Chapter Eighteen
Paruh Waktu
POV: Alfa
Pukul dua siang, email itu masuk.
Dari: Wibisono Hadiprawiro, Direktur Marketing
Kepada: Alfa Danuarta
Tembusan: Togar Simanjuntak; Celine Aurelia; Direksi Trista Group
Perihal: Ucapan Terima Kasih — Penanganan Insiden Peluncuran Trista Home
Isinya tiga paragraf. Paragraf pertama menjelaskan serangan bot. Paragraf kedua menyebut angka: sembilan belas menit, tiga gelombang serangan, seribu pesanan pertama dalam dua puluh tiga menit. Paragraf ketiga menyebut namaku. Lengkap. Dua kali.
Aku menatap email itu lama.
Aku sudah bilang tim IT saja. Aku sudah bilang cukup. Ia berbalik dan berjalan ke lift dengan mata yang mulai basah, dan aku pikir itu artinya ia setuju.
Ternyata itu artinya ia tidak peduli apa yang kubilang.
“BAYU!”
Suara Bang Togar dari balik partisi. Suara kursi didorong. Suara printer di ujung ruangan yang mulai berdengung.
“BAYU, AMBILKAN BINGKAI! YANG DI GUDANG, BEKAS SERTIFIKAT ISO!”
“Bang, itu bingkai sertifikat resmi, Bang!”
“SERTIFIKATNYA SUDAH KADALUARSA TAHUN LALU! AMBIL!”
Lima menit kemudian, email itu sudah dicetak, dibingkai dengan bingkai kayu cokelat bertuliskan ISO 27001 di ujung bawahnya, dan digantung di partisi Bang Togar dengan paku payung. Di atasnya, Bayu menempelkan kertas HVS dengan tulisan spidol besar-besar:
DINDING KEHORMATAN LANTAI 17
Anggota pertama: Bang Alfa
Anggota kedua: (masih dicari)
Tim network datang berbondong-bondong untuk memotretnya. Gilang, kepala tim network, bersalaman denganku dengan wajah khidmat seperti di upacara pernikahan. Seseorang menempelkan stiker kucing oranye di sudut bingkai. Aku tidak tahu dari mana stiker itu. Mungkin dari stok Alea. Mungkin Alea punya stok yang tidak terbatas.
“Bang,” kataku pada Bang Togar. “Turunin.”
“Tidak.”
“Bang.”
“Alfa.” Bang Togar meletakkan tangannya di bahuku dengan berat seperti biasa. “Empat tahun. Empat tahun kau selamatkan gedung ini diam-diam. Server crash tengah malam. Data bocor yang nggak jadi bocor. Laporan kuartalan yang nggak jadi hilang. Empat tahun nggak ada satu email pun yang sebut nama kau.” Ia menunjuk bingkai itu. “Biar sekali ini dinding ini tahu siapa kau. Satu kali saja.”
Aku menatap bingkai itu. Namaku, dua kali, dalam huruf Times New Roman dua belas poin. Alfa Danuarta. Di dinding partisi yang sudah bertahun-tahun hanya berisi kalender gratis dari vendor kabel.
Aku tidak menurunkannya.
Pukul lima sore, aku naik ke atap.
Bukan jam makan siangku. Aku tidak pernah naik di jam lain. Tapi kepalaku terasa terlalu penuh, dan lantai 17 terlalu ramai dengan orang-orang yang datang untuk memotret bingkai, dan aku butuh tempat di mana tidak ada yang memotret apa pun.
Di tangga darurat lantai tiga puluh dua, di anak tangga paling atas, seseorang sudah duduk di sana.
Blus krem. Rambut diikat rendah. Mata yang masih sedikit merah, entah karena kurang tidur atau karena hal lain. Di sampingnya, dua gelas teh dari kedai di lantai dasar.
Celine mendongak ketika mendengar langkahku. Ia tidak terkejut. Ia terlihat seperti orang yang sudah menunggu, dan sudah tahu bahwa yang ditunggu akan datang.
“Aku nebak kamu bakal naik,” katanya. “Bingkainya pasti bikin kamu pengin kabur.”
“Mbak lihat?”
“Satu gedung lihat. Bayu ngirim fotonya ke grup Trista Family. Pak Hendra kasih jempol.”
Aku menempelkan kartu ke panel akses. Lampu hijau. Pintu terbuka, dan angin sore menyambut kami. Lebih hangat dari angin siang. Langit di barat mulai berubah warna, biru pucat dengan semburat jingga di bawahnya, seperti sesuatu yang perlahan-lahan terbakar.
Kami duduk di bangku papan kayu. Ia menyodorkan satu gelas teh. Aku mengambilnya.
“Maaf,” katanya, menatap langit. “Aku nggak dengar permintaanmu.”
“Mbak dengar.”
“Aku dengar. Aku nggak ikutin.” Ia memutar gelas tehnya di antara jari-jarinya. “Kamu marah?”
Aku memikirkannya. Aku menunggu rasa marah itu datang, karena seharusnya ia datang. Seseorang mengabaikan permintaanku. Seseorang membuat namaku dibicarakan di grup seribu delapan ratus orang. Seseorang membuat Bang Togar menggantung bingkai bekas sertifikat ISO di dinding.
Rasa marah itu tidak datang.
“Nggak, Mbak.”
“Terus?”
“Bingung.”
Ia menoleh padaku. “Bingung kenapa?”
Aku menatap teh di tanganku. Daun teh kecil mengapung di permukaannya, berputar pelan.
“Saya nggak biasa kelihatan, Mbak.”
Ia diam. Menunggu. Ia sudah belajar menunggu, aku sadar. Dua minggu lalu, di laptop yang kebetulan rusak, ia bicara terus dan tidak membiarkan jeda. Sekarang ia tahu kalau ia diam cukup lama, aku akan bicara.
“Waktu kecil,” kataku, “kalau saya kelihatan, saya jadi tempat orang nitip. Nitip PR. Nitip catatan. Nitip tugas kelompok. Nitip disalahin kalau gurunya marah. Kalau saya nggak kelihatan, saya cuma tempat orang lewat.” Aku menyesap teh. Pahit, tanpa gula. Ia ingat. “Lewat lebih ringan, Mbak. Orang lewat nggak minta apa-apa. Orang lewat nggak bisa kecewa.”
Angin bertiup. Rambutnya yang diikat rendah tetap di tempatnya, hanya beberapa helai di dekat telinganya yang bergerak.
“Aku kecewa,” katanya.
Aku menoleh.
“Tadi pagi. Waktu kamu bilang tim IT aja.” Ia menatapku langsung. Matanya cokelat terang, diterangi cahaya jingga dari barat. “Aku kecewa karena kamu mau jadi tempat orang lewat, padahal semalam kamu jadi tempat aku nyandar.”
Sesuatu di dadaku berhenti.
“Kamu nggak harus selalu nggak kelihatan,” katanya, lebih pelan. “Mungkin di depan orang lain iya. Aku nggak bisa ngatur itu. Tapi di depan aku...” Ia berhenti. Menelan ludah. “Di depan aku, kamu kelihatan. Aku lihat kamu. Kamu nggak bisa ngumpet dari aku pakai headphone kosong.”
Aku menatapnya.
Di dalam kepalaku, dua suara bertabrakan seperti dua paket data di kabel yang sama.
Suara pertama: tawa pelan dari balik pintu pantry, delapan belas hari lalu. Kalian jahat, katanya, tapi suaranya tersenyum. Tulisan tangan miring dan rapi di selembar kertas yang belum pernah kulihat, tapi aku tahu ada di sana.
Suara kedua: ...iya. Tiga titik di depannya. Jam dua belas kurang sepuluh malam. Jari-jari yang menyusup di antara jari-jariku di atas keyboard, pelan, seperti mencoba memasukkan kunci ke lubang yang belum pernah ia buka.
Dua-duanya benar.
Aku tidak tahu bagaimana keduanya bisa benar di waktu yang sama. Tapi aku tahu, duduk di sini, di bawah langit yang terbakar pelan-pelan, bahwa aku tidak bisa lagi memilih hanya mempercayai suara yang pertama.
“Sama kamu,” kataku, “aku ngerasa aman.”
Kalimat itu keluar sebelum aku memeriksanya.
Biasanya aku memeriksa semua kalimat sebelum mengucapkannya. Seperti memeriksa kode sebelum di-deploy. Membaca ulang setiap baris, mencari celah, mencari kesalahan yang bisa membuat sistem jatuh.
Kalimat itu tidak kuperiksa. Kalimat itu keluar langsung dari tempat yang tidak pernah kubuka, dan baru ketika kalimat itu sudah di udara, sudah dibawa angin, sudah sampai di telinganya, aku menyadari dua hal.
Pertama, aku tidak memanggilnya Mbak.
Kedua, aku tidak menyebut diriku saya.
Celine menatapku. Matanya membesar sedikit. Gelas teh di tangannya berhenti berputar.
“Kamu,” katanya pelan, “barusan bilang kamu.”
Aku diam.
“Bukan Mbak. Kamu.”
“...Iya.”
“Dan aku. Bukan saya.”
“Iya.”
Ia menatapku lama. Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang kutunggu. Mungkin tawa. Mungkin ia akan menganggapnya lucu, seperti lelucon yang bisa diceritakan di grup chat. Target udah ganti panggilan, guys. Poin buat aku.
Ia tidak tertawa.
Ia tersenyum. Senyum yang pelan-pelan naik dari sudut bibirnya, tidak sempurna, tidak dihitung, membuat ujung matanya berkerut dan pipinya memerah di bawah cahaya jingga. Senyum yang belum pernah kulihat di wajahnya. Bukan senyum di lobi. Bukan senyum di lift. Bukan senyum yang sudah dipakai ratusan kali dan selalu berhasil.
Senyum yang terlihat seperti ia sendiri terkejut tersenyum.
“Jangan balik lagi ke Mbak,” katanya.
Aku tidak menjawab. Aku tidak perlu menjawab.
Kami duduk di sana sampai matahari tenggelam di balik gedung-gedung Sudirman, sampai langit berubah dari jingga ke ungu ke biru tua, sampai lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu di bawah kami seperti seseorang menyalakan lilin di ruangan yang sangat besar. Ia tidak bicara banyak. Aku juga tidak. Bahunya menyentuh bahuku. Ia tidak menariknya. Aku juga tidak.
Malam itu, di apartemen Kalibata, aku membuka catatan di ponsel.
Enam aturan. Yang terakhir kutambahkan dua setengah minggu lalu, setelah pantry: 6. Jangan masuk pantry lantai 19 hari Jumat sore.
Aku menggulir ke aturan nomor lima.
5. Jangan berharap.
Aku menatapnya lama. Jariku melayang di atas tombol hapus.
Aku tidak menghapusnya. Menghapus aturan itu berarti mengakui bahwa aku sudah melanggarnya, dan aku belum siap mengakui itu, bahkan pada catatan ponselku sendiri.
Jadi aku menambahkan satu baris di bawah semuanya.
7. Sudah terlambat buat nomor 5.
Aku menutup catatan itu.
Lalu aku membuka kalender dan menghitung. Hari ini hari kedua puluh tiga. Taruhan mereka berakhir di hari ketiga puluh. Tujuh hari lagi. Hari terakhirku di Trista, hari keempat puluh lima. Dua puluh dua hari lagi.
Lewat separuh. Dari dua-duanya.
Di kotak masuk email, di bawah surat terima kasih dari Pak Wibisono, email Haruto Mori masih di sana. Belum kubuka lagi sejak tiga minggu lalu. Kami akan menunggu. Hari ke-45.
Tokyo. Kota yang tidak pernah kukunjungi. Pekerjaan yang selama ini hanya bisa kubayangkan. Orang-orang yang mengenal namaku sebelum mengenal wajahku.
Tiga minggu lalu, itu terdengar seperti satu-satunya jalan keluar.
Malam ini, itu terdengar seperti pintu yang terbuka ke arah yang salah.
Pukul sebelas lewat dua puluh, notifikasi forum berbunyi.
celestial_c: Zero. Belum tidur?
Aku: Belum.
celestial_c: Dia manggil aku “kamu” hari ini. Bukan “Mbak”. Selama tiga minggu dia selalu manggil aku “Mbak”, kayak aku ini tante-tante di arisan. Hari ini dia bilang “kamu”. Dan “aku”.
celestial_c: Kamu pasti mikir aku bodoh. Seneng gara-gara kata ganti.
Aku: Nggak.
celestial_c: Sahabatku nanya di grup, minta update. Mereka biasanya minta screenshot chat, foto, apa aja buat bukti. Aku nggak kirim apa-apa. Aku bilang belum ada perkembangan.
celestial_c: Itu kedua kalinya aku bohong ke mereka.
celestial_c: Zero, aku nggak mau dia jadi poin di tabel Excel.
Aku menatap kalimat terakhir itu.
Aku nggak mau dia jadi poin di tabel Excel.
Tabel Excel. Ada tabel. Tentu saja ada tabel. Shafira pasti membuatnya. Mungkin dengan warna-warni. Mungkin dengan judul besar. Dan di tabel itu, ada baris-baris tentangku. Laptop yang diperbaiki. Bekal yang dihabiskan. Hoodie yang dipinjam. Poin, poin, poin.
Dan Celine tidak mau aku ada di sana.
Aku tidak tahu harus merasakan apa. Lega, karena ia menolak menjadikanku angka. Sakit, karena tabel itu ada. Bersalah, karena aku membaca semua ini sebagai orang yang ia tidak tahu sedang ia bicarakan.
Semuanya sekaligus. Seperti tiga paket data yang bertabrakan di kabel yang sama dan membuat seluruh jaringan berhenti sebentar.
Aku: Kalau kamu nggak mau dia jadi poin, berarti dia sudah bukan poin.
celestial_c: Terus dia apa?
Aku menatap pertanyaan itu lama.
Aku tahu jawabannya. Aku tahu sejak sore tadi, di bawah langit yang terbakar pelan-pelan, ketika kalimat itu keluar dari mulutku tanpa diperiksa. Aku tahu, dan itu yang membuatku takut.
Karena jawaban itu tidak bisa kuketik sebagai mr_zero.
Aku: Itu pertanyaan buat kamu, Cel. Bukan buat aku.
celestial_c: Kamu selalu ngembaliin pertanyaannya ke aku 😤
celestial_c: Oke. Aku tidur. Makasih, Zero.
celestial_c: Kamu tahu nggak, kadang kamu ngomong kayak dia. Datar tapi kena.
Status online-nya hilang.
Aku meletakkan ponsel di meja, di samping laptop yang masih menampilkan repo zero-guard, dan menatap langit-langit apartemen yang retak di satu sudut sejak aku pindah empat tahun lalu.
Kadang kamu ngomong kayak dia.
Hari kedua puluh tiga. Lewat separuh.
Aku sudah tahu jawabannya.
Aku jatuh cinta padanya. Pada perempuan yang menulis namaku di atas kertas. Pada perempuan yang tertawa pelan di pantry. Pada perempuan yang menunggu dua puluh menit di tangga darurat yang pengap, yang mempertahankan tagline sederhana dalam tiga rapat, yang tidak mau aku jadi poin di tabel Excel.
Aku tidak tahu kapan tepatnya. Mungkin di atap, waktu ia membetulkan kerah jaket Simanjuntak. Mungkin di karaoke, waktu lututnya tidak bergerak dari lututku. Mungkin semalam, waktu jari-jarinya menyusup di antara jari-jariku dan aku belajar, untuk pertama kalinya di usia dua puluh delapan, bagaimana cara membalas genggaman seseorang.
Aturan nomor tujuh benar.
Sudah terlambat.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu reading
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang