Chapter Twelve
Lunas
POV: Alfa
Jumat siang, ada orang lain di atap sebelum aku.
Aku tahu sebelum membuka pintu besi. Panel aksesnya mencatat pintu itu tidak dibuka sejak kemarin pagi. Tapi di tangga darurat, di anak tangga paling atas, duduk seseorang dengan blus biru muda dan dua kantong kertas cokelat di pangkuannya.
Celine mendongak ketika mendengar langkahku.
“Kemarin kamu nggak naik,” katanya.
Bukan pertanyaan. Bukan tuduhan. Hanya fakta, disampaikan dengan nada orang yang menunggu dua puluh menit di tangga darurat yang pengap dan tidak mendapatkan apa-apa.
“Iya, Mbak. Maaf.”
“Aku nunggu dua puluh menit.” Ia berdiri, merapikan roknya. “Terus aku turun, dan satu gedung lagi ngomongin pidato Bang Togar di lantai Sales.”
Aku tidak menjawab. Aku menempelkan kartu ke panel akses. Lampu hijau. Pintu terbuka, dan angin atap menyambut kami seperti biasanya, bersih dan sedikit terlalu kencang.
Kami duduk di bangku papan kayu yang sama. Celine menyerahkan salah satu kantong kertas padaku.
“Apa ini, Mbak?”
“Makan siang. Yang bukan kertas.”
Aku membukanya. Roti lapis. Roti gandum panggang, isi ayam suwir, telur rebus, selada, tomat, dan saus yang kuduga mayones dengan sesuatu yang lain di dalamnya. Dibungkus kertas roti dengan rapi, diikat tali rami. Di atas bungkusan itu, ada stiker kecil berbentuk bunga matahari.
“Mbak bikin sendiri?”
“Aku beli.” Ia membuka kantongnya sendiri. “Aku nggak bisa masak. Aku bisa beli dengan sangat baik.”
Aku menatap roti lapis itu sebentar. Lalu memakannya. Rasanya enak. Lebih enak dari roti tawar polos yang kumakan empat tahun di atap ini.
“Enak, Mbak.”
“Kamu bilang enak?” Ia menatapku dengan mata menyipit. “Kamu bilang telur Alea keasinan. Kamu bilang slide-ku salah angka. Kamu bilang tagline-ku nggak jujur. Kamu beneran bilang enak?”
“Ini beneran enak, Mbak.”
Ia menatapku lama. Lalu tersenyum. Bukan senyum yang dihitung. Senyum yang lebih kecil, lebih tidak sempurna, yang membuat ujung matanya sedikit berkerut.
“Oke,” katanya. “Aku catat.”
Kami makan dalam diam selama beberapa menit. Angin meniup rambutnya ke depan wajah berkali-kali, dan ia menyibakkannya ke belakang telinga berkali-kali dengan kesabaran orang yang sudah biasa.
“Soal kemarin,” katanya akhirnya. “Foto itu. Aku lihat sebelum dihapus.”
Aku berhenti mengunyah.
“Aku lihat komentar-komentarnya juga.” Ia menatap langit, bukan menatapku. “Ada yang nyebut nama aku. Bentar lagi Mbak Celine ikut program sosial.” Ia tertawa, pendek dan tidak lucu. “Aku pengin bales. Aku udah ngetik. Terus aku hapus.”
“Kenapa dihapus, Mbak?”
Ia diam lama.
“Karena aku takut,” katanya. “Kalau aku bales, orang bakal tanya kenapa aku peduli. Terus aku harus jawab. Dan aku nggak tahu jawabannya.”
Ia menoleh padaku. Matanya cokelat terang di bawah sinar matahari siang. Ada sesuatu di sana yang tidak kukenal. Bukan hitungan. Bukan strategi.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa, Mbak.”
“Kamu selalu bilang gitu.”
“Karena memang nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Aku menatapnya. Ia menatapku balik, tidak berkedip.
“Kamu bilang ke aku tagline-ku nggak jujur,” katanya pelan. “Jadi aku boleh bilang ke kamu, nggak apa-apa kamu juga nggak jujur.”
Angin bertiup. Rambutnya jatuh lagi ke depan wajah. Kali ini ia tidak menyibakkannya.
Aku memikirkan semua jawaban yang mungkin. Semua yang benar. Aku dengar kalian di pantry Jumat lalu. Aku tahu namaku ada di kertas. Aku tahu soal taruhan. Aku tahu, dan aku tetap naik ke sini, dan aku tetap makan roti lapismu, dan aku tetap tidak tahu kenapa.
Aturan nomor tiga. Jangan bilang kalau sudah tahu, sampai waktunya.
“Sedikit apa-apa,” kataku akhirnya.
Celine menatapku. Lalu, pelan, ia mengangguk. Seperti mencatat sesuatu. Seperti ia menerima jawaban itu sebagai sesuatu yang lebih berharga dari nggak apa-apa yang biasa.
Lalu ia mengulurkan tangan dan mengambil selembar tisu dari kantongnya. Ia menunjuk sudut bibirku dengan tisu itu.
“Ada saus,” katanya.
Aku mengangkat tangan untuk membersihkannya sendiri. Ia lebih dulu. Ujung tisu menyentuh sudut bibirku, ringan, sekali usap.
Lalu ia menarik tangannya kembali dan menatap tisu itu, seperti ia sendiri terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan.
“Maaf,” katanya. “Kebiasaan.”
“Kebiasaan bersihin mulut orang, Mbak?”
“Kebiasaan...” Ia berhenti. Pipinya memerah. “Lupakan.”
Aku tidak melupakannya.
Pukul empat sore, Alea muncul di samping mejaku dengan hoodie abu-abu dan senyum lebar.
“Kak Alfa! Jumat sore! Pantry lantai 19! Ada kue dari Kak Shafira, katanya hadiah karena stikernya jadi stiker resmi Q4. Gabung, yuk!”
Aku menatapnya. Aku memikirkan baris keenam di catatan ponselku.
6. Jangan masuk pantry lantai 19 hari Jumat sore.
“Saya ada patching, Mbak.”
“Ih, Kakak patching mulu.” Ia memanyunkan bibir. “Ya udah, nanti aku sisain kue. Aku taruh di meja Kakak.”
Ia pergi. Bayu, di seberang meja, menatapku dengan kening berkerut.
“Bang,” katanya pelan. “Patching Jumat kan aku. Bang Togar yang tuker jadwalnya minggu lalu.”
“Iya, Bay.”
“Terus Abang patching apa?”
“Hal lain.”
Bayu menatapku lama. Lalu, mungkin untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk dan kembali ke mejanya.
Satu jam kemudian, sepotong kue red velvet muncul di atas mejaku, di atas piring kertas, dengan stiker kucing oranye bertuliskan SEMANGAT! menempel di pinggirnya.
Aku memakannya. Rasanya manis. Terlalu manis. Seperti kebanyakan hal minggu ini.
Pukul tujuh lewat dua puluh malam, basement B2 hampir kosong.
Aku sedang berjalan ke motorku ketika mendengar suara yang tidak asing. Suara mesin mobil yang mencoba menyala dan gagal. Cekrek-cekrek-cekrek. Lalu diam. Lalu cekrek-cekrek lagi, lebih putus asa.
Lalu suara perempuan yang mengumpat dengan kata-kata yang tidak akan kutulis di dokumentasi mana pun.
Mini Cooper merah terparkir di dekat pilar C-14. Pintunya terbuka. Shafira duduk di kursi pengemudi dengan kedua tangan memukul setir, dan Pak Udin berdiri di samping mobil dengan wajah orang yang menyaksikan kecelakaan dari kejauhan dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Mbak, kayaknya akinya, Mbak,” kata Pak Udin. “Tadi pagi lampunya nyala terus. Saya mau bilang, tapi Mbak sudah naik lift.”
“Kenapa Bapak nggak kejar?”
“Mbak jalannya cepat sekali, Mbak. Saya sudah tua.”
Shafira menyandarkan dahinya ke setir. Lalu ia melihatku dari kaca spion.
Ia menegakkan tubuh dengan cepat. Merapikan rambut. Wajahnya berubah dari putus asa menjadi Shafira yang biasa dalam waktu kurang dari satu detik. Seperti seseorang yang menutup jendela aplikasi yang tidak boleh dilihat orang lain.
“Hai, Mas IT,” katanya, suaranya kembali ringan. “Kebetulan lewat?”
“Motor saya di sana, Mbak.”
“Oh.” Ia menatap motorku, lalu menatap mobilnya. “Kamu nggak bisa nolong mobil pakai motor, kan?”
“Bisa, Mbak.”
Ia menatapku.
Aku berjalan ke motorku, membuka jok, dan mengeluarkan kotak hitam seukuran buku tebal. Jump starter portabel. Aku membelinya dua tahun lalu setelah mobil Bang Togar mogok di basement yang sama dan kami harus menunggu derek selama tiga jam.
Aku kembali ke Mini Cooper, membuka kap mesinnya, dan memasang penjepit merah dan hitam ke kutub aki.
“Kamu bawa ginian ke mana-mana?” tanya Shafira dari kursi pengemudi.
“Buat jaga-jaga, Mbak.”
“Jaga-jaga apa?”
“Jaga-jaga ada yang lupa matiin lampu.”
Pak Udin tertawa terbahak-bahak. Shafira melemparnya dengan tatapan tajam, dan tawanya berubah jadi batuk.
“Coba nyalakan, Mbak.”
Shafira memutar kunci. Mesin terbatuk sekali. Dua kali. Lalu menyala, menderu, lampu dasbor berkedip dan menyala terang.
Aku melepas penjepit, menutup kap mesin, dan memasukkan jump starter kembali ke kotaknya.
“Jangan dimatikan dulu, Mbak. Biarin nyala lima belas menit. Biar akinya ngisi.”
Shafira turun dari mobil. Mesin masih menderu di belakangnya. Ia berdiri di depanku, dan aku menyadari sepatunya hari ini bukan stiletto. Sepatu datar. Sepatu yang nyaman. Di pergelangan kakinya, di atas tumit kanan, plester luka berwarna kulit masih menempel. Plester yang sama ukurannya dengan yang kubelikan Sabtu lalu.
“Aku punya utang sama kamu,” katanya.
“Nggak ada utang, Mbak.”
“Ada. Plester Sabtu kemarin. Aki hari ini.” Ia berhenti sebentar. “Dan aku mau bayar sekarang, sebelum aku lupa. Aku benci punya utang.”
Lalu ia melangkah maju, mengangkat tumitnya sedikit, meletakkan satu tangannya di dadaku untuk menjaga keseimbangan, dan mencium pipiku.
Cepat. Ringan. Bibirnya menyentuh tulang pipiku tepat di bawah mata, hangat dan sedikit lengket dari lipstik, lalu menghilang.
Wangi jeruk bakar. Napas yang hangat di kulitku. Satu detik, mungkin kurang.
Ia mundur. Menatapku dengan dagu terangkat, menunggu.
Aku tidak bergerak.
Di belakang Shafira, di depan posnya, Pak Udin mengangkat koran yang entah dari mana ia ambil, membukanya lebar-lebar, dan menutupi wajahnya. Pura-pura membaca. Dengan sangat serius.
Korannya terbalik.
Aku berdiri di sana. Satu detik. Dua detik. Tiga.
Di dalam kepalaku, sebuah suara yang tidak kuundang. Suara dari balik pintu pantry, delapan hari lalu.
Aku taruhan dia belum pernah dipegang cewek sama sekali.
Empat detik.
Sekarang aku sudah pernah. Dicium, bahkan. Di pipi, di basement B2, di samping Mini Cooper yang mesinnya masih menderu. Oleh perempuan yang menyimpan selembar kertas dengan namaku di dalam map kulitnya.
Lima detik.
“Utangnya lunas,” kataku.
Shafira menatapku. Matanya bergerak sedikit, seperti mencari sesuatu di wajahku. Telinga yang memerah. Napas yang tertahan. Tangan yang gemetar. Hal-hal yang biasanya ia temukan di wajah laki-laki setelah ia melakukan sesuatu seperti itu.
Aku tidak tahu apa yang ia temukan.
Tapi ekspresinya berubah. Hanya sedikit. Seperti orang yang mengulurkan tangan untuk bersalaman, dan tangan lawannya ternyata dingin.
“Oke,” katanya. Ia tertawa, pendek. “Lunas.”
Ia masuk ke mobil. Menutup pintu. Kaca jendela turun separuh.
“Makasih, Mas IT,” katanya, tanpa menatapku. “Senin aku traktir kopi. Itu bukan bayar utang. Itu investasi.”
Mini Cooper merah itu meluncur keluar dari basement, lampu belakangnya berkelip di tikungan, lalu hilang.
Pak Udin menurunkan korannya pelan-pelan.
Ia menatapku. Aku menatapnya. Lalu ia menatap korannya, membalik-baliknya, dan menyadari sesuatu.
“Mas,” katanya. “Korannya kebalik, ya?”
“Iya, Pak.”
“Dari tadi?”
“Dari tadi, Pak.”
Pak Udin melipat korannya dengan khidmat. “Saya baru sadar, Mas. Saya nggak bisa baca juga sebenarnya, pencahayaannya kurang. Saya cuma butuh sesuatu buat nutupin muka.” Ia mengangguk sendiri. “Saya sudah jaga basement sebelas tahun, Mas. Tapi saya belum pernah lihat orang dicium terus ngomong utangnya lunas.”
“Saya juga belum pernah, Pak.”
“Belum pernah dicium?”
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke motorku.
Di belakangku, Pak Udin berseru, “Mas! Itu tanda-tanda! Saya bilang juga apa! Semua berawal dari pulpen!”
Aku memakai helm, menyalakan motor, dan keluar dari basement.
Di jalan, di lampu merah perempatan Gatot Subroto, aku mengangkat tangan dan menyentuh tulang pipiku. Tempat yang tadi hangat. Sekarang sudah dingin lagi, terkena angin malam.
Ada sedikit bekas lipstik merah di ujung jariku. Samar. Hampir tidak terlihat di bawah lampu jalan.
Aku menatap bekas itu sampai lampu berubah hijau dan klakson di belakangku berbunyi.
Lalu aku mengusapnya ke celana jeans dan melanjutkan perjalanan.
Aku tidak menghapusnya karena tidak suka. Aku menghapusnya karena aku takut, kalau aku tidak menghapusnya, aku akan mulai menyimpan hal-hal seperti itu. Bekas lipstik. Stiker kucing. Lipatan lengan hoodie. Roti lapis dengan stiker bunga matahari.
Dan orang yang menyimpan hal-hal seperti itu adalah orang yang sedang berharap.
Aturan nomor lima.
Lampu jalan berikutnya merah lagi. Aku berhenti. Menatap jari yang sudah bersih.
Aturan nomor lima, ternyata, adalah aturan yang paling sulit dijalankan.
- 1 Ruang Kyoto
- 2 Log Printer
- 3 Jumat yang Ditolak
- 4 Laptop yang Kebetulan Rusak
- 5 Bekal Telur Dadar
- 6 Pantry Lantai 19
- 7 Dasi Pinjaman
- 8 Hoodie Abu-Abu
- 9 Yang Suka Tempat Sepi
- 10 Klasemen
- 11 Tiga Dewi dan Si Cupu
- 12 Lunas reading
- 13 DM dari Lantai 22
- 14 Outing Karaoke
- 15 Sup Ayam
- 16 Junior yang Dibentak
- 17 Malam Krisis
- 18 Paruh Waktu
- 19 Yang Pertama Bilang
- 20 Mundur
- 21 Hujan di Atap
- 22 Garis
- 23 Yang Ketiga
- 24 Takut Kalah
- 25 Kota Tua
- 26 Rak Buku
- 27 Laci Shafira
- 28 Rahasia HR
- 29 Hampir
- 30 Email Penolakan
- 31 Aman
- 32 User Not Found
- 33 Lagu Sakura
- 34 Tiket Palsu
- 35 Hari Kedua
- 36 Atap Terakhir
- 37 Meja Kosong
- 38 Town Hall
- 39 Pencetus
- 40 Kode Etik
- 41 Issue #1
- 42 Tokyo
- 43 Vendor
- 44 Yang Tidak Pernah Bilang
- 45 Resolved
- 46 Tidak Pernah Aman
- 47 Epilog — Jepang