Chapter Twenty Two
Garis
POV: Alfa
Aku kembali ke lantai 17 pukul satu lewat sepuluh dengan kaos hitam yang menempel di badan dan celana jeans yang meneteskan air di setiap langkah.
Bayu melihatku dan berdiri.
“Bang.” Matanya membesar. “Bang. Abang habis berenang?”
“Kehujanan, Bay.”
“Di mana? Abang kan di gedung terus...”
Ia berhenti. Matanya bergerak, dari rambutku yang basah ke kaos yang basah ke celana yang basah, lalu ke tanganku yang kosong. Tidak ada kemeja flanel hijau yang kupakai tadi pagi. Aku bisa melihat otaknya bekerja. Bayu mungkin tidak pernah pacaran, tapi ia tidak bodoh.
“Bang,” bisiknya. “Atap?”
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke mejaku. Menyalakan monitor. Kucing oranye tersenyum dengan papan SEMANGAT KERJA!-nya.
Dari balik partisi, kepala Bang Togar muncul.
“Alfa. Kau basah.”
“Iya, Bang.”
“Kau bisa masuk angin. Kau bisa demam. Kalau kau demam, siapa yang jaga server?” Ia menghilang di balik partisi, lalu muncul lagi beberapa detik kemudian dengan sesuatu di tangannya. “Pakai ini.”
Jaket parasut oranye. KELUARGA BESAR SIMANJUNTAK — REUNI AKBAR 2019.
“Bang, istri Abang minta dibalikin...”
“Istriku nggak perlu tahu.” Bang Togar melemparnya ke mejaku. “Pakai. Atau kau mau pakai hoodie Bayu?”
Aku menoleh. Bayu sudah berdiri dengan hoodie biru muda di tangannya, menyodorkannya dengan dua tangan seperti menyerahkan bendera pusaka. Hoodie itu bergambar karakter anime perempuan dengan rambut merah muda dan mata sebesar piring, memegang pedang, dengan tulisan Jepang besar-besar di punggungnya.
“Ini edisi terbatas, Bang,” kata Bayu dengan khidmat. “Aku beli di pameran. Abang orang pertama selain aku yang pernah pakai.”
Aku menatap hoodie itu. Lalu menatap jaket Simanjuntak.
Aku memakai jaket Simanjuntak.
Bayu terlihat kecewa sekaligus lega. Ia memeluk hoodie anime-nya kembali dan duduk.
“Bang,” katanya setelah beberapa saat. Pelan. Tanpa menoleh. “Abang kelihatan beda.”
“Beda gimana?”
“Abang senyum terus dari tadi.”
Aku menyentuh wajahku. Ia benar. Aku tidak sadar.
Pukul tiga sore, aku pergi ke pantry lantai 17 untuk membuat kopi.
Pantry lantai 17 adalah ruangan kecil di ujung koridor, dengan satu mesin kopi yang rasanya seperti air rebusan kardus, satu dispenser, satu kulkas yang penuh bekal tanpa nama, dan satu jendela kecil yang menghadap tembok gedung sebelah. Tidak ada kue. Tidak ada ritual Jumat sore. Hanya tempat laki-laki IT mengisi gelas dan kembali ke meja secepat mungkin.
Aku sedang menekan tombol mesin kopi ketika pintu pantry terbuka.
Aku tahu siapa itu dari langkahnya. Hak sepatu. Tidak ragu-ragu.
Lalu pintu pantry tertutup. Dan bunyi kecil yang tidak biasa: kunci diputar.
Aku menoleh.
Shafira berdiri di depan pintu. Blazer merah hari ini. Lipstik merah. Rambut disanggul tinggi, rapi, tanpa satu helai pun yang jatuh. Ia terlihat seperti akan masuk ke ruang negosiasi dengan klien paling sulit di dunia.
Tapi matanya tidak terlihat seperti mata orang yang akan bernegosiasi.
Matanya merah di pinggirnya. Seperti orang yang baru saja menahan sesuatu dan berhasil, tapi hampir tidak.
“Pantry ini ada kuncinya, ternyata,” katanya. Ia mencoba tersenyum. Senyum itu tidak sampai.
“Mbak.”
“Jangan Mbak.” Ia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Pantry ini kecil. Dua langkah sudah cukup untuk membuatku mundur sampai punggungku menempel di meja dapur. “Kamu manggil Celine apa sekarang?”
Aku diam.
“Aku dengar kemarin. Di lantai 22. Timnya Celine lagi gosip di pantry mereka. Katanya kamu nggak manggil dia Mbak lagi. Katanya ada yang dengar waktu kamu ngomong sama dia di syukuran.” Shafira melangkah lagi. Sekarang jarak kami kurang dari satu lengan. “Katanya tadi siang dia hilang satu jam, terus balik ke lantai 22 basah kuyup pakai kemeja flanel hijau. Kemeja cowok. Kebesaran.”
Ia menatap jaket Simanjuntak yang kupakai. Lalu kaos hitamku yang masih lembab di baliknya. Lalu rambutku yang belum sepenuhnya kering.
“Kamu juga basah,” katanya.
Aku tidak menjawab.
Lalu Shafira meletakkan tangannya di dadaku.
Bukan mengetuk seperti di lift hari pertama. Bukan menyelipkan pulpen ke saku seperti di mejaku. Telapak tangannya terbuka, menempel di dadaku, tepat di atas jantung. Dan ia menekan. Pelan, tapi cukup untuk membuat punggungku menempel lebih keras ke meja dapur di belakangku.
“Kenapa sih,” katanya, suaranya rendah, “kamu nggak pernah mundur kalau aku maju?”
Aku bisa mendengar banyak hal di dalam pertanyaan itu.
Aku bisa mendengar Shafira yang duduk di atas mejaku di hari ketiga, menyilangkan kaki, lututnya menempel di lututku dengan sengaja. Shafira yang mengikat dasi di depan lift restoran, menghitung denyut nadiku diam-diam. Shafira yang mencium pipiku di basement B2 dan menunggu, menunggu, menunggu sesuatu di wajahku yang tidak pernah datang.
Shafira yang menggandeng lenganku di depan lift lobi untuk membuat empat orang berhenti berbisik. Itu bukan buat kamu. Itu buat aku.
Shafira yang menarik kerah kemejaku di lantai 17 setelah Pak Rudy pergi. Aku benci penasaran.
Laki-laki biasanya mundur kalau Shafira maju. Aku tahu itu tanpa perlu diberitahu. Mereka mundur karena takut, atau mereka maju balik karena ingin menang. Dua-duanya memberi Shafira sesuatu untuk dihadapi. Sesuatu untuk dikalahkan.
Aku tidak melakukan dua-duanya. Aku hanya berdiri di tempat.
“Karena Mbak nggak pernah benar-benar mau saya mundur,” kataku.
Tangan di dadaku berhenti menekan.
Shafira menatapku. Matanya yang merah di pinggir itu membesar sedikit. Bibirnya terbuka. Untuk kedua kalinya sejak aku mengenalnya, ia tidak tahu harus bilang apa.
Tapi kali ini berbeda dengan di depan lift restoran. Kali ini ekspresinya bukan ekspresi orang yang kalah satu ronde.
Kali ini ekspresinya seperti orang yang baru saja ketahuan.
“Mbak,” kataku, lebih pelan. “Saya mau bilang sesuatu, dan Mbak boleh marah.”
Ia tidak menarik tangannya dari dadaku. Tapi tangannya tidak menekan lagi. Hanya diam di sana. Hangat. Sedikit gemetar.
“Mbak boleh maju,” kataku. “Sejauh apa pun. Tapi saya nggak akan maju balik.”
Shafira tidak bergerak.
“Bukan karena Mbak kurang. Mbak nggak kurang apa-apa.” Aku memilih kata-kata dengan hati-hati, seperti memilih kabel mana yang dipotong di bom yang belum kupahami cara kerjanya. “Mbak orang paling berani yang saya kenal di gedung ini. Mbak satu-satunya yang berdiri di depan lift waktu orang-orang bisik-bisik. Saya ingat itu. Saya akan ingat itu.”
Aku menarik napas.
“Tapi saya sudah...”
Aku berhenti.
Kalimat itu tidak bisa kuselesaikan. Tidak di sini. Tidak di depan perempuan yang menyimpan kertas dengan namaku di dalam map kulit cokelatnya. Tidak di depan sahabat perempuan yang memelukku di bawah hujan dua jam lalu.
Saya sudah jatuh cinta pada orang lain.
Aku tidak mengatakannya. Tapi Shafira mendengarnya. Aku melihatnya di wajahnya. Ia mendengar kalimat yang tidak selesai itu sejelas kalau aku meneriakkannya.
Tangannya turun dari dadaku.
Pelan. Seperti daun yang jatuh dari pohon, berputar sebentar di udara sebelum mendarat.
Shafira mundur satu langkah. Lalu satu lagi. Punggungnya menempel di pintu pantry yang terkunci.
“Oke,” katanya.
Ia tersenyum. Senyum lebar, terang, merah lipstik yang sempurna. Senyum Shafira yang biasa. Senyum yang membuat direktur PT Sumber Makmur tanda tangan kontrak tiga tahun.
“Oke,” ulangnya. “Itu jawaban yang jelas. Aku suka jawaban yang jelas.”
“Mbak...”
“Nggak apa-apa.” Ia tertawa. Keras. Riang. Tawa yang biasa terdengar dari Ruang Kyoto. “Lagian aku cuma iseng. Kamu tahu kan, aku suka iseng. Godain cowok di lift, duduk di meja orang, cium pipi. Itu hobi. Kayak orang lain koleksi perangko.”
Ia memutar kunci pintu pantry. Bunyi klik kecil.
Lalu ia berhenti. Tangannya masih di gagang pintu. Punggungnya menghadapku.
“Celine,” katanya, tanpa menoleh. Suaranya berubah. Tidak keras lagi. Tidak riang lagi. “Celine itu sahabatku sejak lima tahun. Dia nggak pernah kehujanan. Nggak pernah. Mamanya ngajarin dia dari kecil, cewek cantik nggak boleh kelihatan berantakan.”
Aku diam.
“Dia balik ke lantai 22 basah kuyup, maskaranya luntur ke mana-mana,” kata Shafira. “Dan menurut timnya, dia senyum terus. Sampai sekarang.”
Ia membuka pintu.
“Jangan bikin dia nyesel kehujanan,” katanya.
Lalu ia pergi. Hak sepatunya berbunyi di koridor. Tidak ragu-ragu. Tegas. Cepat. Lebih cepat dari biasanya.
Aku berdiri di pantry lantai 17 dengan gelas kopi yang sudah dingin di tangan.
Aku memikirkan matanya. Mata yang merah di pinggir. Mata yang tadi, sebelum ia tersenyum lebar dan tertawa keras, terlihat seperti mata seseorang yang sedang terluka.
Itu bukan mata orang yang sedang iseng.
Itu bukan mata orang yang sedang bermain.
Aku tahu Shafira yang mencetak kertas itu. Aku melihat namanya di log printer di hari kedua. SHAFIRA.N. TARGET_JEPANG.pdf. Aku tahu ia yang mengusulkan taruhan, karena hanya Shafira yang punya cukup uang untuk membayar hadiah ke Jepang dan cukup keberanian untuk mengusulkannya. Aku tahu ia yang tertawa paling keras di pantry lantai 19. Kayak bendera negara yang lagi berkabung.
Dan aku tahu, entah bagaimana, bahwa ia juga yang menggandeng lenganku di depan lift. Yang membeli plester. Yang menyimpan dasi dari seseorang yang tidak perlu diingat lagi. Yang tangannya gemetar sedikit di dadaku tadi, sebelum ia menariknya.
Aku tidak tahu bagaimana keduanya bisa benar di waktu yang sama.
Mungkin sama seperti Celine. Mungkin sama seperti Alea. Mungkin semua orang di gedung ini adalah dua orang di waktu yang sama, dan aku baru menyadarinya karena selama empat tahun aku tidak pernah cukup dekat dengan siapa pun untuk melihat orang kedua itu.
Aku memikirkan aturan nomor empat di catatan ponselku.
4. Kalau ada yang benar-benar terluka, berhenti.
Aku membuka ponsel. Membuka catatan itu. Menatap aturan nomor empat.
Alea sudah terluka. Hari Rabu, di bawah pohon ketapang, dengan telur dadar yang akhirnya bulat sempurna. Ia menangis di suatu tempat setelahnya. Aku tahu, karena matanya bengkak di lift sore itu, dan ia pura-pura tidak melihatku.
Shafira, mungkin, baru saja terluka. Di pantry ini. Dengan tangan yang turun pelan dari dadaku seperti daun yang jatuh.
Dan Celine. Celine yang memelukku di bawah hujan. Celine yang bertanya kenapa cuma mau. Celine yang, cepat atau lambat, akan tahu bahwa aku sudah tahu semuanya sejak hari kedua. Bahwa aku sudah membaca DM-nya sebagai mr_zero. Bahwa aku akan pergi ke Tokyo di hari keempat puluh lima.
Ketika ia tahu, ia juga akan terluka. Mungkin paling parah dari semuanya.
Aturan nomor empat sudah dilanggar dua kali. Mungkin tiga.
Seharusnya aku berhenti.
Aku menatap catatan itu sangat lama. Lalu aku menulis sesuatu di bawah aturan nomor tujuh.
8. Hari ke-30. Bilang semuanya. Ke Celine dulu.
Taruhan mereka berakhir di hari ketiga puluh. Lima hari lagi. Pada hari itu, siapa pun yang menang atau kalah, permainan ini selesai. Dan pada hari itu, aku akan berhenti bermain juga.
Aku akan bilang aku tahu. Aku akan bilang soal log printer. Soal pantry. Soal mr_zero. Soal Tokyo.
Dan setelah itu, apa pun yang terjadi, terjadi.
Aku menyimpan catatan itu. Meletakkan ponsel di saku jaket Simanjuntak. Membuang kopi dingin ke wastafel.
Lalu aku kembali ke mejaku, duduk, dan menatap kucing oranye di sudut monitor.
Kucing itu masih tersenyum. Pipinya masih merah muda. Papannya masih bertuliskan SEMANGAT KERJA!.
Aku tidak merasa semangat. Aku merasa seperti seseorang yang baru saja memasang bom waktu di bawah mejanya sendiri, dan menyetelnya untuk meledak lima hari lagi.
Bayu menggelinding ke mejaku.
“Bang,” katanya hati-hati. “Mbak Shafira tadi dari pantry, jalannya cepet banget. Mukanya merah. Abang diapain?”
“Nggak diapa-apain, Bay.”
“Abang yang ngapain dia?”
Aku menatap monitor.
“Bilang yang jujur,” kataku.
Bayu diam lama. Lalu, pelan, ia menggelinding kembali ke mejanya, mengambil papan tulis kecilnya, dan menulis sesuatu. Aku tidak melihatnya sampai sore, ketika aku berdiri untuk pulang dan melirik papan itu.
Kadang jujur itu juga bisa bikin orang nangis. — catatan buat Panduan v3.0
Aku menatap kalimat itu lama.
Lalu aku pulang, dengan jaket oranye milik keluarga besar Simanjuntak dan bom waktu di kepalaku, yang berdetak pelan dan teratur seperti kipas server.
Lima hari lagi.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis reading
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang