Chapter Twenty Eight
Rahasia HR
POV: Alea
Mama memasak rendang hari Minggu.
Satu panci besar. Daging sapi tiga kilo, santan dari dua butir kelapa yang dibeli Papa di pasar Rawamangun hari Rabu, bumbu yang diulek Mama sendiri sejak Subuh. Rumah kami wangi rendang dari pagi sampai malam. Wangi yang biasanya hanya ada di hari Lebaran.
Kak Alfa tidak datang.
Aku sudah bilang ke Mama hari Kamis. Ma, Kak Alfa nggak jadi datang. Dia sibuk. Mama menatapku lama, lalu bertanya kenapa mataku bengkak. Aku bilang alergi debu. Mama tidak bertanya lagi, tapi Mama tetap memasak rendang itu.
“Buat kita bertiga,” kata Mama. “Rendang itu nggak harus nunggu tamu.”
Kami makan rendang bertiga di meja makan. Papa makan dua piring. Mama makan satu. Aku makan setengah, lalu meletakkan sendok dan menatap piring.
“Le,” kata Papa.
“Ya, Pa?”
“Kelapanya Papa pilih sendiri. Yang paling tua. Biar santannya kental.”
“Iya, Pa. Enak.”
“Papa nggak nanya enak atau nggak.” Papa meletakkan sendoknya. “Papa cuma mau bilang, Papa udah pilih kelapa yang paling bagus. Dan kalau Nak Alfa nggak datang, kelapanya tetap bagus. Rendangnya tetap enak. Kamu tetap anak Papa.”
Aku menatap Papa.
Papa tidak tahu apa-apa. Papa tidak tahu soal taruhan, soal kertas, soal pantry, soal penolakan di bawah pohon ketapang. Papa hanya tahu anaknya pulang dengan mata bengkak dan bilang tamu yang ditunggu tidak jadi datang.
Dan Papa memilih kelapa yang paling tua.
Aku menangis di meja makan. Mama mengusap punggungku. Papa melanjutkan makan piring ketiganya dengan mata yang juga sedikit merah.
Sabtu malam, aku menelepon Kak Celine.
Itu ideku sendiri. Tidak ada yang menyuruhku. Aku duduk di lantai kamar, bersandar ke ranjang, memeluk hoodie abu-abu, dan menatap ponsel selama satu jam sebelum akhirnya menekan nama Kak Celine.
Ia mengangkat di dering kedua.
Kami bicara lama. Soal hal-hal kecil dulu. Soal Trista Home yang laris. Soal Bu Wiwik di meja sebelahku yang sekarang memberiku permen jahe setiap pagi tanpa berkata apa-apa. Soal Bang Togar yang menggantung bingkai sertifikat ISO bekas di partisinya.
Lalu, di menit keempat puluh, aku bertanya.
“Kak. Kakak suka dia, kan?”
Hening di seberang. Lama sekali. Aku bisa mendengar napas Kak Celine, dan suara samar televisi yang menyala tanpa ada yang menonton.
“Le...”
“Nggak apa-apa, Kak. Aku tahu.” Aku memeluk lututku lebih erat. “Aku lihat video tumpengnya. Aku lihat Kakak di lift hari Selasa. Kakak kayak... kayak ada lampu di muka Kakak.”
“Le, aku nggak...”
“Dia juga suka Kakak.”
Hening lagi.
“Dia bilang ke aku,” kataku. Suaraku mulai pecah, tapi aku menahannya. “Nggak langsung. Tapi aku ngerti. Waktu aku bilang suka, dia bilang bukan cuma soal pergi. Waktu itu aku nggak ngerti. Sekarang aku ngerti.”
Kak Celine tidak berkata apa-apa. Aku mendengar ia menarik napas yang gemetar.
“Kak,” kataku. “Dia bisa masak sup ayam. Resep ibunya. Ibunya cuma sempat ngajarin satu resep sebelum meninggal. Jahenya dimemarkan, dimasukin paling akhir, biar wanginya nggak hilang.”
Aku menelan ludah.
“Kalau Kakak mau ngerti dia, Kakak harus belajar resep itu.”
Di seberang, Kak Celine menangis. Pelan. Tertahan. Seperti air yang merembes dari dinding yang retak.
“Le, maaf,” bisiknya. “Maafin aku.”
“Kakak nggak salah apa-apa.”
“Aku lega waktu kamu mundur. Aku lega, Le. Aku jahat.”
Aku tertawa. Tawa yang basah. “Aku juga bakal lega kalau jadi Kakak.”
Kami menangis bersama di telepon selama sepuluh menit. Lalu tertawa. Lalu menangis lagi.
Sebelum menutup telepon, Kak Celine berkata, “Le. Kamu orang paling baik yang aku kenal.”
Aku tidak menjawab. Aku menutup telepon dan menatap langit-langit kamar.
Orang paling baik.
Kak Celine tidak tahu soal pantry. Soal makin aman dengan gambar hati kecil di ujungnya. Soal toh dia pergi, nggak ada yang sakit.
Dan Kak Celine, yang mendengar soal surat resign itu dari mulutku sendiri di pantry hari keenam, mungkin sudah lupa bahwa surat itu masih ada. Masih aktif. Masih berjalan menuju tanggalnya, enam belas hari lagi.
Aku tahu.
Aku tidak mengatakannya.
Senin pagi, pukul delapan, Bu Wiwik meletakkan permen jahe di mejaku.
Bu Wiwik adalah perempuan berkacamata dengan rantai manik di meja sebelahku. Lima tahun kami duduk bersebelahan, dan kami tidak pernah benar-benar bicara selain soal formulir cuti dan jadwal arisan HR. Sejak hari Rabu, setiap pagi, ada permen jahe di mejaku. Satu bungkus. Diletakkan di samping Pak Bambang si kaktus. Tanpa kata.
“Makasih, Bu,” kataku.
“Hm,” jawab Bu Wiwik, tanpa menoleh dari layarnya.
Aku membuka komputer. Notifikasi sistem HR menumpuk seperti biasa. Pengajuan cuti. Pengajuan lembur. Pengajuan klaim kacamata.
Dan satu notifikasi yang tidak biasa.
Pengingat otomatis: Exit interview — Alfa Danuarta — dijadwalkan H-3 sebelum tanggal efektif. Mohon konfirmasi pewawancara.
Aku menatap notifikasi itu.
Exit interview. Wawancara keluar. Prosedur standar untuk semua karyawan yang mengundurkan diri. Satu jam di ruang rapat kecil di lantai 19, dengan formulir dua halaman: Apa alasan utama Anda meninggalkan perusahaan? Apa yang paling Anda sukai dari bekerja di sini? Apa yang bisa kami perbaiki?
Sistem menyarankan pewawancara: Alea Putri Kinanti.
Aku menatap namaku sendiri di layar.
Lalu aku membuka berkas Kak Alfa. Bukan suratnya. Berkas lengkap, yang ada di sistem HR. Riwayat kerja empat tahun. Evaluasi tahunan. Tidak ada satu pun catatan keterlambatan. Tidak ada satu pun peringatan. Cuti tahunan yang tidak pernah diambil, menumpuk sampai dua puluh hari, yang akan hangus di hari terakhirnya.
Dan di kolom Alasan pengunduran diri — detail, satu kalimat yang ia tulis sendiri:
Menerima tawaran posisi di Kaizen Labs, Tokyo, Jepang.
Tokyo.
Jepang.
Aku menatap dua kata itu sangat lama.
Waktu memproses suratnya di hari kelima, aku hanya membaca bagian depannya. Melanjutkan karier di luar negeri. Aku tidak pernah membuka kolom detail. Aku tidak perlu. Waktu itu ia hanya target. Waktu itu luar negeri hanya berarti jauh, berarti aman, berarti nggak ada yang sakit.
Tokyo.
Hadiah taruhan kami adalah sepuluh hari di Jepang.
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Pukul sebelas, Kak Celine datang ke lantai 19.
Aku melihatnya dari jauh. Blus biru muda. Rambut tergerai. Langkah yang tidak membuat siapa pun melambat, karena hari ini ia tidak berjalan seperti dewi. Ia berjalan seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu.
Ia berhenti di depan mejaku. Bu Wiwik menurunkan kacamatanya, menatap kami dari atas lensa, lalu kembali ke layarnya dengan sangat sengaja.
“Le,” kata Kak Celine. “Punya waktu sepuluh menit?”
Kami pergi ke tangga darurat lantai 19. Tempat yang tidak dipakai siapa pun kecuali orang yang ingin menangis atau menelepon pacar diam-diam.
Kak Celine duduk di anak tangga. Aku duduk di sampingnya.
“Kemarin aku ke apartemennya,” kata Kak Celine. “Belajar sup.”
“Aku tahu, Kak. Bayu bilang ke Kak Shafira. Kak Shafira... ya. Bayu juga bilang ke aku.”
Kak Celine tertawa kecil. “Bayu itu stasiun radio.”
“Gimana supnya?”
“Enak.” Kak Celine menatap tangannya. “Aku yang potong ayamnya. Dia bilang paling rapi yang pernah dia lihat.”
Aku tersenyum. Senyum yang sakit, tapi tulus.
“Le.” Kak Celine menoleh padaku. Matanya serius. “Besok, hari ketiga puluh. Aku mau jujur ke dia. Soal semuanya. Soal taruhan. Soal kenapa aku turun ke lantai 17 hari itu. Soal apa yang aku tulis di kertas.”
Aku membeku.
“Aku nggak tahu dia bakal gimana,” lanjut Kak Celine. Suaranya bergetar. “Dia mungkin benci aku. Dia mungkin nggak mau ngomong sama aku lagi. Tapi aku nggak bisa terus bohong. Dia orang paling jujur yang aku kenal, Le. Aku nggak bisa jadi orang yang bohong ke orang paling jujur.”
Aku menatap Kak Celine.
“Dia juga mau bilang sesuatu,” kata Kak Celine. “Selasa. Di atap. Dia bilang kamu bilang, aku bilang. Kemarin aku tanya dia pernah kepikiran pindah nggak, dari Trista, dari Jakarta. Dia bilang Selasa dia jawab.”
Ia menatapku. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang rapuh dan penuh harap sekaligus.
“Le. Surat resign-nya.” Suaranya mengecil. “Kamu yang pegang. Udah dia batalin, kan? Kalau dia masih mau pergi, dia nggak bakal ngajarin aku sup ibunya. Dia nggak bakal bilang Selasa kayak gitu. Iya, kan?”
Kamu pernah kepikiran pindah?
Selasa dia jawab.
Kak Celine tidak tahu.
Kak Celine tidak tahu bahwa surat itu belum dibatalkan. Bahwa pagi ini statusnya masih aktif. Bahwa di kolom detail berkas HR yang kubaca tiga jam lalu, tujuannya tertulis jelas: Tokyo. Enam belas hari lagi, di negara yang sama dengan hadiah taruhan kami.
Aku bisa mengatakannya sekarang. Belum, Kak. Belum dibatalin. Dia mau ke Tokyo. Hari ke-45.
Kak Celine akan tahu besok dari mulut Kak Alfa sendiri. Atau tidak. Mungkin Kak Alfa akan bilang hal lain. Mungkin Kak Alfa akan bilang ia membatalkan semuanya. Aku tidak tahu.
Yang kutahu, wajah Kak Celine sekarang terlihat seperti orang yang berdiri di tepi atap, siap melompat, percaya ada seseorang yang akan menangkapnya di bawah.
Kalau aku bilang sekarang, wajah itu akan runtuh. Hari ini. Sehari sebelum ia sempat jujur. Sehari sebelum mereka sempat duduk di atap dan saling bilang.
Biar Kak Celine nggak sakit sekarang.
Pikiran itu datang pelan, seperti pikiran di hari kelima. Toh dia pergi. Nggak ada yang sakit. Pikiran yang sama, dengan bentuk yang berbeda. Pikiran yang terasa seperti kebaikan.
Biarkan Kak Alfa yang mengatakannya. Biarkan mereka punya besok. Biarkan Kak Celine punya satu hari lagi tanpa tahu.
Itu bukan rahasiaku untuk dikatakan. Itu rahasia HR. Itu rahasia Kak Alfa. Aku sudah sekali membocorkannya. Aku tidak akan membocorkannya lagi.
Itu yang kukatakan pada diriku sendiri.
“Kak,” kataku. “Soal surat itu... tanya dia aja besok. Itu bukan hakku buat jawab.”
Kak Celine menatapku lama. Lalu mengangguk pelan, seperti orang yang memutuskan untuk menganggap diamku sebagai kabar baik.
“Bilang aja besok,” kataku. “Jujur. Semuanya.”
“Kamu pikir dia bakal maafin aku?”
Aku memikirkan laki-laki di bawah pohon ketapang. Yang berterima kasih padaku karena menjaga rahasianya, padahal aku membocorkannya. Yang bilang Mbak berhak dapat orang yang tinggal.
“Dia orang yang paling gampang maafin, Kak,” kataku. “Itu yang bikin semuanya jadi lebih susah.”
Kak Celine menatapku. Lalu memelukku. Erat. Di tangga darurat lantai 19, dengan wangi parfum kayu manisnya bercampur dengan wangi sabun cuci murah dari hoodie yang kupakai.
“Makasih, Le.”
Aku memeluknya balik dan menatap dinding beton di belakang bahunya.
Aku tidak mengatakan apa-apa soal Tokyo.
Pukul satu siang, Bayu muncul di lantai 19.
Ia berdiri di depan meja Bu Ratih, atasanku, dengan formulir di tangan dan wajah orang yang akan maju ke medan perang.
“Bu,” katanya. “Saya mau ajukan cuti.”
“Cuti apa, Bayu?”
“Cuti... konser, Bu.”
Bu Ratih menatapnya. “Di formulir nggak ada pilihan cuti konser.”
“Saya tahu, Bu. Makanya saya tulis manual di kolom lainnya.” Bayu menunjuk formulirnya dengan khidmat. “Konser yang saya lewatkan dua minggu lalu karena tukar jadwal patching sama Bang Alfa. Band-nya tampil lagi minggu depan. Ini kesempatan terakhir, Bu. Mereka mau bubar.”
“Bubar?”
“Bubar, Bu. Vokalisnya mau jadi PNS.”
Bu Ratih menatap Bayu lama. Lalu menandatangani formulirnya.
Bayu berjalan melewati mejaku dengan wajah berseri-seri. Lalu ia berhenti, menatapku, dan wajahnya berubah.
“Mbak Alea,” katanya pelan. “Mbak nggak bawa bekal lagi ke lantai 17.”
“Nggak, Bayu.”
“Bang Alfa nanyain.”
Aku menatapnya.
“Bohong, ding,” kata Bayu cepat. “Bang Alfa nggak nanyain. Bang Alfa nggak pernah nanyain apa-apa. Tapi Bang Alfa ngeliatin kursi tamu di sebelah mejanya tiap jam dua belas. Kursi yang Mbak dudukin waktu nyuapin dia.” Bayu menggaruk kepala. “Aku nggak tahu artinya apa. Aku nggak pinter soal beginian. Panduanku cuma teori.”
Aku tidak bisa menjawab.
Bayu mengangguk sendiri, seperti ia sudah menyampaikan pesan penting, lalu berjalan pergi dengan formulir cuti konsernya.
Pukul lima sore, aku masih di mejaku.
Notifikasi exit interview masih di layar. Mohon konfirmasi pewawancara.
Aku menatapnya.
Lalu aku membuka kolom pewawancara dan mengganti namaku dengan nama Bu Ratih.
Aku tidak bisa duduk di depannya dan bertanya apa alasan utama Anda meninggalkan perusahaan. Aku tidak bisa membaca formulir itu dengan suara HR yang profesional. Aku tidak bisa menatap wajahnya dan berpura-pura tidak tahu soal Tokyo, soal Jepang, soal hadiah taruhan yang ironis sampai rasanya seperti lelucon yang terlalu kejam untuk ditertawakan.
Aku menekan Simpan.
Lalu aku menatap kolom detail di berkas Kak Alfa sekali lagi.
Menerima tawaran posisi di Kaizen Labs, Tokyo, Jepang.
Besok, Kak Celine akan jujur. Besok, Kak Alfa akan menjawab.
Kalau jawabannya Tokyo, Kak Celine akan mendengarnya dari orang yang tepat.
Kalau jawabannya bukan Tokyo...
Aku tidak berani memikirkan itu.
Aku mematikan komputer, mengambil tas, dan memakai hoodie abu-abu yang lengannya masih tergulung tiga lipatan. Bu Wiwik sudah pulang. Pak Bambang si kaktus sendirian di dekat jendela.
Di lift, aku membuka grup chat Dewi-Dewi Lembur. Pesan Kak Shafira dari tadi siang masih di sana. BESOK JAM 8 PAGI DI RUANG KYOTO! Hari terakhir! Pengumuman pemenang!
Aku menatap pesan itu dan merasa sesuatu yang aneh. Seperti ada yang salah di dalam emoji-emoji Kak Shafira. Terlalu banyak tanda seru. Terlalu banyak huruf kapital. Seperti seseorang yang berteriak di ruangan kosong supaya tidak mendengar suara lain.
Aku tidak tahu apa artinya. Aku terlalu sibuk dengan rahasiaku sendiri.
Kami bertiga, ternyata, sama-sama terlalu sibuk menyimpan rahasia, sampai tidak ada yang sempat melihat rahasia orang lain.
Lift berhenti di lobi. Bu Ratna melambai dari balik meja resepsionis.
“Nak Alea! Besok pagi ada pengumuman penting katanya! Di grup Trista Family! Kamu tahu apa?”
“Pengumuman apa, Bu?”
“Ibu juga nggak tahu. Mas Dion yang posting. Ada bunga sakuranya.” Bu Ratna mengerutkan kening. “Ibu kira mau ada acara Jepang-Jepangan.”
Aku berhenti berjalan.
Bunga sakura.
Lalu aku menggeleng. Dion selalu mengunggah hal-hal aneh di grup. Minggu lalu ia mengunggah foto kucingnya memakai kacamata hitam dengan keterangan Bos baru divisi Sales.
“Nggak tahu, Bu,” kataku. “Mungkin promo restoran.”
Aku keluar lewat pintu putar ke udara sore Jakarta yang lembab.
Aku tidak membuka grup Trista Family. Aku tidak melihat unggahan Dion.
Aku pulang ke Rawamangun, ke rumah yang masih wangi rendang, ke Mama yang menyiapkan teh hangat dan Papa yang menonton berita dengan volume terlalu keras.
Malam itu aku tidur memeluk hoodie abu-abu, seperti biasa.
Malam terakhir aku bisa melakukannya tanpa rasa malu.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR reading
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang