Chapter Twenty Three
Proposal Investasi Hati
POV: Saka
Kantor Floo sekarang ada di lantai lima belas sebuah gedung perkantoran di Kuningan, empat ratus meter dari gedung tempatku dulu bekerja sebagai Senior Engineer.
Kami pindah dari ruko Tebet di bulan kelima belas. Bu Rosa yang memilih gedungnya. Aku yang memilih lantainya, karena lantai lima belas lebih murah dua belas persen dari lantai dua puluh dan pemandangannya sama-sama gedung lain. Delapan puluh tujuh karyawan. Satu ruang rapat besar dengan dinding kaca, empat ruang rapat kecil, satu pantry dengan mesin kopi yang tidak pernah kusentuh, dan satu dinding panjang di lorong utama yang dicat putih, tempat Bu Rosa menempelkan grafik-grafik pertumbuhan dengan selotip.
Di pojok dinding itu, Dimas si desainer menempelkan tulisan besar dari kertas karton: PENGGUNA PERTAMA YANG BAYAR: KANYA PRADANA.
Kanya datang ke kantor seminggu setelah pindahan, membawa tiga ratus kotak nasi dari Dapur Kanya untuk makan siang semua karyawan. Ia berdiri di depan tulisan itu selama lima menit penuh. Lalu ia memotretnya dari sembilan sudut dan mengunggahnya ke akun TikTok-nya, yang sekarang punya empat puluh ribu pengikut, dengan caption: Visi itu bukan delusi kebesaran, Kinan. Visi itu VISI.
Kinan berkomentar di bawahnya: Itu kertas karton. Nggak gede. Nggak di lobi.
Hari Senin, delapan hari setelah gala, pukul sepuluh lewat tiga menit, resepsionis lantai lima belas meneleponku.
“Pak Saka, ada tamu. Katanya sudah buat janji dengan tim kemitraan, tapi minta bertemu Bapak langsung.”
“Siapa?”
“Ibu Clara Kusumadewi. Brand Manager Kusumadewi Retail. Untuk… sebentar, Pak…” Suara kertas dibalik. “Untuk pembahasan potensi kemitraan strategis jangka panjang.”
Aku berhenti mengetik.
Di meja sebelah, Ucup berhenti mengunyah pisang goreng. Ia mendengar. Telepon kantor kami pengeras suaranya terlalu keras, dan aku belum sempat menggantinya karena harganya tujuh ratus ribu.
“Pak Saka?”
“Ruang rapat kecil nomor dua,” kataku. “Saya ke sana.”
Aku menutup telepon. Ucup menatapku dengan pisang goreng setengah tergigit di tangan.
“Ka.”
“Hm.”
“Kemitraan strategis jangka panjang.”
“Mungkin soal kerja sama distribusi voucher isi ulang di Kusuma Mart.”
Ucup menatapku. Lama. Lalu ia meletakkan pisang gorengnya, melepas kacamata, mengelapnya dengan ujung kaus, dan memakainya lagi.
“Ka,” katanya. “Aku udah kenal kamu delapan tahun. Kamu nggak pernah bohong. Tapi barusan kamu ngomong kalimat yang kamu sendiri nggak percaya.”
Aku berdiri dan berjalan ke ruang rapat kecil nomor dua.
Ia berdiri ketika aku masuk.
Blazer krem. Kemeja putih. Celana bahan hitam. Rambut diikat ke belakang dengan rapi. Jepit perak kecil berbentuk daun di sisi kiri. Di atas meja, laptop yang sudah terbuka dan tersambung ke layar televisi di dinding. Layarnya masih hitam.
Ia kelihatan seperti Brand Manager termuda dalam sejarah Kusumadewi Retail, datang untuk rapat kemitraan strategis jangka panjang.
Kecuali tangannya. Tangannya memegang pinggir meja. Buku-buku jarinya putih.
“Pak Saka,” katanya.
“Bu Clara,” kataku.
Satu detik. Dua. Ia menggigit bibir bawahnya. Lima belas kali. Aku berhenti menghitung di empat belas, lima tahun lalu. Aku melanjutkan hitungannya sekarang tanpa sadar.
“Silakan duduk,” kataku.
Ia duduk. Aku duduk di seberangnya. Ada satu meter dua puluh senti meja kaca di antara kami. Lebih jauh dari jarak di dekat pilar marmer di gala. Lebih dekat dari bangku beton dan bangku kayu.
“Terima kasih sudah mau ketemu,” katanya. Suaranya profesional. Datar. Seperti suara di rapat lantai sembilan, mungkin, ketika ia membantai presentasi agensi Rio dalam tujuh menit. Aku tahu soal itu. Gilang menceritakannya pada seorang programmer kami di acara komunitas, dan programmer itu menceritakannya pada Ucup, dan Ucup menceritakannya padaku dengan wajah orang yang menonton film laga.
“Saya mau presentasi sebentar,” katanya. “Dua belas slide. Sepuluh menit. Setelah itu, Bapak boleh tanya.”
“Oke.”
Ia menekan tombol di laptopnya.
Layar televisi di dinding menyala. Latar putih. Tulisan besar di tengah, berwarna oranye kemerahan. Warna flamboyan di bulan Januari. Warna logo Floo.
PROPOSAL INVESTASI HATI
ROI: Seumur Hidup
Diajukan oleh: Clara Florentina Kusumadewi
Kepada: Saka Pradana
Aku menatap layar itu.
Di luar dinding kaca ruang rapat kecil nomor dua, di lorong utama, aku melihat Bu Rosa berjalan melewati pintu. Ia melirik ke dalam. Ia berhenti. Ia membaca layar televisi lewat dinding kaca. Ia mundur dua langkah, berdiri di depan grafik pertumbuhan yang ditempel dengan selotip, dan pura-pura membacanya.
Ia tidak membaca grafik itu. Bahunya mulai berguncang.
“Slide dua,” kata Clara. Suaranya bergetar sedikit di kata dua. Ia menekannya. “Latar Belakang Masalah.”
Layar menampilkan satu kalimat:
Lima tahun lalu, di bawah pohon flamboyan, saya pergi.
“Slide tiga. Analisis Akar Masalah.”
Saya tidak bisa bilang tidak kepada Papa saya.
Saya tidak membuka pesan pukul sembilan malam.
Saya tidak mengucapkan tiga kata yang seharusnya saya ucapkan.
“Slide empat. Dampak.”
Lima tahun saya jadi kulkas dua pintu.
Aku tidak mengerti kalimat itu. Aku tidak bertanya.
“Slide lima. Solusi yang Diusulkan.”
Saya kembali.
“Slide enam. Mengapa Sekarang.”
Clara berhenti. Ia menatap layar itu lama sebelum melanjutkan. Kalimat di slide enam lebih panjang dari yang lain.
Bukan karena Bapak sudah kaya. Bukan karena Floo. Bukan karena Startup of the Year.
Karena delapan hari lalu, Bapak naik panggung, menatap saya tiga detik, dan matanya masih sama.
Dan saya sadar saya sudah lima tahun berbohong pada diri sendiri bahwa saya sudah lupa.
Ruang rapat hening. Di lorong, Bu Rosa sudah tidak pura-pura membaca grafik lagi. Ia berdiri menghadap dinding dengan satu tangan menutup mulut.
“Slide tujuh,” kata Clara, suaranya hampir tidak terdengar. “Komitmen.”
Saya tidak akan goyah lagi.
Seumur hidup.
“Slide delapan. Permintaan.”
Satu kesempatan.
Ia menekan tombol lagi. Slide sembilan sampai sebelas adalah grafik. Grafik sungguhan, dengan sumbu X dan sumbu Y. Proyeksi Kebahagiaan Lima Tahun. Perbandingan Skenario: Dengan Saya vs Tanpa Saya. Analisis Risiko dan Mitigasi. Garis-garisnya naik, terlalu mulus, seperti grafik yang digambar oleh orang yang sangat ingin garisnya naik.
Slide dua belas: Terima Kasih. Pertanyaan?
Clara menutup laptopnya separuh, sehingga layar televisi tetap menampilkan slide terakhir. Ia melipat kedua tangannya di atas meja kaca. Ia menatapku.
Wajahnya merah. Dari leher sampai ujung telinga. Lebih merah dari lima tahun lalu di bangku beton, ketika aku bilang aku tahu ia menjatuhkan pulpen dengan sengaja.
“Itu presentasinya,” katanya. “Pertanyaan?”
Aku menatap slide dua belas.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak pernah tahu harus berkata apa di depan Clara Florentina Kusumadewi. Di bangku beton aku tidak tahu. Di gang gelap dengan empat lubang aku tidak tahu. Sekarang aku juga tidak tahu.
Tapi aku tahu bagaimana membaca presentasi.
Selama dua tahun, aku membaca ratusan presentasi. Pendiri startup yang ingin diinvestasi. Mitra pembayaran yang ingin bekerja sama. Agensi yang ingin menangani pemasaran Floo. Aku membacanya dengan cara yang sama aku membaca log: mencari baris yang tidak cocok.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang aku tahu caranya.
“Slide sembilan,” kataku. “Proyeksi Kebahagiaan Lima Tahun.”
Clara berkedip. “Iya?”
“Asumsimu terlalu optimis.” Aku menunjuk layar dengan dagu, karena layar sudah menampilkan slide dua belas, tapi aku masih ingat slide sembilan. “Garisnya naik terus dari tahun pertama sampai tahun kelima. Nggak ada fluktuasi. Itu nggak realistis. Semua proyeksi yang realistis punya fluktuasi.”
Clara menatapku dengan mulut setengah terbuka.
“Slide sepuluh. Perbandingan Skenario. Kamu nggak kasih data dasar buat skenario tanpa saya. Garis tanpa saya datar di angka lima. Lima dari berapa? Skalanya nggak ada. Satuannya nggak ada.”
“Itu… itu ilustrasi…”
“Slide sebelas. Analisis Risiko.” Aku berhenti sebentar. “Kamu tulis risiko utamanya keluarga. Mitigasinya saya akan bicara dengan Papa.”
Clara diam.
“Kapan?” tanyaku.
Ia menatapku. Matanya bergetar.
“Belum,” katanya pelan. “Aku belum bilang Papa. Tapi aku akan.”
“Kapan?”
“Aku… aku belum tahu.”
Aku menatap slide dua belas di layar. Terima Kasih. Pertanyaan?
“Satu lagi,” kataku. “Slide tujuh. Komitmen. Saya tidak akan goyah lagi.” Aku mengangkat wajah dan menatapnya. “Data historisnya nggak mendukung.”
Itu kalimat yang paling efisien. Paling benar. Aku mengucapkannya dengan nada yang sama seperti aku mengucapkan asumsi churn-mu terlalu optimis ke pendiri startup yang ingin diinvestasi.
Tapi setelah mengucapkannya, aku merasa ada baris kode yang salah di suatu tempat. Baris yang tidak bisa kutemukan. Sama seperti lima tahun lalu, di bangku beton, ketika aku bilang kalau Mbak berhenti datang, mereka berhenti.
Clara tidak menangis.
Aku menunggu ia menangis. Lima tahun lalu ia akan menangis. Lima tahun lalu air matanya akan jatuh satu, di pipi kiri, dan ia tidak akan menghapusnya.
Ia tidak menangis. Ia menatapku dengan mata yang merah dan basah tapi tidak jatuh, dan rahangnya mengeras, dan ia mengangguk pelan, sekali, seperti menerima catatan revisi dari atasan.
“Oke,” katanya. “Catatan diterima.”
“Dan font-nya,” tambahku, karena aku tidak tahu bagaimana menghentikan diriku sendiri, “kayak undangan sunatan.”
Di lorong, Bu Rosa mengeluarkan suara yang terdengar seperti kucing tersedak. Ia menutup mulutnya dengan dua tangan dan berjalan cepat ke arah pantry.
Clara menatapku. Lama.
Lalu sudut bibirnya bergerak. Naik. Dua milimeter. Tiga. Ia menahannya, menggigit bibir bawahnya, tapi tidak berhasil. Ia tertawa. Tawa yang pendek, keluar tanpa sengaja, lalu ia menutup mulut dengan tangan seperti malu sudah tertawa.
Sama seperti hari Senin pagi di bangku kayu, lima tahun lalu, ketika ia menemukan sandal jepit di kaki bangku.
“Undangan sunatan,” ulangnya, di balik tangannya.
“Hurufnya. Yang di slide pertama.”
“Itu huruf yang paling cantik di aplikasinya!”
“Itu huruf undangan sunatan.”
Ia tertawa lagi. Lebih keras. Matanya akhirnya basah, tapi bukan karena menangis. Ia menghapus sudut matanya dengan ujung jari.
“Jadi,” katanya, setelah tawanya mereda. Ia menegakkan punggung. Ia kembali menjadi Brand Manager. “Keputusan Bapak?”
Aku menatapnya.
Aku memikirkan slide sebelas. Mitigasi: saya akan bicara dengan Papa. Kapan? Belum tahu.
Aku memikirkan wajah Om Hendro di gala. Pucat. Buku acara kusut di genggamannya.
Aku memikirkan lantai kamar mandi, dan pesan sudah sampai rumah? yang dibalas sudah pukul satu pagi, lima tahun lalu.
“Ditolak,” kataku.
Clara tidak bergerak.
Satu detik. Dua. Tiga.
Lalu ia mengangguk. Ia menutup laptopnya. Layar televisi di dinding menjadi hitam. Ia memasukkan laptop ke tasnya, berdiri, dan merapikan blazer kremnya.
“Revisi minggu depan,” katanya.
Aku mengangkat wajah.
Ia menatapku dari atas, berdiri di samping meja kaca, satu tangan di tali tas, satu tangan di sandaran kursi. Rahangnya masih keras. Matanya masih basah. Tapi ada sesuatu di sana yang belum pernah kulihat, dulu, di bangku beton atau di lorong belakang panggung atau di gang gelap dengan empat lubang.
Sesuatu yang tidak goyah.
“Senin depan,” katanya. “Jam sepuluh. Ruang rapat yang sama. Slide sembilan ada fluktuasinya, slide sepuluh ada skalanya, font-nya bukan undangan sunatan.” Ia berhenti. “Slide sebelas, aku belum bisa janji. Tapi aku kerjain.”
“Clara…”
“Bapak bilang ditolak,” katanya. “Bukan bilang jangan datang lagi.”
Aku tidak bisa membantahnya. Itu benar. Aku tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak benar, dan ia tahu itu, dan ia memakainya melawanku dengan sangat efisien.
“Selamat siang, Pak Saka,” katanya.
Ia berjalan ke pintu. Ia membukanya. Di lorong, Bu Rosa baru kembali dari pantry dengan segelas air dan wajah merah karena menahan tawa. Clara mengangguk sopan ke arahnya. Bu Rosa mengangguk balik dan, ketika Clara berjalan melewatinya, mengacungkan jempol ke arah punggung Clara, cepat, sebelum aku sempat melihatnya.
Aku melihatnya.
Pukul dua belas, aku makan nasi telur di mejaku, dari kotak bekal biru.
Bu Rosa berdiri di depan mejaku. Ia tidak berkata apa-apa selama satu menit penuh. Ia hanya berdiri, menatapku makan, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
“Bu.”
“Hm.”
“Ada yang perlu Ibu sampaikan?”
Bu Rosa menatapku. Lalu ia menarik kursi dari meja Ucup, yang sedang di luar mencari makan siang, dan duduk di depanku.
“Saka,” katanya. “Saya sudah dua puluh tahun jadi konsultan. Saya sudah lihat ribuan presentasi. Dari CEO bank, direktur BUMN, pendiri startup unicorn.” Ia melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya, gerakan yang membuatku teringat pada Pak Budiman dan Pak Teguh. “Itu presentasi paling buruk yang pernah saya lihat.”
“Iya, Bu.”
“Dan juga paling berani.”
Aku berhenti mengunyah.
“Dia datang ke kantor Startup of the Year,” lanjut Bu Rosa, “ketemu pendirinya, buka laptop, dan bilang di depan layar televisi: Lima tahun lalu saya pergi. Di gedung yang dindingnya kaca semua.” Ia memakai kacamatanya lagi. “Saya tahu banyak laki-laki. Saya belum pernah ketemu satu pun yang berani begitu.”
Aku tidak menjawab.
“Dan kamu,” kata Bu Rosa, “kasih dia catatan revisi. Soal font.”
“Font-nya memang…”
“Saya tahu font-nya kayak undangan sunatan, Saka. Saya juga lihat.” Ia berdiri dan mengembalikan kursi ke meja Ucup. “Saya cuma mau bilang satu hal. Sebagai orang yang lebih tua dua puluh tahun dari kamu, dan yang diam-diam sayang sama kamu kayak sama keponakan sendiri, meskipun kamu menyebalkan.”
“Iya, Bu.”
Bu Rosa menatapku dari atas.
“Data historis,” katanya, “itu cuma ngasih tahu apa yang sudah terjadi. Bukan apa yang akan terjadi. Kamu sendiri yang bilang ke tim produk bulan lalu. Ingat?”
Aku ingat. Aku mengatakannya pada tim produk ketika mereka ingin membatalkan fitur baru karena fitur serupa pernah gagal di aplikasi lain. Data historis cuma ngasih tahu apa yang sudah terjadi. Kalau kondisinya berubah, hasilnya bisa berubah.
Bu Rosa berjalan kembali ke mejanya.
Aku menyelesaikan nasi telurku. Aku menutup kotak bekal biru. Klik.
Lalu aku membuka laptop dan memeriksa email. Ada satu email baru, dikirim pukul sebelas lewat empat belas, dari alamat yang tidak kukenal. Tanpa isi. Hanya lampiran.
Proposal_Investasi_Hati_v1.pdf
Aku menatap nama file itu.
Aku tidak membukanya. Aku tahu isinya. Aku sudah membacanya, di layar televisi ruang rapat kecil nomor dua, dua belas slide, dan aku ingat semuanya. Aku memang begitu. Mengingat semua hal.
Aku mengunduhnya. Aku membuka folder di laptopku. Folder lama, yang sudah kupindahkan dari laptop bekas ke laptop baru, lalu ke laptop berikutnya, selama tiga tahun. Folder berisi sembilan foto papan tulis dari Taman Pemakaman Umum.
Folder bernama Nanti.
Aku menyimpan file itu di sana.
Lalu aku menutup laptop dan menatap dinding kaca ruang kerjaku. Di lorong, Ucup baru kembali membawa dua bungkus nasi padang. Ia melihat wajahku lewat kaca dan berhenti berjalan.
Aku tidak tahu wajah apa yang ia lihat.
Ia tidak bertanya. Ia hanya masuk, meletakkan satu bungkus nasi padang di mejaku meskipun aku baru makan nasi telur, dan berkata:
“Rendang. Buat Senin depan, jam sepuluh. Biar kamu ada tenaga buat nolak lagi.”
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati reading
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman