Chapter Eight
Telur Ceplok yang Gosong
POV: Saka
Tiga ratus juta rupiah, dibagi dua, adalah seratus lima puluh juta.
Aku menghitungnya di kepala dalam perjalanan pulang dari Senayan, di atas motor bebek, dengan Kanya dan Kinan di belakang dan piala perak terbungkus kardus di antara kakiku. Uang itu belum cair. Panitia bilang dua minggu lagi, ditransfer ke rekening tim. Tapi angka tidak perlu cair untuk dihitung.
Seratus lima puluh juta.
Uang pangkal FKG di kampus negeri yang diincar Kinan, kalau ia masuk jalur mandiri: sekitar seratus juta. Kalau ia masuk jalur prestasi, jauh lebih kecil, tapi aku tidak pernah merencanakan sesuatu berdasarkan kemungkinan terbaik. Uang pangkal untuk Kanya, yang belum tahu mau kuliah apa, minggu lalu bilang mau jadi pengacara, minggu ini bilang mau buka katering: anggap tiga puluh juta.
Sisanya dua puluh juta. Kontrakan setahun. Pelindung gigi yang kata Kinan harganya satu juta. Rice cooker baru. Ban motor belakang yang sudah botak.
Dan untuk pertama kalinya sejak umurku tujuh belas, kolom paling kanan di spreadsheet keuanganku akan berwarna hijau, bukan kuning.
Di belakangku, Kanya berteriak melawan angin: “KAK, KITA KAYA!”
“Belum cair.”
“KITA HAMPIR KAYA!”
“Uangnya buat kuliah kalian.”
“AKU MAU BELI ES KRIM YANG MAHAL! YANG DI MAL! YANG SATU SCOOP TIGA PULUH RIBU!”
Aku berpikir. Tiga puluh ribu. Dua scoop untuk dua adik. Enam puluh ribu. Dari seratus lima puluh juta.
“Boleh,” kataku.
Motor oleng sedikit karena Kanya melonjak kegirangan di jok belakang. Kinan, di tengah, berkata datar: “Kak Kanya, jangan loncat. Ini motor, bukan trampolin.”
“KINAN, KITA BOLEH BELI ES KRIM TIGA PULUH RIBU!”
“Aku dengar.”
“KAMU NGGAK SENENG?”
Hening sebentar. Lalu Kinan berkata, lebih pelan, suaranya hampir tenggelam oleh angin dan knalpot:
“Aku seneng, Kak. Aku seneng banget.”
Aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi aku merasakan tangannya, yang biasanya hanya memegang ujung jaketku, memeluk pinggangku dari belakang sampai kami tiba di kontrakan.
Minggu sore, Ucup mengadakan syukuran.
Ucup menyebutnya syukuran. Kenyataannya, syukuran itu adalah tumpeng mini yang dibelikan ibunya Ucup dari warung nasi dekat rumahnya, dua kantong gorengan dari Pak Darto yang menolak dibayar, dan satu termos besar teh manis buatan Kanya yang terlalu manis. Tempatnya di kontrakan kami, karena kontrakan Ucup lebih kecil lagi.
Tamunya: Ucup, Pak Darto, Pak Budiman yang datang dengan membawa sekotak martabak manis dan berkata “ini bukan suap” sebelum ada yang bertanya, dan Bu Darto, istri Pak Darto, yang memeluk Kanya dan Kinan seperti cucu sendiri.
Dan satu tamu yang tidak kuundang.
“Kinan,” kataku, ketika pukul empat sore terdengar ketukan di pintu dan aku melihat siapa yang berdiri di baliknya. “Kamu yang ngundang?”
Kinan, yang sedang menata gorengan di piring, tidak mengangkat wajah. “Iya.”
“Kapan?”
“Kemarin. Di lorong. Waktu Kakak lagi pelukan sama Kak Ucup yang nangis.”
“Kamu minta nomornya?”
“Kakak nggak pernah minta.” Kinan menyusun bakwan dengan presisi seorang ahli bedah. “Tiga minggu, katanya. Kakak nggak pernah minta nomornya. Jadi aku yang minta. Efisien.”
Aku menatap adikku. Adikku menatap bakwan.
Di depan pintu, Clara Florentina Kusumadewi berdiri dengan dress hijau muda sederhana, sandal datar, dan sekotak kue dari toko roti yang namanya kukenali karena Ucup pernah memotretnya dan bilang satu potongnya tiga puluh lima ribu. Rambutnya diikat ke belakang dengan jepit hitam polos.
Bukan jepit bunga liar.
Jepit bunga liar itu ada di dalam kotak bekal biru, di dalam ransel, di sudut kamar. Pengaitnya sudah kukencangkan setengah milimeter. Logamnya sudah kubersihkan dengan odol.
“Halo,” kata Clara. “Boleh masuk?”
“Boleh,” kataku. “Sepatunya dilepas di sini. Lantainya baru dipel.”
Kanya menginterogasinya selama dua puluh tiga menit.
Aku menghitungnya dari dapur, dari ujung lorong tempat aku menggoreng tambahan bakwan yang dibawa Pak Darto dalam keadaan setengah matang. Kanya duduk bersila di depan Clara, di atas tikar pandan di ruang depan yang sekaligus ruang tamu, ruang makan, dan ruang belajar, dan menembakkan pertanyaan seperti petugas imigrasi.
“Kakak umur berapa?”
“Dua puluh satu.”
“Sama kayak Kak Saka. Kakak jurusan apa?”
“Manajemen.”
“Kakak kaya, ya?”
“Kanya,” kataku dari dapur.
“Aku nanya baik-baik, Kak!” Kanya tidak menoleh. “Kakak kaya, ya, Kak Clara? Kak Ucup bilang keluarga Kakak punya mal.”
Clara diam sebentar. Aku berhenti membalik bakwan.
“Keluargaku punya,” kata Clara pelan. “Aku belum punya apa-apa. Aku masih kuliah, uang jajanku dari Papa.”
Kanya menyipitkan mata. Ia tidak menduga jawaban itu. “Kakak bisa masak?”
“Nggak bisa.”
“Sama sekali?”
“Sama sekali. Aku pernah bikin mi instan, airnya kebanyakan, jadinya kayak sup mi.”
Pak Darto, yang membaca bibir dari ujung tikar, tertawa tanpa suara sampai bahunya berguncang. Bu Darto menepuk lututnya.
“Kak Saka masak tiap subuh,” kata Kanya, nada suaranya seperti jaksa yang membacakan tuntutan. “Dari umur tujuh belas. Tiga bungkus. Nggak pernah bolos.”
“Aku tahu,” kata Clara.
“Kakak tahu dari mana?”
“Dari kotak bekalnya.” Clara tersenyum kecil. “Aku lihat tiap hari. Nasinya selalu pas. Telurnya selalu garing pinggirnya. Orang yang masak asal-asalan nggak bisa bikin telur yang sama setiap hari selama tiga tahun.”
Kanya terdiam.
Dari dapur, aku melihat adikku menatap Clara dengan cara yang berbeda. Mata petugas imigrasinya hilang. Yang tersisa mata anak enam belas tahun yang selama empat tahun menyaksikan kakaknya memasak setiap subuh dan tidak pernah mendengar siapa pun menyadarinya.
“Kakak mau belajar masak telur?” tanya Kanya tiba-tiba.
Clara berkedip. “Sekarang?”
“Sekarang. Kalau Kakak bisa masak telur ceplok yang garing pinggirnya, Kakak lulus.”
“Lulus apa?”
Kanya tidak menjawab. Ia berdiri, menarik tangan Clara, dan menyeretnya ke dapur. Ke ujung lorong. Ke kompor dua tungku di atas meja yang kakinya diganjal sandal jepit.
“Kak Saka, minggir,” kata Kanya.
Aku minggir.
Telur pertama Clara pecah di luar wajan. Setengahnya jatuh ke kompor dan mendesis di atas tungku yang menyala.
“Maaf,” kata Clara. “Maaf, maaf.”
“Nggak apa-apa,” kataku. “Kompornya bisa dilap.”
Telur kedua masuk wajan dengan selamat. Kuningnya pecah. Clara menatapnya dengan wajah orang yang baru menjatuhkan vas keramik mahal.
“Nggak apa-apa,” kataku. “Rasanya sama.”
Kanya berdiri di samping Clara seperti instruktur mengemudi. “Minyaknya kurang, Kak. Tambahin. Bukan segitu! Itu namanya merendam! Kurangin!”
“Gimana ngurangin minyak yang udah masuk?”
“Ya pakai… pakai… Kak Saka, gimana ngurangin minyak?”
“Pakai sendok,” kataku.
Clara menyendok minyak keluar dari wajan dengan sendok makan, satu per satu, ke dalam gelas plastik bekas air mineral. Di ruang depan, Pak Budiman dan Ucup sudah tidak berpura-pura tidak menonton. Ucup merekam dengan ponselnya. Pak Darto menepuk-nepuk lantai tikar, menahan tawa.
Telur itu dibiarkan terlalu lama karena Clara sibuk menyendok minyak dan Kanya sibuk memarahi caranya menyendok. Pinggirannya tidak garing kecokelatan.
Pinggirannya hitam.
Asap tipis naik dari wajan. Bau gosong menyebar ke seluruh kontrakan dua petak itu dalam hitungan detik. Kinan, dari ruang depan, berkata tanpa ekspresi: “Ada yang bakar sesuatu. Kak Clara, sebaiknya dimatikan. Asap gosong itu karsinogenik.”
Clara mematikan kompor. Ia menatap telur di wajan. Telur itu menatap balik dengan pinggiran hitam seperti bingkai foto duka.
“Maaf,” katanya pelan. Ia tidak bercanda lagi. Wajahnya merah dan matanya berkaca-kaca. “Aku bilang aku nggak bisa masak. Aku beneran nggak bisa.”
Kanya membuka mulut. Mungkin untuk mengomel. Mungkin untuk mengatakan Kakak nggak lulus.
Aku mengambil piring.
Aku memindahkan telur gosong itu dari wajan ke piring, menambahkan nasi dari panci, dan duduk bersila di lantai lorong, di samping kompor, di depan semua orang.
Lalu aku memakannya.
Pinggiran hitamnya pahit. Bagian tengahnya terlalu matang, kuningnya keras seperti kapur. Minyaknya masih terlalu banyak di bagian bawah. Aku memakannya seperti aku memakan telur setiap hari: pelan, satu sendok demi satu sendok, tanpa berhenti.
Kontrakan hening. Ucup berhenti merekam.
Aku menyuap sendok terakhir dan meletakkan piring yang kosong di lantai.
“Habis,” kataku.
Clara menatapku. Air mata yang tadi hanya menggenang sekarang jatuh satu, di pipi kiri. Ia tidak menghapusnya.
“Itu gosong,” katanya.
“Iya.”
“Pahit, kan?”
“Bagian pinggirnya.”
“Kenapa kamu makan?”
Aku berpikir. Aku tidak punya jawaban yang efisien. Aku hanya tahu bahwa ketika telur itu menghitam di wajan dan wajah Clara berubah seperti wajah Kanya ketika ia menemukan kotak bekal retak, sesuatu di dadaku tidak mau telur itu dibuang.
“Karena itu telur pertama Mbak,” kataku. “Telur pertama nggak dibuang.”
Clara pulang pukul delapan malam.
Mobilnya diparkir di mulut gang, seratus dua puluh meter dari kontrakan, karena gang kami terlalu sempit untuk mobil sedan. Kanya menyuruhku mengantarnya. Kinan menyuruhku membawa senter. Ucup tidak menyuruh apa-apa, hanya menepuk punggungku dua kali dengan keras dan berkata, “Ka. UX. Ingat UX.”
Gang kami gelap. Lampu jalan yang di tengah sudah mati sejak Lebaran, sama seperti rice cooker kami. Aku menyalakan senter ponsel dan berjalan setengah langkah di depan Clara, menyinari jalan supaya ia tidak tersandung lubang. Ada empat lubang di gang ini. Aku tahu letak semuanya.
Kami tidak bicara selama enam puluh meter pertama.
“Saka,” kata Clara akhirnya.
“Hm.”
“Makasih udah makan telurnya.”
“Sama-sama.”
“Kanya bilang aku nggak lulus.”
“Kanya bilang begitu ke semua orang. Dia bilang Pak Budiman nggak lulus bikin martabak.”
“Pak Budiman beli martabaknya.”
“Itu sebabnya nggak lulus.”
Clara tertawa. Tawanya memantul di dinding-dinding gang yang rapat. Seekor kucing terbirit-birit dari atas tong sampah.
Lubang ketiga. Aku menyinarinya. Clara melangkah melewatinya dengan hati-hati.
Empat puluh meter lagi.
Aku memikirkan seratus lima puluh juta. Uang pangkal Kinan. Uang pangkal Kanya. Kontrakan. Ban motor. Mentorship satu tahun dengan perusahaan teknologi global, yang berarti pertemuan setiap dua minggu di gedung tertinggi di Jakarta. Lizz 10 yang harus dikembangkan. Dua toko di marketplace luar negeri yang harus diperbarui. Skripsi yang harus mulai ditulis semester depan.
Aku memikirkan jadwalku. Pukul 04.10 sampai pukul satu dini hari. Setiap jam sudah punya pemilik.
Lalu aku memikirkan jepit bunga liar di dalam kotak bekal biru.
Dua puluh meter lagi. Aku bisa melihat mobil Clara di mulut gang, sedan putih yang terlalu bersih untuk jalan ini. Sopirnya, laki-laki paruh baya berseragam, berdiri bersandar di pintu sambil merokok.
Aku berhenti berjalan.
Clara berhenti satu langkah di depanku dan menoleh. Senter ponselku menyinari paving di antara kami.
“Saka?”
Aku tidak pandai merencanakan kalimat. Biasanya aku menunggu sampai kalimatnya lengkap di kepala, lalu mengeluarkannya sekaligus. Tapi kalimat ini tidak pernah lengkap. Aku sudah mencoba menyusunnya sejak lorong belakang panggung. Sejak ponselnya bergetar dua pendek satu panjang. Mungkin sejak lebih lama dari itu, sejak setengah telur di atas bangku beton, sejak bangku kayu yang kuganjal dengan sandal jepit Bapak.
Kalimatnya tidak lengkap. Aku mengeluarkannya saja.
“Aku nggak punya banyak waktu.”
Clara diam.
Itu pertama kalinya aku memakai kata aku di depannya. Selama tiga minggu, aku memakai saya. Saya itu efisien. Saya itu jarak yang sopan. Saya itu untuk pembeli dari Polandia, untuk Pak Budiman, untuk sarpras kampus yang tidak pernah membalas laporan.
Aku itu untuk Kanya dan Kinan.
“Jadwalku dari subuh sampai jam satu malam,” kataku. “Udah penuh. Semua jam udah ada pemiliknya. Adik-adikku. Kerjaan. Lizz 10. Kuliah.” Aku menatap paving yang disinari senter. “Aku nggak bisa ngajak kamu ke kafe tiap minggu. Aku nggak bisa jemput kamu pakai mobil. Aku nggak bisa beliin kamu barang-barang yang biasa kamu punya.”
Clara masih diam. Aku tidak berani mengangkat wajah.
“Tapi,” kataku, dan suaraku turun satu tingkat, seperti volume radio yang diputar pelan. “Waktu yang ada. Yang sedikit itu. Aku mau kasih ke kamu.”
Gang hening. Kucing tadi sudah tidak terdengar. Di mulut gang, sopir Clara mematikan rokoknya.
Lalu aku merasakan sesuatu menyentuh tanganku. Tangan kiriku, yang tidak memegang ponsel.
Jari-jari Clara. Dingin, karena malam. Gemetar sedikit.
Aku mengangkat wajah.
Clara menatapku. Matanya basah lagi, tapi kali ini ia tersenyum. Senyum yang bukan dua milimeter, bukan tiga, bukan empat. Senyum yang membuat seluruh wajahnya terang, bahkan di gang yang lampunya mati.
“Saka,” katanya. “Kamu sadar nggak barusan kamu nembak aku kayak lagi presentasi proposal?”
“Aku nggak tahu cara lain.”
“Aku tahu.” Jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku. Pelan, seperti takut aku menarik tangan. Aku tidak menarik tangan. “Aku tahu kamu nggak tahu cara lain. Itu sebabnya aku suka.”
“Jadi jawabannya?”
Ia tertawa. Tawa yang basah, bercampur sisa tangis dari telur gosong tadi sore.
“Jawabannya iya, dasar robot,” katanya. “Iya. Aku mau waktumu yang sedikit itu. Semuanya. Nggak ada yang kurang.”
Aku menatap tangan kami. Jarinya putih, kukunya dicat warna merah muda pucat. Jariku cokelat, kukunya pendek dan ada bekas minyak goreng di sela-selanya.
Barang yang tidak cocok. Bug kecil di dalam sistem yang rapi.
Tapi tangannya pas sekali di tanganku.
Kami berjalan dua puluh meter terakhir dengan tangan bertaut. Aku tetap menyinari jalan dengan senter. Tidak ada lubang di dua puluh meter terakhir, tapi aku tetap menyinarinya. Untuk berjaga-jaga.
Di mulut gang, sopir Clara membukakan pintu dan menatap tangan kami dengan alis terangkat setinggi mungkin. Clara melepaskan tanganku pelan-pelan, seperti melepas sesuatu yang belum mau dilepas.
“Besok jam sepuluh?” tanyanya.
“Jam sepuluh,” kataku. “Bangku beton.”
“Bukan bangku kayu?”
“Bangku beton. Sebelahku.”
Ia tersenyum, masuk ke mobil, dan melambai dari balik kaca sampai sedan putih itu menghilang di tikungan.
Aku berdiri di mulut gang lama. Lebih lama dari yang perlu. Lalu aku berjalan kembali ke kontrakan, menyinari keempat lubang satu per satu meskipun aku sudah hafal letaknya.
Di dalam kontrakan, semua orang sudah duduk di tikar dengan wajah yang berusaha keras tidak terlihat seperti sedang menunggu. Pak Budiman pura-pura membaca kemasan martabak. Ucup pura-pura mengelap kacamata yang sudah bersih. Pak dan Bu Darto pura-pura tidak bisa melihat apa-apa.
Kanya tidak pura-pura.
“Gimana?” tanyanya.
Aku melepas sandal di depan pintu. “Gimana apa?”
“KAK!”
“Besok,” kataku, sambil berjalan ke dapur, “masak telur empat.”
Kontrakan meledak. Ucup memeluk Pak Budiman. Pak Budiman menepuk-nepuk punggung Ucup seperti menepuk anak yang tersedak, lagi. Bu Darto memeluk Kanya. Kanya berteriak. Pak Darto, yang membaca bibirku, mengacungkan dua jempol dengan senyum yang memperlihatkan dua gigi seri yang sudah tanggal.
Kinan tidak berteriak. Ia hanya menatapku dari ujung tikar, wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa. Lalu ia berkata dengan suara yang tidak terlalu keras, tapi cukup jelas untuk didengar semua orang:
“Kak. Telur gosong tadi. Bagian pinggirnya itu karsinogenik.”
“Aku tahu.”
“Kakak tetap makan semuanya.”
“Iya.”
Kinan mengangguk pelan, seperti dokter yang baru menyelesaikan diagnosis.
“Itu namanya cinta,” katanya. “Atau bodoh. Secara medis, gejalanya mirip.”
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong reading
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman