Chapter Thirty Eight
Kursi yang Kosong
POV: Clara
Rapat dewan direksi Kusumadewi Retail diadakan hari Senin, dua hari setelah Floo Writers Award.
Aku sudah tahu sebelum diundang. Video Bram tersebar sejak Sabtu malam. Satu koma tujuh juta tayangan dalam tiga puluh enam jam. Bukan dari akun Bram. Dari akun-akun lain yang mengunggah ulang, memotong, memberi musik latar, memberi teks. Putri Kusumadewi Ngaku Jadi Penulis Novel Viral, Terus Nembak Founder Floo di Depan 400 Orang. ENDING TERBAIK TAHUN INI. Bab 86 Aku Pilih Kamu, aku nangis di kantor.
Dan satu potongan yang ditonton paling banyak: aku di tengah ruangan, di antara meja-meja bundar, dan ponsel di saku kemeja kotak-kotak biru yang bergetar ketika aku menyebut namanya. Dua pendek. Satu panjang. Ucup yang berbisik terlalu keras: Ka, kamu pasang Lizz sepuluh di HP-mu sendiri?
Lizz 10 masuk trending. Aplikasi yang lima tahun lalu dibuat untuk penjual gorengan tunarungu di gerbang belakang kampus, diunduh empat ratus ribu kali dalam dua hari.
Dewan direksi Kusumadewi Retail tidak menonton bagian itu. Dewan direksi menonton bagian ketika Brand Manager mereka, yang tujuh hari sebelumnya diminta untuk tidak memberi pernyataan apa pun ke media, naik ke panggung di depan empat ratus orang dan kamera dari tiga portal berita, dan berkata saya Sudut Taman.
Ruang rapat lantai tiga puluh. Meja oval. Tujuh anggota dewan.
Papa di ujung.
Pergelangan tangan kirinya masih kosong.
“Bu Clara,” kata komisaris independen berambut putih, dengan suara serak yang lebih lelah dari minggu lalu. “Saya tidak akan berpanjang-panjang. Ibu tahu kenapa Ibu di sini.”
“Saya tahu, Pak.”
“Dewan sudah meminta Ibu untuk tidak memberi pernyataan ke media.”
“Saya tidak memberi pernyataan ke media, Pak. Saya menerima penghargaan.”
Komisaris itu menatapku lama. Lalu ia tersenyum. Kecil. Sangat kecil. Seperti orang tua yang mendengar cucunya membantah dengan cara yang cerdas.
“Secara teknis, benar,” katanya. “Secara substansi, Ibu tahu itu tidak benar.”
“Saya tahu, Pak.”
Ia membuka map di depannya. “Dewan sudah berdiskusi. Kami memutuskan memindahkan Ibu dari posisi Brand Manager ke posisi Penasihat Strategis Divisi Retail. Gaji sama. Fasilitas sama. Tapi Ibu tidak lagi memegang keputusan yang berhubungan dengan mitra eksternal.” Ia menutup map. “Sampai situasinya tenang. Enam bulan. Mungkin setahun.”
Penasihat Strategis. Kursi tanpa meja. Ruangan tanpa pintu. Nama di kartu nama yang tidak berarti apa-apa.
Lima tahun lalu, aku akan mengangguk. Aku akan tersenyum. Aku akan bilang baik, Pak, dan pergi ke ruangan baru tanpa pintu dan duduk di sana selama enam bulan, mungkin setahun, sampai semua orang lupa.
Aku menatap Papa.
Papa menatap laporannya. Tangannya di atas meja. Jari-jarinya tidak mengetuk.
“Pak,” kataku pada komisaris. “Boleh saya bicara sebentar?”
“Silakan.”
“Saya berterima kasih atas tawaran Bapak. Saya tahu dewan sedang melindungi saya. Dan melindungi perusahaan.” Aku menarik napas. “Tapi saya menolak.”
Ruangan hening.
“Saya mengundurkan diri,” kataku.
Direktur Keuangan, yang dulu menyodorkan tablet ke Saka, menjatuhkan pulpennya. Direktur Pemasaran yang suka golf menatapku dengan mulut setengah terbuka.
“Bu Clara,” kata komisaris pelan. “Ibu tidak perlu…”
“Saya tahu saya tidak perlu, Pak.” Suaraku tidak bergetar. “Itu sebabnya saya mau.”
Komisaris itu menatapku.
“Lima tahun saya di sini,” kataku. “Dua tahun MT, tiga tahun Brand Manager. Saya belajar membaca struk. Saya belajar mengatakan tidak kepada vendor, kepada agensi, kepada manajer toko yang menyembunyikan angka.” Aku tersenyum. “Saya belajar mengatakan tidak kepada semua orang. Kecuali satu.”
Aku tidak menatap Papa. Tapi semua orang di meja itu menatap Papa.
“Saya mau mulai sesuatu yang saya pilih sendiri,” kataku. “Bukan yang dipilihkan. Bukan yang diwariskan. Bukan kursi yang disiapkan karena nama belakang saya.” Aku berdiri. “Saya akan serahkan semua dokumen transisi dalam dua minggu. Divisi saya bagus. Timnya bagus. Mereka nggak butuh saya buat jalan.”
Aku menatap tujuh anggota dewan. Satu per satu.
“Terima kasih, Bapak-bapak. Ibu-ibu.”
Lalu aku menatap ujung meja.
“Terima kasih, Pa.”
Papa mengangkat wajah.
Ia menatapku. Matanya tidak bergerak. Diam. Merah di sudut, seperti malam di ambang pintu ballroom.
Ia membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi. Lalu membukanya.
“Kamu yakin?” tanya Papa.
Tiga minggu. Tiga minggu Papa tidak bicara denganku. Dan kalimat pertamanya dua kata.
“Yakin, Pa.”
Papa menatapku lama. Lalu ia menunduk, menatap pergelangan tangan kirinya yang kosong. Ia mengusap pergelangan itu dengan ibu jari tangan kanannya. Pelan. Seperti mengusap sesuatu yang sudah tidak ada di sana.
“Itu…” Papa berhenti. Suaranya serak. “Itu alasan yang masuk akal.”
Ia tidak menambahkan untuk anak dua puluh enam tahun.
Aku keluar dari ruang rapat lantai tiga puluh dan berjalan ke lift.
Di lobi lantai tiga puluh, di dekat lift, berdiri seseorang yang tidak seharusnya ada di sana.
Kemeja kotak-kotak biru. Sepatu kets abu-abu. Kotak bekal biru muda, milikku, yang kubawakan untuknya tadi pagi, di tangan kiri.
“Kamu ngapain di sini?” bisikku.
“Kamu lupa bawa bekalmu sendiri,” katanya. “Kamu kasih aku dua tadi pagi. Satu buat kamu.”
“Saka, ini lantai tiga puluh. Menara Kusumadewi. Kamu nggak bisa naik ke sini tanpa…”
“Petugas valet,” katanya. “Yang dulu. Dia ingat aku. Dia bilang Bu Clara lagi rapat di lantai tiga puluh, terus dia antar aku ke lift karyawan.” Ia diam sebentar. “Dia nolak tip lagi.”
Aku menatapnya. Lalu aku tertawa. Lalu, di lobi lantai tiga puluh, di depan lift, di depan resepsionis yang menatap kami dengan mata yang sangat lebar, aku memeluknya.
Ia tidak bergerak selama satu detik. Lalu satu tangannya, yang tidak memegang kotak bekal, naik ke punggungku.
“Aku resign,” kataku ke kemeja kotak-kotaknya.
“Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Kamu bilang semalem. Di dapur. Waktu Kanya ngajarin kamu bikin sambel.” Ia diam sebentar. “Kamu bilang kalau mereka mindahin aku, aku resign. Kanya bilang bagus, Kak. Kinan bilang secara psikologis itu sehat.”
“Kamu nguping?”
“Dapurnya kecil.”
Aku tertawa lagi.
“Papa ngomong,” kataku.
Ia melonggarkan pelukannya sedikit dan menatapku.
“Dua kata,” kataku. “Kamu yakin. Terus itu alasan yang masuk akal. Tanpa untuk anak dua puluh enam tahun.” Suaraku pecah. “Tiga minggu, Saka. Tiga minggu dia nggak ngomong. Terus dia ngomong itu.”
Saka menatapku lama. Lalu ia mengangkat tangannya dan menghapus air mata di pipi kiriku dengan ibu jari.
“Itu banyak,” katanya.
“Itu dua kalimat.”
“Buat papamu, itu banyak.”
Rekening itu kubuka di bank yang berbeda dengan bank Papa, dua tahun lalu, ketika royalti pertama dari Floo masuk. Enam puluh dua ribu rupiah.
Aku tidak pernah memakainya. Aku hanya menyimpannya. Petugas bank meneleponku tiga kali untuk menawarkan layanan prioritas. Aku menolak tiga kali.
Hari Rabu, dua hari setelah rapat dewan, aku membuka aplikasi bank di ponselku dan menatap saldonya.
Dua miliar tujuh ratus empat puluh juta rupiah.
Dari ratusan ribu orang yang ingin tahu apa yang terjadi pada Bima dan Laras. Dari mahasiswi yang menangis di KRL tengah malam. Dari bapak di Pontianak yang membaca diam-diam karena malu ketahuan istri. Dari Bram, yang membaca sampai pukul tiga pagi dan menangis karena telur gosong.
Dari dua huruf kecil dengan titik, yang membayar dua puluh lima koin dari rekening pribadinya, dua kali seminggu, sebelas bulan.
Ini milikku. Pertama kalinya, sesuatu yang benar-benar milikku.
“Studio,” kata Tasya. Ia duduk di karpet kamarku dengan laptop di pangkuan dan sekantong keripik kentang, seperti setiap kali ada keputusan besar dalam hidupku sejak SMA. “Studio brand. Konsultan. Kamu bantu perusahaan kecil bikin brand yang jujur. Kayak yang dibilang Bram di Operasi Bima. Kampanye yang paling berhasil itu yang paling jujur.”
“Dan penerbitan,” kataku. “Buku cetak. Penulis Floo yang mau novelnya dicetak tapi nggak mau dikontrak penerbit besar yang ambil hak ciptanya. Kita cetak, kita distribusi, royaltinya tetap ke penulis.”
“Floo udah punya rencana hak cetak, kan? Saka bilang di forum.”
“Floo cetak buat sepuluh judul terlaris. Aku cetak buat yang nggak masuk sepuluh besar.” Aku menatap layar laptop Tasya. “Bunga liar yang nggak ada yang nanam.”
Tasya menatapku lama. Lalu ia menutup laptopnya.
“Clar,” katanya. “Aku resign juga.”
“Apa?”
“Dari HR. Aku resign. Aku ikut kamu.” Tasya mengangkat bahu. “Aku udah lima tahun ngurusin cuti karyawan sama asuransi kesehatan. Aku bosen. Aku mau ngurusin sesuatu yang aku pilih sendiri.” Ia tersenyum. “Lagian siapa lagi yang mau jadi partner kamu? Bram?”
“Bram mau.”
“Bram bakal bikin presentasi dua puluh slide buat milih warna cat dinding.”
“Iya, juga.”
Tasya mengulurkan kepalan tangannya. Aku membenturkan kepalan tanganku ke kepalan tangannya.
Saka menawarkan modal hari Kamis.
Di bangku beton di bawah pohon mangga di Sentul, pukul enam sore, setelah aku menceritakan rencana studio. Kotak bekal biru di sebelahnya, kosong. Ia baru saja memakan nasi telur buatanku sambil mendengarkan, mengangguk sesekali, tanpa menyela.
“Berapa yang kamu butuh?” tanyanya.
“Aku punya dua koma tujuh miliar.”
“Itu cukup buat setahun. Kalau mau tumbuh cepat, kamu butuh lebih.” Ia diam sebentar. “Aku bisa investasi. Lewat divisi investasi Floo, atau pribadi. Nggak usah pakai syarat.”
Aku menatapnya.
Laki-laki yang lima tahun lalu menghitung harga telur sampai ke ratusan. Yang membeli bakwan yang tidak perlu untuk penjual yang perlu pembeli baik. Yang sekarang duduk di bangku beton di halaman rumahnya sendiri, dengan perusahaan yang labanya lima belas miliar sebulan, menawarkanku uang tanpa syarat.
“Nggak,” kataku.
Saka menatapku. Tiga detik.
“Kenapa?”
“Karena…” Aku mencari kata. Aku menemukannya di tempat yang aneh: di kantin karyawan lantai empat, dua tahun lalu, di depan dasbor penulis yang menampilkan angka enam puluh dua ribu rupiah. Duit pertama kamu yang bukan dari Papa. “Karena seumur hidup, semua yang aku punya dikasih orang lain. Papa. Kakek. Nama belakang. Kursi di lantai sembilan.” Aku tersenyum. “Kali ini aku mau kamu lihat aku naik sendiri.”
Saka diam lama.
“Kamu yakin?”
“Kamu ngomong kayak Papa.”
“Papamu nanya dua kata itu juga?”
“Persis.”
Sudut bibirnya naik. Tiga milimeter. Mungkin empat. “Itu pertanyaan yang bagus.”
“Aku yakin, Saka.”
Ia menatapku lama. Lalu ia mengangguk. Satu kali.
“Oke,” katanya.
Itu saja. Tidak ada tapi. Tidak ada argumen soal efisiensi. Tidak ada tabel dan grafik soal kenapa modal lebih besar berarti pertumbuhan lebih cepat.
Hanya oke.
Aku tidak tahu kenapa satu kata itu membuat mataku panas.
Kantor pertama Studio Sudut ada di lantai dua sebuah ruko di Tebet, di atas toko jual-beli ponsel bekas yang pemiliknya memutar lagu dangdut koplo dari pukul sembilan pagi sampai pukul sembilan malam.
Aku tidak tahu itu ruko yang sama sampai hari ketiga.
Hari ketiga, Ucup datang membawa sekantong pisang goreng untuk merayakan, menaiki tangga sempit ke lantai dua, berhenti di ambang pintu, dan menatap ruangan itu dengan mulut terbuka lebar.
“Mbak,” bisiknya. “Mbak.”
“Kenapa, Cup?”
“Ini… ini ruko Floo.” Ucup menunjuk dinding. “Di situ dulu mejaku. Di situ meja Saka. Di situ Bu Rosa nempel grafik pakai selotip, tulisannya JANGAN SOMBONG INI BELUM APA-APA. Di situ…” Ia menunjuk sudut dekat jendela yang menghadap ke tiang listrik. “Di situ Saka benerin server yang tenggelam semalaman. Malam yang ada video TikTok mahasiswi nangis di KRL. Malam yang dia baca novel Mbak pertama kali.”
Aku tidak bisa bernapas.
Aku menatap sudut dekat jendela itu. Lantai keramik yang sudah retak di beberapa bagian. Jendela yang menghadap ke tiang listrik. Di bawah, dari toko ponsel bekas, dangdut koplo mengalun.
Di sini. Pukul empat pagi. Laki-laki dengan kemeja kotak-kotak, setelah merancang ulang arsitektur server dalam satu malam, membuka bab satu novelku di ponsel Android murah. Sepatu delapan puluh sembilan ribu. Ia berhenti membaca. Ia meletakkan ponselnya. Tangannya gemetar.
Di sini.
“Mbak Clara nggak tahu?” tanya Ucup.
“Aku nggak tahu,” bisikku. “Aku cari ruko yang murah. Agen bilang yang ini paling murah di Tebet. Delapan juta sebulan. Pemilik toko HP di bawah suka muter dangdut, jadi nggak ada yang mau sewa.”
Ucup menatapku. Lalu ia tertawa. Basah. Tentu saja.
“Delapan juta,” katanya. “Sama kayak dulu. Nggak naik sepeser pun. Lima tahun.” Ia menggeleng. “Pemilik ruko ini kayaknya juga nggak pernah naikin harga telur.”
Saka datang ke Studio Sudut hari Jumat, pukul tujuh malam, setelah toko ponsel bekas di bawah tutup dan dangdut koplo berhenti.
Ia berdiri di ambang pintu dan menatap ruangan itu lama. Dinding yang sudah kucat ulang dengan warna krem. Dua meja, satu untukku dan satu untuk Tasya. Rak buku kosong. Jendela yang masih menghadap ke tiang listrik.
Ia tidak berkata apa-apa tentang ruko itu. Ia tidak bilang ini dulu kantorku. Ia tidak bilang di sudut itu aku baca novelmu pertama kali.
Ia membawa sesuatu di tangan kanan. Besar. Persegi. Dibungkus koran bekas dan diikat rafia merah.
“Hadiah,” katanya.
“Kamu bilang oke. Nggak ada modal.”
“Ini bukan modal.” Ia meletakkannya di dinding. “Ini peralatan.”
Aku membuka bungkusan koran itu.
Papan tulis putih. Bekas. Pinggirannya sedikit penyok. Ada bekas spidol yang tidak bisa dihapus di sudut kanan atas, samar, seperti garis-garis nisan kecil yang digambar dengan tangan gemetar.
Aku menatap bekas spidol itu.
“Tiga puluh lima ribu,” kata Saka. “Loakan. Dulu.”
“Ini…”
“Taman Pemakaman Umum.” Ia menatap papan itu. “Sembilan kuburan. Udah aku hapus. Tapi bekasnya nggak bisa ilang semua.”
Aku tidak bisa bicara.
“Semua orang yang bikin sesuatu sendiri butuh papan kayak gini,” katanya. “Buat nulis yang gagal. Biar nggak lupa. Biar tahu idenya nggak salah, kadang cuma waktunya yang salah.”
Aku menatap papan tulis itu. Lalu menatapnya.
“Kalau aku gagal sembilan kali?” bisikku.
“Aku bawa mi instan buat tahlilan,” katanya. “Ucup bawa spidol.”
Aku tertawa. Aku menangis. Aku memeluknya di tengah ruko di Tebet, di sudut dekat jendela yang menghadap ke tiang listrik, di tempat ia dulu duduk sendirian pukul empat pagi membaca bab satu novelku dengan tangan yang gemetar.
Ia memelukku balik. Dua tangan.
“Saka,” bisikku ke kemeja kotak-kotaknya.
“Hm.”
“Kamu tahu ini ruko Floo dulu.”
Ia diam lama.
“Aku tahu,” katanya akhirnya.
“Kenapa nggak bilang?”
“Kamu yang milih ruko ini,” katanya. “Sendiri. Bukan aku yang tunjukin.” Ia melonggarkan pelukannya dan menatapku. “Kalau aku bilang, kamu bakal mikir ini ada hubungannya sama aku. Bakal mikir kamu naik di tempat yang aku udah lewatin.”
“Bukannya emang gitu?”
“Bukan.” Ia menggeleng pelan. “Kamu naik di tempat yang kamu pilih. Kebetulan aku pernah lewat di sini juga.” Ia menatap sudut dekat jendela. “Itu beda.”
Aku menatapnya. Laki-laki yang tidak pernah berbohong, tapi jago tidak bicara. Yang menyimpan sesuatu bukan untuk menyembunyikan, tapi supaya orang lain bisa memilih sendiri.
Lima tahun lalu ia melakukan itu dengan cara yang salah. Ia memilih untukku.
Malam ini ia melakukannya dengan cara yang benar. Ia membiarkanku memilih, lalu berdiri di sampingku.
“Makasih,” bisikku.
“Buat papan tulis?”
“Buat oke.”
Ia tidak mengerti. Aku melihatnya di wajahnya, sedikit kerutan di antara alis, seperti orang yang membaca baris kode yang tidak ia kenali.
Aku tidak menjelaskan.
Aku mengambil spidol hitam dari meja Tasya. Di papan tulis putih bekas seharga tiga puluh lima ribu, di bawah bekas samar sembilan nisan kecil yang tidak bisa dihapus, aku menulis dengan huruf besar:
1. STUDIO SUDUT.
Di bawahnya, aku tidak menggambar nisan.
Aku menggambar bunga. Lima kelopak. Sedikit tidak simetris. Dengan satu garis tipis di kelopak kiri bawah.
Di bawahnya, Saka mengambil spidol dari tanganku dan menulis, dengan tulisan tangan kecil yang rapi dan sedikit miring ke kanan:
Lahir.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong reading
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman