← Pria yang Ia Pilih

Chapter Thirty Four

Pacar Founder Paling Agresif

POV: Saka

Hari pertama setelah pohon mangga, Clara datang ke lantai lima belas pukul dua belas lewat lima, seperti biasa.

Tidak seperti biasa, ia tidak menitipkan kotak bekal di meja resepsionis.

Ia membawanya sendiri. Melewati meja resepsionis, melewati lorong utama dengan grafik-grafik yang ditempel dengan selotip, melewati meja Ucup, melewati dinding kaca. Ia membuka pintu ruang kerjaku tanpa mengetuk, meletakkan kotak bekal biru muda di mejaku, menarik kursi lipat ke sebelah kursiku, bukan ke seberang meja, dan duduk.

Dekat. Dua puluh senti.

“Selamat siang, Pak Saka,” katanya.

“Clara.”

“Hari ini aku masak dua telur. Satu buat kamu.” Ia membuka kotak bekal. “Satu juga buat kamu.”

Aku menatap dua telur ceplok di atas nasi. Pinggirannya garing kecokelatan. Sempurna.

“Kamu nggak makan?”

“Aku udah makan tadi pagi. Kanya yang ngajarin bikin nasi goreng jam empat lewat lima belas.” Ia mengambil sendok, menyendok sudut telur yang paling garing, dan menyodorkannya ke arahku. Ke mulutku. “Aaa.”

Aku menatap sendok itu.

Di luar dinding kaca, di lorong utama, dua programmer berhenti berjalan. Dimas menjatuhkan tabletnya lagi. Ucup, di mejanya, berhenti mengunyah pisang goreng dengan mulut terbuka lebar sekali, seperti hari pertama Clara membawa kotak bekal.

“Clara,” kataku. “Ini kantor.”

“Aku tahu.”

“Dindingnya kaca.”

“Aku tahu.” Sendoknya tidak turun. “Kemarin di Sentul kamu bilang dulunya udah lewat. Jadi sekarang bukan dulu. Sekarang sekarang.” Ia mendekatkan sendok satu senti lagi. “Aaa, Saka.”

Aku membuka mulut.

Ia menyuapiku. Telur garing. Nasi hangat. Garamnya pas.

Di lorong, Ucup menjatuhkan pisang gorengnya ke lantai. Dimas memotret kami lewat dinding kaca. Seorang staf keuangan berjalan mundur tiga langkah untuk melihat lagi, menabrak tiang, dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.

“Enak?” tanya Clara.

Aku mengunyah. Aku menelan.

“Enak.”

“Garamnya?”

“Pas.”

Clara tersenyum. Lebar. Ia menyendok lagi. “Aaa.”


Bu Rosa memanggilku ke ruangannya pukul dua siang.

“Saka,” katanya, tanpa mengangkat wajah dari laporan keuangan di tangannya. “Saya mau bicara sebagai COO.”

“Iya, Bu.”

“Produktivitas lantai lima belas antara jam dua belas dan jam satu turun tiga puluh delapan persen hari ini.” Ia membalik halaman. “Karena delapan puluh tujuh karyawan berdiri di lorong nonton founder mereka disuapin nasi telur.”

“Bu…”

“Saya belum selesai.” Ia meletakkan laporan dan menatapku dari balik kacamata berbingkai tebal. “Dimas sudah unggah fotonya ke grup kantor. Ada empat ratus dua belas reaksi dalam satu jam. Ucup bikin stiker dari fotonya. Stikernya sudah dipakai tujuh puluh tiga kali.” Ia diam sebentar. “Stikernya bagus. Saya pakai dua kali.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Bu Rosa menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik. Bukan senyum karena angka yang bagus. Senyum seperti tante yang melihat keponakannya pertama kali membawa pacar ke acara keluarga.

“Saya sudah dua puluh tahun lihat orang,” katanya. “Saya belum pernah lihat orang yang nyuapin pacarnya di kantor dengan muka sedatar kamu, tapi telinganya semerah itu.”

Aku menyentuh telingaku. Panas.

“Pergi,” kata Bu Rosa, kembali ke laporannya. “Dan bilang ke Clara, besok jam dua belas, pintunya ditutup. Gordennya diturunin. Demi produktivitas.”

“Ruang kerja saya nggak ada gordennya, Bu.”

“Pasang.”


Clara tidak berhenti.

Itu yang kupelajari dalam dua minggu pertama setelah pohon mangga. Clara Florentina Kusumadewi, perempuan yang lima tahun lalu tidak bisa bilang tidak pada ayahnya, ternyata, setelah memutuskan sesuatu, tidak bisa berhenti.

Truk tanpa rem, kata Ucup.

Hari Selasa, ia datang ke rapat produk mingguan Floo sebagai “perwakilan mitra strategis Kusuma Mart” untuk membahas kerja sama voucher isi ulang koin di kasir. Rapatnya sah. Kerja samanya sah. Bu Rosa yang menyetujuinya.

Ia duduk di sebelahku. Di tengah presentasi Dion soal fitur baru, di bawah meja, kakinya menyentuh kakiku. Sepatu kets putihnya menyentuh sepatu kets abu-abuku. Pelan. Lalu tidak pelan.

Aku tidak menoleh. Aku menatap layar presentasi.

Dion, di depan, berhenti bicara di tengah kalimat. Ia menatap kami. Ia menatap ke bawah meja, yang terbuat dari kaca. Ia menatap layar presentasinya lagi dan melanjutkan dengan suara yang naik setengah oktaf.

Setelah rapat, Clara berbisik di telingaku, cukup pelan supaya hanya aku yang dengar:

“Slide tujuh, grafiknya bagus. Garisnya naik terus.” Napasnya hangat di telingaku. “Kayak detak jantungmu tadi waktu kakiku nyentuh kakimu.”

Aku menutup laptop. Aku berjalan ke pantry. Aku berdiri di depan mesin kopi yang tidak pernah kusentuh dan menatapnya selama tiga menit.

Ucup menemukanku di sana. Ia menatap wajahku. Lalu ia menatap telingaku.

“Ka,” katanya. “Kamu kayak kepiting rebus.”


Hari Kamis, Kinan datang ke kantor Floo untuk menjemputku ke dokter gigi. Ia sudah membuat janji untukku tiga bulan lalu, di klinik dosen pembimbingnya, untuk memeriksa geraham yang aus. Aku sudah membatalkan janji itu empat kali.

“Kali ini Kakak nggak bisa batal,” kata Kinan, berdiri di ambang pintu ruang kerjaku dengan jas lab FKG dan tas berisi peralatan. “Aku udah bilang ke dosenku Kakak pasien istimewa. Kalau Kakak batal lagi, nilai klinikku turun.”

“Itu nggak ada hubungannya, Kinan.”

“Ada. Secara psikologis. Dosenku bakal kecewa sama aku.” Ia menatapku datar. “Kakak mau adik Kakak nggak lulus?”

Clara, yang sedang duduk di kursi lipat di sebelahku memakan potongan apel dari kotak bekal biru muda, tertawa.

“Kinan,” katanya. “Kakakmu takut dokter gigi?”

“Kak Saka nggak takut apa-apa,” kata Kinan. “Kak Saka cuma pelit. Dia pikir pelindung gigi itu mahal. Dia beli tiga tahun lalu, satu juta, terus nggak dipakai. Disimpan di laci. Masih di dalam kardusnya.”

Clara menoleh ke arahku perlahan. “Masih di kardusnya?”

“Masih bagus. Kalau dipakai nanti aus.”

“Saka.”

“Gerahamnya udah aus duluan, Kak Clara,” kata Kinan. “Bawah kiri, bawah kanan. Kak Saka gemeretak tiap malam. Makin keras dari bulan lalu.” Ia diam sebentar. “Kecuali dua malam terakhir. Dua malam terakhir nggak gemeretak sama sekali. Aku dengar dari kamarku.”

Ruangan hening.

Clara menatapku. Aku menatap laptop.

“Dua malam terakhir,” kata Kinan, tanpa ekspresi, “itu malam setelah pohon mangga.”

Clara meletakkan potongan apelnya. Ia menatapku lama. Lalu ia mencondongkan badan, sangat dekat, dan berkata dengan suara yang pelan dan dalam dan sama sekali tidak pantas di depan adikku:

“Kalau gitu, aku harus pastiin kamu nggak gemeretak tiap malam.”

Kinan berkedip.

Lalu Kinan berbalik, berjalan ke lorong, dan berkata dengan suara datar yang sedikit lebih keras dari biasanya ke arah Ucup:

“Kak Ucup. Kalau Kakak punya pisang goreng, tolong kasih aku satu. Aku butuh sesuatu buat dikunyah. Supaya aku nggak dengar hal-hal yang secara medis tidak perlu aku dengar.”

Ucup menyodorkan pisang goreng tanpa berkata apa-apa. Wajahnya merah. Kinan menerimanya dan memakannya sambil menatap dinding.

Aku menatap Clara.

Clara tersenyum. Lebar. Tanpa malu sedikit pun.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak pernah tahu harus berkata apa di depan Clara Florentina Kusumadewi. Tapi selama dua minggu ini, aku belajar sesuatu. Kalau ia bisa mengatakan hal-hal yang membuat telingaku merah, mungkin aku juga bisa.

Aku mencondongkan badan ke arahnya. Dekat. Sepuluh senti. Aku menurunkan suaraku. Bukan suara rapat. Bukan suara nggak apa-apa. Suara yang lain, yang belum pernah kupakai.

“Kalau gitu,” kataku, “kamu harus nginep.”

Clara berhenti bergerak.

Wajahnya, yang tadi tersenyum tanpa malu, membeku. Lalu memerah. Dari leher, ke pipi, sampai ujung telinga. Lebih merah dari bangku beton lima tahun lalu ketika aku bilang aku tahu ia menjatuhkan pulpen dengan sengaja.

Ia membuka mulut. Tidak ada suara.

Ia menutup mulut. Ia menatap kotak bekal biru muda di pangkuannya. Ia mengambil sepotong apel dan memasukkannya ke mulut dan mengunyahnya dengan sangat serius.

Aku menghitung.

Lima menit. Ia tidak bicara selama lima menit.

Di lorong, Ucup tersedak pisang goreng. Kinan menepuk-nepuk punggungnya dengan wajah datar dan berkata, “Kak Ucup. Bernapas lewat hidung.”


Floo mengadakan Temu Penulis setiap tiga bulan, di sebuah aula hotel di Jakarta Selatan. Dua ratus penulis terlaris diundang. Makan malam, sesi berbagi, sesi tanya jawab dengan tim produk.

Bulan ini, untuk pertama kalinya, Clara ikut.

Bukan sebagai Sudut Taman. Sudut Taman masih rahasia, kecuali bagi lima orang: aku, Ucup, Bu Rosa, Tasya, dan Bram. Ditambah Kanya dan Kinan. Ditambah Dimas, yang menemukan file logo. Ditambah delapan ratus empat puluh orang di kolom komentar bab delapan puluh lima yang yakin ceritanya nyata tapi belum tahu siapa orangnya.

Clara datang sebagai pasanganku.

“Pasangan,” ulang Ucup, ketika Clara mengumumkannya di pantry dengan suara cukup keras untuk terdengar ke seluruh lantai lima belas. “Ka. Kamu bawa pasangan ke acara kantor.”

“Bu Rosa yang suruh.”

“Bu Rosa?”

“Katanya penulis-penulis perempuan ganggu aku terus di acara terakhir. Dia bilang kalau aku bawa pasangan, produktivitas acaranya naik.” Aku menatap Ucup. “Kamu juga bawa pasangan?”

Ucup memerah. “Aku… aku nggak punya pasangan.”

“Kanya yang ngurus katering acara ini.”

Ucup menjatuhkan gelas kopinya.


Bu Rosa benar soal penulis-penulis perempuan.

Dalam lima belas menit pertama di aula hotel, sembilan penulis perempuan menghampiriku. Mengajak foto. Menanyakan nomor ponsel. Menanyakan apakah aku sudah punya pacar. Seorang penulis romansa dari Surabaya dengan dua ratus ribu pembaca menyentuh lenganku tiga kali selama dua menit percakapan soal sistem royalti.

Clara berdiri dua meter dariku dengan segelas jus jeruk, tersenyum sopan.

Aku melihat tangannya. Gelas jus jeruknya. Ia memegangnya dengan dua tangan. Buku-buku jarinya putih.

Penulis dari Surabaya menyentuh lenganku untuk keempat kalinya.

Clara meletakkan gelas jus jeruknya di nampan pelayan yang lewat. Ia berjalan dua meter. Ia berdiri di sebelahku. Ia menyelipkan tangannya di lengan kananku, lengan yang sama yang baru disentuh empat kali, dan menggenggamnya. Erat.

“Halo,” katanya pada penulis dari Surabaya, dengan senyum yang sangat manis dan sangat dingin. Senyum Bu Es. Senyum kulkas dua pintu. “Clara. Pasangannya.”

Penulis dari Surabaya menatap tangan Clara di lenganku. Ia tersenyum kaku. Ia pamit dalam sebelas detik.

Clara tidak melepas lenganku selama sisa acara.


Tapi ada satu hal yang tidak diantisipasi Bu Rosa.

Namanya Aditya Rahman. Dua puluh delapan tahun. Penulis fantasi terlaris kedua di Floo, dengan novel tentang kerajaan naga yang punya empat ratus ribu pembaca. Tinggi. Wajahnya jenis wajah yang muncul di sampul novel romansa. Rambut sedikit gondrong, diikat ke belakang. Ia datang ke Temu Penulis dengan kemeja hitam dan senyum yang membuat setengah penulis perempuan di aula menoleh.

Ia menghampiri Clara ketika aku sedang menjawab pertanyaan seorang penulis soal fitur baru.

“Halo,” katanya pada Clara. “Kamu bukan penulis, kan? Aku hafal muka semua penulis di sepuluh besar.”

“Bukan,” kata Clara. “Aku pasangannya Pak Saka.”

“Oh.” Aditya menoleh ke arahku sebentar, lalu kembali ke Clara. Senyumnya tidak berubah. “Sayang banget. Kamu kelihatan kayak tokoh novel. Serius. Rambutmu, matamu. Jepitmu juga. Bunga liar, ya?” Ia mencondongkan badan sedikit. “Aku lagi nulis novel baru. Tokoh utama perempuannya belum punya wajah. Boleh aku pinjam wajahmu buat inspirasi? Kita bisa ngopi kapan-kapan, aku wawancara kamu.”

Aku berhenti bicara di tengah kalimat soal fitur baru.

Penulis yang bertanya padaku menoleh ke arah pandanganku. Ia melihat Aditya. Ia melihat Clara. Ia melihat wajahku.

Ia mundur dua langkah.

Aku berjalan ke arah Clara dan Aditya. Pelan. Tidak terburu-buru.

“Aditya,” kataku.

Aditya menoleh. “Pak Saka! Halo. Novel saya bulan lalu masuk lima besar lagi, terima kasih banyak buat sistem rekomendasinya…”

“Sistem royaltimu,” kataku.

Aditya berkedip. “Kenapa, Pak?”

“Ada beberapa hal di laporan royaltimu tiga bulan terakhir yang perlu dibahas.” Aku menatapnya datar. “Dua jam. Besok pagi. Jam delapan. Ruang rapat kecil nomor dua.”

“Dua… dua jam? Laporan royalti saya ada masalah?”

“Nggak ada masalah,” kataku. “Justru itu. Perlu dibahas kenapa nggak ada masalah.”

Aditya menatapku dengan wajah orang yang tidak mengerti kalimat yang baru saja ia dengar. Ia menatap Clara. Ia menatap tangan Clara, yang sejak tadi sudah menyelip lagi di lengan kananku.

Ia mengerti.

“Oke, Pak,” katanya pelan. “Jam delapan. Dua jam.” Ia mundur selangkah. “Mbak, ngopinya… nggak usah. Saya cari inspirasi wajah di tempat lain aja.”

Ia pergi dengan langkah yang sangat cepat.

Clara menatapku. Matanya membesar. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik, dan naik, dan naik.

“Laporan royalti,” katanya. “Dua jam. Karena nggak ada masalah.”

“Laporan royalti yang nggak ada masalah juga perlu dianalisis.”

“Saka.”

“Efisiensi.”

“Kamu cemburu.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu cemburu, Saka.” Clara mencengkeram lenganku lebih erat. “Lantai tiga. Gudang arsip. Sekarang laporan royalti yang nggak ada masalah. Kamu cemburu dan kamu nggak pernah ngaku.”

“Kamu juga cemburu.”

“Aku?”

“Penulis dari Surabaya. Sebelas detik.” Aku menatap tangannya di lenganku. “Kamu remas lenganku sampai sekarang. Udah empat puluh menit.”

Clara menatap tangannya. Ia tidak melepasnya. Ia malah meremasnya lebih erat.

“Dia pegang lenganmu empat kali,” katanya.

“Iya.”

“Kamu hitung?”

“Kamu juga hitung.”

Clara tertawa. Pendek. Tidak tertahan. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku, di tengah aula hotel, di depan dua ratus penulis terlaris Floo, dan aku tidak bergerak.

“Saka,” katanya pelan ke bahuku. “Kalau ada cowok lain yang ngajak aku ngopi lagi, kamu mau ngapain? Kasih jadwal rapat jam lima pagi?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

“Nggak perlu,” kataku.

“Kenapa?”

Aku menunduk dan menatapnya. Jepit bunga liar di rambutnya, di sisi kiri, berkilat di bawah lampu aula. Pengaitnya setengah milimeter lebih kencang.

“Karena kamu punyaku,” kataku. “Itu bukan pertanyaan.”

Clara mengangkat kepala dari bahuku.

Ia menatapku. Lama. Matanya basah sedikit di sudut. Lalu ia tersenyum, senyum yang tidak dua milimeter atau tiga atau empat, senyum yang membuat seluruh wajahnya terang di bawah lampu aula hotel.

“Ulang,” bisiknya.

“Kamu punyaku.”

“Sekali lagi.”

“Clara.”

“Sekali lagi, Saka. Aku mau rekam di kepalaku. Kayak Lizz sepuluh rekam suara.”

Aku menatapnya. Lalu aku mendekatkan wajahku ke telinganya, cukup dekat supaya hanya ia yang dengar.

“Kamu punyaku,” kataku. “Dari kopi gula aren. Dari bangku kayu. Dari setengah telur. Dari dulu. Itu bukan pertanyaan.”

Clara diam.

Lima menit.

Aku menghitung. Lagi.


Di sudut aula, di dekat meja prasmanan yang ditangani Dapur Kanya, Ucup berdiri dengan piring kosong di tangan, menatap Kanya yang sedang memarahi seorang pelayan karena menata sendok terbalik.

“Kanya,” kata Ucup.

Kanya menoleh. Celemek hitam DAPUR KANYA. Rambut diikat tinggi seperti pegulat. “Apa, Kak Ucup?”

“Ayam gorengnya habis.”

“Udah aku tambah lima menit lalu.”

“Habis lagi.”

Kanya menatap piring kosong di tangan Ucup. Lalu menatap wajah Ucup. “Kak Ucup udah ambil berapa?”

“Empat.”

“Empat?”

“Enak,” kata Ucup. Lalu ia memerah. “Maksudku… ayamnya. Ayamnya enak. Bukan… bukan kamu. Maksudku kamu juga… bukan, maksudku masakanmu… Kanya, aku Ucup. Yusuf. Ramadhan. Maksudku…”

Kanya menatapnya lama. Lalu ia mengambil satu ayam goreng dari nampan cadangan di bawah meja, nampan yang ia sembunyikan untuk staf katering, dan meletakkannya di piring Ucup.

“Yang kelima,” katanya. “Terakhir. Jangan bilang siapa-siapa.”

Ucup menatap ayam goreng itu. Lalu menatap Kanya. Wajahnya merah sampai ke telinga, lebih merah dari telingaku.

“Makasih, Kanya,” bisiknya.

Kanya sudah berbalik untuk memarahi pelayan lain. Tapi aku melihatnya dari seberang aula. Aku melihat ujung telinganya, yang menyembul dari rambut yang diikat tinggi.

Merah juga.

Aku mencatatnya di kepala. Lalu aku menghapusnya. Itu bukan urusanku.

Itu urusan Kinan. Kinan pasti sudah menghitung.