← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Thirteen

DM dari Lantai 22

POV: Alfa


Akhir pekanku selalu sama. Empat tahun, hampir tanpa kecuali.

Sabtu pagi, mencuci baju di mesin cuci koin di lantai dasar apartemen. Kaos hitam, kaos abu, kaos navy, masing-masing tiga potong, diputar bergantian seperti jadwal backup. Sabtu siang, belanja di pasar dekat stasiun Kalibata. Sabtu sore sampai Minggu malam, menulis kode untuk zero-guard, membalas isu dari developer di negara-negara yang tidak pernah kukunjungi, dan memasak satu-satunya makanan yang bisa kumasak dengan benar.

Sup ayam.

Bukan sup ayam yang rumit. Ayam kampung, wortel, kentang, seledri, bawang goreng, dan satu bahan yang tidak pernah ditulis di resep mana pun: sedikit jahe yang dimemarkan, dimasukkan paling akhir. Ibuku yang mengajarkannya, waktu aku kelas dua SMA, beberapa bulan sebelum ia meninggal. Ia bilang aku harus bisa memasak setidaknya satu hal, supaya kalau aku sakit dan tidak ada siapa-siapa, aku tidak kelaparan.

Aku tidak pernah belajar resep lain. Satu resep itu cukup.

Minggu malam, aku duduk di meja kecil di samping jendela apartemen, mangkuk sup yang sudah dingin di samping laptop, dan menutup isu terakhir di zero-guard. Seorang developer dari Brasil menemukan celah kecil di modul autentikasi. Aku menambalnya, menulis catatan terima kasih, dan menekan tombol merge.

Pukul sebelas lewat empat puluh.

Notifikasi forum berbunyi.

celestial_c: Zero. Kamu masih bangun?


Aku sudah tahu sejak malam itu. Hari keempat.

Aku tidak mencarinya. Aku tidak membuka data siapa pun. Aku hanya membaca DM yang masuk ke akunku, seperti yang sudah kulakukan setahun terakhir dengan akun yang sama. Dan malam itu, DM-nya bercerita tentang taruhan, tentang cowok IT yang pendiam, tentang laptop yang sengaja dirusak dan diperbaiki dalam empat menit, tentang salah angka di slide presentasi.

Tidak ada dua perempuan di Jakarta yang mengalami hal yang sama persis di hari yang sama.

Aku duduk di lantai 17 malam itu selama empat puluh menit, menatap pesannya, tidak tahu harus berbuat apa. Perempuan yang selama setahun kukenal hanya lewat kata-kata. Perempuan yang bercerita soal kampanye yang gagal, soal atasannya yang tidak pernah membaca proposal sampai habis, soal bagaimana rasanya selalu dipuji untuk hal yang bukan dirinya. Perempuan yang kupikir, kalau aku jujur, adalah satu-satunya orang di dunia ini yang benar-benar bicara denganku.

Ternyata ia bekerja sepuluh lantai di atasku. Ternyata ia tersenyum padaku di lobi dengan senyum yang dihitung. Ternyata ia menulis catatan tentangku di selembar kertas berjudul Target Jepang.

Malam itu aku punya pilihan. Menutup akun. Berhenti membalas. Atau mengaku.

Aku membalas dua kalimat. Tergantung. Kamu mau menang, atau kamu mau kenal dia?

Sejak itu, aku belum berhenti.


Aku: Masih.

celestial_c: Syukurlah. Aku nggak bisa tidur.

celestial_c: Boleh cerita?

Aku: Boleh.

Titik-titik kecil muncul di layar. Menghilang. Muncul lagi. Aku menatapnya sambil memegang sendok sup yang sudah tidak kupakai.

Lalu pesannya datang. Panjang. Beberapa paragraf sekaligus, seperti ia sudah mengetiknya di tempat lain dan baru memberanikan diri mengirimnya sekarang.

celestial_c: Inget cowok IT yang aku ceritain? Yang taruhan itu?

celestial_c: Dia nggak kayak yang aku kira.

celestial_c: Aku kira dia cowok cupu yang bakal gugup kalau aku senyum. Ternyata dia nggak gugup sama sekali. Dia malah bikin aku yang gugup. Dia punya tempat rahasia di atap gedung, tempat dia makan siang sendirian tiap hari selama empat tahun. Empat tahun, Zero. Sendirian. Makan roti tawar polos. Aku ikut naik ke sana. Dia bilang tagline kampanyeku nggak jujur, dan dia benar. Aku ganti tagline-nya, dan untuk pertama kalinya aku bangga sama kerjaanku sendiri, bukan karena dipuji, tapi karena itu beneran yang mau aku bilang.

celestial_c: Terus minggu ini ada orang kantor yang nyebar foto dia, ngetawain dia. Dibilang program sosial. Dibilang kasihan. Atasannya sampai turun ke lantai Sales buat belain dia. Aku nanya dia nggak apa-apa, dia bilang nggak apa-apa. Aku bilang dia bohong. Terus dia bilang “sedikit apa-apa.”

celestial_c: Zero, aku nggak tahu kenapa, tapi dua kata itu bikin aku nggak bisa tidur tiga malam.

Aku menatap layar.

Sedikit apa-apa.

Aku mengatakannya hari Jumat siang di atap. Aku tidak berpikir panjang waktu mengatakannya. Itu hanya kalimat yang paling jujur yang bisa kukatakan tanpa melanggar aturan nomor tiga.

Ia membawanya pulang. Ia memikirkannya tiga malam.

celestial_c: Sahabatku bilang dia kayak bot. Di grup chat kami. Karena dia balesnya singkat-singkat. Sahabatku yang satu lagi ketawa. Aku diam aja.

celestial_c: Diam itu sama aja kayak ikut ketawa, kan?

celestial_c: Aku jahat nggak sih?

Tanda tanya di ujung pesannya seperti kait kecil yang tersangkut di dadaku.


Aku meletakkan sendok sup. Menatap jendela. Di luar, Jakarta masih menyala, lampu-lampu kereta di kejauhan bergerak seperti benang cahaya yang ditarik pelan.

Aku tahu apa yang seharusnya kulakukan. Aku sudah tahu sejak hari keempat.

Aku seharusnya menulis: celestial_c, aku harus jujur. Aku adalah cowok IT itu. Atau setidaknya, aku seharusnya berhenti membalas. Menutup akun ini. Membiarkan percakapan setahun itu mati pelan-pelan, seperti server lama yang dimatikan tanpa upacara.

Itu yang adil. Itu yang benar.

Karena setiap kali aku membalas sebagai mr_zero, aku membaca isi hati seseorang yang tidak tahu bahwa ia sedang bicara dengan orang yang sedang ia bicarakan. Setiap kali aku memberinya nasihat, aku memberinya nasihat tentang diriku sendiri. Itu bukan kejujuran. Itu akses admin yang dipakai untuk membaca hidup orang lain. Hal yang selalu kubilang tidak akan pernah kulakukan.

Aku tahu semua itu.

Tapi ia sedang bertanya apakah ia jahat. Jam dua belas kurang sepuluh malam. Tidak bisa tidur tiga malam. Dan satu-satunya orang yang ia tanya adalah aku.

Aku mengetik.

Aku: Kalau kamu takut kamu jahat, berarti kamu belum sejahat itu. Orang yang benar-benar jahat nggak pernah nanya.

Aku: Tapi diam itu memang bukan netral. Kamu benar soal itu.

Titik-titik kecil. Lalu:

celestial_c: Jadi aku harus gimana?

Aku menatap pertanyaan itu lama.

Berhenti. Itu jawaban yang paling sederhana. Berhenti taruhannya. Bilang ke sahabatmu. Robek kertasnya. Tapi kalau ia berhenti, ia tidak akan naik ke atap lagi. Tidak akan ada roti lapis dengan stiker bunga matahari. Tidak akan ada jari yang membetulkan kerah jaket. Tidak akan ada empat puluh lima hari yang pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang belum pernah kurasakan.

Aku menyadari, dengan sesuatu yang mirip rasa malu, bahwa aku tidak menginginkannya berhenti.

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Aku: Aku nggak bisa bilang kamu harus gimana. Tapi coba tanya diri sendiri satu hal.

Aku: Kalau taruhannya selesai besok, kalau hadiahnya hilang, kalau nggak ada yang menang dan nggak ada yang kalah, kamu masih mau naik ke atap itu?

Kirim.

Tanda dibaca muncul. Lalu tidak ada apa-apa.

Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Aku duduk di sana, di samping mangkuk sup dingin, menatap layar yang tidak bergerak. Aku sadar aku menahan napas. Aku tidak tahu sejak kapan.

Tujuh menit.

celestial_c: ...iya.

Satu kata. Tiga titik di depannya.

Aku menatap kata itu.

Di dadaku, sesuatu bergerak. Bukan seperti kabel yang dipasang terbalik. Bukan seperti tergores kertas. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat dan menakutkan di waktu yang sama, seperti berdiri di tepi atap dan merasakan angin mendorongmu dari belakang.

celestial_c: Aku nggak tahu kenapa aku jawab iya. Aku baru kenal dia dua minggu.

celestial_c: Zero. Boleh nanya hal pribadi?

Aku: Boleh.

celestial_c: Kamu pernah suka sama orang yang kamu tahu nggak boleh kamu suka?

Aku menatap pertanyaan itu sangat lama.

Jariku melayang di atas layar. Aku mengetik Nggak pernah. Itu bohong. Menghapusnya. Mengetik Pernah. Kamu. Itu terlalu jujur, dan itu juga belum sepenuhnya benar, karena aku sendiri belum tahu apa nama perasaan ini. Menghapusnya.

Aku: Pernah.

celestial_c: Terus?

Aku: Masih belajar.

celestial_c: Belajar apa?

Aku tidak menjawab yang itu. Aku menulis:

Aku: Tidur, Cel. Besok Senin.

Itu pertama kalinya aku menyingkat nama akunnya seperti itu. Cel. Aku baru sadar setelah pesannya terkirim. Setahun aku selalu menulis lengkap, celestial_c, seperti menulis nama variabel. Malam ini jariku menulis Cel, seperti nama orang.

Seperti nama yang diucapkan Shafira di lift. Cel, kamu ngelamun lagi.

Ia tidak bertanya. Mungkin ia tidak memperhatikannya.

celestial_c: Iya. Makasih, Zero. Kamu selalu tahu harus ngomong apa.

celestial_c: Kadang aku pengin kamu ketemu dia. Kalian kayaknya bakal cocok. Kalian sama-sama jujur dengan cara yang bikin orang nggak bisa tidur 😅

celestial_c: Selamat malam.

Status online-nya hilang.

Aku menutup laptop. Mangkuk supku sudah benar-benar dingin. Lemaknya membeku jadi lapisan tipis di permukaan.

Kalian kayaknya bakal cocok.

Aku tertawa. Sendirian, di apartemen kecil di Kalibata, jam dua belas malam. Tawa yang tidak terdengar lucu bahkan di telingaku sendiri.

Aku tahu ini salah. Aku tahu setiap pesan yang kubalas membuat jarak antara apa yang ia tahu dan apa yang sebenarnya terjadi semakin lebar. Aku tahu suatu hari nanti jarak itu akan runtuh, dan ketika itu terjadi, yang paling sakit bukan aku.

Aku tahu semua itu.

Aku tidak berhenti.


Senin pagi, lobi Trista Tower punya dua penjaga baru.

Penjaga pertama berdiri di sisi kiri pintu putar. Blazer hijau zamrud. Lipstik merah. Dua gelas kopi di tangan, gelas kertas dari kedai kopi mahal di seberang jalan.

Penjaga kedua berdiri di sisi kanan. Rok kuning. Jepit rambut berbentuk lebah. Hoodie abu-abu yang terlalu besar dengan lengan tergulung tiga lipatan. Kotak bekal merah muda di dekapan.

Mereka berdiri sekitar lima meter dari satu sama lain, dan mereka belum menyadari keberadaan satu sama lain. Sampai aku masuk lewat pintu putar.

“Ganteng!”

“Kak Alfa!”

Mereka bergerak bersamaan. Lalu mereka melihat satu sama lain. Lalu mereka berhenti bersamaan, seperti dua pemain catur yang tiba-tiba sadar mereka menggerakkan bidak ke kotak yang sama.

“Shaf?”

“Le?”

“Kakak ngapain di sini?”

“Kamu ngapain di sini?”

“Aku bawa bekal! Delapan belas butir garam!”

“Aku bawa kopi! Investasi!”

Di balik meja resepsionis, Bu Ratna meletakkan gagang telepon yang sedang ia pegang tanpa menutup panggilannya. Ia mencondongkan tubuh ke depan, kedua siku bertumpu di meja, matanya berbinar seperti penonton di barisan depan.

“Wah, wah,” katanya keras. “Ini kayak sinetron jam tujuh, Nak.”

Shafira pulih lebih dulu. Ia selalu pulih lebih dulu. Ia melangkah maju dengan senyum lebar, menyodorkan satu gelas kopi padaku, lalu, dengan tangan yang sekarang kosong, meraih kerah kemeja flanel yang kupakai di atas kaos hitam.

Kemeja flanel. Kubeli Sabtu kemarin di pasar Kalibata, karena hoodie-ku masih di Alea dan jaket Bang Togar sudah diminta kembali oleh istrinya.

Shafira membetulkan kerahnya. Pelan. Dengan dua tangan. Jarinya menekan lipatan kerah di sisi leherku, lalu turun sedikit, merapikan kancing teratas yang tidak perlu dirapikan.

“Pagi, ganteng,” katanya. “Kopi hitam. Tanpa gula. Aku hafal.”

Ia memang hafal. Aku tidak pernah memberitahunya. Mungkin Bayu. Mungkin Bang Togar. Mungkin ia memperhatikan gelas kopi di mejaku waktu ia duduk di atasnya dua minggu lalu.

“Terima kasih, Mbak.”

“Kak Alfa!” Alea menyelinap di bawah lengan Shafira, menyodorkan kotak bekal merah muda ke dadaku dengan dua tangan. “Delapan belas butir! Aku hitung pakai pinset! Mama sampai nanya aku lagi praktikum apa!”

Aku memegang kopi di tangan kanan dan kotak bekal di tangan kiri. Shafira masih memegang kerah kemejaku. Alea memegang ujung lengan kemejaku dengan dua jari, menggoyangkannya seperti waktu di ruang server.

“Bu Ratna,” seru Shafira tanpa menoleh, “ini bukan sinetron. Ini rapat koordinasi.”

“Rapat koordinasi kok pegang-pegang kerah, Nak,” jawab Bu Ratna. “Ibu sudah dua puluh tahun jadi resepsionis. Ibu tahu bedanya rapat sama rebutan.”

Pintu putar berputar lagi.

Aku tahu siapa itu sebelum menoleh. Lobi melambat dengan cara yang sudah kukenal. Satpam di pintu menurunkan tongkatnya. Bu Ratna menegakkan punggung.

Celine masuk dengan blus putih dan celana panjang abu-abu, tas kulit cokelat di lengan, rambut tergerai. Ia melihat kami. Shafira yang memegang kerahku. Alea yang memegang lenganku. Aku di tengah-tengah, memegang kopi dan bekal, seperti patung yang sedang dihias.

Ia tidak berhenti. Ia tidak bergabung. Ia tidak tersenyum dengan senyum yang dihitung.

Ia hanya menatapku. Sebentar. Sedetik, mungkin dua.

“Pagi,” katanya.

“Pagi, Mbak.”

Lalu ia berjalan melewati kami ke arah lift. Langkahnya tenang. Punggungnya tegak. Rambutnya bergerak seperti biasa.

“Cel!” seru Shafira. “Kamu nggak ikut? Ini rapat koordinasi!”

“Aku ada meeting jam delapan,” jawabnya tanpa menoleh.

Pintu lift terbuka. Ia masuk. Sebelum pintu tertutup, ia menoleh. Bukan ke Shafira. Bukan ke Alea.

Ke aku.

Aku menatapnya balik. Di antara kami, lobi yang ramai, Bu Ratna yang berkomentar, Shafira yang tertawa, Alea yang menggoyangkan lengan kemejaku.

Pintu lift tertutup.

Tujuh jam sebelumnya, perempuan itu duduk di apartemennya di Kuningan, tidak bisa tidur, mengetik satu kata dengan tiga titik di depannya. ...iya. Ia menulis bahwa ia baru kenal laki-laki itu dua minggu. Ia menulis bahwa dua kata sedikit apa-apa membuatnya tidak bisa tidur tiga malam. Ia menulis bahwa ia ingin laki-laki itu bertemu dengan sahabat online-nya.

Ia tidak tahu bahwa laki-laki itu sudah membaca semuanya.

Ia tidak tahu bahwa laki-laki itu berdiri di lobi ini, memegang kopi dari satu perempuan dan bekal dari perempuan lain, dan yang ia pikirkan hanya satu hal.

Kalau taruhannya selesai besok, kamu masih mau naik ke atap itu?

...iya.

“Kak?” Alea menarik lengan kemejaku. “Kakak bengong.”

“Maaf, Mbak.”

“Kakak lihatin lift terus.”

“Liftnya lambat, Mbak.”

Shafira menatapku. Lalu menatap pintu lift yang sudah tertutup. Lalu menatapku lagi. Matanya menyipit sedikit, seperti orang yang mendengar nada yang tidak pas di tengah lagu yang ia kenal baik.

Ia tidak berkata apa-apa.

Ia hanya melepaskan kerah kemejaku, merapikannya sekali lagi dengan gerakan yang terlalu cepat, dan tersenyum.

“Minum kopinya,” katanya. “Nanti dingin.”

Aku minum kopinya. Hitam. Tanpa gula. Ia memang hafal.

Rasanya pahit. Seperti seharusnya.