← Pria yang Ia Pilih

Chapter Forty Four

Akad

POV: Clara

Aku bangun pukul empat lewat sepuluh.

Tanpa alarm. Aku berbaring di kasur, di kamarku di Menteng, untuk terakhir kalinya sebagai Clara Florentina Kusumadewi yang belum menikah, dan menatap langit-langit krem dalam gelap.

Lima menit. Lima menit yang menjadi milikku.

Aku memakai lima menit itu untuk menyusun hari di kepala. Seperti seseorang yang kukenal menyusun baris kode.

Mandi. Dirias. Kebaya. Sanggul. Akad pukul sembilan. Resepsi sesi pertama pukul satu di Sentul. Resepsi sesi kedua pukul empat.

Lalu aku berhenti menyusun, karena aku sadar sesuatu.

Di Sentul, pukul empat lewat lima belas, seseorang sedang memecahkan telur ke wajan. Tiga butir. Atau empat. Atau lima, karena Ucup menginap. Ia pasti bangun pukul empat lewat sepuluh juga. Ia pasti berbaring lima menit dalam gelap, menyusun hari.

Kami bangun di menit yang sama. Di rumah yang berbeda. Untuk terakhir kalinya.

Pukul empat lewat lima belas, ponselku bergetar. Satu getar.

Saka: Telurnya lima pagi ini. Ucup minta dua.
Saka: Kamu udah bangun?

Aku tertawa dalam gelap.

Clara: Udah. Jam empat lewat sepuluh.
Clara: Kamu juga, kan?

Saka: Iya.

Clara: Kita kayak orang yang udah nikah.

Lama tidak ada balasan. Tiga puluh detik. Satu menit.

Saka: Lima jam lagi.

Aku memeluk ponsel di dada dan menendang-nendang selimut seperti anak SMA.


Kanya datang pukul enam dengan tiga perias, satu penata rambut, dua asisten, dan satu papan klip berisi jadwal yang dicetak dengan huruf tebal.

“Kak Clara,” katanya di ambang pintu kamarku. Celemek hitam KANYA WEDDING & CATERING. Rambut diikat tinggi. Lingkaran hitam di bawah mata. “Jadwal. Jam enam sampai jam tujuh tiga puluh, rias. Jam tujuh tiga puluh sampai jam delapan, sanggul. Jam delapan sampai jam delapan tiga puluh, kebaya. Jam delapan tiga puluh sampai jam sembilan, foto keluarga. Jam sembilan tepat, akad.” Ia menatapku. “Tepat. Bukan lewat satu menit. Kak Saka bakal ngitung.”

“Kamu tidur?”

“Dua jam.”

“Kanya…”

“WO tidak menerima kalimat kamu harus istirahat dari klien perempuan.” Kanya membalik halaman di papan klipnya. “Poin enam. Aku tambahin tadi malam.”

Aku tertawa. Kanya tidak tertawa. Ia menatapku lama, dari ambang pintu, dengan papan klip di tangan dan lingkaran hitam di bawah mata.

Lalu ia berjalan masuk dan memelukku. Keras. Cepat. Seperti petasan.

“Kakak cantik,” bisiknya ke bahuku. “Belum dirias aja udah cantik. Kak Saka bakal pingsan.”

“Saka nggak pernah pingsan.”

“Hari ini mungkin pertama kali.” Kanya melepas pelukan. Matanya merah. “Kinan udah siapin minyak kayu putih. Buat jaga-jaga.”


Kebayaku putih.

Bukan putih bersih seperti kain baru. Putih gading, sedikit kekuningan, seperti kertas yang sudah lama disimpan. Brokat Solo dengan motif bunga kecil yang dijahit tangan, kancing-kancing kecil dari kain di sepanjang punggung.

Mama yang memilihnya. Mama yang membawanya dari lemari di kamarnya, terbungkus kain batik dan kertas tisu, tiga minggu lalu.

“Ini kebaya akad Mama,” katanya, waktu itu, membuka bungkusannya di atas kasurku. “Di KUA. Tiga puluh tahun lalu. Ibunya Papa yang jahit. Di mesin jahit di Solo.”

Aku menatap kebaya itu. Tidak bisa bicara.

“Ayah Mama nggak datang ke akad,” kata Mama pelan. “Jadi nggak ada foto. Nggak ada yang lihat Mama pakai ini selain Papa, penghulu, dua saksi, dan ibunya Papa.” Ia mengusap brokatnya dengan ujung jari. “Mama simpan tiga puluh tahun. Mama pikir nggak akan ada yang pakai lagi.”

Pagi ini, aku memakainya.

Penjahit tua di Pasar Baru, yang dulu kenal kakek dari pihak Papa, mengecilkan pinggangnya dua senti dan mengganti tiga kancing yang lepas. Ia mengambil kancing pengganti dari kaleng permen bekas yang dibawa Papa dari Solo. Kancing-kancing yang dikumpulkan ibu Papa dari baju pelanggan yang tidak diambil-ambil. Sayang dibuang. Nanti pasti ada yang butuh.

Rambutku disanggul. Rendah, di tengkuk. Rangkaian melati menjuntai di sisi kanan.

Di sisi kiri, jepit bunga liar. Lima kelopak. Satu goresan. Pengaitnya setengah milimeter lebih kencang.

Di jari manis kiri, cincin. Bunga lima kelopak. Satu goresan.

Aku menatap diriku di cermin meja rias. Perias pertama menangis. Perias kedua menyodorkan tisu ke perias pertama. Penata rambut memotret dari tiga sudut, seperti Bram.

Mama berdiri di ambang pintu. Ia menatapku lama. Lalu ia menutup mulut dengan saputangan.

“Ibunya Papa,” bisiknya, “pasti seneng.”


Akad diadakan di ruang makan.

Bukan di ruang tamu. Bukan di masjid. Di ruang makan rumah Menteng, di meja makan yang panjangnya empat meter dua puluh, dengan dua belas kursi.

Papa yang memutuskan. Kanya yang mengatur. Meja makan itu ditutup kain putih panjang dari ujung ke ujung. Di tengahnya, bukan di ujung, meja kecil untuk akad, dengan dua kursi berhadapan, mikrofon kecil, dan buku nikah.

Kursi untuk penghulu di satu sisi. Kursi untuk wali di sisi lain.

Kursi untuk pengantin laki-laki di tengah. Persis di tengah. Dua meter sepuluh senti dari ujung kiri, dua meter sepuluh senti dari ujung kanan.

Kanya mengukurnya pakai meteran kain. Dua kali.

Dan di dinding ruang tamu, yang bisa dilihat dari ruang makan lewat pintu lengkung yang terbuka lebar, lukisan besar Kakek masih tergantung. Laki-laki tua berjas dengan tatapan tajam. Tapi pagi ini, di sebelah lukisan itu, ada sesuatu yang baru.

Papan kayu kecil. Lapuk. Tulisan tangan dengan cat hitam yang hampir hilang dimakan hujan dan matahari:

PENJAHIT WICAKSONO
Permak — Jahit Baru — Pasang Kancing

Papa membawanya dari Solo minggu lalu. Ia mencabutnya sendiri dari atas pintu rumah di gang sempit, dengan obeng pinjaman tetangga. Ia membawanya pulang di bagasi Avanza perak tahun 2014, dibungkus koran, dan menggantungnya di dinding ruang tamu, di sebelah lukisan ayah mertuanya, sejajar, setinggi mata.

Bram bertanya kenapa. Papa tidak menjawab. Mama yang menjawab, belakangan, di dapur, sambil menuang teh.

Supaya Kakek tahu, Bram. Siapa yang sekarang duduk di tengah.


Pukul delapan lima puluh delapan, aku turun dari tangga.

Pelan. Satu anak tangga. Dua. Kebaya gading menyapu karpet. Mama di sebelah kiriku, memegang lenganku. Tasya di belakangku, memegang ujung kebaya, menangis tanpa suara dengan riasan yang sudah luntur sebelum akad dimulai.

Di bawah tangga, ruang makan sudah penuh.

Empat puluh tamu. Hanya keluarga inti dan saksi. Kanya membatasinya dengan sangat galak. Akad itu sakral. Bukan konser.

Keluarga Kusumadewi di sisi kiri meja empat meter dua puluh. Om dan tante dari pihak Mama. Sepupu-sepupu. Tante Wulan, yang pernah bilang sekufu sambil menyendok puding mangga, duduk di kursi paling ujung dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Bu Rosa, dengan kebaya hitam sederhana dan kacamata berbingkai tebal. Pak Budiman, dengan kemeja batik baru, tanpa martabak untuk pertama kalinya. Bu Darto dan Pak Darto, dengan ponsel di saku celemek yang tidak dilepas meskipun Kanya sudah memintanya dua kali.

Kanya di sudut ruangan, dengan headset di telinga dan papan klip di tangan. Kinan di sebelahnya, dengan kebaya hijau muda pinjaman dari Bu Darto, kacamata berbingkai tipis, dan botol minyak kayu putih di genggaman.

Dan di tengah meja makan empat meter dua puluh, di kursi pengantin laki-laki, dua meter sepuluh senti dari ujung kiri dan dua meter sepuluh senti dari ujung kanan:

Saka.

Beskap Solo berwarna gading. Kain batik parang. Blangkon. Penjahit tua di Pasar Baru yang menjahit beskapnya, mengukur bahunya dengan tangan gemetar.

Dan di kakinya, di bawah kain batik parang yang menyentuh lantai marmer:

Sepatu kets abu-abu.

Kanya pasti sudah berdebat dengannya selama tiga hari. Aku tahu, karena Kanya mengirimiku dua puluh tujuh pesan soal itu. Kak, dia nggak mau pakai selop. Kak, dia bilang selop licin di lantai marmer. Kak, dia bilang kets lebih stabil. Kak, aku udah kehilangan akal sehat.

Ia menoleh ketika aku turun dari anak tangga terakhir.

Ia menatapku.

Satu detik. Dua. Tiga.

Ia tidak menghitung lebih jauh. Aku tahu, karena wajahnya, di bawah blangkon dan di atas beskap gading, tidak datar. Bukan permukaan kolam. Ia menatapku dengan mulut sedikit terbuka, dengan mata yang membesar, dengan napas yang berhenti.

Lalu, pelan, ia berdiri dari kursinya.

Kanya, di sudut ruangan, berbisik ke headset-nya dengan suara yang bisa didengar seluruh ruangan: “Pengantin laki-laki berdiri. Pengantin laki-laki nggak boleh berdiri. Itu nggak ada di jadwal.”

Kinan membuka tutup botol minyak kayu putih.

Saka tidak duduk lagi. Ia berdiri di tengah meja makan empat meter dua puluh dan menatapku berjalan dari tangga ke meja akad. Lima meter. Jarak antara bangku kayu dan bangku beton.

Aku berhenti di depannya. Di seberang meja kecil akad.

“Kamu berdiri,” bisikku.

“Aku nggak bisa duduk,” bisiknya.

“Kanya marah.”

“Aku tahu.”

“Kinan udah buka minyak kayu putih.”

Ia menatapku. Dari dekat, dari seberang meja kecil, matanya basah.

“Kamu pakai jepitnya,” katanya.

“Kamu pakai kets.”

“Lantainya licin.”

“Saka.”

“Lebih stabil.”

Aku tertawa. Basah. Di tengah ruang makan, di depan empat puluh tamu, dengan kebaya gading tiga puluh tahun dan sanggul dengan rangkaian melati.

Lalu aku menunduk dan melihat sesuatu di bawah meja akad. Di sisi wali. Di bawah kain batik dan celana beskap gelap seorang laki-laki yang sudah duduk di kursi wali sejak tadi, dengan arloji kecil bertali kulit cokelat yang retak di pergelangan kirinya.

Sepatu kets abu-abu.

Baru. Model yang sama persis dengan sepatu Saka.

Aku menatap Papa.

Papa tidak menatapku. Papa menatap meja. Telinganya merah.

Kanya, di sudut ruangan, mengeluarkan suara seperti ketel air mendidih. Ia menekan tombol di headset-nya dan berbisik dengan suara yang bergetar: “Wali juga pakai kets. Wali juga pakai kets. Ini tidak ada di jadwal. Ya Allah, ini keluarga apa.”


Penghulu membuka acara pukul sembilan tepat.

Saka duduk kembali. Aku duduk di sebelahnya, di kursi yang diletakkan Kanya tepat di sebelah kursi pengantin laki-laki, di tengah meja empat meter dua puluh. Mama di belakangku, tangannya di bahuku.

Khutbah nikah. Pembacaan ayat. Penghulu bertanya kepada saksi-saksi.

Saksi pertama dari pihak laki-laki. Ucup. Kemeja putih dengan lengan kiri yang dua senti lebih panjang. Beskap pinjaman dari pamannya, lagi. Ia berdiri di samping meja akad dengan wajah pucat seperti kertas yang dicuci.

“Nama saksi?” tanya penghulu.

Ruang makan hening. Bram, di sebelah Tasya, sudah mengangkat ponselnya, siap merekam bencana. Kanya menutup mata. Kinan menggenggam botol minyak kayu putih dengan dua tangan.

Ucup menarik napas.

“Yusuf Ramadhan,” katanya.

Satu kali. Tanpa salah. Tanpa eh. Tanpa Ucup.

Ruang makan tetap hening. Lalu Bram menurunkan ponselnya pelan-pelan, dengan wajah tidak percaya. Pak Budiman melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. Di sudut ruangan, Kanya membuka matanya dan menatap Ucup, lama, dengan sesuatu di wajahnya yang membuat telinganya merah.

Ucup menoleh ke Saka. Matanya membesar di balik kacamata. Aku berhasil, katanya tanpa suara.

Saka mengangguk. Satu kali.


“Mahar,” kata penghulu, membaca kertas di depannya. Lalu ia berhenti. Ia membaca lagi. Ia menatap Saka dari balik kacamatanya.

“Uang tunai sebesar dua juta tiga ratus ribu rupiah,” katanya pelan, “dan seperangkat alat salat?”

“Iya, Pak,” kata Saka.

Bisik-bisik di ruang makan. Tante Wulan, di kursi paling ujung, mengangkat alis setinggi mungkin. Seseorang dari keluarga Kusumadewi berbisik terlalu keras: dua juta tiga ratus? Founder Floo?

Penghulu menatap Saka. “Boleh saya tanya, Mas? Angkanya agak… spesifik.”

Saka diam sebentar. Lalu ia berkata, dengan suara datar yang tidak datar sama sekali:

“Satu porsi nasi telur, Pak. Dulu. Beras, telur, minyak, garam, gas. Dua ribu tiga ratus rupiah.” Ia menatap kertas di depan penghulu. “Seribu porsi.”

Ruang makan sangat hening.

“Saya makan nasi telur itu tiap hari. Dari umur tujuh belas,” kata Saka. “Dia pernah makan setengahnya. Di bangku beton. Waktu suaranya serak di kalimat ke-60.” Ia diam sebentar. “Seribu porsi itu kira-kira satu setengah tahun. Kalau tiap hari makan berdua.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Saya mau,” kata Saka pelan, “makan berdua sama dia. Satu setengah tahun pertama. Terus diulang lagi. Sampai habis.”

Penghulu menatap Saka lama. Ia melepas kacamatanya. Ia tidak memakainya lagi selama beberapa detik.

Di ujung meja, Tante Wulan menurunkan alisnya. Pelan-pelan. Ia menatap piring kosong di depannya. Lalu ia mengambil saputangan dari tas tangannya dan menekannya ke sudut mata.


Papa yang menjadi wali.

Ia duduk di seberang Saka, di meja kecil akad, dengan arloji tiga puluh lima ribu di pergelangan kiri dan sepatu kets abu-abu di kakinya. Ia menjabat tangan Saka. Erat. Kering. Kuat.

Penghulu memberi isyarat.

Papa menarik napas. Ia menatap Saka. Lalu ia membuka mulut.

“Saudara Saka Pradana bin Harjo Pradana,” kata Papa.

Suaranya datar. Jelas. Tidak naik, tidak turun.

Jakun Saka bergerak sekali. Di sudut ruangan, Kanya meraih tangan Kinan tanpa menoleh, dan Kinan sudah lebih dulu mengulurkannya. Sebelas tahun nama itu hanya tertulis di nisan dan di formulir sekolah.

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya…”

Ia berhenti.

Ruang makan berhenti bernapas.

Papa menatap tangannya yang menjabat tangan Saka. Arloji kecil dengan tali kulit cokelat yang retak. Buku-buku jarinya putih.

Aku tahu kata apa yang menunggu sesudah binti.

Matanya bergerak, lewat pintu lengkung, ke dinding ruang tamu. Ke lukisan Kakek. Lima belas tahun laki-laki di lukisan itu memanggilnya suaminya Ratna. Tidak pernah sekali pun dengan nama.

Papa menatap lukisan itu satu detik penuh. Lalu ia kembali menatap Saka.

“…dengan anak saya, Clara Florentina Kusumadewi binti Hendro Wicaksono…”

Jelas. Tidak pecah. Setiap suku kata diletakkan di meja, satu per satu, seperti kancing di atas kain. Untuk pertama kalinya, di rumah ini, nama itu diucapkan seperti nama pemilik rumah.

Pipi kirinya basah. Ia tidak menghapusnya. Ia tidak berhenti.

“…dengan mas kawin uang tunai sebesar dua juta tiga ratus ribu rupiah dan seperangkat alat salat, dibayar tunai.”

Saka tidak menunggu.

“Saya terima nikah dan kawinnya Clara Florentina Kusumadewi binti Hendro Wicaksono dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Satu tarikan napas. Tidak ada jeda. Tidak ada salah. Seperti menekan tombol deploy dengan kode yang sudah diuji ribuan kali.

Penghulu menoleh ke saksi-saksi.

“Sah?”

“Sah!”

Ucup yang paling keras. Lalu Bram. Lalu seluruh ruang makan. Lalu Kanya, di sudut, yang tidak seharusnya bicara karena ia WO, berteriak paling keras dari semuanya, SAH!, dan langsung menutup mulutnya sendiri dengan tangan.

Penghulu membaca doa.

Aku tidak mendengar doanya. Aku menatap laki-laki di sebelahku. Beskap gading. Blangkon. Sepatu kets abu-abu.

Suamiku.

Ia menatapku. Matanya basah. Sudut bibirnya naik, dan naik, dan naik, dan aku tidak menghitung, dan ia juga tidak.


Setelah doa, setelah tanda tangan buku nikah, setelah cincin, setelah sungkem kepada Mama yang menangis sampai riasannya luntur dan kepada Papa yang menepuk kepala Saka lima kali dengan tangan yang gemetar, empat dan satu lagi, setelah semua itu, Saka berdiri di depanku.

Di ruang makan. Di depan meja empat meter dua puluh. Di depan empat puluh tamu.

Ia menatapku. Lalu ia menunduk dan mencium keningku.

Pelan. Lama. Seperti menandatangani sesuatu yang tidak akan pernah dihapus.

Ruang makan bertepuk tangan.

Lalu ia mengangkat wajah dari keningku, dan aku menatapnya, dan aku tidak bisa menahan diri.

Aku berjinjit. Aku meraih kerah beskap gadingnya. Dan aku menciumnya.

Di bibir. Di depan Papa. Di depan Mama. Di depan Tante Wulan dan keluarga Kusumadewi dan Bu Rosa dan Pak Budiman dan Pak Darto dan Bu Darto. Di bawah lampu gantung kristal ruang makan. Di depan lukisan Kakek dan papan kayu PENJAHIT WICAKSONO yang tergantung sejajar di ruang tamu.

Ruang makan meledak.

Bram bersiul. Tasya menjerit. Ucup menangis. Bu Rosa memijat pangkal hidungnya. Tante Wulan menutup wajahnya dengan saputangan, entah karena malu atau karena terharu atau keduanya.

Di sudut ruangan, Kanya langsung menutup mata Kinan dengan dua tangan.

Kinan tidak bergerak. “Kak Kanya. Aku dua puluh tiga tahun. Aku mahasiswi kedokteran gigi. Aku sudah belajar anatomi.”

“Itu kakak kita, Kinan!”

“Secara anatomis…”

“Kinan!”

Saka tidak melepas ciumanku. Satu detik. Dua. Lima. Tangannya naik ke pinggangku, di atas kebaya gading tiga puluh tahun yang kancing-kancingnya dari kaleng permen bekas.

Ketika akhirnya kami berhenti, dahinya menempel di dahiku. Napasnya pendek-pendek.

“Kanya marah,” bisikku.

“Aku tahu.”

“Itu nggak ada di jadwal.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak bilang jangan dulu.”

“Dulunya udah lewat,” bisiknya. “Sekarang sekarang.”


Papa menghampiri kami ketika tamu-tamu sudah mulai berpindah ke ruang tamu untuk foto keluarga.

Ia berdiri di depan Saka. Satu meter. Jarak yang sopan.

Lalu, seperti Saka di Solo, ia melangkah satu langkah lagi.

Ia menatap Saka. Lama. Matanya, di bawah lampu gantung kristal, merah dan basah.

“Saka,” katanya.

“Iya…” Saka berhenti. Ia menatap Papa. Aku melihatnya. Aku melihat jakunnya bergerak. Aku melihat bibirnya membentuk kata yang lama sekali tidak ia ucapkan kepada siapa pun. Kata yang sudah sebelas tahun tidak punya pemilik.

“Iya, Pa,” kata Saka.

Papa berhenti bergerak.

Ruang makan, yang tadi ramai, mendadak sunyi lagi. Semua orang menoleh.

Papa menatap Saka. Bibirnya bergetar. Ia membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi.

Lalu ia memeluk Saka.

Bukan kaku. Bukan canggung. Seperti seseorang yang sudah lama sekali tahu bahasa itu, dan baru sadar bahwa ia tidak pernah lupa satu kata pun.

“Nak,” kata Papa ke bahu Saka. Suaranya pecah. “Nak.”

Saka tidak bergerak. Lalu, pelan, tangannya naik ke punggung Papa. Dua tangan.

Di belakangku, Mama menangis ke bahu Bram. Bram menangis ke bahu Tasya. Tasya menangis ke bahu Ucup. Ucup menangis ke udara, karena tidak ada bahu lagi yang tersisa.

Dan di sudut ruangan, Kanya melepas headset dari telinganya dan meletakkan papan klipnya di meja. Ia tidak memeriksa jadwal. Ia tidak berbisik ke siapa pun. Ia hanya berdiri di sana, dengan celemek hitam KANYA WEDDING & CATERING, dan menatap kakaknya di pelukan laki-laki yang sekarang ia panggil Papa.

Kinan berdiri di sebelahnya. Ia mengambil tangan kembarannya dan menggenggamnya.

“Kak Kanya,” bisik Kinan. “Kak Saka punya Papa lagi.”

Kanya tidak menjawab. Kanya menangis seperti sirene.

Dan kali ini, Kinan juga.