Chapter Thirty Three
Arti Sebuah Nama
POV: Clara
Mahasiswi itu memang mengetik komentar.
Komentar di bab delapan puluh lima muncul pukul sepuluh lewat tiga puluh satu pagi. Aku membacanya di mobil, di parkiran kampus, setelah Saka berjalan ke gedung rektorat dengan surat soal paving yang ia ketik di ponsel sambil berjalan.
GUYS. GUYS. AKU BARU LIHAT BIMA SAMA LARAS DI BANGKU FLAMBOYAN FMIPA KAMPUS PELITA NUSANTARA. BANGKU KAYUNYA MASIH ADA. KAKINYA MASIH DIGANJEL SANDAL JEPIT. LARAS NANGIS TERUS TERIAK “BERHENTI BILANG NGGAK APA-APA” TERUS BIMA NANGIS JUGA TERUS LARAS PELUK KEPALANYA. MEREKA MAKAN BAKWAN PAK DARTO. INI NYATA. CERITANYA NYATA. AKU NGGAK BOHONG. AKU GEMETERAN NGETIK INI.
Di bawahnya, dalam dua jam, delapan ratus empat puluh balasan.
SUMPAH?
FOTO DONG KAK
nggak ada foto = hoax
AKU ALUMNI PELITA NUSANTARA, BANGKU KAYU ITU EMANG ADA, AKU DULU SERING LIHAT ADA COWOK DI BANGKU BETON SEBELAHNYA, NGETIK TERUS, BAWA BEKAL BIRU
kalau beneran nyata berarti BIMA PANTES BAHAGIA BENERAN DONG
KAK SUDUT TAMAN TOLONG KONFIRMASI
Aku mematikan ponsel dan menyandarkan kepala ke setir. Lalu aku tertawa. Lalu aku menangis. Lalu aku tertawa lagi, sendirian, di mobil, di parkiran kampus tempat lima tahun lalu aku dijemput sopir sedan putih setelah seseorang menyinari empat lubang di gang gelap dengan senter ponsel.
Bu Rosa meneleponku pukul satu siang.
“Clara.” Suaranya pendek dan kering, seperti biasa. “Kamu di mana?”
“Kantor. Lantai sembilan.”
“Bisa ke sini? Lantai lima belas. Sekarang. Saka nggak ada, dia di kampusmu, ngurusin paving.” Bu Rosa diam sebentar. “Ada yang perlu kamu lihat.”
“Apa, Bu?”
“Datang aja.”
Bu Rosa menungguku di ruang rapat kecil nomor dua. Ruang rapat yang sama, tempat Proposal Investasi Hati versi pertama dan versi kedua muncul di layar televisi di dinding.
Ia tidak sendirian. Di sebelahnya duduk Dimas, si desainer dengan rambut dicat abu-abu dan kacamata bundar, yang kelihatan sangat gugup, memeluk laptop di dadanya seperti memeluk perisai.
“Duduk,” kata Bu Rosa.
Aku duduk.
“Dimas,” kata Bu Rosa. “Cerita.”
Dimas menelan ludah. Ia membuka laptopnya, meletakkannya di meja, dan memutarnya ke arahku.
“Bu Clara,” katanya. “Floo ulang tahun ketiga bulan depan. Saya disuruh siapin brand refresh. Logo baru, warna baru, semuanya. Saya udah minta izin ke Pak Saka buat ngapus garis di kelopak kiri bawah logo kita…” Ia melirik Bu Rosa. “Dua puluh tiga kali. Pak Saka nolak dua puluh tiga kali.”
“Dua puluh empat,” kata Bu Rosa. “Kemarin dia nolak lagi.”
“Dua puluh empat,” ralat Dimas. “Jadi saya pikir, kalau saya nggak boleh ngapus, paling nggak saya harus ngerti kenapa. Saya cari file aslinya. File logo yang pertama kali dibikin Pak Saka, tiga tahun lalu, sebelum saya gabung. File-nya ada di cadangan server lama, dari zaman ruko di Tebet.”
Ia membuka sebuah file. Logo Floo muncul di layar. Bunga lima kelopak, oranye kemerahan, sedikit tidak simetris. Satu garis tipis di kelopak kiri bawah.
“Ini file aslinya,” kata Dimas. “logo_final_v1.svg. Dibikin Pak Saka sendiri, jam satu malam, tiga tahun lalu. Dari tanggal pembuatan file-nya.” Ia mengetuk sesuatu di papan ketik. Jendela kecil terbuka di sudut layar. Daftar lapisan gambar. “File SVG itu bisa punya nama lapisan. Kayak label buat tiap bagian gambar. Biasanya desainer nggak peduli, biarin aja layer 1, layer 2. Tapi Pak Saka kasih nama semua.”
Aku membaca daftar lapisan di jendela kecil itu.
kelopak_1
kelopak_2
kelopak_3
kelopak_4
kelopak_5_kiri_bawah
goresan_kelopak_kiri_bawah
tangkai
“Goresan,” kata Dimas pelan. “Bukan bayangan. Pak Saka bilang ke saya itu bayangan. Biar kelihatan tiga dimensi. Tapi di file-nya, dia nulis goresan.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Terus,” kata Dimas, lebih pelan lagi, “file SVG juga punya judul. Di bagian metadata. Kayak judul dokumen. Biasanya orang biarin kosong, atau tulis nama perusahaan.” Ia mengetuk papan ketik lagi. Jendela lain terbuka. Satu baris teks.
<title>Florentina</title>
Ruang rapat hening.
Aku menatap satu kata itu. Sembilan huruf. Di layar laptop desainer berambut abu-abu, di ruang rapat kecil nomor dua, di lantai lima belas.
Florentina.
“Saya nggak ngerti,” kata Dimas. “Saya kira itu nama… nama font, atau nama warna. Saya cari di internet, Florentina, nggak ada font namanya gitu. Terus saya tanya Bu Rosa.” Ia melirik Bu Rosa dengan takut. “Bu Rosa diam lima menit. Terus bilang telepon Bu Clara.”
Aku menatap Bu Rosa.
Bu Rosa melepas kacamatanya. Ia memijat pangkal hidungnya. Lalu ia memakainya lagi dan menatapku dengan mata yang merah di sudut.
“Floo,” katanya. “Dua O.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Tiga tahun lalu,” kata Bu Rosa, “di acara alumni, waktu dia sodorin satu halaman ringkasan Floo ke saya, saya tanya kenapa namanya Floo. Dia bilang dari flow. Mengalir. Saya tanya kenapa dua O. Dia bilang Flo udah dipakai aplikasi kalender haid.” Bu Rosa tersenyum, pahit. “Saya percaya. Itu jawaban yang masuk akal. Saka selalu kasih jawaban yang masuk akal.”
“Bu…”
“Tapi saya juga tanya soal logonya.” Bu Rosa menatap layar laptop Dimas. “Kenapa bunga. Kenapa bunga liar. Kenapa ada satu garis di satu kelopak. Dia bilang bunga liar tumbuh di mana aja. Nggak ada yang nanam, nggak ada yang nyiram, tapi tetap mekar.” Ia menatapku. “Saya pikir itu filosofi. Penulis-penulis kecil. Saya bahkan pakai kalimat itu di tiga wawancara majalah.”
Bunga liar itu tumbuh di mana aja, Nduk. Nggak ada yang nanam, nggak ada yang nyiram, tapi tetap mekar.
Nenek. Gang sempit di Solo. Jepit lima kelopak, logam kusam, goresan di kelopak kiri bawah karena aku menjatuhkannya di tangga sekolah waktu umur dua belas.
Aku menceritakan itu ke Saka. Di angkringan dekat stasiun. Di bawah terpal biru. Sambil minum wedang jahe. Lima tahun lalu.
Jepit itu hilang di bulan Februari. Jatuh di suatu tempat. Aku mencarinya di mobil, di kelas, di kamar. Tidak ketemu.
Barang yang hilang itu pergi ke orang yang lebih butuh.
“Dia nggak pernah cerita apa-apa,” kata Bu Rosa. “Tiga tahun. Saya kerja sama dia tiap hari. Saya nggak tahu.” Suaranya bergetar sedikit. Pertama kalinya aku mendengar suara Bu Rosa bergetar. “Dua puluh empat kali Dimas minta izin ngapus garis itu. Dua puluh empat kali dia bilang jangan.”
Dimas menunduk. “Saya minta maaf, Bu Clara,” bisiknya. “Saya nggak tahu. Saya bilang itu bug. Saya bilang itu kotor.”
“Bukan kotor,” kataku. Suaraku keluar seperti bisikan. “Itu goresan.”
Aku tidak ingat bagaimana aku sampai di Sentul.
Aku ingat lift. Aku ingat basemen. Aku ingat menyetir di jalan tol Jagorawi, lajur paling kanan, terlalu cepat. Aku ingat menelepon Saka dua kali dan ia tidak mengangkat, lalu Kanya mengirim pesan: Kak Saka baru pulang dari kampus. Lagi di bangku mangga. Kakak mau ke sini? Pintu nggak dikunci.
Aku ingat gerbang perumahan dengan satpam berseragam yang langsung membukakan palang begitu melihat mobilku. Bu yang makan telur, katanya ke temannya.
Aku ingat pagar besi setinggi pinggang. Pintunya tidak dikunci.
Pukul empat sore. Matahari sudah condong ke barat, dan cahayanya masuk miring di antara daun-daun pohon mangga, membuat bayangan bergaris di atas rumput yang dipotong rapi.
Di bawah pohon mangga, di bangku beton abu-abu muda, Saka duduk.
Tanpa laptop. Pertama kalinya aku melihatnya duduk di bangku beton tanpa laptop. Kemeja kotak-kotak biru, lengan digulung. Sepatu kets abu-abu. Di tangannya, sesuatu yang kecil dan berkilat.
Kaleng.
Kaleng permen bekas. Logam, bulat, catnya sudah pudar sampai gambar di tutupnya tidak bisa dikenali lagi. Ia memegangnya dengan dua tangan di atas lutut, tidak membukanya.
Ia mendengar langkahku. Ia mengangkat wajah.
Aku berhenti di tengah taman. Di atas rumput. Tiga meter dari bangku beton.
“Dimas,” kataku.
Saka menatapku. Tiga detik.
“Dimas buka file logomu.” Suaraku bergetar. Aku tidak menekannya. “Judulnya…”
Kalimatnya tidak selesai. Air mataku jatuh lebih dulu. Hanya satu kata yang sampai.
“Florentina.”
Hening.
Angin bertiup. Daun-daun mangga bergesekan. Di dalam rumah, di balik jendela dapur, aku melihat dua kepala muncul di balik tirai. Dua wajah yang sama, satu dengan rambut diikat tinggi seperti pegulat, satu dengan kacamata berbingkai tipis. Mereka langsung menunduk lagi ketika aku melihat mereka. Lalu muncul lagi.
Saka menatapku lama. Lalu ia menunduk, menatap kaleng permen bekas di tangannya.
“Kanya bilang kamu lagi di jalan,” katanya pelan. “Tapi ini bukan karena Kanya.” Ia memutar kaleng itu di tangannya. “Udah aku turunin. Dari rak di atas kompor. Tadi pagi. Sebelum ke kampus.”
“Itu apa?”
Ia tidak menjawab. Ia berdiri dari bangku beton. Ia berjalan tiga meter di atas rumput, melewati bayangan bergaris dari daun mangga, dan berhenti di depanku.
Jarak yang sopan. Satu meter.
Lalu ia melangkah satu langkah lagi. Lima puluh senti.
Ia membuka kaleng itu.
Di dalamnya, kancing-kancing. Puluhan. Kancing kemeja putih, kancing seragam SD dengan logo sekolah yang sudah pudar, kancing jaket cokelat yang besar dan bulat.
Dan di atas kancing-kancing itu, selembar kertas kado kecil bermotif bunga kuning, terlipat rapi, dan sesuatu yang berkilat.
Jepit rambut. Lima kelopak. Logam yang tidak kusam lagi, bersih, berkilau di bawah cahaya sore yang miring. Dan di kelopak kiri bawah, goresan halus.
Aku tidak bisa bernapas.
“Bulan Februari,” kata Saka. Suaranya sangat pelan. “Kamu pindah dari bangku kayu ke bangku beton. Waktu kamu bilang aku satu-satunya yang nggak lihat kamu kayak barang pajangan. Jepitmu jatuh di rumput. Aku pungut waktu mau ke kelas jam satu.”
Ia menatap jepit itu, bukan aku.
“Aku mau balikin besoknya. Kamu nggak datang, ada acara keluarga. Lusanya kamu datang, aku lupa. Terus besoknya Tech Cup dimajuin. Terus kamu datang pakai jepit hitam, dan kamu pegang-pegang rambut di sebelah kiri, kayak orang nyari dompet.” Ia berhenti. “Aku seharusnya balikin hari itu. Aku nggak tahu kenapa aku nggak balikin.”
Aku tahu kenapa. Ia tahu kenapa. Ia tidak mengatakannya.
“Pengaitnya longgar,” lanjutnya. “Pantes jatuh. Aku kencengin pakai tang Bapak. Setengah milimeter. Aku bersihin pakai odol, cara Ibu bersihin cincin kawinnya. Dua kali.” Ia menyentuh goresan di kelopak kiri bawah dengan ujung jari. “Goresannya nggak bisa hilang.”
“Waktu umur dua belas,” bisikku. “Aku jatuhin di tangga sekolah. Temanku nggak sengaja injak.”
“Aku tahu,” katanya. “Kamu cerita di angkringan. Kamu bilang Nenek bilang bunga liar tumbuh di mana aja.”
Ia mengambil kertas kado kuning dari kaleng. Ia memegangnya, tidak membukanya.
“Terus kamu bilang ulang tahunmu empat belas Agustus,” katanya. “Aku beli kertas kado ini bulan Maret. Toko alat tulis dekat stasiun. Dua ribu lima ratus.” Ia memutar kertas itu di tangannya. “Aku mau bungkus jepitnya. Kasih ke kamu empat belas Agustus. Biar balik ke pemiliknya. Dengan pengait yang udah dikencengin. Biar nggak jatuh lagi.”
Empat belas Agustus.
Lima minggu setelah wisuda. Tujuh minggu setelah bangku beton. Pulang, Clara.
“Empat belas Agustus,” kata Saka, “aku bangun jam dua belas lewat satu menit. Tanpa alarm.” Ia akhirnya mengangkat wajah dan menatapku. “Aku nggak ambil kalengnya.”
Aku menutup mulut dengan dua tangan.
“Tiga tahun kemudian,” katanya, “aku bikin aplikasi kesepuluh. Aku butuh nama. Aku butuh logo.” Ia menatap jepit di tangannya. “Aku buka kaleng ini jam satu malam. Pertama kali sejak empat belas Agustus. Aku gambar jepitnya. Lima kelopak. Goresannya juga.”
Suaranya turun lagi, sangat pelan.
“Floo,” katanya. “Dua O.”
Aku tidak bisa berdiri. Lututku lemas. Aku tidak jatuh, karena Saka sudah meraih lenganku dengan tangan yang tidak memegang kaleng, tapi aku tidak bisa berdiri tegak. Aku menunduk dan menangis ke dadanya, ke kemeja kotak-kotak biru yang bau sabun batangan, dan ia tidak bergerak.
“Kenapa,” isakku. “Kenapa kamu namain aplikasimu pakai namaku. Setelah aku pergi. Setelah aku tanda tangan map biru. Setelah aku nggak bales pesanmu. Kenapa?”
Ia diam lama.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia katakan, dalam lima tahun, dalam delapan puluh empat bab yang ia baca pukul dua pagi, dalam semua nggak apa-apa dan jangan dulu dan pulang.
“Aku nggak pernah berhenti,” katanya.
Aku berhenti menangis.
“Aku nggak pernah berhenti, Clara.” Suaranya serak. “Aku cuma nggak pernah minta.”
Aku mengangkat wajah dari dadanya.
Ia menatapku. Dari dekat. Dua puluh senti. Matanya basah lagi, seperti pagi tadi di bangku kayu, seperti di lantai lima belas pukul dua pagi. Di bawah permukaan kolam yang tenang, sesuatu yang sangat dalam, yang sudah lima tahun terkunci di kaleng permen bekas di rak di atas kompor, di antara kancing-kancing peninggalan ibunya.
Aku melepas jepit perak berbentuk daun dari rambutku. Yang kubeli sendiri dengan enam puluh dua ribu rupiah, royalti pertama dari Floo. Dari aplikasinya. Dari aplikasi yang dinamai dengan namaku.
Aku meletakkan jepit perak itu di dalam kaleng. Di atas kancing-kancing.
Lalu aku menatapnya.
“Pasangin,” bisikku.
Saka menatap jepit bunga liar di tangannya. Lalu menatapku. Tangannya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, gemetar lebih hebat dari tanganku.
Ia mengangkat jepit itu. Ia menyelipkan jari-jarinya di rambutku, di sisi kiri, di tempat jepit itu dulu selalu berada. Pelan. Hati-hati. Seperti menyolder komponen kecil di papan sirkuit. Seperti menyingkirkan bunga flamboyan dari atas kotak bekal.
Klik.
Pengaitnya menutup. Kencang. Setengah milimeter lebih kencang dari dulu.
Tidak akan jatuh lagi.
Tangannya tidak turun dari rambutku. Tangannya tetap di sana, di sisi kiri kepalaku, di samping jepit bunga liar. Jari-jarinya bergerak pelan, sangat pelan, turun ke belakang telingaku. Ke rahangku. Ke pipiku.
Ia menatapku. Lama. Lebih dari tiga detik. Lebih dari sepuluh.
Lalu ia tidak bilang jangan dulu.
Ia menciumku.
Bukan seperti di parkiran motor lima tahun lalu, kaku dan canggung. Bukan seperti di parkiran terbuka di Kuningan, di bawah hujan, yang ia hentikan setelah sepuluh detik. Ia menciumku seperti orang yang sudah selesai menahan diri. Seperti orang yang menulis baris terakhir dari sebuah program yang sudah lima tahun dikerjakan, dan menekan tombol deploy, dan tidak peduli lagi apakah lolos tes atau tidak.
Dalam. Pelan. Lalu tidak pelan.
Kaleng permen bekas di tangannya yang lain jatuh ke rumput. Kancing-kancing bertebaran di antara bayangan bergaris daun mangga. Jepit perak berbentuk daun berkilat di antara kancing seragam SD dan kancing jaket cokelat.
Tidak ada yang memungutnya.
Tanganku di kerah kemejanya. Lalu di belakang lehernya. Lalu di rambutnya yang sedikit terlalu panjang di bagian depan, yang lima tahun lalu kubayangkan kusentuh di bangku beton dan tidak pernah berani. Tangannya di pinggangku, menarikku lebih dekat, sampai tidak ada lagi jarak yang bisa dihitung.
Aku berjinjit. Ia menunduk. Aku merasakan napasnya, tidak teratur, tidak efisien sama sekali.
Ketika akhirnya kami berhenti, bukan karena salah satu dari kami ingin berhenti. Karena kami lupa bernapas.
Dahiku di dahinya. Matanya terpejam. Napasnya pendek-pendek, panas di bibirku.
“Saka,” bisikku.
“Hm.”
“Kamu nggak bilang jangan dulu.”
Ia membuka mata. Dari jarak lima senti, matanya masih sama. Masih hidup. Masih melihat sesuatu yang belum ada, dan tahu persis bagaimana membuatnya ada.
“Udah,” katanya. “Dulunya udah lewat.”
Dari dalam rumah, di balik jendela dapur, terdengar suara yang sangat keras.
Isak. Bukan isak pelan. Isak seperti sirene, seperti ketel air yang mendidih terlalu lama, seperti panci presto yang akhirnya meledak.
Kami menoleh.
Di balik tirai jendela dapur yang sekarang terbuka lebar, Kanya Pradana berdiri dengan celemek hitam DAPUR KANYA, dua tangan menutup wajah, dan menangis sekeras-kerasnya. Bahunya berguncang. Empat ibu-ibu karyawan Dapur Kanya berdiri di belakangnya, juga menangis, salah satunya masih memegang spatula.
Di sebelah Kanya, Kinan berdiri dengan kacamata berbingkai tipis dan wajah datar seperti biasa. Ia menatap kami. Lalu ia membuka jendela lebih lebar dan berkata, dengan suara yang cukup keras untuk terdengar sampai ke bawah pohon mangga:
“Kak Saka. Kak Clara. Kancingnya Ibu jatuh semua di rumput.”
Saka menunduk. Menatap kancing-kancing yang bertebaran di antara bayangan daun.
“Nanti dipungut,” katanya.
“Nanti?” Kinan mengangkat alis. “Kakak yang ngomong nanti? Kakak yang kalau ada barang jatuh langsung dipungut sebelum nyentuh lantai?”
Saka tidak menjawab.
Kinan menatap kakaknya lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, sejak aula Tech Cup lima tahun lalu ketika ia membaca buku bergambar tengkorak dan bilang gigiku rapi, Kinan Pradana tersenyum.
Lebar. Sampai giginya terlihat semua.
“Secara medis,” katanya, “Kakak udah sembuh.”
Ia menutup jendela. Di baliknya, Kanya masih menangis seperti sirene, dan Kinan menepuk-nepuk punggung kembarannya dengan gerakan kaku, dan ibu-ibu Dapur Kanya berpelukan satu sama lain.
Aku tertawa. Aku tidak bisa berhenti. Aku tertawa ke dada Saka, di bawah pohon mangga di Sentul, dengan jepit bunga liar di rambutku dan kancing-kancing peninggalan ibunya bertebaran di rumput.
Saka memelukku. Satu tangan di punggungku. Satu tangan di belakang kepalaku, di rambut di samping jepit.
Tidak ada laptop yang perlu dilindungi kali ini.
Dua tangan.
Kami memungut kancing-kancing itu bersama, satu per satu, sampai matahari terbenam.
Ada empat puluh tiga. Saka menghitung. Tentu saja ia menghitung.
Kertas kado kuning masih terlipat di rumput. Aku memungutnya. Kertasnya sudah menguning di pinggir, lipatannya kaku setelah lima tahun tidak dibuka.
“Boleh aku buka?” tanyaku.
Saka menatap kertas itu. Lalu mengangguk.
Aku membuka lipatannya pelan-pelan.
Di dalamnya, di sisi putih kertas kado, tulisan tangan dengan pulpen hitam. Tulisan tangan yang kecil, rapi, sedikit miring ke kanan. Tulisan tangan orang yang terbiasa menulis kode, bukan surat.
Satu baris.
Kembali ke pemiliknya. Pengaitnya udah dikencangin setengah milimeter, biar nggak jatuh lagi. Selamat ulang tahun, Clara.
Di bawahnya, tanggal. Ditulis lima tahun lalu. Bulan Maret. Lima bulan sebelum empat belas Agustus.
Ia sudah menulis kartunya di bulan Maret. Sebelum arisan. Sebelum ruang kerja Papa. Sebelum map biru. Sebelum bangku beton.
Ia sudah menyiapkannya. Dan menyimpannya. Lima tahun.
Aku melipat kertas itu lagi, rapi, mengikuti lipatan lamanya. Aku memasukkannya ke dalam kaleng, di atas empat puluh tiga kancing dan satu jepit perak berbentuk daun.
Lalu aku menutup kaleng itu dan memeluknya di dada.
“Telat lima tahun,” bisikku.
“Iya,” kata Saka.
“Tapi sampai.”
Ia menatapku. Matahari terakhir di balik pohon mangga membuat bayangan di wajahnya. Sudut bibirnya naik. Aku tidak menghitung berapa milimeter.
“Iya,” katanya. “Sampai.”
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama reading
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman