Chapter Thirty Six
Atap Terakhir
POV: Alfa
Kamis, hari keempat puluh empat, Bang Togar mencegatku di depan lift pukul tujuh pagi.
Ia berdiri dengan kedua tangan di pinggang, kemeja batik cokelat yang sama dengan yang ia pakai di syukuran tumpeng, kumis yang sudah disisir rapi. Di belakangnya, Bayu berdiri dengan papan tulis kecil di dada, seperti pengawal yang memegang perisai.
“Besok hari terakhirmu,” kata Bang Togar.
“Iya, Bang.”
“Lantai 17 mau bikin perpisahan.”
“Nggak usah, Bang.”
“Tumpeng.”
“Bang.”
“Tumpeng kecil. Setengah meter aja.”
“Bang, tolong.”
Bang Togar menatapku lama. Kumisnya bergerak-gerak, seperti antena yang sedang mencari sinyal kompromi.
“Kue lapis legit,” katanya akhirnya. “Satu loyang. Istriku yang bikin. Nggak ada tumpeng, nggak ada pidato, nggak ada foto. Kita makan diam-diam di ruang server, jam empat sore. Tujuh orang. Tim network sama aku sama Bayu.”
Aku menatapnya.
“Istriku sudah beli mentega,” tambahnya, suaranya mengecil. “Mentega Wijsman, Alfa. Yang kalengan. Yang mahal. Kalau kau tolak, dia bakal tanya kenapa mentega mahalnya nggak jadi dipakai. Terus aku harus jelasin. Terus aku nangis di depan istriku. Kau mau aku nangis di depan istriku?”
Di belakangnya, Bayu mengangkat papan tulis kecilnya. Tulisan spidol biru, huruf besar.
PANDUAN v3.0 — CARA PAMITAN
BAB 1: TERIMA KUE LAPISNYA, BANG.
Aku menghembuskan napas dari hidung.
“Jam empat,” kataku.
Bang Togar mengangguk sekali, kaku, seperti prajurit yang baru menerima perintah. Lalu ia berbalik dan berjalan ke mejanya dengan langkah yang terlalu cepat. Aku melihat ia mengusap matanya dengan punggung tangan sebelum duduk.
Kue lapis legit itu tujuh belas lapis. Bayu menghitungnya.
Kami makan di ruang server, di lantai, duduk melingkar di antara rak-rak hitam yang berdengung. Delapan belas derajat. Lampu-lampu kecil hijau berkedip di sekeliling kami seperti kunang-kunang. Tim network membawa termos teh manis. Gilang membawa piring kertas. Bang Togar memotong kue itu dengan pisau dapur bergagang plastik oranye yang sama dengan pisau tumpeng.
Tidak ada yang berpidato. Bang Togar sudah berjanji.
Bang Togar menepati janjinya selama sebelas menit.
Di menit kedua belas, ia meletakkan piring kertasnya, menatap lantai ruang server, dan berkata, “Aku cuma mau bilang satu hal.”
“Bang,” kata Gilang. “Abang janji.”
“Satu hal, Gilang. Satu.” Bang Togar mengangkat telunjuknya. “Empat tahun lalu, waktu Alfa wawancara kerja, dia datang pakai kaos. Kaos abu-abu. HR bilang jangan diterima, nggak sopan. Aku bilang, biar aku tes dulu.” Ia menatapku. “Aku kasih dia server yang crash tiga hari, yang vendor nggak bisa benerin. Aku bilang, kau punya satu jam.”
Ruang server diam.
“Dia benerin dalam empat puluh menit,” kata Bang Togar. “Terus dia nanya, Pak, ini server siapa? Kenapa log-nya nggak pernah dibaca? Aku bilang, nggak ada yang baca log, Nak. Nggak ada yang punya waktu. Terus dia bilang...”
Bang Togar berhenti. Suaranya pecah di tengah.
“Dia bilang, Log itu satu-satunya yang jujur di gedung ini, Pak. Sayang kalau nggak ada yang baca.”
Bang Togar mengusap matanya.
“Empat tahun dia baca semua log di gedung ini. Semua. Tiap pagi. Nggak ada yang tahu. Nggak ada yang bilang makasih.” Ia menatapku dengan mata merah. “Makasih, Fa. Udah baca semuanya.”
Tidak ada yang bicara.
Bayu, di sampingku, menangis sambil makan kue lapis. Lapisan ke sebelas dan dua belas menempel di pipinya.
Aku menatap piring kertas di pangkuanku.
“Sama-sama, Bang,” kataku.
Pukul tujuh malam, lantai 17 kosong.
Dokumen serah terima di layarku sudah empat puluh halaman. Selesai. Prosedur backup harian. Prosedur pemulihan bencana. Daftar kata sandi yang dienkripsi, diserahkan ke Bang Togar dalam amplop tertutup. Peta kabel seluruh gedung. Catatan soal port tiga dan port tujuh di rak Server B. Catatan soal sensor pintu putar di lobi yang sering kotor dan membuat Pak Udin mengira pintunya kesurupan.
Halaman terakhir masih kosong.
Aku menatap halaman kosong itu lama. Kursor berkedip.
Aku belum tahu apa yang akan kutulis.
Aku berdiri, mengambil kartu akses dari laci, dan berjalan ke tangga darurat.
Tangga darurat lantai 32. Pintu besi. AREA TERBATAS — HANYA PETUGAS.
Aku menempelkan kartu ke panel. Lampu hijau. Pintu terbuka.
Angin malam. Lebih dingin dari angin siang. Bersih. Berbau aspal yang sudah mendingin dan sesuatu yang samar, seperti hujan yang belum turun.
Jakarta di bawahku. Ribuan lampu. Jalan-jalan seperti sungai cahaya yang mengalir pelan. Gedung-gedung Sudirman yang menyala sampai ke puncak. Di barat, di sela-sela dua gedung tinggi, tempat garis samar Gunung Salak kadang terlihat setelah hujan, hanya ada gelap.
Aku berjalan ke balik unit AC terbesar. Ke sudut yang tidak bisa dilihat kamera.
Bangku papan kayu masih di sana. Di atas dua balok beton. Sedikit miring ke kanan, karena Senin sore dua minggu lalu, Bang Togar mendobrak pintu dan aku berdiri terlalu cepat dan satu ujungnya terangkat dari balok.
Aku tidak pernah memperbaikinya.
Aku duduk.
Bangku itu bergoyang. Seperti biasa.
Empat tahun aku duduk di sini.
Empat tahun, setiap jam dua belas, dengan sebungkus roti tawar dan sebotol air. Empat tahun aku tidak pernah merasa sepi di sini. Karena di sini tidak ada yang bisa memilihku. Tidak ada yang bisa melewatiku. Tidak ada yang bisa menitipkan apa pun padaku, dan tidak ada yang bisa lupa padaku setelahnya.
Di sini, aku hanya ada. Seperti antena. Seperti unit AC. Seperti hal-hal yang ada di atap dan tidak perlu dilihat siapa pun supaya tetap berfungsi.
Lalu empat minggu lalu, seseorang duduk di ujung bangku yang lain.
Aku menatap ujung bangku itu sekarang. Kosong. Papan kayu yang sedikit lebih terang warnanya di bagian tengah, karena empat minggu terakhir ada dua orang yang duduk di atasnya, bukan satu.
Aku menatapnya lama.
Lalu, untuk pertama kalinya dalam empat puluh empat hari, aku membiarkan diriku memikirkan semuanya.
Aku memikirkan Purwokerto.
Jalan depan rumah yang belum diaspal. Ibu yang menjahit dari pagi sampai malam di ruang depan, mesin jahit tua yang suaranya seperti hujan di atap seng. Ayah yang pergi waktu aku lima tahun. Tidak meninggal. Pergi. Ia keluar rumah suatu pagi dengan tas besar dan bilang ke Ibu ia akan kembali dalam seminggu. Aku menunggunya di teras setiap sore selama dua bulan. Ibu tidak pernah menyuruhku berhenti menunggu. Ibu hanya membawakan teh manis ke teras setiap sore, dan duduk di sampingku, dan menunggu bersamaku, sampai suatu sore aku sendiri yang berhenti.
Aku memikirkan sepeda. Sepeda bekas yang Ibu beli dari tetangga dengan uang jahitan tiga bulan. Aku belajar naik sendiri, di jalan depan rumah, karena Ibu harus menjahit dan tidak ada yang bisa memegangi sadelnya. Aku jatuh. Daguku robek di batu. Aku berjalan sendiri ke puskesmas, dua kilometer, sambil memegangi dagu dengan kaos. Perawat di puskesmas bertanya mana orang tuaku. Aku bilang Ibu sedang bekerja. Perawat itu menatapku lama, lalu menjahit daguku tanpa bertanya lagi.
Aku tidak menangis waktu dijahit. Aku ingat itu. Aku ingat perawat itu bilang anak pintar, nggak nangis. Aku ingat merasa bangga.
Aku tidak tahu waktu itu bahwa aku sedang belajar sesuatu yang akan kupakai seumur hidup.
Aku memikirkan sekolah. Kerja kelompok. Alfa, kamu sama kami ya. Kamu kan rajin. Nama mereka di sampul. Namaku di halaman terakhir, kecil, di bawah dan lain-lain. Ulang tahun teman-teman yang tidak pernah mengundangku, tapi selalu memintaku mendesain kartu undangannya di warnet tempat aku bekerja paruh waktu sejak SMP.
Dipilih karena tidak berisiko. Dipilih karena tidak akan protes. Dipilih karena tidak akan mengadu.
Dipilih karena aman.
Aku memikirkan Ibu, kelas dua SMA.
Ibu sudah sakit waktu itu. Sudah lama sakit, sebenarnya, tapi ia menyembunyikannya di balik suara mesin jahit dan teh manis dan Ibu cuma capek, Le. Ia memanggilku Le, seperti orang Jawa memanggil anak laki-lakinya. Tole. Le.
Suatu Minggu pagi, ia mengajakku ke dapur. Ia bilang aku harus belajar memasak satu hal. Satu saja.
Biar kalau kamu sakit dan nggak ada siapa-siapa, kamu nggak kelaparan.
Ia mengajariku sup ayam. Ayam kampung. Wortel. Kentang. Seledri. Bawang putih yang ditumis dulu sampai harum. Dan jahe, dimemarkan, dimasukkan paling akhir.
Kenapa paling akhir, Bu?
Biar wanginya nggak hilang, Le.
Tiga bulan kemudian, Ibu pergi. Tidak seperti Ayah. Ibu pergi dengan cara yang tidak bisa ditunggu di teras.
Aku memasak sup ayam itu di malam setelah pemakaman. Sendirian, di dapur yang tiba-tiba terlalu besar. Aku memasukkan jahenya paling akhir. Wanginya tidak hilang.
Aku tidak menangis waktu itu juga. Anak pintar. Nggak nangis.
Aku memikirkan empat puluh empat hari terakhir.
Ketukan di dada, di lift. Stiker kucing oranye di monitor. Senyum yang dihitung di lobi.
Log printer. TARGET_JEPANG.pdf.
Telur dadar keasinan. Lain kali telurnya bisa lebih enak.
Dasi biru tua. Plester seharga lima belas ribu. Ayahku stroke waktu aku SMA.
Hoodie abu-abu di ruang server delapan belas derajat. Satu spasi di antara dua ribu tiga ratus baris data. Kepala di bahuku, tiga detik.
Atap. Angin. Sebelumnya sepi. Sekarang ada Mbak.
Roti lapis dengan stiker bunga matahari. Sedikit apa-apa.
Karaoke. Lagu yang dinyanyikan Ibu sambil menyiram tanaman. Lutut yang tidak bergerak dari lututku.
Sup ayam di Rawamangun. Papa yang memilih kelapa paling tua.
War room. Jari-jari yang menyusup di antara jari-jariku di atas keyboard. Jangan pulang dulu.
Sama kamu, aku ngerasa aman.
Hujan. Perempuan yang tidak pernah kehujanan, tertawa sampai menangis. Pelukan. Detak jantungku sendiri, terlalu cepat. Aku mau percaya.
Sepeda ontel warna mint. Topi berenda merah muda. Tangan yang tidak pernah lepas dari sadel sampai ia siap.
Dapur sempit di Kalibata. Jahe yang terlempar ke bak cuci. Tanganku di atas tangannya. Biar wanginya nggak hilang.
Ujung hidung yang menyentuh ujung hidungku. Setengah senti. Aku masih mau.
Email ke Tokyo. Saya ingin tahu yang ini.
Dan pagi berikutnya.
Nggak bakal baper, nggak bakal ngadu. Aman. Digarisbawahi dua kali.
Resign tgl 45 — makin aman ♡
Saya juga cuma main.
Aku tidak tahu kapan mulainya.
Aku hanya tahu bahwa di suatu titik, duduk di bangku papan kayu yang miring, menatap ujung bangku yang kosong, wajahku basah.
Bukan karena hujan. Langit di atas Jakarta masih kering.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menangis. Bukan di puskesmas. Bukan di pemakaman Ibu. Bukan di malam setelahnya, dengan sup ayam di dapur yang terlalu besar. Anak pintar. Nggak nangis.
Dua puluh delapan tahun.
Aku menangis di atap Trista Tower, sendirian, di jam delapan malam hari keempat puluh empat, tanpa suara. Bahuku bergetar. Tanganku mencengkeram tepi bangku papan kayu sampai serpihan kayunya menusuk telapak tanganku. Aku tidak melepaskannya.
Aku menangis untuk anak lima tahun yang menunggu di teras.
Untuk anak sepuluh tahun yang berjalan dua kilometer ke puskesmas sambil memegangi dagunya.
Untuk anak tujuh belas tahun yang memasak sup ayam sendirian di malam setelah pemakaman.
Dan untuk laki-laki dua puluh delapan tahun yang, untuk pertama kalinya, dilihat. Dan ternyata dilihat karena ia aman. Dan tetap jatuh cinta. Dan memutuskan untuk tinggal. Dan membaca satu kata di bawah namanya dua belas jam kemudian.
Aku tidak marah pada mereka. Aku sudah bilang begitu di Ruang Kyoto, dan itu benar. Aku tidak marah.
Aku hanya lelah.
Lelah menjadi orang yang tidak bisa disakiti. Lelah menjadi tempat orang lewat. Lelah menjadi seseorang yang dipilih karena, kalau ia hancur, tidak akan ada suara.
Aku tidak berteriak.
Bahkan di sini. Bahkan sendirian. Bahkan di atap yang tidak bisa dilihat kamera.
Aku tidak tahu caranya.
Aku memikirkan tujuh belas pesan.
Tujuh belas pesan dari celestial_c, di percakapan paling atas, yang dikirim sepanjang hari Selasa. Dari pukul tujuh lewat dua puluh pagi sampai pukul sebelas lewat dua puluh malam.
Aku tidak membacanya.
Aku menghapusnya. Bersama akunnya. Bersama setahun percakapan. Bersama semua yang pernah ia tulis padaku tanpa tahu itu aku.
Aku tidak tahu apa isinya. Aku tidak akan pernah tahu.
Mungkin isinya penjelasan. Mungkin isinya maaf. Mungkin isinya kalimat-kalimat yang akan membuatku naik ke atap ini keesokan harinya dan menunggu, dan menjadi lagi orang yang hanya ada di atap.
Mungkin isinya kalimat-kalimat yang akan membuatku tinggal.
Aku menghapusnya karena aku takut pada kemungkinan yang kedua.
Aku menatap tanganku. Serpihan kayu kecil menancap di telapak. Darah sedikit, seperti titik merah dari pulpen.
Ini, aku sadar, adalah hal paling tidak aman yang pernah kulakukan. Menghapus sesuatu yang belum kubaca. Seperti menjalankan perintah delete tanpa memeriksa isi direktorinya.
Bang Togar akan memarahiku kalau tahu.
Ibu akan bilang Le, kamu ini.
Aku tertawa. Tawa yang basah, pecah, di atap yang gelap.
Pukul sembilan, aku turun ke lantai 17.
Wajahku sudah kering. Mataku pasti merah. Tidak ada yang melihat. Lantai 17 kosong.
Aku duduk di mejaku. Membuka sistem kontrol akses gedung. Sistem yang kurawat empat tahun. Panel-panel di setiap pintu. Kartu-kartu karyawan. Siapa boleh masuk ke mana.
Aku membuka daftar akses pintu atap lantai 32.
Empat nama. Tim gedung. Satpam kepala. Bang Togar, yang tidak pernah memakainya. Dan aku.
Aku menambahkan satu nama lagi.
CELINE.AURELIA — Brand Strategy, Lt. 22.
Masa berlaku: Permanen.
Aku menatap nama itu di daftar.
Di tangga darurat, hari Selasa, ia duduk di anak tangga paling atas dari pukul dua belas sampai pukul tiga lewat sepuluh. Gilang melapor ke Bayu setiap jam. Ia tidak bisa membuka pintunya. Ia tidak punya kartu.
Empat minggu ia naik ke sini bersamaku. Lima belas kali, dua puluh mungkin. Dan setiap kali, aku yang menempelkan kartu. Aku yang menahan pintu.
Aku tidak pernah memikirkan bahwa ia tidak bisa membukanya sendiri.
Aku tidak tahu apakah ia akan naik lagi. Mungkin tidak. Mungkin ia tidak akan pernah ingin melihat atap ini lagi. Mungkin ia akan pindah ke lantai lain, ke kantor lain, ke hidup lain.
Tapi kalau suatu hari ia ingin naik, pintunya akan terbuka.
Aku tidak akan ada di sana untuk menahannya. Tapi pintunya akan terbuka.
Aku menyimpan perubahan itu. Tidak ada yang akan tahu. Log perubahan akses hanya dibaca oleh satu orang di gedung ini, dan orang itu pergi besok.
Aku kembali ke dokumen serah terima. Halaman empat puluh. Halaman terakhir. Masih kosong.
Kursor berkedip.
Aku memikirkan apa yang harus ditulis di halaman terakhir dokumen serah terima. Biasanya ringkasan. Status akhir semua sistem. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh siapa pun yang menggantikan.
Aku mengetik satu kalimat.
Menatapnya.
Membacanya sekali. Dua kali.
Aku tidak menghapusnya.
Lalu aku menyimpan dokumen itu, mencetaknya, menjilidnya dengan penjepit hitam, dan meletakkannya di meja Bang Togar, di samping bingkai kayu cokelat dengan email Pak Wibisono di dalamnya. Bingkai yang kertas DINDING KEHORMATAN-nya sudah dicabut, tapi bingkainya tidak.
Aku kembali ke mejaku.
Kucing oranye di sudut monitor. SEMANGAT KERJA!
Aku mengulurkan tangan. Menyentuh ujung stikernya. Ujung yang sedikit terkelupas setelah enam minggu.
Aku tidak mencabutnya.
Aku mematikan monitor. Mematikan lampu meja. Mengambil helm.
Di lift, sendirian, aku menatap pantulan diriku di pintu yang mengilap.
Mata merah. Rambut yang disisir jari. Kemeja flanel hijau. Telapak tangan kanan dengan titik-titik merah kecil dari serpihan kayu.
Besok hari terakhir.
Aku akan datang pagi-pagi sekali. Sebelum siapa pun datang. Mengembalikan laptop. Mengembalikan kartu akses. Mengucapkan terima kasih pada Pak Udin.
Lalu pergi.
Tanpa pamit. Tanpa pidato. Tanpa foto.
Tanpa satu orang pun yang harus berdiri di depanku dan memutuskan apakah aku layak dilihat.
Lift berhenti di basement B2.
Pak Udin berdiri di depan posnya. Kali ini ia tidak membawa teh manis. Ia hanya berdiri, tangan di belakang punggung, menatapku keluar dari lift.
Ia menatap mataku yang merah. Ia tidak bertanya.
Ia hanya mengangguk. Pelan. Satu kali.
Seperti orang yang sudah sebelas tahun menjaga basement, dan tahu kapan seseorang baru saja melakukan sesuatu yang sangat sulit untuk pertama kalinya.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir reading
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang