Chapter Twenty Four
Takut Kalah
POV: Alfa
Jumat pagi, kemeja flanel hijau itu kembali ke mejaku.
Dicuci. Disetrika. Dilipat rapi di dalam kantong kertas cokelat dengan stiker bunga matahari di bagian luarnya. Kemeja yang kemarin basah kuyup dan kuperas di sudut tangga darurat sekarang wangi pelembut pakaian mahal, wangi yang tidak pernah dimiliki kemeja apa pun yang kubeli di pasar Kalibata.
Aku tidak melihat siapa yang mengantarnya. Kantong itu sudah ada di atas keyboard ketika aku datang pukul tujuh lewat lima.
Bayu, yang sudah datang lebih dulu, menggelinding ke mejaku dengan wajah orang yang menyimpan rahasia besar dan tidak sabar membukanya.
“Bang. Bang. Itu datang jam setengah tujuh. Aku lihat sendiri. Mbak Celine. Turun dari lift, taruh di meja Abang, terus pergi. Nggak ngomong apa-apa. Tapi Bang, Bang, mukanya merah.”
“Merah, Bay?”
“Merah, Bang. Kayak tomat. Kayak Bang Togar kalau marah. Tapi versi cantik.”
Aku mengeluarkan kemeja itu dari kantong. Sesuatu jatuh dari lipatannya, melayang pelan ke lantai.
Selembar kertas kecil. Kertas catatan berwarna kuning pucat, dilipat dua. Aku memungutnya.
Tulisan tangan miring. Rapi. Tulisan tangan yang sudah kubayangkan bentuknya berkali-kali, tapi belum pernah kulihat sebelumnya.
Makasih kemejanya. Udah aku cuci, tapi kayaknya sabunku terlalu wangi. Maaf.
Besok kamu sibuk? Aku mau ke Kota Tua. Aku belum pernah ke sana tanpa kamera kerja dan tim produksi. Mau ikut?
— C.
Aku menatap tulisan itu lama.
Huruf-hurufnya miring ke kanan dengan sudut yang sama. Huruf g dengan ekor melingkar. Huruf k dengan kaki yang sedikit lebih panjang dari seharusnya. Tulisan tangan yang dilatih sejak SMA, kata Celine di atap, waktu ia bercerita soal kursus kaligrafi yang dipaksakan mamanya.
Aku memikirkan selembar kertas lain. Kertas di dalam map kulit cokelat Shafira. Kertas dengan namaku di bagian atas, dan di bawahnya, tulisan tangan yang sama. Tulisan yang belum pernah kulihat. Tulisan yang aku tahu ada di sana.
Huruf-huruf yang sama, mungkin. Miring dengan sudut yang sama. Menulis sesuatu tentangku yang tidak kuketahui isinya.
Aku melipat catatan kuning itu kembali dan memasukkannya ke saku kemeja.
Lalu aku mengambil ponsel dan mengetik.
Aku: Nggak sibuk. Jam berapa?
Balasannya datang dalam sepuluh detik. Terlalu cepat untuk seseorang yang sedang rapat pagi.
Celine: Jam 9. Aku jemput.
Celine: Jangan pakai kemeja wisuda. Pakai yang hijau. Udah aku setrika.
Bayu membaca percakapan itu dari balik bahuku. Aku tidak sadar ia ada di sana sampai ia mengeluarkan suara seperti ketel air yang mendidih.
“Bang,” bisiknya. “Bang. Kencan.”
“Jalan-jalan, Bay.”
“Kencan, Bang! Itu kencan! Cewek jemput cowok, jam sembilan pagi, ke tempat wisata, kasih instruksi baju!” Ia menggelinding mundur dengan kecepatan berbahaya, menabrak dispenser air untuk kedua kalinya bulan ini. “Abang belum siap! Abang butuh panduan!”
“Bay, aku nggak butuh...”
Tapi Bayu sudah membuka laptopnya, dan jari-jarinya sudah bergerak di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak pernah kulihat bahkan waktu ia mengerjakan tiket darurat.
Empat jam kemudian, pukul sebelas, sebuah dokumen dicetak dari printer lantai 17.
PANDUAN KENCAN PERTAMA — v2.0
Edisi Khusus Bang Alfa
Disusun oleh: Bayu Pradana
Berdasarkan: riset mendalam (3 video YouTube, 1 artikel majalah, 1 nasihat Bang Togar yang aku nggak yakin benar)
BAB 1: JANGAN BAHAS SERVER.
Apa pun yang terjadi. Bahkan kalau dia nanya. Bahkan kalau Abang lihat ada CCTV yang posisinya salah di Kota Tua. JANGAN.
BAB 2: PUJI SEPATUNYA.
Kata artikel majalah, cewek suka dipuji sepatunya karena itu menunjukkan Abang memperhatikan detail. Abang memang suka detail. Pakai bakat itu.
BAB 3: KALAU DIA MINTA GANDENG, GANDENG.
JANGAN TANYA “KENAPA”. Aku tahu Abang. Abang pasti tanya kenapa. Jangan.
BAB 4: KALAU DIA DIAM, JANGAN PANIK. DIAM ITU BAGIAN DARI KENCAN.
(Ini dari Bang Togar. Dia bilang istrinya diam tiga jam di kencan pertama mereka. Ternyata istrinya lagi marah. Tapi Bang Togar bilang itu tetap kencan yang bagus karena mereka akhirnya nikah.)
BAB 5: BAWA TISU.
Buat apa? Nggak tahu. Tapi semua video bilang bawa tisu.
Dokumennya empat halaman. Halaman terakhir berisi diagram alir berjudul KALAU DIA NGAJAK FOTO, dengan kotak-kotak bertuliskan Senyum, Senyum lebih lebar, Bang jangan senyum kayak lagi diinterogasi polisi.
Aku membacanya sampai habis. Lalu melipatnya dan memasukkannya ke tas.
Bayu menatapku dengan mata berbinar. “Abang bakal pakai?”
“Bab lima masuk akal.”
“Bang. Bab lima itu yang paling nggak masuk akal.”
“Tisu selalu berguna, Bay.”
Siang itu, aku tidak naik ke atap.
Celine sedang rapat di luar kantor sampai sore. Ia mengirim pesan pukul sebelas, Aku di Kuningan sampai jam 4, jangan nunggu di tangga ya, dan aku menyadari dengan sesuatu yang mirip rasa terkejut bahwa atap tanpa dia terasa terlalu besar. Terlalu sepi. Empat tahun aku makan siang di sana sendirian dan tidak pernah merasa sepi.
Tiga minggu. Hanya butuh tiga minggu untuk mengubah sesuatu yang sudah empat tahun.
Jadi aku turun ke lobi untuk membeli roti.
Di lobi, Shafira sedang tertawa.
Ia berdiri di dekat meja resepsionis bersama tiga orang dari tim Sales, blazer kuning cerah hari ini, lipstik merah seperti biasa. Ia sedang bercerita sesuatu dengan tangan bergerak-gerak, dan tiga orang di depannya tertawa terbahak-bahak. Tawanya sendiri paling keras dari semuanya, memantul di langit-langit lobi yang tinggi, terdengar sampai ke pintu putar.
Bu Ratna, di balik meja resepsionis, menatap Shafira dengan alis berkerut.
Shafira melihatku.
Hanya sepersekian detik. Matanya bertemu mataku di seberang lobi. Tidak ada senyum yang dihitung. Tidak ada Ganteng! Tidak ada langkah tegas ke arahku.
Lalu ia memalingkan wajah dan tertawa lebih keras.
Aku berjalan ke minimarket. Membeli roti tawar. Keluar lagi. Shafira masih di sana, masih tertawa, masih bercerita dengan tangan bergerak-gerak.
Ia tidak melihatku lagi.
Bu Ratna memanggilku pelan ketika aku lewat di depan meja resepsionis.
“Nak Alfa.”
“Ya, Bu?”
Bu Ratna mencondongkan tubuh, berbisik dengan suara yang hanya sedikit lebih pelan dari suaranya yang biasa. “Mbak Shafira dari pagi ketawa terus. Dari jam tujuh. Ibu sudah dua puluh tahun di sini, Nak. Ibu tahu bedanya orang ketawa karena senang sama orang ketawa karena takut diam.”
Aku menatap Bu Ratna. Lalu menatap Shafira di seberang lobi, yang sedang menepuk bahu salah satu anak Sales sambil tertawa.
“Dia yang mana, Bu?”
Bu Ratna diam. Lalu menghembuskan napas panjang, seperti ibu yang lelah.
“Kalau Ibu tahu, Ibu nggak bakal nanya kamu, Nak.”
Sore itu, pukul empat, aku lewat di depan lantai 19 untuk mengantar laptop pengganti ke tim Legal.
Meja Alea kosong. Kaktus bernama Pak Bambang sendirian di dekat jendela. Kotak bekal merah muda tidak ada di mana-mana.
Perempuan berkacamata rantai manik di meja sebelah menatapku dengan wajah yang tidak ramah. Wajah orang yang tahu sesuatu, dan tidak setuju dengan apa yang ia tahu.
“Alea izin pulang cepat,” katanya, sebelum aku bertanya. “Sakit kepala.”
“Terima kasih, Bu.”
“Mas.” Ia menurunkan kacamatanya. Menatapku dari atas lensa. “Kemarin dia nangis di toilet dua puluh menit. Hari ini dia nggak bawa bekal. Dua minggu ini dia bawa bekal tiap hari. Bangun jam lima. Hitung garam pakai pinset. Satu lantai ini tahu.” Ia kembali memakai kacamatanya. “Saya nggak tahu apa yang terjadi. Saya juga nggak mau tahu. Saya cuma bilang.”
Aku mengangguk. Aku tidak punya jawaban.
Aku menaruh laptop pengganti di meja Legal dan kembali ke lift.
Di dalam lift yang turun, aku menatap pantulan diriku di pintu yang mengilap. Kemeja flanel hijau, wangi pelembut pakaian mahal. Rambut yang disisir jari.
Aturan nomor empat. Kalau ada yang benar-benar terluka, berhenti.
Alea menangis di toilet. Shafira tertawa karena takut diam. Dan aku belum berhenti.
Aturan nomor delapan. Hari ke-30. Bilang semuanya. Ke Celine dulu.
Empat hari lagi.
Aku tidak yakin aku bisa menunggu empat hari lagi.
Pukul sebelas lewat empat puluh malam, notifikasi forum berbunyi.
Aku sudah menunggunya. Aku tidak mau mengakuinya, tapi aku sudah menunggunya sejak jam sembilan, duduk di meja kecil di samping jendela apartemen, menatap layar laptop yang menampilkan repo zero-guard tanpa benar-benar membaca kodenya.
celestial_c: Zero.
celestial_c: Besok aku ke Kota Tua sama dia.
celestial_c: Aku yang ngajak. Aku tulis di kertas kuning, aku selipin di kemeja yang aku pinjem. Kemeja dia. Kemarin aku kehujanan sama dia di atap, terus dia kasih kemejanya buat aku. Terus aku pulang dan nyuci kemeja itu sendiri. Pakai tangan. Aku nggak pernah nyuci baju pakai tangan. Ada mesin cuci di apartemenku. Aku nyuci pakai tangan.
celestial_c: Aku bodoh, kan?
Aku: Nggak.
celestial_c: Sahabatku tadi pagi bilang di grup, Jepang masih punya dia. Taruhannya masih jalan. Empat hari lagi. Aku jawab “iya”. Cuma “iya”. Aku nggak peduli Jepang, Zero. Aku nggak peduli siapa yang menang.
Titik-titik kecil. Lama. Lalu:
celestial_c: Aku takut aku kalah.
celestial_c: Bukan taruhannya.
Aku menatap dua baris itu.
Aku takut aku kalah. Bukan taruhannya.
Aku membacanya sekali. Dua kali. Lima kali. Sepuluh kali. Sampai huruf-hurufnya terlihat seperti bentuk-bentuk asing di layar, seperti kode yang ditulis dalam bahasa yang belum pernah kupelajari.
Di luar jendela, kereta malam terakhir melintas di kejauhan. Lampu-lampunya bergerak seperti benang cahaya yang ditarik pelan.
celestial_c: Kemarin di atap, waktu hujan, aku nanya ke dia. Kalau aku bilang aku senang di sini, kamu percaya? Dia bilang “aku mau percaya.”
celestial_c: Mau. Bukan percaya. Mau percaya.
celestial_c: Zero, kenapa orang bilang “mau percaya”? Kayak dia tahu sesuatu. Kayak dia nunggu sesuatu dari aku.
Jariku berhenti di atas layar.
Aku tahu jawaban yang benar. Jawaban yang seharusnya kutulis setahun lalu, atau tiga minggu lalu, atau hari keempat ketika aku duduk empat puluh menit di lantai 17 menatap pesannya tentang laptop dan slide yang salah angka.
Karena dia memang tahu sesuatu, Cel. Karena dia adalah aku.
Aku tidak menulisnya.
Aku: Mungkin dia nunggu kamu jujur dulu.
Tanda dibaca. Lalu diam. Lama sekali.
celestial_c: Jujur soal apa?
Aku: Kamu tahu soal apa.
Diam lagi. Lebih lama. Aku menatap layar sampai mataku perih.
celestial_c: ...Iya. Aku tahu.
celestial_c: Kalau aku jujur, dia bakal benci aku.
celestial_c: Dia orang paling jujur yang pernah aku kenal, Zero. Dia nggak bisa bohong bahkan buat bikin orang senang. Dia bilang telur sahabatku keasinan. Dia bilang tagline-ku nggak jujur. Kalau dia tahu aku deketin dia karena taruhan, kalau dia tahu aku nulis... kalau dia tahu apa yang aku tulis soal dia di hari pertama...
celestial_c: Dia nggak bakal pernah naik ke atap itu lagi sama aku.
Aku menatap kalimat yang terpotong itu. Kalau dia tahu apa yang aku tulis soal dia di hari pertama.
Apa yang ia tulis?
Aku tidak tahu. Aku tidak pernah membuka file itu. Aturan pertamaku. Akses admin bukan izin untuk membaca hidup orang lain. Aku hanya tahu nama file-nya. TARGET_JEPANG.pdf. Satu halaman. Dicetak dari akun Shafira, di printer Ruang Kyoto, pukul empat lewat empat puluh dua.
Apa yang ditulis Celine di atas satu halaman itu, sampai ia takut aku tidak akan pernah naik ke atap lagi kalau aku membacanya?
Aku memikirkan pantry lantai 19. Tawa Celine yang pelan. Kalian jahat, katanya, tapi suaranya tersenyum.
Aku memikirkan pelukan di bawah hujan. Detak jantungku sendiri, terlalu cepat, di bawah telinganya.
Dua-duanya benar. Aku sudah memutuskan untuk percaya bahwa dua-duanya bisa benar.
Jariku bergerak sebelum aku sempat menghentikannya.
Aku: Atau mungkin dia udah tahu. Dan dia masih naik ke atap itu.
Kirim.
Aku menatap pesan itu terkirim. Dua centang. Lalu dua centang biru.
Lalu tidak ada apa-apa.
Satu menit. Dua menit. Tiga.
Aku menyadari apa yang baru saja kulakukan. Aku menyadarinya seperti menyadari bahwa kita baru saja menekan tombol delete di direktori yang salah, terlambat satu detik.
Titik-titik kecil muncul. Menghilang. Muncul lagi.
celestial_c: Zero.
celestial_c: Kamu ngomong kayak kamu kenal dia.
Jantungku berhenti.
Aku menatap kalimat itu. Jari-jariku dingin. Di layar laptopku, repo zero-guard masih terbuka, dengan logo kecil di sudut kiri atasnya. Lingkaran dengan garis miring di tengahnya. Seperti angka nol yang dicoret.
Logo yang sama yang muncul di terminalku di war room lantai 22, empat hari lalu. Logo yang Celine tatap selama satu detik sebelum aku menutup jendelanya.
Aku tidak membalas.
Aku menutup laptop. Pelan. Seperti menutup pintu kamar orang yang sedang tidur.
Di ponselku, notifikasi forum berbunyi sekali lagi.
Aku tidak membukanya.
Aku duduk di meja kecil di samping jendela apartemen sampai jam dua pagi.
Aku membuka catatan di ponsel. Delapan aturan. Aku membaca semuanya dari atas ke bawah, seperti membaca dokumentasi sistem yang sudah terlalu banyak ditambal sampai tidak bisa dipahami lagi.
1. Jangan bohong soal perasaan.
Aku tidak berbohong soal perasaan. Aku berbohong soal hal lain. Soal siapa aku. Soal apa yang aku tahu. Soal ke mana aku akan pergi. Itu bukan perasaan. Tapi entah kenapa, itu terasa lebih buruk.
3. Jangan bilang kalau sudah tahu, sampai waktunya.
8. Hari ke-30. Bilang semuanya. Ke Celine dulu.
Aku menatap aturan nomor delapan.
Lalu, untuk pertama kalinya, aku membuka folder draf di aplikasi email. Aku mengetik nama Haruto Mori di kolom penerima.
Aku tidak menulis apa-apa di badan email. Aku hanya menulis subjeknya.
Re: Tawaran posisi Principal Security Engineer — Keputusan.
Aku menatap subjek itu. Kursor berkedip di badan email yang kosong.
Aku belum tahu apa yang akan kutulis. Saya terima. Atau mohon maaf, saya tidak bisa. Dua kalimat yang akan membawaku ke dua hidup yang berbeda. Satu di Tokyo, dengan orang-orang yang mengenal namaku sebelum wajahku. Satu di sini, dengan perempuan yang tidak bisa tidur karena dua kata sedikit apa-apa, yang mencuci kemejaku dengan tangan, yang takut kalah bukan karena taruhannya.
Aku menyimpan draf itu. Kosong. Hanya dengan subjek.
Besok, Kota Tua.
Senin, hari ke-29. Selasa, hari ke-30.
Aku akan bilang semuanya. Soal log printer. Soal pantry. Soal mr_zero. Soal Tokyo.
Dan sebelum itu, aku akan memutuskan apa yang kutulis di badan email itu.
Aku mematikan lampu dan berbaring di kasur, menatap retakan di sudut langit-langit yang sudah ada sejak aku pindah empat tahun lalu.
Di ponsel di meja samping kasur, notifikasi forum yang belum kubuka masih berkedip pelan. Satu pesan. Dari celestial_c.
Aku tidak membukanya sampai pagi.
Ketika aku akhirnya membukanya, pukul enam, isinya hanya satu kalimat.
celestial_c: Kalau kamu memang kenal dia, bilang ke dia aku minta maaf. Untuk semuanya. Sebelum aku sempat bilang sendiri.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah reading
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang