← Pria yang Ia Pilih

Chapter Two

Kotak Bekal Biru

POV: Saka

Alarm ponselku berbunyi pukul 04.15, dan aku sudah bangun sejak 04.10.

Lima menit itu milikku. Lima menit sebelum hari dimulai, ketika kontrakan dua petak ini masih gelap dan satu-satunya suara adalah kipas angin tua yang berdecit setiap kali berputar ke kiri. Aku memakai lima menit itu untuk berbaring diam dan menyusun hari di kepala seperti menyusun baris kode.

Masak. Bangunkan Kanya dan Kinan. Antar ke sekolah. Kuliah jam delapan, Sistem Terdistribusi. Jam sepuluh kosong, taman. Jam satu, Kecerdasan Buatan. Sore, ketemu Ucup soal Lizz 10. Malam, unggah empat paket ikon dan perbaiki bug di template aplikasi kasir yang dikeluhkan pembeli dari Polandia.

Tidur jam satu. Kalau beruntung, jam dua belas.

Pukul 04.15 aku mematikan alarm sebelum bunyinya membangunkan adik-adikku, lalu bangkit.


Dapur kami sebetulnya bukan dapur. Itu ujung lorong antara kamar dan kamar mandi, tempat kompor dua tungku berdiri di atas meja kayu yang kakinya diganjal sandal jepit. Bapak yang memasang ganjalan itu. Sudah empat tahun, dan aku tidak pernah menggantinya. Bukan karena sentimental. Karena sandal jepit itu masih bekerja.

Aku menanak nasi di panci kecil. Rice cooker kami rusak sejak Lebaran tahun lalu, dan rice cooker baru harganya tiga ratus ribu. Tiga ratus ribu adalah satu bulan uang jajan Kanya dan Kinan. Panci tidak butuh listrik, jadi panci menang.

Tiga butir telur. Minyak secukupnya. Api sedang. Aku memecahkan telur satu per satu ke wajan, membiarkan pinggirannya berbuih sampai kecokelatan dan garing. Kinan suka bagian yang garing. Kanya bilang bagian garing itu “kayak kerupuk gagal”, tapi ia selalu menghabiskannya duluan.

Tiga kotak bekal. Dua kotak hijau milik adik-adikku, hadiah dari sekolah waktu mereka juara lomba cerdas cermat. Satu kotak biru, milikku.

Kotak biru itu dibeli Ibu di pasar pagi, enam tahun lalu, waktu aku masuk SMA. “Biar nggak jajan,” katanya. “Jajan itu mahal, Le. Lima ribu sehari, sebulan seratus lima puluh. Setahun bisa buat beli kambing.”

Aku tidak pernah beli kambing. Tapi aku juga tidak pernah jajan.

Pukul 05.00 aku mengetuk pintu kamar adik-adikku.

“Lima menit lagi,” gumam suara dari balik pintu. Kanya.

“Kamu bilang itu kemarin.”

“Kemarin beneran lima menit.”

“Kemarin dua puluh tiga menit.”

Hening. Lalu pintu terbuka dan wajah Kanya muncul, rambutnya mencuat ke segala arah seperti habis kesetrum. “Kak, kamu ngitungin?”

“Ada jam di ponsel.”

“Itu namanya kontrol berlebihan. Aku bisa lapor ke Komnas Perlindungan Anak.”

“Silakan. Nomornya ada di internet. Tapi kamu harus mandi dulu, nanti petugasnya pingsan.”

Kanya membanting pintu. Dari dalam, terdengar Kinan tertawa pelan, tawa pendek dan kering yang sangat jarang keluar.

Adik-adikku kembar, tapi hanya wajah mereka yang sama. Kanya bicara seperti senapan mesin, marah seperti petasan, dan sayang seperti ibu-ibu kompleks yang galak tapi selalu menyisihkan lauk untuk tetangga. Kinan bicara seperlunya, membaca buku anatomi di angkot, dan punya kebiasaan aneh memeriksa gigi orang tanpa diminta.

“Kak,” kata Kinan sepuluh menit kemudian, saat kami bertiga duduk bersila di lantai menghadap tiga kotak bekal yang terbuka. “Buka mulut.”

“Kenapa?”

“Kakak tadi malam gemeretak. Aku dengar dari kamar.”

“Gemeretak apa?”

“Gigi. Bruxism. Itu tanda stres.”

Kanya mendengus. “Kakak nggak stres. Kakak itu robot. Robot nggak stres.”

“Robot juga bisa aus,” kata Kinan datar. “Buka mulut, Kak.”

Aku membuka mulut. Kinan mengintip dengan senter ponsel, wajahnya serius seperti dokter sungguhan. Ia berusia enam belas tahun dan bercita-cita jadi dokter gigi sejak kelas empat SD, sejak ia melihat Ibu menahan sakit gigi tiga hari karena tidak mau mengeluarkan uang untuk ke puskesmas.

“Geraham bawah kiri,” katanya. “Ada keausan. Kakak harus pakai pelindung gigi kalau tidur.”

“Berapa harganya?”

“Yang bagus sekitar satu juta.”

Aku menutup mulut. “Kakak pakai bantal yang lebih empuk saja.”

“Itu nggak ada hubungannya, Kak.”

“Ada. Bantal empuk, tidur nyenyak, nggak gemeretak.”

Kinan menatapku dengan ekspresi yang mungkin akan ia pakai di masa depan untuk pasien yang menolak cabut gigi. Kanya tertawa sampai tersedak nasi.

Mereka tidak tahu bahwa aku memang gemeretak. Aku tahu, karena kadang aku terbangun dengan rahang pegal. Tapi satu juta untuk pelindung gigi adalah satu juta yang tidak masuk ke tabungan pendaftaran kuliah mereka. Mereka masih kelas satu SMA. Dua tahun lagi mereka butuh uang pangkal, dan uang pangkal FKG bukan angka yang bisa ditebus dengan bantal empuk.

Jadi gerahamku bisa menunggu.

Pukul enam lewat lima, kami bertiga naik motor bebek tua peninggalan Bapak. Kinan di tengah, memeluk tas berisi buku anatomi yang ia pinjam dari perpustakaan daerah. Kanya di belakang, memegang pinggang Kinan dengan satu tangan dan memegang ponsel dengan tangan lain, merekam video untuk akun TikTok-nya yang punya dua ratus tiga belas pengikut.

“Halo, guys,” katanya ke kamera, keras-keras melawan angin. “Ini kakakku. Dia nyetir kayak kakek-kakek. Empat puluh kilo per jam. Kita disalip sama tukang sayur.”

“Itu batas aman,” kataku.

“Guys, dia bilang itu batas aman.”

“Bensin juga lebih irit.”

“Guys, dia bilang bensin lebih irit. Kakakku ini kalau jadi mobil, jadinya mobil listrik. Hemat, sunyi, dan bikin orang di belakangnya emosi.”

Kinan, di tengah, berkata tanpa ekspresi, “Kak Kanya, mulutmu kemasukan lalat.”

Kanya menjerit. Motor oleng sedikit. Aku menahannya tetap lurus, tetap empat puluh kilo per jam, dan tetap tidak disalip siapa pun kecuali tukang sayur.


Bapak dan Ibu meninggal ketika aku berumur tujuh belas. Bus antarkota yang mereka tumpangi untuk pulang dari hajatan saudara di Purwokerto masuk jurang di sebuah tikungan yang namanya tidak pernah ingin kuingat. Kanya dan Kinan berumur dua belas tahun. Mereka masih memakai seragam putih merah ketika kami bertiga berdiri di depan dua liang lahat.

Orang-orang bilang kami harus dipisah. Kanya ikut Bude di Cilacap, Kinan ikut Pakde di Bekasi, aku ngekos sendiri sampai lulus. Itu yang paling masuk akal, kata mereka. Tiga anak yatim piatu tidak bisa hidup sendiri.

Aku bilang tidak.

Aku tidak berteriak. Aku hanya bilang, “Nggak, Pakde. Mereka sama saya.” Lalu aku pulang ke kontrakan dan membuat tabel di buku tulis bekas: pemasukan, pengeluaran, sisa. Uang santunan Jasa Raharja. Tabungan Bapak. Uang duka dari tetangga. Dibagi dengan biaya sekolah, biaya kontrakan, biaya makan. Hasilnya cukup untuk sebelas bulan.

Jadi aku punya sebelas bulan untuk menemukan cara.

Caranya kutemukan di bulan kedelapan, di warnet dekat SMA, dari sebuah forum yang membahas orang-orang di negara berkembang yang menjual ikon digital ke marketplace luar negeri. Aku belajar menggambar ikon vektor dari video tutorial gratis. Ikon pertamaku, satu set dua puluh ikon cuaca, laku tujuh dolar dalam sebulan. Tujuh dolar bukan apa-apa. Tapi tujuh dolar dari orang asing yang tidak kukenal, yang membayar sesuatu yang kubuat dari nol, terasa seperti pintu yang terbuka sedikit.

Aku mendorong pintu itu.

Sekarang, empat tahun kemudian, aku punya dua toko di dua marketplace. Satu menjual stock gambar: ikon, ilustrasi, template desain. Satu lagi menjual source code aplikasi: template kasir, template aplikasi pemesanan, template manajemen inventaris. Pembeliku dari Polandia, Brasil, Kanada, Vietnam. Aku tidak pernah bertemu satu pun dari mereka. Aku hanya tahu mereka membayar dalam dolar, dan dolar itu, setelah dipotong komisi, cukup untuk sekolah Kanya dan Kinan, kontrakan, makan, dan sisa sedikit untuk ditabung.

Pekerjaannya tidak menyita banyak waktu, karena aku sudah membuat sistemnya. Template baru setiap dua minggu, pembaruan setiap bulan, balas email pembeli setiap malam. Sisanya berjalan sendiri. Begitulah seharusnya hal-hal bekerja: kamu membangun sesuatu sekali, lalu ia bekerja untukmu berulang kali.

Orang bilang aku pelit. Aku lebih suka kata efisien.

Uang yang ditabung bukan uang. Uang yang ditabung itu waktu yang dibeli. Waktu untuk adik-adikku belajar tanpa harus kerja sambilan. Waktu untukku membangun sesuatu yang lebih besar suatu hari nanti.


Bangku beton di bawah pohon flamboyan adalah kantorku.

Aku menemukannya di semester satu, ketika kantin terlalu ramai dan terlalu mahal, dan perpustakaan tidak mengizinkan orang makan. Bangku itu menghadap gedung Ilmu Komputer, punya bayangan yang cukup dari pukul sembilan sampai pukul dua, dan dekat dengan satu-satunya colokan listrik luar ruangan di seluruh FMIPA, colokan yang mungkin dipasang untuk mesin pemotong rumput dan dilupakan semua orang.

Tidak ada yang mengganggu di sana. Itu sebabnya aku menyukainya.

Pukul sepuluh lewat lima, aku membuka laptop dan kotak bekal. Laptop ini kubeli bekas dari kakak tingkat yang lulus, RAM-nya sudah kutambah sendiri, baterainya bertahan empat puluh menit kalau sedang baik hati. Hari ini aku harus menyelesaikan modul pengenalan suara untuk Lizz 10 sebelum bertemu Ucup.

Aku baru menulis dua puluh baris ketika sebuah suara berteriak dari kejauhan.

“SAKAAA!”

Hanya satu orang di kampus ini yang meneriakkan namaku seperti penjual cilok memanggil pelanggan.

Yusuf Ramadhan, yang sejak semester satu menolak dipanggil apa pun selain Ucup, berlari melintasi taman dengan ransel yang terlalu besar untuk tubuhnya. Kacamatanya melorot. Kemejanya keluar sebelah. Ia berhenti di depan bangku dengan napas tersengal, seperti baru dikejar anjing.

“Ka,” katanya. “Ka. Kemarin. Kemarin siang.”

“Kenapa kemarin siang?”

“Kamu… kamu ketumpahan kopi?”

Aku mengangguk dan menunjuk sepatuku. Sudah kucuci semalam, dijemur di atas kipas angin, dan pagi tadi sudah kering. Ada sedikit bekas kecokelatan di ujung kiri, tapi sepatu ini sudah punya banyak bekas. Satu lagi tidak masalah.

“Kamu tahu siapa yang numpahin?”

“Mahasiswi.”

“MAHASISWI?” Ucup memegang kepalanya dengan dua tangan. “Saka. Saka Pradana. Itu Clara Florentina.”

“Siapa?”

Ucup menatapku seperti aku baru bertanya siapa presiden Indonesia. Ia duduk di sebelahku, melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kemeja, dan memakainya lagi. Ini yang ia lakukan setiap kali otaknya perlu memproses sesuatu yang terlalu besar.

“Clara,” ulangnya pelan, seperti mengajari anak TK. “Florentina. Kusumadewi. Anak FEB. Kusumadewi, Ka. Kusumadewi Group. Mal-mal itu. Supermarket itu. Hotel yang di Bali itu. Itu punya keluarganya.”

“Oh.”

“Oh? Dia itu… dia itu kayak, kayak, apa ya.” Ucup mencari perumpamaan. “Kamu tahu bug yang nggak bisa direproduksi? Yang muncul sekali, terus kamu cari-cari seminggu nggak ketemu lagi? Itu dia. Semua cowok kampus nyari-nyari kesempatan buat ngobrol sama dia. Dan dia numpahin kopi ke kamu. Dan kamu…” Ia menatapku dengan horor. “Kamu ngapain?”

“Saya bilang nggak apa-apa.”

“Terus?”

“Terus saya lanjut ngetik.”

Ucup mengeluarkan suara yang mirip ban sepeda bocor. Ia rebah ke sandaran bangku dan menatap dahan flamboyan di atas kepala kami seperti sedang menatap langit runtuh.

“Kamu tahu nggak, Ka,” katanya ke langit, “ada cowok di FEB, namanya Rio, yang bayar fotografer cuma buat foto candid dia lagi lewat di depan Clara. Biar kelihatan nggak sengaja. Dan kamu dapat kesempatan alami. Organik. Gratis. Disponsori gula aren. Dan kamu… lanjut ngetik.”

“Modul suara Lizz 10 belum jadi.”

“Lizz 10 bisa nunggu!”

“Final Tech Cup enam minggu lagi, Cup. Lizz 10 nggak bisa nunggu.”

Ucup terdiam. Ia tahu aku benar. Ia selalu tahu aku benar, dan ia selalu kesal karena itu.

“Paling nggak,” gumamnya, “kamu ingat mukanya?”

Aku berpikir.

Aku ingat paving yang menonjol dua senti. Aku ingat gelas plastik dengan logo kafe di depan kampus. Aku ingat empat balok es batu, salah satunya meluncur dari ujung sepatu kiriku. Aku ingat suara yang terlalu banyak meminta maaf.

Dan aku ingat, entah kenapa, sebuah jepit rambut. Kecil, berbentuk bunga dengan lima kelopak, logamnya agak kusam, terpasang di sisi kiri rambut yang hitam dan panjang. Jepit yang tidak cocok dengan tas bermerek dan sepatu putih yang pasti harganya lebih mahal dari laptopku. Jepit yang kelihatan seperti dibeli di depan SD.

Aku tidak tahu kenapa aku mengingat itu. Aku tidak berusaha mengingatnya. Mataku memang begitu: menangkap hal-hal kecil yang tidak cocok, seperti mencari satu baris kode yang salah di antara seribu baris yang benar.

“Nggak,” kataku. “Nggak ingat mukanya.”

Itu tidak sepenuhnya bohong. Aku memang tidak ingat wajahnya. Aku hanya ingat jepitnya.

Ucup menggeleng-gelengkan kepala dengan dramatis. “Kamu itu, Ka, kalau jadi aplikasi, rating-mu bintang satu. Fungsional, tapi UX-nya parah.”

“Yang penting fungsional.”

“UX itu penting!”

“Nanti, kalau sudah kaya, saya perbaiki UX-nya.”

Ucup tertawa. Aku tidak. Ia mengira aku bercanda.


Pukul sebelas malam, setelah Kanya dan Kinan tidur, aku duduk di lantai dengan laptop di atas meja lipat.

Email dari pembeli di Polandia: template kasirnya error saat mencetak struk dengan lebih dari lima puluh item. Aku membuka kodenya, menemukan masalahnya dalam dua belas menit, lalu menulis perbaikan dan membalas email dengan bahasa Inggris yang kupelajari dari forum dan subtitle film.

Empat paket ikon baru: ikon perlengkapan bayi, ikon olahraga air, ikon alat musik tradisional, ikon dapur. Kuunggah satu per satu, kutulis deskripsinya, kupasang tag-nya. Setiap paket butuh tiga hari untuk dibuat. Setiap paket, kalau beruntung, terjual dua puluh sampai lima puluh kali dalam setahun.

Aku membuka spreadsheet keuangan, membaruinya, lalu menatap angka di kolom paling kanan.

Uang pangkal FKG: masih kurang empat puluh dua persen.

Masih ada dua tahun. Cukup, kalau tidak ada yang salah.

Aku menutup spreadsheet, membuka folder Lizz 10, dan bekerja sampai pukul satu lewat tujuh. Ketika akhirnya berbaring di kasur tipis, rahangku sudah pegal lagi. Aku memijatnya pelan, berharap Kinan tidak mendengar.

Sebelum tertidur, entah kenapa, aku memikirkan jepit rambut itu.

Bukan pemiliknya. Jepitnya. Bunga kecil lima kelopak yang logamnya kusam, di rambut seseorang yang sepatunya bersih dan tasnya mahal. Hal yang tidak cocok. Bug kecil di dalam sistem yang rapi.

Pasti ada ceritanya, pikirku.

Lalu aku tertidur, dan tidak memikirkannya lagi sampai pagi. Ada tiga kotak bekal yang harus diisi.