Chapter Twenty Nine
Pembaca Jam Dua Pagi
POV: Clara
Ucup yang membocorkannya. Tentu saja Ucup.
Hari Kamis, pukul dua belas lewat sepuluh. Aku sudah meletakkan kotak bekal biru muda di meja resepsionis, seperti setiap hari selama tiga minggu, dan sudah berjalan ke ruang kerja Saka, seperti setiap hari selama tiga minggu, dan sudah duduk di kursi lipat di seberang mejanya untuk melihatnya makan, seperti setiap hari selama tiga minggu.
Hari itu Saka tidak di ruangannya. Ia di ruang rapat besar dengan Bu Rosa dan dua orang dari bank. Rapat mendadak, kata resepsionis. Mungkin satu jam.
Jadi aku duduk di meja Ucup, di luar ruangan Saka, dan menunggu.
Ucup sedang menguji sesuatu. Di mejanya berjejer tujuh ponsel Android murah dengan merek dan ukuran berbeda, masing-masing terhubung ke laptop dengan kabel. Ia mengetuk layar satu per satu, mencatat sesuatu, mengetuk lagi.
“Uji kompatibilitas,” katanya, ketika melihatku menatap ponsel-ponsel itu. “Versi baru Floo. Harus jalan di semua ponsel di bawah sejuta. Saka yang aturan. Kalau satu aja ada yang macet, nggak boleh rilis.”
“Tujuh ponsel?”
“Empat belas, sebenernya. Tujuh lagi di laci.” Ucup mengetuk ponsel paling kanan. “Yang ini punya Saka. Ponsel pribadinya. Dia pakai ponsel murah juga buat sehari-hari, biar tahu kalau ada yang nggak beres. Dia titip tadi sebelum rapat, katanya aku boleh pakai buat tes.”
Ponsel paling kanan. Android murah, layar sedikit tergores di sudut kanan atas. Casing plastik hitam polos.
Ucup mengetuk ikon Floo di layarnya. Aplikasi terbuka. Ia mengetuk ikon profil di pojok kanan bawah untuk menguji halaman profil.
Lalu ia tertawa.
“Ya ampun,” katanya. “Akunnya. Mbak Clara, lihat. Saka bikin akun pembaca buat tes, namanya cuma dua huruf. s.p. Saka Pradana.” Ia memiringkan layar ke arahku sambil tertawa. “Kayak inisial di saputangan bapak-bapak zaman dulu.”
Aku menatap layar.
Dua huruf kecil, dengan titik. Tanpa foto profil. Tanpa biodata.
Di bawahnya, Daftar Bacaan. Satu judul.
Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh.
Di bawahnya lagi, kecil, abu-abu: 84 dari 84 bab dibaca. Pembaca Pertama: 54 bab.
Ucup masih tertawa. Ia belum melihat judul itu. Ia sedang menggulir halaman profil untuk memeriksa apakah tombol Pengaturan muncul dengan benar di ponsel berlayar kecil.
“Tombolnya kepotong dikit,” gumamnya. “Harus dibenerin. Mbak Clara? Mbak?”
Aku tidak menjawab.
Aku tidak bisa bernapas.
Lima puluh empat bab.
Sejak bab tiga puluh satu. Setiap Senin dan Kamis. Pukul dua lewat satu menit.
Sebelas bulan. Dua huruf kecil di urutan pertama daftar Pembaca Pertama. Tanpa komentar. Tanpa bintang. Tanpa satu pun tanda suka.
Bergabung dengan Floo pada malam ketika server mati karena video TikTok mahasiswi di KRL.
s.p.
Banyak nama yang berinisial S dan P, kataku pada diri sendiri, dulu, di bawah selimut. Siti Purnamasari. Santoso Prawiro. Sri Pujiastuti.
Saka Pradana.
Ia membaca semuanya. Bima dan Laras. Kopi gula aren di sepatu delapan puluh sembilan ribu. Bangku kayu dan sandal jepit. Kotak bekal retak dari ibunya, delapan ribu. Setengah telur di kalimat ke-60. Telur gosong yang dimakan habis. Kamu bau stroberi, aku suka. Map biru. Lantai kamar mandi. Pulang, Clara. Bab delapan puluh empat. Aku yang pergi.
Ia membaca semuanya. Pukul dua pagi. Dari ponsel murah dengan layar tergores.
Ia tahu.
Dari awal, ia tahu.
“Mbak Clara?” Ucup menatapku. Senyumnya pelan-pelan hilang. Ia menatap layar ponsel Saka, ke judul di daftar bacaan, dan wajahnya berubah. Pucat. Seperti di atas panggung Tech Cup ketika Lizz 10 crash. “Mbak… Mbak, itu…”
“Itu novelku,” kataku.
Suaraku keluar sangat pelan. Hampir tidak terdengar.
Ucup menatapku. Lalu menatap judul di layar. Lalu menatapku lagi.
“Mbak Sudut Taman?”
Aku mengangguk.
Ucup menjatuhkan ponsel Saka ke meja. Untung mejanya dilapisi alas karet. Ia menatap ponsel itu seperti menatap bom yang baru saja ia aktifkan tanpa sengaja.
“Ya Allah,” bisiknya. “Ya Allah, ya Allah. Mbak. Mbak. Aku nggak tahu. Sumpah aku nggak tahu. Aku baca novel itu, Mbak, aku nangis di bab telur gosong, aku pikir… aku pikir penulisnya cuma… aku nggak tahu kalau Bima itu…” Ia berhenti. Matanya membesar. “Bima itu Saka?”
Aku tidak menjawab.
“Terus Ucok,” bisik Ucup. “Temennya Bima yang kurus, pakai kacamata, yang nangis terus, yang salah nyebut nama sendiri…” Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari yang gemetar. “Itu… itu aku?”
Aku tertawa. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tertawa. Tawanya pecah di tengah, berubah menjadi sesuatu yang lain, dan aku menutup mulut dengan tangan.
Ucup menatapku dengan horor yang biasa. Lalu ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kaus, dan memakainya lagi.
“Mbak,” katanya pelan. “Jangan bilang Saka aku yang bocorin.”
Aku tidak menunggu rapatnya selesai.
Aku keluar dari lantai lima belas, turun lift, berjalan ke mobilku di basemen, dan duduk di kursi pengemudi selama satu jam tanpa menyalakan mesin.
Lalu aku menyetir pulang, masuk ke kamar, mengunci pintu, dan membuka laptop.
Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh sudah tamat tiga bulan lalu. Delapan puluh empat bab. Ending: Aku yang pergi. Kolom komentarnya masih dipenuhi pembaca yang marah, yang memohon season dua, yang menulis BIMA PANTES BAHAGIA dengan huruf kapital semua.
Aku membuka dasbor penulis. Aku menekan tombol Tambah Bab.
Aku menatap halaman kosong selama dua jam.
Lalu aku menulis satu halaman. Bukan bab. Satu halaman.
Judulnya: Bab 85 (Ekstra) — Untuk s.p.
Aku menjadwalkannya terbit pukul sebelas malam, hari Kamis.
Pukul satu lewat empat puluh lima, aku tiba di lobi gedung perkantoran di Kuningan.
Satpam lobi menatapku dengan curiga. Perempuan dengan kaus abu-abu, celana jins, rambut diikat asal-asalan, tanpa riasan, datang pukul dua pagi kurang seperempat.
“Lantai lima belas, Pak,” kataku. “Floo.”
“Bu, kantornya udah tutup. Ini jam…”
“Pak Saka masih di atas.”
Satpam itu berhenti. Ia menatapku lagi. Lalu wajahnya berubah. “Ibu yang bawa kotak bekal tiap jam dua belas?”
Seluruh gedung tahu.
“Iya, Pak.”
Satpam itu menatapku lama. Lalu ia menekan tombol lift untukku. “Pak Saka emang tiap Senin sama Kamis pulang jam tiga, Bu. Udah setahun lebih. Saya sampai hafal.” Ia menggeleng. “Kerja terus. Kasihan. Kayak nggak punya rumah.”
Aku masuk lift. Pintu menutup.
Senin dan Kamis. Pulang jam tiga. Udah setahun lebih.
Bukan kerja, Pak. Baca.
Lantai lima belas gelap kecuali satu ruangan.
Ruang kerja kecil berdinding kaca di ujung lorong. Lampu meja menyala. Di balik kaca, seseorang duduk di kursi, laptop tertutup di depannya, ponsel Android murah dengan layar tergores di tangannya.
Ia tidak sedang membaca. Ia sedang menatap layar ponsel. Menunggu.
Aku berdiri di lorong gelap, di depan dinding panjang dengan grafik-grafik pertumbuhan yang ditempel dengan selotip, di samping tulisan karton PENGGUNA PERTAMA YANG BAYAR: KANYA PRADANA, dan aku membuka ponselku sendiri.
Aplikasi Floo. Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh. Bab 85 (Ekstra). Diterbitkan pukul 23.00.
Daftar Pembaca Pertama. Kosong.
Satu jam lebih sejak bab itu terbit. Ratusan pembaca menunggu notifikasi. Tapi daftar Pembaca Pertama kosong. Tidak ada satu pun yang membukanya.
Tentu saja tidak. Karena pembaca yang lain tidur, atau membaca bab lain, atau tidak tahu ada bab ekstra. Tapi juga karena, aku menyadari, aku memasang harga untuk bab itu. Lima ratus koin. Lima puluh ribu rupiah. Seratus kali lipat dari harga bab biasa.
Supaya hanya satu orang yang mau membayarnya.
Pukul satu lewat lima puluh delapan.
Di balik dinding kaca, Saka menatap ponselnya. Ia tidak bergerak.
Pukul satu lewat lima puluh sembilan.
Pukul dua lewat nol nol.
Ia mengetuk layar.
Aku memperbarui daftar Pembaca Pertama di ponselku.
s.p. — 02.00
Aku menatap dua huruf itu. Lalu aku menatap laki-laki di balik dinding kaca.
Ia membaca. Satu halaman. Bab paling pendek yang pernah kutulis.
Bab 85 (Ekstra) — Untuk s.p.
Aku tidak tahu siapa kamu.
Sebelas bulan, kamu selalu jadi yang pertama. Senin dan Kamis, jam dua lewat satu menit. Kamu tidak pernah bilang apa-apa. Tidak pernah kasih bintang. Tidak pernah komentar. Kamu cuma baca, bayar, lalu pergi.
Seperti seseorang yang dulu duduk lima meter dariku, dan tidak pernah menoleh, tapi tahu.
Kalau kamu orang yang aku pikirkan: aku tahu sekarang.
Dan aku cuma mau bilang satu hal.
Terima kasih sudah selalu jadi yang pertama.
Bahkan waktu aku yang pergi.
Aku melihat bahunya berhenti bergerak. Aku melihat tangannya, yang memegang ponsel, mengencang. Aku melihatnya meletakkan ponsel itu di atas meja, pelan, layar menghadap ke bawah, dan menunduk.
Lama.
Lalu ia mengangkat wajah. Ke dinding kaca. Ke lorong gelap.
Ke aku.
Aku membuka pintu ruang kerjanya tanpa mengetuk.
Ia tidak berdiri. Ia duduk di kursinya, di bawah lampu meja, dengan ponsel tertelungkup di atas meja dan wajah yang tidak bisa kubaca. Bukan datar. Bukan permukaan kolam. Sesuatu yang bergerak di bawahnya, sangat dalam.
“Kamu baca,” kataku.
Itu bukan pertanyaan.
Ia tidak menjawab.
“Semuanya,” kataku. Suaraku bergetar. Aku tidak menekannya kali ini. Aku membiarkannya. “Dari bab satu. Dari malam servermu mati. Lima puluh empat bab kamu yang pertama. Jam dua pagi. Setiap Senin dan Kamis. Sebelas bulan.”
“Iya,” katanya.
“Kamu tahu itu aku. Dari awal.”
“Dari bab satu.” Suaranya pelan. “Sepatu delapan puluh sembilan ribu. Terus bab enam. Setengah telur.”
“Kenapa nggak pernah bilang?”
Ia diam.
“Kenapa nggak pernah komen?” Suaraku naik. Aku tidak bisa menahannya. “Sebelas bulan, Saka. Aku nulis semuanya. Semuanya. Aku nulis tentang kamu tiap malam dari jam sepuluh sampai jam satu, dan aku pikir nggak ada yang tahu, dan aku pikir kamu nggak akan pernah baca, dan aku nunggu jam dua tiap Senin sama Kamis cuma buat lihat dua huruf itu muncul, dan aku nggak tahu itu kamu.” Air mataku jatuh. “Kenapa kamu nggak pernah bilang apa-apa?”
Saka menatapku. Lama. Lebih dari tiga detik. Lebih dari sepuluh.
“Karena endingnya kamu yang pergi,” katanya.
Aku berhenti.
“Bab delapan puluh empat,” katanya pelan. “Aku yang pergi. Aku baca itu tiga kali. Aku tahu itu yang kamu yakini.” Ia menatap ponsel yang tertelungkup di atas meja. “Kalau aku komen, kalau aku kasih tahu kamu aku baca, kamu bakal nulis ulang. Kamu bakal ubah endingnya. Bukan karena kamu mau. Karena kamu tahu aku baca.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku nggak mau kamu nulis ulang ceritamu cuma karena tahu aku baca,” katanya. “Itu ceritamu. Bukan ceritaku.”
Hening.
Di luar jendela ruang kerjanya, Jakarta pukul dua pagi. Lampu-lampu gedung yang sebagian sudah mati. Jalan Kuningan yang hampir kosong. Satu truk sampah lewat pelan.
“Kamu bayar,” kataku akhirnya. Suaraku keluar seperti bisikan. “Tiap bab. Dua puluh lima koin. Ucup bilang kamu bisa buka semua bab dari dasbor admin. Gratis.”
“Penulis harus dibayar.”
“Kamu pendirinya, Saka.”
“Penulis harus dibayar,” ulangnya. Datar. Seperti mengulang aturan dasar yang tidak bisa ditawar. “Dari rekening pribadi. Bukan rekening perusahaan.”
Aku menatapnya. Laki-laki yang membayar dua ribu lima ratus rupiah dari rekening pribadinya, dua kali seminggu, sebelas bulan, untuk membaca novel tentang dirinya sendiri yang ditulis oleh perempuan yang meninggalkannya. Laki-laki yang malam ini membayar lima puluh ribu rupiah untuk satu halaman.
Aku tertawa. Aku menangis. Aku tidak tahu yang mana.
“Lima puluh ribu,” kataku. “Bab terakhir tadi. Aku pasang lima ratus koin biar cuma kamu yang buka.”
“Aku tahu.”
“Kamu tetap bayar.”
“Penulis harus dibayar.”
“Saka!”
Sudut bibirnya bergerak. Dua milimeter. Tiga. Empat. Ia menunduk, seperti mau menyembunyikannya, tapi aku melihatnya.
Aku berjalan ke mejanya. Aku berdiri di depannya, di bawah lampu meja, di ruang kerja kecil berdinding kaca di lantai lima belas yang gelap. Aku membalik ponselnya yang tertelungkup. Layarnya masih menampilkan Bab 85 (Ekstra). Kalimat terakhir.
Bahkan waktu aku yang pergi.
“Ini juga kamu baca tiga kali?” tanyaku.
Saka menatap layar itu.
“Belum,” katanya. “Baru sekali.”
“Kenapa?”
Ia mengangkat wajah. Menatapku. Dari dekat, di bawah lampu meja, aku bisa melihat matanya. Merah di sudut. Basah.
Lima tahun aku tidak pernah melihat matanya basah. Di bangku beton, di bawah flamboyan, ketika aku bilang aku nggak bisa, matanya kering. Di halaman wisuda, ketika kami saling menatap dari seberang, matanya kering. Di gala, di atas panggung, matanya kering.
Malam ini, matanya basah.
“Karena kalimat terakhirnya salah,” katanya pelan.
Aku berhenti bernapas.
“Salah gimana?”
Saka menatapku lama. Matanya bergerak, sedikit, seperti mencari sesuatu. Seperti menimbang satu baris kode yang sudah ditulis tapi belum dijalankan. Lalu ia menunduk lagi ke ponsel. Ke kalimat terakhir.
Ia tidak menjawab.
“Saka,” kataku. “Salah gimana?”
“Udah jam dua lewat sebelas,” katanya. Ia mengambil ponselnya. Ia mematikan layarnya. “Kamu harus pulang. Besok kerja.”
“Saka…”
“Aku antar ke basemen.”
Ia berdiri. Ia mengambil ransel. Ia berjalan ke pintu dan membukanya, dan menunggu, dengan satu tangan di gagang pintu, seperti menunggu di mulut gang dengan senter di tangan, lima tahun lalu.
Aku menatapnya dari tengah ruangan.
Kalimat terakhirnya salah.
Aku tidak tahu apa artinya. Aku tidak tahu kenapa ia tidak mau menjelaskan. Aku tidak tahu kenapa, di lorong gelap lantai lima belas, berjalan di sebelahnya menuju lift, aku merasa seperti berdiri di depan pintu yang belum dibuka. Pintu yang di baliknya ada sesuatu yang besar sekali, yang ia simpan sendirian selama lima tahun, yang tidak ia tulis di mana pun.
Di dalam lift, kami berdiri berdampingan. Delapan puluh senti.
Lalu enam puluh.
Lalu, di lantai sepuluh, aku meraih tangannya. Tangan kirinya, yang tidak memegang apa-apa.
Ia tidak menarik tangannya.
Jari-jarinya dingin. Gemetar sedikit. Lalu, pelan, seperti seseorang yang menulis baris kode pertama dalam bahasa yang sudah lama tidak ia pakai, jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku.
Pas sekali.
Di lantai lima, aku berbisik ke pintu lift yang tertutup, tanpa menatapnya:
“Kamu bau sabun batangan.”
Hening sebentar.
“Masih yang sama,” katanya.
“Aku suka.”
Lift berhenti di basemen. Pintu terbuka. Kami tidak melepaskan tangan sampai di samping mobilku, dan ketika aku akhirnya melepaskannya, pelan, seperti melepas sesuatu yang belum mau dilepas, ia berkata satu hal sebelum aku masuk ke mobil.
“Ucup yang bocorin, ya?”
Aku tertawa sampai harus berpegangan ke pintu mobil.
“Aku janji nggak bilang.”
“Dia tadi siang ngirim pesan,” kata Saka. “Isinya Ka maafin aku empat belas kali. Tanpa konteks.”
“Empat belas kali?”
“Aku hitung.”
Tentu saja ia menghitung.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi reading
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman