← Pria yang Ia Pilih

Chapter Thirty Six

Tidak Goyah

POV: Clara

Aku menulis bab delapan puluh enam dalam enam malam.

Bukan karena panjang. Bab delapan puluh enam hanya dua ribu kata, lebih pendek dari kebanyakan bab sebelumnya. Aku menulisnya dalam enam malam karena aku menghapus semuanya lima kali.

Malam pertama, aku menulis Laras yang menangis di depan Bima. Aku menghapusnya. Laras sudah terlalu banyak menangis.

Malam kedua, aku menulis Laras yang marah. Aku menghapusnya. Laras tidak berhak marah.

Malam ketiga, aku menulis Bima yang meminta maaf. Aku menghapusnya. Bima tidak perlu meminta maaf. Bima sudah lima tahun meminta maaf dengan cara yang tidak pernah ia ucapkan.

Malam keempat, aku tidak menulis apa-apa. Aku duduk di depan laptop, di lantai kamar, dan menatap kursor yang berkedip di halaman kosong sampai pukul tiga pagi. Seperti kursor di laptop Saka di bangku beton, lima tahun lalu, ketika aku bilang aku nggak bisa dan ia membuka laptopnya tanpa mengetik apa-apa.

Malam kelima, aku menulis tentang paving yang menonjol dua senti. Aku menghapusnya. Lalu aku mengetiknya lagi. Lalu aku menghapusnya lagi.

Malam keenam, Jumat malam, aku menulis satu kalimat. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi.

Pukul empat lewat lima belas pagi, aku menyimpan bab delapan puluh enam di dasbor penulis. Status: Draf. Belum diterbitkan.

Lalu aku tidur dua jam, bangun, dan pergi ke Sentul untuk belajar membuat nasi uduk dari Kanya.


Floo Writers Award diadakan di sebuah ballroom hotel di Kuningan, empat ratus meter dari gedung kantor Floo.

Lebih kecil dari gala Indonesia Digital Economy. Empat ratus tamu, bukan seribu dua ratus. Tidak ada lampu gantung kristal sebesar mobil. Lampunya lampu gantung biasa, hangat, kekuningan. Meja-meja bundar dengan taplak putih dan rangkaian bunga di tengah. Bukan anggrek ungu. Bunga-bunga kecil berwarna oranye kemerahan, liar, dirangkai seperti dipetik dari pinggir jalan.

Dimas yang memilih bunganya. Bu Rosa bilang begitu, ketika aku melihat rangkaian bunga itu dan berhenti berjalan di pintu masuk.

“Dia bilang,” kata Bu Rosa pelan, berdiri di sebelahku dengan gaun hitam sederhana dan kacamata berbingkai tebal, “kalau logonya nggak boleh diapus, paling nggak bunganya harus nyambung.” Ia menatapku. “Kamu yakin mau ini, Clara?”

“Yakin, Bu.”

“Saka belum tahu.”

“Aku tahu.”

“Dia kira kamu nggak datang. Dia bilang kamu ada acara keluarga.” Bu Rosa diam sebentar. “Dia kelihatan kecewa. Dia nggak bilang. Tapi dia nyetrika kemeja biru tuanya dua kali tadi sore, terus nggak jadi pakai. Pakai kemeja kotak-kotak.”

Aku tersenyum. “Dia pakai kotak-kotak?”

“Biru. Yang paling bagus. Katanya.”

Aku menatap ballroom. Di meja paling depan, dekat panggung, di bawah lampu kekuningan, aku melihatnya. Punggungnya. Kemeja kotak-kotak biru. Rambut yang sedikit terlalu panjang di bagian depan. Duduk di sebelah Ucup, yang memakai jas pinjaman pamannya lagi, dan Mbak Wening, yang memakai kebaya baru dan menangis sejak masuk ruangan karena tahu ia akan menerima penghargaan Penulis Inspiratif.

Saka tidak menoleh ke pintu masuk.

Ia sedang membaca sesuatu di ponsel Android murahnya. Dokumentasi sistem, mungkin. Atau mungkin sesuatu yang lain.

“Meja kamu di belakang,” kata Bu Rosa. “Meja nomor dua puluh dua. Saya taruh di belakang supaya dia nggak lihat kamu sampai waktunya.”

“Makasih, Bu.”

Bu Rosa menatapku lama. Lalu ia menepuk bahuku dua kali, kaku, seperti Kinan.

“Clara,” katanya. “Saya sudah dua puluh tahun lihat orang naik panggung. CEO, menteri, pendiri startup unicorn.” Ia tersenyum. Senyum yang tidak kering, tidak pendek. “Saya belum pernah segugup ini buat orang lain.”


Meja nomor dua puluh dua penuh.

Tasya, dengan gaun merah dan wajah orang yang sudah menangis di mobil. Bram, dengan jas abu-abu dan ponsel di tangan, sudah merekam sejak masuk lobi. Kanya, dengan kebaya hijau tua yang dipinjam dari Bu Darto, rambut disanggul untuk pertama kalinya dalam hidupnya, wajah yang terus-terusan menoleh ke meja depan dan menggerutu, kenapa Kak Saka pakai kotak-kotak, aku udah setrikain yang biru tua. Kinan, dengan kemeja putih polos dan kacamata berbingkai tipis, membaca buku acara dengan serius seperti membaca jurnal medis.

Dan Mama.

Mama duduk di sebelahku, dengan kebaya brokat biru muda yang sama seperti malam ia berdiri di samping Avanza perak di lobi Menara Kusumadewi. Ia memegang tanganku di bawah meja sejak kami duduk. Tidak meremas. Hanya memegang.

Kursi di sebelah Mama kosong.

“Papa nggak bales pesanku,” kataku pelan.

“Mama tahu.”

“Mama udah bilang ke Papa?”

“Mama taruh undangannya di meja kerjanya. Tiga hari lalu.” Mama menatap kursi kosong itu. “Undangannya nggak ada lagi tadi pagi. Mama nggak tahu dia buang atau dia simpan.”

Aku menatap kursi kosong itu juga.

Di seberang ruangan, di meja media, aku melihat Sherly. Gaun putih berkilau. Bulu mata yang sangat panjang. Ponsel di tangan, kamera menyala, merekam sekeliling ruangan untuk satu koma dua juta pengikutnya. Ia belum melihatku. Meja nomor dua puluh dua terlalu jauh di belakang, terlalu redup.

Ia akan melihatku nanti.


Acara dimulai pukul tujuh.

Bu Rosa membuka dengan kata sambutan pendek, kering, lucu. Ia bilang Floo tidak akan ada tanpa penulis, dan penulis tidak akan ada tanpa pembaca, dan pembaca tidak akan ada tanpa ibu-ibu di peron stasiun yang dulu ditanyai seorang laki-laki dengan kemeja kotak-kotak dan dikira sales MLM. Ruangan tertawa. Di meja depan, Ucup menepuk punggung Saka keras-keras. Saka tidak menoleh.

Penghargaan demi penghargaan. Penulis Pendatang Baru Terbaik. Seorang anak SMA dari Kupang yang menulis di ponsel retak. Ia menangis di atas panggung dan tidak bisa bicara, dan seluruh ruangan berdiri untuknya.

Penulis Inspiratif. Mbak Wening. Ia naik panggung dengan kebaya barunya, memegang piala dengan dua tangan, dan berkata satu kalimat ke mikrofon: “Pak, listriknya sudah lunas. Rumahnya juga.” Ruangan meledak. Di meja depan, aku melihat bahu Saka bergerak. Sedikit. Satu kali.

Novel Fantasi Terbaik. Aditya Rahman, dengan novel kerajaan naga. Ia naik panggung, berterima kasih kepada pembaca, kepada tim Floo, dan kepada “Pak Saka, yang minggu lalu menghabiskan dua jam menganalisis laporan royalti saya yang tidak bermasalah.” Ruangan tertawa. Saka tidak bereaksi. Aditya turun panggung sambil melirik ke arah meja depan dengan wajah yang campur aduk antara takut dan geli.

Pukul delapan lewat empat puluh, layar besar di belakang panggung menampilkan tulisan berwarna oranye kemerahan:

NOVEL OF THE YEAR

Ruangan hening.

Lima nominasi muncul di layar. Lima sampul. Lima judul. Lima nama pena.

Yang terakhir: sampul putih sederhana dengan gambar kotak bekal biru, tutupnya retak. Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh. Sudut Taman.

Aku tidak mendesain sampul itu. Floo yang mendesainnya, dua tahun lalu, ketika novelku masuk peringkat sepuluh besar. Desainernya Dimas. Aku tidak pernah bertanya kenapa ia memilih kotak bekal biru dengan tutup retak.

Di meja depan, Saka menatap layar.

Pembawa acara, presenter muda dengan setelan krem, membuka amplop. Ia membacanya. Ia tersenyum.

“Dan Novel of the Year tahun ini, dengan lebih dari empat juta pembaca, novel yang membuat satu negara menangis di KRL…” Ia berhenti untuk efek dramatis. “Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh, karya Sudut Taman!”

Ruangan bertepuk tangan. Lama.

Pembawa acara menunggu. Ia menatap ke ruangan. “Apakah Sudut Taman hadir malam ini?”

Hening.

Ia tersenyum kikuk. “Sudut Taman memang dikenal tidak pernah tampil di depan publik. Mungkin Sudut Taman sedang menulis bab berikutnya…” Ruangan tertawa kecil. “Kalau begitu, perwakilan Floo yang akan menerima…”

Aku berdiri.


Kursiku bergeser di lantai dengan bunyi yang terlalu keras.

Empat ratus kepala menoleh.

Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung kepala yang menoleh.

Aku berjalan.

Dari meja nomor dua puluh dua, di barisan paling belakang, ke panggung, di barisan paling depan. Melewati meja-meja bundar dengan taplak putih dan rangkaian bunga liar oranye kemerahan. Melewati penulis-penulis yang menatapku dengan mulut setengah terbuka. Melewati meja media.

Sherly melihatku. Kamera ponselnya mengikutiku. Wajahnya, di balik layar ponsel, berubah. Dari bingung, ke kaget, ke sesuatu yang lain. Ia tidak berhenti merekam.

Aku tidak berhenti berjalan.

Aku memakai gaun hijau tua. Gaun yang sama dengan malam di restoran Tanoto, malam aku bilang nggak, Pa. Rambutku tergerai, bergelombang sampai punggung. Di sisi kiri, jepit bunga liar. Lima kelopak. Goresan halus di kelopak kiri bawah. Pengaitnya setengah milimeter lebih kencang.

Aku melewati meja depan.

Aku tidak menoleh ke kanan. Aku tidak perlu menoleh. Aku bisa merasakannya. Aku bisa merasakan tatapannya di sisi wajahku, seperti cahaya, seperti panas, seperti getaran dua pendek satu panjang di telapak tangan.

Aku naik panggung.

Pembawa acara menatapku dengan amplop yang masih terbuka di tangannya. “Ibu… Ibu ini…”

“Sudut Taman,” kataku.

Ruangan meledak. Bukan tepuk tangan. Suara. Ratusan orang yang bicara sekaligus, berbisik, memekik. Di meja media, seseorang menjatuhkan gelas. Di meja penulis romansa, perempuan dari Surabaya yang dulu menyentuh lengan Saka empat kali menutup mulut dengan dua tangan.

Pembawa acara menyerahkan piala dengan tangan yang gemetar. Piala kaca berbentuk bunga lima kelopak. Aku menerimanya. Berat.

Aku berdiri di depan mikrofon.

Aku menatap ruangan.

Dan di meja depan, di kursi di antara Ucup dan Mbak Wening, Saka sudah berdiri.

Ia tidak bergerak. Ia berdiri dengan dua tangan di sisi tubuh, kemeja kotak-kotak biru, sepatu kets abu-abu, dan menatapku. Wajahnya bukan permukaan kolam. Wajahnya tidak bisa kubaca. Atau bisa. Atau aku sudah belajar membacanya selama lima tahun di delapan puluh empat bab, dan aku tahu persis apa yang ada di sana.

Takut.

Takut aku akan menanggung sesuatu yang ia sudah susah payah tanggung untukku.

Aku mengalihkan pandangan dari Saka. Aku menatap ruangan.

“Selamat malam,” kataku.

Suaraku tidak bergetar. Aku tidak tahu bagaimana.

“Nama saya Clara Florentina Kusumadewi,” kataku. “Saya Brand Manager Kusumadewi Retail. Atau sampai minggu lalu, saya Brand Manager Kusumadewi Retail. Sekarang saya sedang diminta mundur sementara dari beberapa tugas, karena beberapa hal yang mungkin sudah Anda baca di media.”

Ruangan hening. Sangat hening.

“Dan saya Sudut Taman.”

Aku menarik napas.

“Lima tahun lalu, saya mulai menulis novel ini. Di blog. Malam-malam, jam sepuluh sampai jam satu, di kamar dengan pintu dikunci. Saya menulisnya karena saya tidak bisa bicara. Saya tidak bisa bicara ke orang tua saya. Saya tidak bisa bicara ke teman-teman saya. Saya tidak bisa bicara ke laki-laki yang saya tinggalkan di bawah pohon flamboyan di taman kampus.” Aku menatap piala di tanganku. “Jadi saya menulis.”

Aku mendengar isak dari meja nomor dua puluh dua. Kanya. Tentu saja Kanya.

“Delapan puluh empat bab,” kataku. “Bab terakhir judulnya Aku yang Pergi. Saya yakin itu benar. Lima tahun saya yakin. Saya yang pergi. Saya yang tidak berani. Saya yang tidak bisa bilang tidak ke ayah saya.”

Aku mengangkat wajah.

“Minggu lalu, seseorang bilang di forum ekonomi nasional, di depan seluruh Indonesia, bahwa saya tidak pergi. Bahwa dia yang menyuruh saya pulang. Bahwa kalau ada yang perlu disalahkan, itu dia.”

Di meja depan, Saka menutup matanya.

“Itu benar,” kataku. “Dia memang menyuruh saya pulang. Lima tahun lalu, di bangku beton, dia bilang pulang, Clara, pilih yang nggak bikin kamu capek. Dan saya baru tahu tiga minggu lalu bahwa dia mengatakannya bukan karena dia ingin saya pergi. Tapi karena dia tidak mau saya sobek di tengah antara dia dan keluarga saya. Dia melepaskan satu tangan supaya saya cuma ditarik satu arah.” Suaraku mulai bergetar. Aku membiarkannya. “Dia membuat dirinya jadi alasan yang gampang. Supaya saya bisa pergi tanpa merasa meninggalkan siapa-siapa.”

Ruangan hening. Aku mendengar seseorang di meja penulis menangis.

“Tapi itu bukan seluruh kebenaran,” kataku.

Aku menatap Saka. Lurus. Dari atas panggung.

“Dia bisa menyuruh saya pulang,” kataku pelan, “karena saya tidak pernah bilang saya mau tinggal.”

Saka membuka matanya.

“Lima tahun lalu, ada tiga kata di tenggorokan saya,” kataku. “Tiga kata yang sudah ada di sana dari bulan Januari, dari kopi gula aren yang tumpah ke sepatu delapan puluh sembilan ribu. Saya tidak pernah mengucapkannya. Di bangku beton, saya bilang aku nggak bisa. Bukan tiga kata itu. Dan dia, yang selalu tahu apa yang orang lain butuh, mengartikan aku nggak bisa dengan cara yang paling baik yang dia tahu.”

Pipiku hangat. Aku membiarkannya. Empat ratus orang boleh melihat.

“Jadi kalau ada yang perlu disalahkan,” kataku, “jangan salahkan dia sendirian. Dia sudah lima tahun menanggungnya sendirian. Dia sudah lima tahun duduk di lantai kontrakan sampai jam satu pagi, menunggu satu kata sudah. Dia sudah lima tahun membaca novel saya pukul dua pagi, membayar dari rekeningnya sendiri, dan tidak pernah berkomentar, karena dia tidak mau saya mengubah cerita saya hanya karena tahu dia membaca.”

Aku menarik napas.

“Saya yang tidak bilang tiga kata itu. Itu bagian saya. Saya mau ambil kembali bagian saya.”


Aku mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang tersampir di bahu.

Aku membuka aplikasi Floo. Dasbor penulis. Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh. Bab 86. Status: Draf.

“Malam ini,” kataku ke mikrofon, “saya menerbitkan bab baru. Bab delapan puluh enam. Bab yang menggantikan bab delapan puluh empat sebagai bab terakhir.”

Aku menatap ruangan.

“Judulnya Aku Pilih Kamu.”

Aku menekan tombol Terbitkan.

Di meja-meja bundar, empat ratus ponsel bergetar hampir bersamaan. Notifikasi. Sudut Taman menerbitkan bab baru. Aku melihat orang-orang menatap layar ponsel mereka, membuka aplikasi, membaca.

Di meja depan, Ucup menatap ponselnya. Lalu menatap Saka. Lalu menangis keras-keras ke bahu jas pinjaman pamannya.

Di meja nomor dua puluh dua, Kanya sudah tidak bisa ditolong. Kinan menepuk punggungnya dengan buku acara.

Di meja media, Sherly menurunkan ponselnya. Ia tidak merekam lagi. Ia menatap layar ponselnya, membaca, dan wajahnya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tidak tersenyum dan tidak sinis. Hanya diam.

Saka tidak membuka ponselnya.

Ia berdiri di meja depan dan menatapku. Hanya menatapku.

Bab delapan puluh enam hanya dua ribu kata. Laras berdiri di bangku beton, di bawah flamboyan yang mekar, lima tahun kemudian. Bima duduk di bangku kayu, lima meter di sebelah kiri, yang kakinya masih diganjal sandal jepit. Laras berjalan lima meter. Laras duduk di sebelah Bima. Laras membuka mulutnya, dan tiga kata yang lima tahun menempel di tenggorokannya seperti duri ikan, akhirnya keluar.

Paragraf terakhir bab delapan puluh enam hanya satu baris.

Tapi aku tidak mau Saka membacanya di ponsel. Aku tidak mau tiga kata itu sampai ke Saka lewat layar Android murah dengan sudut yang tergores. Tiga kata itu sudah lima tahun menunggu.

Mereka berhak diucapkan.

Aku turun dari panggung.


Aku tidak berjalan ke meja depan. Aku berjalan ke tengah ruangan. Ke tempat yang bisa dilihat semua orang. Empat ratus orang. Penulis-penulis Floo. Bu Rosa. Ucup. Mbak Wening. Dimas. Aditya. Perempuan dari Surabaya. Sherly. Tasya. Bram yang masih merekam. Kanya yang menangis seperti sirene. Kinan. Mama.

Semua orang yang pernah bilang aku salah. Dan semua orang yang pernah bilang aku benar.

Aku berhenti di tengah ruangan, di antara meja-meja bundar dengan rangkaian bunga liar oranye kemerahan, lima meter dari meja depan.

Lima meter. Jarak antara bangku kayu dan bangku beton.

Saka berdiri di meja depan. Ia tidak bergerak.

Aku menatapnya.

“Saka,” kataku.

Tidak lewat mikrofon. Tidak perlu. Ruangan sudah sangat hening sehingga suaraku sampai ke ujung belakang.

Di saku kemeja kotak-kotak birunya, sesuatu bergetar.

Aku melihatnya. Semua orang di meja depan melihatnya. Ponsel Android murah di saku dada kemejanya bergetar. Dua pendek. Satu panjang.

Saka menatap sakunya. Lalu menatapku.

Aku tahu pola itu.

Dua pendek. Satu panjang. Bukan klakson. Bukan bel. Pola yang dulu bergetar di ponselku sendiri, di atas panggung Nusantara Tech Cup, ketika ia memasang Lizz sepuluh di HP-ku dan seseorang memanggil namaku.

Panggilan nama.

Aku baru saja memanggil namanya.

Dia pasang namanya sendiri.

Aku tidak tahu sejak kapan. Aku tidak tahu berapa kali ponsel itu bergetar di sakunya selama lima tahun, setiap kali seseorang di jalan, di kantor, di peron, memanggil Saka. Dan berapa kali ia menoleh, dan yang memanggil bukan aku.

Aku tidak bisa bicara. Piala kaca di tanganku tiba-tiba terlalu berat.

Aku menatap laki-laki yang lima tahun lalu duduk di bangku beton di bawah flamboyan dan tidak menoleh ketika semua orang menoleh. Laki-laki yang mengganjal bangku kayu dengan sandal jepitnya sendiri. Yang memakan telur gosong sampai habis. Yang menulis Florentina di pojok sketsa logo dan tidak pernah bilang ke siapa-siapa.

Laki-laki yang tidak pernah berhenti. Yang cuma tidak pernah minta.

“Aku pilih kamu,” kataku.

Ruangan tidak bersuara.

“Lima tahun lalu aku nggak bilang. Malam ini aku bilang. Di depan semua orang.” Suaraku pecah. Aku membiarkannya pecah. “Bukan karena kamu kaya.”

Mataku lari sebentar ke meja nomor dua puluh dua. Ke kursi di sebelah Mama. Masih kosong.

“Bukan karena kamu Startup of the Year. Bukan karena kamu ngalahin profesor di forum nasional.”

Aku menarik napas.

“Karena matamu masih sama. Dari bangku beton sampai sekarang.”

Air mataku jatuh lagi.

“Aku pilih kamu, Saka. Kali ini sampai habis umur. Dan aku nggak akan goyah. Nggak akan berbalik di langkah kesepuluh. Nggak akan bilang aku nggak bisa.” Aku tersenyum, basah. “Kamu nggak boleh nyuruh aku pulang lagi. Aku udah pulang. Ke kamu.”


Saka bergerak.

Ia berjalan dari meja depan. Satu langkah. Dua. Lima. Melewati meja-meja bundar. Pelan, tidak terburu-buru, seperti berjalan dari gedung Ilmu Komputer ke bangku beton di bawah flamboyan.

Ia berhenti di depanku.

Bukan satu meter. Bukan jarak yang sopan.

Tiga puluh senti.

Ia menatapku. Matanya basah. Di depan empat ratus orang, untuk kedua kalinya dalam hidupnya di depan orang lain, matanya basah.

Ia tidak bilang jangan dulu. Ia tidak bilang nggak apa-apa. Ia tidak bilang pulang.

Ia mengangkat tangannya. Tangan kanannya. Pelan, ke wajahku. Ibu jarinya menghapus air mata di pipi kiriku. Lalu turun. Ke rambutku, di sisi kiri. Ke jepit bunga liar. Ia menyentuh goresan di kelopak kiri bawah dengan ujung jarinya, seperti mengukur.

Lalu ia berkata, dengan suara datar yang tidak datar sama sekali, cukup pelan supaya hanya aku yang dengar, tapi ruangan begitu hening sehingga tiga meja di sekitar kami juga dengar:

“Kalimat terakhirnya udah bener.”

Aku tidak bisa bernapas.

Lalu ia memelukku.

Di tengah ballroom hotel di Kuningan, di antara meja-meja bundar dengan rangkaian bunga liar, di depan empat ratus penulis, di bawah lampu gantung kekuningan. Dua tangan. Satu di punggungku, satu di belakang kepalaku, di rambut di samping jepit. Erat. Tidak efisien sama sekali.

Piala kaca berbentuk bunga di tanganku terjepit di antara kami.

Dari tempatku, di atas bahunya, aku bisa melihat telinganya. Merah. Sampai ujung.

Ruangan meledak.

Tepuk tangan. Teriakan. Seseorang bersiul. Ucup menangis dengan suara yang bisa didengar dari Sudirman. Mbak Wening berdiri di kursinya dan bertepuk tangan dengan dua tangan di atas kepala. Bu Rosa melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya dan tidak memakainya lagi. Aditya Rahman, di meja penulis fantasi, mengangkat gelasnya ke arah kami. Perempuan dari Surabaya menangis ke serbet.

Di meja media, Sherly tidak merekam. Ia hanya duduk. Lalu, pelan, ia bertepuk tangan. Dua kali. Tiga. Tanpa ekspresi. Lalu ia menunduk dan mengetik sesuatu di ponselnya, dan aku tidak tahu apa yang ia ketik, dan aku tidak peduli.

Di meja nomor dua puluh dua, Kanya berdiri di atas kursi. Kebaya hijau tua pinjaman Bu Darto. Sanggul yang sudah setengah lepas. Ia berteriak sesuatu yang tidak bisa kudengar di antara tepuk tangan, tapi aku bisa membaca bibirnya.

AKU PENGGUNA PERTAMA YANG BAYAR!

Kinan menarik ujung kebaya kembarannya supaya turun. Kanya tidak turun.

Dan Mama.

Mama berdiri di samping meja nomor dua puluh dua, dua tangan menutup mulut, menangis. Tapi ia tidak menatapku. Ia tidak menatap Saka.

Ia menatap ke belakang. Ke pintu masuk ballroom.

Aku mengikuti arah pandangnya, dari balik bahu Saka.

Di pintu masuk ballroom, di ambang pintu ganda yang terbuka, setengah tersembunyi di bayangan, berdiri seorang laki-laki.

Tidak tinggi. Tidak besar. Rambut mulai beruban di pelipis, disisir rapi ke belakang. Kemeja batik lengan panjang. Undangan berwarna krem dengan logo bunga lima kelopak, digenggam di tangan kiri.

Pergelangan tangan kirinya kosong.

Papa.

Ia berdiri di ambang pintu. Ia tidak masuk. Ia menatapku, di tengah ruangan, di pelukan laki-laki dengan kemeja kotak-kotak biru dan sepatu kets abu-abu.

Aku tidak tahu sejak kapan ia di sana. Aku tidak tahu berapa banyak yang ia dengar.

Matanya, dari jarak tiga puluh meter, tidak bergerak mengumpulkan data.

Matanya basah.

Lalu ia berbalik dan pergi. Pintu ganda menutup pelan di belakangnya.

Saka merasakan tubuhku menegang. Ia melonggarkan pelukannya sedikit dan menatapku. “Kenapa?”

Aku menatap pintu ganda yang tertutup.

“Papa,” bisikku.

Saka menoleh ke pintu. Ia menatapnya lama. Lalu ia menatapku lagi.

Ia tidak bilang nggak apa-apa.

Ia menggenggam tanganku. Erat. Lima jari di antara lima jari.

“Nanti,” katanya.

Bukan nanti yang lama. Bukan folder Nanti berisi sembilan kuburan dan dua file proposal. Nanti yang lain. Nanti yang punya tanggal, meskipun belum ditulis.

“Nanti kita datang ke Papa,” katanya. “Berdua.”

Aku menatapnya. Lalu aku mengangguk.

Di sekeliling kami, empat ratus orang masih bertepuk tangan. Di layar besar di belakang panggung, sampul putih dengan gambar kotak bekal biru bertutup retak masih terpampang, dan di bawahnya, Dimas, dari meja teknis di sudut ruangan, sudah mengganti tulisan Novel of the Year dengan sesuatu yang lain. Satu baris. Huruf oranye kemerahan. Bukan font undangan sunatan.

Bab 86 — Aku Pilih Kamu.

Di ponselku, di dasbor penulis, di bawah judul novel yang lima tahun kubiarkan menggantung, satu baris kecil sudah berubah.

Status: Tamat.