Chapter Five

Bekal Telur Dadar

POV: Alea


Aku bangun jam lima pagi untuk menggoreng telur.

Ini perlu dicatat dalam sejarah, karena aku tidak pernah bangun jam lima pagi untuk apa pun. Tidak untuk salat Subuh, maaf ya Allah, aku biasanya salat jam setengah enam. Tidak untuk lari pagi. Tidak untuk konser. Waktu wisuda S1 aku bangun jam enam dan perias pengantin di rumah sebelah sampai harus mengejarku ke kamar mandi.

Tapi pagi ini, hari kelima taruhan, aku berdiri di dapur rumah orang tuaku di Rawamangun dengan rambut dikuncir asal-asalan, memakai celemek bergambar ayam milik Mama, menatap wajan berisi minyak yang mulai berasap.

“Le,” suara Mama dari pintu dapur. Ia masih memakai mukena, matanya setengah terpejam. “Kamu kesurupan?”

“Aku masak, Ma.”

“Itu yang Mama bilang. Kesurupan.”

“Mama jahat banget.” Aku memecahkan telur ketiga ke mangkuk. Sebagian kulitnya ikut masuk. Aku mengambilnya dengan jari. “Aku mau bawa bekal ke kantor.”

Mama berjalan mendekat, mengintip mangkuk, lalu mengintip wajahku. Matanya yang tadi setengah terpejam sekarang terbuka lebar, penuh minat. Mama selalu tiba-tiba sangat bangun kalau menyangkut gosip.

“Buat siapa?”

“Buat aku sendiri.”

“Kamu makan siang di kantin kantor tiap hari. Kamu bilang masakan kantin kantor enak, ada sambal matahnya.” Mama menyipitkan mata. “Ini buat cowok.”

“Bukan, Ma...”

“Siapa namanya? Kerja di bagian apa? Agamanya apa? Orang tuanya dari mana?”

“Ma! Ini baru telur, belum lamaran!”

Mama tertawa, menepuk pantatku, lalu kembali ke kamar sambil bersenandung lagu dangdut. Aku tahu sebentar lagi ia akan mengirim pesan ke grup keluarga besar. Aku tahu Tante Rina akan meneleponku malam ini. Aku sudah pasrah.

Aku menuang telur ke wajan. Minyaknya meletup. Aku menjerit kecil dan mundur dua langkah sambil memegang spatula seperti pedang.

Telur dadar itu akhirnya jadi, setelah dua kali gosong dan satu kali jatuh ke lantai. Bentuknya tidak bulat. Lebih mirip peta Pulau Sulawesi. Aku menaburkan garam dengan perasaan, karena di video resep yang kutonton, kokinya menabur garam “secukupnya”, dan aku tidak tahu secukupnya itu berapa. Jadi aku menabur sampai rasanya cukup di hatiku.

Aku memasukkannya ke kotak bekal warna merah muda, di samping nasi putih, tumis buncis yang dimasak Mama semalam, dan dua potong sosis yang kupotong bentuk gurita. Sosis gurita itu kebanggaanku. Aku menonton tiga video untuk belajar memotongnya.

Lalu aku menatap kotak bekal itu.

Kak Alfa. Laki-laki dengan headphone yang tidak ada suaranya.

Aku masih ingat wajahnya waktu aku menempelkan telingaku ke headphone-nya dua hari lalu, dan ternyata sunyi. Supaya orang nggak ngajak ngobrol, katanya. Datar sekali, seperti membacakan cuaca. Tapi kalimat itu menempel di kepalaku sampai sekarang, seperti permen karet di bawah meja.

Aku menutup kotak bekal itu dan berangkat kerja.


Lantai 19 adalah lantai HR, Finance, dan Legal. Lantai yang paling tenang di Trista Tower, karena semua orang di sini terlalu sibuk menghitung, membaca kontrak, atau memproses dokumen untuk bergosip dengan suara keras. Kami bergosip dengan suara pelan.

Mejaku ada di dekat jendela. Di atasnya, ada pot kaktus kecil bernama Pak Bambang, foto kucingku di rumah bernama Mochi, dan tumpukan berkas cuti karyawan yang harus kuverifikasi.

Di grup chat Dewi-Dewi Lembur, Kak Shafira sudah mengirim pesan sejak jam tujuh.

Shafira: Status update hari ke-5. Aku: makan malam Sabtu udah fix. Kalian?

Celine: Pitching kemarin sukses. Makasih udah nanya.

Shafira: Cel aku nanya soal TARGET bukan soal kerjaan 😤

Celine: Belum ada update.

Shafira: Alea?

Aku: Aku bawa bekal hari ini 🥰

Shafira: Wow. Classic. Masak sendiri?

Aku: IYA DONG. Bangun jam 5!

Celine: Kamu bangun jam 5? Le, kamu nggak bangun jam 5 waktu kantor kebakaran.

Aku: Itu cuma alarm kebakaran yang bunyi karena orang Finance bakar popcorn!

Shafira: Semangat. Tapi jangan lupa, yang menang tetap aku. Dia udah pegang nomor HP-ku. Literally di tangannya.

Aku mengirim stiker kelinci menjulurkan lidah dan menaruh ponsel di laci.

Pukul dua belas kurang lima, aku turun ke lantai 17 membawa kotak bekal merah muda.


Lantai 17 selalu bikin aku merasa sedang masuk ke dalam kulkas. AC-nya disetel dingin sekali, demi server, kata Kak Alfa kemarin, dan lampunya putih kebiruan seperti di rumah sakit. Para laki-laki di sini semua memakai jaket atau hoodie. Beberapa bahkan memakai sarung tangan tanpa jari.

Waktu aku masuk, semuanya menoleh. Aku sudah biasa. Aku tersenyum dan melambai sedikit, dan beberapa dari mereka melambai balik dengan wajah bingung, seperti tidak yakin apakah lambaianku ditujukan pada mereka.

Bayu, si junior yang kemarin sukses kusogok dengan roti cokelat, langsung berdiri. “Mbak Alea! Halo! Bang Alfa ada! Di mejanya! Lagi makan roti! Rotinya roti tawar! Polos! Nggak pakai selai!”

“Makasih, Bayu.”

“Sama-sama, Mbak! Kapan-kapan bawa roti cokelat lagi, Mbak! Aku nggak pilih-pilih! Aku juga mau dibawain bekal!”

Kak Alfa memang sedang makan roti tawar polos. Langsung dari bungkus plastiknya, sambil menatap monitor yang penuh grafik warna-warni. Rotinya bahkan tidak dipanggang. Hanya roti tawar putih yang ia gigit sedikit-sedikit, seperti kelinci yang sedang diet.

Rasanya hatiku diremas sedikit melihatnya.

Aku berdiri di samping mejanya dan menaruh kotak bekal merah muda di atas keyboard-nya. Tepat di atas keyboard. Supaya ia tidak bisa pura-pura sibuk.

Ia berhenti mengunyah. Menatap kotak bekal itu. Lalu menatapku.

“Mbak Alea.”

“Kak Alfa.” Aku tersenyum selebar-lebarnya, senyum yang biasanya kupakai untuk minta tambahan kerupuk di kantin. “Itu buat Kakak. Aku masak sendiri. Bangun jam lima.”

“Jam lima?”

“Iya. Itu sejarah. Mamaku sampai ngira aku kesurupan.”

Sudut bibirnya bergerak. Sedikit sekali. Seperti mau tersenyum tapi kemudian ingat bahwa ia tidak biasa tersenyum.

“Saya sudah makan, Mbak.”

“Roti tawar polos itu bukan makan, Kak. Itu menyiksa diri.” Aku menarik kursi kosong dari meja sebelah, kursi milik seorang staf yang sedang cuti, lalu duduk di samping Kak Alfa. Dekat. Bahu kami hampir bersentuhan. Aku membuka kotak bekal itu pelan-pelan, seperti membuka kado.

Nasi putih. Tumis buncis. Dua sosis gurita. Telur dadar berbentuk Pulau Sulawesi.

Kak Alfa menatap sosis gurita itu lama sekali.

“Itu gurita,” jelasku.

“Saya tahu, Mbak.”

“Aku nonton tiga video buat belajar motongnya.”

“Kelihatan.”

Aku tidak yakin itu pujian atau bukan. Aku memutuskan itu pujian.

“Kak Alfa, kalau bekalnya nggak habis, aku nangis loh,” kataku, memasang wajah paling sedih yang kupunya. Bibir sedikit maju. Mata sedikit berkaca-kaca. Wajah yang sama yang membuat manajer gudang menyerahkan kursinya, yang membuat sopir taksi online menurunkan tarif, yang membuat kasir supermarket memberiku kantong plastik gratis padahal sudah ada aturan berbayar.

Wajah yang tidak pernah gagal.

Kak Alfa menatap wajah itu. Satu detik. Dua detik.

Lalu ia mengambil sendok dari dalam kotak bekal.

Aku tersenyum menang. Tapi sebelum ia sempat menyendok apa pun, aku mengambil sendok itu dari tangannya, memotong sepotong telur dadar dengan ujungnya, lalu mengangkatnya ke depan mulutnya.

“Aaa,” kataku.

Seluruh lantai 17 diam.

Aku tidak menoleh, tapi aku bisa merasakan semua mata di ruangan itu menatap kami. Seseorang di tim network menjatuhkan sesuatu yang berbunyi seperti obeng. Bayu mengeluarkan suara seperti anak ayam terjepit.

Kak Alfa menatap sendok di depan mulutnya. Lalu menatapku. Wajahnya tetap datar, tapi ujung telinganya, aku melihatnya, ujung telinganya sedikit memerah.

Lalu ia membuka mulut dan memakan telur dadar itu dari sendokku.

Bayu mengeluarkan suara anak ayam terjepit yang kedua.

Kak Alfa mengunyah. Pelan. Sangat pelan. Ekspresinya tidak berubah, tapi ada sesuatu di matanya, sesuatu seperti orang yang sedang memproses data yang sangat sulit.

Ia menelan.

“Gimana?” tanyaku, menahan napas.

Ia mengambil sendok dari tanganku dengan lembut. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mulai makan. Nasi. Buncis. Sosis gurita, satu, lalu yang kedua. Telur dadar Pulau Sulawesi, potong demi potong. Pelan, tapi tidak berhenti. Aku duduk di sampingnya, menonton seperti menonton final sepak bola.

Lima belas menit kemudian, kotak bekal merah muda itu kosong. Benar-benar kosong. Bahkan butiran nasi di sudutnya sudah ia kumpulkan dengan sendok.

Aku hampir bertepuk tangan.

“Habis!” seruku. “Kak Alfa ngabisin semuanya!”

“Habis,” katanya, menutup kotak bekal dan mendorongnya kembali padaku. Lalu, dengan suara yang sama datarnya seperti membacakan cuaca, ia menambahkan:

“Tapi telurnya keasinan, Mbak.”

Aku membeku.

Dua puluh lima tahun hidupku, tidak ada satu pun orang yang pernah bilang masakanku tidak enak. Tidak ada. Waktu aku bikin kue bolu yang bantat di ulang tahun Papa, semua keluarga bilang enak. Waktu aku bikin nasi goreng yang terlalu banyak kecap di acara kantor, semua orang bilang “unik”. Waktu aku bikin es teh yang lupa dikasih gula, Kak Shafira minum sampai habis dan bilang “sehat banget, Le”.

Semua orang selalu bilang enak. Karena aku si imut dari HR. Karena kalau mereka bilang tidak enak, mereka takut aku menangis, dan tidak ada yang mau jadi orang yang membuatku menangis.

Laki-laki di depanku ini baru saja menghabiskan semua masakanku sampai butir nasi terakhir, lalu bilang telurnya keasinan.

“Keasinan?” ulangku pelan.

“Garamnya terlalu banyak. Mungkin karena dimasukkan di awal, terus Mbak tambah lagi waktu sudah di wajan.”

Aku memang menambahkannya lagi waktu sudah di wajan. Karena di mangkuk tadi rasanya kurang di hatiku.

“Lain kali garamnya masukin terakhir, waktu telurnya hampir matang,” lanjutnya. “Dan sedikit aja. Sejumput. Bukan segenggam.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan wajah yang sama datarnya.

Lalu aku tertawa.

Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku syok. Mungkin karena aku malu. Mungkin karena ada sesuatu yang lucu sekali dari laki-laki yang dengan sabar menghabiskan masakan keasinan sampai butir nasi terakhir, hanya untuk kemudian memberi kuliah tentang waktu yang tepat memasukkan garam.

Aku tertawa sampai mataku berair. Sampai aku harus memegang lengannya supaya tidak jatuh dari kursi. Lengan di balik hoodie abu-abunya ternyata lebih kokoh dari yang kukira.

“Kakak kenapa nggak bilang dari suapan pertama?” tanyaku, masih terengah.

“Mbak bilang kalau nggak habis, Mbak nangis.”

“Terus kenapa sekarang bilang?”

“Karena sekarang sudah habis.” Ia mengangkat bahu sedikit. “Mbak nggak nangis. Dan lain kali telurnya bisa lebih enak.”

Lain kali.

Ia bilang lain kali.

Aku berhenti tertawa. Masih memegang lengannya. Ia tidak menarik lengannya, tapi juga tidak bergerak, seperti menunggu aku selesai.

Bayu, di seberang meja, menyendok sisa-sisa sambal sachet yang entah dari mana ia dapat, lalu tiba-tiba berteriak, “MBAK ALEA! AKU JUGA MAU DIBILANG KEASINAN! BAWAIN AKU BEKAL JUGA, MBAK! AKU JANJI BILANG KEASINAN!”

“Bay,” kata Kak Alfa tanpa menoleh. “Log server.”

“Udah aku bersihin, Bang!”

“Bersihin lagi.”


Aku kembali ke lantai 19 dengan kotak bekal kosong dan perasaan yang tidak bisa kujelaskan.

Di grup chat, aku menulis:

Aku: BEKAL HABIS!!! 🎉🎉🎉 Dia habisin sampai butir nasi terakhir!

Shafira: Wow. Oke. Lumayan. Satu sama.

Celine: Dia bilang enak?

Aku menatap pertanyaan Kak Celine.

Aku: Dia bilang telurnya keasinan.

Shafira: HAHAHAHAHA

Shafira: Dia NOLAK bilang enak?? Ke kamu??? Le, cowok ini kebal?

Celine: ...dia juga gitu ke aku kemarin. Jujur banget.

Aku: Iya. Aneh ya. 😳

Shafira: Aneh? Itu namanya sombong. Cowok cupu sok jual mahal. Tunggu aja hari Sabtu, aku bikin dia lupa caranya ngomong datar.

Aku tidak membalas.

Karena aneh bukan kata yang tepat. Aku mencari kata lain di kepalaku dan tidak menemukannya. Yang kutahu, dari semua orang yang pernah makan masakanku, ia satu-satunya yang membuatku ingin memasak lagi. Memasak dengan benar. Garam di akhir. Sejumput, bukan segenggam.


Pukul tiga sore, sistem HR berbunyi.

Notifikasi kecil di sudut kanan bawah layarku. Pengajuan baru: Pengunduran Diri. Aku mengkliknya tanpa berpikir, seperti mengklik puluhan notifikasi lain setiap harinya. Karyawan keluar-masuk Trista setiap bulan. Aku sudah memproses ratusan pengunduran diri.

Nama karyawan: Alfa Danuarta.
Divisi: IT Infrastructure.
Tanggal efektif: empat puluh hari lagi. Aku menghitungnya cepat di kalender. Jatuh tepat di hari keempat puluh lima sejak taruhan kami dimulai.
Alasan: Melanjutkan karier di luar negeri.
Status: Rahasia. Mohon tidak diumumkan sebelum hari terakhir atas permintaan karyawan.

Aku menatap layar itu lama.

Lalu aku membuka lampiran. Surat pengunduran diri, diketik rapi, satu halaman. Bahasanya sopan dan pendek. Ia berterima kasih pada Trista Group atas kesempatan empat tahun. Ia berterima kasih pada Bang Togar atas bimbingannya. Ia berjanji menyelesaikan serah terima dengan baik.

Tidak ada satu kalimat pun yang menyebut alasan sebenarnya. Tidak ada satu kalimat pun yang terdengar seperti ia akan merindukan tempat ini.

Di bawahnya, tanda tangan. Tanda tangan yang kecil dan rapi, seperti tulisan orang yang tidak ingin terlalu banyak memakan tempat.

Aku menatap kotak bekal merah muda yang masih ada di atas mejaku. Kosong. Bersih sampai butir nasi terakhir.

Lain kali telurnya bisa lebih enak.

Ternyata ia tidak punya banyak lain kali.

Ada sesuatu yang aneh di dadaku. Kecil, tajam, seperti tergores kertas. Aku tidak tahu kenapa. Aku baru mengenalnya lima hari. Lima hari, dan sebagian besar dari lima hari itu aku sibuk memikirkan cara memenangkan taruhan.

Lalu, pelan-pelan, pikiran lain datang. Pikiran yang lebih ringan. Pikiran yang membuat goresan kecil itu terasa tidak terlalu perih.

Toh dia pergi.

Ia akan pergi. Ke luar negeri. Dalam empat puluh hari. Apa pun yang terjadi dalam taruhan ini, apa pun yang ia rasakan, siapa pun dari kami yang menang, ia akan pergi dan semuanya selesai. Tidak ada yang perlu canggung bertemu di lift. Tidak ada yang perlu menghindari pantry. Tidak ada patah hati yang harus ditonton setiap hari.

Bersih. Seperti kata Kak Shafira. Seperti deterjen.

Nggak ada yang sakit.

Aku menutup surat itu, menandainya sebagai rahasia, dan menyimpannya di folder yang hanya bisa diakses HR.

Lalu aku membuka ponsel, membuka grup chat Dewi-Dewi Lembur, dan mengetik sesuatu. Jariku melayang di atas tombol kirim.

Aku tahu aku tidak boleh. Aku tahu itu data rahasia karyawan. Aku tahu kode etik HR yang kutandatangani di hari pertama kerja.

Aku menghapus pesannya.

Lalu, karena aku memang tidak pernah bisa menyimpan sesuatu yang menarik terlalu lama, aku mengetiknya lagi. Dan kali ini, aku tidak menghapusnya.

Aku hanya menyimpannya sebagai draf. Belum terkirim. Belum.

Di layar komputerku, notifikasi berikutnya sudah muncul. Pengajuan cuti melahirkan dari staf Legal. Aku mengkliknya dan kembali bekerja.

Kotak bekal merah muda itu masih di sana, di samping Pak Bambang si kaktus, kosong dan bersih.

Besok aku akan memasak lagi. Garam di akhir. Sejumput.

Hanya empat puluh hari lagi. Rasanya tidak cukup lama untuk belajar memasak telur dadar yang benar.