← Pria yang Ia Pilih

Chapter Thirty Seven

Kuburan yang Bangkit

POV: Saka

Di folder bernama Nanti, foto nomor empat.

Papan tulis putih bekas seharga tiga puluh lima ribu, di dinding kontrakan dua petak, di sebelah kalender dari toko bangunan. Tulisan tangan Ucup dengan spidol hitam, sedikit miring karena tangannya gemetar. Nisan kecil yang digambar dengan garis putus-putus.

TUKANG.IN. Wafat: Bulan ke-12.
Epitaf: “Datang terlalu cepat. Dunia belum siap percaya tukang yang datang dari layar.”

Aku membuka foto itu pada hari Senin, sembilan hari setelah Floo Writers Award, pukul enam pagi, di bangku beton di bawah pohon mangga di Sentul. Kotak bekal biru di sebelahku, terbuka, berisi nasi uduk buatan Clara. Ia belajar dari Kanya hari Sabtu sebelum award. Nasinya terlalu lembek. Bawang gorengnya gosong sedikit.

Aku memakannya sampai habis sambil menatap foto nomor empat.

Lima tahun lalu, orang belum terbiasa memasukkan orang asing ke rumah mereka hanya karena ada bintang lima di layar. Tukang-tukang lebih suka dibayar tunai, hari itu juga, tanpa potongan.

Lima tahun kemudian, orang memesan makanan dari orang asing setiap hari. Orang naik mobil orang asing setiap hari. Orang membayar dengan kode QR di warung kopi pinggir jalan. Tukang-tukang punya dompet digital. Ibu-ibu di peron stasiun yang dulu mengira aku sales MLM sekarang menulis novel di Floo dan menerima royalti setiap bulan.

Dunianya sudah siap.

Aku menutup kotak bekal. Klik.

Lalu aku menelepon Nadia Kartasasmita.


“Tukang.in,” kata Nadia.

Ia duduk di ruang rapat kecil nomor dua, di lantai lima belas, dengan setelan jas putih gading dan laptop yang terbuka. Di layarnya, dokumen dua belas halaman yang kutulis semalam. Bukan delapan ratus empat puluh halaman. Dua belas.

“Aplikasi pesan tukang,” lanjutnya. “Ledeng, listrik, bangunan, AC. Pasarnya sudah ada empat pemain besar.”

“Empat pemain besar,” kataku, “yang semuanya fokus di Jakarta, Surabaya, Bandung. Kota-kota besar. Tukang yang mereka rekrut tukang yang sudah punya ponsel bagus, sudah biasa pakai aplikasi, sudah punya rating.”

“Jadi?”

“Jadi delapan puluh persen tukang di Indonesia nggak ada di aplikasi mana pun.” Aku menunjuk halaman tiga. “Tukang di Cirebon. Di Pontianak. Di Kupang. Di kota-kota yang penulis Floo tinggali. Mereka nggak punya ponsel bagus. Mereka nggak ngerti cara bikin profil. Mereka dibayar tunai, kadang nggak dibayar. Pelanggan mereka nggak tahu mereka bisa dipercaya atau nggak.”

Nadia membaca halaman tiga. Lalu halaman empat.

“Tukang.in jalan di ponsel di bawah sejuta,” kataku. “Kayak Floo. Kayak Lizz sepuluh. Daftar cukup pakai suara, nggak perlu ngetik. Tukang ngomong ke ponsel, nama saya Pak Darmo, tukang ledeng, Cirebon, dua puluh tahun pengalaman, sistem bikinin profilnya.” Aku membalik halaman. “Pembayaran lewat dompet digital, tapi tukang bisa tarik tunai di Kusuma Mart terdekat. Tiga ratus delapan puluh cabang di luar Jawa.”

Nadia mengangkat wajah. “Kusuma Mart?”

“Kerja sama voucher isi ulang Floo di kasir Kusuma Mart sudah jalan tiga bulan,” kataku. “Infrastrukturnya sudah ada. Tinggal ditambah satu fungsi.”

“Dan Kusumadewi mau?”

“Belum tahu. Bu Rosa yang ngomong ke divisi Pemasaran mereka minggu depan.”

Nadia menatapku lama. Lalu ia menutup laptopnya.

“Saka,” katanya. “Kamu ingat apa yang saya bilang di telepon, waktu verifikasi Cuanly selesai?”

“Kamu bilang kalau aku mau investasi di startup lain, kamu ikut. Tanpa syarat. Tanpa uji tuntas.”

“Saya bilang cukup kamu bilang ini.” Nadia tersenyum. Bukan senyum karena angka yang bagus. Senyum orang yang sedang menunggu sesuatu dan akhirnya mendapatkannya. “Jadi bilang.”

Aku menatap foto nomor empat di layar ponselku. Tulisan tangan Ucup. Nisan kecil dengan garis putus-putus.

Datang terlalu cepat.

“Ini,” kataku.


Tukang.in diluncurkan ulang empat bulan kemudian.

Ucup yang membangunnya. Bukan aku. Itu keputusan pertama yang kuambil setelah Floo Writers Award, setelah empat ratus orang bertepuk tangan dan Clara bilang aku pilih kamu di tengah ruangan dan aku melihat Om Hendro berdiri di ambang pintu dengan pergelangan tangan yang kosong.

Aku harus berhenti memegang semuanya sendiri.

“Kamu yang pegang Tukang.in,” kataku pada Ucup, di Kantor Pusat, warung kopi dekat stasiun, kopi tubruk tiga ribu rupiah. Kami masih ke sana setiap Jumat malam, meskipun Floo sudah punya pantry dengan mesin kopi gratis di lantai lima belas. “Teknologi, produk, tim. Semuanya.”

Ucup tersedak kopi tubruk. “Aku?”

“Kamu.”

“Ka, aku nggak bisa ngomong sama wartawan…”

“Bu Rosa yang ngomong sama wartawan.”

“Aku nggak bisa mimpin tim…”

“Kamu udah mimpin tim backend Floo dua tahun. Empat belas orang. Nggak ada yang resign.”

“Itu karena aku bawa pisang goreng tiap hari!”

“Itu juga mimpin.”

Ucup menatapku. Lalu ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kaus, dan memakainya lagi.

“Ka,” katanya pelan. “Kenapa?”

Aku menatap gelas kopi tubrukku. Ampasnya mengendap di dasar.

“Karena aku capek,” kataku.

Ucup berhenti bergerak.

Delapan tahun ia mengenalku. Delapan tahun, dan ia tidak pernah mendengarku mengatakan itu. Ia bilang sendiri, di bangku beton, di semester enam: Aku belum pernah sekali pun denger dia bilang capek.

“Aku capek, Cup,” kataku. “Aku udah megang semuanya dari umur tujuh belas. Adik-adikku. Kontrakan. Dua toko di marketplace. Lizz sepuluh. Sembilan kuburan. Floo. Server yang tenggelam. Flash sale Kusuma Mart. Aku nggak pernah ngasih ke orang lain. Aku pikir efisien kalau aku yang pegang, karena aku yang paling tahu.” Aku menatapnya. “Ternyata nggak efisien. Ternyata cuma capek.”

Ucup tidak menjawab lama. Lalu ia meletakkan gelas kopi tubruknya, dan matanya, di balik kacamata yang baru dilap, berkaca-kaca.

“Siapa yang ngajarin kamu ngomong gitu?” bisiknya.

“Clara.”

“Kapan?”

“Di bangku kayu. Dia bilang kamu nggak pernah bilang apa yang kamu butuh.” Aku menyesap kopi tubruk. Pahit. “Aku coba.”

Ucup menatapku. Lalu ia tertawa. Basah. Dan menangis. Tentu saja Ucup menangis.

“Oke,” katanya, sambil menghapus air mata dengan ujung kaus. “Oke, Ka. Aku pegang Tukang.in. Tapi kalau aku salah sebut nama sendiri di depan investor, kamu yang tanggung jawab.”

“Nadia udah tahu kamu salah sebut nama sendiri.”

“Semua orang udah tahu!”


Pengguna pertama Tukang.in versi baru adalah Pak Darmo, tukang ledeng dari Cirebon, dua puluh tahun pengalaman.

Ia mendaftar dengan bicara ke ponsel Android murah seharga delapan ratus ribu, di depan Kusuma Mart cabang Cirebon, dibantu seorang petugas lapangan yang direkrut Ucup dari komunitas penulis Floo di Cirebon. Penulis yang direkrut itu bernama Mbak Wening.

Pak Darmo ternyata suami Mbak Wening.

“Suami saya,” kata Mbak Wening di telepon, ketika Ucup meneleponnya untuk mengucapkan terima kasih, “dulu bilang nulis itu buang-buang listrik. Sekarang dia minta saya ajarin pakai aplikasi.”

Ucup menceritakannya di grup kantor. Empat ratus dua belas reaksi dalam satu jam.

Di bulan keenam, Tukang.in punya delapan puluh empat ribu tukang terdaftar di dua ratus enam belas kota. Rata-rata penghasilan tukang naik tiga puluh satu persen, karena mereka tidak lagi menunggu pelanggan datang dari mulut ke mulut. Transaksi tunai di kasir Kusuma Mart naik empat belas persen di cabang luar Jawa, karena tukang-tukang menarik uangnya di sana, lalu belanja di sana.

Divisi Pemasaran Kusumadewi Retail menandatangani perpanjangan kerja sama tanpa negosiasi ulang.

Aku membaca laporan itu di ruang kerjaku di lantai lima belas. Lalu aku membuka folder Nanti dan menatap foto nomor empat lama.

Lalu aku memindahkannya. Dari folder Nanti ke folder baru.

Aku menamai folder itu Sekarang.


Rapat dewan Floo diadakan di ruang rapat besar, pada hari Kamis, di bulan kedua puluh delapan sejak Floo berdiri.

Bu Rosa. Ucup. Nadia, sebagai perwakilan Sagara Capital, yang akhirnya masuk sebagai investor minoritas di Floo, setelah aku menolak tawarannya tiga kali dan menerimanya di kali keempat karena ia berjanji hanya akan membeli saham dari karyawan lama yang ingin menjual, bukan saham baru. Dan aku.

“Saya mau mengajukan satu perubahan,” kataku.

Bu Rosa menatapku dari balik kacamata berbingkai tebal. Ia sudah tahu. Aku sudah bilang padanya kemarin malam, di pantry, sambil ia menuang kopi. Ia tidak berkata apa-apa waktu itu. Ia hanya meletakkan cangkirnya dan menatapku lama, lalu memijat pangkal hidungnya.

“Saya mundur dari posisi CEO,” kataku.

Ucup menjatuhkan pulpennya.

Nadia tidak bereaksi. Ia sudah tahu juga. Aku meneleponnya Selasa.

“Bu Rosa jadi CEO,” kataku. “Ucup jadi CTO Floo, merangkap CEO Tukang.in. Saya tetap sebagai pendiri. Dan komisaris.” Aku membalik halaman. “Saya nggak akan pegang operasional lagi. Saya akan di dewan. Mengawasi. Memberi masukan kalau diminta. Fokus ke investasi baru.”

Ruangan hening.

“Ka,” kata Ucup pelan. “Kamu… kamu serius?”

“Serius.”

“Kamu nggak sakit, kan?”

“Kinan bilang gerahamku masih aus. Tapi bukan itu alasannya.”

Ucup menatapku. Lalu menatap Bu Rosa. Bu Rosa tidak menatap siapa pun. Ia menatap meja.

“Bu Rosa,” kataku.

Ia mengangkat wajah. Matanya, di balik kacamata, merah.

“Saka,” katanya. Suaranya tidak pendek dan tidak kering. “Kamu tahu saya mau kerja sama kamu karena kamu kayak keponakan saya yang kuliah teknik.”

“Iya, Bu.”

“Keponakan saya meninggal tujuh tahun lalu. Kecelakaan motor. Umur dua puluh dua.” Bu Rosa melepas kacamatanya. Ia tidak memijat pangkal hidungnya. Ia hanya memegang kacamata itu di pangkuan. “Dia juga pakai kemeja kotak-kotak. Dia juga ngomong pakai angka. Dia juga kelihatan kayak belum makan tiga hari.”

Ruang rapat sangat hening.

“Waktu kamu sodorin satu halaman ringkasan Floo di acara alumni,” kata Bu Rosa, “dengan font kayak undangan sunatan, saya lihat dia. Saya bilang ke diri saya, Rosalind, yang ini jangan sampai jatuh dari motor.” Ia tersenyum. Basah. “Lima tahun saya jagain kamu. Dari ruko Tebet sampai sini. Dari server tenggelam sampai flash sale. Dari nasi telur sampai Proposal Investasi Hati.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Dan sekarang kamu nyuruh saya jadi CEO.” Ia memakai kacamatanya lagi. “Supaya kamu bisa berhenti jatuh dari motor.”

“Iya, Bu.”

Bu Rosa menatapku lama. Lalu ia berdiri. Ia berjalan mengitari meja, ke kursiku. Ia berdiri di sampingku dan menepuk bahuku. Empat kali. Seperti Pak Budiman. Seperti Pak Teguh.

“Diterima,” katanya. “Tapi saya mau gaji yang dulu saya tunda. Lima tahun. Dengan bunga.”

“Sudah saya hitung, Bu.”

“Saya tahu kamu sudah hitung.” Ia kembali ke kursinya. “Kamu selalu hitung.”


Laporan tahunan Floo bocor ke media bisnis dua minggu kemudian.

Bukan bocor. Bu Rosa yang membocorkannya. Strategis, katanya, setelah pergantian CEO. Investor perlu tahu Floo stabil. Pasar perlu tahu Floo stabil. Dan orang-orang yang dulu bilang Clara matre perlu tahu bahwa Floo sudah sebesar ini sebelum Clara datang lagi.

Judul beritanya: Floo Bukukan Laba Bersih Rp15 Miliar per Bulan, Saka Pradana Mundur dari CEO, Fokus ke Investasi.

Lima belas miliar per bulan. Laba bersih. Setelah royalti tujuh puluh persen ke penulis, setelah gaji dua ratus empat puluh karyawan, setelah server dan pajak dan semuanya.

Aku membaca angka itu di ponselku di lobi gedung, di Kuningan, pukul sepuluh pagi. Lalu aku memasukkan ponsel ke saku dan menunggu lift.

Di lobi, seorang laki-laki berjas biru navy berdiri di depan meja resepsionis gedung, membawa tas laptop dan map tebal. Rambut basah oleh pomade. Di sebelahnya, laki-laki lain yang lebih gemuk, membawa proyektor portabel.

Rio Hartanto. Dan Gilang.

Mereka tidak melihatku. Mereka sedang berbicara dengan resepsionis gedung, menanyakan lantai Floo. Rio memegang map dengan logo yang tidak kukenal, sebuah aplikasi bernama PromoKu. Di halaman sampulnya: Proposal Pendanaan Seri A — Untuk Divisi Investasi Floo.

Aku tidak tahu Rio punya startup. Aku tahu Floo punya divisi investasi baru, yang kubentuk tiga minggu lalu, dan bahwa divisi itu menerima proposal dari mana saja. Aku tidak memeriksa nama-nama pengaju proposal. Itu tugas tim analis.

Aku menekan tombol lift. Aku memegang kotak bekal biru di tangan kiri. Isinya nasi telur. Clara yang memasak tadi pagi, pukul empat lewat lima belas, di dapur Sentul, bersama Kanya. Ia menginap di kamar tamu karena Kanya yang memintanya, biar latihan masaknya nggak telat. Kinan bilang itu alasan yang secara medis sangat tidak meyakinkan.

Rio menoleh.

Ia melihatku. Kemeja kotak-kotak biru. Sepatu kets abu-abu. Kotak bekal biru dengan tutup retak di tangan kiri.

Ia mengerutkan dahi. Ia tidak mengenaliku. Atau ia mengenaliku, tapi otaknya menolak.

“Mas,” katanya. “Mas OB di sini?”

Gilang, di sebelahnya, membeku.

“Kurang lebih,” kataku.

“Bisa tolong ambilin air?” Rio mengangkat tas laptopnya. “Kami ada rapat di lantai lima belas jam sepuluh lewat lima belas. Presentasi panjang. Haus.” Ia melirik jam tangannya yang berkilau. “Air mineral. Dua. Nanti antar ke ruang rapat, ya.”

Gilang menarik lengan jas Rio. “Yo.”

“Apa?”

“Yo.”

“Apa sih, Lang?”

Gilang tidak menjawab. Gilang menatapku dengan wajah pucat seperti kertas yang dicuci.

Pintu lift terbuka. Aku masuk. Sebelum pintu menutup, aku berkata:

“Dua. Air mineral.”


Aku mengantar dua botol air mineral ke ruang rapat kecil nomor dua pukul sepuluh lewat empat belas.

Rio sudah di sana, menyiapkan proyektor. Gilang duduk di kursi pojok, menunduk, menatap ponselnya dengan wajah orang yang sedang membaca berita yang tidak ingin ia baca.

Dua analis dari divisi investasi Floo duduk di sisi kanan meja. Mereka berdiri ketika aku masuk.

“Selamat pagi, Pak Saka.”

Rio berhenti menyambungkan kabel.

Aku meletakkan dua botol air mineral di depan kursinya. Lalu aku berjalan ke ujung meja, ke kursi kosong di tengah, kursi yang disiapkan analis untuk pengambil keputusan, dan duduk.

Aku meletakkan kotak bekal biru di atas meja. Di sebelah map proposal PromoKu.

“Silakan, Pak Rio,” kataku. “Dua belas menit.”

Rio menatapku.

Lima tahun lalu, di bawah flamboyan, ia menepuk bahuku dan bilang jangan dibawa-bawa terlalu lama, nanti dia ketularan. Di gala, ia bertanya apakah aku IT support. Lima menit lalu, di lobi, ia menyuruhku mengambilkan air.

Wajahnya tidak pucat. Wajahnya tidak merah. Wajahnya kosong, seperti layar laptop yang dimatikan paksa.

Gilang, di pojok, membalik ponselnya ke arah Rio. Di layarnya, berita yang sedang ia baca. Floo Bukukan Laba Bersih Rp15 Miliar per Bulan. Foto di bawah judul: aku, di panggung Forum Ekonomi Digital Nasional, dengan kemeja biru tua.

Rio menatap layar ponsel Gilang. Lalu menatapku. Lalu menatap dua botol air mineral di depannya.

Ia tidak menyentuh air itu.

Ia mempresentasikan PromoKu dalam dua belas menit. Aplikasi kupon diskon untuk restoran dan kafe. Target pengguna kelas menengah atas di Jakarta Selatan. Proyeksi pertumbuhan tiga ratus persen dalam setahun. Anggaran pemasaran tujuh puluh persen dari total pendanaan yang diminta.

Suaranya bergetar di menit pertama. Stabil di menit kelima. Ia presenter yang baik. Ia selalu presenter yang baik.

Ketika ia selesai, aku membuka map proposalnya.

“Slide empat,” kataku. “Target pengguna. Kelas menengah atas di Jakarta Selatan. Ada dua belas aplikasi kupon yang sudah fokus di segmen yang sama. Tiga di antaranya didanai investor yang lebih besar dari kami.”

Rio tidak menjawab.

“Slide sembilan. Proyeksi tiga ratus persen. Asumsinya retensi bulan ketiga enam puluh persen. Rata-rata industri aplikasi kupon dua puluh sampai dua puluh lima.” Aku membalik halaman. “Slide sebelas. Tujuh puluh persen dana untuk pemasaran. Sepuluh persen untuk produk. Produknya belum selesai.”

Aku menutup map.

“Ide Bapak nggak jelek,” kataku. “Bapak presenter yang bagus. Tapi angkanya nggak jalan. Dan kami nggak investasi di angka yang nggak jalan.”

Rio menatapku.

“Ditolak,” kataku. “Bukan karena Bapak. Karena angkanya.”

Hening lama.

Lalu Rio tertawa. Pendek. Tidak kikuk seperti di bawah flamboyan. Tidak dibuat-buat seperti di gala. Tawa orang yang sudah lelah.

“Lima tahun lalu,” katanya pelan, “aku bilang kamu jangan bawa-bawa dia ke duniamu. Nanti dia ketularan.”

“Saya ingat.”

“Kamu nggak marah?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

“Kalau saya marah,” kataku, “angkanya nggak jadi jalan.”

Rio menatapku lama. Lalu ia mengangguk pelan. Ia membereskan laptopnya. Gilang mencabut proyektor. Di ambang pintu, Rio berhenti dan menoleh.

“Saka,” katanya. Pertama kalinya ia menyebut namaku. Bukan bro. Bukan cowok nasi telur. “Air mineralnya. Berapa harganya?”

“Gratis. Dari pantry.”

“Bukan.” Rio menatap dua botol air yang tidak ia sentuh. “Maksudku… yang barusan. Nyuruh pendiri perusahaan lima belas miliar sebulan ngambilin air. Itu harganya berapa?”

Aku tidak menjawab.

Gilang, di belakang Rio, berbisik pelan, cukup keras untuk kudengar:

“Yo. Air yang tadi kita suruh ambil itu… mahal banget, ya.”

Rio memejamkan mata. Lalu ia keluar. Gilang mengikutinya, menoleh sekali ke arahku, dan, aku tidak tahu kenapa, mengangguk. Seperti minta maaf. Seperti lima tahun lalu ketika ia menyenggol kotak bekal biru dari bangku beton dan bilang sori, Bro, nggak sengaja.

Aku mengangguk balik.

Ketika mereka sudah pergi, salah satu analis menatapku dengan mata yang sangat lebar.

“Pak Saka,” bisiknya. “Bapak kenal mereka?”

“Satu kampus.”

“Dan Bapak… Bapak beneran ngambilin air buat mereka?”

“Mereka haus.”

Analis itu menatapku seperti Ucup menatapku delapan tahun lalu, ketika aku bilang Clara Florentina siapa.

Aku membuka kotak bekal biru. Nasi telur buatan Clara. Pinggirnya garing. Garamnya pas.

Aku makan.

Dua botol air mineral di ujung meja masih utuh. Tidak ada yang menyentuhnya.