← Dia Tahu Sejak Hari Pertama

Chapter Twenty One

Hujan di Atap

POV: Celine


Kamis pagi, video pucuk tumpeng itu sudah ditonton tiga ribu kali.

Lebih dari jumlah karyawan Trista Group. Seseorang pasti meneruskannya ke luar. Mungkin ke grup alumni. Mungkin ke grup keluarga. Mungkin ke akun gosip kantor anonim yang entah dikelola siapa, yang mengunggahnya dengan keterangan: Plot twist tahun ini: Dewi Lantai 22 kasih pucuk tumpeng ke Mas IT. Kalian percaya cinta beda lantai? 🥺🍚

Komentar di bawahnya ratusan. Sebagian besar manis. Ya ampun lucu banget. Mas IT-nya ganteng ternyata kalau senyum. Aku dukung!!!

Sebagian lagi tidak.

Paling buat konten.

Dewi turun kasta.

Pasti ada maunya. Mana mungkin.

Aku membaca semuanya di lift pukul delapan pagi, sendirian, menatap layar dengan wajah yang kubuat sedatar mungkin. Lalu aku menutup aplikasinya, menyimpan ponsel di tas, dan menatap pantulan diriku di pintu lift yang mengilap.

Blus putih. Rambut tergerai. Lipstik nude. Wajah yang selama dua puluh tujuh tahun membuat orang lain membeku tiga detik.

Dewi turun kasta.

Aku tidak tahu kenapa kalimat itu yang paling menempel. Mungkin karena untuk pertama kalinya, aku tidak merasa turun. Aku merasa seperti seseorang yang selama ini berdiri di atas panggung, akhirnya turun dan menyadari bahwa lantai di bawah panggung lebih hangat.


Langit sudah gelap sejak pukul sebelas.

Bukan gelap malam. Gelap yang abu-abu kehijauan, berat, menggantung rendah di atas gedung-gedung Sudirman seperti selimut basah yang belum diperas. Dari jendela lantai 22, aku bisa melihat awan-awan tebal bergerak dari arah selatan, menelan puncak-puncak gedung satu per satu.

Pukul dua belas kurang lima, aku tetap naik ke tangga darurat lantai tiga puluh dua.

Ia sudah di sana. Duduk di anak tangga paling atas, dua kantong kertas di sampingnya. Bukan roti tawar. Roti lapis. Dengan stiker bunga matahari.

“Aku yang beli kali ini,” katanya, mengulurkan satu kantong padaku. “Di tempat yang sama.”

Aku menatap stiker bunga matahari itu. Lalu menatapnya.

“Kamu cari tempat aku beli?”

“Stikernya ada nama tokonya.”

Aku menerima kantong itu. Ada sesuatu yang hangat menjalar dari jari-jariku ke dadaku, seperti teh yang baru diseduh.

“Mau hujan,” kataku, menatap pintu besi. “Mau tetap di atas?”

“Belum hujan.”

Ia menempelkan kartu. Lampu hijau. Pintu terbuka.

Angin di atap lebih kencang dari biasanya. Berat. Basah. Berbau tanah dan aspal dan sesuatu yang logam, bau yang selalu datang sebelum hujan besar. Langit di atas kami seperti kubah abu-abu yang terlalu rendah, hampir bisa disentuh.

Kami duduk di bangku papan kayu. Makan roti lapis. Tidak banyak bicara.

Aku memikirkan video itu. Aku memikirkan dewi turun kasta. Aku memikirkan Alea, yang tadi pagi tidak membalas pesan siapa pun di grup. Aku memikirkan jari-jari Shafira yang gemetar di atas setir.

Lalu aku memikirkan kertas itu. Kertas di dalam map kulit cokelat Shafira, dengan tulisan tanganku di bawah namanya. Kertas yang tidak pernah kulihat lagi sejak hari pertama, tapi tidak pernah benar-benar keluar dari kepalaku.

Aman.

Digarisbawahi dua kali.

Aku tidak tahu kenapa aku menggarisbawahinya dua kali. Aku sudah memikirkannya berkali-kali. Mungkin karena aku ingin meyakinkan diriku sendiri. Mungkin karena duri kecil di sepatuku, hari itu di Ruang Kyoto, sudah memberitahuku bahwa ada yang salah, dan aku menekan pulpen lebih keras supaya tidak mendengarnya.

“Kamu ngelamun,” katanya.

“Aku mikir.”

“Mikir apa?”

Aku menatapnya. Laki-laki yang memakai kemeja flanel hijau hari ini. Yang membeli roti lapis dari toko yang namanya ia baca dari stiker. Yang tidak tahu apa-apa soal kertas di dalam map kulit itu.

“Mikir kalau aku orang jahat,” kataku.

Ia berhenti mengunyah.

“Kenapa?”

Aku membuka mulut. Kata-kata itu ada di sana, di ujung lidah. Karena aku ikut taruhan. Karena kamu target. Karena aku menulis kata yang membuat seluruh dadaku sakit setiap kali aku melihatmu tersenyum.

Petir menyambar di kejauhan. Terang putih sekilas, membelah awan di atas Kuningan. Tiga detik kemudian, gunturnya sampai. Berat dan panjang, seperti sesuatu yang besar sedang bergeser di atas langit.

Lalu hujan turun.


Tidak pelan-pelan. Tidak dimulai dengan gerimis yang sopan.

Hujan turun seperti seseorang menumpahkan seember air dari atas langit, sekaligus, tanpa peringatan. Dalam satu detik, lantai beton atap yang tadinya kering berubah gelap. Dalam tiga detik, rambutku basah. Dalam lima detik, roti lapis di tanganku hancur jadi bubur.

“Masuk!” Ia berdiri, meraih tanganku. “Pintunya...”

Kami berlari ke pintu besi. Lima belas meter. Hujan begitu deras sampai aku tidak bisa melihat lebih dari dua meter ke depan. Ia menempelkan kartu aksesnya ke panel.

Lampu merah.

Ia menempelkannya lagi. Merah.

“Panelnya basah,” katanya, setengah berteriak di antara suara hujan. “Sensornya korslet. Butuh beberapa menit buat kering.”

Aku menatapnya. Rambutnya menempel di dahi. Air mengalir dari ujung hidungnya, dari dagunya, dari kerah kemeja flanel hijau yang sekarang berubah warna jadi hijau tua yang gelap.

Ia menarikku ke bawah lis beton kecil di atas pintu. Tempat berteduh selebar setengah meter. Tidak cukup untuk dua orang. Bahu kami menempel. Punggungku menempel ke pintu besi yang dingin. Air hujan masih memercik ke kaki kami.

Lalu aku tertawa.

Aku tidak tahu kenapa. Tawa itu keluar begitu saja, dari tempat yang dalam, tempat yang sudah lama tidak kubuka. Aku tertawa sampai perutku sakit. Sampai air mata bercampur dengan air hujan di pipiku dan aku tidak bisa membedakan mana yang mana.

“Mbak...” Ia menatapku dengan wajah bingung. “Kamu kenapa?”

“Aku nggak pernah,” aku terengah di antara tawa, “aku nggak pernah kehujanan.”

“Nggak pernah?”

“Sejak SD.” Aku mengusap wajahku. Maskaraku pasti sudah luntur ke mana-mana. “Sejak umur tujuh tahun, mamaku bilang perempuan cantik nggak boleh kelihatan berantakan. Jadi aku selalu bawa payung. Selalu. Ke mana-mana. Kalau lupa bawa payung, aku nunggu di dalam sampai hujannya berhenti. Pernah nunggu tiga jam di lobi mal.”

Aku menatap hujan di depan kami. Deras, putih, menghapus seluruh kota di balik tirainya.

“Dua puluh tahun aku nggak pernah kehujanan,” kataku.

Lalu, sebelum aku sempat berpikir, aku melangkah keluar dari bawah lis beton itu.

Ke tengah hujan.


Airnya dingin. Dingin dan keras, memukul kepalaku, bahuku, wajahku yang terangkat ke langit. Blus putihku langsung basah kuyup, menempel di kulit. Rambutku jatuh berat di punggung. Sepatu flat krem yang kubeli bulan lalu terendam di genangan air yang sudah setinggi mata kaki.

Aku membuka tangan lebar-lebar. Memejamkan mata. Membiarkan hujan menghapus semuanya. Maskara. Lipstik nude. Bedak. Senyum yang dihitung. Tiga detik. Dewi turun kasta.

Aku tertawa lagi.

Ketika aku membuka mata, ia sudah berdiri di depanku. Di tengah hujan juga. Ia keluar dari bawah lis beton itu, mengikutiku, dan sekarang berdiri satu langkah di depanku dengan kemeja flanel yang basah kuyup dan rambut yang menempel di dahi dan wajah yang tidak datar sama sekali.

Wajahnya tersenyum.

Bukan setengah senyum. Bukan sudut bibir yang naik sedikit lalu ditahan. Senyum penuh, yang membuat matanya menyipit dan memperlihatkan gigi depannya yang sedikit tidak rata. Senyum yang membuatnya terlihat lebih muda. Seperti anak laki-laki yang baru diizinkan main hujan untuk pertama kalinya.

Aku belum pernah melihatnya tersenyum seperti itu.

Aku tidak yakin ada orang lain yang pernah melihatnya.

“Kalau aku bilang aku senang di sini,” kataku, setengah berteriak di antara suara hujan, “kamu percaya?”

Senyumnya tidak hilang. Tapi ada sesuatu yang lewat di matanya. Sesuatu yang cepat dan berat, seperti awan yang menutupi matahari sebentar.

“Aku mau percaya,” katanya.

Mau.

Bukan percaya. Mau percaya.

Aku mendengar bedanya. Di tengah hujan yang menderu, di tengah guntur yang bergulung di atas Kuningan, aku mendengar bedanya dengan jelas, seperti mendengar satu nada sumbang di tengah lagu yang dinyanyikan dengan sempurna.

“Kenapa cuma mau?” tanyaku.

Ia tidak menjawab.

Ia hanya menatapku. Air hujan mengalir di wajahnya seperti air mata yang bukan air mata. Senyumnya masih ada, tapi sekarang terlihat berbeda. Lebih tua. Lebih lelah. Seperti senyum orang yang tahu sesuatu yang tidak bisa ia katakan.

Dan aku tiba-tiba takut.

Takut bahwa ada sesuatu yang ia tahu. Takut bahwa mau itu bukan keraguan biasa. Takut bahwa di suatu tempat di balik wajah yang tenang itu, ada hal yang tidak pernah ia ceritakan, sama seperti ada hal yang tidak pernah kuceritakan.

Aku melangkah maju dan memeluknya.


Aku tidak merencanakannya. Tidak ada strategi. Tidak ada kebetulan yang dirancang.

Aku hanya melangkah, melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya, dan menempelkan pipiku di dadanya yang basah.

Ia membeku.

Tiga detik. Aku menghitungnya, kebiasaan lama yang tidak bisa hilang. Tiga detik ia berdiri di sana, tangan di samping badan, tidak bergerak sama sekali. Tiga detik yang selama dua puluh tujuh tahun selalu jadi milik laki-laki lain di depanku.

Ternyata ia juga bisa membeku. Hanya butuh hujan dan pelukan, bukan wajahku.

Lalu, di detik keempat, kedua lengannya bergerak. Pelan. Ragu. Seperti seseorang yang belum pernah memeluk siapa pun dan tidak yakin harus meletakkan tangannya di mana. Satu lengan di punggungku. Satu lagi di belakang kepalaku, jari-jarinya tenggelam di rambutku yang basah.

Ia memelukku balik.

Tidak erat. Hati-hati. Seperti memegang sesuatu yang bisa pecah.

Aku bisa mendengar detak jantungnya di bawah telingaku. Cepat. Jauh lebih cepat dari biasanya. Jauh lebih cepat dari waktu Shafira mengikat dasinya, kalau cerita Shafira benar. Jauh lebih cepat dari waktu Alea menyuapinya telur, kalau cerita Alea benar.

Detak jantung yang tidak bisa disembunyikan di balik wajah datar mana pun.

Hujan terus turun. Guntur terus bergulung. Kami berdiri di tengah atap Trista Tower, basah kuyup, berpelukan di bawah langit yang abu-abu kehijauan, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku tidak peduli bagaimana aku terlihat.

“Kamu dingin,” bisiknya di atas kepalaku.

“Kamu juga.”

“Aku nggak apa-apa.”

Aku tertawa di dadanya.

“Sedikit dingin,” ralatnya.


Panel akses kering setelah delapan menit.

Kami masuk ke tangga darurat, meneteskan air di setiap anak tangga, meninggalkan jejak basah di lantai beton seperti dua ekor anjing yang baru selesai berenang. Ia membuka kemeja flanel hijaunya, memperlihatkan kaos hitam di baliknya yang juga basah, lalu memeras kemeja itu di sudut tangga sampai airnya mengalir ke lantai.

Lalu ia menyodorkannya padaku.

“Blusmu,” katanya, menatap dinding, bukan menatapku. “Tembus pandang.”

Aku menunduk. Blus putihku memang menempel di kulit, dan di balik kain yang basah itu, segala sesuatu terlihat jauh lebih jelas dari yang seharusnya.

Pipiku panas. Panas sekali, bahkan di tubuh yang menggigil.

Aku mengambil kemeja flanel itu. Memakainya. Basah dan dingin, tapi tebal. Kebesaran. Lengannya menjuntai melewati ujung jariku, persis seperti hoodie di foto story Alea dua minggu lalu.

Aku memikirkan itu. Aku tidak bisa tidak memikirkannya.

Lalu aku memutuskan untuk tidak memikirkannya.

“Kamu turun duluan,” katanya. “Aku tunggu lima menit.”

“Kenapa?”

“Kalau kita turun berdua, basah berdua, dari arah yang sama...” Ia berhenti. “Nanti ada video lagi.”

Aku tertawa. Lalu berhenti, karena aku menyadari ia benar. Dan karena aku menyadari ia memikirkan itu untukku. Untuk namaku. Untuk komentar dewi turun kasta yang tidak pernah kuceritakan padanya, tapi entah bagaimana ia tahu.

Aku turun sendirian, lewat tangga darurat sampai lantai tiga puluh, lalu naik lift ke lantai 22 dengan kemeja flanel hijau kebesaran dan rambut yang meneteskan air ke lantai lift.

Dua orang dari tim Finance yang satu lift denganku menatapku dengan mulut terbuka.

Aku menatap mereka balik dan tersenyum.

Bukan senyum yang dihitung.


Pukul satu siang, di toilet lantai 22, aku berdiri di depan cermin.

Rambut basah. Maskara luntur. Kemeja flanel hijau kebesaran di atas blus putih yang masih basah. Pipi merah. Mata merah. Bibir yang tidak berhenti tersenyum, meskipun aku sudah mencoba berhenti.

Aku tidak terlihat seperti dewi. Aku terlihat seperti perempuan biasa yang baru saja kehujanan.

Aku belum pernah sebahagia ini dengan wajahku sendiri.

Lalu ponselku bergetar. Grup chat Dewi-Dewi Lembur.

Shafira: Cel, kamu di mana? Aku ke lantai 22 tadi, kamu nggak ada.

Shafira: Tim kamu bilang kamu naik jam 12 dan belum balik.

Shafira: Hujannya deres banget lho. Kamu di mana?

Aku menatap pesan itu.

Aku memikirkan semua jawaban yang mungkin. Aku memikirkan kebetulan. Aku memikirkan ada urusan. Aku memikirkan semua kebohongan kecil yang sudah kupakai dua minggu terakhir untuk menyimpan atap ini, bangku papan kayu ini, laki-laki ini, di tempat yang tidak bisa dijangkau tabel Excel.

Aku mau percaya, katanya.

Kenapa cuma mau?

Mungkin karena ia merasakan sesuatu yang tidak jujur dariku. Mungkin karena ia bisa membaca kebohongan seperti membaca log server. Mungkin, kalau aku terus berbohong, ia tidak akan pernah bisa lebih dari mau.

Aku: Di atas. Sama dia. Kehujanan.

Aku menatap pesan itu sebelum mengirimnya.

Lalu aku menghapusnya.

Aku: Ada meeting di luar. Kehujanan di jalan. Udah balik kok.

Kirim.

Aku menyimpan ponsel di saku kemeja flanel yang kebesaran. Menatap cermin lagi.

Perempuan di cermin itu masih tersenyum. Tapi senyumnya sekarang sedikit berbeda. Sedikit lebih berat di ujungnya. Seperti kue yang terlalu manis, yang meninggalkan rasa pahit di belakang lidah.

Tiga kali. Itu kebohongan ketiga.

Dan aku masih tidak tahu kenapa laki-laki itu hanya mau percaya.