← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Forty

Kode Etik

POV: Alea


Senin pagi setelah town hall, aku mencetak tiga lembar kertas.

Lembar pertama: email Senin malam, hari kedua puluh sembilan, pukul sebelas lewat sebelas. Dengan ini saya mengajukan permohonan pembatalan pengunduran diri. Saya memutuskan untuk tetap bekerja di Trista Group. Terima kasih, Mbak Alea, untuk semuanya.

Lembar kedua: email Selasa malam, hari ketiga puluh, pukul sepuluh lewat empat puluh dua. Mohon abaikan email saya sebelumnya.

Lembar ketiga: surat yang kutulis sendiri semalaman. Dua halaman. Kutulis tangan, karena setiap kali aku mencoba mengetiknya, aku menghapusnya. Tulisan tangan tidak bisa dihapus semudah itu. Tulisanku bulat-bulat, sedikit miring ke kanan. Aku tidak menggambar hati kecil di ujungnya.

Aku tidak akan pernah menggambar hati kecil di ujung apa pun lagi.

Aku memasukkan tiga lembar itu ke map plastik bening. Mengikat rambutku tanpa jepit. Memakai blus putih. Turun dari lantai 19 ke lantai 30, ke ruangan Direktur Operasional.

Bu Ratih sudah ada di sana. Aku memintanya datang. Ia atasanku. Ia berhak tahu dari mulutku sendiri, bukan dari laporan.


Pak Hendra membaca surat itu dua kali.

Ia membacanya pelan, seperti membaca kontrak yang isinya tidak ia sukai. Bu Ratih membaca dari sampingnya. Wajah Bu Ratih berubah di paragraf kedua, ketika aku menulis Saya membocorkan data pengunduran diri seorang karyawan, yang ditandai rahasia atas permintaan karyawan tersebut, kepada dua orang di luar divisi HR, di pantry lantai 19, pada hari keenam. Dan berubah lagi di paragraf ketiga, ketika aku menulis Saya menuliskan informasi tersebut di atas dokumen yang kemudian tersebar ke seluruh perusahaan dan ke publik, sehingga data pengunduran diri karyawan tersebut diketahui ribuan orang sebelum tanggal efektifnya.

Pak Hendra meletakkan surat itu. Lalu mengambil lembar pertama dan kedua. Dua email. Dua puluh tiga jam di antaranya.

Ia menatap kedua email itu lama.

“Bu Alea,” katanya akhirnya. “Ibu tahu ini kapan?”

“Rabu pagi, Pak. Hari ketiga puluh satu.”

“Dan Ibu tidak memberitahu siapa pun.”

“Tidak, Pak.”

“Kenapa?”

Aku menatap meja kayu di depanku. Meja direktur yang besar dan mengilap, dengan papan nama kuningan dan foto keluarga dalam bingkai perak. Istri Pak Hendra di foto itu memakai baju karate.

“Karena saya takut, Pak,” kataku. “Takut kalau saya bilang, semua orang tahu bahwa yang bikin dia batalin keputusan tinggalnya itu tulisan saya. Bukan cuma tulisan Kak Celine. Tulisan saya juga.”

Aku menelan ludah.

“Dan karena saya pikir, kalau saya diam, nggak ada yang perlu sakit lagi.”

Pak Hendra diam.

“Itu kedua kalinya saya mikir begitu, Pak,” kataku. “Pertama kali di hari kelima. Waktu saya proses surat resign-nya. Toh dia pergi, nggak ada yang sakit. Itu kenapa saya bocorin. Saya pikir dia bakal pergi, jadi nggak apa-apa.” Suaraku pecah. “Dua kali saya pikir saya baik. Dua kali saya yang bikin orang sakit.”


Keputusannya datang hari Kamis.

Surat peringatan kedua. Dicopot dari divisi HR Operations, karena pelanggaran kode etik kerahasiaan data karyawan. Dipindahkan ke divisi Administrasi Umum, lantai tiga, bagian arsip dan dokumen. Gaji tidak dipotong. Jenjang karier direset.

Bu Ratih yang membacakannya. Suaranya datar, suara HR, suara yang ia pakai untuk membacakan kebijakan baru di town hall dengan slide PowerPoint yang terlalu banyak teks. Tapi di akhir, setelah ia selesai membaca dan meletakkan suratnya, ia menatapku dengan mata merah.

“Alea,” katanya. Bukan Bu Alea. Bukan Saudari Alea. Alea. “Lima tahun kamu di tim saya. Kamu rekrut dua puluh tim promosi dalam seminggu buat kampanye musim panas. Kamu yang pertama datang kalau payroll error.”

“Payroll error yang terakhir,” kataku pelan, “bukan saya yang benerin, Bu.”

Bu Ratih menatapku. Ia tahu. Seluruh lantai 19 tahu. Bu Wiwik bilang begitu, minggu lalu, sambil meletakkan dua bungkus permen jahe di mejaku. Satu lantai tahu, Le. Malam itu lampu lantai ini nyala sampai jam dua belas. Satpam bilang ada orang IT naik.

“Saya tahu, Le,” kata Bu Ratih. “Itu yang bikin ini susah.”


Aku membereskan mejaku hari Jumat.

Tidak banyak. Mejaku tidak pernah banyak. Pot kaktus kecil bernama Pak Bambang. Foto Mochi, kucingku yang kabur tiga hari waktu SMA lalu ditemukan di atap tetangga. Tumpukan berkas cuti yang sekarang menjadi tanggung jawab orang lain. Satu kotak bekal merah muda.

Bu Wiwik berdiri dari mejanya ketika aku mengangkat kardus.

Lima tahun kami duduk bersebelahan. Lima tahun kami tidak pernah benar-benar bicara, selain soal formulir cuti dan jadwal arisan HR. Sejak hari ke dua puluh empat, setiap pagi, ada permen jahe di mejaku. Satu bungkus, lalu dua.

Bu Wiwik berjalan ke mejaku. Menurunkan kacamatanya yang tergantung di rantai manik-manik. Menatapku dari atas lensa.

Lalu ia memasukkan sesuatu ke dalam kardusku. Satu kantong plastik. Penuh permen jahe. Mungkin lima puluh bungkus.

“Buat di lantai tiga,” katanya. “Lantai tiga dingin. Dekat auditorium. AC-nya rusak dari tahun lalu, nyalanya kencang terus.”

“Bu...”

“Hm.” Ia memakai kacamatanya lagi. Kembali ke mejanya. Duduk. Menatap layar.

Lalu, tanpa menoleh, ia berkata dengan suara yang lebih pelan dari biasanya:

“Le. Yang paling berani di lantai ini bukan yang nggak pernah salah. Yang paling berani itu yang turun ke lantai tiga puluh sendiri, bawa surat tulisan tangan, buat laporin dirinya.”

Aku tidak bisa menjawab.

Aku mengangkat kardus. Pak Bambang si kaktus bergoyang di atasnya.


Lantai tiga memang dingin.

Ruang arsip di samping auditorium. Rak-rak besi tinggi penuh map-map berwarna. Bau kertas tua dan debu. Satu meja di dekat jendela kecil yang menghadap gedung parkir. Satu komputer tua yang menyala dengan bunyi seperti pesawat lepas landas.

Pekerjaanku: memindai dokumen lama, memberi label, menyusun ulang map-map yang sudah dua puluh tahun tidak disentuh. Pekerjaan yang dulu diberikan pada pegawai magang yang tidak tahu harus ditaruh di mana.

Hari pertama, aku memindai empat ratus lembar formulir cuti dari tahun 2009.

Hari kedua, Bayu datang.

Ia muncul di pintu ruang arsip pukul dua belas, membawa dua kotak nasi dari kantin dan papan tulis kecil di bawah ketiaknya. Ia meletakkan nasi di mejaku, menarik kursi lipat dari sudut ruangan, dan duduk.

“Mbak Alea,” katanya. “Aku jadi nonton konser.”

“Yang vokalisnya mau jadi PNS?”

“Iya, Mbak. Konser perpisahan.” Bayu membuka kotak nasinya. “Mbak tahu nggak, di akhir konser, vokalisnya nangis. Dia bilang makasih udah dengerin kami lima tahun, mulai Senin saya kerja di kelurahan. Satu stadion nangis, Mbak. Aku juga.”

Aku tertawa. Tawa pertama sejak hari Senin.

“Terus,” kata Bayu, mengunyah, “dia nyanyi lagu terakhir. Lagu lama. Yang dinyanyiin Bang Alfa di karaoke.”

Tawaku berhenti.

Bayu meletakkan sendoknya. Menatapku.

“Aku rekam, Mbak,” katanya pelan. “Buat Bang Alfa. Tapi aku nggak tahu mau kirim ke mana. Bang Alfa nggak ada di grup mana pun lagi. Nomornya ganti. Aku cuma punya email pribadinya, yang dia kasih ke aku hari terakhir, katanya buat darurat aja, Bay.”

“Kamu kirim?”

Bayu menggeleng. “Belum. Aku nggak tahu ini darurat atau bukan.”

Kami makan dalam diam. Nasi ayam bakar dari kantin. Sambal matah. Aku memakannya sampai habis.

Sebelum pergi, Bayu menulis sesuatu di papan tulis kecilnya dan meletakkannya di mejaku, berdiri, menghadap ke arahku.

LANTAI 3 JUGA WILAYAH KELUARGA BESAR SIMANJUNTAK. — Bang Togar bilang gitu. Aku cuma nulis.

Hari ketiga, seseorang dari tim gedung datang membawa kursi baru untuk mejaku. Kursi kerja dengan sandaran yang empuk, roda yang lancar, tidak goyang sama sekali. Ada stiker di bagian bawah dudukannya. Inventaris IT Infrastructure Lt. 17 — dipinjamkan permanen.

Kursiku yang lama memang goyang. Aku tidak memberi tahu siapa pun.

Aku duduk di kursi itu dan menangis di antara rak-rak arsip, di antara formulir cuti tahun 2009, dengan bau kertas tua dan debu dan AC yang terlalu kencang.


Hari Jumat, aku mengirim pesan ke Kak Celine.

Aku: Kak, bisa ke tangga darurat lantai 19? Jam 5. Aku mau ngomong sesuatu.

Celine: Iya, Le.

Aku tidak memilih atap. Aku tidak punya kartu. Dan atap bukan tempatku.

Tangga darurat lantai 19. Tempat yang tidak dipakai siapa pun kecuali orang yang ingin menangis atau menelepon pacar diam-diam. Tempat Kak Celine memelukku sehari sebelum hari ketiga puluh, ketika ia bilang ia akan jujur, dan aku memilih diam soal Tokyo.

Kak Celine datang pukul lima kurang dua. Blus abu-abu. Rambut diikat rendah. Tanpa lipstik. Wajahnya lebih kurus dari dua minggu lalu.

Ia duduk di anak tangga. Aku duduk di sampingnya.

Aku mengeluarkan map plastik bening dari tasku. Lembar pertama. Hanya lembar pertama.

Aku menyerahkannya padanya.


Kak Celine membacanya.

Aku melihat matanya bergerak dari baris ke baris. Tanggal. Jam. Hari kedua puluh sembilan, pukul 23.11. Dengan ini saya mengajukan permohonan pembatalan pengunduran diri.

Matanya berhenti.

Saya memutuskan untuk tetap bekerja di Trista Group.

Matanya tidak bergerak lagi.

“Le,” bisiknya. “Ini...”

“Senin malam, Kak,” kataku. “Malam sebelum Dion. Malam sebelum fotonya. Malam setelah kalian hampir, di atap. Setelah Bang Togar dobrak pintu.”

Kak Celine menatap kertas itu.

“Dia nolak Tokyo, Kak,” kataku. Suaraku pecah, tapi aku terus bicara. Aku sudah dua kali diam. Aku tidak akan diam yang ketiga kalinya. “Kaizen Labs. Gaji yang dia sendiri harus hitung nolnya dua kali. Kota yang nggak pernah dia kunjungi. Orang-orang yang kenal namanya sebelum kenal mukanya. Dia nolak semuanya. Senin malam.”

Aku menunjuk tanda waktu di bagian atas kertas.

“Buat Kakak.”

Kak Celine tidak bergerak.

Lalu aku mengeluarkan lembar kedua. Email Selasa malam. Meletakkannya di atas lembar pertama.

Mohon abaikan email saya sebelumnya.

Hari ketiga puluh, pukul 22.42.

Kak Celine menatap dua kertas itu. Satu di atas yang lain. Dua puluh tiga jam di antaranya.

Dua puluh tiga jam. Satu foto. Satu kata, digarisbawahi dua kali. Satu baris dengan gambar hati kecil di ujungnya. Dua puluh kamera ponsel. Saya juga cuma main.

Kak Celine mengeluarkan suara.

Bukan tangisan. Sesuatu yang lain. Seperti napas yang tertahan terlalu lama dan akhirnya keluar dari tempat yang salah. Ia membungkuk ke depan, memeluk lututnya, dua kertas itu remuk di antara dadanya dan lututnya, dan bahunya mulai bergetar.

Lalu suaranya keluar. Pelan dulu. Lalu tidak pelan lagi.

Aku belum pernah mendengar Kak Celine menangis seperti itu. Lima tahun. Tidak di karaoke jam tiga pagi. Tidak di malam peluncuran Trista Lifestyle yang hampir gagal. Tidak di lobi lift lantai 22 dua minggu lalu, ketika Kak Shafira bilang Kak Celine menangis diam-diam di depan semua orang.

Ini bukan diam-diam.

Ini suara seseorang yang baru saja tahu bahwa pintu yang ia kira terkunci dari luar, ternyata sudah dibuka dari dalam. Dan ia sendiri yang menutupnya kembali.


Aku memeluknya.

Aku memeluknya di tangga darurat lantai 19, dan aku menangis juga, dan aku bicara di antara tangisku karena aku tidak mau diam lagi.

“Aku tahu dari hari Rabu, Kak,” kataku. “Hari ketiga puluh satu. Aku buka email HR dan dua-duanya ada di sana. Aku tahu, dan aku nggak bilang. Seminggu. Dua minggu. Di Ruang Kyoto, waktu dia bilang terima kasih udah milih saya, aku tahu. Aku hampir bilang. Aku nutup mulutku.”

Kak Celine tidak berhenti menangis.

“Aku pikir, biar Kak Celine nggak sakit sekarang.” Aku tertawa, basah, pecah. “Itu kalimat yang sama, Kak. Kalimat yang sama yang aku pikir waktu bocorin resign-nya. Toh dia pergi, nggak ada yang sakit. Aku pikir aku baik. Aku selalu pikir aku baik.”

Aku memeluknya lebih erat.

“Maafin aku, Kak. Aku yang nulis makin aman. Kalau aku nggak nulis itu, mungkin dia baca kertasnya dan cuma lihat tulisan Kakak, dan mungkin dia nggak... mungkin dia...”

“Le.” Suara Kak Celine keluar dari balik lututnya, serak, hampir tidak terdengar. “Le. Berhenti.”

Aku berhenti.

Kak Celine mengangkat kepalanya. Wajahnya basah. Matanya merah. Maskara tidak ada untuk luntur, karena ia tidak memakainya lagi sejak hari ketiga puluh.

“Kamu bilang ke aku,” katanya. “Hari Sabtu. Di telepon. Belajar sup ayamnya. Resep ibunya. Jahenya di akhir.”

Aku mengangguk.

“Kamu suka dia juga, Le. Kamu ditolak. Kamu nangis di toilet. Dan kamu telepon aku, dan kamu suruh aku belajar sup ibunya.” Kak Celine menatapku. “Siapa yang ngelakuin itu?”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kamu bukan orang jahat, Le,” katanya. “Kamu cuma orang yang terlalu takut orang lain sakit. Sampai lupa kalau diam juga bisa bikin sakit.”

Ia meraih tanganku. Menggenggamnya.

“Aku juga,” katanya. “Aku bilang cuma main karena aku takut dia sakit. Shafira simpan kertasnya karena dia takut kita sakit. Kita bertiga, Le. Kita bertiga sama-sama takut dia sakit. Dan kita bertiga yang bikin dia paling sakit.”


Kami duduk di tangga darurat lantai 19 sampai lampu neon di atas kami berkedip dan menyala dalam mode malam.

Dua kertas di pangkuan Kak Celine, remuk dan basah di beberapa bagian. Ia tidak meluruskannya.

“Le,” katanya akhirnya. “Kamu masih sayang dia?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

Aku memikirkan bawah pohon ketapang. Telur dadar bulat sempurna. Enak. Mbak berhak dapat orang yang tinggal. Aku memikirkan hoodie abu-abu yang kutinggalkan di meja kosong di pojok lantai 17, di bawah stiker kucing oranye yang kutempel sendiri. Lengannya masih tergulung tiga lipatan. Aku tidak membukanya sampai hari terakhir.

“Iya, Kak,” kataku.

Kak Celine tidak berkata apa-apa.

“Tapi bukan kayak dulu,” kataku. “Aku udah lepasin dia waktu di bawah pohon ketapang. Waktu dia bilang bukan cuma soal pergi. Aku cuma belum sadar aku udah lepasin.” Aku menatap tangan kami yang saling menggenggam. “Sekarang aku sadar.”

Aku menunjuk kertas pertama di pangkuannya. Saya memutuskan untuk tetap bekerja di Trista Group.

“Dia nggak batalin resign buat aku, Kak,” kataku. “Dia batalin buat Kakak. Aku cuma orang pertama yang dia kasih tahu. Karena aku yang megang suratnya.”

Aku tertawa kecil.

“Terima kasih, Mbak Alea, untuk semuanya.” Aku mengulang kalimat itu pelan. “Itu cara dia bilang selamat tinggal ke aku. Sebelum aku sempat tahu dia mau pergi lagi.”

Kak Celine menatapku lama.

“Le,” katanya. “Maafin aku.”

“Buat apa, Kak?”

“Buat lega. Hari Rabu itu. Waktu kamu mundur.”

Aku tertawa. Tawa yang basah, tapi kali ini tidak pecah di tengah.

“Aku juga bakal lega kalau jadi Kakak,” kataku. “Aku udah bilang itu.”


Malam itu, di rumah, aku berdiri di dapur pukul sembilan.

Mama dan Papa sedang menonton berita di ruang tengah. Volume terlalu keras, seperti biasa.

Aku memecahkan dua butir telur ke mangkuk. Tidak ada kulit yang ikut masuk. Aku sudah tidak pernah lagi memasukkan kulit telur sejak percobaan ketiga.

Seledri, diiris halus. Sejumput. Bukan segenggam.

Aku menuang telur ke wajan. Minyak tidak meletup. Aku sudah tahu kapan wajannya cukup panas.

Garam di akhir. Waktu telurnya hampir matang. Delapan belas butir. Aku tidak menghitungnya lagi pakai pinset. Tanganku sudah tahu.

Telur dadar itu jadi. Bulat sempurna. Kuning keemasan, dengan titik-titik hijau seledri.

Aku membawanya ke ruang tengah dengan dua piring nasi. Meletakkannya di meja di depan Papa.

Papa menatap telur dadar itu. Lalu menatapku.

“Buat siapa, Le?”

“Buat Papa.”

Papa mengambil sendok. Memotong sepotong. Memakannya. Mengunyah pelan.

Aku menahan napas. Kebiasaan lama.

Papa menelan.

“Enak,” katanya.

Aku menatapnya.

“Enak beneran, Pa? Atau Papa bilang enak biar aku nggak nangis?”

Papa meletakkan sendoknya. Menatapku dari atas kacamata bacanya, lama, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Garamnya sedikit kebanyakan,” katanya.

Aku tertawa.

Aku tertawa sampai Mama menoleh dari televisi. Sampai air mataku keluar dan aku harus berpegangan pada sandaran sofa. Sampai Papa, yang tidak pernah tertawa sejak pensiun, ikut tertawa juga, dan Mama bertanya apa yang lucu, dan tidak ada dari kami yang bisa menjelaskan.

“Tapi enak, Le,” kata Papa di antara tawa. “Garamnya kebanyakan, tapi enak.”

Aku duduk di lantai ruang tengah, di samping kaki Papa, dan makan telur dadarku sendiri dengan nasi putih.

Delapan belas butir garam. Sedikit kebanyakan.

Seseorang pernah mengajariku itu. Seseorang yang tidak bisa berbohong bahkan untuk membuat orang lain senang.

Ia sudah di Tokyo sekarang. Ia tidak akan pernah makan telur dadarku lagi.

Tapi setiap kali aku memasaknya, aku akan memasukkan garamnya di akhir.

Sejumput. Bukan segenggam.