Chapter Thirty
Bab yang Tidak Ditulis
POV: Saka
Ucup mengirim pesan Ka maafin aku empat belas kali hari Kamis siang.
Hari Jumat pagi, ia datang ke ruang kerjaku pukul tujuh lewat lima, empat jam lebih awal dari biasanya, membawa dua bungkus nasi uduk, satu termos teh manis, dan wajah orang yang akan menghadapi regu tembak.
Ia meletakkan nasi uduk di mejaku. Ia meletakkan termos di sebelahnya. Lalu ia berdiri di depan mejaku dengan dua tangan di depan perut, seperti murid yang dipanggil ke ruang kepala sekolah.
“Ka.”
“Hm.”
“Aku nggak sengaja.”
“Aku tahu.”
“Aku cuma mau ngetes halaman profil. Tombolnya kepotong di layar kecil. Aku nggak tahu kalau akunmu…” Ia berhenti. “Aku nggak tahu kalau Mbak Clara itu Sudut Taman. Aku nggak tahu kalau Bima itu kamu. Aku nggak tahu kalau Ucok itu aku.”
“Ucok?”
“Temennya Bima di novel. Kurus. Pakai kacamata. Nangis terus. Salah nyebut nama sendiri.” Ucup menunjuk dirinya sendiri dengan jari yang gemetar. “Ka, aku baca novel itu sampai tamat. Aku nangis di bab telur gosong. Dan ternyata aku ada di dalamnya.”
“Kamu nangis di semua bab, Cup.”
“Itu bukan intinya!”
Aku membuka bungkus nasi uduk. Masih hangat. Ucup membelinya di warung dekat rumah ibunya, warung yang buka pukul lima pagi. Ia pasti berangkat dari rumah pukul enam.
“Kamu nggak marah?” tanya Ucup.
“Nggak.”
“Kenapa nggak marah?”
Aku menyendok nasi uduk. Aku memikirkan pertanyaan itu.
“Kalau aku marah,” kataku, “yang kamu bocorin nggak jadi nggak bocor.”
Ucup menatapku. Lalu ia menjatuhkan diri ke kursi lipat di seberang mejaku, kursi tempat Clara duduk setiap pukul dua belas, dan mengeluarkan suara seperti ban sepeda bocor.
“Kamu tuh, Ka,” katanya ke langit-langit. “Kamu tuh kalau jadi aplikasi, pesan error-nya cuma satu. Nggak apa-apa. Mau server meledak, mau basis data hilang, mau rumahmu kebakaran. Nggak apa-apa.”
Aku tidak menjawab. Aku makan nasi uduk.
Ucup menatapku dari kursi lipat. Lama. Lalu ia berkata, lebih pelan:
“Dia ke sini jam dua pagi, kan? Semalem. Satpam bilang.”
“Iya.”
“Terus?”
“Terus aku antar ke basemen.”
“Terus?”
Aku berhenti menyendok.
Di basemen, di samping mobilnya, setelah ia melepas tanganku pelan-pelan seperti melepas sesuatu yang belum mau dilepas. Setelah ia bertanya apakah Ucup yang membocorkan dan tertawa sampai berpegangan ke pintu mobil. Sebelum ia masuk ke mobil, ia menatapku lama, lalu berkata:
Kalimat terakhirnya salah gimana, Saka?
Aku tidak menjawab. Aku hanya bilang hati-hati di jalan.
“Nggak ada terus,” kataku pada Ucup.
Ucup menatapku dengan horor yang biasa. Lalu ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kaus, dan memakainya lagi.
“Ka,” katanya. “Kamu tahu apa yang paling nyebelin dari kamu?”
“Apa?”
“Kamu nggak pernah bohong. Tapi kamu jago banget nggak ngomong.”
Aku tidak menjawab Clara karena jawabannya bukan milikku sendiri.
Itu yang kupikirkan sepanjang hari Jumat. Di rapat dengan tim produk soal fitur baru. Di rapat dengan Bu Rosa soal ekspansi ke Malaysia. Di depan dasbor pemantauan yang hijau semua. Di depan kotak bekal biru muda yang diantar resepsionis pukul dua belas lewat lima, berisi nasi putih dan telur ceplok dengan pinggiran yang sudah sempurna garingnya, dengan secarik kertas kecil yang ditempel di tutupnya dengan selotip:
Garamnya udah aku kurangin. Kemarin kamu bilang kalimat terakhirnya salah. Aku masih nunggu.
Aku makan nasi telur itu. Garamnya pas.
Aku tidak membalas kertas itu.
Kalimat terakhirnya salah karena Clara tidak pergi. Tidak sendirian. Lima tahun lalu, di bangku beton di bawah flamboyan, ia bilang aku nggak bisa, dan aku yang bilang pulang. Ia hanya berjalan ke arah yang kutunjuk.
Tapi kalau aku mengatakannya, ia akan tahu kenapa aku menunjuk ke sana.
Dan kalau ia tahu kenapa, ia akan menanggung sesuatu yang selama lima tahun kutanggung sendiri, supaya ia tidak perlu menanggungnya.
Efisien. Satu orang menanggung, bukan dua.
Aku menutup kotak bekal biru muda. Klik. Lalu aku menumpuknya di atas kotak bekal biru yang retak, seperti setiap hari selama tiga minggu.
Bram meneleponku pukul delapan malam.
“Saka. Bro. Bima.” Suaranya terdengar seperti orang yang sedang berjalan cepat di tempat yang berangin. “Kamu lagi di mana?”
“Kantor.”
“Kamu lihat Sabtu kemarin? Di restoran Tanoto? Kamu di bar, kan? Air putih?”
“Iya.”
“Kamu dengar apa yang Papa bilang?”
“Nggak dengar. Dinding kaca.”
Bram diam sebentar. Angin di teleponnya berhenti, seperti ia baru masuk ke dalam ruangan. “Papa bilang ke Clara,” katanya, lebih pelan, “kamu begini karena dia sudah kaya.”
Aku tidak bergerak.
“Clara nggak nangis,” lanjut Bram. “Aku kira dia bakal nangis. Dia nggak nangis. Dia nanya balik ke Papa. Lima tahun lalu aku salah karena dia miskin, sekarang aku salah karena dia kaya. Kapan aku boleh milih dia tanpa salah?” Bram menarik napas. “Terus dia pergi. Pulang sama Reinhard. Kamu lihat itu juga, kan?”
“Iya.”
“Papa nggak ngomong sama dia dari Sabtu. Seminggu. Clara sarapan jam enam biar nggak ketemu Papa. Pulang jam sebelas biar nggak ketemu Papa. Mama kayak orang mau nangis tiap hari.” Bram diam lagi. “Aku cuma mau kamu tahu. Biar kamu ngerti dia lagi ngelawan apa.”
“Makasih, Bram.”
“Saka.”
“Hm.”
“Jangan bikin dia ngelawan sendirian.”
Bram mematikan telepon sebelum aku sempat menjawab.
Aku menatap ponsel di tanganku. Layarnya meredup. Aku tidak menyentuhnya supaya terang lagi.
Seminggu. Clara tidak bicara dengan ayahnya selama seminggu.
Karena aku.
Lima tahun lalu, aku duduk di meja makan empat meter dua puluh dan melihat tangan Clara gemetar di bawah meja. Aku mencatatnya. Lalu aku melihatnya gemetar lagi di samping motor bebek. Lalu aku melihatnya di bangku beton, menggigit bibir, lambat membalas pesan, memeluk dua beban yang terlalu berat untuk satu orang.
Aku tidak mau melihatnya lagi.
Aku sudah memutuskan itu, lima tahun lalu. Satu kali. Aku tidak berubah pikiran.
Sabtu pagi, Kinan memeriksa gigiku di dapur.
Ia sudah semester tujuh FKG. Ia membawa senter kecil sungguhan sekarang, bukan senter ponsel, dan cermin gigi bergagang panjang yang ia beli dengan uang beasiswa. Ia menyuruhku duduk di kursi makan, membuka mulut, dan memeriksa seperti dokter sungguhan.
“Geraham bawah kiri,” katanya. “Makin aus. Geraham bawah kanan juga sekarang. Kakak gemeretak tiap malam minggu ini. Aku dengar dari kamarku. Lebih keras dari biasanya.”
Aku menutup mulut. “Nggak apa-apa.”
Kinan menurunkan senternya. Ia menatapku. Wajahnya datar, seperti biasa. Tapi matanya tidak.
“Kak,” katanya. “Kakak udah beli pelindung gigi yang aku suruh beli tiga tahun lalu?”
“Udah.”
“Kakak pakai?”
Aku tidak menjawab.
Kinan menghela napas. Ia meletakkan senter dan cermin gigi di atas meja, sejajar, rapi, seperti Om Hendro meletakkan kacamata bacanya.
“Kak Clara bawain bekal tiap hari, kan?” tanyanya.
“Iya.”
“Kakak makan?”
“Iya.”
“Kakak bales?”
Aku tidak menjawab.
Kinan menatapku lama. Lalu ia berkata, dengan nada yang sangat pelan, sangat hati-hati, nada yang belum pernah ia pakai padaku:
“Kak. Malam itu. Lima tahun lalu. Waktu Kakak pulang dari kampus dan ngomong ke aku sama Kak Kanya.” Ia berhenti. “Aku masih ingat semua yang Kakak bilang.”
“Kinan.”
“Aku nggak akan bilang ke siapa-siapa. Aku janji waktu itu.” Ia mengambil senternya lagi. “Tapi Kak Kanya nggak janji.”
Aku menatapnya.
“Kak Kanya cuma diam,” kata Kinan. “Lima tahun. Karena Kakak minta. Tapi Kakak tahu Kak Kanya. Diamnya Kak Kanya itu kayak panci presto. Bunyinya makin lama makin keras.” Ia menyalakan senter, mengarahkannya ke langit-langit dapur, mematikannya lagi. “Kalau Kakak lakuin hal yang sama lagi, presto-nya meledak.”
“Hal yang sama apa?”
Kinan tidak menjawab. Ia berdiri, mengambil senter dan cermin gigi, dan berjalan ke kamarnya. Di ambang pintu, ia menoleh.
“Kakak tahu hal yang sama apa,” katanya. “Kakak yang paling tahu.”
Hujan turun hari Senin sore.
Pukul lima lewat empat puluh, lantai lima belas sudah setengah kosong. Aku turun ke parkiran terbuka di samping gedung, karena basemen penuh hari itu dan Avanza perak tahun 2014 kuparkir di bawah langit, di pojok paling ujung, di samping tiang lampu yang lampunya mati.
Hujan bulan Desember. Besar. Tanpa gerimis pembuka. Aku berlari dari pintu samping gedung ke mobil dengan ransel di atas kepala, laptop di dalamnya, dan ketika aku sampai di samping Avanza, aku berhenti.
Seseorang berdiri di samping pintu pengemudi.
Payung transparan. Blazer abu-abu yang basah di bahu. Rambut diikat ke belakang, beberapa helai lepas dan menempel di pipi. Kotak bekal biru muda di tangan kiri.
Clara.
“Resepsionis bilang kamu udah turun,” katanya. Ia harus sedikit berteriak melawan suara hujan. “Aku tadi siang nggak sempat antar. Rapat sampai jam tiga. Jadi aku antar sekarang. Buat makan malam.”
Aku menatapnya.
“Kamu basah,” katanya. “Sini.” Ia melangkah mendekat dan mengangkat payungnya sampai menutupi kepala kami berdua. Payung transparan itu kecil. Terlalu kecil untuk dua orang. Bahu kiriku masih kena hujan. Bahu kanannya juga.
Jaraknya tiga puluh senti.
“Clara,” kataku. “Kamu nggak harus antar sampai ke parkiran.”
“Aku tahu.”
“Hujan.”
“Aku tahu.”
“Kamu sudah seminggu nggak ngomong sama papamu.”
Ia berhenti. Matanya membesar. “Bram cerita?”
“Iya.”
Clara menatapku. Hujan menghantam payung transparan di atas kami, keras, seperti drum. Bau tanah basah, bau aspal, bau sampo stroberi.
“Iya,” katanya akhirnya. “Seminggu. Terus kenapa?”
Aku tidak menjawab langsung. Aku memikirkan kalimatnya. Kalimatnya sudah lengkap di kepala, sudah lengkap sejak Bram menelepon hari Jumat, sejak Kinan memeriksa gigiku hari Sabtu. Aku hanya perlu mengeluarkannya.
“Jangan,” kataku.
“Jangan apa?”
“Jangan berantem sama papamu. Karena aku.”
Clara tidak bergerak.
“Aku pernah lihat tanganmu gemetar di bawah meja makan,” kataku. “Lima tahun lalu. Waktu papamu nanya rencanaku. Terus di samping motor. Terus di bangku beton. Aku hitung, Clara. Aku selalu hitung.” Suaraku turun. “Aku nggak mau ngitung lagi.”
“Saka…”
“Kamu nggak harus milih. Antara aku sama papamu. Kamu nggak harus…”
“Aku udah milih.”
Suaranya memotong hujan. Keras. Lebih keras dari yang pernah kudengar dari mulutnya.
Aku berhenti.
Clara menatapku dari bawah payung transparan yang terlalu kecil. Matanya merah. Basah, tapi bukan karena hujan. Rahangnya keras. Tangannya yang memegang payung gemetar.
Tapi bukan gemetar yang sama. Aku tahu bedanya. Aku sudah menghitung gemetar tangannya selama lima tahun lalu dan tiga minggu terakhir, dan yang ini bukan gemetar orang yang takut. Ini gemetar orang yang menahan sesuatu supaya tidak meledak.
“Aku udah milih, Saka,” katanya. “Sabtu kemarin. Di depan Papa, di depan keluarga Tanoto, di depan Reinhard yang lagi deg-degan soal pacarnya. Aku bilang nggak, Pa. Pertama kali dalam dua puluh enam tahun.” Suaranya pecah. “Dan kamu mau bilang aku nggak harus milih?”
Aku tidak bisa menjawab.
“Kamu duduk di bar,” lanjutnya, “minum air putih dua jam, terus berdiri di lobi tanpa payung, terus ngirim aku lihat. Dua kata. Terus sekarang kamu bilang jangan.” Ia tertawa. Tawa yang pecah dan basah. “Kamu tahu apa yang paling nyebelin dari kamu?”
Aku tahu. Ucup sudah memberitahuku hari Jumat. Aku tidak mengatakannya.
“Kamu selalu tahu apa yang orang lain butuh,” kata Clara. “Kamu tahu Pak Darto butuh pembeli yang nggak marah-marah. Kamu tahu aku butuh sarapan sebelum kalimat ke-60. Kamu tahu bangku kayu itu bakal patah dalam sembilan sampai dua belas hari.” Air matanya jatuh. “Tapi kamu nggak pernah, sekali pun, bilang apa yang kamu butuh.”
Hujan.
Aku menatapnya. Payung transparan. Rambut yang menempel di pipi. Kotak bekal biru muda di tangan kiri, delapan ribu rupiah, dari pasar dekat stasiun.
Aku cemburu, pikirku. Sabtu kemarin, waktu kamu masuk ke mobil Reinhard, dengan jasnya di pangkuanmu. Aku cemburu. Dan aku nggak punya hak.
Aku tidak mengatakannya.
Tapi Clara melihatnya. Aku tidak tahu bagaimana. Mungkin wajahku tidak sedatar yang kukira. Mungkin permukaan kolam itu sudah lama tidak tenang. Ia menatapku dari tiga puluh senti, di bawah payung yang terlalu kecil, dan sesuatu di matanya berubah.
Lalu ia menjatuhkan payungnya.
Payung transparan itu jatuh ke aspal basah dengan bunyi yang tenggelam oleh hujan. Kotak bekal biru muda tetap di tangan kirinya. Tangan kanannya meraih kerah kemejaku.
Dan ia menciumku.
Di bawah hujan bulan Desember. Di parkiran terbuka di samping gedung di Kuningan, di samping Avanza perak tahun 2014, di bawah tiang lampu yang lampunya mati.
Bibirnya dingin karena hujan. Lalu hangat.
Lima tahun lalu, di parkiran motor dengan atap bocor di tiga tempat, ia juga yang maju. Aku tidak tahu caranya waktu itu. Aku kaku, canggung, seperti menulis baris kode pertama dalam bahasa yang baru kupelajari.
Sekarang aku tahu caranya.
Tanganku, sebelum aku sempat memutuskan apa pun, sudah di pinggangnya. Menariknya lebih dekat. Tanganku yang lain, yang tadi memegang ransel di atas kepala, menjatuhkan ransel itu ke aspal basah, laptop dan semuanya, dan naik ke wajahnya. Ke pipinya. Ke rambut basah di belakang telinganya.
Aku membalas.
Tidak kaku. Tidak canggung. Seperti orang yang sudah lama tahu bahasa itu, dan sudah lima tahun tidak memakainya, dan baru sadar bahwa ia tidak pernah lupa satu kata pun.
Ia mengeluarkan suara kecil di bibirku. Terkejut. Lalu tangannya di kerahku mengencang, dan ia menciumku lebih dalam, dan hujan menghantam kami berdua dari segala arah, dan aku tidak peduli pada laptop di dalam ransel di atas aspal basah, dan itu pertama kalinya dalam hidupku aku tidak peduli pada laptop.
Satu detik. Dua. Lima. Sepuluh.
Aku tidak menghitung.
Lalu aku berhenti.
Aku tidak tahu kenapa. Atau aku tahu, dan tidak mau tahu. Tanganku masih di pinggangnya, di pipinya, tapi aku menarik wajahku mundur. Sepuluh senti. Hujan mengisi jarak di antara kami.
“Jangan dulu,” kataku.
Napasku pendek-pendek. Napasnya juga. Matanya setengah terpejam, bibirnya sedikit terbuka, basah oleh hujan dan oleh sesuatu yang lain.
Ia membuka matanya. Menatapku.
“Jangan dulu,” ulangnya. Pelan.
“Clara…”
“Kamu tahu nggak,” katanya, dengan suara yang bergetar dan napas yang belum kembali, “kamu selalu bilang jangan dulu sama hal yang kamu mau.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Jangan dulu makan kopi gratis, nanti ketergantungan. Jangan dulu beli rice cooker, panci masih bisa. Jangan dulu pakai pelindung gigi, nanti mahal.” Ia tertawa, basah. “Jangan dulu jawab pertanyaanku soal kalimat terakhir. Jangan dulu cium aku balik, padahal kamu baru aja cium aku balik.”
“Aku…”
“Kamu mau,” katanya. Bukan pertanyaan. “Aku tahu kamu mau. Aku rasain barusan.”
Hujan.
“Terus kenapa jangan dulu?”
Aku menatapnya. Tiga puluh senti. Hujan di bulu matanya. Kotak bekal biru muda yang masih ia pegang di tangan kiri, bahkan sekarang, bahkan setelah semua ini, seperti ia tidak mau melepasnya.
Karena kalau aku nggak bilang jangan dulu sekarang, pikirku, aku nggak akan pernah bisa bilang pulang lagi kalau kamu butuh.
Aku tidak mengatakannya.
Clara menatapku lama. Lalu ia membungkuk, memungut payung transparan dari aspal, dan memungut ranselku juga. Ia menyerahkan ransel itu kepadaku. Ia menyerahkan kotak bekal biru muda.
“Laptopmu basah,” katanya.
“Nggak apa-apa.”
“Berhenti bilang nggak apa-apa.”
Ia mengatakannya dengan sangat pelan. Hampir berbisik. Tapi kalimat itu menghantamku lebih keras dari hujan.
Lalu ia berbalik dan berjalan ke mobilnya, di ujung lain parkiran, dengan payung transparan yang tidak ia buka, di bawah hujan bulan Desember, punggungnya tegak.
Ia tidak menoleh di langkah kesepuluh.
Ia tidak menoleh sama sekali.
Aku duduk di dalam Avanza dengan pakaian basah kuyup selama empat puluh menit.
Mesin tidak kunyalakan. Laptop di dalam ransel di kursi penumpang, mungkin rusak, mungkin tidak. Aku tidak memeriksanya. Kotak bekal biru muda di pangkuanku. Aku membukanya. Nasi putih dan telur ceplok, pinggirannya garing kecokelatan, sempurna.
Di tutupnya, secarik kertas kecil, ditempel dengan selotip. Tintanya sedikit luntur karena hujan.
Hari ini aku masak dua. Satu buat kamu, satu buat aku. Tapi aku makan punyaku di mobil sambil nangis karena Papa masih nggak ngomong sama aku. Jadi punyamu aja. Jangan dibilang kebanyakan garam.
Aku memakan nasi telur itu di dalam Avanza perak tahun 2014, di parkiran terbuka, di bawah tiang lampu yang lampunya mati, dengan hujan yang menghantam atap mobil seperti drum.
Garamnya pas.
Tapi rasanya asin.
Aku tidak tahu kenapa. Aku sudah menghitung semua takarannya. Satu sendok makan minyak. Api sedang. Garam sejumput.
Rasanya asin, dan aku tidak bisa berhenti, dan aku tidak tahu sejak kapan pipiku basah dari dalam, bukan dari hujan.
Di ponselku, yang tergeletak di dasbor, satu notifikasi masuk pukul enam lewat tiga puluh dua.
Kanya: Kak.
Kanya: Kak Clara barusan nelpon aku. Nangis.
Kanya: Dia bilang Kakak cium dia terus bilang jangan dulu.
Kanya: KAK.
Kanya: Kakak ngelakuin hal yang sama lagi?
Aku menatap pesan itu.
Kanya: Kalau Kakak nggak jawab dalam lima menit, aku yang jawab buat Kakak.
Kanya: Ke dia.
Kanya: Semuanya.
Aku menatap jam di dasbor. Enam lewat tiga puluh tiga.
Aku mengetik. Kanya, jangan.
Aku menatap dua kata itu. Kursornya berkedip.
Aku tidak mengirimnya.
Enam lewat tiga puluh delapan.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak mengirimnya. Mungkin karena tanganku gemetar. Mungkin karena rasanya masih asin. Mungkin karena Kinan benar, panci presto memang makin lama makin keras bunyinya, dan aku sudah lelah menahan tutupnya.
Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku ingin seseorang tahu.
Enam lewat tiga puluh sembilan.
Aku menghapus dua kata itu. Aku meletakkan ponsel di dasbor. Aku menyalakan mesin, menyalakan wiper, dan menyetir pulang ke Sentul di lajur paling kiri, enam puluh kilo per jam, disalip semua orang.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis reading
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman