← Pria yang Ia Pilih

Chapter Thirty Five

Rumor

POV: Clara

Sherly mengunggahnya pada hari Minggu, pukul tujuh malam. Jam tayang utama.

Dua foto berdampingan.

Foto pertama: buram, diambil dari seberang jalan dengan zoom terlalu jauh. Angkringan dekat stasiun, terpal biru, lampu jalan kuning. Seorang perempuan berambut panjang memegang lengan kemeja kotak-kotak seorang laki-laki. Foto yang lima tahun lalu diunggah akun ekonomi.diam.diam dengan caption kencan di angkringan 7500/orang, lalu dihapus setelah spanduk rektorat dipasang di gerbang utama.

Ternyata Sherly tidak pernah menghapus file aslinya.

Foto kedua: tajam, profesional, diambil dari dekat. Gala Indonesia Digital Economy, lima minggu lalu. Saka di atas panggung, memegang piala Startup of the Year. Di bawah panggung, di meja sponsor utama, aku. Gaun biru tua. Wajah pucat. Menatap ke panggung.

Caption-nya, dengan huruf putih di atas latar hitam:

Lima tahun lalu: ninggalin pas dia makan nasi telur di angkringan.
Sekarang: balik pas dia punya perusahaan 500 juta sehari.
Plot twist terbaik tahun ini 🍳➡️💰
#dariturunkelasjadinaikkelas

Satu koma dua juta pengikut. Dalam tiga jam, empat ratus ribu suka. Delapan puluh ribu komentar.

Aku membaca dua puluh komentar pertama di kamarku, di Menteng, duduk di karpet dengan punggung bersandar ke kasur.

anjir ini cewek matre level dewa

kasian cowoknya, dulu ditinggalin, sekarang didatengin lagi pas udah sukses

ini yang namanya gold digger versi elegan

keluarga Kusumadewi kan kaya raya, ngapain matre?

justru orang kaya itu paling pinter ngitung, mbak

eh bentar, ini bukannya yang di komentar novel Nasi Telur?? yang katanya NYATA??

Aku berhenti di komentar itu.

Di bawahnya, tiga ratus balasan.

IYA ANJIR. BAB 85. ADA YANG LIHAT BIMA SAMA LARAS DI KAMPUS PELITA NUSANTARA

Pelita Nusantara itu kampusnya founder Floo!!

Bima jualan ikon ke luar negeri, yatim piatu, punya adik kembar. Founder Floo yatim piatu, punya adik kembar. KEBETULAN???

JADI SUDUT TAMAN ITU CEWEK INI?

Jadi Sudut Taman nulis novel tentang cowok yang dia tinggalin, terus novelnya laku di aplikasi punya cowok itu, terus dia balik ke cowoknya pas udah kaya??? INI MAH BUKAN NOVEL INI SKENARIO

Bab 84 judulnya “Aku yang Pergi”. Dia NGAKU sendiri

80 bab buat cari simpati, abis itu balik. Strategi marketing 10/10

Aku mematikan ponsel.

Aku duduk di karpet, menatap langit-langit kamar yang dicat warna krem, dan untuk pertama kalinya sejak pohon mangga, tanganku gemetar dengan cara yang lama. Cara yang kukira sudah selesai.


Senin pagi, berita itu ada di tiga portal berita hiburan dan satu portal berita bisnis.

Putri Kusumadewi Group Kembali ke Founder Floo Setelah Lima Tahun, Netizen: “Pas Sudah Kaya.”

Misteri Penulis “Sudut Taman” Terungkap? Novel Viral Diduga Ditulis Brand Manager Kusumadewi Retail.

Floo dan Kusuma Mart Teken Kerja Sama Voucher, Netizen Curiga Ada Hubungan Pribadi.

Yang terakhir dari portal berita bisnis. Yang terakhir yang paling berbahaya.

Pukul sepuluh pagi, sekretaris direksi meneleponku. Rapat dewan direksi Kusumadewi Retail. Pukul dua siang. Lantai tiga puluh. Kehadiran Ibu diharapkan.


Ruang rapat lantai tiga puluh adalah ruang yang sama dengan ruang komando malam sebelas-sebelas. Meja oval panjang. Dua puluh kursi. Layar-layar di dinding, sekarang mati semua.

Tujuh anggota dewan direksi duduk di sekeliling meja. Direktur Keuangan yang dulu menyodorkan tablet ke Saka. Direktur Teknologi yang dulu menjabat tangan Saka terlalu lama. Direktur Operasional, Direktur Pemasaran yang suka golf, dua komisaris independen yang jarang datang ke rapat.

Dan di ujung meja, Papa.

Papa tidak menatapku ketika aku masuk. Papa menatap laporan di depannya. Sudah tiga minggu Papa tidak bicara denganku. Sejak restoran Tanoto. Sejak kamu begini karena dia sudah kaya.

Sejak malam Kanya dan Kinan datang, dan pintu ruang kerja Papa terbuka sepuluh senti.

Aku duduk di kursi kosong di sisi kanan meja.

“Bu Clara,” kata salah satu komisaris independen, laki-laki tua dengan rambut putih dan suara serak. “Terima kasih sudah datang. Kami tidak akan lama.”

“Baik, Pak.”

“Ibu sudah lihat beritanya.”

“Sudah, Pak.”

“Kerja sama voucher isi ulang Floo di kasir Kusuma Mart.” Komisaris itu membalik halaman. “Ibu yang menegosiasikan. Ibu yang menandatangani dari pihak kita. Tiga minggu lalu.”

“Iya, Pak.”

“Dan Ibu punya hubungan pribadi dengan pendiri Floo.”

Aku tidak menjawab langsung. Di ujung meja, Papa masih menatap laporannya.

“Iya, Pak,” kataku. “Sekarang.”

“Sejak kapan?”

“Tiga minggu.”

“Kerja samanya ditandatangani tiga minggu lalu.”

“Kerja samanya dinegosiasikan dua bulan lalu, Pak. Sebelum ada hubungan apa pun. Semua dokumen negosiasinya ada. Bu Rosa dari pihak Floo yang menyetujui, bukan Pak Saka. Pak Saka tidak terlibat sama sekali.” Suaraku datar. Kulkas dua pintu. “Margin kita dari kerja sama itu empat persen per transaksi. Standar industri tiga persen. Kita dapat lebih baik.”

Komisaris itu menatapku lama.

“Saya tidak meragukan angkanya, Bu Clara,” katanya pelan. “Saya meragukan persepsinya. Publik melihat Brand Manager Kusumadewi Retail menandatangani kerja sama dengan perusahaan pacarnya, lalu…” Ia melirik ponsel di depannya. “Lalu ada tuduhan bahwa Ibu menulis novel tentang pendiri Floo, novelnya laku di Floo, dan Ibu menerima royalti dari Floo. Benar?”

Ruang rapat hening.

Aku menatap meja oval. Tujuh pasang mata menatapku.

Aku bisa berbohong. Tidak ada yang bisa membuktikan Sudut Taman itu aku. Nama pena. Rekening atas namaku di bank yang berbeda dengan bank Papa. Floo tidak akan membocorkan data penulis; aku tahu karena Saka yang menulis kalimat tebal di perjanjian, Hak cipta tetap milik penulis. Selamanya. Floo hanya jalan, bukan pemilik.

Aku bisa bilang tidak. Aku bisa bilang itu fitnah. Aku Clara Kusumadewi, aku tersenyum, aku mengangguk, aku sopan.

“Benar, Pak,” kataku.

Seseorang di meja menarik napas tajam.

“Saya Sudut Taman,” kataku. “Saya menulis novel itu lima tahun lalu, di blog, sebelum Floo ada. Saya memindahkannya ke Floo dua tahun lalu karena novelnya dibajak dan dijual sepuluh ribu satu file. Saya tidak tahu siapa pendiri Floo waktu itu. Saya baru tahu di gala lima minggu lalu, sama seperti semua orang di ruangan ini.” Aku menarik napas. “Royaltinya saya simpan di rekening sendiri. Tidak pernah saya pakai. Saya bisa tunjukkan mutasinya.”

Komisaris itu menatapku lama. Lalu ia menutup laporannya.

“Bu Clara,” katanya, lebih pelan. “Saya percaya Ibu. Saya sudah tiga puluh tahun duduk di ruang rapat. Saya tahu kapan orang jujur.” Ia diam sebentar. “Tapi dewan direksi tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan apa yang saya percaya. Kami harus mengambil keputusan berdasarkan apa yang dipercaya publik.”

“Saya mengerti, Pak.”

“Kami minta Ibu mundur sementara dari pengelolaan kerja sama dengan Floo. Divisi Pemasaran akan mengambil alih.” Ia menatapku. “Dan kami minta Ibu tidak memberi pernyataan apa pun ke media sampai situasinya tenang.”

“Baik, Pak.”

Komisaris itu menoleh ke ujung meja. “Pak Hendro? Ada yang mau ditambahkan?”

Semua mata menoleh ke Papa.

Papa mengangkat wajah dari laporannya. Untuk pertama kalinya sejak aku masuk, ia menatapku. Lama. Matanya tidak bergerak mengumpulkan data. Matanya diam. Seperti di ruang komando malam sebelas-sebelas. Seperti di ujung meja panjang restoran Tanoto setelah aku bertanya kapan aku boleh milih dia tanpa salah.

Ia membuka mulut.

Lalu menutupnya.

“Tidak ada,” kata Papa.

Ia kembali menatap laporannya.

Aku keluar dari ruang rapat lantai tiga puluh dengan punggung tegak. Aku berjalan ke lift. Aku menekan tombol lantai sembilan. Pintu lift menutup.

Di dalam lift, sendirian, aku tidak menangis.

Aku hanya menatap pantulan diriku di dinding cermin. Blazer abu-abu. Rambut diikat rapi. Jepit bunga liar di sisi kiri, pengaitnya setengah milimeter lebih kencang. Wajah yang tidak bisa kubaca.

Tidak ada.

Papa tidak membelaku. Papa juga tidak menyerangku.

Papa hanya diam. Seperti Mama di arisan lima tahun lalu. Seperti Bram di kamarnya ketika aku menangis di lorong lantai dua.

Kadang jadi baik itu artinya diam waktu harusnya bicara.


Pukul tiga sore, Tasya masuk ke ruanganku di lantai sembilan tanpa mengetuk, membawa laptop dan dua gelas kopi susu gula aren.

“Tutup tirai,” katanya.

“Kenapa?”

“Tutup aja.” Ia meletakkan laptop di mejaku dan membukanya. “Forum Ekonomi Digital Nasional. Siaran langsung. Kamu harus lihat ini.”

Di layar, sebuah ruangan besar dengan panggung dan empat kursi. Logo forum di latar belakang. Moderator perempuan dengan setelan merah di kursi paling kiri. Lalu tiga pembicara.

Seorang laki-laki berumur enam puluhan dengan setelan jas abu-abu dan kacamata berbingkai emas. Namanya di layar: Prof. Dr. Herman Wibisono, Ekonom Senior.

Seorang perempuan berumur empat puluhan dengan blazer hitam. Direktur, Asosiasi Fintech Indonesia.

Dan di kursi paling kanan, dengan kemeja biru tua dari Bu Rosa, lengan tidak digulung kali ini, sepatu kets abu-abu: Saka Pradana, Pendiri, Floo.

“Dia nggak bilang dia jadi pembicara,” bisikku.

“Bu Rosa bilang dia nolak empat kali. Terus dia terima kemarin malam.” Tasya menyesap kopinya. “Kemarin malam, Clar. Setelah unggahan Sherly.”

Aku menatap layar.


Profesor Herman bicara pertama. Tentang ekonomi digital Indonesia yang tumbuh pesat tapi, menurutnya, terlalu banyak didominasi oleh sektor konsumsi dan hiburan, bukan sektor produktif.

“Kita lihat saja,” katanya, dengan suara berat orang yang terbiasa didengarkan. “Startup of the Year tahun ini. Aplikasi baca novel.” Ia tertawa kecil. Sebagian penonton ikut tertawa. “Saya tidak bermaksud merendahkan. Tapi mari kita jujur. Itu aplikasi receh. Orang bayar dua ribu, tiga ribu rupiah untuk baca cerita cinta. Itu hiburan. Itu bukan ekonomi produktif. Itu tidak membangun infrastruktur, tidak menciptakan lapangan kerja yang berarti, tidak meningkatkan produktivitas nasional.”

Kamera menyorot ke Saka.

Wajahnya datar. Permukaan kolam.

Moderator tersenyum kikuk. “Pak Saka, ada tanggapan?”

Saka menatap Profesor Herman. Tiga detik.

“Ada, Bu,” katanya.

Ia tidak berdiri. Ia tidak mengambil mikrofon tambahan. Ia hanya bicara, dengan suara datar yang sama seperti ia bicara di bangku beton, di ruang komando lantai tiga puluh, di depan meja makan empat meter dua puluh.

“Empat puluh ribu dua ratus tiga belas penulis aktif,” katanya. “Enam puluh satu persen perempuan. Tiga puluh delapan persen ibu rumah tangga. Dua puluh dua persen tinggal di luar Pulau Jawa. Dua ratus tujuh penulis penghasilannya di atas lima puluh juta per bulan. Seribu delapan ratus penulis di atas sepuluh juta. Dua belas ribu penulis di atas satu juta.”

Profesor Herman berhenti tersenyum.

“Total royalti yang sudah kami bayarkan ke penulis sejak Floo berdiri,” lanjut Saka, “satu koma satu triliun rupiah. Pajak penghasilan penulis yang kami potong dan setorkan ke negara, seratus dua belas miliar. Penulis pertama kami seorang ibu rumah tangga di Cirebon. Suaminya bilang menulis itu buang-buang listrik. Bulan lalu dia beli rumah. Tunai.”

Ruangan hening.

“Pak Profesor bilang dua ribu rupiah itu receh,” kata Saka. “Saya setuju. Dua ribu rupiah itu receh. Harga satu bab di Floo. Harga satu bakwan di gerbang belakang kampus saya.” Ia diam sebentar. “Tapi dua ribu rupiah dikali empat juta transaksi sehari, tujuh puluh persennya masuk ke rekening empat puluh ribu orang yang sebelumnya nggak punya penghasilan sama sekali dari apa yang mereka kerjakan tiap malam setelah anak-anaknya tidur.”

Profesor Herman membuka mulut. Saka tidak berhenti.

“Lima tahun ke depan,” kata Saka, “Floo Akademi. Pelatihan menulis gratis di tiga ratus kabupaten. Kerja sama dengan perpustakaan daerah, tiap penulis lokal dapat ruang dan Wi-Fi. Penerjemahan otomatis ke bahasa Melayu, Tagalog, Vietnam. Pasar enam ratus juta orang di Asia Tenggara. Hak cetak untuk karya terlaris, diterbitkan sendiri, royaltinya tetap tujuh puluh persen ke penulis. Hak adaptasi film dan serial, dengan klausul penulis wajib dilibatkan.” Ia menatap Profesor Herman. “Pak Profesor bilang Floo tidak membangun infrastruktur. Floo membangun jalan. Jalan dari kamar tidur ibu rumah tangga di Cirebon ke pembaca di Kupang, di Pontianak, di Kuala Lumpur. Itu infrastruktur yang nggak kelihatan di laporan kementerian. Tapi ada.”

Ia berhenti.

“Mungkin receh,” katanya. “Tapi receh itu yang bayar listrik Mbak Wening.”

Ruangan meledak.

Tepuk tangan. Lama. Lebih lama dari untuk pembicara mana pun. Di kolom komentar siaran langsung, di bawah layar laptop Tasya, pesan-pesan bergulir terlalu cepat untuk dibaca. GILAAA. MERINDING. PROF HERMAN KENA MENTAL. INI FOUNDER MISTERIUS ITU?? KOK PINTER BANGET. RECEH YANG BAYAR LISTRIK MBAK WENING AKU NANGIS.

Profesor Herman menatap Saka lama. Lalu, pelan, ia mengangguk. Sekali. Seperti orang tua yang mengakui sesuatu.

Tasya mencengkeram lenganku. “Clar. Clar.”

Aku tidak bisa bicara. Aku menatap layar.


Moderator menunggu tepuk tangan reda. Lalu ia tersenyum dengan cara yang membuatku langsung tahu apa yang akan ia tanyakan.

“Pak Saka,” katanya. “Satu pertanyaan di luar topik, kalau boleh. Banyak penonton yang menanyakan ini di kolom komentar.” Ia melirik tabletnya. “Soal pemberitaan akhir pekan ini. Hubungan Bapak dengan putri keluarga Kusumadewi. Dan tuduhan bahwa beliau kembali kepada Bapak karena…” Ia berhenti sebentar, memilih kata. “Karena kesuksesan Bapak sekarang. Ada tanggapan?”

Kamera menyorot wajah Saka.

Ia diam. Tiga detik. Lima. Sepuluh.

Di ruanganku, di lantai sembilan, Tasya berhenti bernapas. Aku juga.

“Itu bukan pertanyaan soal ekonomi digital,” kata Saka.

“Benar, Pak. Bapak boleh tidak menjawab.”

“Tapi saya jawab.”

Moderator berkedip.

Saka menatap kamera. Bukan moderator. Bukan Profesor Herman. Kamera. Lurus. Seperti ia tahu siapa yang sedang menonton.

“Lima tahun lalu,” katanya, “dia nggak ninggalin saya.”

Aku membeku.

“Saya yang suruh dia pulang,” kata Saka. Suaranya datar. Jelas. Seperti mengetes mikrofon. “Saya yang bilang pulang. Dia nggak pergi. Saya yang lepasin. Kalau ada yang perlu disalahkan soal lima tahun lalu, itu saya. Bukan dia.”

Ruangan hening.

“Dan dia nggak balik karena saya sukses,” lanjut Saka. “Dia balik karena saya bodoh. Lima tahun saya bodoh. Dia yang datang buat bilang itu. Dengan presentasi dua belas slide. Font-nya kayak undangan sunatan.”

Seseorang di penonton tertawa. Lalu beberapa orang. Lalu seluruh ruangan.

“Terima kasih,” kata Saka ke moderator. “Sudah, Bu.”


Tasya menatapku.

Aku tidak menatap Tasya. Aku menatap layar laptop, di mana kamera sekarang menyorot moderator yang tersenyum lebar dan kehilangan kata-kata.

“Clar,” kata Tasya pelan. “Clar, dia barusan… di depan seluruh Indonesia… dia bilang dia yang salah…”

“Iya.”

“Itu… itu romantis banget, Clar. Itu kayak… kayak di drama…”

“Iya.”

“Kenapa muka kamu kayak gitu?”

Aku menatap layar.

Saya yang suruh dia pulang. Kalau ada yang perlu disalahkan, itu saya.

Ia melakukannya lagi.

Di depan seluruh Indonesia. Di siaran langsung forum ekonomi nasional. Ia mengambil semua tuduhan, semua komentar matre, semua gold digger versi elegan, semua 80 bab buat cari simpati, dan ia memikulnya sendirian. Supaya aku tidak perlu.

Alasan yang gampang. Lagi.

Ia tidak menyuruhku pulang kali ini. Ia tidak bilang jangan dulu. Ia tidak bilang nggak apa-apa.

Tapi ia tetap memilih untukku. Ia tetap memutuskan bahwa ia yang harus menanggung, supaya aku bisa berdiri tanpa beban.

“Dia baik banget, Sya,” kataku pelan.

“Iya, Clar.”

“Terlalu baik.”

Tasya menatapku lama. Lalu ia mengerti. Aku melihat wajahnya berubah, pelan-pelan, dari terharu menjadi sesuatu yang lain.

“Kamu nggak mau dia yang nanggung,” katanya.

“Aku nggak mau dia yang nanggung.” Aku menutup laptop. “Ini ceritaku, Sya. Aku yang nulis. Aku yang nyebut diriku aku yang pergi delapan puluh empat kali. Aku yang diam di depan Papa. Aku yang tanda tangan map biru.” Tanganku gemetar. Aku membiarkannya. “Kalau ada yang harus bilang ke seluruh Indonesia soal lima tahun lalu, itu aku. Bukan dia.”

“Terus kamu mau ngapain? Dewan direksi bilang jangan kasih pernyataan ke media.”

“Aku nggak akan kasih pernyataan ke media.”

“Terus?”

Aku membuka laci mejaku. Di dalamnya, di antara map-map laporan dan kotak kartu nama, sebuah amplop tebal berwarna krem dengan logo bunga lima kelopak.

Undangan. Floo Writers Award. Malam Penghargaan Penulis Terbaik.
Kategori: Novel of the Year.
Nominasi: “Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh” — Sudut Taman.
Kehadiran penulis sangat diharapkan.

Undangan itu datang dua minggu lalu, lewat email penulis, ke alamat yang tidak terhubung dengan namaku. Aku mencetaknya. Aku menyimpannya di laci. Aku tidak berencana datang. Sudut Taman tidak pernah tampil di mana pun. Sudut Taman adalah nama pena untuk orang yang tidak berani bicara.

Aku menatap undangan itu.

“Sabtu depan,” kataku.

Tasya membaca undangan itu dari balik bahuku. Lalu ia menatapku. Matanya membesar.

“Clar,” bisiknya. “Kamu mau…”

“Malu tapi jalan, Sya.”

Tasya menatapku lama. Lalu ia meletakkan kopinya di meja, meraih kedua tanganku, dan menggenggamnya.

“Aku ikut,” katanya. “Bram juga pasti ikut. Kanya, Kinan, Ucup. Kita semua ikut.”

“Dan Papa?”

Tasya tidak menjawab.


Malam itu, Bram mengetuk pintu kamarku. Pertama kalinya Bram mengetuk.

“Clar,” katanya, ketika aku membuka pintu. Wajahnya aneh. “Papa.”

“Kenapa Papa?”

“Papa nonton forum itu.” Bram menelan ludah. “Di ruang kerjanya. Aku lewat tadi, pintunya kebuka. Papa nonton siaran ulangnya di tablet.” Ia diam sebentar. “Tiga kali, Clar. Aku berdiri di lorong. Papa nonton tiga kali.”

“Bagian mana?”

“Bagian terakhir.” Bram menatapku. “Bagian saya yang suruh dia pulang. Papa pause di situ. Lama. Terus Papa…”

Ia berhenti.

“Terus Papa apa, Kak?”

Bram menatap lantai. Lalu menatapku lagi, dengan mata yang merah.

“Terus Papa lepas arlojinya,” katanya pelan. “Arloji jelek yang talinya retak itu. Yang nggak pernah dilepas. Papa lepas, taruh di meja, terus pegang pakai dua tangan.” Bram menarik napas. “Clar, aku belum pernah lihat Papa lepas arloji itu. Seumur hidupku. Nggak pernah. Bahkan waktu tidur.”

Aku tidak bisa menjawab.

Kami berdiri di lorong lantai dua, aku dan Bram, di antara kamarku dan ruang kerja Papa di ujung yang lain. Pintu kayu jati itu tertutup sekarang. Tapi di bawahnya, garis cahaya kuning dari lampu baca hijau.

Masih menyala.

“Kak,” kataku pelan. “Arloji itu dari mana?”

Bram menggeleng. “Nggak tahu. Aku pernah nanya waktu SMP. Papa nggak jawab. Mama juga nggak jawab.” Ia menatap pintu kayu jati itu. “Tapi Mama pernah bilang sesuatu. Waktu aku nabrakin mobil Papa ke pagar tetangga. Mama bilang, jangan marahin Papa kalau dia marah, Bram. Papa itu dulu…” Bram berhenti. “Terus Mama nggak lanjutin.”

Papa itu dulu…

Aku menatap garis cahaya di bawah pintu kayu jati.

Di kepalaku, sesuatu yang lama, yang kusimpan di sudut paling belakang. Angkringan dekat stasiun. Terpal biru. Wedang jahe. Suaraku sendiri, lima tahun lalu, bercerita ke laki-laki di sebelahku yang mendengarkan seperti mendengarkan bug yang harus ia pahami.

Papa jarang cerita soal masa kecilnya. Aku cuma tahu Kakek dulu tukang jahit.

Nenek tinggal di gang sempit di Solo. Lebih sempit dari gang kontrakanmu.

Dan wajah Papa di meja makan empat meter dua puluh, menatap sepatu kets abu-abu dengan jahitan benang nilon. Bukan dengan jijik.

Dengan sesuatu yang lain.

“Kak,” bisikku. “Papa itu dulu apa?”

Bram tidak menjawab. Garis cahaya di bawah pintu kayu jati masih menyala.

Malam itu, ruang kerja Papa tidak gelap sampai subuh.