← Pria yang Ia Pilih

Chapter Twenty Six

Bekal untuk Founder

POV: Clara

Pukul empat lewat lima belas pagi, ponselku berdering.

Video call. Dari dapurkanya.official, nomor yang sudah kusimpan dengan nama Kanya (Satpam).

Aku mengangkatnya dengan mata setengah tertutup. Di layar, wajah Kanya, rambut diikat tinggi seperti pegulat, celemek hitam bertuliskan DAPUR KANYA, latar belakang dapur besar dengan tiga kompor yang sudah menyala.

“Bangun,” katanya.

“Kanya, ini jam empat…”

“Jam empat lewat lima belas. Kak Saka bangun jam empat lewat sepuluh. Kakak telat lima menit.” Kanya mengarahkan kamera ke kompor. “Kakak mau belajar masak telur atau nggak?”

Aku duduk tegak di kasur.

Dua hari lalu, setelah flash sale, setelah empat kata sudah sampai rumah? yang dibalas sudah dalam tiga detik, aku mengirim pesan ke Kanya. Satu kalimat. Aku menulisnya dan menghapusnya enam kali sebelum mengirimnya.

Kanya, ajarin aku masak telur ceplok yang pinggirnya garing. Aku bayar.

Kanya tidak membalas selama sembilan jam. Lalu, pukul sebelas malam:

Nggak usah bayar. Jam 4.15. Jangan telat. Kalau telat, kelas dibatalkan.

“Mau,” kataku ke layar ponsel. “Mau. Sebentar. Aku ke dapur.”

“Cepet. Telurnya keburu dingin.”

“Telurnya belum dimasak, Kanya.”

“Telurnya keburu nunggu.”


Dapur rumah kami di Menteng tidak pernah kumasuki pukul empat pagi. Bi Iyem, asisten rumah tangga yang sudah bekerja untuk keluarga kami sejak aku SD, terkejut setengah mati ketika ia keluar dari kamarnya dengan mukena masih terpasang dan menemukanku berdiri di depan kompor, memegang telur, dengan ponsel yang disandarkan ke toples gula.

“Non Clara? Non lapar? Bibi masakin…”

“Nggak, Bi. Aku mau masak sendiri.”

Bi Iyem menatapku seperti melihat hantu. Lalu menatap ponselku. Di layar, Kanya melambai.

“Halo, Bi!” kata Kanya. “Saya Kanya, guru masak Kak Clara. Bibi tidur lagi aja. Ini kelas privat.”

Bi Iyem tidak tidur lagi. Bi Iyem duduk di kursi dapur dengan mukena masih terpasang dan menonton seperti menonton sinetron.

“Wajannya yang kecil,” kata Kanya. “Bukan yang itu. Itu buat goreng ayam satu ekor. Yang kecil, Kak. Iya. Nah. Minyaknya segini.” Ia menunjukkan dengan sendok di wajannya sendiri. “Satu sendok makan. Bukan satu sendok sayur. Kak Clara pernah merendam telur kayak bebek di kolam, ingat?”

“Itu lima tahun lalu.”

“Masih trauma aku.” Kanya mengarahkan kamera ke kompornya. “Api sedang. Tunggu minyaknya panas. Jangan ditinggal. Jangan sambil main HP.”

“Aku lagi video call sama kamu.”

“Itu pengecualian.”

Aku memecahkan telur pertama ke wajan. Pecah di pinggir wajan, setengah masuk, setengah jatuh ke kompor dan mendesis.

Bi Iyem menutup mulut dengan tangan.

“Nggak apa-apa,” kata Kanya, dengan nada yang sangat mirip kakaknya. “Kompornya bisa dilap. Telur kedua.”

Telur kedua masuk dengan selamat. Kuningnya tidak pecah. Aku menatapnya seperti menatap bayi yang baru lahir.

“Jangan diaduk,” kata Kanya. “Jangan dibalik. Jangan disentuh. Biarin. Kakak lihat pinggirnya? Lihat yang mulai berbuih?”

“Iya.”

“Tunggu sampai berbuihnya berubah cokelat. Bukan hitam. Cokelat. Kalau hitam, itu namanya bunuh diri.”

Aku menunggu. Pinggiran telur berbuih. Putih. Lalu kekuningan. Lalu, pelan-pelan, mulai kecokelatan di ujung-ujungnya, seperti renda yang dibakar sedikit.

“Sekarang,” kata Kanya. “Matiin.”

Aku mematikan kompor.

Aku menatap telur di wajan. Putihnya mengembang. Kuningnya bulat, utuh, berkilau. Pinggirannya cokelat keemasan, garing, seperti kerupuk tipis.

Seperti telur di kotak bekal biru. Seperti setengah telur yang disodorkan di bangku beton, di bawah flamboyan, di bulan Februari, ketika suaraku serak di kalimat ke-60.

“Kanya,” kataku. Suaraku pecah. “Kanya, ini… ini jadi.”

Di layar, Kanya menatap telurku lama. Lalu ia berkata, dengan nada satpam yang sedikit retak di ujungnya:

“Lumayan. Masih kurang garing dikit. Tapi lumayan.”

Bi Iyem bertepuk tangan dari kursi dapur, mukenanya bergoyang-goyang.


Aku membawa kotak bekal ke kantor Floo pada hari Rabu.

Kotak bekal baru. Plastik, warna biru muda, kubeli di pasar dekat stasiun hari Selasa sore. Delapan ribu rupiah. Aku sengaja mencari yang harganya delapan ribu. Penjualnya bingung ketika aku menolak kotak bekal yang lebih bagus seharga dua puluh lima ribu.

Isinya nasi putih dan satu telur ceplok. Pinggirannya garing, kecokelatan. Percobaan ketiga belas. Dua belas sebelumnya dimakan Bi Iyem, Bram, dan supir Papa.

Pukul dua belas lewat lima, aku berdiri di depan meja resepsionis lantai lima belas.

“Selamat siang, Bu Clara,” kata resepsionis. Ia sudah mengenaliku. Semua orang di lantai lima belas sudah mengenaliku sejak hari Senin, sejak Proposal Investasi Hati versi pertama muncul di layar televisi ruang rapat kecil nomor dua, terlihat dari lorong lewat dinding kaca. “Ada janji dengan Pak Saka?”

“Nggak ada.”

Resepsionis berkedip.

“Saya cuma mau titip ini,” kataku, meletakkan kotak bekal biru muda di mejanya. “Buat Pak Saka. Makan siang.”

Resepsionis menatap kotak bekal itu. Lalu menatapku. Lalu menatap kotak bekal itu lagi. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik.

“Bu,” katanya, setengah berbisik. “Pak Saka bawa bekal sendiri setiap hari.”

“Saya tahu.”

“Nasi telur.”

“Saya tahu.”

“Ibu… bawain nasi telur juga?”

“Iya.”

Resepsionis menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya mulai berguncang. Ia mengangkat telepon kantor, menekan satu tombol, dan berkata dengan suara yang sangat profesional dan sangat bergetar:

“Pak Saka. Ada titipan makan siang di resepsionis. Dari Bu Clara. Isinya… isinya nasi telur, Pak.”

Hening di telepon. Lama.

Lalu resepsionis mendengarkan sesuatu, mengangguk, dan menutup telepon.

“Pak Saka bilang,” katanya, dengan wajah yang hampir meledak, “taruh di meja saya.”


Aku tidak langsung pergi.

Aku berdiri di lorong utama, di depan dinding panjang tempat grafik-grafik pertumbuhan ditempel dengan selotip, pura-pura membaca grafik seperti Bu Rosa minggu lalu. Dari sini, lewat dinding kaca, aku bisa melihat ruang kerja Saka. Ruangan kecil di ujung, dinding kaca, satu meja, satu kursi, laptop, dan kotak bekal biru dengan retakan di sudut tutupnya.

Resepsionis masuk ke ruangannya dan meletakkan kotak bekal biru muda di sebelah kotak bekal biru yang retak.

Dua kotak bekal. Berdampingan.

Saka menatap keduanya. Lama. Lalu ia membuka kotak bekal biru muda.

Ia menatap isinya. Telur ceplok percobaan ketiga belas. Pinggiran cokelat keemasan.

Ia mengambil sendok. Ia menyendok sudut telur, bagian yang paling garing. Ia memakannya pelan, mengunyah, menelan.

Lalu ia mengangkat wajah dan menatap lurus ke arah dinding kaca. Ke arahku, di lorong, di depan grafik yang tidak kubaca.

Aku tidak bersembunyi.

Aku berjalan ke pintu ruang kerjanya. Aku membuka pintunya tanpa mengetuk. Bram tidak pernah mengetuk, dan aku sedang belajar dari Bram.

“Gimana?” tanyaku.

Saka menatapku. Tiga detik.

“Kurang garing dikit,” katanya.

“Kanya juga bilang gitu.”

“Kanya yang ngajarin?”

“Jam empat lewat lima belas. Kemarin, sama hari ini. Dua belas telur gagal, dimakan pembantu, kakakku, sama supir Papa.”

Saka menatap telur di kotak bekal biru muda. Lalu menatapku. Ada sesuatu di wajahnya yang bergerak. Sangat sedikit. Seperti angin yang menyentuh permukaan kolam, lalu berhenti.

“Kotaknya,” katanya.

“Delapan ribu,” kataku. “Pasar dekat stasiun. Penjualnya bingung aku nggak mau yang dua puluh lima ribu.”

Saka diam.

Aku menarik kursi dari sudut ruangan, kursi lipat yang sepertinya dipakai untuk tamu, dan meletakkannya di seberang mejanya. Aku duduk. Aku melipat tangan di atas meja dan menatapnya.

“Makan,” kataku.

“Clara…”

“Aku bangun jam empat lewat lima belas,” kataku. “Dua hari berturut-turut. Aku mecahin telur ke kompor. Aku dimarahin Kanya lewat video call di depan pembantuku yang masih pakai mukena. Aku beli kotak bekal delapan ribu di pasar dan dilihatin penjualnya kayak orang gila.” Aku mencondongkan badan sedikit ke depan. “Jadi sekarang aku mau lihat kamu makan masakanku.”

Saka menatapku.

“Pelan-pelan,” kataku. Suaraku turun. Lebih pelan. Lebih dalam. Suara yang tidak pernah kupakai di rapat lantai sembilan. Suara yang tidak pernah kupakai di mana pun. “Di depanku.”

Ruangan hening.

Di luar dinding kaca, di lorong, aku melihat sesuatu dari sudut mataku. Dua programmer berhenti berjalan. Seorang desainer dengan rambut dicat abu-abu dan kacamata bundar menjatuhkan tabletnya. Dan Ucup, di meja di luar ruangan, berhenti mengunyah pisang goreng dengan mulut terbuka lebar sekali.

Saka tidak menoleh ke lorong.

Ia menatapku. Lama. Matanya bergerak, sedikit, dari mataku ke bibirku ke mataku lagi. Sangat cepat. Sepersekian detik. Tapi aku melihatnya.

Lalu ia mengambil sendok, menyendok telur dan nasi dari kotak bekal biru muda, dan memakannya.

Pelan-pelan.

Di depanku.

Aku menatapnya mengunyah. Rahangnya bergerak. Jakunnya naik turun saat menelan. Ia tidak mengalihkan pandangannya dariku sama sekali, dan aku tidak mengalihkan pandanganku darinya, dan ruangan kecil berdinding kaca itu terasa sangat panas tiba-tiba, meskipun AC-nya menyala.

Suapan kedua. Ketiga. Keempat.

Lalu, di suapan kelima, sesuatu terjadi di wajahnya.

Sudut bibirnya bergerak. Naik. Bukan dua milimeter. Bukan tiga. Bukan empat.

Ia tersenyum.

Senyum yang sungguhan. Senyum yang membuat garis di sudut matanya, garis orang yang terlalu sering begadang, melengkung ke atas. Senyum yang belum pernah kulihat sejak gala. Sejak bangku beton. Sejak… mungkin sejak tidak pernah.

Aku berhenti bernapas.

“Apa?” tanyaku. Suaraku keluar seperti bisikan.

“Nggak apa-apa,” katanya. Ia masih tersenyum. Ia menunduk ke kotak bekal. “Kamu kebanyakan garam.”

“Saka!”

“Telurnya bagus. Garamnya kebanyakan.”

Aku melempar serbet kertas dari tasku ke arahnya. Ia menangkapnya dengan satu tangan, tanpa melihat, seperti Kinan menangkap serbet dari Kanya. Di lorong, Ucup tertawa sampai pisang gorengnya jatuh ke lantai.


Dion Wirawan adalah Head of Product di Floo.

Aku tahu namanya karena tanda pengenal di dadanya, dan karena ia berdiri di ambang pintu ruang kerja Saka sepuluh menit kemudian, ketika aku sudah berdiri untuk pamit.

Ia tinggi. Ganteng, dengan cara yang sangat jelas. Rambut tebal disisir ke belakang, rahang tegas, senyum yang memperlihatkan gigi putih rata. Kemeja linen biru muda, lengan digulung sampai siku dengan cara yang terlihat disengaja. Ia memegang tablet dan mug kopi dengan logo Floo.

“Pak Saka, maaf ganggu. Rapat roadmap jam satu…” Ia berhenti ketika melihatku. Senyumnya melebar. “Oh! Halo. Ibu Clara, ya? Yang presentasi hari Senin?”

Seluruh lantai lima belas tahu soal presentasi hari Senin.

“Iya,” kataku.

“Dion. Head of Product.” Ia mengulurkan tangan. Aku menjabatnya. Jabatannya hangat, sedikit terlalu lama. “Saya lihat presentasinya dari lorong. Berani banget, Bu. Salut.” Lalu matanya turun ke kotak bekal biru muda di meja Saka. “Itu Ibu yang bawain? Wah. Telurnya cantik banget. Pinggirnya garing gitu. Ibu masak sendiri?”

“Iya.”

“Keren.” Dion tersenyum lebih lebar. “Bu, kapan-kapan ngopi, yuk. Di bawah ada kafe enak. Saya pengen dengar soal strategi brand Kusuma Mart. Saya ngikutin kampanye Ibu yang soal sayur malam. Itu jenius.”

Aku membuka mulut untuk menjawab.

“Dion,” kata Saka.

Dion menoleh. “Iya, Pak?”

Saka tidak mengangkat wajah dari laptopnya. Ia mengetik sesuatu. Tangannya bergerak lebih cepat dari biasanya.

“Rapat roadmap jam satu,” katanya, “dipindah ke lantai tiga.”

Dion berkedip. “Lantai tiga, Pak?”

“Lantai tiga.”

“Kita… kita punya ruangan di lantai tiga?”

“Ada ruangan di lantai tiga.”

Dion menatap Saka, bingung. Ia membuka tabletnya, menggulir sesuatu, dan mengerutkan dahi. “Pak, saya nggak nemu ruang rapat di lantai tiga di sistem pemesanan…”

“Ada,” kata Saka, masih mengetik. “Tanya Ucup.”

Dion menoleh ke lorong, ke meja Ucup. Ucup sedang memungut pisang goreng dari lantai. Ia mengangkat wajah, melihat Dion, melihat Saka lewat dinding kaca, melihatku, dan mengerti sesuatu dalam waktu yang sangat cepat.

“Lantai tiga,” kata Ucup ke Dion, sangat pelan, dengan wajah yang berusaha keras tetap serius. “Ka. Lantai tiga itu gudang arsip gedung.”

Hening.

Saka berhenti mengetik.

“Gudang arsip juga ruangan,” katanya.

Dion menatap Saka. Lalu menatapku. Lalu menatap kotak bekal biru muda. Lalu menatap Saka lagi. Pelan-pelan, sangat pelan, ekspresi bingung di wajah tampannya berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu seperti orang yang baru menyadari bahwa ia sudah berdiri di tengah jalan tol tanpa sadar.

“Oke, Pak,” katanya. “Lantai tiga. Gudang arsip. Siap.” Ia mundur satu langkah dari ambang pintu. “Bu Clara, ngopinya… kapan-kapan aja. Atau nggak usah. Nggak usah juga nggak apa-apa. Selamat siang.”

Ia pergi dengan langkah yang sangat cepat.

Aku menatap Saka.

Saka mengetik lagi. Ia tidak menatapku. Wajahnya datar. Permukaan kolam yang tidak tertiup angin.

Tapi telinganya merah.

Dari ujung sampai pangkal. Merah, seperti di parkiran motor yang atapnya bocor di tiga tempat, lima tahun lalu, setelah aku menciumnya di bawah hujan bulan Maret.

“Saka,” kataku.

“Hm.”

“Gudang arsip?”

“Ruangannya kosong. Rapat bisa fokus.”

“Kamu cemburu.”

Jarinya berhenti di atas papan ketik. Satu detik.

“Efisiensi,” katanya.

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa sampai harus berpegangan ke kursi lipat, sampai mataku basah, sampai Ucup di luar ikut tertawa lagi dan menjatuhkan pisang gorengnya untuk kedua kalinya.

Saka mengetik. Telinganya semakin merah.

“Besok,” kataku, setelah tawaku reda. Aku mengambil tasku. “Kotak bekal lagi. Garamnya aku kurangin.”

“Clara, kamu nggak harus…”

“Aku tahu aku nggak harus.” Aku berjalan ke pintu. Di ambangnya, aku menoleh. “Aku mau.”

Ia menatapku. Tiga detik.

“Jam dua belas,” katanya akhirnya. “Resepsionis tutup buat makan siang jam dua belas lewat lima belas.”

Aku tersenyum. “Jam dua belas.”

Aku keluar dari ruangannya. Di lorong, Ucup sedang berlutut di lantai memungut pisang goreng. Ia mendongak saat aku lewat.

“Mbak Clara,” bisiknya.

“Ucup.”

“Lima tahun,” katanya. “Aku belum pernah lihat dia senyum kayak tadi. Lima tahun, Mbak.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak sanggup.

Aku berjalan ke lift. Di dalam lift, sendirian, aku menyandarkan punggung ke dinding cermin dan menutup wajah dengan dua tangan.

Kamu kebanyakan garam.

Ia tersenyum.

Ia tersenyum karena telurku.

Dan untuk pertama kalinya sejak gala, sejak ditolak, sejak lima tahun lalu di bawah flamboyan, aku merasa kakiku sudah lama tidak menyentuh tanah, dan aku tidak takut sama sekali.