← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Sixteen

Junior yang Dibentak

POV: Shafira


Aku ke lantai 17 hari Senin dengan alasan yang sungguhan.

Itu perlu dicatat, karena dua minggu terakhir semua alasanku ke lantai 17 adalah alasan palsu. Wifi yang tidak lemot. Kopi yang tidak perlu diantar. Rapat koordinasi di lobi yang sebenarnya adalah rebutan.

Tapi Senin pagi itu, salah satu klien terbesarku, Grup Sentosa Retail, meminta data penjualan tiga tahun terakhir dalam format yang tidak bisa diekspor oleh sistem CRM kami. Rapatnya jam dua. Tim BD-ku sudah mencoba sejak jam tujuh. Gagal. Tiket bantuan ke IT dijawab otomatis: Antrean Anda nomor 14. Estimasi penanganan: 2 hari kerja.

Aku tidak punya dua hari kerja. Aku punya lima jam.

Jadi aku turun ke lantai 17 dengan laptop di tangan dan, untuk pertama kalinya, tanpa lipstik baru yang dioleskan di lift.

Ia sedang duduk di mejanya, kemeja flanel biru tua yang sama, mengetik sesuatu di terminal hitam. Kucing oranye masih di sudut monitor. Di samping keyboard, kotak bekal merah muda yang sudah kosong, dicuci bersih, menunggu dikembalikan.

“Butuh bantuan,” kataku. “Sungguhan. Bukan wifi.”

Ia menoleh. Menatap laptopku. Menatap wajahku. Sesuatu di matanya berubah sedikit, seperti ia bisa membedakan wajahku yang sedang bermain dan wajahku yang sedang panik.

“Duduk, Mbak.”

Aku duduk di kursi tamu. Menjelaskan masalahnya. Ia mendengarkan tanpa memotong, lalu mengambil laptopku dan membuka sesuatu yang tidak kumengerti. Jendela-jendela hitam. Barisan teks yang bergulir cepat.

“Bisa,” katanya. “Satu jam.”

“Satu jam?” Aku menatapnya. “Tim aku coba lima jam.”

“Tim Mbak coba ekspor lewat menu. Menunya memang nggak bisa. Harus ambil langsung dari basis datanya.”

Aku menyandarkan punggung ke kursi dan, untuk pertama kalinya sejak jam tujuh pagi, menghembuskan napas.


Empat puluh menit kemudian, pintu lift lantai 17 terbuka dengan keras.

Laki-laki yang keluar dari lift berumur sekitar lima puluh, perut buncit di balik kemeja batik, wajah merah seperti udang rebus. Aku mengenalnya dari rapat-rapat lintas divisi: Pak Rudy Hartono, Manager Logistik. Laki-laki yang suka memotong pembicaraan perempuan di rapat dengan kalimat maksud Ibu sebenarnya begini, lalu mengulang kalimat yang sama dengan suara lebih keras.

Ia berjalan lurus ke deretan meja IT, matanya mencari-cari. Lalu berhenti di depan meja Bayu.

“Kamu Bayu?”

Bayu mendongak. Wajahnya langsung pucat. “I-iya, Pak.”

“Kamu yang patching server gudang hari Jumat?”

“Iya, Pak. Sesuai jadwal...”

“Sesuai jadwal?” Suara Pak Rudy naik satu oktaf. Seluruh lantai 17 berhenti mengetik. “Sistem gudang saya mati dari jam enam pagi! Enam pagi! Empat puluh truk nggak bisa keluar! Pengiriman ke dua puluh toko telat! Kamu tahu berapa kerugiannya?”

“Pak, saya... saya sudah cek, patch-nya berhasil, Pak, Jumat malam semua normal...”

“Normal apanya? Mati! Sistemnya mati!” Pak Rudy menghantam meja Bayu dengan telapak tangannya. Gelas kopi Bayu bergetar. Papan tulis kecilnya jatuh ke lantai. “Anak kemarin sore! Baru kerja setahun sudah berani pegang server produksi! IT ini memang nggak pernah becus! Dari dulu! Kalian cuma bisa restart sama bilang coba lagi!”

Bayu menunduk. Bahunya gemetar. Aku bisa melihat ujung telinganya memerah, bukan karena malu yang manis seperti waktu Alea menyuapi Alfa. Merah yang lain. Merah orang yang sedang menahan air mata di depan dua puluh orang.

Aku mengenal merah itu.

Aku pernah punya merah yang sama, di kantin kampus, sembilan tahun lalu.


Semester tiga. Aku sembilan belas tahun, galak, ambisius, ketua himpunan mahasiswa manajemen yang terkenal suka memarahi panitia yang telat. Laki-laki itu namanya Reza. Kakak tingkat, anak teknik, populer, dengan senyum yang membuat perempuan-perempuan di kantin berhenti mengunyah.

Ia mendekatiku selama dua bulan. Mengantar pulang. Membawakan kopi. Mengajariku mengikat dasi untuk acara wisuda kakak tingkat, meskipun aku sudah bisa, karena aku pura-pura tidak bisa supaya ia berdiri dekat-dekat. Memberiku dasi sutra biru tua miliknya sebagai hadiah ulang tahun.

Lalu suatu siang, di kantin yang penuh, ia berdiri di atas kursi dan mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.

Guys! Lunas, ya! Dua bulan! Si galak dari Manajemen udah bilang sayang ke gue! Tiga ratus ribu per orang, transfer sekarang!

Teman-temannya bersorak. Seluruh kantin menoleh ke arahku. Lalu tertawa.

Aku berdiri di sana dengan nampan makan siang di tangan. Telingaku merah. Tanganku gemetar. Aku menunggu seseorang, siapa pun, berdiri dan bilang itu jahat.

Tidak ada yang berdiri.

Tidak satu pun.

Aku meletakkan nampan itu, berjalan keluar kantin dengan kepala tegak, dan tidak menangis sampai aku masuk ke toilet gedung rektorat di lantai lima, yang tidak pernah dipakai siapa pun. Aku menangis di sana dua jam. Lalu aku keluar, mencuci muka, mengoleskan lipstik merah yang baru kubeli minggu itu, dan memutuskan satu hal.

Aku tidak akan pernah lagi jadi orang yang ditertawakan.

Aku akan jadi orang yang tertawa.


“Pak.”

Suara itu tidak keras. Tidak lebih keras dari suara orang yang meminta garam di meja makan.

Tapi seluruh lantai 17 menoleh.

Alfa sudah berdiri dari kursinya. Laptopku masih terbuka di mejanya, bilah kemajuan ekspor data masih bergerak pelan. Ia berjalan ke meja Bayu, berhenti di samping Bayu, dan meletakkan satu tangan di bahu anak itu. Bukan menepuk. Hanya meletakkan. Seperti memasang tiang penyangga.

“Saya Alfa, Pak. Senior di tim ini. Boleh saya lihat masalahnya?”

Pak Rudy menatapnya dari atas ke bawah. Kemeja flanel. Rambut yang disisir jari. Wajah yang tidak terlihat seperti wajah orang yang punya kuasa.

“Masalahnya anak ini rusakin server gudang saya.”

“Boleh saya lihat lognya dulu, Pak?”

Ia tidak menunggu jawaban. Ia menunduk ke keyboard Bayu, mengetik beberapa perintah. Layar Bayu berubah. Barisan teks muncul, bergulir, lalu berhenti. Alfa membacanya selama beberapa detik.

“Patch Jumat malam berhasil, Pak,” katanya. Masih dengan suara yang sama. Datar. Tenang. “Server gudang normal sampai jam lima lewat empat puluh pagi tadi. Jam lima lewat empat puluh satu, ada yang login pakai akun admin gudang dan mengubah konfigurasi koneksi basis data. Setelah itu sistemnya mati.”

Ia memutar monitor Bayu ke arah Pak Rudy.

“Akun yang login itu akun GUDANG.SUPERVISOR01. Akun tim Bapak. Dari komputer di ruang kontrol gudang Cikarang.” Ia berhenti sebentar. “Kayaknya ada yang coba benerin sesuatu sendiri, Pak, terus nggak sengaja salah ubah. Itu bisa terjadi. Bukan salah siapa-siapa.”

Pak Rudy menatap layar. Wajahnya yang merah berubah warna. Merah ke ungu. Ungu ke pucat.

“Saya bisa kembalikan konfigurasinya dalam sepuluh menit, Pak. Truknya bisa jalan lagi.”

“...ya. Tolong.”

“Baik, Pak.” Alfa mengangguk. Lalu, sebelum menunduk lagi ke keyboard, ia menatap Pak Rudy langsung. Untuk pertama kalinya sejak ia berdiri, ada sesuatu di suaranya. Tidak lebih keras. Lebih padat. Seperti besi yang dipanaskan sampai tidak bisa ditekuk.

“Bapak boleh marah ke sistem. Ke saya juga boleh. Saya senior di sini, saya yang tanggung jawab.”

Ia menekan bahu Bayu sedikit.

“Tapi jangan ke dia, Pak. Dia yang lembur Jumat malam sampai jam dua pagi buat patching gudang Bapak. Sendirian. Supaya hari Senin truk Bapak bisa jalan.”

Hening.

Hening yang panjang dan berat dan memalukan, yang memenuhi seluruh lantai 17 seperti asap.

Pak Rudy membuka mulut. Menutupnya. Lalu, dengan suara yang jauh lebih kecil dari suaranya lima menit lalu, ia bergumam sesuatu yang mungkin maaf dan mungkin juga ya sudah, dan berbalik, dan berjalan kembali ke lift dengan langkah yang terlalu cepat.

Pintu lift tertutup.

Seseorang di tim network bertepuk tangan. Satu kali. Lalu ia sadar tidak ada yang ikut, dan berhenti dengan malu.

Alfa sudah kembali menunduk ke keyboard. Sepuluh menit, katanya. Sembilan, mungkin, dengan kecepatannya.

Bayu masih berdiri di sampingnya. Bahunya masih gemetar. Lalu, pelan, anak itu memungut papan tulis kecilnya dari lantai, mengusap debu dari permukaannya dengan lengan baju, dan meletakkannya kembali di meja. Matanya basah. Ia tidak mengusapnya.

“Bang,” bisiknya.

“Hmm.”

“Makasih.”

“Kamu nggak salah, Bay. Nggak perlu makasih.”


Aku duduk di kursi tamu di meja Alfa, tidak bergerak.

Laptopku di depanku. Bilah kemajuan ekspor sudah sampai sembilan puluh persen. Rapat dengan Sentosa Retail tinggal empat jam lagi. Aku seharusnya memikirkan rapat itu. Aku seharusnya menyiapkan presentasi.

Yang kupikirkan hanya kantin kampus, sembilan tahun lalu.

Seandainya ada satu orang. Hanya satu. Yang berdiri, yang berjalan ke sampingku, yang meletakkan tangan di bahuku dan bilang jangan ke dia. Dengan suara yang tidak perlu keras karena isinya sudah cukup berat.

Mungkin aku tidak akan membeli lipstik merah itu. Mungkin aku tidak akan berjanji untuk selalu jadi orang yang tertawa. Mungkin aku tidak akan duduk di Ruang Kyoto tiga minggu lalu dan mengusulkan taruhan, menunjuk foto seorang laki-laki di direktori karyawan, dan bilang dia sempurna.

Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu sebelumnya. Aku selalu berpikir taruhan ini hanya lelucon. Hiburan. Tiket ke Jepang untuk siapa pun yang paling pandai menggoda.

Tapi duduk di sini, di lantai 17, melihat laki-laki yang kupilih sebagai target berdiri di samping anak muda yang gemetar dan menjadi orang yang tidak pernah kumiliki di kantin itu, aku tiba-tiba melihat taruhan itu dengan cara yang berbeda.

Aku melihat diriku sendiri berdiri di atas kursi kantin. Mengangkat ponsel tinggi-tinggi. Menghitung uang.

Perutku bergolak.


Sepuluh menit kemudian, ia kembali ke mejanya. Bilah kemajuan di laptopku sudah penuh.

“Sudah, Mbak. File-nya di folder ini. Formatnya sudah sesuai yang klien minta.”

Aku menatap folder itu. Lalu menatapnya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kenapa apa, Mbak?”

“Kenapa kamu belain dia? Pak Rudy itu manager. Dia bisa bikin hidupmu susah. Kamu bisa aja diem. Benerin sistemnya, terus biarin Bayu yang kena marah.”

Ia menatapku. Matanya tenang. Cokelat gelap. Seperti air di dasar sumur.

“Karena nggak ada yang berdiri buat dia, Mbak,” katanya. “Seseorang harus berdiri.”

Aku berdiri dari kursi tamu. Aku tidak tahu kenapa. Kakiku bergerak sendiri. Lalu tanganku bergerak sendiri juga, meraih kerah kemeja flanelnya dengan dua tangan, menariknya mendekat, sampai wajahnya hanya sejengkal dari wajahku.

Seluruh lantai 17, yang baru saja selesai menahan napas karena Pak Rudy, menahan napas lagi.

“Kamu,” kataku. Suaraku keluar lebih kasar dari yang kumaksud. Lebih rendah. “Kamu bikin aku penasaran.”

Ia tidak menarik diri. Napasnya stabil. Menyebalkan sekali.

“Aku benci penasaran,” kataku.

Ia menatapku dari jarak sejengkal. Lalu sudut bibirnya bergerak. Hampir senyum. Tapi tidak sampai.

“Penasaran itu awal debugging, Mbak,” katanya.

Aku melepas kerahnya.

Aku tidak tahu apakah itu gombalan. Aku tidak tahu apakah itu lelucon IT. Aku tidak tahu apa artinya, dan aku benci tidak tahu.

Aku mengambil laptopku, berbalik, dan berjalan ke lift dengan langkah yang terlalu cepat, seperti Pak Rudy tadi. Di belakangku, aku mendengar Bayu berbisik dengan suara serak, “Bang, Mbak Shafira barusan mau nyium Abang atau mau mukul Abang?” dan Alfa menjawab, “Nggak tahu, Bay.” dan Bayu berkata, “Aku juga nggak tahu, Bang. Itu yang bikin serem.”


Rapat dengan Grup Sentosa Retail berjalan sempurna. Datanya lengkap. Formatnya tepat. Direktur mereka, seorang perempuan berumur enam puluhan dengan kalung mutiara, memuji kecepatan timku. Aku tersenyum dan berterima kasih dan tidak menyebut nama siapa pun dari lantai 17.

Malam itu, di mobilku, di basement B2, aku tidak langsung menyalakan mesin.

Aku membuka laci dasbor. Di dalamnya, di antara kartu parkir dan bungkus permen, ada map kulit cokelat yang kubawa ke mana-mana sejak hari pertama taruhan. Aku membukanya.

Selembar kertas. Dilipat dua. Sedikit lecek di ujungnya.

TARGET JEPANG — PROYEK 30 HARI

Di bawah nama Alfa Danuarta, tulisan tangan Celine yang miring dan rapi. Nggak bakal baper, nggak bakal ngadu. Aman. Digarisbawahi dua kali. Di bawahnya, tulisan Alea yang bulat-bulat dan sedikit miring ke kanan. Resign tgl 45 — makin aman. Dengan gambar hati kecil di ujungnya, karena Alea selalu menggambar hati di ujung semua tulisannya, bahkan di formulir pajak.

Aku menatap kertas itu.

Aku yang mencetaknya. Aku yang mengusulkannya. Aku yang bilang dia sempurna. Aku yang bilang kasihan juga sih, kayaknya baru pertama kali ada yang ngechat dia selain server.

Di kantin kampus sembilan tahun lalu, Reza berdiri di atas kursi. Hari ini, tanpa sadar, aku sudah naik ke atas kursi yang sama.

Bedanya, laki-laki yang kupilih tidak tahu.

Belum tahu.

Tanganku bergerak ke tepi kertas itu. Jari-jariku menjepit kedua sisinya. Satu tarikan, dan kertas itu akan robek jadi dua. Dua tarikan, jadi empat. Lalu aku bisa membuangnya ke tempat sampah di pos Pak Udin, dan taruhan ini selesai, dan tidak ada yang perlu tahu.

Tapi kalau aku merobeknya, aku harus menjelaskan pada Celine dan Alea kenapa. Dan aku tidak punya penjelasan. Aku tidak tahu kenapa perutku bergolak. Aku tidak tahu kenapa aku menarik kerah kemejanya tadi siang. Aku tidak tahu kenapa satu kalimat datar, seseorang harus berdiri, membuatku ingin menangis di mobil seperti di toilet gedung rektorat sembilan tahun lalu.

Aku melipat kertas itu kembali. Memasukkannya ke map. Menyimpan map itu di laci dasbor.

Lalu aku menyalakan mesin, menyalakan musik keras-keras, dan menyetir keluar dari basement.

Di pos jaga, Pak Udin melambai. Aku membalasnya dengan klakson pendek.

Aku tidak sadar bahwa itu adalah kesempatan pertama yang kulewatkan.

Aku juga tidak tahu bahwa kesempatan seperti itu tidak datang berkali-kali.