← Pria yang Ia Pilih

Chapter One

Laki-Laki yang Tidak Menoleh

POV: Clara

Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun, bahkan kepada Tasya: aku bisa menghitung berapa kepala yang menoleh setiap kali aku berjalan dari parkiran ke gedung FEB.

Bukan karena aku sengaja menghitung. Aku tidak sesombong itu. Hitungan itu jalan sendiri, seperti jam di kepala yang berdetak tanpa izin. Tujuh kepala di depan koperasi. Empat di tangga perpustakaan. Satu satpam yang pura-pura membetulkan topi. Dua mahasiswa baru yang berbisik “itu Kak Clara” dengan suara yang mereka kira pelan.

Sudah begitu sejak semester satu. Sejak seseorang memotretku diam-diam di acara ospek dan mengunggahnya ke akun gosip kampus dengan caption “Bidadari FEB angkatan baru”. Sejak itu aku punya julukan, punya penggemar, punya akun-akun tak dikenal yang mengirimiku puisi jam dua pagi. Rambut hitamku yang bergelombang sampai punggung, mataku yang kata orang “terlalu besar untuk wajah sekecil itu”, senyumku yang kata Tasya bisa bikin dosen lupa materi, semua itu jadi milik umum. Dibicarakan, dinilai, dikomentari.

Orang bilang aku beruntung. Mungkin iya.

Tapi ada hari-hari ketika aku ingin berjalan dari parkiran ke kelas tanpa jadi pertunjukan.

“Lewat FMIPA aja, yuk,” kataku pada Selasa siang itu.

Tasya berhenti melangkah. Ia menatapku seperti aku baru mengusulkan berenang ke kelas. “FMIPA? Clar, gedung FEB tuh di sana. Lurus. Lima menit.”

“Jalan depan lagi dicor. Becek.”

“Kita pakai sepatu.”

“Sepatuku putih.”

Tasya melirik sepatu putihku, lalu sepatunya sendiri yang juga putih, lalu menghela napas panjang dengan gaya ibu-ibu yang anaknya minta jajan di minimarket. “Oke. Tapi kalau nyasar, kamu yang tanggung jawab.”

Taman FMIPA berada di antara gedung Matematika dan gedung Ilmu Komputer. Aku belum pernah lewat sana. Tiga tahun kuliah, dan dunia anak FEB rupanya cukup sempit: gedung sendiri, kantin sendiri, kafe di depan kampus, mal. Taman FMIPA ternyata lebih sejuk dari dugaanku. Rumputnya tidak terlalu rapi, ada jalan setapak paving yang beberapa bloknya sudah miring, dan di tengahnya berdiri pohon flamboyan besar dengan bunga merah oranye yang berguguran seperti confetti.

Dan di bawah pohon itu, di sebuah bangku beton yang catnya sudah mengelupas, duduk seorang laki-laki.

Ia memangku laptop yang kelihatannya lebih tua dari laptop mana pun yang pernah kulihat. Di sebelahnya ada kotak bekal plastik biru yang terbuka. Isinya nasi putih dan sebutir telur ceplok yang pinggirannya kecokelatan dan garing. Tangan kirinya menyendok nasi, tangan kanannya mengetik. Ia melakukan keduanya dengan ritme yang sama, seolah makan dan mengetik adalah satu pekerjaan.

Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikannya. Mungkin karena dia satu-satunya makhluk hidup di taman itu.

Mungkin juga karena dia satu-satunya yang tidak menoleh.

Tasya, yang berjalan di depanku sambil sibuk membalas chat, melangkah melewati bangku itu tanpa melihat. Aku menyusul di belakangnya, dan di situlah kaki kiriku bertemu dengan satu blok paving yang menonjol dua senti lebih tinggi dari teman-temannya.

Dunia miring.

Aku tidak jatuh. Puji Tuhan, aku tidak jatuh. Tapi gelas es kopi susu gula aren di tangan kananku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpaku. Gelas itu terbang setengah meter, tutupnya lepas, dan seluruh isinya, kopi, susu, gula aren, dan empat balok es batu, mendarat dengan sangat presisi di atas sepasang sepatu kets abu-abu milik laki-laki di bangku itu.

Hening.

Tasya berbalik. Mulutnya membentuk huruf O. Seekor burung gereja terbang dari dahan flamboyan, seperti ikut malu.

“Ya ampun,” kataku. “Ya ampun, maaf. Maaf banget. Aku nggak lihat, ada paving yang naik, aku…”

Laki-laki itu menurunkan pandangannya ke sepatunya. Satu balok es batu meluncur pelan dari ujung sepatu kirinya, jatuh ke rumput.

Lalu ia mengangkat wajah.

Bukan ke arahku. Ke arah laptopnya. Ia mengetik satu baris lagi, menekan tombol yang bunyinya seperti Enter, baru kemudian menoleh ke arahku. Sebentar. Sebentar sekali. Seperti orang yang melirik jam dinding.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Sepatunya memang sudah tua.”

Lalu ia kembali mengetik.

Aku berdiri di sana dengan gelas kosong di tangan dan mulut yang setengah terbuka. Aku sudah menyiapkan rentetan permintaan maaf, tawaran ganti rugi, mungkin juga sedikit senyum yang biasanya bisa memadamkan amarah siapa saja, termasuk Pak Darmo, dosen Statistik yang terkenal galak. Aku sudah siap dimarahi. Siap ditatap. Siap dinilai.

Aku tidak siap diabaikan.

“Tapi sepatumu basah semua,” kataku.

“Iya.”

“Ada gula arennya. Nanti dikerubungi semut.”

“Nanti saya cuci.”

“Aku ganti, ya. Berapa harganya? Atau kita beli yang baru sekarang, di mal dekat sini ada…”

“Delapan puluh sembilan ribu.”

Aku berkedip. “Apa?”

“Harganya.” Matanya masih di layar. “Delapan puluh sembilan ribu, dua tahun lalu, di pasar. Kalau dicuci sekarang, besok kering. Nggak usah diganti.”

Tasya, yang sudah kembali ke sampingku, menyikut pinggangku. Aku tahu artinya: udah, ayo, orangnya nggak marah, kita pergi.

Tapi kakiku tidak bergerak.

“Kamu yakin?” tanyaku. “Aku beneran nggak enak.”

Ia akhirnya berhenti mengetik. Kali ini ia menatapku sedikit lebih lama, mungkin dua detik, mungkin tiga. Wajahnya biasa saja. Bukan wajah yang membuat orang menoleh di koridor. Rambutnya hitam, agak terlalu panjang di bagian depan, seperti sudah lewat jadwal potong sebulan. Kulitnya sawo matang. Ada bekas luka kecil di dagu kirinya. Kemeja kotak-kotaknya disetrika rapi, tapi kerahnya sudah tipis, warnanya pudar di bagian bahu.

Dan matanya.

Matanya tidak melihatku seperti orang-orang biasa melihatku. Tidak turun ke bibir. Tidak berhenti di rambut. Tidak ada kilatan itu, kilatan yang selama tiga tahun ini kukenal sebaik namaku sendiri, kilatan oh, ini dia yang katanya cantik itu.

Ia melihatku seperti melihat orang yang menumpahkan kopi. Tidak lebih, tidak kurang.

“Yakin,” katanya. “Hati-hati, Mbak. Paving yang itu memang sering bikin orang kesandung. Sudah saya laporkan ke bagian sarpras dua kali.”

Lalu ia kembali ke laptopnya, dan aku tahu percakapan sudah selesai. Bukan karena ia kasar. Ia sama sekali tidak kasar. Ia hanya… sudah selesai. Seperti orang yang menutup pintu dengan sopan.


“Itu,” kata Tasya sepuluh menit kemudian, saat kami sudah duduk di kelas Manajemen Strategik, “adalah momen paling memalukan dalam sejarah hidupmu. Dan aku pernah lihat kamu salah masuk toilet cowok di Senayan.”

“Itu gelap. Tandanya kecil.”

“Tandanya gambar orang pakai celana, Clar.”

Aku tidak menanggapi. Aku sedang mengelap noda kopi di jariku dengan tisu basah sambil menatap papan tulis tanpa benar-benar melihatnya.

“Kamu kenapa?” Tasya memiringkan kepala. “Kok diem?”

“Dia nggak lihat aku.”

“Hah?”

“Cowok tadi. Dia nggak lihat aku.”

Tasya menatapku lama. Lalu ia menempelkan punggung tangannya ke dahiku. “Nggak panas. Aneh.”

“Sya, aku serius.”

“Aku juga serius. Kamu baru numpahin kopi gula aren ke sepatu orang, dan yang kamu pikirin dia nggak lihat kamu? Clara Florentina Kusumadewi, ini krisis eksistensial atau kamu kesambet penunggu flamboyan?”

Dosen masuk. Pak Haryono, yang selalu memulai kelas dengan kalimat “Strategi itu soal memilih apa yang tidak dilakukan”. Ia menulis kalimat itu di papan seperti setiap minggu, dan seperti setiap minggu, setengah kelas langsung menunduk ke ponsel.

Aku tidak menunduk. Aku menatap tulisan itu lama.

Memilih apa yang tidak dilakukan.

Cowok di bawah flamboyan tadi memilih untuk tidak marah. Tidak meminta ganti rugi. Tidak menatapku lebih lama dari yang perlu. Tidak menunda ketikannya bahkan untuk satu kalimat pun.

Aku tertawa pelan, tapi tawanya tidak sampai ke dada.

Karena memang itu yang kupikirkan. Bukan kopinya. Bukan sepatunya. Bukan rasa malunya.

Tapi dua atau tiga detik ketika ia menatapku dan tidak melihat apa-apa yang istimewa.

Selama ini aku selalu merasa terlihat. Terlalu terlihat. Dan barusan, di bawah pohon flamboyan, untuk pertama kalinya dalam dua puluh satu tahun, aku merasa tidak terlihat sama sekali.

Yang paling aneh, aku tidak merasa sedih.

Aku merasa lega.


Malamnya aku makan bersama keluarga, seperti biasa setiap Selasa.

Rumah kami di kawasan Menteng terlalu besar untuk empat orang, dan meja makannya terlalu panjang untuk empat piring. Papa duduk di ujung, membaca laporan di tablet sambil menyendok sup. Mama di sebelah kanannya, bercerita soal arisan. Bram, kakakku, di seberangku, sibuk memotret steaknya dari tiga sudut berbeda untuk Instagram.

“Bram,” kata Papa tanpa mengangkat wajah. “Makan.”

“Lagi konten, Pa.”

“Kontennya dingin nanti.”

“Justru itu, Pa. Steak dingin itu estetik. Namanya moody.”

Mama tertawa kecil. Papa tidak. Papa jarang tertawa. Hendro Wicaksono, Direktur Utama Kusumadewi Group, orang yang membesarkan bisnis keluarga Mama menjadi dua kali lipat dalam lima belas tahun, bukan orang yang membuang energi untuk tertawa. Ia membuang energi untuk menghitung. Untuk membaca laporan. Untuk memastikan anak-anaknya tidak salah langkah.

“Clara,” katanya, masih menatap tablet. “Program Management Trainee tahun depan. Sudah kamu baca brosurnya?”

“Sudah, Pa.”

“Bagus. Kamu masuk divisi Retail. Itu yang paling cepat naik.”

Aku mengangguk. Aku selalu mengangguk. Ada sesuatu di cara Papa berbicara yang membuat kata tidak terasa seperti barang mahal yang tidak sanggup kubeli.

“Tadi kamu lewat mana?” tanya Mama tiba-tiba. “Kok sepatumu ada noda cokelat?”

Aku melirik sepatuku. Ternyata sedikit kopi terciprat ke ujungnya. “Oh. Tadi numpahin kopi.”

“Ke siapa?” Bram langsung mengangkat wajah dari ponselnya. Hidungnya mencium gosip seperti kucing mencium ikan asin. “Ke cowok?”

“Ke sepatu cowok.”

“Ganteng?”

“Biasa aja.”

“Dia minta nomor kamu?”

“Nggak.”

Bram meletakkan ponselnya. Ini serius, kalau Bram sampai meletakkan ponselnya. “Nggak minta nomor? Kamu numpahin kopi ke cowok, terus dia nggak manfaatin kesempatan emas itu buat minta nomor Clara Kusumadewi?”

“Dia bilang nggak apa-apa, terus lanjut ngetik.”

Bram menatapku. Mama menatapku. Bahkan Papa, untuk sepersekian detik, menurunkan tabletnya.

“Ngetik apa?” tanya Bram.

“Nggak tahu. Kodingan, kayaknya. Layarnya hitam, hurufnya warna-warni.”

“Anak IT,” kata Bram dengan nada orang yang baru memecahkan kasus pembunuhan. “Pantes. Anak IT itu spesies lain, Clar. Mereka cuma jatuh cinta sama dua hal: kopi gratis dan Wi-Fi kencang. Kamu kasih kopinya ke sepatu, ya jelas dia nggak tertarik.”

“Bram,” kata Mama sambil tertawa.

“Aku serius, Ma. Coba besok Clara bawain Wi-Fi.”

Aku melempar serbet ke wajah Bram. Ia menangkapnya dengan dramatis, seperti kiper menangkap penalti. Papa menghela napas dan kembali ke tabletnya.

Tapi sebelum tabletnya benar-benar naik lagi, Papa berkata pelan, tanpa menatap siapa pun:

“Laki-laki yang tidak memanfaatkan kesempatan itu biasanya punya urusan yang lebih penting.”

Kalimat itu menggantung di atas meja makan sesaat. Lalu Mama mulai bercerita soal tante yang menikahkan anaknya dengan pengusaha batu bara, dan percakapan beralih.

Tapi aku memikirkan kalimat Papa sampai larut.

Urusan yang lebih penting. Apa yang lebih penting dari meja panjang, laptop baru, sepatu yang tidak perlu dicuci supaya besok bisa dipakai lagi?


Pukul sebelas malam aku masih terjaga.

Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar yang dicat warna krem, dan memutar ulang adegan siang tadi di kepala seperti video yang disetel ulang terus.

Kopi melayang. Es batu meluncur. Nggak apa-apa. Sepatunya memang sudah tua.

Delapan puluh sembilan ribu, dua tahun lalu, di pasar.

Aku membuka lemari. Di rak bawah berjejer sepatu-sepatuku: putih, krem, hitam, merah muda yang dibelikan Mama di Singapura dan belum pernah kupakai karena terlalu sayang. Aku mencoba mengingat harga masing-masing. Aku tidak ingat satu pun. Aku tidak pernah perlu mengingat.

Dia ingat harga sepatunya sampai ke ribuan.

Aku mengambil jepit rambut dari meja rias. Jepit kecil berbentuk bunga liar dengan lima kelopak, logamnya sudah agak kusam. Peninggalan Nenek, ibu Papa, yang meninggal waktu aku SMP. Aku memakainya setiap hari, satu-satunya barang yang tidak pernah kuganti meski Tasya bilang “itu jepit kayak dari abang-abang di depan SD”.

Aku memutar jepit itu di antara jari, lalu memasangnya lagi ke rambut meskipun sudah mau tidur. Kebiasaan.

Ponselku bergetar. Tasya.

Tasya: Clar. Aku udah tanya anak Ilkom temen kosku.
Tasya: Cowok tadi namanya nggak ada yang tahu pasti.
Tasya: Katanya dia emang tiap hari di situ. Bangku flamboyan. Makan bekal. Sendirian. Kadang sama satu temennya yang kurus pakai kacamata.
Tasya: Nggak pernah ke kantin. NGGAK PERNAH, Clar. Tiga tahun.
Tasya: Ini kayak legenda urban.

Aku tersenyum ke layar.

Clara: Kamu nanya-nanya ngapain?
Tasya: Ya karena kamu dari tadi diem kayak orang abis putus.
Tasya: Aku sahabat yang baik. Aku riset.
Tasya: Btw kamu nggak suka dia kan? Plis bilang nggak. Kamu tuh ditaksir Rio Hartanto, ditaksir anak BEM, ditaksir asdos Akuntansi. Jangan bikin aku gila.

Aku menatap pesan itu lama.

Suka? Tidak. Tentu saja tidak. Aku baru bicara dengannya kurang dari satu menit. Aku bahkan tidak tahu namanya.

Aku hanya ingin tahu, kenapa ada orang yang bisa melihatku tanpa melihat apa-apa.

Dan kenapa itu terasa seperti pertama kalinya aku bisa bernapas.

Clara: Nggak suka.
Clara: Cuma penasaran.

Tasya: Clar.
Tasya: Penasaran itu kakaknya suka.
Tasya: Mereka satu rumah.

Aku mematikan layar dan menarik selimut sampai dagu.

Besok, kataku pada diri sendiri, aku akan lewat jalan depan. Jalan yang sudah dicor, yang lurus, yang lima menit, yang penuh kepala menoleh.

Aku mengatakannya tiga kali dalam hati supaya yakin.

Lalu aku tertidur, dan dalam mimpi aku mendengar bunyi tombol Enter, dan suara datar yang berkata nggak apa-apa, dan bunga flamboyan yang jatuh tanpa suara ke atas sepatu tua.