Chapter Forty Three
WO Paling Galak se-Jabodetabek
POV: Saka
Kanya mengirim dokumen perencanaan pernikahan pada hari Senin, pukul empat lewat lima belas pagi.
Empat puluh tujuh halaman. Berwarna. Dengan sampul bertuliskan KANYA WEDDING & CATERING — PROPOSAL LAYANAN — KLIEN: SAKA PRADANA & CLARA FLORENTINA KUSUMADEWI dan logo panci dengan mata dan senyum yang terlalu lebar, sekarang memakai topi pengantin.
Halaman dua: Profil Klien.
Klien laki-laki: Pelit. Keras kepala. Suka nawar ke arah yang salah. Tidak bisa diajak diskusi soal warna. Akan berusaha memilih opsi paling murah untuk semua hal. HARUS DIAWASI.
Klien perempuan: Cantik. Baik hati. Bisa masak telur sekarang. Akan berusaha memilih opsi paling murah untuk menyenangkan klien laki-laki. HARUS DIAWASI JUGA.
Halaman tiga: Kebijakan Layanan.
1. WO tidak menerima tawar-menawar.
2. WO tidak menerima keluhan soal harga.
3. WO tidak menerima kalimat “nggak apa-apa” dari klien laki-laki.
4. WO berhak memblokir nomor klien yang terlambat membalas pesan lebih dari lima menit.
5. WO adalah adik klien laki-laki. Ini bukan diskon. Ini ancaman.
Aku membaca dokumen itu di dapur, di depan kompor yang belum menyala, dengan telur pertama di tangan.
Kinan muncul di ambang pintu dengan jas lab FKG. Ia melihat layar ponselku dari balik bahuku.
“Halaman tiga, poin lima,” katanya. “Kak Kanya nulis itu jam tiga pagi. Aku dengar dia ketawa sendiri di kamar.”
“Dia nggak tidur?”
“Dia nggak tidur dari Sabtu. Sejak bangku kayu patah.” Kinan mengambil telur dari tanganku dan memecahkannya ke wajan. “Kak Kanya bilang ini proyek terbesar Kanya Wedding & Catering. Bukan karena ukurannya. Karena kliennya.”
Kanya Wedding & Catering berkantor di bekas garasi rumah Sentul, yang Kanya ubah menjadi ruangan kecil dengan dinding putih, satu meja panjang, empat kursi, dan papan tulis besar yang penuh jadwal acara dengan spidol warna-warni. Di dinding, dua puluh tiga foto pernikahan yang pernah ia tangani dalam satu setengah tahun. Di sudut, rak berisi contoh kain, contoh undangan, contoh suvenir.
Kanya duduk di ujung meja panjang dengan celemek hitam bertuliskan KANYA WEDDING & CATERING dengan huruf oranye, bukan DAPUR KANYA lagi. Ia sudah mengganti celemeknya enam bulan lalu, ketika usahanya berkembang dari nasi kotak ke katering pernikahan ke wedding organizer lengkap. Empat puluh karyawan. Tiga gudang. Satu truk berpendingin yang ia beli bekas dan ia namai Kak Saka karena, katanya, dingin, irit, dan nggak pernah mogok.
Clara dan aku duduk di sisi kanan meja. Kanya menatap kami seperti petugas imigrasi menatap dua penyelundup.
“Rapat pertama,” kata Kanya. “Agenda: konsep, tanggal, tempat, tamu, anggaran.” Ia membuka laptop. “Kita mulai dari anggaran. Kak Saka, berapa?”
“Seratus lima puluh juta.”
Kanya tidak bergerak.
Clara menoleh ke arahku perlahan.
“Seratus lima puluh juta,” ulang Kanya. Sangat datar. Nada Kinan. “Kak. Perusahaan Kakak laba bersihnya lima belas miliar sebulan. Sebulan. Kakak mau nikahin anak Direktur Utama Kusumadewi Group dengan anggaran seratus lima puluh juta.”
“Itu cukup.”
“Buat apa?”
“Akad, resepsi, makan, dekorasi.”
“Buat berapa tamu?”
“Dua ratus.”
Kanya menutup laptopnya. Ia menatapku lama. Lalu ia menoleh ke Clara.
“Kak Clara,” katanya. “Kakak setuju?”
Clara menatapku. Lalu menatap Kanya. Lalu menggigit bibir bawahnya. Aku menghitung. Satu.
“Aku…” katanya. “Aku nggak keberatan.”
Kanya memejamkan mata. “Poin dua halaman satu. Klien perempuan akan berusaha memilih opsi paling murah untuk menyenangkan klien laki-laki. Aku udah tulis. Aku udah tahu.”
“Kanya…”
“Kak Clara,” kata Kanya, membuka mata. “Papa Kakak Direktur Utama Kusumadewi Group. Mama Kakak anak pendiri Kusumadewi Group. Kakak punya sepupu, tante, om, rekan bisnis papa Kakak, mitra Kusumadewi, keluarga Tanoto. Kakak tahu berapa orang yang bakal tersinggung kalau nggak diundang?”
Clara diam.
“Dan Kak Saka,” kata Kanya, menoleh ke arahku, “punya empat puluh ribu penulis Floo. Dua ratus empat puluh karyawan Floo. Delapan puluh empat ribu tukang Tukang.in. Tiga puluh delapan ribu pengguna aktif Lizz. Pak Darto. Bu Tini. Pak Budiman. Mbak Wening dan Pak Darmo. Satpam gerbang perumahan yang manggil Kak Clara Bu yang makan telur. Petugas valet Menara Kusumadewi yang nolak tip.”
Aku tidak menjawab.
“Kakak mau undang siapa dari mereka?”
“Nggak tahu.”
“Itu masalahnya.” Kanya membuka laptopnya lagi. “Seratus lima puluh juta itu cukup buat dua ratus tamu. Tapi daftar tamu minimal Kakak berdua, yang nggak boleh nggak diundang, itu delapan ratus empat puluh tiga orang. Aku udah hitung tadi malam.”
“Kamu hitung?”
“Aku adik Kakak, Kak. Aku belajar.”
Rapat itu berlangsung tiga jam dua puluh menit.
Kanya memenangkan semua argumen. Aku kalah soal anggaran. Clara kalah soal jumlah tamu. Kami berdua kalah soal tempat.
“Akad di rumah Menteng,” kata Kanya. “Papa Kak Clara yang minta. Langsung. Ke aku. Lewat telepon. Kemarin.”
Clara menatap Kanya. “Papa nelpon kamu?”
“Om Hendro nelpon aku jam tujuh pagi. Kayak dia nelpon Kak Saka sebelum ke warung Bu Tini.” Kanya membalik halaman. “Om Hendro bilang akadnya harus di rumah Menteng. Di ruang tamu. Di depan lukisan kakek Kak Clara.”
Aku diam.
Ruang tamu rumah Menteng. Lukisan besar di dinding. Laki-laki tua berjas dengan tatapan tajam, menatap dari atas, seperti menghitung harga sepatuku. Meja makan empat meter dua puluh. Benang layangan.
“Om Hendro bilang,” lanjut Kanya, pelan, “di ruangan itu saya pernah duduk di ujung meja. Saya mau menantu saya duduk di tengah.”
Clara menutup mulut dengan tangan.
Kanya tidak menatap kami. Ia menatap laptopnya. Tapi suaranya, ketika ia bicara lagi, sedikit retak.
“Resepsinya di sini,” katanya. “Di Sentul. Di halaman. Di bawah pohon mangga. Pakai tenda. Delapan ratus empat puluh tiga tamu, dibagi dua sesi. Sesi pertama keluarga Kusumadewi dan rekan bisnis. Sesi kedua penulis Floo, tukang, teman-teman tunarungu, Pak Darto, semua.” Ia mengangkat wajah. “Katering dari aku. Gratis.”
“Kanya, kamu nggak harus…”
“Poin tiga halaman tiga, Kak,” kata Kanya. “WO tidak menerima kalimat nggak apa-apa dari klien laki-laki. Dan WO juga tidak menerima kalimat kamu nggak harus.”
Aku menatap adikku.
Dua puluh tiga tahun. Rambut diikat tinggi seperti pegulat. Celemek hitam dengan huruf oranye. Empat puluh karyawan, tiga gudang, satu truk berpendingin bernama Kak Saka.
Enam tahun lalu, di aula Tech Cup, ia menangis memeluk Kinan karena uang pangkal FKG lunas. Beberapa bulan kemudian, ia duduk di pintu kamar kontrakan dua petak sampai pukul satu pagi, mendengar aku bilang lebih baik aku jadi alasan yang gampang, dan menyimpannya lima tahun. Sebulan setelah itu, ia membeli buket sedap malam dari kertas koran dan rafia merah untuk wisudaku, lima belas ribu, tawar dari empat puluh.
“Kanya,” kataku.
“Apa, Kak?”
“Makasih.”
Kanya berhenti bergerak. Ia menatapku. Matanya berkaca-kaca, cepat sekali.
“Kak Saka bilang makasih,” bisiknya. “Ke aku. Kinan. Kinan!”
Kinan muncul di ambang pintu garasi. “Aku dengar.”
“Rekam?”
“Udah.”
Fitting jas diadakan hari Sabtu di sebuah penjahit kecil di Pasar Baru, pilihan Papa.
“Penjahitnya kenal Bapak saya,” kata Papa, di mobil, di kursi penumpang Avanza perak tahun 2014, dengan jendela terbuka karena AC mati di Jalan Gunung Sahari. “Dulu Bapak saya magang di sini sebelum pulang ke Solo. Tahun enam puluhan.”
Penjahitnya laki-laki berumur delapan puluh tahun dengan kacamata tebal dan meteran kain yang tergantung di leher. Ia mengukur bahuku, lenganku, pinggangku, dengan tangan yang gemetar tapi pasti. Ia tidak bicara. Ia hanya mengukur dan mencatat di buku kecil dengan pensil.
Ucup diukur setelah aku. Ucup jadi pendamping pengantin laki-laki. Ia memaksa.
“Lengan kiri lebih panjang dua senti dari lengan kanan,” kata penjahit tua itu, pada Ucup. Kalimat pertama yang ia ucapkan hari itu.
Ucup menatap lengannya. “Serius, Pak?”
“Kamu kidal?”
“Nggak, Pak. Saya cuma… ngetik pakai tangan kiri lebih banyak. Kalau lagi nge-debug.”
Penjahit tua itu menatap Ucup lama. Lalu ia menulis sesuatu di bukunya. “Kemejamu nanti beda lengan. Biar pas.”
Ucup menatapku dengan horor yang biasa. “Ka. Dua puluh delapan tahun aku hidup, aku baru tahu lenganku beda panjang.”
“Aku tahu dari semester satu.”
“Kenapa nggak bilang?!”
“Nggak ada yang nanya.”
Papa, yang duduk di bangku kayu di sudut toko penjahit, menatap kami. Lalu ia tertawa. Pendek. Tidak tertahan.
Penjahit tua itu menoleh ke Papa. Ia menatapnya lama, dari balik kacamata tebal. Lalu ia berkata sesuatu dalam bahasa Jawa halus yang tidak kumengerti. Papa menjawab dalam bahasa yang sama. Suaranya pelan. Lalu penjahit tua itu meletakkan meterannya, berjalan ke Papa, dan memegang wajah Papa dengan dua tangan yang gemetar.
Papa tidak bergerak.
Penjahit tua itu mengatakan sesuatu lagi. Papa mengangguk. Matanya merah.
Di mobil, dalam perjalanan pulang, aku bertanya.
“Dia bilang apa, Om?”
Papa menatap jalan. Jendela terbuka. Angin Jakarta yang panas dan berdebu.
“Dia bilang saya mirip Bapak,” katanya. “Waktu Bapak umur segini. Waktu Bapak ngantar saya ke Jakarta buat kuliah.” Ia diam sebentar. “Dia bilang Bapak bangga. Bapak cerita ke semua orang di Pasar Baru. Anak saya kuliah ekonomi.”
Aku tidak menjawab.
“Saya nggak pernah tahu Bapak bangga,” kata Papa pelan. “Bapak nggak pernah bilang ke saya.”
“Bapak cerita ke orang lain, Om,” kataku.
Papa menoleh ke arahku.
“Clara bilang,” kataku, “kalau Om bangga, Om nggak ngomong. Om cerita ke orang lain. Om Tanoto ngitung sembilan belas menit.”
Papa menatapku lama. Lalu ia kembali menatap jalan.
“Kebiasaan keluarga,” katanya.
Dua minggu sebelum akad, Kinan memeriksa gigi seluruh keluarga Kusumadewi.
Itu bukan ide siapa pun. Kinan yang memutuskannya sendiri, dan mengumumkannya di grup WhatsApp keluarga yang dibuat Kanya, bernama Keluarga Besar Pradana-Kusumadewi (DILARANG KIRIM STIKER).
Kinan: Selamat pagi. Saya Kinan, dokter gigi muda, adik pengantin laki-laki. Dalam rangka persiapan pernikahan, saya akan melakukan pemeriksaan gigi gratis untuk seluruh anggota keluarga inti. Senyum di foto pernikahan itu permanen. Karang gigi juga.
Bram: Ini serius?
Kinan: Saya selalu serius.
Mama: Tante mau, Nak. Kapan?
Kinan: Sabtu. Rumah Menteng. Jam 9. Saya bawa alat.
Papa: Om tidak perlu.
Kinan: Om Hendro. Saya lihat Om di peluncuran Lizz. Om mengatupkan rahang terlalu keras waktu Kak Saka bicara. Om bruxism. Kemungkinan besar sudah bertahun-tahun.
Kinan: Saya kenal gejalanya. Kak Saka juga.
Grup itu hening selama sebelas menit.
Papa: Jam 9.
Pemeriksaan gigi diadakan di ruang makan rumah Menteng, di meja makan empat meter dua puluh.
Kinan membawa kursi lipat khusus, lampu senter kepala, cermin gigi, alat pembersih karang, dan sebuah buku catatan kecil bertuliskan Rekam Medis Pasien Bandel Vol. 2. Ia menyuruh semua orang antre.
Mama pertama. Gigi bagus. Sedikit karang di gigi bawah depan. Kinan membersihkannya dalam sepuluh menit. Mama berterima kasih dan memeluk Kinan dan menangis sedikit karena, katanya, calon besan Mama cantik dan pintar dan bisa bersihin karang gigi.
Bram kedua. Gigi bagus. Satu tambalan lama yang mulai bocor. Kinan mencatatnya. Bram bertanya apakah ia bisa difoto sedang diperiksa untuk konten. Kinan bilang tidak. Bram memotret juga. Kinan menyalakan senter kepalanya tepat ke arah lensa ponsel Bram.
Clara ketiga. Gigi rapi, hasil behel SMP. Satu bekas gigitan di bibir bawah, bagian tengah agak kiri. Kinan menunjuknya dengan ujung cermin gigi.
“Kebiasaannya makin jarang,” kata Kinan. “Bulan lalu tiga kali sehari. Minggu ini sekali.”
“Kamu masih ngitung?”
“Kak Saka masih ngitung. Aku cuma verifikasi.”
Clara menoleh ke arahku. Aku duduk di ujung meja makan, di kursi paling jauh, dengan kotak bekal biru di pangkuan. Aku tidak menoleh. Telingaku panas.
Papa terakhir.
Ia duduk di kursi lipat khusus. Ia membuka mulut. Kinan menyalakan senter kepala dan memeriksa dengan cermin gigi, lama, tanpa bicara.
Lalu Kinan mematikan senter.
“Om,” katanya. “Geraham bawah kiri dan kanan. Aus. Parah. Lebih parah dari Kak Saka.”
Papa menutup mulut.
“Sudah berapa lama Om gemeretak?” tanya Kinan.
Papa diam.
“Om.”
“Tiga puluh tahun,” kata Papa pelan.
Ruang makan hening.
Kinan menatap Papa. Lalu ia menatapku, di ujung meja. Lalu ia membuka Rekam Medis Pasien Bandel Vol. 2 dan menulis sesuatu dengan pulpen.
“Om butuh pelindung gigi,” katanya. “Buat dipakai tiap malam. Yang bagus, harganya sekitar satu juta.”
Papa menatap Kinan.
“Satu juta,” ulangnya.
“Iya, Om.”
Papa diam lama. Lalu ia menoleh ke arahku. Ke ujung meja makan empat meter dua puluh.
Aku menatapnya balik.
“Kamu sudah beli?” tanya Papa.
“Sudah, Om. Tiga tahun lalu.”
“Kamu pakai?”
Aku tidak menjawab.
“Masih di kardusnya,” kata Kinan. “Di laci.”
Papa menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik. Satu milimeter. Dua. Tiga.
“Kita beli dua,” kata Papa pada Kinan. “Satu buat Om. Satu buat dia.” Ia menunjuk aku dengan dagu. “Yang lama buang.”
“Om, yang lama masih bagus…”
“Saka,” kata Papa. “Saya mertuamu. Itu bukan pertanyaan.”
Malam sebelum akad, Ucup menginap di Sentul.
Ia tidur di kamar tamu, di kasur lipat, dengan jas yang sudah disetrika Kanya tergantung di pintu lemari. Kemejanya beda panjang lengan, dua senti, sesuai ukuran penjahit tua di Pasar Baru.
Pukul satu pagi, ia mengetuk pintu kamarku.
“Ka,” bisiknya. “Kamu tidur?”
“Nggak.”
Ia masuk. Ia duduk di lantai, bersandar ke dinding, seperti di kontrakan dua petak enam tahun lalu ketika kami menunggu kabar dari panitia Tech Cup dan tidak bisa tidur.
“Aku gladi tadi sore,” katanya. “Sama Bram. Buat pembukaan resepsi. Aku harus ngenalin diri sebagai pendamping pengantin.”
“Terus?”
“Aku salah nyebut nama sendiri empat kali.”
Aku tidak tertawa. Aku menunggu.
“Bram bilang nggak apa-apa,” lanjut Ucup. “Bram bilang dia yang jadi MC, dia bisa ngelawak kalau aku salah lagi. Tapi Ka…” Ia melepas kacamatanya. Mengelapnya dengan ujung kaus. Memakainya lagi. “Kanya nonton gladinya.”
“Terus?”
“Kanya ketawa.”
“Terus?”
“Terus dia bilang…” Ucup menelan ludah. “Dia bilang, Kak Ucup, Kakak nggak perlu tahu nama Kakak sendiri. Semua orang udah tahu. Kakak itu Ucup.” Ia menatapku. “Terus dia senyum. Ke aku. Ka, dia senyum ke aku.”
Aku menatapnya.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun ia duduk di sebelahku di bangku beton, di Kantor Pusat, di ruko Tebet, di lantai lima belas. Sepuluh tahun ia menangis untuk setiap kuburan, setiap kemenangan, setiap bab telur gosong. Sepuluh tahun ia membawa pisang goreng untuk tim, mengelap kacamatanya setiap kali otaknya perlu memproses sesuatu yang terlalu besar, dan salah menyebut nama sendiri di depan setiap perempuan yang ia temui.
“Cup,” kataku.
“Apa?”
“Kanya suka kamu.”
Ucup membeku.
“Telinganya merah,” kataku. “Di Temu Penulis. Waktu kamu ambil ayam goreng kelima. Aku lihat.”
“Kamu… kamu nggak bilang dari dulu?”
“Itu bukan urusanku. Itu urusan Kinan.” Aku menatap langit-langit. “Kinan pasti udah hitung.”
Ucup menatapku lama. Lalu ia menjatuhkan diri ke lantai, telentang, dan mengeluarkan suara seperti ban sepeda bocor.
“Ya Allah,” katanya ke langit-langit. “Ya Allah. Kanya. Kanya Pradana. Satpam galak. WO paling galak se-Jabodetabek. Yang truknya dinamain Kak Saka.” Ia menutup wajah dengan dua tangan. “Ka, kalau aku ngelamar adikmu, kamu bakal kasih aku jadwal rapat jam lima pagi?”
Aku memikirkan pertanyaan itu.
“Nggak,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena kamu Ucup,” kataku. “Itu bukan pertanyaan.”
Ucup menurunkan tangannya dari wajah. Ia menatapku dari lantai.
Lalu, tentu saja, Ucup menangis.
Aku tidak menghitung berapa lama. Aku hanya duduk di kasur, di kamar di Sentul, malam sebelum akad, dan menunggu sahabatku selesai menangis, seperti ia menunggu aku selesai berkali-kali selama sepuluh tahun tanpa pernah aku sadari.
Di luar, di bawah pohon mangga, di halaman yang sudah dipasangi tenda putih dan delapan ratus empat puluh tiga kursi, lampu-lampu kecil berkelip. Kanya yang memasangnya. Pukul sebelas malam. Sendirian. Sambil bersin karena serbuk sari dari rangkaian bunga liar oranye kemerahan di setiap meja.
Pukul dua lewat satu menit, ponselku bergetar.
Satu getar. Notifikasi dari aplikasi Floo.
Sudut Taman menerbitkan bab baru.
Bukan Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh. Judul baru. Novel baru. Bab satu, diterbitkan pukul dua tepat.
Aku membukanya.
Ucup, di lantai, sudah tertidur dengan mulut terbuka dan kacamata miring. Aku membaca dalam gelap, di layar ponsel Android murah dengan sudut yang tergores.
Judulnya:
Pria yang Ia Pilih.
Bab satu.
Besok aku menikah dengan laki-laki yang dulu tidak menoleh.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek reading
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman