Chapter Two
Log Printer
POV: Alfa
Sistem jarang berbohong. Manusia yang sering.
Itu bukan kalimat bijak. Itu cuma pengamatan dari empat tahun duduk di meja pojok lantai 17, di antara rak server yang berdengung dan jendela yang menghadap tembok gedung sebelah. Sistem memberi tahu apa yang terjadi, kapan, dan dari mana. Manusia memberi tahu apa yang mereka ingin kamu percaya.
Aku lebih nyaman dengan sistem.
Pagi itu dimulai seperti empat tahun pagi sebelumnya. Kopi hitam dari mesin pantry yang rasanya seperti air rebusan kardus. Login ke dashboard monitoring. Tiga notifikasi kecil: disk server cadangan hampir penuh, satu akses VPN gagal dari akun staf keuangan yang lupa kata sandinya lagi, dan pesan dari Bang Togar.
Bang Togar: Fa, backup DB semalam aman?
Aku mengetik satu kata.
Aku: Aman.
Bang Togar: Mantap. Kau ini irit kata kali. Tapi aku suka.
Aku tidak membalas. Bang Togar tidak pernah butuh balasan. Ia butuh kepastian bahwa dunia masih berputar dan server masih hidup, dan satu kata itu sudah cukup.
Lalu hal pertama yang tidak biasa terjadi.
Monitorku punya stiker.
Stiker kucing oranye gemuk dengan pipi merah muda, menempel tepat di sudut kanan atas bingkai monitor, di tempat yang pasti kulihat setiap kali menyalakan layar. Kucing itu memegang papan kecil bertuliskan SEMANGAT KERJA! dengan huruf bulat-bulat.
Aku menatapnya lama.
Di belakangku, kursi beroda berdecit. Bayu Pradana, junior IT yang mejanya di seberangku, menggelinding mendekat dengan wajah seperti orang yang baru melihat UFO.
“Bang. Bang Alfa. Itu apa.”
“Kucing.”
“Aku tahu itu kucing, Bang! Aku punya mata! Maksudku dari siapa?” Bayu menunjuk stiker itu dengan jari gemetar. “Aku datang jam tujuh lewat lima. Waktu aku datang, kucing itu udah ada. Dan tahu siapa yang aku lihat jalan keluar dari lantai kita jam tujuh kurang?”
Aku tidak bertanya. Bayu tidak pernah butuh pertanyaan untuk melanjutkan cerita.
“Mbak Alea! Dari HR! Yang jepitnya bebek!” Bayu memegangi kepalanya dengan dua tangan. “Bang, Mbak Alea itu peringkat dua di polling diam-diam anak lantai 17 soal ‘cewek yang paling pengin diajak makan siang tapi nggak berani’. Peringkat dua, Bang! Peringkat satunya Mbak Celine, peringkat tiganya Mbak Shafira. Dan kemarin...”
Ia berhenti. Matanya membesar.
“Kemarin Gilang dari tim network bilang lihat Mbak Shafira ngomong sama Abang di lift.”
“Dia minta wifi diperbaiki.”
“Mbak Shafira nggak pernah minta wifi diperbaiki ke siapa-siapa! Dia nelepon Bang Togar langsung terus marah-marah! Bang!” Bayu menggoyang-goyang lenganku. “Abang pakai pelet apa? Aku juga mau. Aku bayar. Aku cicil.”
“Bay.”
“Ya, Bang?”
“Server cadangan disknya penuh. Bersihin log yang lebih dari sembilan puluh hari.”
Bayu menatapku dengan wajah orang yang dikhianati, lalu menggelinding kembali ke mejanya sambil bergumam, “Dunia nggak adil. Dunia nggak adil sama sekali.”
Aku kembali menatap kucing oranye itu.
Ada satu pola yang sedang terbentuk, dan aku belum suka bentuknya.
Pola kedua muncul pukul sembilan lewat dua belas menit.
Aku turun ke lobi untuk mengecek akses pintu putar yang macet sejak semalam. Pak Udin, satpam basement yang hari itu kebagian jaga lobi, sudah berdiri di samping pintu putar dengan ekspresi orang yang telah berjuang sendirian terlalu lama.
“Mas Alfa, ini pintu kayaknya kesurupan. Kartu masuk, dia muter setengah, terus mundur lagi. Kayak orang ragu mau nikah.”
“Pembaca kartunya kotor, Pak.”
“Oh, kotor.” Pak Udin mengangguk dalam-dalam. “Jadi bukan kesurupan. Saya kira kesurupan, Mas. Pintu ini sudah tua. Pintu tua itu banyak dendamnya.”
Aku sedang berjongkok membersihkan sensor ketika merasakannya. Bukan suara. Lebih seperti perubahan tekanan udara. Orang-orang di sekitar lobi melambat.
Aku menoleh.
Perempuan yang kemarin berdiri paling belakang di lift sedang berjalan melintasi lobi. Tinggi. Blus putih, celana panjang krem, rambut panjang bergelombang yang bergerak seperti di iklan sampo. Tas kulit cokelat di lengan. Setiap laki-laki di jalurnya berhenti melakukan apa pun yang sedang mereka lakukan selama beberapa detik. Pak Udin bahkan menurunkan tongkat pemeriksanya.
Aku tahu namanya. Semua orang di gedung ini tahu namanya.
Celine Aurelia. Brand Strategy, lantai 22.
Ia melewatiku. Lalu, di langkah ketiga, berhenti dan menoleh.
Ia tersenyum padaku.
Bukan senyum sopan ke orang asing. Senyum yang dihitung. Sudut bibirnya naik tepat sebanyak yang dibutuhkan untuk terlihat hangat tanpa terlihat berusaha. Senyum yang mungkin sudah dipakai ratusan kali dan selalu berhasil.
“Pagi,” katanya. “Kamu yang kemarin di lift, kan?”
“Iya, Mbak.”
“Wifi lantai 21 jadi diperbaiki?”
“Sudah, Mbak. Router-nya overheat.”
“Oh.” Senyumnya bertahan satu detik lebih lama, seperti menunggu sesuatu. Aku tidak tahu apa yang ia tunggu. Lalu ia mengangguk kecil dan melanjutkan langkah ke arah lift.
Pak Udin menatapku dengan mulut sedikit terbuka.
“Mas,” bisiknya. “Mas Alfa. Mbak Celine barusan nyapa Mas?”
“Nanya wifi, Pak.”
“Mas, Mbak Celine itu kerja di sini tiga tahun, saya jaga di sini tiga tahun. Dia nggak pernah nanya wifi ke siapa-siapa. Dia nggak pernah nanya apa-apa ke siapa-siapa. Orang-orang yang nanya ke dia.” Pak Udin menggeleng dengan khidmat. “Pintu ini bukan satu-satunya yang kesurupan hari ini, Mas.”
Aku menyelesaikan sensor itu dan kembali ke lantai 17.
Tiga perempuan. Tiga departemen berbeda. Empat tahun aku bekerja di gedung ini dan tidak satu pun dari mereka pernah menatapku lebih lama dari menatap tempat sampah di koridor. Lalu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam: satu ketukan di dada di dalam lift, satu stiker kucing di monitor, satu senyum di lobi.
Satu kejadian adalah kebetulan. Dua adalah kebetulan yang lucu.
Tiga adalah data.
Aku tidak membuka file siapa pun. Itu aturan pertamaku, bahkan sebelum aturan kantor. Akses admin bukan izin untuk membaca hidup orang lain.
Tapi aku mengelola server cetak seluruh gedung, dan server cetak mencatat setiap pekerjaan cetak: nama file, akun pengirim, printer tujuan, waktu, jumlah halaman. Aku membukanya setiap pagi untuk mengecek antrean macet. Pagi itu antreannya bersih. Aku tetap menggulir ke kemarin sore.
Barisnya ada di sana, di antara laporan keuangan dan materi presentasi.
16:42 | SHAFIRA.N | PRN-21-KYOTO | TARGET_JEPANG.pdf | 1 hal.
Aku menatap baris itu cukup lama.
Lalu, karena kebiasaan, aku membuka sistem pemesanan ruang rapat. Ruang Kyoto, lantai 21, kemarin pukul 15.30 sampai 17.00. Dipesan oleh Alea Putri Kinanti. Tiga peserta.
Judul rapat: Proyek 30 Hari.
Aku menyandarkan punggung ke kursi.
Kepingan-kepingannya tidak butuh waktu lama untuk menyatu. Tiga perempuan paling sering dibicarakan di gedung ini. Satu ruang rapat. Satu file berjudul Target Jepang. Satu proyek yang lamanya tiga puluh hari. Lalu, mulai sore itu, ketiganya tiba-tiba menemukan alasan untuk mendekati laki-laki yang empat tahun tidak pernah mereka lihat.
Aku tidak butuh isi file itu untuk tahu apa yang tertulis di dalamnya. Aku cukup tahu siapa yang ada di dalam kalimat target.
Aneh. Aku pikir aku akan marah.
Aku tidak marah. Yang kurasakan lebih mirip dengan apa yang kurasakan waktu kecil, ketika guru membagi kelompok untuk tugas dan aku selalu dipilih paling akhir. Bukan karena aku bodoh. Justru karena aku pintar, dan anak-anak lain tahu aku akan mengerjakan semuanya tanpa protes. Mereka memilihku bukan karena ingin bersamaku. Mereka memilihku karena aku tidak merepotkan.
Aku sudah biasa jadi orang yang dipilih karena tidak berisiko.
Kucing oranye di monitor masih memegang papan SEMANGAT KERJA!-nya. Aku menatapnya dan, entah kenapa, hampir tertawa.
Siangnya aku naik ke atap.
Atap lantai 32 Trista Tower secara resmi bukan area karyawan. Pintunya dikunci, dan kuncinya dipegang tim gedung. Tapi panel akses pintunya terhubung ke sistem yang kurawat, dan empat tahun lalu, di minggu pertamaku bekerja, aku menemukan bahwa tidak ada satu pun orang yang pernah naik ke sana. Sejak itu, setiap jam makan siang, aku naik dengan roti dan sebotol air, duduk di dekat unit AC raksasa yang menutupi pandangan dari kamera, dan menikmati satu jam tanpa manusia.
Angin di atas lebih bersih. Jakarta dari ketinggian terlihat seperti sesuatu yang bisa diatur.
Aku membuka ponsel.
Ada sisi lain dari hidupku yang tidak diketahui siapa pun di gedung ini.
Di sana, aku punya nama lain. Bukan staf IT lantai 17 yang tidak pernah datang ke pesta. Di sana aku mr_zero.
Repo zero-guard milikku, perangkat keamanan sumber terbuka yang kubangun pelan-pelan selama enam tahun di malam-malam yang tidak bisa tidur, pagi itu bertambah dua ratus bintang lagi. Di forum developer yang kuikuti sejak kuliah, seseorang dari Jerman menulis utas panjang berjudul Kenapa saya percaya kode mr_zero lebih dari vendor bersertifikat. Di bawahnya, seratus empat puluh balasan. Sebagian besar memujiku. Sebagian lagi bertanya apakah mr_zero manusia sungguhan atau satu tim besar yang menyamar.
Aku tidak membalas. Aku jarang membalas apa pun di depan publik. mr_zero bicara lewat kode.
Hanya ada satu jenis pesan yang selalu kubalas: DM dari orang yang butuh bantuan sungguhan. Ada beberapa yang sudah bertahun-tahun bertukar pesan denganku. Satu di antaranya, akun bernama celestial_c, perempuan yang tahun lalu nyaris kehilangan peluncuran kampanye perusahaannya karena serangan bot, sampai seseorang di timnya memasang zero-guard. Sejak itu ia rajin mengirim pesan. Kadang tentang pekerjaan. Lebih sering tentang hal-hal yang, katanya, tidak bisa ia ceritakan ke siapa pun di kantornya karena semua orang di sana “terlalu sibuk melihat wajahnya”.
Aku tidak pernah tahu siapa dia di dunia nyata. Itu kesepakatan diam-diam kami. Tidak ada nama asli. Tidak ada foto.
Di bawah DM-nya, satu email yang belum kubalas sejak tiga hari lalu.
Dari: Haruto Mori, CTO — Kaizen Labs, Tokyo
Perihal: Tawaran posisi Principal Security Engineer
Kubaca lagi. Untuk keempat kalinya.
Kaizen Labs adalah perusahaan keamanan siber yang namanya sering muncul di konferensi-konferensi yang hanya bisa kutonton lewat siaran langsung. Entah bagaimana, mereka menelusuri jejak zero-guard sampai ke namaku. Haruto Mori sendiri yang menulis email itu, dalam bahasa Inggris yang sopan dan lugas. Mereka tahu siapa mr_zero. Mereka ingin mr_zero di Tokyo. Angka gajinya membuatku harus menghitung nolnya dua kali.
Di paragraf terakhir, ia menulis: Kami tidak terburu-buru. Ambil waktu Anda. Kami tahu orang seperti Anda jarang mengambil keputusan tanpa memikirkannya dengan sangat dalam.
Aku menatap langit Jakarta yang pucat.
Tokyo. Kota yang tidak pernah kukunjungi. Pekerjaan yang selama ini hanya bisa kubayangkan. Orang-orang yang mengenal namaku sebelum mengenal wajahku.
Dan di lantai-lantai di bawahku, tiga perempuan sedang menyusun rencana tiga puluh hari dengan hadiah perjalanan ke negara yang sama.
Ironi semacam itu, kalau ditulis di novel, pasti dianggap terlalu dibuat-buat.
Aku kembali ke lantai 17 pukul satu lewat sepuluh.
Seseorang sudah menungguku.
Ia berdiri di samping mejaku, tingginya tidak sampai bahuku, memegang segelas teh susu boba dengan dua tangan. Jepit rambut bebeknya hari ini warna hijau.
“Kak Alfa!” Alea Putri Kinanti tersenyum seperti matahari jam tujuh pagi. “Akhirnya ketemu juga. Aku dari tadi nungguin. Kucingnya udah dilihat belum?”
“Sudah.”
“Suka nggak?”
“Kucingnya gemuk.”
“Ih, itu bukan gemuk, itu chubby.” Alea memanyunkan bibir. Bayu, di belakangnya, sudah berhenti mengetik dan menatap kami dengan mulut terbuka. “Jangan dicopot, ya, Kak. Dia jagain Kakak biar semangat. Biar Kakak inget aku tiap nyalain monitor.”
Lalu ia mengulurkan tangannya, menarik headphone yang tergantung di leherku sedikit, dan menempelkan satu sisinya ke telinganya sendiri.
“Kakak dengerin apa sih?” Ia diam sebentar, alisnya berkerut. “Kok... nggak ada suaranya?”
“Lagi nggak dengerin apa-apa.”
“Terus kenapa dipakai?”
“Supaya orang nggak ngajak ngobrol.”
Alea menatapku. Untuk sesaat, sesuatu yang tidak kuduga lewat di wajahnya, sesuatu yang tidak manis dan tidak dibuat-buat. Seperti orang yang baru saja mendengar hal yang sedikit menyedihkan.
Lalu ia tersenyum lagi, lebih lebar, dan menaruh boba itu di mejaku.
“Ya udah, aku ngajak ngobrol pakai minuman aja. Minuman nggak bisa dicegah pakai headphone.” Ia mundur dua langkah, melambaikan tangan. “Diminum, ya, Kak! Gula normal, nggak pakai jeli. Aku tebak aja Kakak nggak suka jeli.”
Ia pergi. Rambutnya bergoyang. Jepit bebeknya berkilat di bawah lampu kantor.
Bayu menggelinding ke mejaku dengan kecepatan yang berbahaya.
“Bang,” katanya, suaranya serak. “Bang. Dia tahu Abang nggak suka jeli.”
Aku memang tidak suka jeli.
Aku menatap boba itu. Gula normal. Tanpa jeli. Tebakan yang tepat. Tebakan yang terlalu tepat untuk orang yang baru mengenalku kemarin sore.
Berapa banyak yang sudah mereka cari tahu tentangku? Apa saja yang mereka tulis di satu lembar kertas berjudul Target Jepang?
Kucing oranye di monitor menatapku dengan pipi merah mudanya.
SEMANGAT KERJA!
Aku menyalakan layar, membuka antrean tiket, dan mulai bekerja. Boba itu kuminum pelan-pelan sampai habis. Rasanya terlalu manis, seperti semua hal yang baru saja terjadi.
Di dalam kepalaku, sebuah pertanyaan sudah mulai berputar, pelan dan tidak bisa dihentikan, seperti kipas server di belakangku:
Kalau mereka sedang bermain, apa yang terjadi kalau aku ikut bermain juga?
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer reading
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang