. Sangat sebentar. Hanya aku yang memperhatikan, karena aku sudah hafal caranya diam sebelum mengatakan sesuatu yang berat.
“Ibu saya sudah meninggal, Bu. Waktu saya SMA. Ayah saya sudah lama nggak ada.”
Mama berhenti mengunyah mangganya.
Ruang tengah tiba-tiba sunyi. Bahkan sinetron di televisi seperti ikut memelankan suaranya.
Lalu Mama meletakkan piring mangga itu di meja. Wajahnya berubah. Bukan kasihan. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ibu ketika berhadapan dengan anak yang tidak punya ibu.
“Kamu sudah makan, Nak?”
“Sudah, Bu.”
“Bohong. Mukamu kelihatan belum makan.” Mama berdiri. “Mama siapkan nasi. Kamu makan di sini.”
“Bu, saya cuma mau antar...”
“Duduk.” Mama menunjuk kursi. Suaranya tidak bisa dibantah. “Di rumah ini, tamu yang belum makan nggak boleh pulang.”
Ia duduk.
Papa, yang sejak tadi diam di kursi goyangnya, akhirnya bicara. Ia melipat korannya dengan sangat pelan, menatap laki-laki di kursi tamu dari atas kacamata bacanya, lalu menatapku di sofa. Lebih tepatnya, menatap hoodie abu-abu yang kupakai.
“Itu jaketmu?”
Kak Alfa menatap hoodie itu. Lalu menatapku. Lalu menatap Papa.
“Iya, Pak.”
“Yang ukurannya kayak karung beras.”
“...Iya, Pak.”
Papa mengangguk pelan, seperti hakim yang baru saja mendengar pengakuan terdakwa. Lalu ia kembali membuka korannya.
“Anak saya peluk-peluk jaket itu tiap malam,” katanya dari balik koran. “Sudah seminggu.”
“PAPA!”
Aku menarik selimut bunga-bunga dari lantai dan menutup seluruh kepalaku. Dari balik selimut, aku mendengar Papa tertawa. Tawa yang jarang kudengar sejak Papa pensiun. Dan aku mendengar suara lain. Suara kecil, hampir tidak terdengar, seperti hembusan napas dari hidung.
Kak Alfa. Tertawa.
Mama akhirnya memberi kami waktu sendiri setelah Kak Alfa menghabiskan sepiring nasi dengan opor ayam sisa siang tadi. Mama dan Papa pindah ke dapur, berpura-pura sibuk mencuci piring. Pintu dapur dibiarkan terbuka. Aku bisa melihat bayangan kepala Mama yang sesekali muncul di ambang pintu, lalu ditarik kembali oleh Papa.
Kak Alfa membuka termos stainless itu dan menuangkan isinya ke mangkuk yang ia minta dari Mama.
Sup ayam. Uapnya mengepul. Wortel dipotong dadu kecil, kentang, seledri, bawang goreng di atasnya. Dan wangi sesuatu yang lain, tajam dan hangat, yang tidak bisa langsung kukenali.
“Kakak masak sendiri?”
“Iya, Mbak.”
“Kapan?”
“Tadi. Pulang kantor.”
Aku menatapnya. Kantornya di Sudirman. Apartemennya di Kalibata. Rumahku di Rawamangun. Ia pulang jam lima, memasak sup, lalu menyetir motor menembus gerimis Jumat malam, setengah Jakarta, ke rumahku.
Aku tidak memintanya. Aku tidak merengek. Aku tidak memasang wajah sedih yang tidak pernah gagal. Aku hanya bilang aku demam, dan ia bertanya alamatku, dan aku pikir itu hanya basa-basi.
Ia menyerahkan mangkuk itu padaku dengan sendok. Aku menyendok sedikit. Meniupnya. Memakannya.
Hangat. Asin yang pas. Bukan delapan belas butir, bukan dua puluh tiga. Pas. Dan rasa tajam itu, rasa yang menghangatkan tenggorokanku yang seperti pasir, menyebar pelan-pelan dari lidah ke dada.
“Ada jahenya,” kataku.
“Dimasukkan paling akhir. Dimemarkan.”
“Kenapa paling akhir?”
“Biar wanginya nggak hilang.”
Aku makan sesendok lagi. Lalu lagi. Mataku mulai panas, dan kali ini aku tahu itu bukan karena demam.
“Kakak bawain sup buat aku,” kataku. Suaraku masih serak, tapi aku mencoba membuatnya terdengar ringan, terdengar seperti aku yang biasa. “Aku jadi mau sakit tiap hari.”
“Jangan, Mbak,” katanya. “Supnya cuma bisa satu resep.”
Aku tertawa kecil. “Kenapa cuma satu?”
Ia menatap mangkuk di tanganku. Diam sebentar. Diamnya yang biasa, sebelum mengatakan sesuatu yang berat.
“Ibu saya cuma sempat ngajarin satu.”
Sendok di tanganku berhenti di udara.
Ia mengatakannya dengan datar, seperti biasa. Seperti membacakan status server. Tapi aku tahu sekarang. Aku sudah cukup lama memperhatikannya untuk tahu. Hal-hal yang paling berat selalu ia katakan dengan suara paling datar, seperti menyimpan barang pecah belah di kotak yang paling biasa, supaya tidak ada yang curiga isinya berharga.
Ibunya mengajarkan satu resep. Lalu ibunya pergi. Dan ia tidak pernah belajar resep lain.
Dan ia memasak satu-satunya resep itu. Untukku.
Aku meletakkan mangkuk di meja. Lalu, tanpa berpikir, tanpa strategi, tanpa menghitung apakah ini akan menambah poin di klasemen Kak Shafira, aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
Bukan tiga detik seperti malam payroll. Lebih lama. Aku tidak menghitung.
Ia tidak bergerak. Bahunya sedikit tegang di bawah pipiku, seperti orang yang tidak tahu harus berbuat apa dengan sesuatu yang tidak pernah ia alami. Lalu, pelan-pelan, ketegangan itu mengendur. Ia tidak memelukku. Ia tidak menyentuh rambutku. Ia hanya duduk diam, membiarkan bahunya jadi tempat aku bersandar, seperti tiang yang tidak keberatan disandari.
Dari pintu dapur, kepala Mama muncul. Lalu kepala Papa muncul di atasnya. Lalu dua kepala itu cepat-cepat menghilang, disusul suara piring yang dicuci dengan sangat keras.
Aku memejamkan mata. Wangi sabun cuci yang murah dari kemeja flanelnya. Wangi jahe dari mangkuk sup. Detak jantungnya, pelan dan teratur, terdengar samar di bawah telingaku.
Dan aku tahu.
Aku tahu di detik itu, seperti tahu bahwa demam akhirnya turun, seperti tahu bahwa hujan akhirnya berhenti. Pelan, tapi pasti. Tidak ada kembang api. Tidak ada musik. Hanya satu pengetahuan sederhana yang turun dan menetap di dadaku seperti batu yang tenggelam ke dasar sungai.
Aku jatuh cinta padanya.
Bukan pada target. Bukan pada poin di klasemen. Bukan pada tiket ke Jepang atau foto dengan rusa di Nara.
Pada laki-laki yang menyembunyikan suaranya di headphone tanpa musik. Yang bilang telurku keasinan, lalu menghabiskannya sampai butir nasi terakhir. Yang menggulung lengan hoodie-nya tiga lipatan di pergelangan tanganku. Yang menyetir setengah Jakarta di bawah gerimis membawa satu-satunya resep yang diwariskan ibunya.
Dan di detik yang sama, pengetahuan kedua turun, lebih dingin dari yang pertama.
Aku dalam masalah.
Karena aku tahu tiga hal yang tidak boleh kulupakan.
Satu: ia akan pergi. Hari keempat puluh lima. Dua puluh enam hari lagi. Aku sendiri yang memproses suratnya. Aku sendiri yang memegang tangannya untuk menandatanganinya.
Dua: aku memilihnya sebagai target. Aku menulis namanya di kertas. Aku tertawa di pantry. Aku mengetik wkwk iya kasian di grup chat dan menghapusnya terlambat.
Tiga: semalam, ia berjalan melewati tempat yang kusiapkan dan duduk di sebelah Kak Celine.
Aku membuka mata. Tidak bergerak dari bahunya.
“Kak,” bisikku.
“Ya, Mbak?”
Aku ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang jujur. Aku suka Kakak. Beneran. Bukan buat taruhan. Maafin aku. Jangan pergi.
“Supnya enak,” kataku.
“Terima kasih, Mbak.”
“Jahenya bikin tenggorokanku nggak sakit lagi.”
“Itu gunanya.”
Aku menutup mata lagi. Di dapur, Mama dan Papa masih mencuci piring yang sama berkali-kali.
Ia pamit pukul sembilan.
Mama mengantarnya sampai pagar, memaksanya membawa sekotak kue lapis legit dan sekantong mangga. Papa berdiri di ambang pintu, tangan di belakang punggung, seperti komandan yang melepas prajurit.
“Nak Alfa,” kata Papa. “Jaketnya kapan mau diambil?”
Kak Alfa menatap Papa. Lalu menatapku yang berdiri di belakang Papa, masih dengan hoodie dan piyama kelinci.
“Nanti, Pak. Kalau saya kangen jaketnya.”
Papa diam. Lalu tertawa lagi, untuk kedua kalinya malam itu. Ia menepuk bahu Kak Alfa dua kali. “Pintar kamu.”
Motornya pergi. Lampu belakangnya merah di ujung gang, lalu hilang di tikungan.
Mama menutup pagar. Lalu berbalik, menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Le.”
“Ya, Ma?”
“Yang ini jangan dilepas.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Aku berjalan masuk ke kamar, menutup pintu, dan duduk di lantai bersandar ke ranjang, memeluk lututku di dalam hoodie yang wangi sabun cuci murah.
Lalu aku menangis.
Bukan tangis keras. Tangis yang pelan, yang keluar dari tempat yang dalam, seperti air yang merembes dari dinding yang retak.
Yang ini jangan dilepas.
Mama tidak tahu. Mama tidak tahu soal kertas itu. Soal pantry. Soal taruhan. Soal tiga puluh hari dan empat puluh lima hari. Soal bagaimana aku memulai semua ini dengan berpikir toh dia pergi, nggak ada yang sakit.
Ternyata ada yang sakit.
Dan yang sakit ternyata aku.
Ponselku bergetar. Grup chat Dewi-Dewi Lembur.
Shafira: Le, udah mendingan? Besok kamu masih izin?
Celine: Le, gimana? Aku khawatir.
Shafira: Hari ini nggak ada update dari siapa-siapa. Weekend pertama tanpa skor. Membosankan 😴
Aku menatap pesan-pesan itu. Jariku melayang di atas layar.
Dia datang ke rumah. Bawa sup buatannya sendiri. Resep ibunya. Ketemu Mama sama Papa. Aku nyandar di bahunya. Aku suka dia. Beneran.
Kalau aku mengirim itu, Kak Shafira akan bersorak dan memberiku sepuluh poin. Kak Celine akan mengirim emoji api. Klasemen akan berubah. Aku akan memimpin dengan jauh.
Dan sup ayam itu, jahe yang dimemarkan, satu-satunya resep ibunya, akan berubah jadi poin di tabel Excel.
Aku: Udah mendingan. Cuma tidur seharian. Nggak ada update 😴
Kirim.
Aku menatap pesanku sendiri. Kebohongan pertamaku pada mereka berdua, dalam lima tahun persahabatan kami.
Aku tidak tahu bahwa Kak Celine sudah melakukannya lebih dulu, sepuluh hari sebelumnya, di lift setelah turun dari atap.
Aku tidak tahu bahwa kami berdua, tanpa saling sadar, sudah mulai menyimpan laki-laki yang sama di tempat yang tidak bisa dijangkau tabel Excel mana pun.
Aku memeluk hoodie itu, mencium wanginya sekali lagi, dan tertidur di lantai kamar dengan pipi basah.
Termometer di laci meja rias, pagi berikutnya, menunjukkan tiga puluh enam koma delapan.
Demamnya turun.
Yang lain tidak.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam reading
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang