Chapter Twenty Three
Yang Ketiga
POV: Shafira
Aku melihat Celine keluar dari lift lantai 22 pukul satu lewat tujuh menit, Kamis siang.
Aku tidak sengaja ada di sana. Itu bohong. Aku sengaja ada di sana. Aku naik ke lantai 22 pukul dua belas lewat empat puluh untuk mengajak Celine makan siang dan bicara soal Alea. Timnya bilang ia naik jam dua belas dan belum kembali. Aku menunggu di balik pilar besar dekat lift, pura-pura membalas email, karena aku tidak tahu harus menunggu di mana lagi.
Pintu lift terbuka. Dua orang dari Finance keluar lebih dulu, wajah mereka aneh, seperti baru melihat sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan.
Lalu Celine.
Rambutnya basah. Bukan lembab. Basah, meneteskan air ke lantai marmer. Maskaranya luntur, membentuk garis-garis hitam samar di bawah mata. Blus putihnya menempel di badan. Dan di atasnya, sebuah kemeja flanel hijau tua. Kemeja laki-laki. Kebesaran. Lengannya menjuntai melewati ujung jarinya.
Aku tahu kemeja itu. Aku melihatnya pagi tadi di lantai 17, dipakai seseorang yang duduk di depan kucing oranye.
Celine tidak melihatku. Ia berjalan melewati pilar tempat aku bersembunyi, ke arah toilet, dengan langkah yang tidak pernah kulihat darinya selama lima tahun. Bukan langkah dewi yang membuat seluruh lobi melambat. Langkah yang ringan. Hampir melompat. Seperti anak kecil yang baru pulang dari main hujan.
Dan wajahnya.
Wajahnya tersenyum. Bukan senyum yang dihitung, yang ia pakai di lift dan lobi dan ruang rapat, yang sudut bibirnya naik tepat sebanyak yang dibutuhkan. Senyum yang tidak terkendali. Senyum yang membuat pipinya naik dan matanya menyipit dan memperlihatkan gigi taringnya yang sedikit lebih panjang dari gigi lainnya. Gigi yang selalu ia sembunyikan di foto, karena katanya membuatnya terlihat seperti vampir.
Lima tahun aku bersahabat dengan Celine. Aku belum pernah melihat gigi taring itu di luar kamar karaoke jam tiga pagi.
Aku berdiri di balik pilar, memegang ponsel yang layarnya sudah mati, dan merasakan sesuatu yang dingin menetes pelan di dadaku. Seperti air hujan yang masuk lewat celah atap.
Sepuluh menit kemudian, aku mengirim pesan ke grup.
Cel, kamu di mana? Aku ke lantai 22 tadi, kamu nggak ada.
Balasannya datang lima menit kemudian.
Ada meeting di luar. Kehujanan di jalan. Udah balik kok.
Aku menatap pesan itu sangat lama.
Celine tidak pernah berbohong padaku. Lima tahun. Ia pernah menolak bercerita. Ia pernah diam. Tapi ia tidak pernah berbohong.
Hari ini ia berbohong. Untuk melindungi sesuatu yang terjadi di atas sana, di tempat yang kemejanya basah kuyup dan senyumnya tidak terkendali.
Pukul dua, aku turun ke lantai 19 untuk mencari Alea.
Alea tidak membalas pesan siapa pun sejak kemarin sore. Tidak di grup. Tidak di chat pribadi. Pesan terakhirnya, Aku mundur dari taruhan, masih menggantung di grup seperti pengumuman duka.
Mejanya kosong. Kaktus bernama Pak Bambang sendirian di dekat jendela. Kotak bekal merah muda tidak ada.
“Alea di toilet, Mbak,” kata perempuan berkacamata rantai manik di meja sebelah, tanpa kutanya. Ia menatapku dengan wajah orang yang tahu sesuatu tapi tidak mau jadi yang pertama mengatakannya. “Sudah dua puluh menit.”
Toilet perempuan lantai 19. Lima bilik. Empat pintu terbuka. Satu tertutup, yang paling ujung.
Dari baliknya, suara yang sangat pelan. Hampir tidak terdengar. Napas pendek-pendek yang tertahan, seperti seseorang yang sedang mencoba menangis tanpa membuat suara, dan gagal.
Aku mengenal suara itu. Aku pernah membuatnya sendiri, sembilan tahun lalu, di toilet gedung rektorat lantai lima yang tidak pernah dipakai siapa pun.
“Le,” kataku.
Suara di balik pintu berhenti.
“Le, ini aku.”
Hening. Lama. Lalu bunyi kunci diputar. Pintu bilik terbuka sedikit.
Alea duduk di atas tutup kloset dengan lutut ditekuk ke dada. Hoodie abu-abu menutupi kepalanya sampai ke hidung. Lengannya, yang masih tergulung tiga lipatan, basah di ujungnya karena dipakai mengusap mata. Di tangannya, ponsel dengan layar menyala. Aku bisa melihat sekilas: sebuah video. Video pendek dari akun gosip kantor anonim. Seorang perempuan dengan blus putih memotong pucuk tumpeng dan berjalan melewati semua orang untuk meletakkannya di meja seorang laki-laki.
Alea mematikan layar ponselnya ketika melihatku melihatnya.
“Hai, Kak,” katanya, suaranya serak.
Aku masuk ke bilik itu. Bilik toilet yang sempit, yang tidak dirancang untuk dua orang. Aku berjongkok di depannya dengan rok pensil dan sepatu hak tujuh senti, yang pasti terlihat konyol, dan aku tidak peduli.
“Le. Kamu nembak dia, ya?”
Alea menatapku. Matanya bengkak. Hidungnya merah. Bibirnya bergetar.
Lalu ia mengangguk.
“Kemarin,” bisiknya. “Di taman samping. Aku bawa telur yang bulat.”
“Terus?”
“Dia bilang enak.” Alea tertawa. Tawa yang pecah di tengah dan berubah jadi isak. “Pertama kalinya dia bilang enak, Kak. Lima kali aku masak. Lima kali. Akhirnya dia bilang enak. Terus aku bilang aku suka dia. Terus dia bilang...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menutup wajahnya dengan dua tangan di dalam lengan hoodie yang kebesaran, dan menangis.
Aku memeluknya.
Di dalam bilik toilet yang sempit, dengan sepatu hak tujuh senti dan rok pensil yang pasti akan kusut, aku memeluk Alea yang menangis di dalam hoodie milik laki-laki yang sama.
Aku tidak bertanya apa yang dikatakan laki-laki itu. Aku tidak perlu. Aku tahu dari video yang ia tonton. Aku tahu dari kemeja flanel hijau yang dipakai Celine di lift tadi.
Alea mencintainya. Dan ia memilih Celine.
“Maaf, Kak,” isak Alea di bahuku. “Maaf aku mundur. Maaf aku nggak cerita. Aku nggak mau... aku nggak mau ini jadi poin. Aku nggak mau dia jadi angka di tabel.”
“Ssst. Nggak usah minta maaf.”
“Tapi taruhannya...”
“Lupain taruhannya, Le.”
Aku mengusap punggungnya di balik hoodie abu-abu itu. Wangi sabun cuci yang murah. Aku mengenal wanginya. Aku menciumnya di depan lift restoran lantai empat puluh enam, waktu aku mengikat dasi di lehernya.
Pukul tiga, aku turun ke lantai 17.
Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak punya alasan. Tidak ada wifi yang lemot, tidak ada data klien yang harus diekspor, tidak ada kopi yang perlu diantar. Aku hanya berjalan ke lift dan menekan tombol 17 dan berdiri di dalam lift yang turun, menatap pantulan wajahku di pintu yang mengilap.
Lipstik merah. Blazer merah. Sanggul rapi tanpa satu helai pun yang jatuh.
Tameng yang sudah kupakai sembilan tahun.
Aku melihatnya masuk ke pantry. Aku mengikutinya. Aku mengunci pintu.
Aku tidak akan menceritakan semua yang terjadi di pantry itu. Sebagian karena aku tidak ingat semuanya dengan jelas. Sebagian karena aku tidak ingin mengingatnya.
Yang kuingat: tanganku di dadanya. Detak jantungnya yang stabil, menyebalkan, seperti biasa. Pertanyaanku, yang keluar lebih jujur dari yang kuinginkan. Kenapa sih kamu nggak pernah mundur kalau aku maju?
Dan jawabannya.
Karena Mbak nggak pernah benar-benar mau saya mundur.
Lalu kalimat yang tidak selesai. Tapi saya sudah...
Lalu tanganku turun dari dadanya. Pelan. Aku tidak memutuskan untuk menurunkannya. Tanganku turun sendiri, seperti tanganku tahu lebih dulu dari otakku bahwa tempatnya bukan di sana.
Aku tertawa. Aku bilang aku cuma iseng. Aku bilang ini hobi, seperti koleksi perangko. Aku membuka pintu. Aku bilang jangan bikin Celine menyesal kehujanan.
Lalu aku berjalan keluar dengan langkah yang terlalu cepat, sampai ke tangga darurat lantai 17, dan berdiri di sana, di antara dinding beton yang dingin, memegangi pegangan tangga dengan kedua tangan sampai buku-buku jariku putih.
Aku tidak menangis. Aku tidak menangis di tangga darurat, karena tangga darurat bisa dilewati siapa saja.
Aku menunggu sampai jam tujuh malam.
Basement B2 sepi pukul tujuh lewat dua puluh.
Aku duduk di Mini Cooper merahku dengan mesin mati dan lampu kabin menyala. Map kulit cokelat terbuka di pangkuanku. Kertas di dalamnya terlipat dua, lecek di ujungnya.
TARGET JEPANG — PROYEK 30 HARI.
Aku menatap kertas itu, lalu menatap tanganku sendiri. Tangan yang tadi siang menempel di dadanya. Tangan yang turun pelan seperti daun yang jatuh.
Aku tahu sekarang. Aku tahu sejak di pantry, ketika kalimatnya tidak selesai dan aku mendengar sisanya di kepalaku sendiri. Mungkin aku sudah tahu sebelumnya. Sejak plester seharga lima belas ribu di lobi hotel. Sejak ia bertanya apakah ayahku yang mengajariku mengikat dasi. Sejak ia berdiri di samping Bayu dan meletakkan tangan di bahu anak itu dan bilang jangan ke dia. Sejak ia bilang seseorang harus berdiri.
Laki-laki yang tidak takut padaku. Laki-laki yang juga tidak ingin menaklukkanku. Laki-laki yang, sembilan tahun setelah kantin kampus, akhirnya menjadi orang yang berdiri.
Laki-laki yang hari ini menolakku tanpa membuatku merasa kecil. Yang bilang aku orang paling berani di gedung ini. Yang bilang ia akan ingat aku berdiri di depan lift.
Tidak ada laki-laki yang pernah menolakku dengan cara itu. Mereka menolak dengan takut. Atau dengan marah. Atau dengan tertawa di atas kursi kantin.
Ia menolakku seperti seseorang yang meletakkan barang pecah belah kembali ke raknya dengan hati-hati. Supaya tidak pecah.
Dan itu, ternyata, yang membuatku jatuh.
Aku jatuh cinta padanya.
Aku, Business Development Manager termuda di Trista Group. Aku, yang mencetak kertas ini. Aku, yang menunjuk fotonya di direktori karyawan dan bilang dia sempurna. Aku, yang tertawa paling keras di pantry lantai 19. Kayak bendera negara yang lagi berkabung.
Aku jatuh cinta pada target.
Dan dua sahabatku juga.
Seseorang mengetuk jendela mobilku.
Aku tersentak. Menutup map kulit cokelat itu dengan cepat. Menoleh.
Pak Udin berdiri di luar jendela, memegang dua gelas plastik teh manis dari warung di belakang gedung. Uapnya mengepul di udara basement yang lembab.
Aku menurunkan kaca jendela.
“Neng Shafira,” katanya. “Sudah satu jam di sini. Mobilnya nggak nyala. Akinya rusak lagi?”
“Nggak, Pak. Akinya bagus.”
“Oh.” Ia mengangguk. Lalu menyodorkan satu gelas teh manis lewat jendela. “Ini. Teh. Saya beli dua, tapi saya cuma bisa minum satu. Kalau dua, nanti saya kebelet terus.”
Aku menerima gelas itu. Hangat. Tanganku yang dingin sejak siang tadi mulai merasakan sesuatu lagi.
Pak Udin tidak pergi. Ia berdiri di samping mobilku, menyeruput tehnya sendiri, menatap pilar-pilar basement dengan wajah orang yang sedang memikirkan sesuatu yang dalam.
“Neng,” katanya setelah beberapa saat. “Saya sudah jaga basement sebelas tahun.”
“Saya tahu, Pak.”
“Sebelas tahun, saya lihat banyak orang duduk di mobil yang mesinnya mati.” Ia menyeruput teh. “Yang duduk lima menit, biasanya nunggu telepon. Yang duduk lima belas menit, biasanya habis dimarahin bos. Yang duduk setengah jam, biasanya habis putus.”
Ia menatapku.
“Yang duduk satu jam,” katanya, “biasanya lagi mutusin sesuatu yang besar.”
Aku tidak menjawab.
“Neng ini kan yang paling berisik di gedung ini. Ketawanya kedengaran sampai basement kalau lagi di lobi. Dulu Neng parkir di sini, bunyi hak sepatunya kayak orang mau perang.” Pak Udin tersenyum. “Tapi Neng, saya bilang ya. Sebelas tahun saya jaga di sini, saya belajar satu hal.”
“Apa, Pak?”
“Yang paling berisik itu biasanya yang paling sakit.”
Aku menatapnya.
Lalu aku menunduk, menatap teh manis di tanganku, dan tiba-tiba air mata itu datang. Sembilan jam aku menahannya. Di balik pilar lantai 22. Di bilik toilet lantai 19, memeluk Alea. Di pantry lantai 17. Di tangga darurat dengan buku-buku jari yang memutih.
Sekarang, di depan satpam basement yang memberiku teh manis karena ia tidak bisa minum dua gelas, air mata itu akhirnya jatuh.
Pak Udin tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, menyeruput tehnya, menatap pilar-pilar, memberiku ruang untuk menangis tanpa merasa ditonton.
Seperti seseorang yang berdiri.
Aku tidak tidur malam itu.
Aku berbaring di kamar apartemenku di Senopati, menatap langit-langit, dan memikirkan pilihan-pilihan yang kumiliki. Seperti di ruang negosiasi. Seperti di rapat strategi. Satu per satu, dengan keuntungan dan kerugiannya.
Pilihan pertama: bilang ke Celine dan Alea. Aku juga jatuh cinta. Aku juga. Lalu kami bertiga akan duduk di Ruang Kyoto lagi, kali ini tanpa kue, dan menatap satu sama lain dan tidak tahu harus bilang apa. Alea akan merasa bersalah karena ia mundur dan aku tidak. Celine akan merasa bersalah karena ia yang dipilih. Persahabatan lima tahun akan berubah jadi sesuatu yang canggung dan penuh rasa bersalah, seperti ruangan yang semua jendelanya ditutup.
Pilihan kedua: diam.
Aku memilih pilihan kedua.
Tidak sulit memilihnya. Aku sudah sembilan tahun latihan. Menyimpan sesuatu di balik lipstik merah dan tawa yang keras. Membiarkan orang lain mengira aku tidak pernah terluka, karena orang yang tidak pernah terluka tidak perlu dikasihani.
Lagi pula, ia sudah memilih. Aku mendengarnya di kalimat yang tidak selesai.
Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah memastikan dua sahabatku tidak merasa bersalah. Alea tidak boleh merasa bersalah karena mundur. Celine tidak boleh merasa bersalah karena dipilih.
Dan cara terbaik supaya mereka tidak merasa bersalah adalah membuat mereka berpikir aku masih bermain.
Jumat pagi, pukul tujuh lewat lima belas, aku mengirim pesan ke grup Dewi-Dewi Lembur.
Aku: PAGI CEWEK-CEWEK! 🌞
Aku: Update klasemen: Alea mundur, Celine diem-diem bae, berarti JEPANG MASIH PUNYAKU, YA! 🇯🇵✈️🍣
Aku: Empat hari lagi. Siapin ember, Cel. Siapin spons, Le (kamu tetep harus cuci mobil meskipun mundur, itu aturan 😘)
Aku: Kertasnya masih aku simpen di map, buat bukti skor. Jangan ada yang protes nanti!
Aku menatap pesan-pesan itu. Emoji matahari. Emoji bendera Jepang. Emoji sushi. Semua tanda seru. Semua huruf kapital.
Pesan-pesan Shafira yang biasa. Shafira yang berisik. Shafira yang selalu menang.
Celine membalas lima menit kemudian. Iya, Shaf. Dua kata. Tanpa emoji.
Alea membalas sepuluh menit kemudian. Stiker kelinci yang menjulurkan lidah. Stiker yang biasa ia kirim ketika ia sedang bercanda.
Tidak ada yang bertanya kenapa aku begitu bersemangat. Tidak ada yang curiga.
Bagus.
Aku menaruh ponsel di meja. Lalu, karena aku sudah berjanji dalam pesan itu, aku membuka laci meja kerjaku di lantai 21 dan memindahkan map kulit cokelat dari tas ke dalamnya. Kertas Target Jepang masih terlipat di dalamnya, lecek di ujungnya.
Bukti skor.
Aku menatap kertas itu sebentar sebelum menutup laci.
Aku bisa merobeknya. Aku bisa melakukannya sekarang. Tidak ada yang melihat.
Tapi kalau kertas itu hilang, Celine dan Alea akan bertanya. Dan kalau mereka bertanya, aku harus menjawab. Dan jawaban yang jujur adalah satu-satunya jawaban yang tidak bisa kuberikan.
Aku menutup laci.
Kertas itu tetap di sana.
Aku tidak tahu bahwa laci itu tidak terkunci.
Aku tidak tahu bahwa minggu depan, seseorang akan meminjam mejaku untuk presentasi.
Aku tidak tahu bahwa kebohongan paling baik hati yang pernah kubuat seumur hidupku, kebohongan untuk melindungi dua sahabatku dari rasa bersalah, sedang menyimpan sesuatu yang suatu hari akan menghancurkan laki-laki yang kucintai.
Aku hanya tahu, Jumat pagi itu, aku sudah menjadi orang yang berisik lagi.
Seperti kata Pak Udin.
Yang paling berisik, biasanya yang paling sakit.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga reading
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang