Chapter Thirty Five
Hari Kedua
POV: Alea
Aku sudah tahu sejak Rabu pagi, hari ketiga puluh satu.
Tidak ada yang tahu bahwa aku tahu. Tidak Kak Celine. Tidak Kak Shafira. Tidak Bu Ratih. Tidak Bu Wiwik di meja sebelah yang sekarang membawakanku dua bungkus permen jahe setiap pagi. Hanya aku, dan kotak masuk hr.ops@tristagroup.co.id, dan dua email yang masih ada di sana sampai sekarang, karena aku tidak sanggup menghapusnya.
Rabu pagi itu, aku datang pukul tujuh. Wajahku bengkak. Hari sebelumnya aku berdiri di dalam lift yang terbuka di lantai 21 dan melihat Kak Alfa di ambang pintu tangga darurat, di belakang kerumunan, dan ia menggeleng padaku. Satu kali. Jangan. Lalu ia pergi, dan aku tidak berani mengejarnya.
Aku membuka kotak masuk HR, karena itu pekerjaanku, dan pekerjaan adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan tanpa menangis.
Email teratas dikirim Selasa malam, pukul sepuluh lewat empat puluh dua.
Mohon abaikan email saya sebelumnya. Pengunduran diri saya tetap berjalan sesuai tanggal semula.
Tidak ada nama di dalamnya. Hanya tanda tangan otomatis. Alfa Danuarta, IT Infrastructure, Lt. 17.
Email saya sebelumnya.
Aku menggulir ke bawah.
Email kedua dikirim Senin malam, pukul sebelas lewat sebelas. Malam sebelum hari ketiga puluh. Malam sebelum Dion. Malam sebelum foto itu.
Dengan ini saya mengajukan permohonan pembatalan pengunduran diri yang saya ajukan pada tanggal [hari ke-5]. Saya memutuskan untuk tetap bekerja di Trista Group.
Mohon dibantu prosesnya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Terima kasih, Mbak Alea, untuk semuanya.
Aku membaca kalimat terakhir itu sampai huruf-hurufnya kabur.
Ia memutuskan untuk tinggal. Senin malam, sebelum semuanya runtuh, laki-laki itu memutuskan untuk tidak pergi ke Tokyo. Dan orang pertama yang ia beri tahu adalah aku. Terima kasih, Mbak Alea, untuk semuanya.
Lalu Selasa pagi, ribuan orang membaca tulisan tanganku di bawah namanya.
Resign tgl 45 — makin aman ♡
Dan Selasa malam, dua puluh tiga jam setelah email pertama, ia menulis mohon abaikan. Tanpa nama siapa pun di dalamnya. Tanpa terima kasih.
Aku duduk di depan komputer dengan tangan menutupi mulut. Bu Wiwik meletakkan dua bungkus permen jahe di samping Pak Bambang si kaktus. Ia tidak bertanya. Ia hanya meletakkan tangannya di bahuku selama lima detik, lalu kembali ke mejanya.
Aku tidak memproses pembatalan itu. Tidak perlu. Email kedua membatalkan email pertama.
Aku juga tidak menghapus keduanya.
Dan aku tidak memberi tahu siapa pun.
Sudah lebih dari seminggu.
Kamis, hari ketiga puluh sembilan, aku turun ke lantai 17.
Aku membawa kotak bekal merah muda. Telur dadar dengan seledri, bulat sempurna, delapan belas butir garam. Mama memasaknya bersamaku pukul lima pagi. Mama tidak bertanya untuk siapa. Mama sudah tahu semuanya sejak Selasa malam, ketika aku pulang dan duduk di lantai dapur dan menceritakan semuanya dari awal sampai akhir sambil menangis. Ruang Kyoto. Kertas. Pantry. Makin aman. Papa mendengarkan dari ambang pintu dapur dengan tangan di belakang punggung, wajahnya seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang belum pernah ia miliki.
Papa tidak marah. Papa hanya bilang satu kalimat, malam itu, sebelum masuk kamar.
Kalau kamu salah, Le, minta maaf. Jangan nunggu dia yang maafin duluan.
Jadi aku turun ke lantai 17.
Lantai 17 berbeda dari terakhir kali aku ke sana. Di partisi di samping lift, kertas karton besar dengan tulisan spidol merah. LANTAI 17 ADALAH WILAYAH KELUARGA BESAR SIMANJUNTAK. Di bawahnya, tulisan-tulisan tambahan. (dan wakil ketua: Bayu P.) (dan seluruh tim network) (dan lobi juga, Nak). Dan di paling bawah, kecil sekali, di sudut: (dan subuh juga).
Aku tidak tahu siapa yang menulis yang terakhir itu.
Bayu melihatku keluar dari lift. Ia tidak berdiri seperti dulu. Tidak berteriak MBAK ALEA! Tidak minta dibawakan bekal. Ia hanya menatapku, lalu menatap kotak bekal di tanganku, lalu menatap meja di sebelahnya.
Kak Alfa ada di sana. Kemeja flanel hijau. Dokumen panjang di layar monitornya. Kucing oranye di sudut kiri.
Kucing oranye itu masih di sana.
Aku berdiri di samping mejanya. Ia menoleh.
“Mbak Alea.”
“Kak Alfa.”
Ia menatapku. Matanya tenang. Cokelat gelap. Seperti biasa. Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada apa-apa di sana. Seperti air di dasar sumur yang sudah lama tidak ditimba.
Aku meletakkan kotak bekal di samping keyboard-nya. Lalu, sebelum aku kehilangan keberanian, aku bicara.
“Aku yang bocorin,” kataku. “Resign Kakak. Aku yang bilang ke Kak Celine sama Kak Shafira. Hari keenam. Di pantry lantai 19. Aku yang nulis makin aman. Aku yang gambar hatinya. Aku...”
Suaraku pecah.
“Kakak bilang makasih karena aku jaga rahasia Kakak. Di bawah pohon ketapang. Kakak bilang makasih. Padahal aku yang bocorin dari awal.”
Kak Alfa menatapku lama.
“Saya tahu, Mbak,” katanya.
Aku berhenti bernapas.
“Hari Jumat itu,” katanya. Suaranya pelan. Datar. Seperti membaca laporan cuaca. “Hari keenam. Saya ke lantai 19 buat tanda tangan surat. Mbak di pantry. Saya mau ambil air.”
Ia diam sebentar.
“Pintunya nggak ditutup rapat.”
Kotak bekal merah muda di samping keyboard-nya tiba-tiba terlihat sangat kecil.
Hari keenam. Aku memegang tangannya untuk menandatangani surat itu delapan menit setelah keluar dari pantry. Aku bilang kalau Kakak pergi, nanti yang makan telur keasinanku siapa. Dengan bibir sedikit maju. Seperti kalimat yang dibuat untuk membuat laki-laki tersenyum dan merasa dibutuhkan.
Dan ia sudah mendengar semuanya. Delapan menit sebelumnya.
Kayak bendera negara yang lagi berkabung.
Aku taruhan dia belum pernah dipegang cewek sama sekali.
Ini makin aman. Nggak ada yang sakit.
Dan setelah itu, ia tetap memakan telurku. Lima kali. Ia tetap membawakanku sup ayam resep ibunya. Ia tetap datang jam sebelas malam ke lantai 19 untuk mencari satu spasi di antara dua ribu tiga ratus baris data. Ia tetap menggulung lengan hoodie-nya tiga lipatan di pergelangan tanganku.
Ia tahu.
Ia tahu sejak awal, dan ia tetap melakukannya.
“Kakak,” bisikku. “Kenapa?”
Ia tidak menjawab. Ia menatap kotak bekal di samping keyboard-nya.
“Besok sore,” katanya. “Jam lima. Ruang Kyoto. Saya mau ngomong. Bertiga, Mbak. Mbak, Mbak Celine, Mbak Shafira.”
“Kak...”
“Saya yang pesan ruangannya, Mbak,” katanya. “Sudah.”
Aku membuka sistem pemesanan ruang rapat di ponselku dengan tangan gemetar.
Ruang Kyoto, lantai 21. Jumat, pukul 17.00–18.00. Dipesan oleh: Alfa Danuarta. Peserta: 4.
Judul rapat: Proyek 30 Hari — Penutupan.
Jumat, hari keempat puluh, pukul lima kurang lima.
Aku sampai di depan Ruang Kyoto lebih dulu. Lalu Kak Shafira, dari arah lift, tanpa lipstik merah untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya. Lalu Kak Celine, dari tangga darurat, dengan blus abu-abu dan mata yang sudah bengkak sebelum ia masuk ruangan.
Kami bertiga berdiri di depan pintu kaca Ruang Kyoto dan tidak ada yang berani membukanya.
Di dalam, di kursi di ujung meja, duduk seseorang yang tidak kami duga.
Boneka beruang cokelat. Setinggi anak umur tujuh tahun. Kaos I ♥ SURABAYA. Topi baseball terbalik. Papan nama akrilik Kak Shafira masih tergantung miring di dadanya.
“Itu Pak Hartono,” kata Kak Shafira pelan. Suaranya serak. “Rina taruh dia di sini karena mejaku penuh.”
Kami menatap Pak Hartono. Pak Hartono menatap kami balik dengan mata plastik hitamnya yang bulat.
Lalu Kak Celine tertawa. Satu suara kecil, pecah, yang keluar begitu saja. Lalu Kak Shafira. Lalu aku.
Kami bertiga tertawa di depan pintu Ruang Kyoto, sambil menangis, karena boneka beruang dari Surabaya duduk di kursi tempat Kak Shafira dulu duduk ketika ia bilang aku punya ide.
Dari ujung koridor, dua kepala menyembul dari balik pilar. Bayu dan Bang Togar. Bayu memegang papan tulis kecil. Bang Togar memegang dua gelas teh dari pantry.
“Kami jaga pintu,” kata Bang Togar dengan suara yang tidak berbisik sama sekali. “Biar nggak ada yang ganggu. Kalau ada yang bawa speaker, aku yang hadapi.”
“Bang Togar,” kata Kak Celine.
“Ya, Bu?”
“Makasih.”
Bang Togar menatap Kak Celine lama. Lalu mengangguk sekali, kaku, seperti prajurit.
“Saya bukan jaga buat Ibu,” katanya. Suaranya pelan untuk pertama kalinya. “Saya jaga buat anak saya.”
Lift berbunyi.
Kak Alfa keluar.
Ia membuka pintu Ruang Kyoto dan menahannya. Seperti di atap. Seperti setiap kali.
Kami masuk. Kami duduk. Kursi yang sama. Kak Shafira di ujung, di samping Pak Hartono. Kak Celine di kiri. Aku di kanan.
Ia tidak duduk. Ia berdiri di dekat dinding kaca, dengan langit sore Jakarta di belakangnya, jingga kotor di atas Sudirman. Warna yang hanya cantik kalau difoto dari ketinggian.
Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku kemeja flanelnya. Dilipat dua kali. Membukanya. Meletakkannya di tengah meja.
Satu baris di bagian atas. Huruf kecil-kecil, seperti mesin tik.
16:42 | SHAFIRA.N | PRN-21-KYOTO | TARGET_JEPANG.pdf | 1 hal.
Kak Shafira menutup mulutnya dengan dua tangan.
“Itu log printer,” kata Kak Alfa. “Server cetak seluruh gedung. Saya yang kelola.”
Ia berhenti sebentar.
“Saya tahu sejak hari kedua.”
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas.
“Hari kedua, pagi,” lanjutnya. “Stiker kucing di monitor. Mbak Celine senyum di lobi. Sehari sebelumnya, Mbak Shafira ketuk dada saya di lift. Empat tahun nggak ada yang ngomong sama saya. Terus tiga orang dalam dua puluh empat jam.” Ia menunjuk baris di kertas itu. “Saya cek log printer. Terus saya cek pemesanan ruang rapat. Ruang Kyoto. Tiga peserta. Proyek 30 Hari.”
Ia menatap kami bertiga satu per satu.
“Saya nggak buka file-nya. Saya nggak tahu isinya. Saya cuma tahu nama file-nya, dan nama saya ada di dalamnya.”
“Hari keenam,” katanya, menatapku, “saya dengar di pantry lantai 19.”
Aku menunduk.
“Saya tahu dari awal saya target,” katanya. “Saya nggak tahu kenapa saya dipilih. Saya baru tahu Selasa kemarin. Dari fotonya.”
Ia tidak menyebut kata itu. Ia tidak perlu. Kami bertiga tahu kata apa yang ia maksud.
Kak Celine menangis tanpa suara. Air matanya jatuh ke atas meja, satu-satu, ke samping kertas log printer.
“Kenapa?” Kak Shafira yang bertanya. Suaranya keluar seperti sesuatu yang dirobek. “Kalau kamu tahu dari hari kedua. Kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu... kenapa kamu ikut? Kenapa kamu nggak marah?”
Kak Alfa diam lama.
Ia menatap langit di luar dinding kaca. Jingga kotor. Lampu-lampu gedung yang mulai menyala satu per satu.
“Saya mau resign,” katanya. “Sebelum kalian taruhan, saya sudah dapat tawaran. Empat puluh lima hari. Saya pikir...” Ia berhenti. “Saya dua puluh delapan tahun. Saya belum pernah pacaran. Belum pernah suka sama siapa-siapa. Bukan karena saya nggak mau. Karena nggak pernah ada yang berdiri cukup lama di depan saya.”
Ia menatap kami.
“Terus kalian datang. Bertiga. Alasan kalian salah. Saya tahu itu. Tapi kalian berdiri di depan saya lebih lama dari siapa pun yang pernah berdiri di depan saya.”
Ia berhenti lagi.
“Saya cuma mau tahu rasanya,” katanya. “Sebelum pergi. Sekali aja.”
Aku menangis. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menangis dengan wajah ditutup lengan hoodie abu-abu yang kebesaran, hoodie miliknya, yang sudah dua minggu kupakai setiap hari.
Kak Shafira tidak menangis. Kak Shafira duduk dengan punggung tegak dan tangan terkepal di pangkuan, menatap meja, wajahnya pucat seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang sangat berat supaya tidak jatuh.
Kak Celine mengangkat kepala.
“Alfa,” katanya. “Yang aku bilang hari Selasa. Di lantai 21. Itu bohong. Aku cuma mau...”
“Saya tahu, Mbak.”
Kak Celine berhenti.
“Saya tahu Mbak bohong soal saya,” katanya. Suaranya tidak berubah. Datar. Pelan. Seperti membaca status server. “Saya yang ada di atap. Saya tahu saya tertarik.”
Ia diam sebentar.
“Tapi karena saya tahu Mbak bohong soal yang itu,” katanya, “saya nggak tahu Mbak bohong soal yang mana lagi.”
Kak Celine menatapnya. Bibirnya terbuka. Tidak ada suara yang keluar.
“Di depan dua puluh orang, Mbak pilih bilang cuma main,” katanya, lebih pelan. “Mungkin Mbak punya alasan. Saya nggak nanya alasannya. Saya nggak mau tahu.” Ia menatap kertas log printer di tengah meja. “Saya sudah empat tahun jadi orang yang cuma ada di atap, Mbak. Yang nggak boleh kelihatan di lobi. Saya nggak mau lagi.”
Kak Celine menutup wajahnya dengan dua tangan.
Ia melipat kertas log printer itu kembali. Dua kali. Memasukkannya ke saku kemeja.
Lalu ia menatap kami bertiga. Satu per satu. Pelan. Seperti mencatat sesuatu untuk disimpan di tempat yang aman.
Kak Shafira, yang duduk tegak dengan tangan terkepal di samping boneka beruang.
Aku, yang menangis di balik lengan hoodie-nya.
Kak Celine, yang menutup wajahnya dan bahunya bergetar.
“Saya nggak marah,” katanya. “Saya mau kalian tahu itu. Saya nggak marah sama siapa pun.”
Lalu ia mengatakan kalimat yang akan kuingat sampai aku tua.
“Terima kasih sudah memilih saya,” katanya. “Saya jadi tahu rasanya.”
Ia membungkuk sedikit. Seperti orang yang berpamitan di akhir rapat yang biasa.
Lalu ia membuka pintu Ruang Kyoto dan keluar.
Kami mendengar langkahnya di koridor. Tidak tergesa. Tidak ragu. Langkah yang sama seperti setiap hari. Kami mendengar Bang Togar memanggil namanya dengan suara pelan, Fa, dan langkah itu tidak berhenti. Kami mendengar pintu lift berbunyi, terbuka, tertutup.
Lalu tidak ada apa-apa.
Tidak ada yang bicara selama sepuluh menit.
Langit di luar dinding kaca berubah dari jingga ke ungu. Lampu-lampu Sudirman menyala lebih terang. Pak Hartono si beruang duduk di kursinya, menatap kami dengan mata plastik, papan nama akrilik Kak Shafira masih tergantung miring di dadanya.
Terima kasih sudah memilih saya.
Kami memilihnya karena ia aman. Karena ia tidak akan baper. Karena ia tidak akan mengadu. Karena kalau ia sakit, tidak akan ada yang perlu repot.
Dan ia berterima kasih.
Aku menatap Kak Celine. Ia masih menutup wajahnya. Bahunya masih bergetar.
Ia tidak tahu soal email itu. Email Senin malam. Saya memutuskan untuk tetap bekerja di Trista Group. Ia tidak tahu bahwa laki-laki itu sudah memilih untuk tinggal. Untuknya. Malam sebelum semuanya runtuh.
Aku bisa bilang sekarang. Di ruangan ini. Kak, dia pernah mau tinggal. Dia batalin resign-nya Senin malam. Buat Kakak.
Lalu Kak Celine akan tahu bahwa yang menghancurkan semuanya bukan hanya cuma main-nya. Bukan hanya aman-nya. Tapi juga satu baris tulisan tanganku dengan gambar hati kecil di ujungnya, yang dibaca ribuan orang dua belas jam setelah laki-laki itu memutuskan untuk tidak pergi.
Aku membuka mulut.
Aku menutupnya.
Bukan sekarang. Kak Celine tidak akan sanggup mendengarnya sekarang. Biar Kak Celine nggak sakit sekarang.
Itu pikiran yang sama. Pikiran yang sudah dua kali menghancurkan segalanya. Toh dia pergi, nggak ada yang sakit. Biar Kak Celine nggak sakit sekarang.
Aku mengenalinya kali ini. Aku mengenalinya seperti mengenali wajah orang yang pernah menyakitiku.
Dan aku tetap menutup mulutku.
Malam itu, di rumah, Mama menemukanku di lantai dapur.
Aku duduk bersandar ke kulkas, masih memakai hoodie abu-abu, memeluk kotak bekal merah muda yang kubawa pulang dari lantai 17. Kotak itu kosong. Bersih. Sampai butir nasi terakhir. Ia memakannya. Kemarin siang, setelah aku pergi, Bayu bilang Kak Alfa memakan telur dadar itu sampai habis. Pelan. Tanpa berkata apa-apa. Lalu mencuci kotaknya sendiri di pantry dan menaruhnya di meja Bayu dengan pesan kembalikan ke Mbak Alea.
“Le,” kata Mama, berjongkok di depanku.
“Dia tahu, Ma,” bisikku. “Dari hari kedua. Dia tahu semuanya. Dia dengar aku ketawa di pantry. Dia dengar aku bilang nggak ada yang sakit. Dan dia tetap makan telurku. Lima kali. Dia tetap bawain aku sup ibunya.”
Mama memelukku.
“Dia bilang terima kasih udah milih dia, Ma. Terima kasih.”
Dari ambang pintu dapur, Papa berdiri dengan tangan di belakang punggung. Lama. Lalu ia berjalan masuk, mengambil gelas dari rak, menuang air putih, dan meletakkannya di lantai di sampingku. Lalu ia duduk di lantai juga. Papa, yang pinggangnya sakit sejak pensiun, yang tidak pernah duduk di lantai, duduk di lantai dapur di sampingku dan Mama.
“Le,” kata Papa. “Orang yang bilang terima kasih setelah disakitin itu bukan orang lemah.”
Aku menatap Papa.
“Itu orang yang udah terlalu lama sendirian,” kata Papa, “sampai dia bersyukur disakitin, asal ada yang ngeliat.”
Aku menangis lebih keras.
Di saku hoodie abu-abu, ponselku bergetar. Satu notifikasi. Grup chat Dewi-Dewi Lembur, yang sudah sebelas hari sepi.
Celine: Le. Shaf.
Celine: Aku nggak tahu harus ngomong apa.
Celine: Maafin aku. Aku yang nulis kata itu.
Satu menit kemudian:
Shafira: Aku yang print kertasnya.
Satu menit kemudian, aku mengetik dengan tangan gemetar.
Aku: Aku yang bocorin.
Tidak ada yang menulis apa-apa lagi malam itu.
Tapi untuk pertama kalinya dalam sebelas hari, kami bertiga ada di ruangan yang sama lagi. Meskipun ruangan itu hanya layar ponsel, dan yang kami bagi hanya pengakuan dosa.
Lima hari lagi.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua reading
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang