Chapter Four
Ucup dan Lizz 10
POV: Saka
Pak Darto menjual gorengan di gerbang belakang kampus sejak sebelum aku lahir.
Aku tahu itu karena di gerobaknya ada foto hitam putih yang sudah menguning: seorang laki-laki muda berdiri di samping gerobak yang sama, di gerbang yang sama, dengan tulisan tangan di bawahnya, 1998. Gerobaknya sudah dicat ulang tiga kali sejak saat itu. Gerbangnya sudah diganti dari besi menjadi beton. Laki-laki di foto itu sekarang rambutnya putih dan punggungnya agak bungkuk.
Pak Darto tunarungu sejak lahir.
Ia tidak bisa mendengar pesanan, jadi ia membaca bibir. Ia tidak bisa mendengar klakson, jadi ia memarkir gerobak sejauh mungkin dari jalan. Ia tidak bisa mendengar ketika mahasiswa memanggilnya dari belakang, jadi banyak yang mengira ia sombong dan pindah ke penjual gorengan lain di gerbang depan.
Aku membeli dua bakwan dari Pak Darto setiap Jumat sejak semester satu. Bakwannya tidak lebih enak dari bakwan di gerbang depan. Harganya juga sama. Aku membelinya karena di minggu pertama kuliah, aku melihat seorang mahasiswa membentak Pak Darto karena salah membungkus pesanan, dan Pak Darto hanya menunduk dan tersenyum minta maaf, tidak mengerti apa yang diteriakkan kepadanya, hanya tahu bahwa ia sedang diteriaki.
Bapak dulu tukang servis elektronik. Ia selalu bilang, kalau ada alat yang rusak, jangan salahkan alatnya. Cari bagian mana yang tidak tersambung.
Pak Darto tidak rusak. Ada bagian dari dunia yang tidak tersambung dengannya.
Lizz 10 adalah usahaku menyambungkannya.
“Mustahil,” kata Pak Budiman.
Dosen pembimbing kami duduk di balik meja kerja yang ditimbun kertas setinggi lutut. Ia melepas kacamata, memijat pangkal hidung, lalu memakainya lagi. Ucup bilang Pak Budiman melakukan gerakan itu kalau sedang mencari cara sopan untuk bilang ide kami bodoh.
“Saya hargai semangatnya, Saka, Yusuf,” katanya. “Speech-to-text real-time, berjalan offline, di ponsel murah. Kalian tahu model pengenalan suara yang bagus itu ukurannya berapa? Ratusan megabyte. Ponsel murah RAM-nya dua giga, satu setengah giga sudah dipakai sistem operasinya sendiri. Belum lagi prosesornya. Kalian mau menjalankan model sebesar itu di prosesor kelas bawah, tanpa internet, dengan latensi di bawah satu detik?”
“Iya, Pak,” kataku.
Pak Budiman menatapku. “Kenapa harus offline? Pakai API cloud saja. Semua orang pakai cloud.”
“Pak Darto nggak punya kuota, Pak.”
“Pak Darto siapa?”
“Penjual gorengan di gerbang belakang. Tunarungu. Pengguna pertama kami.” Aku mengeluarkan ponsel dari saku, ponsel Android murah yang kubeli bekas khusus untuk pengujian. “Sebagian besar penyandang disabilitas rungu di Indonesia bukan orang kaya, Pak. Mereka pakai ponsel murah. Kuota mereka terbatas. Sinyal di tempat kerja mereka sering jelek. Kalau aplikasinya butuh internet, aplikasinya nggak akan dipakai. Kalau aplikasinya cuma jalan di ponsel mahal, aplikasinya juga nggak akan dipakai.”
Pak Budiman diam.
“Jadi harus offline. Harus jalan di ponsel ini.” Aku meletakkan ponsel itu di atas tumpukan kertas di mejanya. “Kalau nggak bisa jalan di sini, nggak ada gunanya kami bikin.”
Ucup, di sebelahku, menelan ludah dengan suara yang bisa didengar dari koridor.
Pak Budiman mengambil ponsel itu dan menimbang-nimbangnya di tangan, seperti menimbang buah di pasar. Lalu ia menghela napas.
“Final Nusantara Tech Cup lima minggu lagi,” katanya. “Juri dari perusahaan teknologi besar. Mereka akan menguji aplikasinya di depan panggung, langsung. Kalau aplikasinya crash, kalian pulang.”
“Iya, Pak.”
“Saya tetap bilang ini mustahil.”
“Iya, Pak.”
“Tapi…” Ia mengembalikan ponselku. Ada sesuatu di sudut bibirnya, sesuatu yang mungkin hampir jadi senyum. “Tunjukkan ke saya kalau saya salah. Hari Jumat. Prototipe yang jalan di ponsel ini.”
“Hari Jumat,” kata Ucup, ketika kami sudah di bangku flamboyan. Ia menatapku dengan horor. “Hari Jumat, Ka. Itu tiga hari. Kita belum nemu cara ngecilin model. Kemarin aku coba kompres, akurasinya turun jadi enam puluh persen. Enam puluh persen itu artinya kalau orang bilang saya mau beli bakwan, Lizz 10 nerjemahin jadi sayur mau baju bawang.”
“Itu masih bisa dipahami.”
“Ka!”
Aku membuka laptop. Malam sebelumnya aku tidak tidur sampai pukul dua, membaca makalah-makalah tentang kompresi model dari forum dan arsip universitas luar negeri yang bisa diakses gratis. Ada satu ide yang terus berputar di kepalaku sejak subuh, sejak aku memecahkan telur ke wajan.
“Cup,” kataku. “Pak Darto perlu dengar apa saja?”
“Hah?”
“Pak Darto. Seharian di gerbang. Dia perlu dengar apa saja?”
Ucup berpikir. “Pesanan pembeli. Klakson. Orang yang manggil dia.”
“Berapa kosakata yang dipakai pembeli gorengan?”
“Ya… bakwan, tahu isi, pisang goreng, cireng, berapa, dua, tiga, sambel, nggak pakai cabe, kembaliannya…”
“Nggak sampai lima ratus kata,” kataku. “Model besar itu dilatih buat ngerti semua kata di bahasa Indonesia. Ratusan ribu kata. Kita nggak butuh itu. Kita bikin model kecil yang spesialis, satu per konteks. Satu model buat jualan. Satu model buat percakapan sehari-hari dasar. Satu model buat suara penting yang bukan kata: klakson, bel, sirene, nama orang dipanggil. Model-model kecil itu gantian dimuat ke memori sesuai kebutuhan. Yang aktif cuma satu. Jadi muat.”
Ucup menatapku.
“Akurasinya naik, karena tiap model cuma perlu ngerti sedikit hal. Ukurannya turun, karena tiap model kecil. Latensinya turun, karena prosesornya nggak perlu mikir keras.” Aku memutar laptop ke arahnya dan menunjukkan diagram yang kubuat tadi pagi di atas kertas bekas bungkus gorengan, lalu kufoto dan kupindahkan ke laptop. “Terus, buat suara penting yang bukan kata, kita nggak perlu nerjemahin ke teks. Kita terjemahin ke getar.”
“Getar?”
“Pola getar. Klakson: tiga getar pendek. Sirene: getar panjang berulang. Ada yang manggil nama dia: dua pendek, satu panjang. Pak Darto nggak perlu baca layar buat tahu ada bahaya. Dia cukup rasain di saku.”
Ucup tidak berkata apa-apa selama sepuluh detik. Lalu ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kemeja, dan memakainya lagi.
“Ka,” katanya pelan. “Kamu sadar nggak barusan kamu ngerjain tesis S2 orang sambil ngunyah telur?”
“Belum jadi. Baru ide.”
“Ide kamu itu…” Ucup mencari kata. Lalu ia menyerah dan memukul-mukul lututku dengan semangat. “ANJIR. IYA. KENAPA NGGAK KEPIKIRAN!”
Tiga hari kemudian, hari Jumat, Pak Budiman duduk di kursi plastik di depan gerobak Pak Darto, memegang ponsel Android murah, dan menatap layarnya dengan mulut setengah terbuka.
Ucup memesan empat bakwan dan dua tahu isi. Di layar ponsel, dalam waktu kurang dari satu detik, muncul tulisan: empat bakwan, dua tahu isi. Ucup bertanya berapa harganya. Layar menulis: berapa harganya. Seorang pengendara motor membunyikan klakson di jalan belakang. Ponsel di saku celemek Pak Darto bergetar tiga kali pendek. Pak Darto menoleh ke jalan, lalu menatap ponselnya, lalu menatapku.
Ia tersenyum. Senyum yang tidak sama dengan senyum minta maafnya. Senyum orang yang baru saja mendengar sesuatu untuk pertama kalinya.
Aku memanggilnya dari belakang. “Pak Darto.”
Ponselnya bergetar dua pendek, satu panjang. Ia berbalik dan menatapku. Tangannya gemetar sedikit saat memegang penjepit gorengan.
Pak Budiman berdiri. Ia melepas kacamatanya, memijat pangkal hidung, dan kali ini ia tidak memakainya lagi selama beberapa detik. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya agak serak.
“Saya salah,” katanya.
Ucup memekik dan memeluk Pak Budiman. Pak Budiman tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya, jadi ia menepuk-nepuk punggung Ucup seperti menepuk punggung anak yang tersedak.
Aku membayar bakwan dan tahu isi. Pak Darto menolak uangku. Aku meletakkan uangnya di atas gerobak dan berjalan pergi sebelum ia sempat mengembalikannya.
Ada satu masalah lain di taman FMIPA, dan masalah itu tidak ada hubungannya dengan Lizz 10.
Masalahnya adalah bangku kayu lima meter di sebelah kiri bangku flamboyan.
Bangku itu rusak sejak semester tiga. Kaki kiri belakangnya retak di dekat sambungan, dan setiap kali ada yang duduk di sana, kakinya melengkung sedikit lebih jauh. Aku sudah melaporkannya ke bagian sarpras, bersama paving yang menonjol. Dua kali. Laporannya tidak pernah ditindaklanjuti.
Biasanya tidak masalah, karena tidak ada yang duduk di sana.
Sudah satu minggu, ada yang duduk di sana.
Mahasiswi dengan jepit rambut bunga liar. Mahasiswi yang menumpahkan kopi. Clara Florentina Kusumadewi, kata Ucup, anak keluarga yang memiliki mal, supermarket, dan hotel di Bali.
Ia datang setiap hari, sekitar pukul sepuluh. Membawa buku, laptop, kadang es teh. Duduk di bangku kayu itu. Membaca, atau pura-pura membaca. Sekali menjatuhkan pulpen. Sekali menelepon ibunya soal croissant pistachio dengan suara yang sangat keras. Sekali disapa laki-laki berpomade yang menendang kaki bangku itu dengan ujung sepatunya.
Laki-laki itu menendang kaki yang salah. Kaki kanan depan. Bukan kaki kiri belakang yang retak.
Kalau ia menendang kaki kiri belakang, bangku itu sudah roboh.
Aku tidak tahu kenapa Clara Kusumadewi duduk di sana setiap hari. Ucup punya teori, dan teorinya membuatku ingin melempar kotak bekal ke kepalanya. Aku tidak punya teori. Aku hanya punya pengamatan: setiap hari ia duduk sedikit lebih ke kiri, karena bagian kanan bangku lebih tinggi, dan setiap kali ia bergeser ke kiri, retakan di kaki kiri belakang bertambah satu atau dua milimeter.
Aku sudah menghitungnya. Kalau terus begini, bangku itu akan patah dalam sembilan sampai dua belas hari.
Ketika patah, orang yang duduk di atasnya akan jatuh ke kiri, ke arah batu-batu pembatas taman yang sudutnya tajam.
Jadi Sabtu pagi, ketika kampus sepi, aku datang ke taman FMIPA membawa sepotong kayu jati bekas dari tukang mebel di gang kontrakan, empat baut, satu kunci pas pinjaman tetangga, dan sepasang sandal jepit bekas.
Aku membuat penyangga untuk kaki kiri belakang, membautnya ke rangka bangku, lalu mengganjal sisa celahnya dengan potongan sol sandal jepit, seperti yang dulu dilakukan Bapak pada meja dapur kami. Butuh empat puluh menit. Ketika selesai, aku duduk di bangku itu dan menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan.
Bangku itu tidak berbunyi krek lagi.
Senin pukul sepuluh, Clara datang dan duduk di bangku kayu itu.
Ia langsung duduk sedikit ke kiri, seperti kebiasaannya, bersiap untuk miring. Bangku itu tidak miring. Ia berdiri lagi, menatap bangku itu dengan bingung, lalu duduk lagi dengan hati-hati, menggoyangkan badannya sedikit. Lalu ia membungkuk dan melihat ke bawah bangku, ke kaki kiri belakang yang sekarang diapit kayu jati dan potongan sandal jepit biru.
Ia menatap sandal jepit itu lama. Lalu ia menegakkan badan dan menatap ke arahku.
Aku sedang mengetik.
Tapi aku tidak menekan tombol apa pun selama sebelas detik.
“Kamu yang benerin?”
Suaranya lebih dekat dari yang kuduga. Aku mengangkat wajah. Ia sudah berdiri di depan bangku flamboyan, memeluk bukunya di dada, jepit bunga liar di sisi kiri rambutnya. Dari dekat, aku bisa melihat bahwa logam jepit itu tidak hanya kusam. Ada goresan halus di salah satu kelopaknya, seperti pernah jatuh dan terinjak.
“Kakinya retak,” kataku. “Mbak duduknya selalu ke kiri. Sembilan sampai dua belas hari lagi bisa patah.”
Ia berkedip. “Kamu ngitungin?”
“Retakannya nambah satu sampai dua milimeter per hari.”
“Kamu ngukur?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku mengangguk.
Ia menatapku. Aku tidak tahu ekspresi apa yang ada di wajahnya, karena aku tidak pandai membaca wajah. Aku lebih pandai membaca retakan di kaki bangku. Tapi bibirnya bergerak seperti menahan sesuatu, mungkin tawa, mungkin hal lain.
“Pakai sandal jepit,” katanya pelan.
“Solnya lentur. Bagus buat mengganjal celah yang nggak rata.”
“Itu sandal siapa?”
“Sandal saya. Sudah putus talinya.”
Ia tertawa. Tawa yang pendek, seperti tidak sengaja keluar. Lalu ia menutup mulut dengan tangan, seperti malu sudah tertawa, dan berdiri di depanku tanpa berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Makasih,” katanya akhirnya.
“Sama-sama.”
Kupikir percakapan sudah selesai, jadi aku kembali menatap laptop. Tapi ia tidak pergi. Ia melirik layar laptopku, lalu ke ponsel Android murah yang tergeletak di samping kotak bekal, layarnya menampilkan antarmuka Lizz 10 versi uji coba.
“Itu apa?”
“Aplikasi.”
“Aplikasi apa?”
Aku ragu sejenak. Lalu, entah kenapa, aku menjawab dengan lengkap. “Buat teman-teman tunarungu. Ubah suara jadi tulisan, offline, di ponsel murah. Suara penting kayak klakson diubah jadi getar.”
Ia menatap ponsel itu. Lalu menatapku. Matanya besar dan cokelat terang, dan ia tidak berkedip.
“Kamu bikin itu?”
“Sama teman saya.”
“Buat lomba?”
“Nusantara Tech Cup. Finalnya lima minggu lagi.”
“Butuh orang buat nyoba?”
Aku tidak langsung menjawab. Lizz 10 memang butuh penguji. Kami butuh suara yang berbeda-beda, aksen yang berbeda-beda, cara bicara yang berbeda-beda. Ucup dan aku sudah merekam suara kami sendiri ratusan kali, tapi model yang hanya dilatih dengan suara dua laki-laki dari Jawa Barat akan kesulitan mengenali suara orang lain.
Model kami belum pernah mendengar suara perempuan.
“Butuh,” kataku.
“Aku mau,” katanya. Cepat sekali, seperti takut aku berubah pikiran. “Aku bisa nyoba. Aku bisa bicara macam-macam. Aku bisa ngomong cepat, ngomong pelan, ngomong pakai logat Medan, logat Bali, aku jago niruin logat.”
“Kenapa?”
Ia terdiam. Lalu ia berkata, “Karena aku numpahin kopi ke sepatumu dan kamu nggak mau diganti. Anggap aja ini bayar utang.”
Itu alasan yang masuk akal. Efisien. Aku tidak suka punya piutang, dan aku tahu banyak orang juga tidak suka punya utang.
“Oke,” kataku.
Di saat itulah Ucup tiba, berlari melintasi taman seperti biasa dengan ransel terlalu besar dan kacamata melorot. Ia berhenti mendadak tiga meter dari bangku, melihat Clara berdiri di depanku, dan berubah menjadi patung.
“Cup,” kataku. “Ini Clara. Mau jadi penguji Lizz 10.”
Ucup menatap Clara. Clara tersenyum dan mengulurkan tangan.
“Halo. Clara.”
Ucup menatap tangan itu seperti menatap ular. Lalu ia menjabatnya dengan tangan yang, aku bisa melihat dari sini, basah oleh keringat.
“Ha… halo,” katanya. “Saya Ucup. Eh. Yusuf. Ramadhan Yusuf. Eh, Yusuf Ramadhan. Ucup Ramadhan. Pokoknya Ucup.”
Clara menahan tawa dengan sangat sopan. “Salam kenal, Ucup.”
“Salam kenal juga, Mbak Clara. Eh, Clara. Eh, Mbak. Mbak Clara.”
Aku menutup kotak bekal. “Besok jam sepuluh,” kataku pada Clara. “Bawa ponsel. Kita rekam suara.”
“Besok jam sepuluh,” ulangnya.
Ia berjalan kembali ke bangku kayu, duduk, dan bangku itu tidak berbunyi sama sekali. Ucup duduk di sebelahku dengan gerakan kaku seperti robot yang baterainya sekarat.
“Ka,” bisiknya. “Ka. Ka. Apa yang barusan terjadi.”
“Kita dapat penguji suara perempuan.”
“Kamu… kamu benerin bangkunya, ya? Pakai sandal jepit kamu yang putus itu?”
“Kakinya retak.”
Ucup menatapku lama. Lalu ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kemeja, dan memakainya lagi.
“Ka,” katanya. “UX kamu naik satu bintang.”
Aku tidak mengerti maksudnya, jadi aku tidak menjawab. Aku membuka laptop dan mulai menyiapkan skrip perekaman untuk penguji baru. Skrip itu butuh dua ratus kalimat, macam-macam nada, macam-macam kecepatan.
Di ujung mataku, di bangku kayu lima meter di sebelah kiri, jepit bunga liar berkilat sekali di bawah matahari pukul sepuluh.
Aku tidak menoleh. Tapi aku menulis kalimat pertama skrip itu tiga kali sebelum aku puas.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10 reading
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman