← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Eleven

Tiga Dewi dan Si Cupu

POV: Alfa


Gedung ini punya sistem sarafnya sendiri, dan sistem itu jauh lebih cepat dari jaringan yang kurawat.

Aku tahu sejak hari Kamis, hari kesebelas, ketika aku masuk lift pagi dan tiga orang yang sudah ada di dalamnya berhenti bicara secara bersamaan. Bukan berhenti karena selesai. Berhenti seperti radio yang dicabut kabelnya di tengah lagu.

Lift naik. Lantai dua. Lantai lima. Tidak ada yang bicara.

Aku menatap angka di atas pintu.

Di lantai sembilan, dua orang turun. Seorang perempuan dari tim Finance yang wajahnya kukenal samar-samar dan seorang laki-laki dengan kemeja ungu yang kuduga dari tim Sales. Sebelum pintu tertutup, aku mendengar suara laki-laki itu, tidak terlalu keras tapi juga tidak terlalu pelan. Volume orang yang tidak terlalu peduli apakah ia didengar.

“Itu dia orangnya. Yang dideketin tiga dewi.”

“Masa sih? Yang itu?”

“Paling dikasihani doang. Cowok kayak gitu mana mungkin.”

Pintu tertutup.

Aku menatap pantulan diriku di pintu lift yang mengilap. Kaos hitam hari ini. Rambut yang hanya diusap jari. Headphone di leher. Tidak ada yang berbeda dari empat tahun pagi sebelumnya.

Yang berbeda hanya cara orang lain melihatnya.


Bayu sudah tahu semuanya sebelum aku sampai di meja.

“Bang.” Wajahnya serius. Terlalu serius untuk jam delapan pagi. “Abang trending.”

“Trending di mana?”

“Di grup-grup kantor yang Abang nggak ada di dalamnya.” Ia menggelinding mendekat, memutar ponselnya ke arahku. “Grup Sales. Grup Finance. Grup Legal. Bahkan grup OB, Bang. Grup OB.”

Di layar ponselnya, tangkapan layar dari sebuah grup obrolan. Aku tidak tahu grup apa, tapi isinya cukup jelas. Foto dariku. Foto kemarin siang, diambil dari jauh, dari celah partisi tim network. Aku duduk di mejaku. Alea duduk di sampingku, memakai hoodie-ku yang lengannya kugulung tiga lipatan, tersenyum lebar. Di tanganku, sendok berisi telur dadar.

Di bawah foto itu, keterangan:

Program Sosial Bulan Ini: Dewi HR Nyuapin Anak IT 🤲 Semoga berkah, Mbak. #kasihan #amalJariyah

Diunggah oleh Dion S.

Di bawahnya, puluhan balasan. Aku tidak membacanya semua. Mataku hanya menangkap beberapa potong.

HAHAHAHA amal jariyah

Mbak Alea emang baik hati sih, kucing jalanan aja dikasih makan

Bentar lagi Mbak Celine juga ikut program sosial wkwk

Kasihan anaknya, ntar baper beneran 😭

Kalo dia baper terus ditolak gimana? Nangis di ruang server? 😂

Aku mengembalikan ponsel itu ke Bayu.

“Bang,” kata Bayu pelan. “Abang nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Bang, mereka ngetawain Abang.”

“Mereka ngetawain fotonya, Bay.”

“Fotonya foto Abang!”

Aku membuka dashboard monitoring. Tiga peringatan kuning. Satu server cadangan yang perlu dicek. Hal-hal yang bisa kuperbaiki.

“Bang.” Bayu tidak bergerak dari samping mejaku. Suaranya berubah, lebih kecil, lebih muda. “Aku yang cerita ke anak network kemarin. Soal Mbak Alea. Soal hoodie. Aku nggak tahu bakal nyebar. Aku cuma... aku seneng aja, Bang. Aku pikir ini kabar baik. Abang akhirnya ada yang...”

Ia berhenti. Matanya merah.

Aku menoleh padanya. Bayu Pradana, dua puluh tiga tahun, yang menulis panduan dua belas halaman untuk orang lain padahal ia sendiri belum pernah pacaran. Yang membawa papan tulis dari rumah. Yang menangis menonton video anak anjing di pantry.

“Bay,” kataku. “Bukan salahmu.”

“Tapi Bang...”

“Kamu cerita karena kamu seneng. Mereka nyebar karena mereka nggak seneng.” Aku kembali menatap monitor. “Itu beda.”

Bayu diam lama. Lalu ia menggelinding kembali ke mejanya, mengambil papan tulis kecilnya, menghapus semua tulisan lama, dan menulis satu kalimat dengan huruf besar-besar yang ditebalkan tiga kali:

DION = BUG.


Bang Togar tahu pukul sepuluh.

Aku tahu ia tahu karena tiba-tiba suara kursinya didorong ke belakang dengan keras, menabrak dinding partisi. Lalu suara langkah kaki yang berat, cepat, menuju lift. Lalu hening.

“Bayu,” kataku. “Bang Togar ke mana?”

Bayu menatapku dengan wajah pucat. “Bang. Tadi Bang Togar nanya aku soal foto itu. Terus aku tunjukin. Terus dia diem. Terus mukanya merah kayak alarm.”

Aku berdiri.


Lantai sembilan adalah lantai Sales. Ruangan terbuka dengan puluhan meja berderet, papan tulis besar penuh angka target, dan suara telepon yang terus berdering. Biasanya. Ketika aku keluar dari lift, ruangan itu sunyi.

Di tengah ruangan, di depan meja seorang laki-laki dengan kemeja ungu, Bang Togar berdiri dengan kedua tangan di pinggang.

Laki-laki berkemeja ungu itu Dion Saputra. Aku mengenalnya dari tiket-tiket bantuan IT yang ia ajukan dengan nada tidak sabar. Laptop lemot, tolong cepat. Wifi nggak konek, URGENT. Printer rusak, kenapa IT nggak pernah becus?

“Kau yang posting foto itu?” Suara Bang Togar menggema di ruangan. Ia tidak berteriak. Bang Togar tidak perlu berteriak. Volume normalnya sudah cukup untuk membuat kaca jendela bergetar.

Dion tersenyum miring. “Bang, itu cuma bercanda. Santai aja.”

“Bercanda.” Bang Togar mengangguk pelan. “Bercanda. Oke. Aku juga suka bercanda. Mau dengar candaanku?”

Dion tidak menjawab. Senyumnya mulai goyah.

“Laptop kau,” kata Bang Togar, “yang kau bilang lemot tiap minggu? Itu karena kau install tujuh belas aplikasi game bajakan. Tim aku yang bersihin. Tiap minggu. Diam-diam. Nggak pernah kami laporkan ke HR. Itu baru candaan.”

Seseorang di meja belakang menahan tawa.

“Wifi kau yang nggak pernah konek? Itu karena kau ganti password router lantai ini jadi nama mantan pacarmu, terus kau lupa. Tiga kali. Tim aku yang reset. Itu juga candaan.”

Tawa yang ditahan itu berubah jadi tawa yang pecah. Dua orang. Lalu lima.

Wajah Dion berubah merah.

“Dan anak yang kau foto itu,” Bang Togar melangkah satu langkah lebih dekat. Suaranya turun. Tidak lebih keras. Lebih berat. “Anak itu yang jaga data penjualan kau tiap malam. Anak itu yang selamatin laporan kuartalan kau waktu servernya crash tahun lalu, jam tiga pagi, waktu kau tidur nyenyak di rumah. Anak itu bukan program sosial. Anak itu aset. Aset terbaik yang dimiliki divisi aku.”

Ruangan kembali sunyi.

“Hapus fotonya,” kata Bang Togar. “Sekarang. Atau aku ceritakan candaan nomor empat. Yang soal browser history kau di jam kerja.”

Dion menghapus fotonya. Tangannya gemetar sedikit waktu menekan layar ponsel.

Bang Togar mengangguk puas. Lalu ia berbalik, melihatku berdiri di dekat lift, dan wajahnya yang tadinya seperti jenderal perang mendadak berubah jadi wajah ayah yang ketahuan menyembunyikan hadiah ulang tahun.

“Alfa! Kau... kau dari tadi di situ?”

“Dari candaan nomor satu, Bang.”

Bang Togar berjalan ke arahku. Lalu, di depan seluruh lantai Sales yang masih menatap, ia merangkul bahuku dengan satu tangan dan mengangkat tangannya yang lain ke udara seperti juri yang mengumumkan pemenang.

“SAUDARA-SAUDARA! INI ALFA DANUARTA! ANAK SAYA! KALAU ADA YANG MAU MENERTAWAKAN DIA, SILAKAN BERHADAPAN DENGAN KELUARGA BESAR SIMANJUNTAK!”

Hening.

Lalu seseorang di meja paling belakang bertepuk tangan. Satu orang. Lalu dua. Lalu, entah kenapa, separuh lantai Sales bertepuk tangan, dan aku berdiri di tengah-tengah tepuk tangan itu dengan bahu dirangkul Bang Togar, wajah datar, berharap lantai ini punya pintu darurat yang langsung menuju ke atap.

“Bang,” bisikku.

“Ya, Nak?”

“Aku bukan anak Abang.”

“Hari ini kau anakku.” Ia menepuk bahuku keras-keras. “Besok kau boleh jadi anak orang lain lagi.”


Kami kembali ke lantai 17 dengan lift yang sama.

Bang Togar berdiri di sampingku dengan dada membusung, masih bangga dengan pidatonya. Aku menatap angka di atas pintu.

“Bang,” kataku. “Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Nggak usah sampai turun ke lantai sembilan.”

Bang Togar diam sebentar. Lalu ia menoleh padaku, dan untuk pertama kalinya hari itu, suaranya pelan.

“Fa. Empat tahun kau kerja sama aku. Empat tahun kau nggak pernah minta apa-apa. Nggak pernah minta naik gaji. Nggak pernah minta cuti. Nggak pernah minta dibela.” Ia menatap pintu lift. “Kadang aku pikir, kau ini kebiasaan nggak minta, sampai lupa kalau kau juga boleh dibela.”

Aku tidak menjawab.

Lift berbunyi. Lantai 17. Pintu terbuka.

Bang Togar melangkah keluar lebih dulu, lalu menoleh dengan wajah yang sudah kembali normal. Keras, merah, kumis bergerak-gerak.

“Dan jangan bilang istriku aku pakai kata ‘anak saya’ di depan umum. Dia bakal tanya kenapa aku nggak pernah ngomong gitu ke anak kandungku sendiri.”


Pukul dua belas, aku tidak naik ke atap.

Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku tidak ingin ada yang mengikutiku ke sana hari ini. Mungkin karena aku tidak ingin, kalau Celine datang lagi, ia melihatku dengan cara orang-orang di lift tadi pagi melihatku.

Aku turun ke minimarket di lantai dasar untuk membeli roti.

Di depan lift lantai dasar, ada empat orang menunggu. Dua perempuan dari tim Legal, seorang laki-laki dari Finance, dan seorang lagi yang tidak kukenal. Mereka sedang tertawa ketika aku berhenti di belakang mereka. Lalu salah satu dari mereka menoleh, melihatku, dan menyikut temannya.

Bisikan yang sama. Aku sudah hafal polanya sekarang. Dua kepala yang mendekat. Mata yang melirik ke arahku lalu cepat-cepat berpaling. Tawa kecil yang ditahan.

“...yang itu, kan...”

“...kasihan sih, kalau dia beneran baper...”

“...Mbak Shafira katanya ngajak dia makan malam, pasti dia yang bayar semuanya...”

Aku menatap angka lift. Lantai tujuh. Lantai enam. Pelan sekali.

Lalu suara hak sepatu. Langkah yang tidak ragu-ragu.

“Ganteng.”

Semua kepala menoleh.

Shafira berjalan dari arah lobi dengan blazer hitam hari ini, kacamata hitam tersampir di kepalanya seperti bando, tas kulit merah di lengan. Ia tidak melambat. Ia berjalan langsung ke arahku, melewati empat orang yang tiba-tiba menegakkan punggung, lalu menyelipkan tangannya ke lekukan lenganku. Menggandeng. Erat. Bahunya menempel di bahuku.

“Kok nggak bales chat aku?” katanya, suaranya cukup keras untuk didengar seluruh lobi. “Aku nanya kamu mau makan siang di mana. Aku udah booking tempat. Kamu jangan kabur lagi, ya.”

Keempat orang di depan lift menatap kami dengan mulut sedikit terbuka.

Pintu lift terbuka. Mereka masuk. Shafira tidak bergerak. Ia tetap menggandeng lenganku, tersenyum manis ke arah mereka sampai pintu lift tertutup.

Lalu senyumnya hilang.

Ia melepas lenganku, mundur satu langkah, dan merapikan blazernya dengan gerakan cepat dan kesal.

“Aku benci orang yang bisik-bisik,” katanya. Tidak padaku. Pada pintu lift yang sudah tertutup. “Kalau mau ngomongin orang, ngomong yang keras. Biar orangnya bisa jawab.”

“Mbak nggak perlu,” kataku.

“Perlu apa?”

“Nggak perlu begitu. Buat saya.”

Shafira menatapku. Kacamata hitam di kepalanya sedikit miring. Untuk sesaat, aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang tidak ada di ruang rapat, tidak ada di restoran lantai empat puluh enam, tidak ada di grup chat yang penuh tawa. Sesuatu yang lebih tua dan lebih lelah.

“Itu bukan buat kamu,” katanya. “Itu buat aku.”

Aku tidak mengerti maksudnya. Ia tidak menjelaskan.

“Lagian,” katanya, suaranya kembali ringan, kembali Shafira yang kukenal, “aku nggak suka ada yang ngetawain target... maksudku, teman makan malamku.” Ia berhenti. Satu detik. Lalu tersenyum lebar, terlalu lebar. “Ayo. Aku beneran udah booking tempat. Ramen. Kamu makan ikan terus, sesekali makan babi kek.”

“Saya nggak makan babi, Mbak.”

“Ramen ayam, ya ampun. Detail.”

Ia berjalan ke pintu keluar lobi tanpa menunggu jawabanku. Langkahnya cepat. Hak sepatunya berbunyi tegas di lantai marmer.

Aku berdiri di depan lift sebentar, menatap punggungnya.

Target... maksudku, teman makan malamku.

Ia tidak sadar ia hampir mengatakannya. Atau ia sadar, dan menutupnya dengan senyum yang terlalu lebar. Aku tidak tahu yang mana.

Yang kutahu, dari empat orang yang berbisik di depan lift dan satu orang yang menggandeng lenganku untuk membuat mereka diam, hanya satu yang tahu bahwa aku adalah target.

Dan justru yang satu itu yang membelaku.

Aku menyusulnya keluar lobi. Bu Ratna melambai dari meja resepsionis dengan wajah penuh arti. Aku mengangguk sopan padanya.

Di dalam dadaku, ada sesuatu yang terasa seperti dua kabel yang dipasang terbalik. Hangat dan sakit di waktu yang sama. Arus yang mengalir ke arah yang salah.

Aku tersenyum pada Bu Ratna. Senyum yang sama yang kupakai untuk semua orang hari ini.

Tidak ada yang perlu tahu soal kabel itu.