Chapter Twenty One
Apa Kabar, Clara
POV: Saka
Bu Rosa membelikanku kemeja.
“Biru tua,” katanya, tiga hari sebelum gala, sambil meletakkan kantong belanja dari sebuah toko di mal di atas mejaku. “Polos. Katun. Nggak usah dasi, nggak usah jas, saya tahu kamu nggak akan mau. Tapi kamu nggak boleh naik panggung pakai kemeja kotak-kotak. Panitianya bisa ngira kamu tukang servis AC.”
“Saya nggak akan naik panggung, Bu.”
“Kalau Floo menang, kamu naik.”
“Bu Rosa yang naik.”
“Saya COO.” Ia melipat tangan. “Saya muka Floo di depan wartawan, di depan investor, di depan siapa pun yang pakai jas. Tapi penghargaan Startup of the Year itu buat yang bikin startup-nya. Dan yang bikin itu kamu sama Ucup.” Ia melirik Ucup di meja sebelah. Ucup sedang mengunyah pisang goreng dan langsung berhenti mengunyah. “Ucup pingsan kalau ketemu wartawan. Jadi kamu.”
“Bu…”
“Saka.” Bu Rosa mencondongkan badan ke mejaku. Ia menurunkan suara. “Empat puluh ribu penulis. Mbak Wening. Bapak-bapak di Pontianak. Anak SMA di Kupang yang nulis di ponsel retak. Mereka semua pengin tahu siapa yang bikin tempat mereka nulis. Mereka pengin lihat mukanya. Sekali aja.” Ia menegakkan badan. “Kamu nggak harus ngomong panjang. Satu kalimat juga cukup. Tapi kamu yang naik.”
Aku menatap kantong belanja di mejaku. Kemeja biru tua. Warna kemeja terbaikku lima tahun lalu.
“Berapa harganya?”
“Nggak usah tanya.”
“Saya ganti.”
“Saka, perusahaanmu bikin lima ratus juta sehari.”
“Saya ganti, Bu.”
Bu Rosa menghela napas panjang dan berjalan kembali ke mejanya sambil bergumam, “Empat ratus delapan puluh ribu. Transfer aja. Ya Tuhan, keponakan saya juga gitu.”
Malam gala, aku memarkir mobil di basemen paling bawah, B5, di pojok yang paling jauh dari lift.
Mobilnya Avanza tahun 2014. Warna perak, cat di kap depannya sudah kusam, AC-nya kadang mati kalau macet lebih dari dua puluh menit. Kubeli bekas tiga bulan lalu seharga sembilan puluh delapan juta, setelah Bu Rosa menolak terus melihatku naik motor bebek ke rapat dengan mitra pembayaran di gedung-gedung Sudirman. Kamu basah kuyup di lobi bank, Saka. Satpamnya mau ngusir kamu.
Parkir di B5 gratis untuk tamu gala. Parkir di B1, dekat lift, juga gratis. Tapi B1 penuh, dan aku tidak suka menunggu.
Ucup datang naik taksi online dari rumah ibunya, memakai jas pinjaman dari pamannya yang terlalu besar di bahu. Ia meneleponku empat kali dalam perjalanan. Ka, aku mual. Ka, aku mau pulang. Ka, kalau menang kamu yang naik, kan? Ka, kalau kamu nggak naik aku pura-pura pingsan beneran.
Aku tidak masuk ke ballroom lewat pintu utama.
Pintu utama penuh orang. Fotografer. Lampu kilat. Karpet merah dengan latar belakang bertuliskan logo sponsor. Aku masuk lewat lift barang, ke lorong samping, ke area kecil di dekat pintu darurat tempat para kru panggung menyimpan kabel dan peti peralatan. Di sana sepi. Ada satu kursi plastik dan satu colokan listrik.
Aku duduk di kursi plastik itu selama empat puluh menit, membaca dokumentasi sistem di ponsel, sampai seseorang menyebut nama yang tidak pernah dipakai orang selain satu kelompok kecil, lima tahun lalu.
“Lho? Cowok nasi telur?”
Aku mengangkat wajah.
Rio Hartanto. Rambut basah oleh pomade. Jas biru navy. Gelas anggur merah di tangan. Gilang di sebelahnya, lebih gemuk, juga dengan gelas anggur.
Aku menatapnya. Tiga detik.
“Kamu kerja di sini?” tanya Rio. Matanya turun ke kemejaku, ke lengan yang kugulung sampai siku, ke tas ransel hitam di sebelah kursi plastik, ke kotak bekal biru yang menyembul dari kantong depannya. Aku membawanya karena Kanya membekaliku nasi telur untuk jaga-jaga. Makanan hotel itu porsinya kecil, Kak. Kayak buat kucing. “Bagian apa? IT support, ya? Ngurusin layar LED?”
Gilang tertawa. Sepersekian detik terlambat. Lima tahun, dan ia masih tertawa sepersekian detik terlambat.
Aku memikirkan pertanyaan itu. Bagian apa? Aku memang mengurusi sesuatu yang berhubungan dengan layar. Empat puluh ribu penulis dan dua juta pembaca, di dua juta layar ponsel, setiap hari.
“Kurang lebih,” kataku.
Rio menepuk bahuku dua kali, berkata sesuatu tentang bangku goyang dan hotel bintang lima, dan kembali ke ballroom.
Aku tidak memikirkannya lagi.
Aku memasukkan kotak bekal biru ke dalam ransel. Ketika aku mengangkat wajah, mataku menangkap sesuatu di balik pilar marmer sepuluh meter dari situ.
Ujung gaun biru tua. Sebagian kecil rambut hitam bergelombang. Dan sesuatu yang berkilat di sisi kiri rambut itu: jepit perak kecil berbentuk daun.
Bukan bunga.
Aku menatap pilar itu. Ujung gaun biru tua itu bergeser, menghilang di balik marmer, dan aku mendengar langkah kaki yang cepat, terlalu cepat, menjauh ke arah toilet.
Aku duduk kembali di kursi plastik. Aku membuka ponsel. Dokumentasi sistem.
Aku membaca paragraf yang sama sembilan kali.
Ketika lampu sorot menemukanku di sisi panggung, aku tidak memikirkan seribu dua ratus orang di ballroom itu.
Aku memikirkan Mbak Wening, yang menangis di telepon empat tahun lalu karena suaminya bilang nulis itu buang-buang listrik. Aku memikirkan Pak Darto, yang tersenyum di samping gerobaknya di video Floo yang dibuat Dimas tanpa izinku. Aku memikirkan Kanya, pengguna pertama yang mengisi ulang koin, yang ingin namanya ditulis besar-besar di lobi.
Aku berjalan ke tengah panggung. Aku menerima piala dari menteri. Aku berdiri di depan mikrofon.
Lalu aku menyapu ballroom dengan mataku, pelan, dari kiri ke kanan, seperti membaca log.
Aku tidak perlu menyapu. Aku sudah tahu di mana ia duduk. Aku sudah tahu sejak buku acara dibagikan dan aku melihat daftar sponsor di halaman kedua, dan aku sudah tahu sejak pilar marmer di lorong samping. Barisan paling depan. Meja sponsor utama. Kursi paling ujung.
Mataku berhenti di sana.
Gaun biru tua. Rambut tergerai. Jepit perak berbentuk daun. Wajah yang pucat, mata yang besar dan cokelat terang, mulut yang sedikit terbuka. Di bawah meja, seorang pelayan berjongkok, memunguti pecahan gelas.
Lima tahun.
Satu detik. Dua. Tiga.
Aku mengalihkan pandangan ke mikrofon dan mengatakan apa yang sudah kusiapkan. Bukan pidato. Tiga kalimat. Mbak Wening. Listrik yang lunas. Jalan dan cerita yang mengalir.
Lalu satu kalimat terakhir yang tidak kusiapkan.
Untuk yang menulis tanpa ada yang menoleh. Kami baca.
Aku turun dari panggung.
Setelah penghargaan terakhir, ballroom berubah menjadi pasar.
Orang-orang berdiri dari meja mereka, berjalan berkeliling, berjabat tangan, bertukar kartu nama, berfoto di depan layar LED. Ratusan orang. Dan dalam waktu tujuh menit, empat puluh tiga di antaranya mendatangi meja nomor sembilan.
Investor. Wartawan. Pendiri startup lain. Seorang direktur bank yang dulu menolak proposal kemitraan Floo tiga kali. Seorang produser film yang ingin membeli hak adaptasi tiga judul terlaris di Floo. Seorang pejabat kementerian yang ingin Floo menjadi mitra program literasi nasional.
Bu Rosa menangani semuanya. Ia berdiri di depan kursiku seperti pagar betis, menjabat tangan, menerima kartu nama, menjawab pertanyaan dengan kalimat pendek yang sopan, dan menyaring siapa yang boleh bicara denganku dan siapa yang tidak.
Ucup duduk di sebelahku, masih memeluk piala, masih menangis. Ia sudah menangis selama empat puluh menit. Kinan akan bilang otot rahangnya tegang.
“Pak Saka!”
Suara perempuan. Aku mengangkat wajah.
Perempuan dengan rambut cokelat yang di-blow sempurna, gaun putih berkilau dengan belahan tinggi, bulu mata yang sangat panjang. Ia menyelinap di antara dua investor yang sedang bicara dengan Bu Rosa, mencondongkan badan ke arah kursiku, dan tersenyum lebar.
“Pak Saka, halo! Boleh foto bareng? Saya content creator, followers saya satu koma dua juta, saya review aplikasi. Saya pengen banget bikin konten soal Floo. Boleh minta nomor Bapak juga? Buat kolaborasi.”
Aku menatapnya. Tiga detik.
Wajahnya familier. Aku menelusuri ingatan seperti menelusuri log. Kampus. FEB. Sesuatu tentang lip gloss. Sesuatu tentang kotak bekal yang jatuh dari bangku beton, dan sepatu hak di dekat tutupnya yang retak.
Aku tidak menemukan namanya. Mungkin karena aku tidak pernah menyimpannya.
“Maaf,” kataku. “Siapa, ya?”
Senyum perempuan itu berhenti di tengah jalan.
“Sherly,” katanya. “Sherly Anggraini. Kita… kita satu kampus, Pak. Dulu. FEB. Saya sering lihat Bapak di FMIPA.”
“Oh.”
Hening.
“Untuk kolaborasi,” kata Bu Rosa, yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelahku, “silakan hubungi tim kemitraan kami. Ini kartu namanya.” Ia menyodorkan kartu nama dengan senyum yang sangat sopan dan sangat dingin. “Pak Saka tidak memberikan nomor pribadi.”
Sherly menerima kartu nama itu. Ia menatapku sekali lagi, lalu menatap Bu Rosa, lalu berbalik dan pergi dengan langkah yang terlalu cepat untuk sepatu hak setinggi itu.
Ucup berhenti menangis sebentar. “Ka,” bisiknya. “Itu kan… itu kan yang dulu…”
“Yang mana?”
“Yang…” Ucup menatapku. Lalu ia menggeleng pelan, dan ada sesuatu di wajahnya yang mirip kagum. “Nggak jadi. Kamu beneran nggak ingat, ya?”
“Nggak.”
Ucup tertawa. Tawanya basah, bercampur sisa tangis. “Ka, kamu itu kalau jadi aplikasi, fitur block-nya otomatis.”
Aku tidak mengerti maksudnya. Aku tidak menjawab.
Tapi di ujung mataku, jauh di barisan depan, di dekat meja sponsor utama, aku melihat seseorang yang memegang tas tangan kecil berwarna perak. Ia berdiri di samping ibunya. Ia tidak sedang bicara dengan siapa pun. Ia menatap ke arah meja nomor sembilan.
Ke arah perempuan bergaun putih yang baru saja pergi.
Tangannya meremas tas tangan perak itu. Keras. Sampai talinya melengkung.
Lalu Sherly lewat di depannya, dan matanya mengikuti Sherly, dan sudut bibirnya, untuk sepersekian detik, naik sedikit.
Dua milimeter, mungkin. Mungkin tiga.
Aku menyapanya ketika Bu Rosa sedang bicara dengan produser film dan Ucup sedang ke toilet untuk mencuci muka.
Aku tidak merencanakannya. Biasanya aku menunggu sampai kalimatnya lengkap di kepala, lalu mengeluarkannya sekaligus. Tapi aku melihatnya berdiri sendirian di dekat pilar, di antara meja sponsor dan meja nomor sembilan, memegang tas tangan perak dengan dua tangan, dan kakiku berjalan sebelum kalimatnya lengkap.
Ia melihatku datang. Matanya membesar. Ia tidak lari.
Aku berhenti satu meter di depannya. Jarak yang sopan. Jarak yang sama dengan jarak antara bangku beton dan bangku kayu, kalau dikecilkan lima kali.
Dari dekat, ia lebih tinggi sedikit dari yang kuingat. Mungkin karena sepatu haknya. Rambutnya lebih panjang. Wajahnya lebih tirus, garis rahangnya lebih tegas. Ada sesuatu di matanya yang dulu tidak ada, sesuatu yang dingin dan lelah dan terlalu dewasa untuk umur dua puluh enam.
Tapi matanya masih besar. Masih cokelat terang. Masih bergetar sedikit, seperti di lorong belakang panggung Tech Cup, ketika ponselnya bergetar dua pendek, satu panjang.
Dan ia masih menggigit bibir bawahnya. Sekali. Sebelum mengatakan sesuatu yang ia khawatirkan.
Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
“Apa kabar, Clara?” tanyaku.
Ia membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
Ia menutupnya. Membukanya lagi. Matanya berkaca-kaca, cepat sekali, seperti hujan bulan Maret yang datang tanpa gerimis pembuka.
Aku menunggu. Aku selalu menunggu.
Ia tidak menjawab.
Di belakangnya, di meja sponsor utama, Om Hendro sudah berdiri. Ia menatapku. Wajahnya pucat, seperti tadi ketika aku naik panggung. Rahangnya mengeras. Matanya turun, sepersekian detik, ke sepatu kets abu-abuku. Lalu naik lagi ke wajahku.
Aku mengangguk ke arahnya. Sopan. Satu kali.
“Selamat malam, Om.”
Om Hendro tidak menjawab. Ia mengangguk balik, kaku, seperti gerakan robot yang baterainya sekarat. Di sebelahnya, Tante Ratna menutup mulut dengan tangan. Dan Bram, di belakang mereka, memegang ponsel dengan layar yang masih menyala, menatapku dengan mata yang sangat lebar dan bibir yang bergerak tanpa suara. Aku membaca bibirnya.
Bima.
Aku tidak tahu siapa Bima di kepala Bram. Aku tidak bertanya.
Aku kembali menatap Clara. Ia masih tidak menjawab. Air mata sudah jatuh satu, di pipi kiri, dan ia tidak menghapusnya.
“Kamu kelihatan baik,” kataku.
Itu bukan kalimat yang kusiapkan. Aku tidak menyiapkan kalimat apa pun. Tapi itu kalimat yang benar. Ia memang kelihatan baik, dari luar. Gaun biru tua, rambut yang tergerai, jepit perak berbentuk daun. Brand Manager termuda dalam sejarah Kusumadewi Retail; aku tahu dari majalah bisnis yang dibaca Bu Rosa. Penulis novel peringkat satu di Floo, dengan seratus empat puluh tiga juta rupiah royalti di bulan ketiga belas; aku tahu dari dasbor keuangan yang tidak pernah kubuka untuk mencari tahu, tapi selalu kubaca karena aku membaca semua angka.
Ia kelihatan baik.
Tapi tangannya gemetar di tali tas tangan perak itu. Sama seperti di bawah meja makan empat meter dua puluh, lima tahun lalu.
Aku mencatatnya di kepala.
“Selamat malam, Clara,” kataku.
Aku berbalik dan berjalan kembali ke meja nomor sembilan. Satu langkah. Dua. Lima.
Di langkah kesepuluh, aku tidak menoleh.
Aku tahu ia masih berdiri di dekat pilar. Aku tahu karena aku menghitung. Aku selalu menghitung.
Ucup menemukanku di basemen B5, pukul sebelas lewat dua puluh, duduk di kursi pengemudi Avanza perak tahun 2014 dengan mesin menyala dan AC yang baru saja hidup setelah dua kali mati.
Ia membuka pintu penumpang dan duduk di sebelahku, memeluk piala Startup of the Year di pangkuannya seperti memeluk bayi.
“Bu Rosa pulang duluan,” katanya. “Katanya kita disuruh tidur. Besok ada wawancara sama tiga media. Bu Rosa yang ngomong, kita cuma duduk.”
“Oke.”
Ucup menatapku. Aku menatap dinding beton di depan kap mobil. Ada tulisan B5 — ZONA D dengan cat kuning yang sudah mengelupas.
“Ka.”
“Hm.”
“Lu oke?”
Ucup tidak pernah memakai lu denganku. Ia memakai kamu sejak semester satu, karena katanya aku “kayak guru les yang nggak bisa diajak lu-gue”. Ia hanya memakai lu kalau sangat khawatir. Kalau server mati. Kalau aplikasi masuk kuburan. Kalau Kinan masuk rumah sakit karena tifus waktu SMA.
“Oke,” kataku.
Ucup diam lama. Lalu ia melirik tanganku.
Aku mengikuti arah pandangannya.
Kedua tanganku di setir. Mencengkeram. Buku-buku jarinya putih. Mesin sudah menyala selama, menurut jam di dasbor, sebelas menit. Aku belum memindahkan persneling.
Aku melepaskan setir. Jari-jariku kaku. Aku membukanya dan menutupnya beberapa kali sampai darahnya mengalir lagi.
Ucup tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengambil sesuatu dari kantong jasnya, jas pinjaman pamannya yang terlalu besar di bahu, dan meletakkannya di dasbor.
Sebungkus permen jahe. Yang dijual Pak Darto di samping gorengan. Seribu rupiah dapat lima.
“Kanya titip,” kata Ucup. “Katanya, kalau Kak Saka kelihatan aneh setelah acara, kasih ini. Jangan tanya kenapa.”
Aku menatap permen jahe itu lama.
Lalu aku membuka satu, memasukkannya ke mulut, dan memindahkan persneling.
Pedas. Manis. Hangat sampai ke dada.
Kami keluar dari basemen B5 pukul sebelas lewat tiga puluh empat. Di jalan Sudirman, aku menyetir di lajur paling kiri, enam puluh kilo per jam. Kami disalip semua orang. Ucup tidak protes. Ucup tertidur di kursi penumpang sepuluh menit kemudian, memeluk piala, mulut terbuka, kacamata miring.
Aku menyetir sampai Sentul dengan satu tangan di setir dan satu tangan di persneling, dan aku tidak memikirkan apa pun.
Aku tidak memikirkan gaun biru tua.
Aku tidak memikirkan jepit perak berbentuk daun, bukan bunga.
Aku tidak memikirkan tangan yang gemetar di tali tas tangan perak.
Aku tidak memikirkan bab delapan puluh empat, yang kubaca tiga kali minggu lalu, pukul dua pagi, di ruko Tebet yang sunyi, dan tidak kukomentari.
Aku menyetir, dan aku tidak memikirkan apa pun.
Pukul dua lewat satu menit, di depan rumah di Sentul, aku mematikan mesin dan duduk di dalam mobil dalam gelap, dengan permen jahe kedua di mulut, dan menatap aplikasi Floo yang terbuka di ponsel Android murah di tanganku.
Tidak ada bab baru. Sudut Taman sudah tamat tiga minggu lalu.
Aku tetap membukanya.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara reading
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman