← Pria yang Ia Pilih

Chapter Eighteen

Dua Ratus Juta Sehari

POV: Saka

Kurva pertumbuhan Floo di bulan kesepuluh terlihat seperti tangga yang dibangun oleh orang mabuk.

Naik sedikit. Datar. Naik sedikit. Datar. Turun sedikit, karena libur Lebaran. Naik lagi. Lalu tiba-tiba melonjak di bulan ketujuh, ketika seorang penulis dari Makassar menulis cerita horor tentang kos-kosan di Jogja dan cerita itu menyebar di TikTok. Lalu datar lagi. Lalu naik.

Rp 1.040.000 di hari pertama.

Rp 4.700.000 sehari di bulan ketiga.

Rp 18.000.000 sehari di bulan keenam.

Rp 61.000.000 sehari di bulan kesembilan.

Bu Rosa mencetak grafik itu di kertas A3, menempelkannya di dinding kantor dengan selotip, dan menulis di atasnya dengan spidol merah: JANGAN SOMBONG. INI BELUM APA-APA.

Kantor kami di lantai dua sebuah ruko di Tebet, di atas toko jual-beli ponsel bekas yang pemiliknya memutar lagu dangdut koplo dari pukul sembilan pagi sampai pukul sembilan malam. Sewanya delapan juta sebulan. Ada satu ruangan besar dengan sebelas meja, satu ruang rapat yang sebenarnya gudang yang dicat ulang, satu kamar mandi dengan kloset jongkok, dan satu jendela yang menghadap ke tiang listrik.

Sebelas meja untuk sebelas orang. Aku, Ucup, Bu Rosa, empat programmer muda yang kurekrut dari forum dan dari kampus lama, dua orang di bagian dukungan penulis, satu orang di bagian keuangan, dan satu orang desainer yang setiap hari protes karena aku tidak mengizinkannya mengubah logo.

“Pak Saka,” katanya, untuk kelima kalinya bulan ini, berdiri di depan mejaku dengan tablet di tangan. Namanya Dimas, dua puluh tiga tahun, rambut dicat abu-abu, kacamata bundar. “Logonya. Garis di kelopak kiri bawah itu. Itu bug, Pak. Kalau dicetak kecil, kelihatan kayak kotor. Saya hapus, ya?”

“Jangan.”

“Tapi Pak…”

“Jangan, Dimas.”

Dimas menatapku. Lalu menatap Ucup di meja sebelah. Ucup mengangkat bahu dengan ekspresi aku juga nggak ngerti, udah nyerah dari dulu.

“Itu bayangan,” kataku. “Biar kelihatan tiga dimensi.”

“Bayangannya cuma satu garis, Pak. Di satu kelopak. Itu bukan bayangan, itu…”

“Dimas.”

Dimas menghela napas panjang, berbalik, dan kembali ke mejanya sambil menggerutu sesuatu yang terdengar seperti founder aneh, logo aneh, ruko aneh, dangdut koplo.


Aku masih bekerja di Kuningan sampai bulan kesembilan.

Siang di Kuningan, sebagai Senior Engineer yang menjaga sistem pembayaran empat ratus cabang ritel. Malam di Tebet, sampai pukul dua atau tiga pagi. Pukul empat lewat sepuluh, bangun. Pukul empat lewat lima belas, telur.

Kanya bilang aku kelihatan seperti zombi yang rajin.

Kinan bilang lingkar mataku sudah masuk kategori yang perlu diperiksakan ke dokter. Ia sekarang semester lima FKG dan memeriksa gigiku setiap Minggu pagi dengan senter ponsel, menggeleng, dan menulis sesuatu di buku catatan kecil yang ia namai Rekam Medis Pasien Bandel.

Di bulan kesembilan, aku mengajukan pengunduran diri.

Pak Hendra membaca surat itu lama sekali. Lalu ia memanggil Pak Teguh. Pak Teguh membaca surat itu, melepas kacamata, memijat pangkal hidung, dan berkata satu kata saja:

“Akhirnya.”

Ia menepuk bahuku empat kali. Lalu ia menambahkan, pelan, sambil memakai kacamatanya lagi: “Kalau gagal, kursimu masih ada. Tapi saya rasa kamu nggak akan gagal.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya bilang terima kasih, mengemasi kotak bekal biru dan termos teh dari laci mejaku, dan pulang.


Server Floo mati pada malam Kamis, bulan kesepuluh, pukul sebelas lewat empat belas menit.

Aku sedang di ruko Tebet, sendirian, karena semua orang sudah pulang dan dangdut koplo di lantai bawah sudah berhenti. Dasbor pemantauan di layar keduaku berubah merah dalam waktu tiga detik. Lalu oranye. Lalu merah lagi. Lalu semua grafiknya lurus ke atas seperti tembok.

Ponselku berdering. Ucup.

“KA! KA! SERVER!”

“Aku lihat.”

“KENAPA?”

Aku membuka log. Ribuan baris, bergulir terlalu cepat untuk dibaca. Aku memperlambatnya. Aku membacanya.

“Trafik,” kataku. “Empat puluh kali lipat dari biasanya. Dalam dua puluh menit.”

“EMPAT PULUH KALI? KENAPA? KITA DISERANG?”

“Bukan serangan.” Aku menggulir. “Semua permintaannya ke satu judul. Satu novel.”

“NOVEL APA?”

“Belum tahu. Cup, ke sini. Bawa laptop.”

Aku mematikan telepon sebelum Ucup sempat berteriak lagi.


Nanti, ketika Bu Rosa menelusuri penyebabnya, kami akan tahu bahwa semuanya berawal dari satu video TikTok berdurasi empat puluh dua detik. Seorang mahasiswi merekam dirinya di dalam KRL, tengah malam, gerbong hampir kosong, menangis sambil membaca sesuatu di ponselnya. Di layar, tulisan putih di atas video: POV: kamu baca bab ini di kereta terakhir dan nggak bisa berhenti nangis. Di kolom keterangan: judul novel dan nama aplikasinya.

Video itu ditonton sembilan juta kali dalam enam jam.

Tapi malam itu, aku belum tahu. Malam itu, aku hanya tahu bahwa ratusan ribu orang sedang mencoba membuka satu novel yang sama, pada waktu yang sama, dan server Floo, yang kurancang untuk menahan beban sepuluh kali lipat dari rata-rata, sedang tenggelam di bawah beban empat puluh kali lipat.

Ucup tiba pukul sebelas lewat tiga puluh delapan, dengan sandal jepit yang berbeda warna kiri dan kanan.

“Kita matiin aja dulu?” tanyanya, terengah-engah, membuka laptop di meja sebelahku. “Pasang halaman pemeliharaan? Bilang lagi maintenance?”

“Nggak.”

“Ka…”

“Kalau kita matiin, mereka balik ke PDF bajakan.” Aku tidak berhenti mengetik. “Penulisnya kehilangan pembaca di malam paling penting dalam hidupnya.”

Ucup diam. Ia tahu aku benar. Ia selalu tahu aku benar, dan ia selalu kesal karena itu.

“Oke,” katanya. “Oke. Apa yang harus aku kerjain?”

Aku memutar layar ke arahnya. Di sana, sebuah diagram yang kugambar dalam dua belas menit terakhir. Kotak-kotak, panah, lingkaran. Arsitektur baru.

“Masalahnya bukan servernya kurang besar,” kataku. “Masalahnya semua orang minta halaman yang sama, dan tiap permintaan kita proses dari nol. Ambil dari basis data, cek hak akses, susun halaman, kirim. Ratusan ribu kali, untuk halaman yang isinya sama persis.”

“Jadi?”

“Jadi halaman bab yang gratis kita simpan siap saji di server-server kecil yang tersebar, dekat pembacanya. Nggak perlu diproses lagi. Bab yang berbayar, cek hak aksesnya kita pisah dari pengambilan isinya. Cek hak akses itu ringan, isinya berat. Basis datanya kita pecah: satu buat menulis, banyak buat membaca. Antrean buat transaksi koin supaya nggak ada yang ilang kalau sistemnya lagi sibuk.” Aku menunjuk satu kotak di diagram. “Kamu pegang antrean. Aku pegang sisanya.”

Ucup menatap diagram itu lama. Lalu ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kaus, dan memakainya lagi.

“Ka,” katanya. “Kamu ngerjain arsitektur yang biasanya dikerjain satu tim dalam tiga bulan, dalam satu malam, di ruko yang bawahnya toko HP bekas.”

“Kamu ada ide lain?”

“Nggak.”

“Kalau gitu, kerjain antreannya.”


Pukul satu, Bu Rosa tiba dengan dua kantong gorengan dan satu termos kopi hitam. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia duduk di meja dukungan penulis dan mulai membalas ratusan pesan dari pembaca yang marah, satu per satu, dengan kalimat-kalimat pendek yang sopan.

Pukul dua, versi pertama arsitektur baru berjalan. Halaman gratis mulai dimuat dalam kurang dari satu detik. Halaman berbayar masih macet.

Pukul tiga, Ucup menemukan kesalahan di antreannya, memukul meja, berteriak “ANJIR, KENAPA NGGAK KEPIKIRAN,” dan memperbaikinya dalam sebelas menit.

Pukul empat lewat dua menit, semua grafik di dasbor pemantauan berubah hijau.

Empat puluh kali lipat trafik. Waktu muat rata-rata: nol koma delapan detik. Transaksi koin yang hilang: nol.

Ucup jatuh tertidur di kursinya dengan kepala di atas papan ketik. Bu Rosa menatap layar dasbor, lalu menatapku, lalu menuangkan sisa kopi dari termos ke gelas kertas dan menyodorkannya kepadaku.

“Minum,” katanya.

“Saya nggak minum kopi, Bu.”

“Malam ini kamu minum.” Ia meletakkan gelas itu di mejaku. “Saya sudah dua puluh tahun lihat orang benerin sistem yang tenggelam. Biasanya pakai tiga puluh orang, empat minggu, dan konsultan yang dibayar per jam.” Ia menatapku dengan mata yang merah karena kurang tidur. “Saya belum pernah lihat yang kayak tadi.”

Aku minum kopinya. Pahit. Lebih pahit dari kopi tubruk tiga ribu rupiah di Kantor Pusat.

“Pulang,” kata Bu Rosa. “Tidur. Saya yang jaga sampai pagi.”

“Iya, Bu.”

Tapi aku tidak pulang. Masih ada satu hal yang ingin kuketahui.


Aku membuka dasbor admin dan mencari judul novel yang membuat server Floo tenggelam malam itu.

Judulnya muncul di urutan pertama, dengan angka pembaca yang masih terus naik meskipun sudah pukul empat pagi.

Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh.

Karya: Sudut Taman.

Aku menatap judul itu.

Aku menatap nama penanya.

Lalu aku tidak bergerak selama, menurut jam di sudut layar, satu menit dua puluh tiga detik.


Aku tidak membukanya lewat dasbor admin.

Dasbor admin bisa membuka semua bab tanpa koin. Dasbor admin bisa membaca isi semua cerita di Floo tanpa membayar satu rupiah pun. Itu fungsinya: untuk memeriksa konten, menangani laporan, memastikan tidak ada pelanggaran.

Aku menutup dasbor admin.

Aku membuka aplikasi Floo di ponselku. Ponsel Android murah, model yang lebih baru dari yang dulu kupakai untuk Lizz 10, tapi tetap ponsel murah, karena Floo harus berjalan dengan baik di ponsel murah dan aku harus tahu kalau tidak.

Aku membuat akun baru. Nama pengguna: dua huruf kecil, dengan titik.

s.p.

Aku mengisi ulang koin dengan kartu debit atas namaku sendiri. Dari rekening pribadi, bukan rekening perusahaan. Lima ratus ribu rupiah.

Lalu aku membuka bab satu.

Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun: aku bisa menghitung berapa kepala yang menoleh setiap kali aku berjalan dari parkiran ke gedung kampus.

Aku membaca.

Bab satu. Seorang perempuan bernama Laras memotong jalan lewat taman fakultas MIPA karena jalan depan sedang dicor. Seorang laki-laki bernama Bima duduk di bangku beton di bawah pohon flamboyan, mengetik sambil makan nasi telur dari kotak bekal biru. Laras tersandung paving yang menonjol dua senti. Es kopi susu gula arennya tumpah ke sepatu kets abu-abu Bima.

Nggak apa-apa, kata Bima. Sepatunya memang sudah tua.

Delapan puluh sembilan ribu, dua tahun lalu, di pasar.

Aku berhenti membaca.

Aku menatap kalimat itu lama. Lalu aku melanjutkan.

Bab dua. Bab tiga. Bangku kayu yang goyang. Pulpen yang dijatuhkan. Telepon soal croissant pistachio dengan suara keras. Bab empat. Sandal jepit yang mengganjal kaki bangku. Kamu ngitungin? Kamu ngukur?

Bab lima. Kotak bekal biru jatuh dari bangku beton. Tutupnya retak. Ibu saya beli kotak ini enam tahun lalu. Di pasar pagi. Delapan ribu.

Bab enam.

Mbak belum makan. Dari tadi Mbak cuma minum es teh. Suara Mbak serak dari kalimat ke-60.

Bima memotong telurnya dengan sendok, rapi, dan menyodorkan setengahnya.

Setengah telur.

Laras memakannya dan menangis.

Ini enak banget, katanya.

Itu telur biasa. Dua puluh delapan ribu sekilo.

Aku meletakkan ponsel di atas meja.

Di luar jendela ruko, langit mulai berubah dari hitam menjadi abu-abu gelap. Di bawah, di jalan Tebet, gerobak bubur ayam pertama lewat dengan bunyi ketukan mangkuk. Di kursi sebelah, Ucup mendengkur dengan pipi menempel di papan ketik, dan di layarnya sendiri muncul deretan huruf jjjjjjjjjjjjjjjjj yang terus bertambah.

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana.

Aku hanya tahu bahwa tanganku, yang dua jam lalu mengetik arsitektur baru untuk server yang tenggelam tanpa gemetar sedikit pun, sekarang gemetar.

Aku memegang tangan kananku dengan tangan kiri sampai gemetarnya berhenti.

Lalu aku mengambil ponsel lagi dan membaca bab tujuh.


Kinan yang memasak telur pagi itu.

Aku tahu karena ketika aku pulang pukul tujuh, ia sudah di dapur di ujung lorong dengan celemek di atas jas lab FKG-nya, dan dua kotak hijau sudah terisi di atas meja yang kakinya diganjal sandal jepit. Pinggiran telurnya gosong sedikit. Kinan masih belum bisa menakar api.

“Kakak nggak pulang semalam,” katanya, tanpa menoleh.

“Server mati.”

“Udah nyala?”

“Udah.”

Kinan memecahkan telur ketiga ke wajan. Lalu ia menoleh dan menatapku dari atas sampai bawah, seperti dokter memeriksa pasien di ruang gawat darurat. Matanya berhenti di wajahku. Lama.

“Kakak habis nangis,” katanya.

Itu bukan pertanyaan.

“Nggak.”

“Mata Kakak merah. Kelopak bawah bengkak. Itu bukan karena begadang. Begadang bikin lingkar mata gelap, bukan bengkak.” Ia mematikan kompor. “Kakak habis nangis.”

Aku tidak menjawab. Aku melepas sepatu di depan pintu. Sepatu kets abu-abu, jahitan benang nilon tiga lapis di sisi kanan.

Kinan tidak bertanya lagi. Kinan tidak pernah bertanya dua kali. Ia memindahkan telur ketiga ke kotak bekal biru, menutupnya, klik, dan meletakkannya di atas meja.

“Kak Kanya masih tidur,” katanya. “Aku nggak akan bilang.”

“Nggak ada yang perlu dibilang.”

“Iya,” kata Kinan. “Nggak ada.”


Sejak malam itu, setiap kali Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh mendapat bab baru, akun s.p. membukanya pertama kali.

Sudut Taman selalu menerbitkan bab baru pada Senin dan Kamis, sekitar pukul sebelas malam. Aku membacanya pukul dua pagi, setelah semua pekerjaan selesai, setelah dasbor pemantauan hijau semua, setelah Ucup pulang dan Bu Rosa pulang dan ruko Tebet sunyi kecuali dengung AC dan sesekali truk yang lewat.

Pukul dua pagi. Bukan pukul satu, karena pukul satu aku masih bekerja. Bukan pukul tiga, karena pukul tiga aku harus pulang supaya bisa bangun pukul empat lewat sepuluh.

Pukul dua. Jam yang tidak dipakai siapa pun.

Aku tidak pernah berkomentar. Aku tidak pernah memberi bintang, tidak pernah menekan tombol suka, tidak pernah mengikuti akun penulisnya. Aku hanya membuka bab baru, membayar dua puluh lima koin dari rekening pribadiku, membacanya sampai habis, lalu menutup aplikasi.

Tujuh puluh persen dari dua puluh lima koin adalah seribu tujuh ratus lima puluh rupiah.

Seribu tujuh ratus lima puluh rupiah, dua kali seminggu, mengalir dari rekening pribadiku ke rekening atas nama yang tidak kuketahui. Lewat jalan yang kubangun sendiri, yang kunamai empat huruf, dengan logo bunga lima kelopak dan satu garis tipis di kelopak kiri bawah.

Mengalir.


Di akhir bulan kedua belas, Floo mencatat omzet dua ratus juta rupiah dalam satu hari.

Bu Rosa mencetak angka itu di kertas A3, menempelkannya di dinding di sebelah grafik lama, dan menulis di atasnya dengan spidol merah: MASIH JANGAN SOMBONG. TAPI BOLEH SENYUM DIKIT.

Ucup menangis. Tentu saja Ucup menangis.

Dimas si desainer berdiri di depan mejaku lagi. “Pak Saka. Sekarang kita udah gede. Brand kita harus profesional. Logonya. Garis di kelopak kiri bawah itu…”

“Jangan, Dimas.”

“Pak!”

Siang itu, aku makan nasi telur dari kotak bekal biru di mejaku, di ruko Tebet, dengan dangdut koplo dari toko ponsel bekas di bawah. Bu Rosa melihatku, menghela napas, dan berkata dengan nada guru yang sudah menyerah pada murid paling bandel:

“Saka. Perusahaanmu baru bikin dua ratus juta sehari. Sehari. Dan kamu masih makan nasi telur.”

“Telurnya dua puluh delapan ribu sekilo, Bu.”

“Sekarang tiga puluh dua.”

“Tiga puluh dua?” Aku berhenti mengunyah. “Naik?”

“Naik empat ribu bulan lalu.” Bu Rosa menatapku. “Kamu nggak tahu?”

Aku tidak tahu. Dua bulan terakhir, Kanya yang belanja. Dua bulan terakhir, aku pulang pukul tiga pagi dan bangun pukul empat lewat sepuluh, dan di antaranya, pukul dua, aku membaca.

“Saya harus cek ulang spreadsheet,” kataku.

Bu Rosa menatapku lama. Lalu ia tertawa, pendek dan kering seperti batuk, dan berjalan kembali ke mejanya sambil bergumam sesuatu yang terdengar seperti keponakan saya juga gitu, ya Tuhan, kenapa semua anak teknik begini.

Aku menyelesaikan nasi telurku. Aku menutup kotak bekal biru. Klik.

Di ponselku, notifikasi dari aplikasi Floo. Akun yang kuikuti diam-diam tanpa menekan tombol ikuti, hanya dengan membuka halamannya setiap hari, baru saja mengumumkan sesuatu.

Sudut Taman: Bab 80 terbit Kamis malam. Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini. Ceritanya hampir selesai.

Hampir selesai.

Aku menatap kalimat itu lama.

Lalu aku membuka spreadsheet keuangan pribadiku, mengubah harga telur dari dua puluh delapan ribu menjadi tiga puluh dua ribu, dan menghitung ulang.

Angka-angka selalu membantu. Angka-angka tidak pernah hampir selesai.